Tanah Legendaris Shambhala (Bahasa Indonesia)

Aug 1, 2022 | Views: 218

Shambhala001

(Oleh Tsem Rinpoche)

Selama beribu-ribu tahun, berbagai cerita dikumandangkan tentang sebuah negeri misterius bak surga yang bernama Shambhala. Tersembunyi di pegunungan Himalaya, tanah legendaris ini juga dikenal dengan nama-nama seperti: Shangri-La, Tanah Danau-Danau Putih, Tanah Terlarang, Tanah Dewata Yang Hidup, Tanah Roh-Roh Bercahaya, dan Tanah Api Yang Hidup. Orang Cina menyebutnya sebagai Hsi Tien. Orang Hindu menamakannya Tanah bagi Mereka Yang Termuliakan atau Aryavartha. Bangsa Rusia mengenalnya sebagai Belovoyde, dan dalam tradisi Bön, wilayah ini dikenal sebagai Tagzig Olmo Lung Ring.

Shambhala telah menyulut imajinasi dan rasa ingin tahu berbagai generasi manusia, kepercayaan, budaya dan bangsa. Bahkan mereka yang memiliki sifat suka berpetualang telah mencoba untuk menemukan lokasi fisik surga dunia ini, yang dipercaya penuh dengan pohon-pohon yang bisa mengabulkan permintaan dan danau-danau jernih bak permata.

Dalam terjemahan teks “Perjalanan Menuju Śambhala” (Sambalai Lam Yig) di bawah ini, Yang Suci Panchen Lama ke 6 menggambarkan secara rinci bagaimana cara memasuki tanah suci ini. Naskah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dari versi aslinya yang ditulis dalam bahasa Tibet. Saya kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris yang pada gilirannya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerjemahannya memakan biaya yang lumayan dan dikerjakan dalam waktu berbulan-bulan untuk proses pengalihan bahasa, penyuntingan dan pengecekannya. Tapi saya berpendirian bahwa upaya untuk membawa teks ini untuk dipersembahkan pada anda sudah sangat pantas dilakukan

Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang tanah Shambhala dari sudut pandang Buddhis maupun Barat, sekaligus memperkenalkan Tantra Kalachakra yang erat hubungannya dengan Shambhala dan silsilah Panchen Lama. Tulisan ini juga menyediakan informasi tentang Yang Suci Panchen Lama ke 6 dan kediaman resminya, Biara Tashi Lhunpo. Semoga artikel ini bermanfaat bagi siapapun yang hendak belajar tentang tanah suci yang penuh kedamaian, kebahagiaan dan penuh berkat perkembangan spiritual ini.

Tsem Rinpoche

 

Legenda Surga Dunia Bernama Shambhala

Shambhala002

Nama Shambhala berasal dari kata Sansekerta yang berarti “tempat penuh kedamaian/ketentraman/kebahagiaan” atau “tempat kesunyian”. Tempat ini dipercaya sebagai tanah yang suci yang ada di alam manusia. Tanah suci adalah tempat istimewa dimana kebutuhan badani kita terpenuhi secara mudah dan karena itu kita dapat berkonsentrasi penuh pada praktik spiritual untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Singkatnya, keberadaan tanah suci ini memberi praktisi kondisi yang paling efektif untuk mencapai kemajuan pesat dalam jalan spiritual mereka. Uniknya status Shambhala sebagai tanah suci dikarenakan kebanyakan tanah suci berada pada alam yang lebih tinggi seperti alam dewata. Namun, nyatanya Shambhala ada dalam alam manusia. Eksistensi surga dunia ini sering disebut dalam ajaran Tantra Kalachakra.

Terdapat banyak tempat dalam alam manusia dimana, menurut teks suci Tantrik, energi dari berbagai dimensi atau tingkat kesadaran saling bertemu. Tempat-tempat ini bersifat sangat suci dan mistis, dan ketika kita mengunjunginya, persepsi kita akan disesuaikan dengan kematangan spiritual masing-masing. Sebagai contoh, Tantra Heruka Chakrasamvara menyebutkan terdapat 24 tempat-tempat seperti ini di India dan di setiap lokasi terdapat mandala lengkap Heruka Chakrasamvara. Siapapun yang mempraktikkan Tantra di tempat-tempat ini dipercaya akan mencapai hal-hal yang luar biasa karena adanya konsentrasi energi tercerahkan pada tempat-tempat tersebut. Hal ini menjadikan proses energi internal lebih baik dibandingkan tempat lain. Shambhala merupakan salah satu tempat yang memiliki kondisi sempurna bagi kita untuk berpraktik, terutama ajaran Tantra Kalachakra. Namun, tidak seperti ke 24 tempat suci yang identik dengan Heruka Chakrasamvara di India, Shambhala berdiri sebagai sebuah negeri mandiri yang terpisah dari urusan duniawi negara-negara lainnya.

Menurut teks suci Tantra Kalachakra, raja pertama negeri Shambhala, Suchandra, memohon pada Buddha Shakyamuni untuk mengajarkan padanya sebuah praktik yang tidak mengharuskan dirinya mundur dari kedudukannya sebagai pemegang tampuk pemerintah kerajaan dan meninggalkan rakyatnya. Setelah menerima permintaan ini, sang Buddha menurunkan inisiasi lengkap untuk praktik Kalachakra pada sang raja, serta menjelaskan Tantra Akar Kalachakra padanya dan rombongannya yang terdiri dari 96 raja kecil dan para pejabat yang terkumpul di Dhanyakataka, saat ini terletak di wilayah Andhra Pradesh di India bagian tenggara.

Dalam teks Paramadibuddha, Akar Tantra Kalachakra, dijabarkan:

“Saat itu emanasi sang Vajrapani, Raja Suchandra dari negeri Shambhala yang tersohor, secara ajaib berhasil masuk ke dalam lingkaran sempurna tempat munculnya berbagai fenomena. Hal yang pertama beliau lakukan adalah mengitari ke arah kanan, setelah itu beliau memuja kaki teratai sang guru dengan bunga-bunga yang terbuat dari buliran permata. Merapatkan tangannya dalam sembah, Suchandra bersimpuh duduk di depan sang Buddha yang sempurna. Suchandra memohon pemberian tantra dari sang Buddha, kemudian berhasil mempersingkatnya, dan mengajarkannya juga.”

Sumber: dalailama.com

Ada tercatat bahwa pada saat Buddha Shakyamuni menurunkan praktik Kalachakra, beliau juga mengadakan sebuah sesi pengajaran tentang Sutra Prajnaparamita di Griddhraj Parvat (Puncak Burung Bangkai), yang kini terletak di daerah Bihar.

King Suchandra, the first Dharma king of Shambhala

Raja Suchandra, Dharmaraja pertama negeri Shambhala (klik untuk memperbesar)

Sang raja beserta rombongannya kembali ke Shambhala, dimana Raja Suchandra secara rajin mempraktikkan Tantra Kalachakra dan berhasil mendapatkan berbagai pencapaian spiritual. Setelah ini beliau menurunkan ajaran Kalachakra kepada rakyatnya dan pada raja selanjutnya. Sejak saat itu, semua raja Shambhala menjadi pemanggul silsilah bagi Tantra Kalachakra, dan Shambhala sendiri telah melahirkan banyak praktisi besar Kalachakra. Dua di antara raja Shambhala, Manjushri Yashas dan Pundarika, menyusun sebuah bentuk singkat dari Tantra Kalachakra yang dinamakan “Shri Kalachakra Laghutantra”, dan juga penjelasannya, “Vimalaprabha”. Keduanya telah membentuk inti ajaran Kalachakra modern saat ini.

Eksistensi Shambhala juga dituliskan dalam teks kuno dari Zhang Zhung, sebuah kerajaan yang ada sebelum era Buddhisme di bagian barat atau barat laut Tibet. Teks kuno Hindu, Vishnu Purana, juga menyebut Shambhala sebagai tempat lahirnya inkarnasi terakhir Dewa Wisnu di masa yang akan datang, sosok yang akan menyongsong Era Keemasan baru pada dunia.

Menurut legenda, Shambhala adalah tempat di mana kebijaksanaan dan cinta kasih bertebaran di mana-mana, dan tidak ada tindak kejahatan. Kerajaan Shambhala dipercaya secara fisik berbentuk seperti sekuntum bunga teratai berkelopak delapan dan sang Raja Shambhala memerintah dari bagian tengah teratai. Penduduk Shambhala memiliki hati yang murni dan tak terpengaruh oleh penderitaan, proses penuaan maupun kekurangan. Mereka hidup sehat sampai umur beratus-ratus tahun dan sumber makanan yang mereka butuhkan tumbuh dengan subur di negeri Shambhala. Rakyat di negeri ini terdiri dari beberapa kelas yang khas: para petani, kaum cendekiawan dan kelas ningrat, semuanya hidup bersama dalam harmoni.

Dalam dunia kita, garis inkarnasi Panchen Lama dipercaya sebagai emanasi salah satu raja Shambhala, Raja Manjushri Yashas, dan juga termasuk penopang terbesar ajaran Tantra Kalachakra. Ada kebiasaan di Tibet yang tetap dilakukan saat ini di mana Panchen Lama memberikan inisiasi Kalachakra bagi khalayak umum. Meski Tantra biasanya dipraktikkan secara privat, inkarnasi Panchen Lama secara tradisi memberi inisiasi massal pada kerumunan orang. Menerima inisiasi langsung dari Panchen Lama dianggap sebagai sesuatu yang langka dan istimewa. Tantra Kalachakra juga mempunyai markas yang kokoh pada biara Tashi Lhunpo, yaitu kediaman resmi Panchen Lama di Shigatse, Tibet.

 

Yang Suci Panchen Lama ke 11 Memberi Inisiasi Kalachakra

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/PanchenLamaKalachakra.mp4

 

 

Letak Shambhala

Altai folklore has it that the gateway to Shambhala is located on Mount Belukha

Cerita rakyat suku Altai menyebut Gunung Belukha sebagai lokasi pintu masuk ke Shambhala.

Terdapat banyak legenda tentang lokasi Shambhala. Kitab-kitab Zhang Zhung menyebutkan bahwa Shambhala terletak di Lembah Sutlej di Punjab. Sementara itu, orang Mongolia meyakini sebuah lembah di Siberia Selatan sebagai letak yang sesungguhnya. Cerita rakyat Altai menempatkan gerbang Shambhala di Gunung Belukha, dan cendekiawan modern Buddhis percaya bahwa Shambhala dapat ditemukan di dataran tinggi pada Rangkaian Pegunungan Dhauladrar di puncak Himalaya.

Petunjuk-petunjuk geografis dalam ajaran Tantra Kalachakra menunjukkan bahwa Shambhala terletak di bagian utara India. Menurut ukuran-ukuran yang dijabarkan oleh ilmu ini, tanah suci ini ada di sebuah tempat sakral bagi kaum Buddhis, Hindu, Bön dan Jain, Gunung Kailash.

Mount Kailash

Gunung Kailash

Ajaran Kalachakra menggambarkan Shambhala dengan nyata, dan menyebutkan bahwa negeri ini terletak di sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung. Dalam lembah ini terdapat dua danau yang disatukan oleh daratan dimana Raja Shambhala pertama membangun istananya.

Dalam bukunya berjudul “Shambhala: In Search of the New Era (Shambhala: Mencari Era Baru)”, Nicholas Roerich menulis:

“Shambhala yang agung ada di seberang lautan. Ia adalah negeri surgawi yang berwibawa. … Hanya di beberapa tempat, di utara jauh, dapat kita lihat cahaya kilau yang dipancarkan Shambhala.”

Sumber: Roerich, Nicholas, “Shambhala: In Search of the New Era”, Vermont, Inner Traditions, 1990, Hal. 2

Yang Suci Panchen Lama ke 3, Ensapa Lobsang Dondrup, menyatakan bahwa kerajaan Shambhala sebenarnya mencakup tiga hal:

  1. Sebuah simbol bagi pencapaian praktik Kalachakra
  2. Sebuah negeri suci tercerahkan
  3. Sebuah lokasi fisik yang nyata

Apapun adanya, negeri ini menempati relung yang istimewa di setiap hati para praktisi karena ketiganya masing-masing penting bagi mereka yang mendalami jalan spiritual. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa mitos, legenda dan cerita tentang Shambhala sangat banyak macamnya. Beberapa diantaranya memang harus diartikan secara harfiah, sementara yang lainnya berfungsi sebagai metafora untuk perjalanan spiritual kita menuju kesadaran yang lebih tinggi

Juga telah ditulis bahwa misalnya seseorang telah tiba pada lokasi fisik Shambhala, orang tersebut bisa jadi tidak menyadarinya, dikarenakan batasan karma yang dimiliki. Sebagai contoh, pada tingkat badani, anda sedang melihat sebuah sungai di depan anda, tapi sungai yang sama akan dilihat sebagai cairan nanah oleh arwah kelaparan; hewan air akan melihatnya sebagai tempat tinggal; dan para dewa dan mereka yang memiliki pencapaian spiritual tinggi akan melihat sungai tersebut sebagai nektar surgawi. Jadi, meski seseorang telah sampai di lokasi Shambhala yang ada pada tingkat duniawi, orang itu tidak selalu memiliki karma yang sesuai untuk melihatnya. Teori ini sesuai dengan fakta bahwa Shambhala dapat dianggap sebagai tempat dimana berbagai dimensi dan alam bertemu.

 

Para Raja Shambhala

Ada 32 Raja Shambhala (masa lampau, sekarang dan masa depan) yang kita ketahui, terdiri dari tujuh Dharmaraja dan 25 raja Kalki. Raja pertama dalam catatan adalah baginda Suchandra, yang menerima ajaran Tantra Kalachakra langsung dari Buddha Shakyamuni, dan kemudian menurunkan praktik Tantra kepada raja yang selanjutnya dan seluruh warga negara Shambhala.

Click on image to enlarge

Raja Manjushri Yashas (klik pada gambar untuk memperbesar)

Ada dua raja lainnya yang menonjol, yaitu Manjushri Yashas dan Pundarika. Manjushri Yashas menuliskan sebuah bentuk singkat Tantra Kalachakra berjudul “Shri Kalachakra Laghutantra”. Beliau juga terkenal karena telah berhasil membimbing sekelompok imam non-Buddhis yang ada di Shambhala untuk memeluk Buddhisme serta menginisiasi mereka dalam praktik Kalachakra. Manjushri Yashas juga meramalkan datangnya “Dharma Barbar” 800 tahun kemudian (sekitar tahun 600). Ramalan ini kemudian terbukti dengan terjadinya invasi oleh bangsa non-Buddhis di Asia Selatan sekitar tahun 636-643. Dalam kata sambutan beliau kepada versi bahasa Jerman “Perjalanan Menuju Śambhala” yang ditulis oleh Panchen Lama ke 6, Lobsang Palden Yeshe, Albert Grunwedel, Tibetologis kebangsaan Jerman, menulis:

“… Panchen Lama memiliki sebuah beban untuk mengumpulkan informasi tentang sebuah negeri ajaib, dimana beliau sendiri menjadi raja dalam kehidupan lampau, karena beliau dahulu adalah [Manjushri] Yasas yang termasyhur atau Manjughosa (kirti)”

Sumber: Grunwedel, Albert, “The Journey to Śambhala”, Munich, Bavarian Academy of Sciences, 2010, Hal. 4

Menurut tradisi, Manjushri Yashas lengser untuk menyerahkan tahta pada putranya, Pundarika. Tidak lama setelah beliau turun tahta, Manjushri Yashas memasuki cahaya terang dan mencapai status Buddha. Pundarika menjadi terkenal karena telah menulis penjelasan tentang Shri Kalachakra berjudul “Vimalaprabha” (Sinar Tanpa Cela). Shri Kalachakra dan Vimalapraba keduanya menjadi kitab rujukan bagi ajaran Tantra Kalachakra hingga saat ini.

Daftar lengkap raja-raja Shambhala adalah berikut ini:

 

Sang Tujuh Dharmaraja

  1. Suchandra – manifestasi Vajrapani
  2. Devendra, Mengasihi Semua Mahluk Sadar – manifestasi Ksitigarbha
  3. Tejasvin, Pemanggul Roda Dharma dan Kerang Kemujuran – manifestasi Yamantaka
  4. Somadatta, Sang Pembicara – manifestasi Sarvanivarnaviskambhin
  5. Deveśvara/Sureśvara, Penghancur Kota Delusi – manifestasi Jambhaka
  6. Viśvamūrti, Penakluk Pemimpin-Pemimpin Palsu, Memegang Bunga Teratai – manifestasi Manaka
  7. Sureśana, Penyibak Delusi, Pencabut Karma dan Klesha – manifestasi Khagarbha

 

Kedua Puluh Lima Raja Kalki

  1. Manjushri Yashas – manifestasi Manjushri
  2. Pundarika, Teratai Putih, Kesayangan Penguasa Potala – manifestasi Avalokiteshvara
  3. Bhadra, Sang Penguasa Roda Seribu Jari – manifestasi Yamantaka
  4. Vijaya, Penarik Harta, Jaya Dalam Perang – manifestasi Kshitigarbha
  5. Sumitra, Penggabung Metode dan Kebijaksanaan, Menang atas Samsara – manifestasi Jambhaka
  6. Raktapani, Pemegang Vajra dan Lonceng Kebahagiaan – manifestasi Sarvanivarnaviskambhin
  7. Vishnugupta, Pemegang Dengan Senyum Trisula dan Tasbih – manifestasi Manaka
  8. Suryakirti, Penghancur Arwah Liar– manifestasi Khagarbha
  9. Subhadra, Pemegang Pedang dan Tameng – manifestasi Vighnantaka
  10. Samudra Vijaya, Pelumat Semua Iblis – manifestasi Vajrapani
  11. Aja, Yang Mengikat dengan Rantai Besi Tak Terpatahkan – manifestasi Yamantaka
  12. Surya/Suryapada, Sinar Kemilau Permata Yang Menembus Semua – manifestasi Kshitigarbha
  13. Vishvarupa, Pemegang Tongkat Vajra dan Tali Gantung – manifestasi Jambhaka
  14. Shashiprabha, Penguasa Mantra-mantra Rahasia, Pemegang Roda dan Kerang –manifestasi Sarvanivarnaviskambhin
  15. Ananta/Thayä, Pemegang Palu yang Melumat Ide-ide Palsu – manifestasi Manaka
  16. Shripaala/Parthiva, Pemegang Pisau yang Memotong Ikatan Ketidaktahuan – manifestasi Khagarbha
  17. Shripala, Penghancur Balatentara Arwah Jahat – manifestasi Vighnantaka
  18. Singha, Yang Menaklukkan Sang Gajah dengan Vajra – manifestasi Vajrapani
  19. Vikranta, Penakhluk Beribu Musuh, Berbagai Iblis Dalam dan Luar – manifestasi Yamantaka
  20. Mahabala, Penakluk Semua Pemimpin Palsu dengan Suara Mantra – manifestasi Kshitigarbha
  21. Aniruddha (raja saat ini), Yang Menarik dan Mengikat Ketiga Alam – manifestasi Jambhaka
  22. Narasingha, Memerintah dengan Sang Roda, Memegang Kerang – manifestasi Sarvanivarnaviskambhin
  23. Maheshvara, Pemenang Atas Balatentara Roh Jahat – manifestasi Khagarbha
  24. Anantavijaya, Pemegang Vajra dan Lonceng – manifestasi Vajrapani
  25. Raudra Chakrin, Pemegang Kuat Roda– manifestasi Manjushri

Raudra Chakrin dipercaya sebagai raja masa depan dan terakhir negeri Shambhala. Menurut sebuah ramalan dalam ajaran Tantra Kalachakra, Raudra Chakrin akan mengalahkan para pemimpin rusak masa depan dan mengantarkan pada Masa Keemasan. Setelah Masa Keemasan tersebut berakhir, Dharma akan menurun dan akhirnya hilang sama sekali dari dunia. Setelah ratusan ribu tahun tanpa Dharma, Buddha selanjutnya pada masa kita, Maitreya, akan lahir dan sekali lagi memutar roda Dharma.

 

Ramalan Shambhala

Shambhala007

Dalam ajaran Tantra Kalachakra terdapat prediksi bahwa dunia saat ini akan menjadi rusak karena peperangan dan ketamakan seiring dengan menyebarnya materialisme dan hedonisme. Mereka yang menganut paham materialisme akan dikenal dengan istilah kaum barbar (mleccha). Di masa yang akan datang, ketika kaum barbar dan para raja jahat yang berkuasa atas mereka mempercayai bahwa tidak ada yang tersisa yang bisa mereka taklukkan, kabut yang menyembunyikan Shambhala akan terangkat sehingga lokasi fisik tanah surgawi ini akan diketahui para kaum barbar.

An 18th century thangka of Raudra Chakrin

Sebuah thangka abad 18 menggambarkan Raudra Chakrin (klik untuk memperbesar)

Kaum barbar dan raja-raja mereka akan berusaha menyerang Shambhala dengan balatentara mereka yang besar dan senjata-senjata yang mengerikan. Menyikapi serangan ini, Raja Kalki ke 25 Shambhala, Raudra Chakrin, akan memimpin sebuah pasukan yang besar untuk mengalahkan kekuatan gelap dan mengantarkan dunia kita pada sebuah Masa Keemasan.

Menurut Alexander Berzin, kejadian ini akan terjadi di tahun 2424. Namun, beberapa ahli teologi mengartikan perang ini sebagai simbolis saja, karena ajaran Buddha yang tidak mendukung penggunaan kekerasan. Pertempuran yang digambarkan mewakili konflik dalam diri setiap praktisi ketika mereka memerangi sifat-sifat negatif seperti ketamakan, kemarahan dan egoisme. Hal ini konsisten dengan penjelasan yang diberikan oleh Khedrub Je, salah satu murid Lama Tsongkhapa:

“’Perang suci’ secara simbolis diartikan sebagai peperangan dalam batin semua praktisi melawan kecenderungan berperilaku barbar.”

Sumber: en.wikipedia.org

Kekuatan karma lah yang mengendalikan para mahluk sadar yang disetir oleh insting-insting egois serta kebiasaan dan budaya yang diciptakan oleh ketidaktahuan tentang sifat realita hidup. Karena itu para mahluk ini saling menyakiti dan bertengkar satu sama lain untuk menciptakan karma masing-masing. Karma inilah yang bergulir menjadi tabiat dan kecenderungan untuk melanjutkan siklus yang pada gilirannya akan menciptakan kekuatan-kekuatan baru karma.

Karena alasan ini, pertempuran yang digambarkan dalam ramalan Kalachakra merupakan pergumulan batin, dan yang dilawan adalah hembusan angin delusi dan emosi yang bersifat merusak, disebabkan oleh karma yang menjadi liar dalam tubuh kita. Para praktisi Tantra akan mengumpulkan semua “angin psikis” ini dan meleburnya habis dalam chakra hati. Ketika para praktisi sukses melakukan hal ini, mereka akan mampu melihat tingkatan pikiran yang paling subtil, yaitu pikiran cahaya terang. Tingkat pikiran ini merupakan tingkatan yang paling dalam dan arti tertinggi dari Shambhala Yang Di Dalam, negeri penuh damai.

Karena itu, berdasarkan ramalan ini, dapat dikatakan bahwa di masa depan, Raja Raudra Chakrin akan memimpin para mahluk sadar dalam sebuah pertempuran melawan kecenderungan negatif yang mengakibatkan banyak penderitaan bagi diri sendiri, serta mengantarkan kita masuk dalam Masa Keemasan. Interpretasi ini lebih mungkin daripada pertempuran fisik melawan musuh dari luar.

 

Bagaimana Mencapai Shambhala

Meskipun Shambhala berdiri di dalam alam manusia, ia menempati sebuah dimensi yang berbeda sehingga kita secara umum tidak dapat berinteraksi dengannya. Dipercaya bahwa hanya mereka yang memiliki pahala dan kedekatan spiritual mumpuni yang mampu mengunjungi tanah suci ini. Dalai Lama ke 14 mengatakan bahwa:

“Mereka yang memiliki kedekatan khusus memang bisa mencapainya melalui keterhubungan karma, tetapi negeri tersebut bukan sebuah tempat fisik yang bisa kita temukan. Kita hanya bisa mengatakan bahwa ia adalah tanah suci, sebuah tanah suci yang terdapat dalam alam manusia. Dan terkecuali seseorang punya kepantasan dan kedekatan karma, dia tidak akan bisa sampai ke sana.”

Sumber: ancient-origins.net

Mereka yang hendak mencapai Shambhala dapat melakukannya melalui tiga metode:

  • Dilahirkan di negeri tersebut
  • Menemukan lokasi fisik negeri tersebut
  • Melalui perjalanan astral

Terdapat banyak catatan tentang para yogi yang dalam keadaan meditatif dalam mampu mengunjungi Shambhala melalui perjalanan astral. Para yogi ini telah menggambarkan ukuran, lokasi dan penampilan negeri ini, beserta instruksi tentang bagaimana cara memasukinya. Praktisi-praktisi tradisi lain juga telah ada yang bisa melakukan perjalanan fisik ke Shambhala.

Dalam bukunya, “Shambhala: In search of the New Era (Shambhala: Pencarian Era Baru)”, Nicholas Roerich menulis:

“Kita mengetahui Tashi Lama (Panchen Lama) yang mana telah mengunjungi Shambhala. … Kita tahu bahwa beberapa lama luhur pernah pergi ke Shambhala, bagaimana di perjalanan mereka kesana mereka melihat hal-hal fisik yang sama. Kita mengetahui cerita seorang Lama dari Buryatia, bagaimana beliau ditemani menembus sebuah celah yang sempit nan rahasia. Kita mengetahui bagaimana seorang pengunjung melihat rombongan orang-orang bukit dari sekitar danau di perbatasan dengan Shambhala.”

Sumber: Roerich, Nicholas, “Shambhala: In Search of the New Era”, Vermont, Inner Traditions, 1990, hal. 2

 

Silsilah Para Panchen Lama

The 4th Panchen Lama Lobsang Chokyi Gyaltsen

Panchen Lama ke 4 Lobsang Chokyi Gyaltsen (klik untuk memperbesar)

Garis inkarnasi Panchen Lama dipercaya sebagai emanasi Buddha Amitabha dan di saat yang bersamaan juga merupakan emanasi Raja Manjushri Yashas. Panchen Lama juga dianggap sebagai salah satu tulku (guru yang bereinkarnasi) terpenting dalam tradisi Gelug. Kata “Panchen” adalah sebuah singkatan dari kata dalam bahasa Sansekerta “Pandita”, yang berarti “cendekiawan” dan “Chenpo”, sebuah kata dalam bahasa Tibet yang berarti “Agung”. Oleh sebab itu, “Panchen Lama” berarti “Guru-Cendekia Agung”.

Panchen Lama yang pertama dalam menerima gelar ini adalah Lobsang Chokyi Gyaltsen, guru Yang Suci Dalai lama ke 5. Lobsang Chokyi Gyaltsen kini dicatat sebagai Panchen Lama yang ke 4. Khedrup Gelek Pelzang (Khedrup Je), Sonam Choklang, dan Ensapa Lobsang Dondrup kemudian diakui setelah kematian mereka sebagai Panchen yang pertama, kedua dan ketiga. Dalai Lama yang ke 5 juga menganugrahkan Biara Tashi Lhunpo di Shigatse (yang didirikan oleh Dalai Lama Pertama) kepada Panchen Lama dan inkarnasi beliau yang selanjutnya. Karena kediaman utama Panchen Lama berada di Biara Tashi Lhunpo, beberapa orang Barat, seperti Nicholas Roerich, memanggil beliau sebagai Tashi Lama.

Tashi Lhunpo Monastery, Shigatse

Biara Tashi Lhunpo, Shigatse

Saat Panchen Lama ke 4 memasuki cahaya terang, Dalai Lama ke 5 memulai pencarian reinkarnasi beliau. Dalai Lama juga menetapkan gelar “Panchen” bagi Panchen Lama yang selanjutnya. Pada tahun 1713, Kaisar Kangxi memberi gelar “Panchen Erdeni” Panchen Lama ke 5.“Erdeni” dalam bahasa Manchu berarti “Yang Sangat Dihargai”.

Panchen Lama adalah mahluk yang tinggi tingkat realisasinya, dan inkarnasi beliau dapat ditelusuri kebelakang sampai ke masa Buddha Shakyamuni. Beliau dipercaya memiliki banyak emanasi, tidak hanya pada planet kita, tapi dalam berbagai dimensi dan sistem dunia.

 

Panchen Lama ke 6

Yang Suci Lobsang Palden Yeshe (1738 – 1780), Panchen Lama ke 6, adalah penulis karya “Perjalanan ke Śambhala”. Beliau juga merupakan saudara laki-laki seorang lama penting dalam tradisi Kagyu, Shamarpa ke 10, Mipam Chodrup Gyamtso.

 

Kehidupan Awal

The 6th Panchen Lama, Lobsang Palden Yeshe

Panchen Lama ke 6, Lobsang Palden Yeshe (klik untuk memperbesar)

Panchen Lama ke 6 dilahirkan di Rangdi Tashi Ze di Tibet Selatan. Ayahnya bernama Tangla dan ibunya, yang mempunyai latar belakang bangsawan, bernama Nyida Angmao. Setelah menjalani berbagai ritual ketat dan tes yang menyeluruh, beliau dinyatakan sebagai reinkarnasi Panchen Lama ke 5. Dalai Lama ke 7 kemudian mengirim utusan untuk mengukuhkan identitas bocah tersebut dan mengundangnya beserta wali ke Lhasa. Dalai Lama ke 7 lalu memberitahu Amban Pemerintah Qing (Menteri Perwakilan Kekaisaran Qing di Tibet), Ji Shan tentang ditemukannya Panchen Lama ke 6. Setelah menerima persetujuan Kaisar Qianlong (1711 – 1799), Dalai Lama ke 7 menganugrahi Panchen Lama ke 6 nama Buddhis, Lobsang Palden Yeshe.

Upacara pentahtaan Panchen Lama ke 6 diadakan tanggal 4 Juni 1741 di Aula Riguang (Aula Sinar Matahari) di biara Tashi Lhunpo. Acara agung ini dihadiri oleh orang-orang berpengaruh termasuk utusan Kaisar Qianlong dan Dalai Lama ke 7.

Changkya Rolpai Dorje

Changkya Rolpai Dorje (klik untuk memperbesar)

Ketika Yang Suci Dalai Lama ke 7 memasuki cahaya terang di tahun 1757, Panchen Lama ke 6 memerintahkan para biarawan di Tashi Lhunpo untuk membacakan teks-teks suci Buddhis selama tiga hari berturut-turut untuk menghormati sang pemimpin spiritual. Dalam bulan Juni pada tahun yang sama, Panchen Lama ke 6 menerima ordinasi penuh dari guru Sutra beliau, Luosang Qunpei.

Satu tahun kemudian, pada bulan April 1758, seorang guru Buddhis berpengaruh dari lingkungan istana Qing, Changkya Rolpai Dorje, mengunjungi Panchen Lama ke 6 untuk berdiskusi tentang hal-hal politik dan relijius di Tibet. Sepertinya antara kedua lama berpengaruh tersebut terdapat kecocokan dan mereka kemudian memiliki hubungan yang erat. Pada bulan Februari 1759, Changkya Rolpai Dorje mengundang Panchen Lama ke 6 untuk mengadakan sebuah inisiasi massal Kalachakra bagi 6.000 orang awam dan anggota komunitas biara. Upacara ini bersamaan waktu dengan upacara peresmian stupa relik Dalai Lama ke 7.

 

Pencarian Dalai Lama ke 8

The 8th Dalai Lama (click to enlarge)

Dalai Lama ke 8, Jamphel Gyatso (klik untuk memperbesar)

Garis Dalai Lama dan Panchen Lama memiliki hubungan yang istimewa; ketika salah satu dari mereka memasuki cahaya terang, yang lainnya mencari reinkarnasi yang benar, mentahtakannya serta memastikan bahwa asuhannya menerima ajaran silsilah yang sejati. Dengan demikian, ajaran murni dilestarikan dan disebarkan untuk kepentingan banyak orang. Hal ini terlihat jelas dalam cara Dalai Lama ke 7 menemukan dan mentahtakan Panchen Lama ke 6.

Mengikuti tradisi penting ini, pada tahun 1760 Panchen Lama ke 6 mengirimkan rombongan pencarian reinkarnasi Dalai Lama ke 7. Kemudian, dengan ijin Kaisar Qianlong, beliau memboyong bocah laki-laki yang adalah reinkarnasi Dalai Lama ke Tibet. Panchen Lama ke 6 memberikan bocah ini sumpah ordinasinya, mengatur upacara pentahtaannya di Istana Potala, dan memberinya nama Jamphel Gyatso. Panchen Lama ke 6 juga kemudian bertindak sebagai wali tahta bagi Dalai Lama ke 8 yang masih muda.

Cara Panchen Lama ke 6 mengatur urusan spiritual dan politik Tibet sangat berkesan bagi Kaisar Qianlong yang digdaya. Pada tahun 1766, sang Kaisar mengirim utusannya ke Biara Tashi Lhunpo untuk menyampaikan surat kekaisaran yang menyatakan:

“Panchen Lama merupakan seorang lama mumpuni yang memiliki karakter agung dan reputasi yang tersohor. Sang lama yang juga guru bagi Dalai Lama dan mengerti Dharma, diminta untuk mengkhotbahkan kepada kaum agamawan serta rakyat jelata untuk menuruti perintah secara sunguh-sungguh, mengukuhkan jalan perkembangan Buddhis yang menjaga Tibet, dan berusaha untuk mengajarkan sifat terpuji dan kesopan santunan kepada semua rakyat Tibet.”

Sumber: eng.tibet.cn

Beserta surat kekaisaran ini, Kaisar Qianlong menganugrahi Panchen ke 6 sebuah stempel emas yang memiliki berat 11,5 kg dengan gelar beliau terukir di atasnya. Panchen Lama ke 6 kemudian menulis sebuah memorial kepada Kaisar Qianlong untuk menyatakan apresiasi beliau.

 

Lama Progresif

Another depiction of the 6th Panchen Lama

Penggambaran lain Panchen Lama ke 6 (klik untuk memperbesar)

Panchen Lama ke 6 terkenal akan pemikirannya yang progresif, karya penanya dan kepiawaian diplomatiknya dan seseorang yang meminati berbagai hal. Beliau juga dikenal sebagai pendamai, terutama ketika ada konflik regional; memainkan peran penting dalam memastikan keamanan Tibet dan juga pengaruhnya dalam istana kekaisaran Qing.

Di tahun 1774, British East India Company, yang mewakili kepentingan Inggris Raya di kawasan Samudra Hindia, terlibat konflik militer dengan kerajaan Bhutan. Raja Bhutan (Druk Desi) saat itu, Kunga Rinchen, memohon bantuan Panchen Lama ke 6 untuk melakukan mediasi dengan pihak Inggris dan menegosiasikan sebuah penyelesaian damai. Druk Desi adalah pemimpin sekuler Bhutan, sementara Je Khenpo, sang pemimpin relijius, menjadi pemimpin spiritual di Bhutan.

Melihat sebuah kesempatan untuk memperluas pengaruh Imperium Inggris, Warren Hastings, Gubernur Jendral India, mengirimkan George Bogle, seorang diplomat berkebangsaan Skotlandia, untuk bertemu dengan Panchen Lama ke 6 di Biara Tashi Lhunpo dengan misi untuk menetapkan perdagangan bebas antara Cina, Tibet dan Inggris Raya. Panchen Lama ke 6 menjelaskan kepada Bogle dalam sebuah bahasa India bahwa Bhutan adalah Negara yang tunduk pada Cina, sedangkan Tibet adalah bagian dari Cina. Karena itu, sebuah keputusan yang melibatkan sebuah kekuatan asing seperti Inggris menjadi hak Kaisar Qianlong.

The 6th Panchen Lama Received George Bogle, an oil painting by Tilly Kettle c. 1775

Panchen Lama ke 6 menerima George Bogle, lukisan karya Tilly Kettle sekitar tahun 1775

Setelah melakukan percakapan ini, Bogle terpaksa melupakan rencana awalnya untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan di Lhasa, dan kemudian memutuskan untuk menemui sang Amban atau wakil kaisar Cina di Tibet. Druk Desi akhirnya menandatangani perjanjian damai dengan Inggris, dimana Bhutan setuju untuk kembali ke marka perbatasan sebelum tahun 1730 dan mengijinkan Inggris untuk memanen kayu di Bhutan. Orang Bhutan juga diminta untuk menghadiahkan 54 ekor kuda sebagai penghormatan simbolis kepada Inggris. Meski negosiasi tidak menghasilkan apa yang dimaui Inggris, Bogle tetap bersikap sopan kepada Panchen ke 6 dan hubungan keduanya tetap baik.

Di samping relasi beliau dengan orang-orang penting di masanya, Panchen Lama ke 6 juga dikenal sebagai penulis karya-karya sastra. Beliau menulis “Perjalanan ke Śambhala”, di mana bisa ditemukan deskripsi mendetil tentang bagaimana memasuki negeri tersebut dan ciri-ciri khas geografisnya.

 

Hubungan Dengan Kekaisaran Qing

Xumi Fushou Temple

Kuil Xumi Fushou

Di tahun 1778, Kaisar Qianlong mengundang Panchen Lama ke 6 untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya ke 70 di kota Beijing. Panchen Lama ke 6 memenuhi undangan tersebut dan melakukan perjalanan bersama rombongan besar di tahun 1780. Pejabat-pejabat Cina menerimanya dengan baik di sepanjang perjalanan menuju ke ibukota. Untuk memperingati kedatangan Panchen Lama ke 6 di Cina, Kaisar Qianlong membangun Kuil Xumi Fushou di Gunung Chengde, sebuah kuil yang dibangun mirip dengan Biara Tashi Lhunpo. Selama singgah di Beijing, Panchen Lama ke 6 dianugrahi berbagai macam barang-barang berharga dan penghargaan.

Sayangnya, pada tahun yang sama, Panchen Lama ke 6 memasuki cahaya terang di Beijing pada tanggal 2 November 1780.

 

Kumpulan Doa

Karya-karya Panchen Lama ke 6 terkait praktik Kalachakra dan Shambhala dikenal luas. Beliau menulis beberapa doa yang menggabungkan konsep-konsep praktik Tantra dan mitologi Shambhala. Doa-doa ini sebenarnya diperuntukkan sebagai praktik harian dan berwujud meditasi Guru Yoga. Setiap doa ini dimulai dengan visualisasi Raja Kalki ke 25 Raudra Chakrin, duduk di pekarangan tengah istananya di pusat Shambhala. Sang Raja berpenampilan sebagai seorang prajurit yang perkasa. Sebagai emanasi Manjushri, sosok Raudra Chakrin sangat bermanfaat untuk keperluan meditasi. Dalam doa di bawah ini, Panchen Lama menyebut Shambhala sebuah sebuah lokasi fisik, sebuah negeri suci dan pada saat yang bersamaan sebuah simbol pencapaian spiritual melalui praktik Kalachakra.

 

DOA SHAMBHALA

Oleh Yang Suci Panchen Lama ke 6, Lobsang Palden Yeshe

Hormat kepada guru spiritual yang baik hati
Tak terpisahkan dengan Kalachakra yang agung,
Yang telah mencapai tingkatan tubuh kosong,
Dengan kebahagiaan kekal indah tak tertandingi
dalam pelukan abadi dengan kekasih dharmadhatu yang cakap.
Di arah utara India adalah negeri luar biasa Shambhala,
Dengan kota Kalapa bak permata di jantung hatinya.
Disana, di tengah-tengah, duduk pada singgasana berhias permata,
Seperti mengendarai kuda terbang ajaib
Adalah Raudra Chakrin, Pemegang Roda yang murka.

Ku panggil dirinya, perwujudan Tiga Permata:
majulah dengan senjatamu yang penuh kebijaksanaan tak terkira;
Bantailah dalam diriku setiap delusi
Dan tabiatku mempertahankan keberadaanku yang fana.

Berkatilah aku hingga dapat melihatmu di Shambhala,
Dengan hikmat membimbing pengikutmu yang berjubel.
Dan ketika tiba waktunya untuk menjinakkan kaum barbar,
Semoga Kau mendekapku di lingkaran dalammu.

Jika ku mati sebelum mencapai pencerahan
Ijinkanlah ku terlahir kembali di Shambhala, di kota Kalapa,
Dan cukup beruntung untuk meminum madu
Ajaran agung para guru kalkin.

Perbolehkan diriku menuntaskan ajaran non-dualisme yang mendalam
Dari kedua tahap praktik Tantra yang diajarkan dalam Guhyasamaja, Yamantaka, Heruka Chakrasamvara dan Kalachakra;
Jadi dalam kehidupan ini, perbolehkan diriku mencapai realisasi
Cahaya terang dan tubuh fana dalam kesatuan utuh,
Atau tubuh kosong yang bersatu dengan kebahagiaan kekal.

Sumber: Mullin, Glenn H. The Practice of Kalachakra (hal. 150-151). Shambhala. Kindle Edition.

 

Mengenai Biara Tashi Lhunpo

Sambhala017

Biara Tashi Lhunpo didirikan oleh Yang Suci Dalai Lama pertama, Gedun Drub, dengan bantuan dana dari para bangsawan di sekitar tahun 1447. Nama Tashi Lhunpo berarti “tumpukan keagungan” atau “semua keberuntungan dan kebahagiaan terkumpul di sini”. Biara agung ini terletak di Shigatse, di kawasan Tsang, kota budaya terpenting kedua di Tibet setelah Lhasa.

Dalai Lama ke 5 menghadiahkan Biara Tashi Lhunpo kepada gurunya, Panchen Lama ke 4, dan sejak saat itu biara tersebut menjadi kediaman resmi garis inkarnasi Panchen Lama. Panchen Lama ke 4 kemudian mengumpulkan dana untuk memperluas Biara Tashi Lhunpo, dan berkat usahanya, Biara Tashi Lhunpo berstatus sederajat dengan tiga biara besar Gelug: Gaden, Sera, dan Drepung.

The Gorkha Kingdom (from the present-day Nepal) invaded Tibet, captured Shigatse, and ransacked Tashi Lhunpo Monastery in 1791

Kerajaan Gorkha (sekarang Nepal) menginvasi Tibet, mencaplok Shigatse, dan memporakporandakan Biara Tashi Lhunpo di tahun 1791

Setelah wafatnya Panchen Lama ke 6, Kerajaan Gorkha (sekarang Nepal) menginvasi Tibet, menduduki Shigatse, dan menjarah Biara Tashi Lhunpo di tahun 1791.

Untungnya Panchen Lama ke 6 telah membina hubungan baik dengan Cina, dan Kaisar Qianlong mengirimkan pasukannya ke Tibet. Kemudian pasukan gabungan Qing dan Tibet mempertahankan Tibet dan berhasil mengusir tentara Gorkha sampai ke pinggiran Kathmandu. Bangsa Gorkha juga dipaksa menandatangani perjanjian untuk mempertahankan perdamaian dan membayar upeti setiap lima tahun. Yang terpenting, bangsa Gorkha diwajibkan mengembalikan semua jarahan mereka ke Tashi Lhunpo.

Kemegahan Biara Tashi Lhunpo selalu berhasil membuat kagum pengunjung selama berabad-abad sejak pertama berdiri. Menurut Kapten Samuel Turner, seorang pegawai East India Company yang berkunjung di abad 18:

“Jika kemegahan tempat bisa ditingkatkan dengan sesuatu yang dari luar; maka hanya sang surya yang terbit di seberang biara dalam semua keagungannya bisa membuat kanopi dan menara bersalut emas yang ada bersinar. Sebuah pemandangan yang indah dan maha dahsyat; efeknya bak magis, dan kesan yang ditimbulkan dipikiran saya tidak akan pernah pudar.”

Sumber: en.wikipedia.org

Biara Tashi Lhunpo pernah menaungi 4.000 biarawan sekaligus. Struktur biara dibagi menjadi empat Perguruan Tinggi Tantra, dan setiap perguruan memiliki kepala biara sendiri. Empat kepala biara ini mengemban tanggung jawab utama dalam pencarian reinkarnasi Panchen Lama setelah beliau meninggal.

Shambhala019

Di masa Revolusi Kebudayaan, Pasukan Merah memporakporandakan Biara Tashi Lhunpo serta membakari buku-buku suci di dalamnya. Mereka juga membongkar stupa relik Panchen Lama ke 5 dan 9, kemudian membuang relik-relik beliau ke dalam sungai, juga merusak tempat tinggal para biarawan. Penduduk Shigatse sempat menyelamatkan beberapa relik peninggalan Panchen Lama ke 5 dan 9. Meskipun begitu, pengrusakan di Biara Tashi Lhunpo terbilang lebih minim daripada yang diderita bangunan relijius lainnya di Tibet karena Panchen lama ke 10 memilih tinggal di Tibet.

Maitreya Statue at Tashi Lhunpo Monastery (click to enlarge)

Patung Maitreya di Biara Tashi Lhunpo (klik untuk memperbesar)

Di tahun 1985, Panchen Lama ke 10 memulai pembangunan stupa relik yang baru untuk menyimpan sisa jasad Panchen Lama ke 5 dan 9. Pada tanggal 22 Januari 1989, Panchen Lama ke 10 menyucikan stupa baru ini sebelum beliau memasuki cahaya terang enam hari kemudian di Biara Tashi Lhunpo.

Dewasa ini, Biara Tashi Lhunpo yang megah berdiri di atas lahan 150.000 meter persegi (15 hektar) dan dikelilingi dengan tembok sepanjang 3.000 meter (9.842 kaki). Dalam kompleks biara terdapat 58 Kapel Sutra dan kira-kira 3.600 ruangan. Sebuah fitur unik dari Biara Tashi Lhunpo adalah kebanyakan bangunannya yang mempunyai tegel disapu emas dan tembok yang saling bersambungan. Banyak peziarah datang untuk berjalan mengelilingi biara ini karena dianggap sebagai tempat suci.

Fitur-fitur utama Biara Tashi Lhunpo adalah:

  • Patung besar Maitreya di dalam Kuil Maitreya yang dibangun oleh Panchen Lama ke 9. Patung ini memiliki ketinggian 26,2 meter (85,9 kaki) dan panjang 11,5 meter (37,7 kaki). Pondasi berbentuk teratainya sendiri setinggi 3,8 meter (12,5 kaki). Patung ini dihiasi dengan permata dan lapisan emas dan kuningan.
  • Stupa-stupa relik Panchen Lama sebelumnya, dimana pengunjung bisa membaca tentang pencapaian setiap Panchen Lama yang terukir di tembok-tembok sekeliling.
  • Istana Panchen Lama, atau Istana Putih, yang berisi thangka sutra sulaman yang menceritakan kejadian-kejadian dalam hidup berbagai Panchen Lama, dilengkapi dengan banyak inskripsi. Namun, bagian istana yang dihuni Panchen Lama secara pribadi tidak terbuka bagi umum, karena itu pengunjung sudah harus puas melihat beberapa aula kecil yang ada di depan istana.
  • Panggung Pameran Thangka yang merayakan lahirnya, pencerahan dan parinirvana Buddha Shakyamuni. Panggung ini dibangun pada tahun 1468 di bawah pengawasan Dalai Lama yang pertama. Panggung Pameran Thangka merupakan simbol yang spesial bagi kota Shigatse. Panggung ini memiliki tinggi 32 meter (104,9 kaki) dan panjang 42 meter (137,7 kaki).
  • Berbagai kapel dan aula, termasuk kapel Dorje Shugden yang menawan.
Thangka Sunning Festival at Tashi Lhunpo Monastery

Festival Penjemuran Thangka di Biara Tashi Lhunpo

Setiap tahun, dari tanggal 14 sampai 16 Mei, Biara Tashi Lhunpo mengadakan Festival Penjemuran Thangka. Puncak acara setiap harinya adalah pembukaan tiga thangka. Pada hari pertama, sebuah thangka Buddha Amitabha (yang mencapai pencerahan di aeon sebelumnya) dibuka untuk mengingatkan para praktisi untuk menghargai Dharma yang telah mereka terima di masa lampau. Di hari kedua, sebuah thangka Buddha Shakyamuni (Buddha masa kini) dibuka untuk mengingatkan orang untuk melakukan tindakan bajik serta mempraktikkan Dharma sekarang juga. Di hari ketiga, sebuah thangka Maitreya (Buddha Masa Depan) dibuka untuk mengingatkan praktisi untuk memikirkan tentang kelahiran-kelahiran mereka di masa yang akan datang, serta mengingatkan mereka untuk senantiasa berdoa untuk kemajuan praktik spiritual mereka. Setiap tahunnya, acara ini menarik peserta lebih dari 20.000 orang.

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

 

Pengantar Tantra Kalachakra

Kalachakra merupakan salah satu praktik Tantra tertinggi yang dibawa dari India ke Tibet. Kalachakra secara literal berarti “siklus waktu”. Tantra ini menjelaskan kemajuan spiritual dan universal melalui penggunaan tiga siklus:

  • Siklus Luar
  • Siklus Dalam
  • Siklus Alternatif (spiritual)
A Kalachakra sand mandala

Mandala Pasir Kalachakra

Ketiga siklus ini masuk dalam lima bab tentang Tantra Kalachakra. Bab pertama dan kedua dikenal sebagai Kalachakra Dasar.

  • Bab 1 mengandung informasi tentang Kalachakra luar atau fisik atau siklus. Hal ini termasuk informasi tentang sistem kalender Kalachakra, cara kerja elemen-elemen alam, sistem-sistem tata surya kita dan kematian semesta.
  • Bab 2 mengandung informasi tentang Kalachakra dalam, dan fungsi dan klasifikasi tubuh manusia dan pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Tubuh manusia terdiri dari beberapa komponen seperti angin, saluran dan tetesan, sedangkan pengalaman manusia digambarkan sebagai bangun tidur, bermimpi, tidur nyenyak dan energi dari orgasme seksual.

Bab 3 sampai 5 dikenal sebagai Jalan dan Hasil.

  • Bab 3 mengandung informasi tentang persiapan untuk praktik meditasi, yang merupakan inisiasi Kalachakra.
  • Bab 4 menjelaskan tentang praktik meditasi pada mandala, dewata yang terlibat dalam tahap praktik visualisasi dan tahap penggenapan atau penyempurnaan dari Enam Yoga Kalachakra.
  • Bab 5 menggambarkan hasil dari praktik, yaitu tahap pencerahan.

 

Asal Mula Tantra Kalachakra Mencapai Tibet Dari India

The Kalachakra deities as the main figures

Dewata Kalachakra (klik untuk memperbesar)

Tantra Kalachakra mencapai India berkat usaha dari seorang suci bernama Kalachakrapada Yang Dituakan. Diceritakan bahwa suatu hari Manjushri, yang merupakan yidam (dewata meditasi) Kalachakrapada, menampakkan diri dan menganjurkannya untuk melakukan perjalanan ke bagian utara India. Di sana, beliau bertemu dengan Raja Kalki Aja yang dipercaya sebagai emanasi Yamantaka. Raja Aja menganugrahi beliau inisiasi dan penjelasan lengkap tentang praktik Kalachakra. Oleh sebab itu, Kalachakrapada menjadi guru India pertama dari sekian banyak yang menyebarkan praktik ini.

Setelah beliau kembali ke India, Kalachakrapada mengalahkan kepala Biara Nalanda, Naropa, dalam sebuah debat dan menginisiasinya ke dalam praktik Kalachakra. Naropa kemudian secara resmi mengadopsi praktik Kalachakra di Biara Nalanda dan melakukan inisiasi bagi berbagai guru besar seperti Atisha ke dalam ajaran ini.

Terdapat dua aliran utama Tantra Kalachakra yang masuk ke Tibet: Ra dan Dro. Aliran Ra diturunkan dari Samantashri, seorang guru Kashmir dan Ra Lotsawa Dorje Drak, seorang penerjemah Tibet. Guru-guru besar tradisi Sakya seperti Drogon Chogyal Phagpa (1235-1280), Sakya Pandita (1182-1251), Buton Rinchen Drup (1290-1364), dan Dolpopa Sherab Gyeltsen (1292-1361) mempraktikkan aliran Ra.

Aliran Dro diturunkan dari Somanatha, juga seorang cendekiawan Kashmir yang melakukan perjalanan ke Tibet, dan penerjemah Dro Lotsawa Sherab Drak. Aliran Dro banyak dipraktikkan dalam tradisi Jonang. Seorang cendekiawan Jonang yang terkenal, Taranatha, menulis sebuah penjelasan tentang aliran Kalachakra Dro. Buton Rinchen Drup dan Dolpopa Sherab Gyeltsen keduanya merupakan ahli Tantra Kalachakra baik dari aliran Ra maupun Dro.

Tantra Kalachakra masuk ke dalam tradisi Gelug melalui Lama Tsongkhapa. Diceritakan bahwa Lama Tsongkhapa menerima sebuah penglihatan suci tentang Kalachakra dan pertanda yang baik ketika menelaah jenis Tantra ini. Sang dewa menaruh tangan-tangan utamanya pada kepala Lama Tsongkhapa dan bersabda, “Tentang Tantra Kalachakra, kau telah tampil bak Raja Suchandra.” Salah satu murid utama Lama Tsongkhapa, Khedrup Je, yang di kemudian hari akan dikenal sebagai Panchen Lama pertama, menulis sebuah penjelasan tentang Tantra Kalachakra.

Dewasa ini, Tantra Kalachakra dipraktikkan oleh semua tradisi Buddhis Tibet, dan memiliki tempat khusus pada tradisi Gelug.

 

Ikonografi Shri Kalachakra

Berikut ini adalah fitur-fitur utama dari ikonografi Shri Kalachakra:

  • Tubuhnya berwarna biru.
  • Beliau memiliki empat wajah. Wajah utama biru kehitaman, dengan ekspresi garang dan gigi-gigi yang menyeringai. Wajah di sebelah kanan berwarna merah dengan ekspresi penuh nafsu. Wajah di sisi kiri berwarna putih dengan ekspresi damai. Akhirnya wajah di bagian belakang berwarna kuning dan dalam keadaan Samadhi. Setiap wajah memiliki tiga mata.
  • Rambutnya diikat dan berhiaskan vajrasattva, vishvavajra, dan sebuah bulan sabit sebagai mahkota.
  • Kalachakra memakai pada dirinya anting-anting Vajra, kalung-kalung, berbagai gelang, sebuah permata Vajra, gelang-gelang kaki, sabuk, mala, dan kemeja kulit harimau longgar.
  • Beliau memiliki enam pasang bahu. Pasangan pertama dan kedua di sisi kanan dan kiri berwarna biru. Yang ketiga dan keempat berwarna merah, sedangkan kelima dan keenam putih.
  • Dari keduabelas lengan atasnya, empat lengan pertama (kiri dan kanan) berwarna hitam, keempat lengan berikutnya merah dan keempat lengan terakhir putih.
  • Pada keduapuluh empat tangannya, semua jari kelingking berwarna hijau, jari manisnya hitam, jari tengah merah, telunjuk berwarna putih dan jempolnya kuning. Semua jari beliau bersinar dan indah dipandang.
  • Pada keduabelas tangan kanannya, empat tangan hitam pertama memegang sebuah vajra, pedang, trisula dan sebuah pisau meliuk. Empat tangan merah memegang anak panah berapi, kait vajra, damaru yang berderak dan sebuah palu, sedangkan keempat tangan putih menggenggam roda, tombak, tongkat dan kapak perang.
  • Di keduabelas tangan kirinya, keempat tangan hitam pertama beliau memegang lonceng vajra, perisai, Katvanga, dan cawan berisikan darah. Keempat tangan merah menggenggam busur panah, vajra, tali laso, permata, dan teratai putih, sedangkan keempat tangan putihnya memegang kerang, cermin, rantai vajra dan kepala Brahma berwajah empat dihiasi dengan teratai.
  • Kaki kanan beliau memijak keluar dan berwarna merah Kaki tersebut menginjak sebuah sosok bernama Kamadeva yang memiliki empat tangan dan satu wajah. Keempat tangan Kamadeva memegang lima macam bunga, busur panah, tali laso dan kait.
  • Kaki sebelah kanan Kalachakra berwarna putih , dan menginjak sosok bernama Rudra, yang memiliki wajah putih, empat tangan dan tiga mata. Keempat tangannya menggenggam trisula, damaru, cawan tengkorak dan tongkat katvanga.
  • Memegangi bagian bawah telapak kaki Kalachakra adalah dua roh jahat, Uma dan Rati, yang tergeletak dalam posisi mengenaskan.

Berikut ini adalah fitur-fitur ikonografi Vishvamata (pasangan Shri Kalachakra):

  • Tubuhnya berwarna kuning.
  • Keempat wajah beliau, dari kanan ke kiri, berwarna kuning, putih, biru dan merah. Setiap wajah memiliki tiga mata.
  • Keempat tangan kanan beliau menggenggam pisau meliuk, kait, damaru berderak dan mala terbuat dari manik-manik.
  • Dalam empat tangan kirinya terdapat cawan tengkorak, tali laso, teratai delapan kelopak dan permata.
  • Di mahkota beliau terdapat gambar Vajrasattva.
  • Kaki kiri beliau memijak keluar.

Shri Kalachakra dan Vishvamata bersemayam di pusat mandala Kalachakra. Senjata-senjata dan perisai yang dipegang Shri Kalachakra melambangkan kemenangan atas Mara, serta kemampuannya untuk melindungi mahluk-mahluk sadar. Robert Beer, seorang peneliti simbolisme, menjabarkan tentang senjata-senjata yang dipegang sang dewata:

“Banyak dari persenjataan dan alat genggam dalam ikonografi berasal mula dari arena bengis pertempuran, serta dunia pemakaman dan tanah makam. Sebagai perlambang primitif dari kehancuran, pembantaian, pengorbanan dan nekromansi (pembangkitan mayat), senjata-senjata ini dirampas dari tangan pihak yang jahat dan dibalikgunakan – sebagai simbol – melawan akar kejahatan dan sifat mencintai diri sendiri yang melahirkan lima racun, yaitu ketidaktahuan, nafsu, rasa benci, kesombongan dan iri hati. Di tangan para siddha, dakini, dewata yidam murka dan semi-murka, dewata pelindung atau dharmapala, alat dan senjata ini murni menjadi simbol, senjata transformasi dan sebuah ekspresi dari welas asih dewata murka yang tanpa ampun menghancurkan ilusi berlapis-lapis dari ego manusia yang berlebihan.”

Sumber: en.wikipedia.org

 

Praktik Kalachakra

The 11th Panchen Lama giving Kalachakra initiation to a mass audience

Panchen Lama ke 11 memberikan inisiasi Kalachakra kepada khalayak ramai.

Tantra Kalachakra bersifat unik karena menurut tradisi, praktik ini diturunkan lewat upacara inisiasi massal. Ada keyakinan bahwa mempraktikkan Kalachakra akan menyebabkan seseorang untuk dilahirkan kembali di negeri Shambhala supaya mereka bisa melanjutkan praktik spiritual mereka tanpa gangguan. Inisiasi Kalachakra menjadi pembuka bagi praktisi untuk mempraktikkan yoga sesuai yang dijelaskan dalam Tantra Kalachakra dengan tujuan mencapai tingkat Shri Kalachakra.

 

Syarat dan Motivasi

Mandala Kalachakra (klik untuk memperbesar)

Untuk memenuhi syarat inisiasi Kalachakra, baik guru maupun murid sebaiknya memenuhi beberapa kualifikasi. Menurut Panchen Lama ke 4, Lobsang Chokyi Gyeltsen, kualifikasi yang harus dipegang seorang guru adalah sebagai berikut:

“Seorang guru harus memiliki kendali atas tubuh, perkataan dan pikirannya sendiri. Dia harus pandai, sabar dan tanpa tipu muslihat. Dia harus mengenal mantra dan tantra, mengerti realitas dan mumpuni dalam menulis dan menjelaskan teks-teks suci.”

Sumber: dalailama.com

Di sisi lain, sang murid seharusnya telah memiliki pengalaman dalam hal, atau paling tidak memiliki pengertian dan penghargaan intelek terhadap tiga aspek utama aliran Mahayana:

Dari ketiganya, yang paling penting adalah Bodhicitta, yang seharusnya menjadi syarat utama untuk siapapun yang akan diinisiasi. Dalam teks Abhisamayalankara, Buddha Maitreya mendefinisikan Bodhicitta sebagai “kerinduan untuk pencerahan yang sempurna dan sebenarnya bagi sesama.” Dalam konteks Kalachakra, praktisi sebaiknya memiliki motivasi sebagai berikut:

“Untuk kepentingan semua mahluk sadar, saya harus mencapai tingkatan Shri Kalachakra. Setelah itu baru saya mampu untuk mengangkat mahluk sadar lainnya ke tingkatan Shri Kalachakra juga”

Sumber: dalailama.com

Secara garis besar, terdapat sebelas inisiasi dalam ajaran Kalachakra. Tujuh inisiasi awal dianggap sebagai set pertama, dan terfokus pada persiapan bagi tahap meditasi generatif dalam Kalachakra. Set kedua, empat inisiasi terakhir, bertujuan untuk mempersiapkan tahap meditasi penuntasan. Mereka yang tidak memiliki keinginan untuk mempraktikkan Kalachakra hanya diberikan inisiasi set awal.

 

Perspektif Barat Tentang Shambhala

Shambhala033

Selama ratusan tahun, orang-orang Barat telah terkesima dengan tanah legendaris Shambhala. Informasi awal yang mereka terima tentang Shambhala didasarkan atas kisah acak yang mereka dapatkan dari Tantra Kalachakra. Tulisan pertama dari Barat tentang Shambhala datang dari Estevao Cacella (1585-1630), seorang misionaris Jesuit Portugis. Cacella dipercaya berhasil mendapatkan informasi tentang Shambhala, yang dia sebut sebagai Cembala. Dia juga berusaha menemukan negeri legendaris tersebut tapi gagal.

Pada tahun 1833, seorang cendekiawan Hungaria terkenal, Sandor Korosi Csoma (1784-1842), menjadi salah satu orang Eropa yang belajar bahasa Tibet, mempelajari Kangyur dan merangkum sebuah kamus Bahasa Tibet-Inggris. Setelahnya, dia menulis sebuah artikel tentang Kalachakra, dan dalam artikel ini dia menyebut Shambhala. Menurut Csoma, tanah mistis ini terletak di antara koordinat 45′ – 50′ lintang utara, yang merujuk pada sebuah wilayah di mana terdapat gunung-gunung rendah, danau dan bukit-bukit hijau di bagian timur Kazakhstan. Setelah berkelana bertahun-tahun, Csoma berencana untuk pergi ke Lhasa pada tahun 1842 tapi sayangnya dia terkena malaria dan meninggal sebelum keinginannya tercapai.

Shambhala034

Pada tahun 1860an, seorang berkebangsaan Jerman bernama Schlagintweit menulis sebuah buku berjudul “Buddhisme di Tibet” di mana dia menyebutkan Shambhala. Pada abad ke 19, pendiri gerakan Theosofi, Blavatsky, yang mengaku berkomunikasi dengan para ahli spiritual Himalaya, menyatakan Shambhala sebagai sebuah tanah spiritual besar tanpa memberi penekanan khusus lainnya.

Alexandra David-Neel

Alexandra David-Neel (klik untuk memperbesar)

Penulis berkebangsaan Amerika Alice A. Bailey (1907–1942) menyebut Shambhala sebagai “sebuah realitas ekstra-dimensional atau spiritual yang ada pada alam eterik, sebuah pusat spiritual di mana dewa pengatur Bumi, Sanat Kumara, [bersemayam].”

Alexandra David-Neel, seorang penjelajah Buddhis berkebangsaan Prancis berkesimpulan bahwa Shambhala terletak di negeri Balkh, yang saat ini menjadi Afghanistan. John G. Bennett, seorang ahli matematika Inggris berspekulasi bahwa Shambhala sesungguhnya adalah sebuah kuil matahari di daerah Baktria yang bernama Shams-i-Balkh. Di tahun 1930an, beberapa novel fiksi ilmiah menyebutkan Shambhala, termasuk salah satu novel yang paling terkenal karangan James Hilton yaitu Lost Horizon.

 

Berbagai Ekspedisi Mencari Shambhala

Daya pikat Shambhala di dunia Barat tidak hanya berhenti pada spekulasi. Beberapa ekspedisi diluncurkan untuk menemukan surga yang tersembunyi. Namun, tidak satupun dari ekspedisi ini berhasil menemukan bukti konkret tentang lokasi fisik dari negeri Shambhala.

 

Ekspedisi Roerich

Nicholas and Helena Roerich

Nicholas dan Helena Roerich

Antara tahun 1925 – 1928, penjelajah Rusia Nicholas dan Helena Roerich memimpin sebuah ekspedisi menuju Pegunungan Altai untuk menemukan Shambhala. Suami istri Roerich mempercayai bahwa Shambhala adalah tempat asal semua ajaran-ajaran spiritual India, termasuk kekuatan api (agni) sebagai sarana purifikasi yang digambarkan dalam teks-teks suci Hindu, Weda. Bagi mereka, Shambhala adalah tanah perdamaian dan praktik spiritual. Pasangan Roerich mendirikan sebuah ajaran spiritual berdasarkan kepercayaan mereka yang dikenal sebagai Agni Yoga.

 

Kaum Bolshevik

Tibet Road in the Himalayas, photographed in 1867 by Samuel Bourne

Jalan menuju Tibet di pegunungan Himalaya, difoto pada tahun 1867 oleh Samuel Bourne

Di tahun 1920an, penulis Rusia, kepala tim pemecah sandi Bolshevik, dan salah satu pentolan Polisi Rahasia Soviet yang paling berpengaruh, Alexander Barchenko, meluncurkan sebuah ekspedisi untuk menemukan Shambhala dengan tujuan untuk mendapatkan kebijaksanaan dari para penghuninya. Tujuan utama mereka adalah untuk menyelaraskan Tantra Kalachakra dengan ideologi komunis. Mereka berencana untuk melakukan ekspedisi mereka menuju Asia Tengah guna menemukan surga yang tersembunyi. Namun, disebabkan intrik politik, rencana ini tidak pernah terjadi. Pada tahun 1924, Komisariat Asing Soviet mengirimkan ekspedisi saingan mereka sendiri ke Tibet tapi tidak berhasil menemukan apa-apa.

 

Ekspedisi Agharti/Shambhala

An artist illustration of Agharti]

Ilustrasi seorang seniman tentang Agharti

Terinspirasi dua novel Prancis abad 19 yang menyebutkan sebuah tempat bernama Agharti, seorang kapten berkebangsaan Polandia bernama Ossendowski dan seorang Rusia anti-Bolshevik yang dilahirkan di Austria, Baron Ungern-Sternberg (1886 – 1921) bersama-sama mencari Agharti di Mongolia. Agharti digambarkan sebagai sebuah kerajaan bawah tanah dimana para penghuninya mempraktikkan ilmu sihir. Warga negeri magis ini dipercaya akan muncul ke permukaan untuk membantu penduduk dunia mengatasi perilaku destruktif dan materialistis. Kedua penjelajah ini keliru mengidentifikasi Shambhala sebagai Agharti, dan mereka mempercayai dugaan Blavatsky bahwa Shambhala terletak di Gurun Gobi, Mongolia, sehingga mereka berusaha menemukannya di Mongolia atau Asia Tengah.

 

Ekspedisi Laurence Brahm

Lebih dekat dengan masa kini, pada tahun 2002, penulis, kolumnis politik dan mediator internasional Laurence Brahm memulai ekspedisinya untuk menemukan Shangri-La. Ekspedisi tersebut direkam dalam sebuah film dokumenter yang terdiri dari dua bagian, “Searching for Shangri-La – Laurence Brahm, 2002 Expedition” dan “Shambhala Sutra – Laurence Brahm, 2004 Expedition”.

 

Searching for Shangri-la — Laurence Brahm, 2002 Expedition

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/SearchingForShangriLaLaurenceBrahm2002.mp4

Dalam dokumenter pertama, Brahm menggambarkan perasaan jengahnya dengan gaya hidup sibuk perkotaan di Tiongkok. Dia kemudian mewawancarai berbagai sosok di Tiongkok (seniman, penyanyi, turis dan biarawan) tentang makna dan lokasi Shangri-La. Penelitiannya kemudian membawanya ke Lhasa, di mana dia berkunjung ke Kuil Jokhang dan beberapa tempat lainnya di sana.

 

Shambhala Sutra — Laurence Brahm, 2004 Expedition

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/ShambhalaSutraLaurenceBrahm2004.mp4

Dalam dokumenter kedua, Brahm menemukan “Perjalanan Menuju Śambhala” (Śambalai lam yig) yang ditulis oleh Panchen Lama ke 6. Berbekal teks-teks suci kuno, dia memohon pada biarawan-biarawan dan lama luhur yang dia temui untuk memberikan padanya panduan menuju Shambhala berdasarkan kitab-kitab tersebut. Dia kemudian memulai ekspedisinya mencari Shambhala dengan mengikuti deskripsi dalam buku Panchen Lama ke 6. Berbagai tempat kuno di pelosok Tibet, seperti situs puing-puing kerajaan Guge dan Gunung Kailash. Di akhir cerita, Brahm memohon bertemu dengan inkarnasi raja Shambhala, Panchen Lama ke 11 yang kemudian memberinya nasehat penting sebagai berikut:

“Bantulah orang lain dengan penuh welas asih meski mungkin akan merugikan anda sendiri. Damai pasti datang dengan sendirinya. Jika anda melukai atau merugikan orang lain karena keegoisan sendiri atau untuk kepentingan diri sendiri, maka tidak akan ada damai di dunia. Selanjutnya, menurut pandangan saya, membuat senjata pemusnah massal dan buat negara-negara menghabiskan uang banyak (untuk mempersenjatai diri) … Hal ini akan membuat mereka memiliki kekuatan militer lebih. Tapi ini hanya akan mencelakai dunia. Jika negara-negara ini membelanjakan uang yang sama untuk membeli perlengkapan medis untuk menolong orang sakit dan cacat, serta membiayai pendidikan warga atau untuk riset medis untuk menutup jurang antara yang miskin dan yang kaya, dan negara berkembang dan maju, maka dunia akan mengenal perdamaian yang lebih besar, dan masyarakat akan menikmati perkembangan yang lebih besar juga. Tetapi dengan mengucurkan uang untuk kekuatan militer dan senjata, kita sama saja membuang harta ke dalam lautan yang luas. Sama saja menyia-nyiakan.” ~ Panchen Lama ke 11

Sumber: Brahm, Laurence, “Shambhala Sutra 2004 Expedition”, Discovery Publisher, 2004

Pada akhirnya, Panchen Lama ke 11 memberikan pesan ini kepada Laurence Brahm untuk disampaikan ke seluruh dunia:

“Pertama-tama, saya mengharapkan perdamaian bagi dunia. Semua manusia dari berbagai tempat di bumi bersatu untuk saling membantu dan dipenuhi kasih. Saya harap semua manusia dari agama dan kepercayaan yang berbeda untuk hidup saling bertoleransi. Yang kedua, untuk orang-orang Tibet di sini dan di luar negeri untuk mencintai tanah air mereka dan berusaha mengembangkan ekonomi Tibet, untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Yang terakhir, setiap hari saya berdoa untuk seluruh dunia dalam bahasa Inggris:

I pray for peace in the world.

May Buddha bless human beings.” ~ Panchen Lama ke 11

Sumber: Brahm, Laurence, “Shambhala Sutra 2004 Expedition”, Discovery Publisher, 2004

 

Shangri-La di Provinsi Yunnan, Tiongkok

Ada sebuah dokumenter lainnya tentang sebuah kota bernama Shangri-La, yang sebelumnya dikenal sebagai Zhongdian, di Provinsi Yunnan, Tiongkok. Sang narator mengatakan bahwa lokasi Shangri-La mirip dengan lokasi negeri mistis yang digambarkan dalam novel laris karya James Hilton, Lost Horizon.

 

The Real Shangri-La: Everything You Didn’t Know | China Revealed | TRACKS

Or view the video on YouTube at:
https://www.youtube.com/watch?v=QrOTZk-mEGc
 

 

Karya James Hilton, Lost Horizon

 

Lost Horizon (1973)

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/ShambhalaVid01LostHorizon1973-1.mp4

 

Click to enlarge

Klik untuk mengunduh pdf

James Hilton (1900–1954), adalah pengarang berkebangsaan Inggris-Amerika. Dia menulis tentang Shambhala atau Shangri-La dalam novelnya yang terkenal di seluruh dunia Lost Horizon tahun 1933. Banyak orang percaya bahwa James Hilton menulis novel ini karena terinspirasi oleh sebuah artikel di majalah National Geographic tentang perjalanan Joseph Rock di wilayah perbatasan Tiongkok dan Tibet. Lost Horizon menceritakan tentang sekelompok orang yang naik pesawat terbang untuk melarikan diri dari kekacauan di Asia Tengah. Ketika pesawat mereka kandas, para penumpangnya terdampar di daerah tinggi Himalaya dan kemudian menemukan sebuah komunitas yang hidup di sebuah biara dalam sebuah lembah hilang di Tibet yang bernama Shangri-La.

Buku ini telah menginspirasi dua film blockbuster Hollywood dengan judul yang sama. Sebuah merek hotel papan atas, Shangri-La, mendapatkan namanya dari surga yang tersembunyi dalam buku tersebut.

 

Pengantar Terhadap karya James Hilton “Lost Horizon” oleh Tsem Rinpoche

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/ShambhalaLostHorizonIntroduction.mp4

Klik di sini untuk membaca transkrip Pengantar Terhadap karya James Hilton “Lost Horizon” oleh Yang Mulia Tsem Rinpoche

Transkrip

Terdapat berbagai tingkatan eksistensi dan banyak dimensi keberadaan dalam alam semesta; jumlahnya tak terbatas dan tak dapat dihitung. Ada banyak alam keberadaan, dimensi eksistensi dan cara keberadaan. Tetapi dalam semua keberadaan tersebut, terdapat banyak sekali mahluk yang sadar. Tak terhitung jumlahnya. Ketika kita menyebut alam, yang kita maksud selalu alam manusia. Tapi cara pandang ini sangat terbatas karena alam manusia hanya sepercik debu dalam luasnya semesta. Dan bahkan dalam sepercik debu tersebut terdapat berbagai dimensi, ada banyak keberadaan. Semua ini disebut dalam istilah Buddhis sebagai Samsara. Jadi Samsara bukan hanya tentang 7 miliar manusia yang ada di planet kita, karena cakupannya lebih daripada itu. Karena itu ketika kita menyebutkan membawa manfaat bagi para mahluk sadar, yang kita maksudkan adalah mahluk sadar yang jumlahnya banyak sekali, tak terhitungkan saking banyaknya.

Shambhala040

Dipercaya bahwa hanya sosok Buddha yang memiliki kemahatahuan untuk melihat secara pasti berapa banyak mahluk sadar yang ada. Tetapi yang pasti jumlah mahluk sadar jauh lebih banyak daripada jumlah butiran pasir di setiap pantai di planet ini. Di planet kita sendiri kita memiliki dimensi-dimensi yang berbeda. Sebagai contoh, kami saat ini berada di Kechara Forest Retreat. Kami menempati eksistensi dalam satu dimensi tapi secara bersamaan terdapat roh-roh, dewa-dewa tanah dan alam. Mereka ada. Mereka menempati dimensi yang berbeda pada tempat dan waktu yang sama. Kadangkala kami bisa bertemu, dan bisa melihat satu sama lain; terkadang tidak. Tapi hanya karena kita tak melihat mereka, bukan berarti mereka tidak ada saat ini di sini. Jadi mereka dapat eksis dalam dimensi yang sama dan bertemu dengan kita. Karena itu jumlah mahluk yang ada dalam berbagai tipe dimensi, dalam cara keberadaan yang berbeda sangatlah banyak, tak terhitung.

Dalam terminologi Buddhis, ketika kita berbicara tentang sebuah negeri murni seperti Sukhavati, surga di arah barat tempat bersemayamnya Buddha Amitabha atau Tushita (dga’ ldan yid dga’ chos ‘dzin) Surga Maitreya, atau Kechara, atau surga Heruka atau Yamantaka, atau surga Manjushri, Chenrezig Avalokiteshvara (seperti Potala), atau Buddha Akshobhya dan seterusnya, tempat-tempat itu bisa dicapai dengan perjalanan di pikiran kita, atau dengan istilah lain, melalui kesadaran atau dengan arwah kita. Kesimpulannya tempat-tempat tersebut kita gapai dengan kesadaran kita. Ada memang beberapa kasus perkecualian di mana beberapa manusia bisa masuk ke Surga Kechara dengan tubuh fisik mereka dan kemudian bertransformasi. Penjelasannya untuk hal ini adalah bahwa tubuh fisik terdiri dari empat elemen yang di mana bagian yang lebih kasar dan lebih berat menjadi ringan dan kemudian berubah menjadi elemen yang jauh lebih ringan seperti cahaya. Tetapi di planet ini kita juga memiliki banyak tipe eksistensi. Keberadaan dan tempat-tempat di mana para nāga berada, tempat di mana yaksha dan raksha ada, tempat di mana roh-roh ada, dan semua ini ada di saat yang bersamaan dengan alam kita. Para roh bisa saja hidup dalam komunitas kecil di samping kita meski kita tak bisa melihatnya. Tapi nyatanya mereka ada dan menempati ruang yang sama dengan kita meski dalam dimensi yang berbeda. Saya ulangi, mereka berada dalam ruang yang sama dengan kita tapi dalam dimensi yang berbeda. Jadi bermacam-macam mahluk bisa eksis di tempat yang sama dan tidak berinteraksi antara satu sama lain.

Shambhala is said to exist within the Himalayan Mountain

Shambhala dipercaya ada di Pegunungan Himalaya

Saya beritahukan bahwa ada sebuah negeri murni suci yang ada dalam bentuk fisik dan bisa dikunjungi di planet ini. Dan namanya adalah Shambhala. Shambhala adalah sebuah negeri suci yang dipercaya ada di kawasan Pegunungan Himalaya. Yang perlu diingat adalah wilayah pegunungan Himalaya mencakup kawasan yang sangat luas. Tempat ini sangat besar dan luas dan kebanyakan bagiannya tetap menjadi misteri karena tidak terjangkau manusia. Jadi di dalam kawasan pegunungan Himalaya, yang mencakup Karakorum, Pakistan, Afghanistan, Tibet, Nepal, China (sebagian), India – sebuah kawasan yang dikelilingi negara-negara tersebut, dalam di dalam negara-negara ini kawasan pegunungan ini ada. Jadi kawasan Himalaya mencakup sebagian besar Tibet jika tidak keseluruhannya, Nepal, Bhutan, India Utara, Pakistan, Afghanistan, beberapa bagian dari China, dan kemungkinan juga Nepal.

Jadi jelas kawasan Himalaya ini amat sangat luas. Ada manusia yang menghuni kawasan ini, ada juga berbagai hewan, ada para Yeti, ada burung-burung, ada berbagai serangga, ada juga binatang-binatang mikroskopik yang hidup di sana. Mereka semua eksis dengan metode yang beda karena iklim yang sangat dingin. Mereka memiliki cara hidup sendiri, cara makan dan membuang kotoran sendiri, tidur dan berkembang biak dengan cara mereka sendiri karena iklim yang saya sebut tadi tapi mereka eksis. Jadi terletak di antara kawasan Himalaya tadi adalah negeri Shambhala. Shambhala adalah tempat yang dikelilingi gunung-gunung tapi penduduknya hidup di kota yang ada di lembah. Karena mereka hidup di lembah, mereka mendapatkan air segar dari pegunungan yang berpuncak salju. Saljunya mencair dan turun sebagai air yang segar.

Shambhala042

Orang-orang yang hidup di sana bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka sendiri. Dipercaya sebagai vegetarian, mereka mengkonsumsi biji-bijian dan sayur mayur tapi mereka tidak memakan makanan berdaging atau yang mengandung darah. Mereka memakan makanan yang ringan dan alami, semuanya mereka tanam sendiri, jadi sangat sehat bagi tubuh mereka. Tidak ada racun maupun polusi di sana karena mereka tidak menggunakan sarana modern seperti listrik, mobil yang memakai bensin, mereka tidak menggunakan minyak bumi sehingga tidak meninggalkan jejak pada lingkungan hidup atau merusaknya. Sebagai tambahan, apapun yang mereka miliki dan apapun yang mereka lakukan di sana berasal dari mereka sendiri. Tapi karena lembah yang mereka tinggali begitu pas letaknya, dan yang saya maksud dalam arti geografis, sinar matahari bersinar pada waktu yang tepat dan juga musim bergantian dengan tepat waktu, di tambah dengan tersedianya air, ada kehangatan matahari, ada kelembaban dan kekeringan, terdapat danau-danau dan lain-lain. Jadi banyak sekali tumbuhan yang tumbuh secara alami di sana karena ketepatan kombinasi geografis yang ada. Ini bisa kita saksikan juga di tempat lain di mana segala sesuatu tumbuh dengan mudah sedangkan ada juga bagian dari planet kita di mana tidak ada yang bisa tumbuh baik atau sangat sulit.

Jadi demikianlah konfigurasi geografis negeri itu. Dan warga Shambala menganut sistem monarki dan mereka diperintah oleh raja suci yang bertahta silih berganti. Dipercaya bahwa raja-raja Shambala adalah emanasi Buddha Manjushri, tapi ada juga yang mengatakan hal ini hanya mitos. Jadi, mengenai para raja ini, yang pertama malah meninggalkan kerajaannya untuk menemui Sang Buddha. Dirinya telah mendengar tentang terkenalnya Sang Buddha dan kemudian memutuskan untuk memohon ajaran dari beliau. Dan dari berbagai ilmu yang Sang Buddha turunkan baginya terdapat Tantra Kalachakra yang tersohor itu. Sang raja menerima semua ilmu Tantra Kalachakra yang diberikan padanya: ilmu dalam, luar dan yang rahasia, dan kemudian membawa pulangnya untuk dipraktikkan di kerajaan Shambhala, dan dikisahkan sang raja berhasil mendalami semua ilmu tersebut.

Buddha Shakyamuni

Buddha Shakyamuni (klik untuk memperbesar)

Dan setelah itu, sang raja mengajarkan Tantra Kalachakra pada seluruh kerajaannya; pada menteri-menterinya; dia mengajarkannya pada semua yang tertarik; dan oleh sebab itu banyak sekali praktisi handal terlahirkan pada masa raja tersebut. Setelah mangkatnya sang raja, generasi selanjutnya melanjutkan ajaran tantra dan begitu juga generasi selanjutnya. Yang perlu diingat penduduk Shambala bisa hidup sampai umur ratusan tahun. Catatan-catatan yang ada memberi informasi yang berbeda, ada yang bilang bisa hidup antara 500 sampai 600 tahun, yang lain bilang 100 sampai 200 tahun. Jadi di tempat ini, tanaman bisa tumbuh dengan mudahnya. Tempat ini selalu tampak hijau. Tidak pernah beku karena salju. Terdapat banyak air melimpah. Terpapar sinar matahari yang cukup. Dilindungi gunung-gunung yang mengelilinginya. Ada yang bilang bahwa jika kita melakukan perjalanan ke sana, beberapa orang berhasil menemukan bagian depan negeri Shambala. Bagian ini ditandai jadi ada tanda khusus yang ada di tempat terdepan ini. Tapi dipercaya bahwa seseorang harus memiliki kedekatan karma untuk bisa menemukan tempat ini. Jadi anda bisa saja membeli semua perlengkapan mendaki dan menaiki gunung-gunung untuk menemukan tempat tersebut seperti yang telah dilakukan banyak orang di masa lalu. Beberapa dari mereka berhasil menemukan titik masuk Shambala. Beberapa dari mereka memasuki negeri tersebut dan tinggal di sana, lainnya masuk dan keluar untuk menceritakannya pada kita.

Shambhala044

Jadi penduduk Shambala berumur panjang. Di sana tidak ada penyakit seperti yang kita kenal. Mereka tidak tamak karena masyarakat mereka tidak didasari atas uang. Tidak didasari atas materi dan penumpukannya. Makanan tumbuh dengan sendirinya jadi penduduknya saling membantu membangun rumah masing-masing, mereka hidup berdampingan, memproduksi pakaian yang mereka kenakan, jadi tidak ada dasar untuk merasa tamak, tidak ada alasan untuk menumpuk harta atau materialisme karena mereka membagi semua yang mereka miliki. Cara hidup mereka mirip dengan beberapa “suku primitif” yang kita jumpai hidup di Amerika Selatan, di beberapa pulau di Filipina dan pulau-pulau Karibia. Mereka tidak tamak. Mereka hidup sebagai sebuah komunitas; mereka membunuh seekor babi di hutan, hasilnya mereka bagi, mereka saling membagi pakaian-pakaian, dan mereka berbagi semua yang mereka tanam. Tidak ada pemikiran bahwa saya yang punya ini dan itu. Anda tahu apa yang saya maksud? Jadi hal ini juga ada di dunia luar sana, di luar Shambhala. Jadi di Shambhala tidak ada ketamakan karena orang-orang di sana saling membagi apa yang mereka miliki dan tidak ada penumpukan harta. Jadi singkatnya mereka memiliki keluarga masing-masing, mereka menikah, menanam sayur, mempraktikkan seni, mereka menikmati musik, nyanyian dan menulis buku dan di samping semua itu mereka belajar tentang Dharma dan mereka mempraktikkan Tantra Kalachakra khususnya.

Jadi, bagaimana kita bisa mencapai tempat ini? Kita bisa ke sana secara fisik jika kita tahu jalan menuju sana atau kita bisa pergi ke sana secara astral. Dalam tradisi Tibet terdapat banyak lama yang telah berkunjung ke Shambhala secara astral dan berhasil kembali untuk memberikan deskripsi yang jelas dan akurat. Salah satunya adalah Yang Suci Panchen Lama. Garis inkarnasi Panchen Lama diyakini sebagai emanasi dari salah satu raja Shambhala, jadi beliau memang punya koneksi kuat dengan Shambhala. Dan di Tibet ada tradisi kuat bagi Yang Suci Panchen Lama memberikan ajaran dan inisiasi Kalachakra pada khalayak ramai, dan ritual ini sangat diminati karena beliau dianggap sebagai emanasi raja mereka.

Jadi secara tak sengaja ajaran Kalachakra menjadi terhubung dengan Shambhala. Dua hal tersebut awalnya tak terhubung. Kalachakra adalah sebuah ajaran spiritual, sedangkan Shambhala adalah sebuah tempat. Tapi karena raja negeri itu meminta dan menerima ajaran dari Buddha Shakyamuni untuk dia praktikkan, keduanya menjadi terhubung satu sama lain. Ada beberapa tulisan Tibet mengenai Shambala. Ada juga tulisan Tibet yang memberitahu bagaimana mencapai tempat tersebut, dan ada beberapa tulisan Tibet tentang bagaimana bermeditasi dan berkunjung secara astral ke negeri tersebut. Dan ada beberapa lama yang terkenal dan berilmu tinggi yang bisa memberitahu kita bagaimana mencapai Shambala secara fisik maupun astral. Jadi ketika seseorang sekaliber Panchen Lama yang memberikan informasi, sulit sekali meragukannya karena semua yang beliau lakukan selalu mendekati sempurna.

Shambhala045

Jadi jika seseorang seperti Jack Ma memberitahu anda bahwa jika anda melakukan ini, anda akan jadi kaya, kita pasti mendengarkannya, karena dia punya reputasi sukses di bisnis? Tapi jika Tsem Rinpoche memberitahu anda beginilah cara menjadi kaya, anda mungkin berkata okey tapi saya teliti terlebih dahulu karena saya tidak memiliki reputasi sebagai pebisnis. Tapi jika yang berkata Jack Ma, mengapa tidak dicoba, begitu kan? Panchen Lama ini mirip sosok Jack Ma dalam Buddhisme. Jika beliau berkata sesuatu itu ada, kita tidak meragukannya karena sudah banyak sekali hal yang telah beliau lakukan. Jadi kita memang bisa mengunjungi Shambhala dengan dua cara, secara fisik, karena tempat ini memang secara fisik ada, jadi bisa ditemukan dan juga sebagai tempat yang bisa dikunjungi secara astral jika kita secara fisik tidak dapat pergi kesana karena umur atau penyakit, karena tidak semua bisa melakukan perjalanan merintangi salju. Jadi demikianlah cerita singkat mengapa Kalachakra menjadi terhubung dengan Shambhala.

Kita juga bisa berdoa untuk dilahirkan kembali di negeri Shambhala. Apa saja keuntungan dilahirkan kembali di Shambhala? Kita semua manusia, ada di planet bumi, kita makan, tidur, buang kotoran, menjadi tua meninggal tapi kita bisa hidup lama sekali karena tempat itu sangat damai, tempat yang sunyi, tempat yang penuh energi spiritual yang bebas dari ketamakan. Jadi banyaknya sifat agresif manusia, sifat penuh murka yang negatif dan ketamakan, semua ini tidak ada di Shambhala. Apakah ini berarti bahwa semua orang di Shambhala sudah menjadi Buddha? Tidak, bukan itu maksudnya, artinya adalah bahwa tempat tersebut tidak memicu tindakan-tindakan negatif yang telah disebutkan.

Path to Shambhala, a painting by Nicholas Roerich

Jalan Menuju Shambhala, lukisan karya Nicholas Roerich

Jadi ada kelompok-kelompok manusia di bumi yang memiliki tingkat ketamakan dan materialisme rendah, karena masyarakat yang ada di sana tidak mendukung hal-hal seperti itu. Sangat sederhana, bukankah demikian? Jika anda ke sana, apa yang akan anda lakukan? Anda akan hidup seperti kita semua hidup di sini tapi persoalan anda akan jauh berkurang, lebih sedikit penyakit yang akan mendera, hampir tak ada sama sekali, jadi lebih sedikit materialisme, lebih sedikit pertengkaran, mara bahaya, dan tempatnya pun indah, alami di mana tak ada racun dan polusi.

Jadi para lama Tibet, Mongolia, Nepal, Bhutan, para Mahasiddha India, guru spiritual India, orang-orang terkenal yang berasal dari wilayah Himalaya pernah menyebutkan negeri ini dalam berbagai kesempatan. Tidaklah mungkin semuanya berbohong. Salah satu sosok pendukung terbesar adanya negeri ini di dunia Barat adalah Nicholas Roerich, yang menciptakan nama Gerakan Shambhala dan berkeinginan mengunjungi tempat tersebut. Dia menulis tentang Shambala dan memberitahu orang Rusia darimana dia berasal dan di dunia Barat hal ini kemudian menjadi tren “new age” di mana terdapat sebuah tempat suci di dunia fana ini. Jadi Nicholas Roerich di Barat menjadi terkenal karena memperkenalkan negeri Shambhala. Dan dia tidak menganggapnya sebagai negeri dongeng. Dia percaya bahwa Shambala adalah sebuah tempat penuh kekuatan spiritual yang benar-benar bisa dikunjungi.

Song of Shambhala, a painting by Nicholas Roerich

Lagu Shambhala, lukisan karya Nicholas Roerich

Jadi, apakah menguntungkan untuk dilahirkan kembali di sana? Pasti menguntungkan. Jika bisa dilahirkan kembali di sana, kenapa tidak? Kenapa tidak? Dan bagaimana caranya supaya bisa dilahirkan kembali di sana? Anda bisa berdoa pada para raja di sana, fokus pada mereka dan bertanya, ‘Apa boleh saya kembali ke sini’. Ada bisa fokus pada Shambhala dan berpikir ‘Apa bisa saya dilahirkan kembali di sana’, Anda bisa berfokus pada Kalachakra Buddha dan berkata saya ‘Apa bisa saya dilahirkan kembali di sana’. Anda bisa berfokus pada Shakyamuni dan berpikir ‘Apa bisa saya dilahirkan kembali di sana’. Jadi reinkarnasi adalah sebuah keinginan.

Karena para lama yang ada di Himalaya telah menyebut tentang hal ini selama 2.500 tahun yang terakhir, dunia Barat akhirnya telah mendengarnya juga. Ada sosok ini yang menginspirasi hotel Shangri-La, sebuah jaringan hotel yang berdiri di tahun 30an, yaitu James Hilton. Hotel Shangri-La memperoleh namanya dari tanah legendaris yang diceritakan dalam buku James Hilton “Lost Horizon”. Dia adalah seorang penulis yang cerdas dan dia sebelumnya telah mendengar tentang negeri ini. Kemudian dia menulis sebuah buku yang saya punyai dan akan saya tunjukkan pada anda, berjudul Lost Horizon.

James Hilton sendiri tidak pernah berkunjung ke Shambhala tapi telah mendengar tentang negeri ini dari sebuah sumber, dan dalam penulisan bukunya dia mengarang ceritanya sendiri berdasarkan kisah-kisah Timur, dan hasilnya adalah sebuah buku bagus yang menginspirasi dua film. Film pertama merupakan film hitam putih yang dibikin di tahun 50an, versi tahun 40an yang saya punyai dan satu lagi di tahun 70an yang berjudul Lost Horizon. Semua film ini berkisah tentang Shambhala dan sangat mirip dengan Shambala tapi alur ceritanya beda. Jadi sinopsis film Lost Horizon, yang adalah salah satu film favorit saya, menceritakan sekelompok orang yang berusaha lari dari tempat di mana mereka berada, China, dan semua dari mereka adalah orang Barat, ada misionaris, diplomat dan mereka melarikan diri karena keadaan yang kacau di tahun 30an.

Click to enlarge

James Hilton klik untuk memperbesar)

Jadi mereka semua masuk ke sebuah pesawat terbang tapi kemudian pesawat tersebut jatuh mendarat di kawasan Himalaya. Semua penumpang kecuali sang pilot selamat. Dan mereka semua ada di pesawat dan setiap karakter memiliki neurosis masing-masing, mereka punya ketakutan masing-masing dan masalah-masalah pribadi. Dan mereka ada di tengah-tengah kawasan Himalaya dan mereka tidak tahu bagaimana harus bertahan di tempat asing ini. Pada malam pertama mereka didatangi sekelompok lama, bhikṣu dengan obor dan mereka diselamatkan. Jadi para Lama mendatangi pesawat mereka dan membawa mereka pergi. Mereka harus melakukan perjalanan kaki melalui salju selama beberapa hari dan akhirnya sampai di Shangri-La. Pada titik masuk terdapat inskripsi yang memberitahu mereka telah tiba di Shangri-La, dan kemudian mereka memasuki sebuah gua yang besar. Gua ini memiliki dua lubang yang bisa digunakan untuk masuk dan keluar.

Jadi mereka masuk ke dalam gua besar ini dan tembus di sisi lain di mana cuacanya sudah tidak terlalu dingin. Di sana, melalui lubang besar di gua, mereka bisa melihat negeri Shambhala, hijau dengan berbagai biara, dengan burung-burung dan tumbuhan yang lebat, anak-anak muda yang cakap berjalan-jalan, tenang dan sunyi, tanpa mobil maupun pesawat terbang, mesin dan semua penduduknya sangat ramah. Karakter utama dalam film ini melihat ke belakang pada salju yang tebal dan tak dapat percaya bahwa di depannya ada lembah yang sangat hijau, sangat menakjubkan. Para lama mengajak mereka jalan turun ke biara mereka dan memperlakukan mereka semua sebagai tamu. Mereka diajak berbincang, disuguhi makanan dan dibantu dalam penyembuhan luka-luka yang mereka derita. Salah satu wanita dalam kelompok tersebut merasa sangat tidak bahagia dengan hidupnya dan ingin mengakhiri hidupnya. Kemudian seorang lama menyelamatkan hidupnya dengan berbicara padanya untuk melepas rasa sakit yang ada, melepaskan perasaan bersalah, perasaan hampa dan kesendirian karena dalam hidupnya dia kesana-kemari mengambil foto- dia bekerja sebagai jurnalis foto – orang-orang terbunuh, tertembak atau terluka. Mengambil foto-foto tersebut memiliki dampak yang luar biasa padanya sehingga dirinya tidak mau hidup lagi tapi dengan tinggal di Shambhala, dia berhasil menyembuhkan jiwanya sendiri dan dia berkeinginan terus tinggal di sana.

Shambhala049

Kemudian ada lagi karakter lain yang seorang pelawak dan meski secara umum dia baik-baik saja, dia tetap tidak bahagia hidup di dunia luar, jadi dia juga berkeputusan untuk tinggal. Film ini berfokus pada setiap karakter dan masalah yang mereka hadapi dan bagaimana mereka akhirnya bisa mengatasinya. Hanya ada satu orang yang tidak bahagia tapi dia ingin meninggalkan Shambhala jadi kemudian karakter utama dalam film ditemui oleh lama tertinggi di Shambhala. Yang terjadi sangat mistis, dia dibawa ke ruangan-ruangan gelap dan bertemu dengan lama agung. Lama agung di dalam buku ini ternyata mirip seorang iman Kristen, seorang biarawan. Tapi beliau tidak berbicara tentang agama Kristen tapi beliau adalah seorang misionaris yang datang ke tempat ini pertama kali dan membangun Shambhala. Pastinya Shambala yang asli ceritanya tidak begini tapi ini yang diceritakan dalam versi James Hilton. Tapi bagaimanapun semuanya sangat mistis dan sangat khas Tibet dan Buddhis, jadi sang lama tidak membicarakan tentang ajaran Kristen, melainkan welas asih yang universal. Beliau tidak menunjukkan ketamakan. Beliau berbicara tentang cinta kasih, kesopanan dan bekerja sama dalam harmoni.

Jadi ceritanya sang lama agung sudah mendekati ajalnya, umurnya sudah 200 tahun lebih. Dan beliau perlu mewariskan kepemimpinannya pada seseorang dan penggantinya sudah diramalkan sebelumnya akan datang ke Shambala. Jadi sang lama agung berkeinginan untuk melatih karakter utama dalam film untuk menggantikan beliau tapi orang ini masih belum memutuskan apa dia ingin tinggal atau pergi dari Shambala karena dia adalah diplomat penting. Dan saat ada di sana, dia jatuh cinta pada seorang wanita cantik penduduk Shangri-La dan wanita ini tidak mau pergi, dia ingin hidup di sana, dia dibawa ke tempat ini pada umur yang sangat muda. Kemudian adik laki-laki diplomat itu yang awalnya ingin kembali ke dunia luar juga jatuh cinta dengan seorang wanita cantik di Shangri-La yang berkeinginan juga untuk pergi keluar. Jadi ada konflik keinginan yang terjadi. Cara mereka bisa bepergian keluar hanya terjadi setiap dua atau tiga tahun, ketika terjadi pengiriman barang-barang dari luar. Shambhala yang asli pastinya tidak membutuhkan pengiriman barang dari luar. Tapi di buku ini ada pengirim-pengirim barang yang datang, dan yang ingin pergi bisa mengikuti mereka balik ke dunia luar.

Shambhala050

Jadi yang terjadi kemudian adalah ketika para pengirim barang datang, adik laki-laki diplomat ingin ikut mereka pergi karena dia tak mau tinggal di Shambhala, dia tak tertarik sama sekali. Dia ingin punya uang, dia ingin bersenang-senang, dia suka dengan gemerlap kota. Dan gadis dari Shambhala yang merupakan kekasihnya juga ingin ikut pergi. Sang Lama berujar pada sang diplomat untuk tidak mengajak gadis tersebut keluar. Jika kau membawanya pergi, dia akan mati karena dia sebenarnya sudah berusia 100 tahun. Tapi gadis itu tampak muda dan cantik, rambutnya masih hitam dan sangat penuh kehidupan. Gadis tersebut memberitahu sang diplomat, lihatlah aku, apa kulitku seperti kulit wanita tua? Dia menjawab tidak, kau tak tampak seperti wanita tua sama sekali. Jadi ketika para pengirim barang tiba, adik diplomat berhasil meyakinkan kakaknya untuk ikut pergi. Sang diplomat, adiknya dan gadis Shambhala, wanita Shangri-La itu, berangkat bersama para pengirim barang.

Para pengirim barang bergerak dengan cepat dan mereka tertinggal di belakang, kemudian mereka berseru, “Eh, tunggu kami, tunggu kami, tunggu kami,” dan karena berteriak di tengah salju mereka dengan tak sengaja memicu longsor salju. Longsornya salju menrepa para pengirim barang dan rombongan diplomat dan mereka semua terjebak dalam badai salju. Mereka terdampar di tengah kawasan Himalaya, meski sebenarnya adegan ini diambil di Pasadena, California. Mereka terjebak dalam badai salju. Mereka bertiga, gadis dari Shangri-La atau Shambhala, nama manapun yang ada sukai, sang diplomat, dan adiknya dan kemudian sang gadis berkata aku tak bisa berjalan lagi, aku sangat capai, jadi mereka menemukan sebuah gua di dekat mereka dan memapahnya ke sana, dan ketika sampai dalam gua, sang gadis menjadi wanita tua. Kulitnya menjadi keriput dan rambutnya berubah jadi putih, dan sang diplomat jadi sadar apa yang dikatakan sang lama benar adanya. Jika kita ada di Shangri-La, kita awet muda untuk waktu yang lama. Adik sang diplomat yang tadinya tak percaya menjadi terkejut karena sebelumnya dia berkata, “Mereka bohong padamu. Gadis ini tidaklah berumur 100 tahun, dia masih muda, lihatlah dia, kita akan keluar dari sini dan menikmati hidup di New York, Paris, Tokyo, jadi kita tak bakal tinggal di sini.”

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

Dia tak bisa menerima apa yang disaksikan di depan mata. Karena itu dia lari keluar gua dan jatuh masuk jurang. Sang diplomat terperangkap dalam salju dan dia kemudian jalan kaki menuju dunia luar, dan dia dimasukkan ke rumah sakit. Karena dia adalah diplomat tinggi, pemerintah mengirim orang untuk menjemputnya dan mengembalikannya ke Barat, dan ketika mereka menemuinya di kamar rumah sakit, dia telah pulih dari dehidrasi dan sengatan salju, tapi dia segera melarikan diri. Dan akhir film ini sungguh indah karena ada nyanyian dan kita melihatnya sampai di gerbang masuk Shangri-La, karena dia telah diramalkan menjadi pemimpin Shambhala selanjutnya setelah sang lama yang sudah berusia lanjut meninggal.

Tapi di tengah semua cerita ini, ketika mereka ada di dalam Shambhala, yang indah adalah bahwa setiap karakter mengalami transformasi masing-masing. Mereka menjadi ringan, tidak materialistis, bahagia dan mereka melepas semua memori masa lampau dan menjadi bahagia, mereka hidup di sana dalam kesederhanaan. Mereka hidup sederhana, bahagia dan murni, dan inilah intisari dari Shambhala.

Bertemu lagi dengan teman-temannya, dan juga Shambala, dan kekasihnya yang menantinya, sebuah akhir yang khas Barat, dan kemudian filmnya selesai. Saya telah menonton film ini 20–30 kali karena saya ingin berkunjung ke Shambhala, karena spiritualitas tempat tersebut. Jadi saya menontonnya karena ini satu-satunya film yang ada tentang Shambhala. Yang indah tentang film ini adalah penggambaran gunung-gunungnya, sangat sulit ditemukan dan mereka berhasil menggambarkannya dengan baik. Dan ketika kita sampai di sana, kita lihat hidup murni, tanpa fasilitas modern, dan airnya jernih, lingkungan ekitanya bersih, segala sesuatu tumbuh baik, tidak ada ketamakan, itulah yang sebenarnya. Dan negeri ini diperintah oleh seorang lama agung, itu mendekati sebenarnya karena di Shambala yang asli ada raja yang spiritual, bukankah begitu? Dan ada biara, ada kediaman Lama, hal ini sudah akurat.

Shambhala052

Jadi hal satu-satunya yang ditambahkan oleh James Hilton untuk membuat ceritanya sesuai selera Barat adalah romansa yang terjadi di sana dan bahwa ada yang tak percaya pada tempat itu dan ada yang ingin meninggalkannya. Dan bukunya menjadi sebuah klasik dan sangat terkenal, dan dua film dibuat berdasarkannya, dan hal itu sangat indah. Jadi jika anda pergi ke Hotel Shangri-La, anda akan melihat bukunya dijual, sampai sekarang, karena telah menjadi sebuah klasik. Filmnya berjudul Lost Horizon dan saya telah menyampaikan sinopsisnya pada anda, dan yang saya inginkan adalah menontonnya dengan kalian semua suatu hari. Meskipun ceritanya dibumbui dengan ide Barat tentang romansa dan menemukan tempat yang sempurna tapi ceritanya memang didasarkan atas ajaran Timur tentang Shambhala atau Shangri-La. Ada yang menamakannya Shambhala, ada juga yang memanggilnya Shangri-La, keduanya sama saja.

Film ini adalah salah satu yang paling bagus yang pernah saya lihat, salah satu yang paling menyentuh, dan saya selalu mengeluarkan air mata menontonnya, karena yang saya ingin adalah supaya Kechara Forest Retreat menjadi seperti Shambhala, di mana ketika kita datang dari KL, dan ketika memasuki Bentong dan kondisi jalanannya sedikit kacau, kita memasuki gerbang dan yang kita lihat sangat indah dan hijau segar di sini. Dan yang kita lakukan di sini adalah kita berpraktik spiritual, kita saling mengasihi, saling memberi, kita mempraktekkan Dharma, dan kita mengembangkan welas asih. Inilah yang saya harapkan buat KFR. Dan saya harap beberapa dari kita bisa lahir kembali di Shambhala, dan hal ini luar biasa karena di dalam teks puja Dorje Shugden, di bagian awal, salah satu tempat dari mana kita mengundang beliau untuk hadir adalah Shambhala, jadi beliau tinggal di sana. Itulah sinopsis film tentang Shambhala, dan film tentang Shambhala Lost Horizon yang ditulis oleh James Hilton, didasarkan atas teks asli tentang Shambhala tulisan Lama-lama Tibet dari kawasan Himalayan atau para Lama Himalaya di kawasan Himalaya di mana salah satu pemegang silsilahnya adalah para Panchen Lama.

Dan saya suka sekali dengan film ini karena berhubungan dengan teks yang ada; saya menyukainya karena bagian ideal, romantis dan embel-embel Baratnya menarik, tapi saya rasa memang mereka harus menjual film tersebut pada penonton Barat jadi mau tak mau harus ada ide-ide Baratnya yang juga bagus, dan kita telah menemukannya teksnya, yaitu, “Perjalanan menuju Shambhala” (Śambalai lam yig) yang ditulis oleh Panchen Lama dan teks ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Jadi inilah instruksi, pengarahan dan meditasi yang diajarkan oleh Panchen Lama supaya kita bisa sampai ke Shambhala.

Jadi teks ini awalnya dalam bahasa Jerman dan Valentina berusaha keras selama tiga atau empat bulan, mencari donatur sendiri, dan melibatkan seorang pasca sarjana ahli bahasa Jerman untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Jadi penerjemah ini mengalihbahasakan seluruh teks, 128 halaman, dari bahasa Jerman ke Inggris. Teks ini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebelumnya. Teks ini adalah petunjuk bagaimana mencapai Shambhala, bagaimana melakukan praktik menuju Shambhala dalam bahasa Tibet, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh seorang cendekiawan, sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang cendekiawan Indonesia, dan telah dicek ulang beberapa kali oleh cendekiawan lainnya dan bahasa Inggris mereka sangat bagus.

Jadi saya akan menghadirkan teks tulisan Yang Suci Panchen Lama tentang Shambhala dalam bahasa Inggris, dan kemudian kita akan menulis tentang hal itu di blog, sebuah tulisan yang mendukung adanya Shambhala, akan ada latar belakang negeri Shambhala dan raja-rajanya serta Panchen Lama, semuanya dibahas lengkap, jadi blog tentang ini akan segera keluar.

Tim kami telah bekerja keras untuk menulis blog ini selama enam bulan. Jadi akan sangat dahsyat, luar biasa. Yang paling hebat darinya adalah tersedianya teks karya Panchen Lama dalam bahasa Inggris, untuk pertama kalinya. Jadi Valentina yang sedang mengatur semua itu, Valentina Suhendra. Maka saya sangat bersemangat untuk mempersembahkan teks tersebut bagi anda semuanya, karena siapapun yang serius mendalami ajaran Shambhala memerlukan teks tulisan Panchen Lama ini. Hal yang kedua, saya akan menyertakan film Lost Horizon dalam tulisan blog ini karena film itu adalah sesuatu yang terkait dengan tambahan sudut pandang Barat. Jadi tulisan blog selanjutnya akan sangat menarik, dan saya merekam ini untuk menjelaskan sinopsis film dan apa itu Shambhala dan bagaimana semuany terkait satu sama lainnya.

Transkrip ini telah disunting untuk memperjelas maksud.

Close transcript

 

Kesimpulan

Kerajaan mistis Shambhala berhasil memikat banyak orang lintas generasi, didorong berbagai alasan pribadi, untuk mencari dan menemukan tanah tersembunyi ini. Juga ada banyak ahli meditasi yang telah melakukan perjalanan astral menuju tempat ini dan memberikan gambaran yang detil tentang pengalaman mereka. Pasti banyak juga orang di masa depan yang akan mengunjunginya dan meceritakan pengalaman masing-masing. Meskipun cerita tentang Shambhala sangat mempesona bagi banyak orang yang ingin mengunjunginya atau mendekatkan diri padanya sehingga bisa terlahir kembali untuk melanjutkan praktik mereka tanpa gangguan, tetapi yang tak kalah penting adalah memulai merubah kecenderungan dan sifat negatif kita untuk menggapai Shambhala dalam diri kita sendiri.

 

Galeri

Kumpulan Thangka Rime

Raja Manjushri Yashas (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Kalachakra, Raja Dharma Suresana, Raja Manjushri Yashas dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Raja Raudra Chakrin (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Shambhala (tempat tinggal), Yang Suci Panchen Lama ke 10, Kalachakra Tangan Dua, Raudra Chakrin, Manjushri dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Thangka Lainnya

Suchandra, Raja Dharma pertama Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Devendra, Raja Dharma ke 2 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Tejasvin, Raja Dharma ke 3 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Deveśvara, Raja Dharma ke 5 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Viśvamūrti, Raja Dharma ke 6 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Sureśana, Raja Dharma ke 7 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Manjushri Yashas, Raja Kalki pertama Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Vijaya, Raja Kalki ke 4 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Sumitra, Raja Kalki ke 5 dari Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Raktapani, Raja Kalki ke 6 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Vishnugupta, Raja Kalki ke 7 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Subhadra, Raja Kalki ke 9 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Aja, Raja Kalki ke 11 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Vishvarupa, Raja Kalki ke 13 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Shashiprabha, Raja Kalki ke 14 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Singha, Raja Kalki ke 18 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Vikranta, Raja Kalki ke 19 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Aniruddha, Raja Kalki ke 21 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Narasingha, Raja Kalki ke 22 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Maheshvara, Raja Kalki ke 23 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Anantavijaya, Raja Kalki ke 24 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Raudra Chakrin, Raja Kalki ke 25 Shambhala © Museum of Fine Arts, Boston (klik untuk memperbesar)

Thangka abad 18 menggambarkan Raudra Chakrin (klik untuk memperbesar)

 

Pergi ke Panchen Lama

Kembali ke Tab

Kumpulan Thangka Rime

Yang Suci Panchen Lama ke 4 (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Manjushri, Yang Suci Panchen Lama ke 4, Yang Suci Dalai Lama ke 5, Tulku Drakpa Gyeltsen, Dorje Shugden dan Mahakala Berwajah Empat (klik untuk memperbesar)

 

Yang Suci Panchen Lama ke 4 (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Yang Suci Dalai Lama ke 5, Yang Suci Panchen Lama ke 4, Tulku Drakpa Gyeltsen, Brahmarupa Mahakala dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Yang Suci Panchen Lama ke 10 (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Amitabha, Lama Tsongkhapa, Yang Suci Panchen Lama ke 10, Tsangpa Karpo dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Yang Suci Panchen Lama ke 10 (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Yang Suci Panchen Lama ke 10 dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Thangka Lainnya

The 4th Panchen Lama Lobsang Chokyi Gyaltsen

Panchen Lama ke 4 Lobsang Chokyi Gyaltsen (klik untuk memperbesar)

The 6th Panchen Lama, Lobsang Palden Yeshe

Panchen Lama ke 6, Lobsang Palden Yeshe (klik untuk memperbesar)

Panchen Lama ke 6 menerima George Bogle, sebuah lukisan cat minyak karya Tilly Kettle c. 1775 (klik untuk memperbesar)

Panchen Lama ke 11 memberikan inisiasi Kalachakra kepada massa (klik untuk memperbesar)

Another depiction of the 6th Panchen Lama

Lukisan lain yang menggambarkan Panchen Lama ke 6 (klik untuk memperbesar)

 

Pergi ke Kalachakra

Kembali ke Tab

Kumpulan Thangka Rime

Kalachakra (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Buddha Shakyamuni, Kalachakra (figur utama), Vajra Vega, Tara Putih dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Kalachakra (Figur Utama)

(Atas ke bawah): Buddha Shakyamuni, Raja Suchandra, Raja Raudra Chakrin, Vajravega dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Lukisan Lainnya

Mandala Kalachakra (klik untuk memperbesar)

Mandala Kalachakra (klik untuk memperbesar)

 

Pergi ke Ilustrasi Shambhala

Kembali ke Tab

Kumpulan Thangka Rime

Potret Shambhala (Kediaman)

(Atas ke bawah): Dorje Shugden, Shambhala (kediaman) dan emanasi Raja Raudra Chakrin (klik untuk memperbesar)

 

Potret Shambhala (Kediaman)

(Atas ke bawah): Shambhala (kediaman) dan Dorje Shugden (klik untuk memperbesar)

 

Gambar lainnya

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Kembali ke Tab

Kembali ke Atas

 

Perjalanan Menuju Śambhala, sesuai tulisan Yang Suci Panchen Lama ke 6 (diterjemahkan dari bahasa Jerman)

Halaman Depan

 

Perjalanan Menuju Śambhala

 

(Śambalai lam yig)

 

Oleh Albert Grünwedel

 


 

Munich 1915

Diterbitkan oleh Akademi Ilmu Alam Kerajaan Bavaria

Komite Penerbitan G. Franzschen (J. Roth)

 

Halaman Judul 1

Traktat

Akademi Ilmu Alam Kerajaan Bavaria

Kelas filosofis-filologis dan sejarah

Volume XXIX, Traktat ke 3

 


 

Perjalanan Menuju Śambhala

 

(Śambalai lam yig)

 

Dari Lama Agung ke 3 bKra śis lhun po bLo bzaṅ dPal ldan Ye śes

 

Diterjemahkan dari manuskrip Tibet

Dan diterbitkan dengan teks

 

oleh Albert Grünwedel

Dipresentasikan tanggal 5 Desember 1914

 

Munich 1915

Diterbitkan oleh Akademi Ilmu Alam Kerajaan Bavaria

Komite Penerbitan G. Franzschen (J. Roth)

 

Halaman Judul 2

 

Perjalanan Menuju Sambhala

 

oleh Albert Grünwedel

 

Cetakan ulang tanpa perubahan, 2010.
Diterbitkan pertama kali tahun 1915, Munich.
Dicetak pada kertas bebas asam dan tahan waktu.

 

Produksi Umum:
Fines Mundi GmbH · 66111 Saarbrücken · Johannisstraße 27
Telpon: 06 81I 96 03 69 0 Fax: 06 81 I 96 03 69 9
E-Mail: info@fines-mundi.de Internet: www.fines-mundi.de

 

Halaman 3

Klik untuk memperbesar

Buku ini memiliki topik khusus, dan terjemahannya merupakan salah satu karya awal yang menjadi pengantar dari edisi selanjutnya, yaitu tentang manuskrip dalam bahasa Sansekerta beserta terjemahannya dalam bahasa Tibet untuk membahas Kālacakratantrarāja. Selama bertahun-tahun, saya telah mendedikasikan waktu luang saya yang terbatas untuk meneliti teks-teks yang rumit penuh anotasi demi mendalami topik ini1.

Kālacakra memiliki sifat penting yang luar biasa dalam pengetahuan kita akan bentuk sinkretis Buddhisme, terutama pada tahap perkembangan agama ini melalui penggambaran sistem tantra yang paling komplit. Sistem ini, pada saat yang bersamaan, patut dianggap sebagai intisari dari norma-norma yang terhubung dengan bKra śis Ihun po. Menurut Bergmann2, bangsa Tibet dan Mongolia umumnya memiliki ketertarikan pada silsilah keluarga setiap orang. Sebagai contoh, seorang lama menulis sebuah buku tebal dalam bahasa Rusia untuk membuktikan hubungan dinasti Romanov dengan Kālacakra dan dinasti ini dianggap layak memimpin dunia masa depan, karena silsilahnya dapat ditelusuri ke belakang sampai ke sosok nenek moyang kuno, yaitu Sucandra3.


Referensi:

  1. Tentang kutipan yang diberikan di bawah ini, saya informasikan bahwa transkrip asli ditulis oleh A. Schiefner, dikompilasi oleh Prof. Minayev, serta dari sebuah cetakan Berliner Kanjur. Detil selanjutnya akan dijelaskan dalam edisi ini.
  2. Buku karangan Benjamin Bergmann berjudul Nomadische Streifereien unter den Kalmüken.
  3. Ulijanov, penjaga Gelong negara Sotnie dari pasukan Don Cossack, menulis buku ini. Saya membacanya di St. Petersburg pada musim dingin tahun 1913; sayangnya, perang dunia mengakibatkan saya gagal untuk mendapatkan sebuah manuskrip yang di dalamnya terdapat kutipan yang bisa saya pakai.

 

Halaman 4

Sebenarnya terdapat banyak komentari tentang topik ini, tetapi pada umumnya memiliki fokus pada sisi yang lebih gelap daripada teks aslinya. Karena itu saya terpaksa menggali lebih dalam. Sikap yang diambil dalam komentari kebanyakan sebenarnya tidak akan goyang jika saya berpegang teguh pada legenda-legenda para tokoh yang terkait. Terjemahan buku tulisan Tāranātha berjudul Edelsteinmine (Tambang Batu Permata), di mana penyelesaiannya terhalang oleh peperangan, dan terjemahan Grub t’ob, yang saya harapkan diterbitkan segera menyediakan sejumlah fakta yang mudah dicerna. Dan melalui semua proses ini saya menemukan Lam yig oleh dPal Idan ye śes. Di tahun 1904, saya menerima sebuah blok cetakan sebagai bahan riset tambahan yang berasal dari Museum Asia di kota St. Petersburg, melalui kebaikan seorang akademikus bernama K. Salemann. Saya sampai sekarang merasa berhutang budi padanya. Meski cetakan ini berkualitas bagus, tetap saja terdapat bagian-bagian kosong karena kasarnya bahan kertas yang dipakai. Untuk mengisi bagian-bagian kosong tersebut, Sarat Chandra Dás mengirimi saya sebuah manuskrip yang ditulis dalam tulisan tangan oleh penduduk lokal pada kertas modern yang rupanya disalin dari sebuah cetakan lain dari blok yang sama4. Karena itu, saya berhasil membuat versi komplit dari teks St. Petersburg yang menjadi pondasi utama bagi edisi buku ini, dengan pengecualian untuk satu poin. Manuskrip India ini juga penuh kesalahan, salah pengertian dan lelucon mengenai para bhikṣu, yang akan saya patahkan di sini. Petunjuk arah seperti “sebelah kanan hidung” (śaṅs) menggantikan “sebelah kanan tanah es” (gaṅs) merupakan lelucon yang buruk. Hal-hal seperti ini hanya bisa dikategorikan namun tidak layak dikutip sebagai interpretasi. Saya hendak memberi sebuah contoh tentang kesalahan-kesalahan seperti itu: pada halaman 28b 1, terdapat ucapan tentang “Para Dewata Yang Agung” dengan Vishnu (K’yab ojug) sebagai kepalanya. Karena pihak yang menjiplak menganggap bahwa Mahādeva adalah raja para dewa, Vishnu kemudian dihilangkan dan diganti dengan sosok K’yab bdag. yang penuh cahaya. Selain menghasilkan absurditas, penekanan yang kuat pada elemen-elemen Vishnu yang memang memiliki peran penting dalam Kālacakra juga menjadi tersamarkan akibat kesalahan ini.

Buku ini mungkin adalah karya sastra Tibet paling menarik yang pernah saya baca karena juga merupakan surat wasiat sang penulis. Paṇ c’en yang ketiga, dpal Idan ye śes, dari bKra śis Ihun po bLo bzan memiliki karakter yang menonjol, yang juga merupakan sebuah refleksi sikap-sikap politiknya yang tampil menarik.5 Pada akhir buku Paṇ c’en memberikan nama-nama semua orang yang telah menginspirasi dirinya untuk menulis karya tersebut dan siapa saja yang telah membantunya dalam menyelesaikan buku itu. Faktanya, Paṇ c’en memang memiliki tugas untuk mengumpulkan bahan dan menulis tentang sebuah negeri ajaib di mana dirinya dalam kehidupan lampau menjadi raja, karena beliau dipercayai sebagai Yaśas atau Mañjughoṣa (kīrti) atau Mañjuśrīkīrti yang legendaris, dahulunya juga sebagai Tegüs Izaġortu6 yang menurut ahli sejarah Mongol berhasil memindahkan agama para ṛṣi kereta matahari untuk memeluk Buddhisme. Hal ini sebenarnya menggambarkan masuknya sebuah sistem agama asing ke dalam Kālacakra.


Referensi:

  1. Dalam Tibetan Dictionary karya S. Chandra Dás teks kami ada pada daftar kutipan, tetapi hanya ada nama-nama baku yang tercecer di sana. Hal ini bukan masalah penggunaan teks tersebut. Jadi kamus Dás tidaklah terlalu berguna pada kasus-kasus rumit.
  2. Berita lebih awal dari Köppen dalam karyanya yang terkenal Buche II, 215-22, juga S. Chandra Dás, JASB 1882, I, 29-52 dengan ilustrasi akan kelahiran kembalinya dan teks Buddhis Soc. VI, 1898, IV, 1-8, G. Huth, History of Buddhism in Tibet and Mongolia, terjemahan 302 et seq., F. Younghusband, India and Tibet, London 1920, hal. 4-24. Penggambaran dari perunggu di Berlin dan St. Petersburg. Di Berlin juga ada sebuah album tentang masa sebelum inkarnasinya cf. pesan-pesan asli Berl. Mus. 1885, hal. 38 et seq.
  3. Ssanang Saetsen, History of the Eastern Mongols, ed. J. Schmidt, St. Petersburg 1829, hal. 271.

 

Halaman 5

Rasa berterimakasih pada orang-orang yang menjadi inspirasi dan yang membantu dalam proses penulisan sebuah buku hampir terdengar ironis. Dua sosok hadir selama penulisan buku: Lama Agung, sosok yang segala sesuatu di sekelilingnya adalah hasil inkarnasi lengkap dengan semua absurditas, di samping sosok yang berpikiran logis. Jadi naratif yang penuh bias berlanjut mengalir, disela oleh seorang biarawan yang berkhotbah dengan lucu, terkadang melalui mulut sang lama yang memparodikan semua gayanya. Secara brilian, beliau membandingkan India yang sesungguhnya dengan citra impian yang ada dalam karya Amoghāṅkuśa dan rekan-rekannya, yang mengandung sedikit kebenaran sampai saat ini. Dengan penuh cinta kasih, beliau memperingati pendiri Buddhisme dan secara bersamaan mengkritik beliau secara tajam. Selain itu, beliau meminta maaf atas kelemahan umat manusia. Menggunakan bahasa yang elegan, enak dibaca dan ditulis dalam sebuah keanggunan yang sulit ditiru, beliau membicarakan karma dan menyimpulkan dengan segala kerendahan hati bahwa dirinya hanya seorang Tibet, dan oleh karena itu tidak cukup beruntung untuk terlahirkan di tempat-tempat suci.

Buku ini ditulis pada tahun 1775: kejadian-kejadian di masa itu digambarkan secara detil meski ada beberapa kerancuan. Pada musim dingin antara tahun 1774-5, Duta Besar Inggris [George] Bogle sedang berada di pekarangan depan rumahnya. Laporannya benar-benar ditulis dengan cara yang sesuai dengan karakternya. Narasinya tentang India didasarkan atas percakapan antara Bogle Sahib dan Dagdor Sahib (Dr. [Alexander] Hamilton), ditambahi laporan tentang berbagai perjalanannya, yang kemudian dia kirimkan ke India. Ceritanya seringkali memberi kesan yang mirip dengan cerita-cerita romantis dalam tradisi Indo-Persia — istana-istana Mughal dan taman-taman yang indah— yang cocok ditampilkan dalam sebuah adegan film. Jika melihat struktur katanya yang terdengar seperti bahasa Inggris bagi orang Eropa, dapat diasumsikan bahwa mampirnya orang-orang Inggris di bKra śis Ihun po mengemban misi “belajar geografi”, sebuah rahasia umum yang diketahui kebanyakan penduduk lokal. Tidak ada hal yang membuat orang Timur lebih bersyukur daripada rasa puas yang didapat dari hanya membaca sebuah peta dan percakapan yang berjalan mulus dengan hanya satu topik pembicaraan. Bahkan sebelum kedatangan orang-orang Inggris, Paṇ c’en telah mengirimkan sebuah rombongan peziarah ke Vajrāsana. Sementara Rājā Cetasiṁha (Caitsingh), yang dekat dengan sang lama (27b2), menyatakan dukungan penuh bagi utusan sang lama dan menghantarkan mereka kembali. Dalam laporannya, lika liku perjalanan ini juga digambarkan secara baik.7

Pada tahun 1779, Sang Paṇ c’en ditunjuk untuk bertugas di Istana Kekaisaran Manchuria di Jehol dan setelah lama tinggal di sana meninggal dunia pada umur 42. Kejadian ini tidaklah serancu yang diklaim oleh Köppen karena Paṇ c’en saat itu masih merupakan wali bagi Dalai Lama yang masih di bawah umur (cf. di bawah ini 7b 3 et seg.) dan karena Lalitavajra yang hebat dalam hal spiritual (cf. di bawah ini 30 a 5) juga terlibat dalam masalah ini. Ini semua terjadi akibat pengaruh dari kombinasi kuat Tiongkok-Manchuria atau juga efek reformasi pada sistem hirarki yang terjadi di bawah bimbingan para otak cemerlang beliau-beliau.


Referensi:

  1. Journ. As. Soc. Bengal LI, 1882, I, hal. 32. Sebuah polemik pada komentari tentang Vajrāsana di Vasiljev, hal. 73, adalah sesuatu yang tak bisa saya mengerti karena buku di bawah ini tidak memuat bagian yang diperdebatkan.

 

Halaman 6

Adanya bKra śis Ihun po di istana kekaisaran sendiri adalah indikasi bahwa Kaisar Manchu menghendaki sosok bijak itu di dekatnya, sekalian melindungi beliau dari interaksi yang terlalu banyak dengan orang-orang Inggris. Asumsi awal yang ada adalah bahwa orang China “membuangnya secara paksa”. Ada juga berasumsi bahwa sekelompok orang yang beliau gambarkan sebagai “sbrul srin bu sogs” membantu beliau menemukan “seluk beluk negara besar itu”.

Komentar yang lebih mendetil dari saya saat ini tidaklah mungkin. Dalam bagian anotasi, saya hanya memberikan apa yang diperlukan untuk pengertian yang memadai, kecuali untuk beberapa hal yang informasinya tersedia bagi saya. Saya harapkan suatu saat saya bisa membahas anotasi-anotasi lainnya, terutama tentang aspek linguistiknya.

 

Halaman 7

(1a) Buku ini mengandung isi luar biasa yang menceritakan tentang sebuah negeri magis bernama Śambhala disertai penjelasan mengenai apa yang kita ketahui tentang Āryadeśa.

(1b) Di hadapan Śrī-Kālacakra, ku menyembah. Di hadapan guru Tathāgata Śākya t’ub pa, ku menyembah; (2a) Di hadapan Sumatikīrti (Tsoṅ k’a pa), Vajradhara Sumatikalpabhadrasamudra; dan kaki Teratai Śrī-Kālacakra ku menyembah. (2b) Ku menyembah di hadapan tubuh absolut (dharmakāya), yang merupakan contoh terhubungnya sifat kekuatan (siddhi), yang bersemayam di akar (dhātu) E dari bunga teratai setiap pembawa pesan dari surga (dūtī), (3a) mawar teratai yang tumbuh besar dalam sifat bajik yang tidak bisa dihancurkan selama sebuah koneksi terjadi saat kelahiran. (3b) Lika liku hidup pada tempat tertentu, di mana kehidupan dan kematian telah dicampakkan, beliau (dharmakāya) memiliki anak panah seperti kepunyaan Surendra yang mampu menembak sasaran dari jarak paling jauh; (4a) karena itu, ku menyembah di hadapan kebahagiaan tertinggi (sambhoga) di mana huruf suci E terdengar sama dengan VAṀ: (4b) Ku menyembah di hadapan Nirmāna agung, yang memiliki refleksi indah pun tak kekal (māyā) yang didasari reinkarnasi, bangkit dari alam ajaib di mana bentuk sempurna tak bercela terlahir (dharma) (5a) karena sinar keagunganNya adalah kontemplasi diri yang muncul saat meditasi.

 

Halaman 8

(5b) Vajradhara, Vajradhara, Munīndra, Engkau empunya kuasa atas kebahagiaan nan lembut dalam diriMu, diriMu sang vajra sempurna untuk tangan, mulut dan hati (kāya, vāc, citta), serta kuasaMu atas prajñā yang adalah inti dari kedaulatanMu atas tiga kaya; Engkau, yang dengan patuh mengikuti jalan Saudhodani dan semua pahlawan yang sunyi (ekavīra) di tengah-tengah perlombaan ajaib, para Jina, bahkan dirimu Sang Pendamping, Sang Pengabdi, Sang Mahatahu (sarvajña) Tsoṅ k’a pa, Pengayom Tradisi Bercerita, putra para pahlawan, ku sembah semuanya! Bahkan Engkau, bsKal bzaṅ rgya mts’o, Dikau yang ada dalam semua atom, keagungan dalam inkarnasi tak bercela sebagai pelindung dewa laut, di mana reinkarnasinya dinyatakan pada kita, dan Engkau meninggalkan jejak kaki terataiMu di atas kepalaku; karena itu berkatilah aku supaya ku dapat mengikuti jejakmu keselamatan dari siklus kehidupan di antara semua mahluk hidup, yang hanya dapat bernafas atas anugrah supaya mereka bisa mencintai dan mengerti; supaya dengan cara ini, inti dari wahana kecil sang Bodhisattva merasuki pikiranku. Di sini, ku ingin menceritakan tentang avatar di kota ajaib Kalāpa, bersama semua aṅga dan para mahāsattva dan deva melalui persembahan, melalui semua hal, sembahyangku pada Roda Waktu yang dikelilingi para dewata, akar sumber bagi berbagai bentuk mandala melalui pembacaan suku kata hūṃ dan phaṭ. Pada saat ini, buku saya akan menjelaskan apa yang diperlukan oleh para upadeśa dan aṅga untuk mencapai negeri yang paling agung dari semuanya: Kalāpa atau Śambhala. Hal ini bermanfaat bagi para yogi yang meskipun hidup di sebuah era kemerosotan telah menjadi vidyādhara atau mereka yang berusaha mendapatkan mahāmudrāsiddhi, atau bagi mereka yang merasa hilang. Juga berlaku untuk beberapa orang yang ingin lepas dari kehidupan yang menyengsarakan, di mana tiga aliran kepercayaan — yaitu yang heterodoks, ortodoks dan agama kaum barbar —masih ada. Terdapat dua bagian utama: (6a) hikayat umum tentang Jambudvīpa dan, sebagai pembanding, sebuah penggambaran tentang negeri agung ini. Bagian pertama juga dibagi menjadi dua bagian: yaitu, sebuah gambaran singkat tentang sifat dan ciri khas Jambudvīpa dan penggambaran detil tentang Āryadeśa.

 

Halaman 9

Bagian pertama. Dalam Abhidharmakośa, yang memiliki arti, “emua tentang Jambudvīpa mempunyai tiga sisi, yang pada gilirannya memberi sebuah bentuk seperti sebuah kereta dengan panjang dua ribu yojana, kecuali untuk satu sisi yang memiliki panjang empat dan 500 yojana.” Sebagai tambahan, tertulis bahwa dalam Śrīkālacakra dvīpa, murni bak putih sinar purnama, empunya rumput ilalang payau sebagai miliknya yang paling mempesona (kuśa) dan, meski kinnara, bangau abu-abu dan Rudra ada di sana dvīpa, sebagai tujuh benua, adalah tempat kebahagiaan di mana manusia bisa hidup; karena itu adalah tempat di mana karma menjadi matang; tempat bernama Jambudvīpa.” Dalam anotasi yang terkait dijelaskan bahwa, “ada sebuah asumsi bahwa bagian ke tujuh dari Jambudvīpa yang agung memiliki bentuk bundar; dirinya memiliki panjang seratus ribu yojana dan radius tiga ratus ribu yojana.” Oleh sebab itu, terdapat anggapan bahwa ada bagian sutra-sutra yang tidak konsisten. Ada juga yang mengisyaratkan hal yang sama tentang cendekiawan Yoṅs kyi ok’or lom; bahwa beliau membetulkan komentari Kālacakra tentang Dharmarājā dGe legs dpal bzaṅ. Tetapi karena hipotesis yang kontroversial tersebut tidak bisa menembus seperseribu bagian dari Batu Kewahyuan Ilahi, tidak terdapat alasan untuk mengacuhkan berbagai informasi tentang kondisi di bumi. Intinya, teks-teks suci ditulis dengan landasan kepercayaan bahwa setiap individu, yang bisa merubah keyakinannya, memiliki posisi berbeda pada perjalanan karmanya, dan karena itu dapat melihat Jambudvīpa dengan cara yang berbeda satu sama lain, meskipun aspek alam tersebut selalu sama sepanjang masa. (6b) Analogi yang mirip adalah bagaimana sebuah gelas yang penuh air tampak berbeda pada tiga macam mahluk; dewata, manusia dan preta.

 

Halaman 10

Segelas air tampak sebagai amrita bagi para dewata, sementara hanya berupa air biasa bagi manusia, tetapi nanah dan darah bagi para preta. Dalam logika yang sama, karena karma setiap individu yang berbeda, sebuah gelas yang penuh dapat terlihat berbeda-beda bagi yang melihat— tanpa seseorang pun berbicara tentang ketiga ilusi. Sama juga ketika kita melihat Jambudvīpa dari perspektif perubahan keyakinan, bagaimana hal tersebut membenarkan Abhidharma dan bagaimana ia menghendaki Kālacakra — yang memunculkan ekspresi bahwa terdapat berbagai pandangan sesuai kondisi dan intensi masing-masing. Selain itu, hal ini segaris dengan kepentingan Ārya Jina yang kedua, putra sang pahlawan, ketika beliau membuat pernyataan untuk memastikan bahwa tidak ada ilusi di antara kedua macam pendekatan tersebut; karena itu merupakan tanggungjawab karma bahwa rasa hormat harus ditunjukkan kepada semuanya dengan ciri masing-masing, yang merupakan tujuan syair dalam kedua komentari yang telah disebutkan. Mengkritik sesuatu yang tidak kita ketahui dengan tujuan membuat sesuatu lebih baik tidaklah lucu, dan hal ini terjadi ketika cendekiawan menghibur diri mereka sendiri melalui berbagai gurauan yang nakal dan mungkin dengan cara menjadi burung gagak putih. “Sifat unsur udara, api, air dan tanah aktif di empat penjuru kompas8: di arah Timur ada Videha dan Jambudvīpa kecil, di Utara ada Uttarakuru, di Barat ada Aparagodāna: begitu pula dengan pembagian wilayah menurut ṭīkā. agung. Jambudvīpa kecil dalam kedua kasus adalah sama dan juga sesuai pernyataan yang sebelumnya ditarik dari Abhidharma. Dari sudut tersebut, negeri Āryadeśa di arah Selatan, yang terletak pada posisi terbuka antara Utara dan Selatan secara kasarnya ― seperti halnya tempat-tempat yang hunian di Jambudvīpa ― sudah sepantasnya dijabarkan secara mendetil di bawah ini. Yang kita anggap sebagai arah Utara dimulai dari Vajrāsana.


Referensi:

  1. Tidak ada kutipan penutup pada terjemahan bahasa Jerman

 

Halaman 11

“Negeri Tanah Hitam” atau Mahācīna, daerah kṣetra di Āryamañjuśrī, terletak pada titik bertemunya beberapa kerajaan-kerajaan terpisah di hamparan yang luas antara Utara dan Timur. Dari negeri tersebut, hanya tigabelas provinsi disebutkan namanya; berikut adalah enambelas tanah besar: Ṭi-li (Chih-li), Śen-yaṅ, Kiaṅ-naṅ, Śan-tuṅ, San-si, Ho-naṅ, Śan-si, Hu-kuaṅ, Ṭe-kiaṅ (Cheh-kiaṅ), Kiaṅ-se, Fu-kien, Kuaṅ-tuṅ, Kuaṅ-si, Zit’uan (Ssǔ-ch’uan), Yun-nan, Goi-ṭeu (Kuei-chou). Juga ada tempat suci bernama Pañcaśīrṣaparvata, di mana inkarnasi Ārya Mañjuśrī saat ini hidup dalam sebuah istana yang megah — yang berdiri di atas gunung tertinggi mengalahkan gunung-gunung yang ada seperti Ū nis śaṅ dan gLaṅ c’en ogyiṅ, di samping Pe ciṅ, Ṭhaṅ an, Lo yaṅ dan Naṅ kiṅ. Empat kota ini menjalankan dharma di bawah perlindungan pasukan yang selamat dari pertempuran melawan kekuatan Devendra. Di sini juga cakravartin dari bangsa Han, Miṅ, Suṅ, Hor, Tā Miṅ dan dinasti lainnya tinggal. Di saat ini, beliau menghentakkan kaki di atas ratusan ribu wilayah kekuasaannya. Sebagai pelindung mereka yang agung, beliau memandang ke bawah dari Tahta Singanya untuk menyaksikan proses lahir kembalinya ilahi, di mana Mañjuśrī Kumārabhūta mengambil bentuk manusia. Mañjuśrī Kumārabhūta adalah sang empunya kekuasaan garis turunan enam penguasa sekaligus Penguasa Surga dan Bumi dari garis C’iṅ. Beliau juga telah menjadi pelindung agung kita. Perbatasan negara-negara yang dikuasai oleh Dharmarāja ini (7b) adalah sebagai berikut: Hor dan kaum Mleccha ada di Barat Udyāna, yang dapat dicapai dalam satu atau dua bulan perjalanan dan dekat dengan perbatasan Balkh: inilah yang seharusnya benar, jika kita menganggap Āryadeśa sebagai titik tengah, terletak di arah barat daya dari China. Tepat di arah utara dari Vajrāsana terbentang tanah air es kami. Provinsi-provinsi di bagian atas adalah mṄa ris skor gsum, kemudian keempat provinsi tengah adalah dBus, dan kedua gTsaṅ dan Ru, serta tiga provinsi bawah mDo, K’ams, dan sGaṅ juga ada di sana. Di seantero wilayah yang dipercayai telah terbagi menjadi tigabelas negara taklukan, Raja mÑa k’ri btsaṅ po telah menegakkan kekuasaan tunggal dan raja spiritual (dharmarāja) Sroṅ btsan sgam po po juga telah mengambil alih tampuk kekuasaan.

 

Halaman 12

Bagaimana Beliau, yang memimpin kita semua, Penguasa Klan Suci dan segenap mandala, mengenakan mahkota permata “kuasa perdamaian” yang tak berbanding karena terpenuhi berkatNya. Melalui sebuah dinasti reinkarnasi yang bagai seuntai mutiara terjulur ke depan, beliau melindungi negeri ini. Bagaimana beliau secara sempurna dan tak diragukan bersatu denganNya melalui persembahan oleh semua bentuk manusia Mañjughoṣa di antara keempat dvīpa serta menyebarkan berkat-berkat luar biasa menurut jalan kuno Jina kedua, beliau yang meneruskan intisari ajaran Jina pertama. Bagaimana saat ini beliau mengenakan mahkota permata “kuasa perdamaian” dari penguasa tertinggi, yang melambangkan lautan intisari Mañjuśrī (Mañjuśrīsāgara), dan duduk di atas tahta vajra yang tak tergoyahkan, menerima permohonan kebahagiaan awal dari sebuah Kṛtayuga yang terlahir baru atas namaNya. Hal ini dapat dilihat secara jelas dari C’os obyuṅ satu per satu untuk sebuah penjabaran yang mendetil akan sumber pengampunan bagi negeri ini. Suku Mongol seperti klan Khalkha menjadi bagian dari China karena mereka hidup di wilayah-wilayah provinsi bawah: mereka sekaligus merupakan hamba dari Penguasa Langit. Sementara itu, wilayah di bagian atas negeri, seperti Parsik, (8a) ada di bawah kekuasaan Hastināpurī dan bangsa Paṭhān; India bagian dalam dan negeri Rusia ada di luar batasnya, yang sering dikenal sebagai tanah kuning. Meski bangsa Mleccha mengikuti agama Tajik, penduduk pulau kecil tersebut termasuk keturunan Phereng. Mengenai orang-orang Phereng ini, sudah pasti mereka adalah penduduk pulau-pulau kecil tersebut; saya dengar bahwa mereka dahulu menghamba kepada Ashoka dan semua dharmarājā yang menyusul penguasa dari Āryadeśa tersebut. Mereka menolak untuk menyerah pada raja agung dari Rum Śam yang memerintah di sebelah Barat, dari Āryadeśa sampai ke utara. Mereka orang-orang sama yang menjadi hamba dinasti Mongol (Hor) di Mahācina, dari masa Kaisar Jiṅ-gis sampai masa Kaisar Žuṅ dhi. Mereka juga yang memiliki hubungan khusus dengan kedua negara India dan China, di mana hubungan baik dipertahankan dengan cara mengirimkan upeti dari waktu ke waktu, biasanya melalui seorang utusan khusus, khususnya ketika terjadi pergantian kekuasaan pada tahta Kaisar Agung Mañjughoṣa sebagai bentuk hormat.

 

Halaman 13

Sebuah penjabaran mendetil tentang bagian ketiga akan diberikan, dimana bagian yang lebih penting, yaitu Āryadeśa, dibicarakan secara lebih mendalam dibandingkan dengan dua negeri lainnya. Kami juga merasa perlu untuk menyampaikan nama-nama raja yang memerintah di Āryadeśa dan menggambarkan penyebaran agama-agama yang ada secara geografis, baik yang bersifat ortodoks maupun heterodoks. Bagian pertama. Jika kita berpatokkan bahwa seluruh negara ini dibagi menjadi lima bagian: bagian tengah (Madhyadeśa), Timur, Selatan, Barat dan Utara; kita jadi mengerti bahwa pembagian ini harus dilakukan untuk memberi gambaran umum bagi mereka yang ingin mempelajari negeri ini. Dinyatakan dalam Vinayapuspamālātantra: “Śrāvastī, Sāketa, Campakā, Vārāṇasī, Vaiśālī, Rājagṛha, (8b) keenamnya dipuji sebagai kota-kota besar.” Keenam kota yang barusan disebut terletak di Madhyadeśa dan Vajrāsana juga terletak di Rājagṛha dekat Magadha. Karena bagian tengah bumi dan pusat agama terletak berdampingan seperti mata rantai, titik pusat bumi merupakan Madhyadeśa yang sesungguhnya. Dan penyelamat kami, penakluk suci, yang penuh keagungan, Ia yang tak tertandingi dalam kuasa transenden, Raja Kaum Śākya, telah menetapkan Madhyadeśa sebagai tempat penting. Melalui dharma, tempat ini mirip surga Akaniṣṭstha karena memang inilah tempatnya dimana inkarnasi samyaksambuddha, para Buddha yang bertempat pada ribuan bhadrakalpa9, dan para Jina masa depan yang tak terkirakan jumlahnya, memunculkan diri. Untuk lokasi persis dari tempat ini, para manusia super, yang sudah terbiasa hidup tersembunyi dalam gua-gua vajra, telah lama dan secara bertahap menghindari deteksi pihak lain dari bawah tanah, seiring dengan mendekatnya pasukan kaum Turuṣka.


Referensi:

  1. Kalpa yang berjalan saat ini atau aeon yang baik.

 

Halaman 14

Meskipun para deva, nāga, dan yākṣa, dll. masih menyembah inkarnasi Vishnu di kuil Mahābodhi, kaum Brahmana yang fasih dalam ilmu tantra dan para bhikṣu membuktikan pengabdian mereka dengan nilai-nilai idealisme mereka sendiri. Tetapi, tepat di bawah pohon bodhi yang semerbak harum, terlihat berbagai bentuk dan sosok di luar nalar, yang hanya bisa dilihat oleh para peziarah sesuai dengan karma masing-masing. Kekuatan magis, yang langsung tampak begitu seseorang sampai di tempat tersebut, serta kekuatan berkat yang muncul di tempat lain setelah pembacaan mantra-mantra dhāraṇī berkembang cepat di sini merespons pada satu perubahan: hal-hal yang luar biasa terjadi di sana. Secara umum, (9a) Vajrāsana adalah nama yang kini digunakan untuk tempat ini dalam bahasa Sansekerta. Di sisi lain, tempat ini juga dikenal dengan nama Gāya, sebuah kata yang digunakan oleh kaum ācārya dewasa ini, dan juga dikenal sebagai Bodhigāya karena merupakan tempat dimana Mahābodhisattva bersemayam. Benar adanya bahwa setiap dari enam kota tersebut punya raja masing-masing di masa Tathāgata masih ada di bumi secara langsung. Namun, sejak masa Āryānanda mendapatkan doktrin suci setelah Nirvana Sang Buddha, Śrāvastī atau Kośala, Sāketa, dan Campakā menghamba kepada Raja Rājagṛha Kṣemadarśī atau Ajātaśatru; mereka sudah lama tidak merdeka sampai saat ini. Vaiśālī bernama Prayāga sekarang dan apa yang dianggap sebagai Vārāṇasī masih juga bernama Vārāṇasī atau Bhanarasī atau Kāśī. Satu bagian dari wilayah ini sekarang adalah kota besar yang dikenal sebagai Lagnur (Lakhnau) dan negara di mana terdapat kota yang saat ini bernama Mirzāpurī ada di bawah kuasa sang raja. Terdapat sebuah kota yang luas bernama Pāṭnā dengan tiga puluh ribu rumah yang terletak di sebuah hilir sungai Gangga. Kota ini dapat dicapai dari Nepal hanya dalam beberapa hari perjalanan. Karena wilayah bagian dari Pāṭaliputra ini menjadi milik dua-puluh-empat bidang, negara ini dilandasi radius api Kāyacakra. Juga ada di daerah ini stupa lima skandha dan stupa Aryānanda.

 

Halaman 15

Ṛṣipatana juga terletak dalam wilayah Vārāṇasī. Singgasana negeri ini, dianugrahkan oleh empat Vināyaka dan di mana seribu Buddha sempurna bersemayam, dibangun dalam taman rusa. Selain itu, ada juga sebuah fasilitas untuk para pengikut kepercayaan heterodoks dan sebuah jalan akses ke Sungai Gangga (9b) di mana mereka sering mengadakan upacara permandian. Di wilayah ini terdapat banyak padepokan magis untuk penganut tantra ortodoks maupun heterodoks, diantaranya perguruan para pandita kuno dan para mahāsiddha. Di negeri Vaiśālī terdapat praktik relijius yang luar biasa kaidahnya dalam merangkul seluruh dunia dan berpusat pada sebuah vihara yang dibangun di pinggir kolam monyet. Pada muara masuk Sungai Gangga, terdapat banyak perguruan tantra baik heterodoks maupun ortodoks. Di keenam kota besar tersebut, sangat penting dalam kisah ini, terdapat ratusan ribu biara yang tersohor; vihara-vihara Otantapurī, Gṛdhrakūṭa, Śrīnālanda dan Vikramaśīla, berbagai perguruan untuk pengikut tantra, dan rumah-rumah kecil bagi pertapa yang telah menjadi siddha. Di wilayah ini juga bisa ditemukan reruntuhan perguruan-perguruan dari jaman Buddha kuno, rumah para pandit dan siddha, serta berbagai tempat yang terkenal karena keajaibannya; sebagai contoh, tempat-tempat dimana seseorang bisa menjadi siddha, dimana hujan bunga bisa terjadi pada waktu tertentu, dan dimana banyak macam siddhi sesuai permohonan. Bahkan di saat ini, Mathurā dan Bhasajinātha masih terkenal, meskipun mereka telah bermunculan di tempat-tempat heterodoks seiring karena tekanan waktu. Seperti halnya dengan Vajrāsana, tempat-tempat ini dihormati sebagai petilasan suci baik oleh kaum heterodoks dan orthodoks. Yang kita sebut sebagai kuil Trikaṭuka di Rāḍhā ada dalam sebuah distrik di negeri Bhaṅgala10. Di bawah ini akan diceritakan juga bagaimana seakan-akan terdapat upacara menggunakan tiga buku panduan, bahkan saat ini. Keenam kota besar tersebut tumbuh pesat dan penuh sesak dengan penduduk dalam rumah mereka yang berjumlah 10 juta. Kota-kota ini dipenuhi orang dengan kepuasan “satu tahun bagus”, sangat puas dengan keberuntungan mereka, bahkan mereka bisa mengalahkan ngengat yang berkerlip dalam naungan sinar matahari.


Referensi:

  1. Bhaṅgala berarti Bengal

 

Halaman 16

Di sana ada pejabat, serdadu dan Brahmana (10a) tuan tanah besar yang memiliki kekayaan bak dewa Vaiśravaṇa. Mereka memiliki kekayaan yang sangat besar sehingga mereka bisa bersaing dengan harta milik Vaiśravaṇa dan bahkan sangat besar untuk ukuran tempat kecil dari mana mereka berasal, yang semuanya tiga kali lebih besar daripada milik Tibet. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru selama tujuh hari perjalanan dan berkerumun di gang-gang bazaar ketika pasar sedang buka. Pasarnya pun berlimpah dengan barang: ada batu vaiḍūrya dan ketana, koral putih dan merah, saṅkha bagi tangan kanan, mutiara merah dan putih, indranīla [safir biru], emas dan perak, linen terhalus, seratus ribu karṣāpaṇa nilainya, berbagai sutra indah dan bermacam-macam hadiah, perhiasan dalam seribu satu macam; saking lengkapnya bisa dibandingkan dengan Trayastriṁśat. Semua kota besar tersebut mempunyai satu kesamaan: tembok yang mengelilinginya pasti sangat kokoh, mungkin dengan seratus gerbang di semua penjuru. Tapi hal ini berarti pintu-pintu masuk kota sempit adanya. Berbagai bangunan megah dan istana-istana sang raja, yang masing-masing bisa memiliki lima ratus ruangan, sangat mempesona untuk dilihat; mempunyai lantai atas dan tengah, serta ruang-ruang bawah. Fasilitas yang ada sulit digambarkan: terdapat ruang-ruang megah terbuat dari emas dan perak, dihias dengan kaca multiwarna, berbagai macam patung-patung indah11 yang terbuat dari gading dengan lapisan yang cantik; hampir seribu macam makanan, apapun yang kita kehendaki ada. Mungkin ada sepuluh ribu macam hiburan di sana. Para opsir istana, kapten-kapten para pasukan penjaga, Brahmana purohita, tuan tanah, dan petugas pencatat Brahmana berpostur seperti pohon sala (10b) yang tinggi besar. Juga ada serdadu pemberani dalam jumlah tak terkirakan, yang sudah membuktikan diri mereka dalam dua puluh empat macam ujian dan telah memenangkan penghargaan sebagai pahlawan. Di lingkungan sekitar terdapat banyak gajah, kuda, kerbau, antelop dan berbagai macam hewan ternak.


Referensi:

  1. Kata “Plastik” dipakai dalam terjemahan Jerman.

 

Halaman 17

Di jalanan bazaar kota-kota tersebut, lempengan batu digunakan untuk jalanan; sosok-sosok suci dipahat di permukaan batu dan berkilau di tengah-tengah lingkungan warna-warni ini. Penduduk dari kasta penyapu jalan secara teratur membuang sampah tiga kali sehari dan membersihkan jalan dengan air setiap hari. Di perempatan jalan dan gang bazaar terdapat rumah kecil-kecil terbuat dari batu di mana disediakan kendi-kendi seukuran sebuah droṇa12, berisi air dingin dengan penutup, diperuntukkan bagi siapapun yang lewat dan ingin minum. Di samping rumah batu ada sebuah kolam pengadem kecil, di mana orang-orang bisa membersihkan diri. Menyenangkan melihat banyak sekali ladang dan pelataran hijau terhampar di mana-mana di negeri tersebut. Udara sejuk di beranda tempat bernaung para pengembara penuh dengan bau harum dupa. Untuk teman-teman burung, terdapat kebun-kebun buah, pohon-pohon Cendana dan gaharu dan pohon lainnya di istana-istana yang ada; burung kakaktua, pipit (kalaviṅka), beo, pegar, singkatnya semua macam burung dan juga tupai (kalantaka) hidup di kebun-kebun istana. Burung-burung kecil senantiasa berkicauan. Pekarangan istana selalu penuh warna dengan berbagai kuntum bunga, kolam buatan dan danau alami. Juga ada kolam untuk permandian dan danau-danau es di mana hansa, cakravāka, bebek liar dan angsa bersahutan dan di mana padma, utpala dan kumuda, (11a), juga bunga-bunga lainnya tumbuh merebak harum. Kebun raya yang ada begitu luas sehingga diperlukan dua hari untuk menjelajahinya dan terdapat sebuah danau buatan di tengah-tengahnya. Di tengah danau ini ada gunung-gunung buatan di mana dibudidayakan berbagai tanaman obat. Juga ada sebuah paviliun cantik terbuat dari kaca, batu giok dan kayu Cendana. Yang lebih membuat tercengang adalah terdapat berbagai kapal mendarat di dermaga-dermaga yang terpencar di tepi danau; karena tersedianya fasilitas ini, sang raja dan rombongannya bisa naik kapal dari pavilion di danau kapan saja mereka hendak bepergian. Sang raja terkadang menaiki sejenis mahluk air yang sudah dijinakkan atau makara, yang sudah dilengkapi dengan sadel dan tali kekang berhiaskan permata. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa terdapat begitu banyak keberlimpahan di tempat ini sehingga bisa dikatakan setara dengan Istana Trayastriṁśat.


Referensi:

  1. Sebuah ukuran kapasitas

 

Halaman 18

Semua ini dinyatakan berdasarkan kebenaran dan tidak ada pernyataan palsu yang dibuat di sini. Siapapun yang mengerti secara benar arti hal-hal yang telah disebut dalam śāstra tentang keenam kota besar di negeri Āryadeśa tentunya paham bahwa seantero wilayah negeri tersebut sama sempurnanya dengan bagian pusat (Madhyadeśa). Namun keenam kota besar itu hanya ada di Madhyadeśa. Jadi negeri timur ini terdiri dari tiga bagian: pusat (Madhyadeśa), Selatan dan Utara. Tanah di sebelah Barat Madhyadeśa, diperlukan enam bulan perjalanan dari ujung Timur ke Barat masih di bawah kuasa Bhaṅgala. Jika dibagi menjadi distrik-distrik yang lebih kecil, maka akan ada di bawah kota-kota kecil seperti Purñana, Raṅgapurī, Raṅgamati, Magputapā, Pūrṇavartta, Rāḍhā atau Rara, Hugli, Kalakatta, Ghorabakka, dan lainnya. Di sisi timur, tanah yang ada di bawah naungan Varendra, selain Bhaṅgala. Melakukan perjalanan melalui negeri ini bisa menghabiskan waktu tiga bulan. Satu bulan perjalanan akan membawa kita sampai pada pulau Tāmradvīpa. Tempat ini kemungkinan adalah yang disebut orang India saat ini sebagai Mag (11b). Wilayah ini berbatasan dengan laut di sebelah timur yang juga terhubung dengan bagian bawah Bhaṅgala di sebelah barat. Sungai ini, dikenal dengan nama gTsaṅ po di negeri kami, dinamakan Brahmaputra oleh penghuni Āryadeśa. Sungai Brahmaputra mengalir ke bawah pada sebuah tepi tebing di titik yang dinamakan muka Iblis (Yama) dan mengalir lebih jauh lagi melalui Kamaru. Dari sana, air mengalir ke arah timur untuk sesaat sebelum melewati batasan Varendra tembus ke Bhaṅgala dan melewati Svanarghavo juga Tāmradvīpa, kemudian menyeruak masuk ke lautan timur. Tidaklah bisa melakukan perjalanan sendirian melalui Tāmradvīpa13 karena penduduknya sangat beringas dan mempraktikkan kanibalisme. Dimulai dari Danau Anavatapta, Sungai Gangga yang agung melintas melalui negeri mṄa ris sepanjang beberapa hari perjalanan, kemudian mengalir ke arah barat daya. Dari Haridvāra, aliran sungai berbelok ke arah timur, melewati pinggiran wilayah Vārāṇasī dan mengalir terus dari bagian luar dari selatan Bhaṅgala ke pojok timur, dimana sungai tersebut bercabang menjadi dua: cabang yang lebih besar mengalir lebih dekat dengan cabang yang lebih besar Tibet gTsaṅ po dan seterusnya masuk ke lautan, sementara yang lebih kecil menuju lautan timur di sebelah selatan Bhaṅgala.


Referensi:

  1. Kata Land digunakan dalam terjemahan Jerman. Tetapi, Tāmradvīpa adalah pulau Ceylon, Sri Lanka.

 

Halaman 19

Tempat ini dinamakan Gaṅgāsāgara dan Gaṅgāsaiger dalam pelafalan umum. Di Ratnagiri, ada sebuah vihara di pucuk sebuah bukit. Di vihara ini terdapat sebuah rupa kuno dari Hālāhalāvalokiteśvara yang dibuat oleh Menteri Puṇyaṇātha pada masa hidup siddha agung Kṛṣṇacāri. Rupa ini memancarkan sinar kemuliaannya. Di sebuah vihara kecil dekat dengan laut, terdapat enam biji perhiasan yang terbuat dari tulang yang pernah diberkati oleh Kṛṣṇacāri muda, Bhuvari dan Bhuvadhīmān. Perhiasan-perhiasan ini kemudian diberikan oleh sosok ḍākinī kepada14 Kṛṣṇacāri senior. Mereka memiliki kekuatan besar karena memancarkan percikan api pada waktu malam. Untuk penganut ajaran heterodoks, vihara adalah rumah sihir, atau kapālamuni. Jika mantra pembuangan telah dibacakan selama satu bulan dan tidak ada perubahan besar atau kecil, maka jelas mantranya tidak manjur. Tapi kemudian berbagai macam nāga, yakṣa yang berpenampilan seram dan ḍākinī licik bermunculan sebagai hantu yang mengganggu sekali. Di hutan sekeliling, banyak hewan buas keluar dari sarang. Mahluk setan makara, dan pemangsa anak kecil (śiśumāra), yang muncul dari samudra menyebabkan banyak orang ketakutan. Sejak munculnya nāga petir dan gemuruh disertai kilatan petir yang ganas secara bersamaan di musim panas, hanya manusia super yang mampu hidup di wilayah seperti itu. Bahkan seseorang ahli tantra pun, yang sudah termasuk luar biasa hebatnya, tidak bakal bisa hidup di sana. Sulit bagi manusia untuk bisa bertahan di sana, kecuali mereka yang sadar akan moralitas secara penuh. Di tempat yang disebutkan sebelumnya, Pūrṇavarta, terdapat sebuah kuil yang terbangun dengan sendirinya Khasarpana. Jika seseorang membangun sebuah rumah persembahan kecil di sana dan membaca sebuah praṇidhi selama tujuh hari, maka dirinya pasti bisa mendapatkan siddhi. Dalam negeri yang telah disebutkan, yaitu Rāḍhā atau Gausompurī, terdapat sebuah perguruan yang hebat, di mana Sang Mahākāla sendiri berada dalam seseorang. Di negeri ini juga ada banyak institusi tantrik baik untuk kaum heterodoks maupun ortodoks.


Referensi:

  1. Kemungkinan ada kesalahan dalam terjemahan Jerman; semestinya kata yang dipakai adalah vererbt (meneruskan, menurunkan) tapi yang tertulis verehrt (disembah).

 

Halaman 20

Di arah selatan Sungai Gangga adalah bagian selatan Bhaṅgala; nama provinsi yang dimaksud adalah Oḍiviśa atau Urisa dalam bahasa sehari-hari. Ini adalah tempat di mana Mahāsiddha Vajraghaṇṭa mencapai siddhi di masa kuno. (12b) Lautan timur juga menjadi perbatasan sebelah timur bagi negeri ini. Terdapat juga sebuah kota besar dengan sebuah hutan lebat di sekelilingnya, dekat dengan kuil Āryāvalokiteśvara Lokeśvara dan Jagaddali dengan Vajraghaṇṭa sebagai penarik bagi yang berminat dan sebuah landasan bagi tīrthika15. Di masa lampau kuil tersebut didedikasikan pada Dewa Vishnu dan memiliki sebuah patung batu yang memiliki kekuatan sihir yang kuat. Patung tersebut kehilangan kekuatannya setelah ditatap oleh siddhi-ācārya Prajñāmitra. Bahkan sampai saat ini masih ada sebuah rupa bernama Jagannātha atau Jakennātha dalam bahasa awam, yang dimana elemen-elemennya bereaksi dan masih dianggap penuh kekuatan magis. Kedua kuil Jagannātha dan Jagaddali hanya dipisahkan jarak yang sebatas kita bisa mendengar seseorang memanggil dari arah laut. Bagian utara Bhaṅgala dibagi menjadi tiga wilayah: Timur, Barat dan Tengah. Kāmarūpa atau Kamaru, dalam bahasa awam, terletak di wilayah Barat. Satu dari dua-puluh-empat pembagian dari wilayah siddhi agung ada di sana karena letaknya yang ada pada arah menuju timur pada roda Śrīcakrasaṃvara vākcakra. Ini adalah tempat di mana Tathāgata yang penuh kasih memperlihatkan jalan menuju Nirvana, Kuśinagar dan kerajaan Malla. Ini juga tempat dimana Buddha memasuki Nirvana dan dimana terdapat hutan sāla dengan sebuah kursi di dalamnya. Lebih lanjut, ini juga merupakan tempat dimana Mahāvīra Myug gu can dan lainnya bersemayam: sebuah tempat penyembahan untuk penganut aliran heterodoks dan ortodoks. Di tempat lahir Mātṛkā, kita juga bisa menemukan sebuah petilasan yang muncul sendiri, dikenal dengan nama Kāmākhyā atau Kumucha dalam bahasa sehari-hari, serta sebuah petilasan Vishnu dengan wajah kuda, yang disebut sebagai Girimatho.


Referensi:

  1. Bukan penganut Buddhis

 

Pergi ke halaman 21 sampai 40

Kembali ke Tab

Halaman 21

Di sebelah timur Malla (13a) terhampar negeri yang bernama Asam, yang kini lebih dikenal dengan nama Aśoṅ oleh para pemimpin rombongan karavan dan orang-orang Tibet lainnya. Wilayah bagian tengah Bhaṅgala dikenal dengan nama Kaccharaṅga, Gauḍa (Ghavura) dalam bahasa Sansekerta, dan Ghahroṅ dalam bahasa awam. Ada dua wilayah di sana: yang pertama bernama Tripura atau sekelompok gunung yang menjadi milik Bhaṅgala dan terletak di dataran yang lebih rendah. Wilayah satunya terletak di dataran yang lebih tinggi di lembah yang sama dengan nama Devīkoṭi. Wilayah ini sangat luar biasa karena terletak di ruji-ruji cittacakra yang dibagi dalam dua-puluh-empat bagian. Ada sebuah perguruan yang didirikan oleh Mahāsiddha Kṛṣṇacārī di daerah ini. Sekolah ini adalah tempat dimana suara genderang ḍamaru terdengar dan hujan bunga terjadi ketika Kṛṣṇacārī menghaturkan persembahan. Banyak sekali kejadian ajaib yang terjadi di sini, termasuk situs di mana Mahāsiddha Guhya menghancurkan seorang penyihir wanita. Tidak ada cacat apapun di tempat-tempat dimana siddha lainnya bermukim di masa kuno, tapi penduduknya telah menjadi seperti iblis yang memakan daging manusia di masa selanjutnya. Meski demikian, tanah tersebut pernah menjadi bagai permata dalam doktrin sang Buddha. Karena wilayah ini dekat dengan pegunungan Tibet, setidaknya satu suku besar yang ada di bawah naungan lJaṅ dan berbahasa Tibet ingin tinggal di sisi yang dekat dengan Ghahroṅ. Namun secara umum wilayah ini tidak dikenal oleh orang Tibet, meski, saya dengar, disebut sebagai “lJaṅ yang Agung dari raja Ba taṁ, dst.” Bisa juga diasumsikan bahwa sekte Karmapa tinggal di sini. Saat ini di sebelah timur Ghahroṅ terdapat hamparan tanah yang sangat luas yang dikenal dengan nama Koki, terhubung dengan negeri Naṅgaṭa, Tsakma, Mor ga ko, (13b) Kamboja, Rakhaṅ, Bal gu, daerah Pu kam juga di bawah Haṁsavatī dan kota-kota lainnya yang terletak di pinggir laut. Haṁsavatī dan Mergui juga dikenal dengan nama Mu kaṁ. Di Haribandha, sebuah distrik di Rakhaṅ, terdapat sebuah stupa besar dan disampingnya sebuah vihara besar. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Bhramarāja adalah nama umum dari para raja di negeri ini.

 

Halaman 22

Tentang negeri Mergui dan sMan, beberapa orang beranggapan bahwa keduanya ada di bawah kendali suku-suku yang hidup di negeri China. Anggapan ini tapinya salah. Karena penduduk di sana mengenakan sorban putih dan bahasa mereka mirip bahasa Bhaṅgala secara umum, maka jelas bahwa yang digambarkan adalah orang-orang yang berasal dari kota-kota besar di sisi Timur India. Di kawasan perbatasan negeri mereka, terdapat Yunnan, sebuah kota China yang besar, juga termasuk dalam wilayah mereka. Saya dengar bahwa dari kota inilah gajah-gajah besar dikirim ke istana kekaisaran di Pe Ciṅ untuk “Penguasa Langit” yang bertahta di Kota Kekaisaran Keemasan. Jika kita meneruskan perjalanan lewat laut dari negeri ini, kita akan sampai di Dhanaśrīdvīpa. Di sinilah stupa Śrīdhanakaṭa atau Śrīmaddhanakaṭaka, yang dikenal sebagai Astukaya dalam bahasa sehari-hari negara tersebut, bisa ditemukan. Di sebelahnya adalah kota besar Śrīdhana, yang secara pasti ada dalam wilayah India, dan karena dipisahkan oleh laut, tempat tersebut merupakan sebuah pulau. Pada saat yang bersamaan, Candradvīpa, Parjadvīpa, Paigudvīpa dan pulau lainnya masih di bawah kendali negeri-negeri wilayah timur Āryadeśa. (14a) Negeri-negeri ini sangat makmur adanya; populasi tak terkirakan mereka menikmati berbagai keperluan hidup dan fasilitas yang sangat berkecukupan. Layaknya kota-kota di Madhayadeśa, mereka terutama sangat berkelimpahan dalam hasil pertanian dan buah-buahan. Di negeri-negeri ini, terutama di Kamaru, Ghahroṅ, Kaccharaṅga, serta wilayah-wilayah di bawah Koki, para penyihir telah bertempur terus-terusan, dan yang sangat mencengangkan adalah bahwa pasar-pasar dan sawah ladang di sana pun tumbuh pesat berkat kekuatan magis. Mengenai Devīkoṭi, banyak sekali terdapat ḍākinī, yang memang sengaja mengembara ke seluruh dunia, menganugrahkan manifestasi berbagai pertanda dalam tantra, terutama setelah meditasi seseorang dilakukan dengan pembacaan anuttarayoga. Pastinya, ada juga banyak perguruan tantra besar di wilayah ini.

 

Halaman 23

Tetapi ketika membicarakan orang-orang seperti bangsa Tibet, mereka kebanyakan tidak suka bepergian ke wilayah-wilayah tersebut. Di samping karena bahaya dari hawa panas, ular dan segala cacing berbisa lainnya, disamping binatang buas juga, kekuataan berbagai macam tantra juga sulit untuk dicapai di sana, terutama karena penduduk Āryadeśa memiliki persepsi buruk pada orang Tibet dan menyebut mereka sebagai “kasta rendah”. Wilayah selatan negara ini sangat beruntung dan memiliki banyak kota besar. Jika kita merinci kota-kota yang ada di daratan pada satu sisi, kita akan menemukan (14b) Triliṅga, yang terletak dekat dengan Uruviśa atau Oḍiviśa atau Urisa yang telah disebutkan sebelumnya; kota ini juga merupakan tempat lahirnya Dharmakīrti dan dimana bisa ditemukan hutan-hutan Cendana Trimala. Selain Triliṅga, kita juga akan menemukan kota-kota berikut ini: Marahaṭa, Khanadeva, Taṁbala, Vidyānāgara, Karṇāṭaka, Cañci, Malyāra, Caritra, Margarava, Kunkuṇa, Cevala, Nicamba, Nicambahara, Candradura, Pañcabhatāra, Caramandala, Mauramandala Jalamandala, Tolamandala, Tundamandala, Bhoga, Malyāra, Nerapatareva, Chetareva dan lainnya. Lautan yang dinamakan Mahodadhi oleh penduduk Āryadeśa terbentang dari bagian selatan, melewati pinggiran laut bagian timur dan lautan yang bernama Ratnasāgara yang terletak di luar batasan Barat dan Selatan yang bertemu di sebuah sudut tajam di Jambudvīpa. Wilayah ini karena itu digambarkan berbentuk seperti sebuah segitiga. Meskipun kedua lautan memiliki kedalaman dan permukaan yang sama, mereka mempunyai nama yang berbeda karena sebuah perbatasan yang ada, berupa gelombang ombak masih bisa dilihat dari jarak jauh di sebelah selatan akibat bentuk alami negeri Jambudvīpa. Masih menjadi bagian dari wilayah sudut tajam adalah Rāmeśvara, yang terletak di penjuru angin barat daya cittacakra dari pembagian keduapuluh empat negeri, dan Indraliṅga, Triliṅga, Umāliṅga dan Śivaliṅga ada di sana juga. Terdapat delapan16 negeri yang berbeda secara keseluruhan.


Referensi:

  1. Pada hal. 24, disebutkan bahwa ada delapan (acht dalam Bahasa Jerman) negeri secara keseluruhan. Tapi tidak jelas negeri mana yang dimaksud.

 

Halaman 24

Dari sisi tempat yang telah disebutkan, sebuah jembatan terbuat dari batu-batuan tertata menyeberangi lautan. Jembatan ini semestinya dibangun Rāma ketika dia menaklukkan Lanka di jaman kuno (15a) dan menurut cerita ini adalah bagaimana dia bisa menyeberang lautan dan sampai di Lanka. Dari keduapuluh-empat pembagian, Māru, Mevar, Ciṭavar, Bivuva, dan Ābhu terletak pada penjuru-penjuru angin kāyacakra di daerah perbatasan Selatan, sementara Soraṣṭa dan Gujiratha atau Gujiraṭ dalam bahasa sehari-hari terletak di penjuru-penjuru menuju ke Barat. Wilayah-wilayah tersebut semuanya dianggap sebagai provinsi besar dalam negara ini. Berkat agung dari vajrakāya telah ada di Soraṣṭa ketika Siddhendra Virūpa mencapai vajrakāya dan rupa Somanātha juga ada di sana. Secara umum, tidaklah cukup bahwa wilayah-wilayah di Selatan ini sangatlah terberkati dengan kekayaan dan keterampilan sehingga mereka bisa bersanding dengan Trayastriṁśat. Tapi mereka yang memerintah wilayah-wilayah tersebut — yang memiliki lima nama dari mandala yang telah disebut dan sebagai satu kesatuan dianggap sebagai Pañcadrāviḍā—Pulau Keemasan (Suvarṇadvīpa) hanya terkesan seperti negeri pengemis. Wilayah-wilayah ini terkenal memiliki dua puluh ribu macam hiburan, di mana yang paling disukai adalah tarian. Di negeri Māru, Ācārya Saroruha memenangkan anak perempuan seorang raja dari kasta yang lebih rendah melalui trik sulap karena putri tersebut adalah seorang padminī dan kemudian memaksanya untuk bekerja padanya. Raja yang berperangai buruk dan bengis itu meresmikan lukisan Śrīvajra karya sang putri dengan bubuk kayu cendana yang paling baik untuk kemudian menatapnya dengan seksama. Karena itu dia melanggar sumpahnya dan muntah darah seketika. Jika kita berlayar dengan kapal dari Koṅkuṇa langsung ke arah barat, kita akan tiba di Ḍāmiḍodvīpa. Sebelum itu, kita akan sampai di negeri yang terletak di antara kedua tempat tersebut, yaitu Saṁloranśo, dalam bahasa sehari-hari. Karena terdapat banyak penyihir jahat di wilayah ini, kelihatannya ada juga banyak (15b) cendekiawan siddhapuruṣas dan juga perguruan sihir Padmasaṁbhava.

 

Halaman 25

Jika kita berlayar dari tepian Rāmeśvara ke arah selatan, kita akan tiba di Siṁhaladvīpa atau Siṁhala. Pada pulau ini, terdapat tapak kaki yang dinamakan Śrīpāduka dari penguasa Śākya, Bhagavān, yang menganggap dirinya penuh welas asih. Sang Śrīpāduka masih sangat mempunyai pamor yang tinggi pada saat itu. Penduduk negeri ini begitu kayanya sehingga mereka hanya menggunakan emas dan mutiara sebagai alat tukar. Jika kita meneruskan berlayar dari sini menuju selatan, kita akan tiba di Gunung Potala dan jika terus berlayar ke arah barat selama beberapa saat, kita akan sampai di sebuah provinsi bernama Jhamigiri. Di provinsi ini terdapat banyak tempat dimana Ācārya Nāgārjuna pernah singgah. Menggunakan kapal dari sana menuju timur, kita sampai di negeri besar Suvarṇadvīpa atau Pulau Kencana, tanah air bangsa Suvarṇadvīpī. Negeri ini terletak pada penjuru angin menghadap selatan kāyacakra dalam keduapuluhempat pembagiannya. Di samping Suvarṇadvīpa terdapat Yavadvīpa dan di tengah-tengah Yavadvīpa terdapat hamparan Vanadvīpa. Di tengah-tengah Vanadvīpa, terdapat sebuah ruangan besar dan luas sekali mirip dengan rumah segi empat pada sebuah gunung batu. Menurut berita yang ada, semua buku dan karya sastra kenamaan Guhyatantra yang ada dalam alam manusia disimpan di tempat itu dan karena gunungnya sangat curam, kebanyakan orang tidak berani pergi ke sana untuk melihat buku-buku tersebut. Tipe pekerjaan, kostum tradisional dan bahasa yang dipraktikkan penduduk semua pulau-pulau kecil ini sama dengan yang ada di bagian selatan India. Selain itu, semua cendekiawan kuno (16a) telah mengklasifikasikan negeri-negeri ini, dimana matahari tenggelam, di bawah kategori negeri-negeri timur karena jika matahari berada pada titik bawah selatan di Vajrāsana, ia akan muncul pas di atas Oḍiviśa. Dan jika matahari ada di arah utara, ia muncul dari arah Rak’aṅ. Meski separuh orang India menganggap bahwa Oḍiviśa tidaklah berada di selatan sampai saat ini, ada juga mereka—mereka bukan dari garis keturunan anda, yaitu Sang Buddha dari tiga waktu, Jina kedua yang terkenal — yang bersaksi bahwa Oḍiviśa secara pasti ada di selatan, dalam komentari tentang Pañcaghaṇṭākrama. Yang jelas, semua orang di sini memiliki sesuatu untuk mereka sampaikan.

 

Halaman 26

Jika semua ini benar adanya, bisa dipertanyakan apakah kita telah memberikan informasi yang didapatkan dari sumber-sumber yang salah. Namun, karena hanya ada sebuah pernyataan tunggal membuktikan kebenarannya. Jika seseorang membeberkan sesuatu secara jernih dan paham seutuhnya setelah mempertimbangkan segala sesuatu, termasuk konsekwensi yang paling serius, ia adalah sosok yang hidup di Oḍiviśa. Ketika kita mengukur jarak dari Udyāna dari arah selatan, Udyāna berada di Vajrāsana ketika matahari menurun ke arah utara, dalam perjalanannya menuju terbenam. Sesuai dengan ramalan yogini tentang Vajraghaṇṭa, beliau berujar bahwa “seseorang harus berjalan kaki dari Udyāna menuju selatan, ke Oḍiviśa, dan bermeditasi di sana!” Karena itu bukanlah salah ketika Jina kedua berkata bahwa rahasianya terletak di Selatan dan ketika saya berkata, setelah mengkalkulasikan arah dari Vajrāsana, bahwa ia “berada di timur”. Selain itu, kita harus juga berpatokan pada poin utama bahwa sebuah lapangan yang berbentuk kotak harus muncul: ketika arah turunnya matahari mencapai utara, sebuah jeda terjadi di arah timur. Karena matahari terbenam ke arah utara; jeda antara kedua titik berada dalam dimensi utara sejak matahari terbit dan ketika turunnya matahari sampai di Selatan; jeda antara kedua titik juga terjadi dari titik barat (16b) di dimensi barat. Hal ini berarti dimensi jeda harus juga ada di arah selatan jika matahari terbit menuruti deklinasi arah selatan. Dari sini sebuah bentuk kotak akan tampak. Menggambar sebuah lingkaran pada pinggiran bagian tengah selembar kertas kosong juga berarti menciptakan sebuah garis batas sepanjang empat pinggiran untuk sebuah negara seperti Āryadeśa. Tapi bagi negara seperti Tibet, yang lebih dekat dengan utara, kita membangun garis batas yang lebih pendek seukuran empat jari. Titik dimana tidak ada bayang-bayang matahari terbit di pagi hari harus ditandai dengan sebuah bintang dahulu. Setelah itu, kita mencatat titik di arah Timur untuk malam harinya. Seperti itu, sebuah pertemuan antara dua titik dapat ditandai dengan sebuah lingkaran. Jika kita menarik sebuah senar di atas dua tanda tersebut, kita menghubungkan Utara dan Selatan menggunakan sebuah garis lurus sekaligus meletakkan kedua bintang dalam satu garis yang sama.

 

Halaman 27

Setelah itu, kita taruh sebatang kayu kecil pas di tengah lingkaran itu dan mengamatinya; karena sudah jelas bahwa matahari yang berputar dari deklinasi selatan ke arah utara tidak bisa menyebabkan bayangan di titik tengah antara utara dan selatan, dengan ini kita sudah mendapatkan panduan arah yang tepat untuk letak negara-negara yang telah disebutkan. Menggunakan panduan ini, kita dengan memastikan lokasi kita secara tepat. Kota yang ada di sebelah selatan Āryadeśa ke arah barat bernama Ṣāhbandar. Dalam kota ini, ada sebuah bazaar yang dapat dicapai dengan perjalanan selama dua tiga hari. Jika kita meneruskan perjalanan dari sana ke arah barat, kita akan sampai pada sebuah kota besar bernama Nagara Ṭaṭa, dimana sungai Sindhu dapat dilihat. Dan juga ada sebuah wilayah besar yang terletak pada jurusan angin kāyacakra menuju arah barat daya. Di titik dimana sungai besar Sindhu River masuk lautan terdapat sebuah lembah gersang yang sekitar sembilan hari perjalanan jauhnya. Jika kita ke sana dan bertahan hidup dengan porsi makanan seorang yang sedang mencari pertobatan, yaitu hanya dengan memakan cengkeh (17a), di bukit-bukit berbatu yang indah kita akan bisa bertemu dengan dewata pelindung wilayah tersebut, dewi heterodoks, Hiṅgalācī, beserta rupa beliau dan asal mulanya. Jika kita meneruskan perjalan dari sana ke arah utara, kita akan sampai di kota-kota kaya dan digdaya, yaitu Mūltān, Kabhela atau Kabala, Khorasan, Vajapāna dan Gośa. Karena semua kota ini ada di bawah kuasa agama jahat para kaum Mlecchas, sudah jelas penganut ortodoks sudah meninggalkan kota dan kemungkinan tidak banyak tersisa penganut tradisi agama kuno yang heterodoks. Jika kita berkelana dari sana sejauh mungkin agak ke arah barat, kita akan sampai di Tanah Suci Udyāna, atau Oḍiyana dalam bahasa Sansekerta, yang terletak di jalur menghadap barat dari jurusan juruan angin cittacakra. Para penduduknya, yang kebanyakan kaum Mleccha, menamainya Ghāznī. Bagi para penguasa di sana, tidak ada agama tradisional yang dianut, baik heterodoks maupun ortodoks, juga tidak agama kaum Mleccha, tetapi ada banyak yogini dari kṣetra yang mandiri dan penyihir hitam di negeri ini.

 

Halaman 28

Jika orang-orang seperti kita datang ke tempat itu, para jene akan segera muncul sebagai wanita-wanita pemakan daging dalam bentuk harimau dan membuat mereka mendekat. Karena mereka menggunakan tiga racun (lobha, dveṣa, moha) bagi calon mangsa mereka, sihir hitam yang mempengaruhi mereka dengan kuatnya sehingga para jene dapat dengan mudah memakan daging dan darah mereka. Wanita-wanita ini juga terkadang berubah bentuk menjadi berbagai burung ketika hendak menyeberangi sungai. Jadi mereka suka mempertontonkan pada kita ilmu sihir mereka yang berbeda-beda, yang kemudian mereka pakai untuk menyebarkan rasa takut ke mana- mana. Ini adalah salah satu keunikan negara ini. Bahkan jika kita bertanya pada seorang wanita dari salah satu kota tersebut, seperti Dhumaṣṭhira atau Kaboka, (17b): “Dari klan atau keluarga mana anda?” Kita bisa bertanya-tanya jika hal itu juga berarti: “Saya tercipta oleh saya sendiri karena semua dharma berasal dari kami sendiri, begitu rendah hatinya kami meski kami tahu akan hal itu; sejak masa sejarah awal, kami telah menyaksikan banyak sekali transformasi mahluk, jadi mohon diingat bahwa hal ini berarti sekali bagi kami, sebanyak ketika kami mengulurkan tangan untuk melakukannya kembali.” Yang terutama, ketika kita memohon para wanita ini untuk memberi kita makanan dan sesudah kita makan, akan terasa bahwa makanan yang diberikan seakan-akan disiapkan oleh penerbang vajra (vajraḍākinī) dan menjadi sumber berbagai kekuatan magis sesaat setelah masuk ke dalam perut. Dekat bagian utara negeri ini terdapat sebuah gunung bernama Ilora. Tempat dimana titik tengah Ilora kira-kira berada adalah tempat berdirinya istana Raja Indrabhūti. Jika kita tiba di tempat dimana sang orang suci, yang memakai baju wol (Kambala), dicekal atau sampai di gua dimana beliau pernah bermalam, kita dapat terinspirasi untuk memikirkan berbagai macam hal yang ada di negeri tersebut. Pandit, kṣetrayoginī, dan sādhaka, di negeri seperti Vidyānagara yang ada di arah Selatan, atau di Draviḍa dan di pulau-pulau di arah barat daya atau di Devīkoṭi, tanah tetangga dari Ra k’aṅ di timur, telah disebutkan di atas atau mereka baru saja muncul di kṣetra Udyāna dan di daerah Śrī Śambhala; kita harus mendengar pesan dari Jina kedua secara seksama, beliau yang berbicara tanpa amarah.

 

Halaman 29

Bagaimanapun, seseorang tidak akan pernah rugi mempelajari ilmu pengetahuan; selain itu juga diketahui dari Nam t’ar oleh Sarvajña dGe odun grub bahwa hal terutama yang penting untuk diingat adalah masalah reinkarnasi jiwa. Jika kita membayangkan kemana jiwa tersebut telah pergi dan jika kita mendengar bahwa Jina kedua telah melakukan reinkarnasi di sebuah tempat yang tak lazim, guru agung kita (Tsoṅ k’a pa) memang pernah menampakkan diri pada mK’as grub c’os kyi rgyal po dge legs dpal bzaṅ dalam sebuah visi dalam bentuk seorang yogi dengan sebuah pedang dan sebuah topi seperti tengkorak dalam tangannya, (18a), mengendarai seekor harimau buas dan dikelilingi 80 mahāsiddha. Karya penebusan yang dilakukan oleh penduduk setempat —yaitu, mengupayakan keselamatan para mahluk hidup yang ada di keduapuluh empat negeri dan menunjukkan pengertian yang cukup tentang kerasnya hidup di dataran tinggi. Kita dalam semua pengajaran, terhubung erat dengan metode penyangkalan diri (asketisme) yang disadur dari inti pengajaran tentang reinkarnasi di berbagai perguruan sādhaka. yang ada di sana. Ajaran ini berhasil mengumpulkan banyak ilmu pengetahuan dan wahyu melalui sutra dan tantra, yang hanya bisa muncul jika sebuah kehidupan mengalami reinkarnasi bersama Sumatikīrti dan lainnya di masa kuno dulu, sekitar jaman Nātha Nāgārjuna. Akibatnya, munculah banyak sekali siddhapuruṣa seperti Mahāsiddha Śāntigupta, Guru Tāranātha Guru dari Jonaṅ Buddhaguptanātha dan Pandit Pūrṇavajra. Mereka lahir karena membawa misi reinkarnasi. Juga disebutkan bahwa Jina kedua pernah bereinkarnasi sebagai seorang pertapa. Semua klaim ini biasanya didasarkan atas kepercayaan atau suatu aliran yang berkembang di antara para mahāsiddha dan pengikut Nāgārjuna sendiri, dimana beliau adalah putra spiritual seorang pahlawan. Hal ini juga menjadi alasan sekaligus sebuah inisiasi mengapa setiap Buddhaguptanātha harus mencari kesempatan untuk bertemu dengan Jonaṅ Tāranātha di Biara Byaṅ c’en, yang selalu ada di sana. Di awal pertemuan, beliau memberinya beberapa buku teks yang diterima dengan baik.

 

Halaman 30

Secara tiba-tiba, dia berhenti mengajar Buddhaguptanātha karena beliau harus segera kembali ke kampung halamannya di India. Sang sGrol mgon kemudian mengucapkan sumpah praṇidhi bahwa beliau berniat mendampinginya senantiasa. Namun ada beberapa komentar: “Karena anda bermoral, maka anda tidak akan bisa mengerti, (18b) saya ingin menjelaskan pada anda beberapa upadeśa.” Yang Terhormat Tara sepertinya adalah bidang spesialisasi seorang calon dokter tanpa seorang guru pembimbing. Meski dia tidak memiliki guru, dia tetap bisa membuat namanya tersohor. Tetapi, sesungguhnya dia tidak pernah mencapai apapun karena dia tidak pernah menjadi penguasa abhiṣeka sekalipun, meski dia berusaha semaksimal mungkin. Jadi tidak ada yang spesial tentang dirinya; sebuah doktrin yang jahat dan kaku, didirikan oleh sektaris terkenal Dol (dari biara rJe P’un ts’ogs gliṅ) dan digambarkan sebagai tulisan dari putra sang pahlawan, Nāgārjuna, yang muncul di sini. Dia mungkin membayangkan bahwa siddha yang agung tersebut pernah berpikir tentang isi ajarannya tujuh kali. Selain itu, dicatat dalam gSaṅ rnam dari Paṇ c’en C’os kyi rgyal mts’an pertama, yang ditulis oleh C’os rje sÑiṅ stobs rgya mts’o, bahwa atas perintah atasan spiritualnya pun dia tidak bisa menemukan Tāranātha. Bahkan atasannya berkeliling untuk memanggilnya menghadap ke mana-mana dalam kota Lha sa dan ternyata dia tidak bisa ditemukan saat itu karena sedang ditemani oleh Paṇ c’en bLo bzan C’os kyi rgyal mts’an yang pertama. Karena beliau adalah seorang mahāsiddha, beliau menganggap dirinya relijius, dan itu berarti bahwa ada seorang pandit dari India di tempat inkarnasi ketika Buddhasāgara tantra agung bertemu dengan Tāranātha di oJigs byed c’os byuṅ buku rJe Jam dbyaṅs bžad pa dan di Nam t’ar dari Jam dbyaṅs bžad pa, yang ditulis oleh mK’as grub dKon c’og ojigs med, seorang dari inkarnasi yang ada di sekelilingnya. Dia pastinya membicarakan berbagai hal dalam bahasa sehari-hari dan kemudian berdiri untuk bersujud di hadapan Buddhasāgara dan dia tidak akan melakukannya dalam cara yang benar ketika meminta berkat. Sang pandit, yang telah diberkati oleh Tāranātha dengan “kekuasaan yang tak ada,” semestinya adalah yang telah disebutkan sebelumnya, Pūrṇavajra, “Tuan Gaṅ pai rdo rje.”

 

Halaman 31

Selama pembacaan doa ini dalam bahasa “Sansekerta” (19a), sang pandit benar-benar bersujud sembah. Hal ini disebabkan oleh Buddhasāgara, spesialis tantra yang terhormat itu, telah berbicara dengan penuh hormat kepadanya sesuai dengan apa yang bisa diharapkan pada seorang petinggi Aliran Kuning. Di samping itu, pada acara ini, sudah jelas Yang Terhormat Tāranātha juga telah menorehkan reputasi yang tinggi dengan menaruh hormat di kaki sinar bulan sosok spesialis tantra, seakan-akan beliau adanya guru panditnya sendiri. Kata-kata kepercayaan digunakan untuk mencerahkan masyarakat menuju kebodohan dari generasi sekarang dan supaya kepalsuan dianggap sebagai sesuatu yang serius. Sudah cukup dan kami tidak mau berkomentar lebih lanjut. Sebagai ulasan tentang nama, setiap bentuk inkarnasi yang muncul dalam kasus Jina kedua dinamakan Kīrtinātha. Nama tersebut sekarang sangat dihormati oleh kaum heterodoks dan juga orthodox serta penganut agama-agama Mleccha di Ȁryadeśa; meskipun Kīrtinātha ada saat ini sedang meneror kaum Mleccha. Di tempat tersebut, ombak danau bergerak melingkar pada garis pantai di sebelah timur dan selatan Udyāna. Jika kita berlayar dengan kapal, kita akan melewati negeri-negeri Mleccha, Balkh dan Buchara. Negeri Bhadagṣan ada diantaranya. Dari sana, semua wilayah—sejauh negeri Bhadagṣan— berada di bawah kekuasaan Kun gzigs di Yer kend. Semua yang merupakan reinkarnasi dari Mañjughoṣa, yaitu Kaisar Cina, telah dikenal dari informasi yang telah disampaikan sebelumnya. Jika kita pergi lebih jauh ke arah barat dari negeri-negeri ini, kita akan melihat berbagai negeri milik orang Turuṣka, terutama di arah Tibet Maṅyul. Terhubung padanya adalah wilayah besar K’ac’e, yang dikenal sebagai Kaśmīra di dalam bahasa yang paling banyak dipakai di Āryadeśa. Di barat daya K’ac’e terdapat kota Hastināpurī atau istana agung dari Dharmarāja Ashoka. Kota tersebut sekarang bernama Ḍili, dimana ada seorang pātsa tinggal dan dia seorang penguasa digdaya seperti Kaisar Āryadeśa. Pada saat yang bersamaan, beberapa raja ortodoks yang penuh kuasa di Jayanagara dan Marāṭha dst., memiliki harta benda yang luar biasa jumlahnya dan kekuasaan yang panjang akan rakyatnya yang banyak, dengan perkecualian Kaisar Rum kaum Mleccha yang lebih kaya dan berkuasa.

 

Halaman 32

Di sini (di Ḍili), sang raja, yang mengurusi semua tradisi kuno orang Tibet, adalah sosok yang populer menurut catatan buku-buku perbendaharaan rÑiṅ ma pa, dan sering mengadakan ekspedisi penemuan barang dengan pasukan raja dari Hor bagian atas, sebuah negeri yang bersebelahan dengan Tibet. Meski bisa diharapkan bahwa penguasa di Ḍili akan memamerkan kekuasaannya, kekuatan yang besar sesungguhnya telah menurun akibat berbagai pertikaian internal. Biarpun nama penguasa semua provinsi masih ada, ada lebih dari satu penguasa lainnya, seperti Raja Marāṭhen di selatan dan Raja Bhaṅgala di timur, yang senantiasa hendak merongrong tahta. Hari ini, nama sang pelindung bumi, yang tugasnya hanya melindungi tahtanya, adalah Alimal di Ghavo. Di selatan lebih jauh, Zahor atau Sahora masih ada di sebelah Jayanagara dan Marāṭha. Dinasti kerajaan ini memiliki kuasa yang besar. Karena kerajaan ini ada di tengah bagian utara Āryadeśa, jadi masih termasuk dalam wilayah Śrī Śambhala. Akan diberikan deskripsi umum tentang negeri ini di halaman-halaman berikutnya. Menghitung setiap bagian dari wilayah yang ada di sebelah utara Śrī Vajrāsana, maka wilayah selanjutnya adalah Campā yang terhampar di sisi timur jika kita berangkat dari Kaśmīra sedikit ke timur laut. Dari kedua puluh empat distrik, negeri ini terletak di penjuru angin di arah timur laut kāyacakra. Setelah itu terdapat Kuluta atau nama yang digunakan orang Tibet saat ini (20a), sebagai contoh, Ñuṅ ti in mṄa ris, dan salah satu distriknya yang bernama Gaśa. Daerah-daerah ini adalah tanah-tanah di Jambudvīpa. Sebagai tetangga terdekat dari mṄa ris, Gu ge dan bKa gnam, RajaVatsa terkenal di jaman kuno, di masa Tathāgata. Dalam kota yang bernama Vaiśālī di Āryānandāvadāna sekarang hidup seorang raja yang dinamakan K’u nu oleh orang Tibet. Jika kita meneruskan perjalanan dari sana ke arah selatan, kita akan sampai di tempat lahirnya Sang Bhagavāns, Śākyarāja, sebuah tempat tiada duanya.

 

Halaman 33

Di kota besar bernama Kapilavastu di mana terdapat beberapa sumber air di sebuah lembah berhutan, tempat Sang Bhagavān dilahirkan. Terdapat di sana sebuah tunggul pohon plakṣa yang menerangi ladang buah Nyagrodha dengan cahaya berkat selamanya. Ini mungkin adalah daerah yang dinamakan Sāhermon atau Sermon. Karena tempat ini dekat dengan Tibet, keberadaan pegunungan bersalju (Himālaya) di dekat tempat ini selalu ditekankan di berbagai sutra dan tulisan suci lainnya. Ke arah timur dari tempat ini adalah Śrīnagara atau Silinagara, salah satu distrik di sana bernama Phulahari dan sekarang dikenal sebagai Haridhovar atau Hardhovar. Ini adalah tempat dimana Na ro Yang Suci membacakan mantranya. Lebih jauh ke utara di tebing-tebing curam pegunungan di daerah Nāgarakuṭi, kita dapat menemukan Jvalamukhī atau Jvalamuga yang berarti “api dari batu” dalam bahasa Tibet. Tempat ini terletak pada cittacakra dengan penjuru-penjuru anginnya ke arah utara dan merupakan kampung halaman Jalandhari. Wilayah dekat jurang; Namintra, Jhuṁ laṅ, Laṁ jhuṁ, Gorśa, Tanahuṁ, Bhidiya, ke 30 distrik di Nepal termasuk Kirānta dan Bhicchapurī; oBras mo ljoṅs atau Sikkim, daerah taklukan Tibet (20b), dan provinsi oBrug pa yang dikelilingi pegunungan dan masih dianggap sebagai bagian dari India. Semuanya serba teratur. Saya ingin memberitahu anda tentang topik penting ini. Wilayah Kamaru sebenarnya tak lain adalah daerah di perbukitan berbatu yang dikelilingi oleh lembah-lembah bersungai. Pegunungan dari sisi timur daerah oBrug pa terhampar jauh dan juga termasuk bagian yang ada di negara ini. Kesaksian ini disebutkan dalam terjemahan lama atau, paling tidak, menurut informasi yang ada tentang daerah timur. Wilayah utama daerah ini, yang kebanyakan dikelilingi pegunungan kecuali di beberapa tempat, sangat makmur dan penuh makanan dan minuman, alat kekuasaan dan seni tingkat lanjut. Tapi di tempat ini ada juga penyihir dengan keahlian tinggi dan ilmu yang mereka gunakan termasuk mantra-mantra tantra. Selain itu, mereka menggunakan medium sebagai agen bertindak, terutama ular-ular berbisa, yang mereka gunakan melawan musuh dan merupakan metode yang sulit dikalahkan.

 

Halaman 34

Bagian Kedua. Ketika saya menyebut keluarga kerajaan yang menjadi penerus raja-raja yang hidup berdasarkan aturan-aturan Vinaya dan isi sutra, saya sekaligus membicarakan waktu dimana guru kita Sang Agung muncul dan Mahārāja Ajātaśatru masih bisa bertatap muka dengan beliau. Dari masa dimana Āryamahākāśyapa masih mengajar, keenam kota besar, kecuali Vaiśālī, ada di bawah kekuasaannya. Dengan nasehat dari menterinya, Brahmin Varṣakāra, Āryamahākāśyapa dibantu dengan sebuah pasukan besar telah menaklukkan semua negeri tetangga di Timur. Beliau telah mengisi hidupnya dengan ajaran Āryānanda. Ketika Āryaśāṇavāsika mengajar, beliau meninggalkan dunia setelah menjadi seorang penguasa yang bajik dan selalu melindungi dharma. Beliau digantikan oleh putranya (21a) Subāhu, yang pada gilirannya digantikan oleh Sudhanu, Mahendra dan Camasa. Mereka semua menjadikan Triratna sebagai guru mereka, mereka menghormati agama Jina, dan mereka raja-raja yang bajik. Pada saat itu, Raja Nemita ada di utara Āryadeśa; Beliau memiliki delapan putra, tujuh dari wanita berdarah raja dan Ashoka, putra ke 8, dilahirkan oleh putri seorang kepala suku. Karena dikhawatirkan kakak-kakaknya mungkin akan menyerangnya, sang raja memberikan kepada putra bungsunya kota Pāṭnā atau Pāṭaliputra. Ketika dia menjalani hidupnya di sana dengan damai, sebuah perang besar pecah antara Raja Nemita yang sudah tua dan keturunan terakhir dari klan Raja Ajātaśatru. Karena itu, Raja Nemita menunjuk ketujuh putra dewasanya untuk memimpin pasukan. Mereka bergerak ke selatan menyeberangi sungai Gangga untuk melawan pasukan dari enam kota dan akhirnya menaklukkannya. Sementara itu, sang raja meninggal dunia akibat sakit tua.

 

Halaman 35

Segenap menteri melakukan ritual abhiṣeka bagi Ashoka sebagai raja mereka. Ketika kakak-kakaknya mengetahui tentang hal ini, setiap dari keenam bersaudara tersebut merampas semua enam kota yang takluk menjadi milik mereka sendiri. Tetapi Ashoka kemudian mengalahkan kakak-kakaknya dalam pertempuran dan mengembangkan kekuasaannya ke arah timur dan barat ke arah lautan; ke selatan memasuki pegunungan Vindhya; ke utara masuk pedalaman Himālaya dan juga menaklukkan berbagai pulau yang bahkan termasuk Pulau Rākṣasa. Di awalnya, Raja Ashoka menganut sebuah kepercayaan yang palsu, dan kemudian beliau menjadi murid Arhat Yaśas dan merubah keyakinannya. Setelah menjadi penyokong agama Tathāgata yang hampir tak tertandingi sepanjang sejarah, (21b) beliau memenuhi segenap Jambudvīpa dengan 10 juta stupa, yang mengelilingi relik Tathāgata sebagai peninggalan yang dilindungi. Sebagai pelayan yang rendah hati, beliau dapat menggunakan para yakṣa setelah mendapatkan kendaraan yakṣa melalui mantra tantra kesepuluh. Ashoka memberi kehormatan yang besar bagi anggota sangha di seluruh dunia, dalam sebuah cara yang sulit digambarkan dan beliau juga berhasil memperbudak para nāga. Ketika tiba harinya dimana beliau akan dianugrahi kehormatan luar biasa sebagai bodhi, hujan bunga terjadi selama berlangsungnya gempa bumi. Di akhir hidupnya, beliau berjanji untuk menyumbangkan kepada sangha Aparāntaka, Kāśmira, dan Tokhāra masing-masing 10 juta keping emas. Karena status beliau sebagai donatur sangha tidak tertandingi, beliau berhasil membangun vihara yang pertama di Śrīnālanda pada tempat dilahirkannya Āryaśāriputra, yang dahulu diajari oleh Tathāgata untuk mengingat teks-teks sutra. Sebagai seorang Menteri, mahārāja ini akan mendapatkan yakṣa, dan karena alasan ini, sebuah khotbah harus diterima jika dia terlahir sebagai Ashoka karena dalam reinkarnasinya yang lampau, dia telah memberi Tathāgata segenggam tepung ketika masih anak kecil; dia adalah brāhmaṇa-ācārya Sarvamitra saat proklamasi Suvarṇaprabhāsasūtra.

 

Halaman 36

Untuk tujuan tulisan ini, berikut adalah urutan kelahiran sang raja menurut sebuah praṇidhi. Pada saat yang sama, beliau dijanjikan bahwa dalam semua reinkarnasinya, beliau akan menjadi pengikut para devī yang dilengkapi dengan senjata perang. Raja Ashoka karena itu adalah pengagum berat Umā dan Mātṛkās ketika masih menganut perspektif agama yang salah mengenai keterkaitan (nidāna) semua kejadian ini. Pada akhirnya, beliau bahkan sadar bahwa tantra sang devī tidak akan memberinya kesempatan untuk menaklukkan para yakṣa. Silsilah pengikut-pengikut beliau adalah sebagai berikut: Vigatāśoka, Vīrasena, Nanda dan Mahāpadma, (22a) semuanya menyembah agama yang suci. Dikarenakan dikucilkannya dewi Mahāśrī, kekuasaan mereka tidak pernah berkurang; namun mereka tidak bisa lagi mengendalikan pulau dan bangsa supermanusiawi, yaitu yakṣa dan rākṣasa, seperti di masa leluhur mereka. Setelah itu, Haricandra, Akṣacandra, Jayacandra, Nemicandra, Phaṇicandra, Bhaṁsacandra, Sālacandra dan Candragupta muncul di bagian timur Bhaṅgala. Dari Timur, kekuasaan mereka terbentang sejauh Madhyadeśa. Memanfaatkan kekuasaan mereka yang besar, Cāṇakya, seorang menteri Brahmin di Gauḍa di bawah Raja Bimbisāra yang adalah cucu Candragupta, berhasil mengucilkan Yamāntaka dan karena beliau menampakkan diri, beliau membawa kutukan yang menyengsarakan banyak orang. Akhir cerita, Cāṇakya dilahirkan kembali dalam tubuh sosok asura dan kisah ini diceritakan dalam Mañjuśrīmūlatantra ketika dia mati di neraka. Sang raja, yang sudah bertahta sejak dia masih kecil, membunuh banyak orang yang bermusuhan dengan menterinya. Dia juga menerima permintaan oleh kaum mūlatantra untuk menggunakan dhāraṇī di Āryarāhulī. Raja ini dan mereka yang mengikutinya ke Pañcamasiṃha memang sama dengan Raja Ashoka dalam hal kekuasaan dan pengabdian pada agama, yang membedakan hanya mereka tidak lagi menguasai pulau-pulau yang tunduk di masa Ashoka. Setelah itu, beliau digantikan oleh Śrīcanda, cucu sang raja, dan sesuai urutan yang ada: Dharmacandra, Karmacandra, Vigamacandra, Kāmacandra, Siṁhacandra, Bālacandra, Vimalacandra, Gopīcandra, Lalitacandra.

 

Halaman 37

Di masa Generasi Candra, Raja Mahāgopāla dan para penggantinya memerintah daerah Bhaṅgala yang sangat luas secara damai. (22b) Selain dari deklarasi kesetiaan yang tidak penting kepada ajaran heterodoks, setiap pemegang tampuk tahta merupakan pengagum ajaran Buddha dan banyak di antara mereka mencapai siddhi. Para raja-raja besar di negeri-negeri barat, yang juga memiliki kekaguman yang sama, bernama Agnidatta, Indrabhūti dan tiga sebagai berikut: Kaniṣka, Candanapāla dan Śrīharṣa di samping Udayanabhadra di sebuah wilayah bersebelahan di selatan dan Gauḍavardhana di tanah timur, tapi juga ada Raja Turuṣka, yang mengucilkan Amṛtakuṇḍali, Mahāsammata dan lainnya di Kaśmīra, negeri di arah utara Kaniṣka. Karena mereka semua digdaya, semua rakyat mereka yang hidup di dataran dikelilingi lautan dilindungi secara penuh dan meski mereka semua pengikut setia agama, mereka hanya mendengar khotbah Mañjuśrīmūlatantra. Di masa bertahtanya Raja Dharmacandra, terdapat raja di negeri Hor di Barat dengan nama Khunamasta. Raja ini mengikuti karya Guhya dalam ilmu tīrthika dan adalah seorang Turuṣka, yang berasal dari klan Sog. Hubungan Dharmacandra dengan raja ini secara umum tidak bermasalah. Tapi, suatu hari, Raja Sog menjadi marah akibat hadiah yang dikirimkan padanya, sehingga dia membawa pasukannya menuju Madhyadeśa, mengalahkan Raja Dharmacandra dalam pertempuran, dan memaksanya untuk takluk. Ketika tidak ada yang meneruskan ajaran Buddha dan kejahatan tersebar luas tanpa ada yang menghalangi, Raja Buddhapakṣa yang agung, menantu Dharmacandra, masih bertahta di kerajaan Kāśi atau di Vārāṇasī. (23a) Seperti halnya bhikṣu pada era T’aṅ’s dan bhikṣu Cina lainnya yang dianugrahi pemimpin untuk mendampingi mereka, Raja Buddhapakṣa kemudian mengambil keputusan untuk memberikan pada śrāvaka China makna dan isi dari buku-buku yang dikirim dari semua ācārya menteri kepercayaan sebagai penilik dalam hal-hal sastra dan yang penilaiannya menjadi dasar teks teks sutra.

 

Halaman 38

Dengan demikian Raja Buddhapakṣa mendapatkan kehormatan dari penguasa China berupa sebuah surat penghargaan, dimana sang kaisar mengharapkan kemakmuran sebagai balasan atas itikad baik sang raja, dan juga hadiah berupa benda-benda berharga. Hadiah dari kaisar begitu besar dan berat sehingga diperlukan seribu orang untuk mengangkutnya. Selain itu, sang raja juga menerima emas seberat seratus orang dewasa. Jadi, secara pasti, raja-raja besar di Timur dan juga yang berkuasa di pegunungan Vindhya dan juga raja-raja di gunung liar dekat Tibet, semua yang bersiap senjata di Madhyadeśa, cukup beruntung bisa tetap hidup berkat Raja Buddhapakṣa. Mereka semua bersekutu di suatu saat dan menyerang Raja Turuṣka, mengalahkankan raja jahat ini dan menghancurkan pasukannya. Akibatnya, Raja Turuṣka menyatakan takluk pada Āryadeśa dan membangun kembali bangunan yang hancur di Vajrāsana. Dia juga memberi penghormatan yang terbesar bagi agama Buddha dengan membangun vihara Ratnagiri dekat Urisa atau Oḍiviśa. Gambhīrapakṣa, putra Raja Turuṣka, memberikan Āryāsaṅga mahkota kesusastraan untuk pembacaan Prajñāpāramitasūtra ketika beliau sedang berada di kota Pañcāla. Dia kemudian digantikan oleh raja-raja berikut ini: Cala, Caladhruva, Vishnu, Siṁha, Pañcamasiṁha, Prasanna, Prāditya, Mahāśākyabala; juga ada Raja Śukla di selatan, Candraśobha, Ṡālivāhana (23b) Maheśa, Subhoga, Keśabhadra, Candrasena, Saṇmukha. Agama Buddha amat dihormati oleh penerus-penerus Raja Sāgara. Ketika Raja Lalitacandra dari keturunan Candra meninggal dalam damai, tanah timur dan Madhyadeśa tidak lagi memiliki raja besar selama beberapa saat. Setiap negeri kemudian diperintah oleh pangeran-pangeran yang tidak seharusnya mewarisi dan juga naik tahta tanpa pemberkatan yang sepantasnya. Gopāla, seorang mahārāja dari Sūryavaṁsa dan memiliki kekuatan siddhi telah mencapai siddhi melalui ilmu tantra Marīcī. Dia kemudian menaklukkan Madhyadeśa dan segenap tanah timur dan bersujud di hadapan ajaran Jina lagi.

 

Halaman 39

Di jaman pemerintahan Rāsapāla kedua, putra Raja Devapāla dan keturunannya, seluruh bumi kembali diperintah sesuai ajaran sang Buddha dan sangha yang ada di empat bagian dunia menerima penghormatan yang teramat tinggi. Raja Dharmapāla yang agung dan relijius, penerus langsung Rāsapāla, kembali berkuasa atas semua yang pernah tunduk pada Ashoka di jaman kuno. Kekuasaannya mencapai sungai besar Sītā, yang terletak di utara jauh. Kenyataan bahwa orang Rusia dan Eropa tunduk pada penguasa Ḍili17 merupakan sisa kebiasaan dari jaman Raja Dharmapāla. Bahkan utusan dari Tibet, tanah es, datang untuk mempersembahkan upeti pada raja ini. Dalam tradisi Tibet, persembahan bak permata kadang-kadang merupakan sebuah ekspresi dari upeti oleh keturunan Gye re lha pa dari gÑos sebagai ganti sebuah praṇidhi; keturunannya seharusnya menjadi termasyhur dalam agama Tathāgata. Raja Dharmapāla memperlakukan ācārya Buddhajñāna sebagai pakar dalam ilmu pengetahuan; beliau bersujud di hadapan agama Jina dan memberikan dana yang berlimpah untuk penyebaran prajñāpāramitāsūtra dan śrīguhyasamājatantra. Di samping itu, beliau membangun kembali apa yang dihancurkan di Vajrāsana, di Śrīnālanda serta di kuil-kuil Somapurī dan di tempat lainnya, singkatnya semua yang dibangun oleh kakeknya Devapāla. Awan asap dupa mengepul tiada hentinya. Yang membuat Raja Dharmapāla lebih hebat lagi adalah beliau tidak saja membangun sebuah vihara di Vikramaśīla tapi menyediakan juga pembantu kuil dalam jumlah yang tak terbatas. Di Āryadeśa, para pembantu kuil tidak memiliki mandor, asisten atau pensurvei seperti yang berpakaian bak bhikṣu yang ada di Tibet. Sebagai gantinya Raja Dharmapāla menunjuk Jamādār, yang memiliki peran sebagai bhikṣu yang berperan melayani sang raja. Posisi ini dipilih melalui seleksi yang ketat, termasuk mengajukan pertanyaan soal kepada calon-calon sthavira dan jumlah calon yang antara 15 sampai 18 ribu bhikṣu. Seleksi ini mungkin tidak pantas dilakukan setelah dipertimbangkan dengan hati-hati.


Referensi:

  1. Ḍili adalah Delhi

 

Halaman 40

Dengan cara ini, para bhikṣu sangha tidak harus memohon makanan dan amal di tempat-tempat asing. Mereka bisa hidup karena bantuan para pembantu kuil yang menyediakan para bhikṣu 13 bahan pokok dan segala sesuatu yang mereka butuhkan supaya bisa fokus pada praktik tantra mereka. Pada saat itu, Raja Dharmapāla dikabarkan telah menerima banyak isyarat dari berbagai bhikṣu, yang semuanya merupakan ahli Tripitaka: untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh tantra—yaitu menggali yang paling dalam tentang sampannakrama yang tercatat dalam berbagai buku tentang Guhyatantra—adalah bertentangan dengan perintah Vinaya. Karenanya, Raja Dharmapāla dikabarkan membiarkan buku-buku tersebut dikubur dalam tanah. Ini merupakan cara beliau untuk mengeluh tentang hal-hal yang tidak benar. Jika Tāranātha dan penirunya bersaksi seperti itu, hal ini patut diselidiki lebih lanjut. (24b) Alasannya adalah memang tidak ada kesempatan untuk melakukan upacara pembuangan waktu itu untuk memastikan kehadiran sebuah mudra ketika iman yang teguh tidak tercapai, kecuali jiwa dalam kita secara diam-diam menolak pendalaman unsur prinsip sampannakrama di Āryadeśa. Tapi ketika waktunya tiba bagi kita untuk memulai upacara pembuangan, dia harus pergi jauh ke delapan rumah penyimpanan mayat karena ritual pembuangan secara resmi dipraktikkan sebagai sebuah kemunduran moral bagi kepala biara dan bhikṣu sangha, dan juga hal itu tidak pernah dilakukan dalam vihara. Hal itu karena tidak ada satu bagian pun yang bisa membedakan antara sutra dan tantra dalam kondisi seperti ini. Jika penggunaan kekuatan supernatural dihentikan saat ritual berlangsung, pembacaan mantranya akan jadi mubazir. Saya bahkan tidak akan mempertimbangkan para Saindhava yang ada di bawah kelompok Hīnayāna karena mereka tidak tahu apa-apa selain ritual kedua mereka: “bangun pagi sekali.” Jika sebuah sosok mahāsiddha muncul dengan cara ini, kita harus mengomel-ngomel ketika sadar bahwa tidak ada gunanya bergosip terlalu banyak tentang seorang “perawan permata-biru”.

 

Pergi ke halaman 41 sampai 60

Kembali ke Tab

Halaman 41

Vanapāla, Mahīpāla, Mahāpāla, Prajñāpāla, Bheyapāla, Neyapāla, Āmrapāla memerintah setelah itu. Ketika Hastipāla masih seorang bocah, Raja Cāṇakya, saudara laki-laki ibu dari Hastipāla, memegang tampuk kekuasaan. Di masa ini bangsa Turuṣka berhasil melakukan invasi untuk ketiga kalinya. Setelah Hastipāla, Rāmapāla, dan Yakṣapāla secara bertahan mengembalikan kerajaan mereka, seorang bernama Lavasena dari klan kuno Candra, seorang pembesar di bawah menteri Buddhis Raja Yakṣasena, secara jahat mencuri tahta. Putra Lavasena adalah Kāsasena yang beranak Maṇitasena (25a) yang menurunkan Rathikasena, semuanya dipanggil “nomaden” oleh orang Tibet. Selama mereka memerintah, mereka menganut agama Buddha. Ketika masa kekuasaan keturunan Lavasena, para raja “nomaden” habis, Candra, Raja Turuṣka, melancarkan sebuah ekspedisi dari Antarvedī, dimana dia sepenuhnya mengalahkan Magadha, menghancurkan semua kuil seperti Otantapurī dan Vikramaśīla, serta mengakibatkan kerusakan yang parah. Kemudian dia terkena penyakit mulut yang mengerikan; dia mulai melolong, mati dan berinkarnasi di neraka Avīcī. Ini sudah diramalkan secara tepat dalam Mañjuśrīmūlatantra dan Kālacakratantra. yang diturunkan setelahnya. Bahkan Raja Dharmapalā dan penerusnya yang telah disebutkan juga telah diramalkan dalam Mañjuśrīmūlatantra; bedanya adalah bahwa beliau menjadi terkenal sebagai raja yang diberkati dengan bodhi kesempurnaan di antara para raja lainnya. Ketika Raja Candra meninggal, Buddhasena dan putranya Haritasena naik tahta. Meskipun mereka menjadi pengabdi bangsa Turuṣka dan tidak memiliki gelar kekuasaan sendiri, mereka tetap menganut agama Buddha sebaik mungkin. Putra Haritasena, Pratītasena, tidak memiliki anak laki-laki, karena itu setelah kematiannya, saya dengar, tidak ada lagi mahārāja yang muncul, sehingga tidak bisa meneruskan penyembahan terhadap dharma di Madhyadeśa dan Magadha sampai masa kita.

 

Halaman 42

Sudah pasti bahwa Pratītasena juga hidup di masa Bu ston dan rombongannya tinggal di Tibet. Seratus tahun berlalu, Raja Caṅgalarāja tinggal di Bhaṅgala. Karena beliau berbakti pada agama Buddha dan membuat persembahan tak ada hentinya, beliau berhasil membangun kembali Sembilan Teras Gandhola di Vajrāsana yang sebelumnya telah dihancurkan oleh bangsa Turuṣka. Setelah sebuah kemenangan, beliau memerintah atas (25b) penganut heterodoks dan ortodoks juga banyak kaum Mleccha karena pahalanya, yang muncul dari persembahan yang beliau lakukan untuk anggota sangha dan para yogi di semua bagian dunia. Bangsa Turuṣka sangat takut dengan beliau, sampai mereka bersedia takluk padanya dan menerima semua keputusannya. Saya ragu apa raja ini adalah sosok yang sama dengan yang disebut oleh Sakya Pandit Suci dalam rNam t’ar. Di waktu selanjutnya, orang suci ini dilahirkan kembali sebagai seorang raja kuat di timur Āryadeśa. Setelah kematian raja ini, bangsa Turuṣka kembali berkuasa di negeri timur dan Madhyadeśa untuk waktu yang singkat. Karena sudah tidak ada pemerintahan yang kuat, persembahan bagi agama Buddha juga menguap. Perkecualian hanya terjadi di tanah Urisa dimana seorang bernama Mukuṇḍadeva berhasil membuat dirinya pemimpin daerah yang luas di negeri timur dan Madhyadeśa. Dia adalah keturunan ke 10 Raja Akamarāja, yang telah mencampakkan Aryāvalokiteśvara. Pada awalnya, dia berbakti pada kaum Brahmana, tapi kemudian dibujuk untuk pindah keyakinan oleh istrinya yang penganut Buddha. Jadi dia memberikan persembahan pada agama para penakluk dan membawa hadiah ke Vajrāsana. Dia bahkan mendirikan beberapa biara-kuil di Oḍiviśa. Keinginan untuk memiliki seorang putra dalam keluarga kerajaan ini terpenuhi dengan lahirnya Raja Nandapāla. Sesuai dengan cara penerjemah Lha mt’oṅ bŚes gñen rnam rgyal (Mitravijaya) mengulangi ekspresi Ācārya Dharmavarttī, raja ini seharusnya menghamba pada pangeran dari Hor atas, penguasa Ḍili.

 

Halaman 43

Namun sebenarnya tidak ada bukti kuat tentang asumsi ini. Kemudian setelah waktu telah berselang, seorang palimba muncul di Bhaṅgala sebagai raja. Sepertinya beliau pernah menjadi Bodhisattva, yang memerintah rakyatnya secara damai, meskipun cara dia pindah keyakinan hanya bisa dikaitkan dengan agama heterodoks yang menyesuaikan dengan kehidupan manusia di bawah tekanan waktu. Dari saat itu, banyak Bodhisattva telah bermunculan—(26a) yaitu, Pundhasahi dan lainnya di kerajaan Magadha, dan juga Parvandhasiṃha di Vārāṇasī. Meski begitu, mereka tetap dipaksa mengabdi pada bangsa Turuṣka Mleccha karena pengaruh mereka yang tidak terlalu besar. Sejak agama Buddha memiliki sedikit pengikut, cara orang dipindahkan keyakinan hanya bisa dilakukan dengan cara heterodoks. Dari masa Raja Lavasena yang telah disebutkan sebelumnya memiliki kota Hastināpurī, penguasa Mleccha Turuṣka18 juga telah menobatkan para Bodhisattva sebagai raja-raja besar kota ini. Di sebuah distrik yang mereka miliki, seseorang bernama Maduśa memerintah rakyatnya dengan penuh damai karena dia selalu bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Tetapi seorang bernama Nau ran ji ternyata adalah seorang tiran, menyeret seluruh negeri Zahor untuk ikut berperang, sementara seluruh klan penguasa lokal bersikap seolah olah mereka telah menjalankan pemerintahan yang adil. Penguasa-penguasa lokal ini menentang agama Buddha dan hal ini menjadi jelas dari cara menjalankan 10 jenis kejahatan sebagai pokok kekejian mereka, dengan brutalitas penuh bahkan terhadap tīrthika. Dalam kasus ini, mereka menyatakan penyiksaan sebagai sesuatu yang pantas dilakukan. Mereka juga memikirkan berbagai cara untuk membunuh orang sebagai tujuan utama mereka dan karena itu menganggap warga yang tak terlindungi pantas dihancurkan. Selama segala hal ini berlangsung, tanah kita yang diselimuti salju abadi di sini — melalui berkat sang tak tertandingi yang memiliki mata welas asih (Avalokiteśvara) dan para pangeran Jina yang maha tahu dan yang nama-namanya tidak akan pernah bisa cukup dipuji —para guru di antara lelautan mandala dan bangkit dari intisari Buddha tiga kali, yang memiliki kuasa akan senjata murni, sebagai pelindung negeri yang dingin pada puncak tiga dunia, (26b) mencurahkan berkat dari kaki terataiNya. Begitulah cara kaum Mleccha yang bengis jatuh, karena perang antar mereka sendiri saat sebuah pemerintah Cakṛavartī memainkan dwifungsi dalam kekuasaan negara dan agama. Saat kaum Mleccha baru muncul, dengan nama Paṭhān, mereka naik tahta menjadi raja di negeri Khaṇḑara dan Kabhela atau Kābala.


Referensi:

  1. Terjemahan Jerman awalnya menggunakan “Turuṣka Mleccha“ dan di kalimat selanjutnya, urutan kata-katanya berubah menjadi “Mleccha Turuṣka”. Terjemahan ini mengikuti aslinya.

 

Halaman 44

Ketika penguasa Ḍili berperang dengan mereka dalam sebuah pertempuran, penduduk Ḍili ditaklukkan dan Pātsha terusir dari kotanya. Dalam kota Prayāga atau Vaisālī, dia harus menyeimbangkan percaya dirinya dengan bantuan dari luar. Akibatnya, para komandan benteng pertahanan, yg dia tunjuk sendiri, bersikap seperti seolah-olah mereka raja. Di masa hidup Maduśa, muncul di negeri Priyaṅgudvīpa, di wilayah perbatasan di Jambudvīpa, para penguasa Āryadeśa; Enlec’i yang juga dikenal sebagai Pherengi dan “dol bo” dalam śāstra. Tibet. Engeraichi, Holandhaisai, Parsisi, Bikanda, Hurmuju, Sirkodhana, Rukma, Purabma masuk dalam wilayah mereka. Para Engeraichi—yang paling penting di antara mereka, termasuk negeri Urusu—kemudian tiba. Karena mereka pedagang handal dan memang meminta lahan, Maduśa menganugrahi mereka sebuah bangunan dagang di tempat bernama Kālikāṭā19 di Bengal Timur. Meskipun mereka bertindak tanduk penuh damai karena bisa mendapatkan keuntungan sebagai pedagang sesuai keinginan, para Mleccha ini20 akhirnya juga tercerai berai akibat konflik internal. Karena hal ini, langkah-langkah untuk menjaga Bengal guna melindungi bangunan “perusahaan” yang diemban oleh para komandan yang telah menerima perintah dari Ḍili tidak bisa dijalankan. Karena mereka sangatlah penting, mereka beresiko terkena “belati-belati pembunuh” (27a) jika mereka tidak terlindungi, para saudara tersebut mendatangkan pasukan dari negara-negara mereka sendiri21.


Referensi:

  1. Mungkin yang dimaksud Kalkuta
  2. Imperium Mughal
  3. Dalam bagian bahasa Tibet ada catatan kaki tanpa kata referensi: (sic!) selain kaṁ pa ṇi.

 

Halaman 45

Dari Varendra sampai Bhaṅgala mereka menaklukkan semuanya hingga Vārāṇasī yang mereka bawahi juga. Dan sekarang mereka juga penguasa Śrīvajrāsana. Raja turun temurun mereka tinggal di sebuah pulau; sang raja berasal dari silsilah para Pāṇḍava dan karena itu masih satu bangsa dengan Āryadeśa. Mereka secara tegas bertentangan dengan kaum ortodoks dan tīrthika. Mereka memperlakukan orang tanpa memandang agama mereka, bahkan terhadap kaum Mlecchas dan pemerintahan mereka bersifat sekuler. Jika ada yang bertanya siapa orang terhebat di Āryadeśa hari ini, jawabannya adalah Mahārāja orang Mahāṭhen di sebelah selatan negeri. Hampir 100 raja digdaya yang tinggal di 10.000 istana ada di bawah kuasanya. Meskipun keluarga kerajaan berasal dari garis turunan raja-raja Zahor, seseorang bernama Mathora, yang termasuk mahābrāhmaṇa dalam sebuah hubungan yang patut disesalkan dengan kasta Ñag pra bas pa, berhasil menjadi raja seiring waktu. Raja ini menghormati agama para penakluk dan melakukan persembahan pada tīrthika. Dengan dukungan pasukan yang tak terhingga jumlahnya, dan terdiri dari empat macam pasukan, sang raja menebar teror dengan ilmu sihir yang dipraktikkan kaum Mleccha, Tajik atau Turuṣka, dan juga bangsa Pherengi. Tapi karena dia percaya pada seorang istri yang jahat, dia harus mati. Sekarang cucu dari salah satu putrinya yang memegang tampuk kekuasaan. Raja ini sama-sama menghormati agama Bauddha22 dan tīrthika. Di sisi lain, seorang bernama Maudhājigosala memberikan Bauddha persembahan yang luar biasa tapi memperlakukan kaum Mleccha dengan kejam, (27h). Akibat keadaan saat ini yang dialami para komandan yang dikirim oleh kaum Pherengi, kekuasaan kerajaan tidak bisa diwujudkan di beberapa bagian dari Magadha. Tetapi sejak wafatnya samyaksambuddha, garis keturunan raja tidak pernah putus hingga sekarang. Raja saat ini Cetasiṃha bisa dipastikan memiliki wibawa tapi karena beliau harus mengawasi bangsa Mleccha dan Pherengi, beliau hanya punya kekuasaan yang terbatas. Meskipun begitu, beliau terkenal berperilaku mulia karena memperlakukan peziarah sebagai tamu agung, baik dari agama Mleccha, penakluk maupun pengunjung dari pulau. Mereka diperlakukan istimewa seperti memberi mereka baju bak mereka saudara jauh. Hal ini membuktikan beliau menghormati rakyat dan tidak memperlakukan mereka seperti budak.


Referensi:

  1. Penganut Buddha

 

Halaman 46

Berdasarkan atas apa yang telah kami tulis, juga perlu diberikan gambaran kasar tentang negeri-negeri yang ada dan keluarga-keluarga rajanya saat ini karena siapa lagi kalau bukan kami yang menjelaskan? Sekarang mari kita perjelas tujuan utama kita yang sebelumnya telah disebutkan.

Bagian Ketiga. Jika kita berasumsi bahwa sudah tidak terhitung jumlah Buddha yang telah muncul di Āryadeśa dalam kalpa yang juga tidak terhitung, dengan tujuan memalingkan orang-orang dari kegelapan menuju cahaya agama suci, maka guru kita, Śākya yang berdarah raja, juga telah mengantisipasi Buddha sempurna seperti ini di daerah Vārāṇasī, dan di saat bersamaan menghargai jutaan Buddha lainnya. Konsekuensinya, beliau muncul di sini di bhadrakalpa ini untuk beberapa saat dan mengajar sebagai seorang tercerahkan dalam sebuah reinkarnasi yang penuh keajaiban dan kemuliaan, yang hanya terjadi di Vajrāsana untuk semua Buddha dari jaman Kāśyapa. Roda Dharma yang agung berputar di tempat ini (28a) pada Gunung Gṛdhrakūṭa di Rājagṛha dan kota-kota besar lainnya; maka trinitas kekal di ajaran Buddha yang relevan untuk menarik umat, menetapkan jalan menuju pencerahannya. Hal yang sama terjadi dengan penyelamat keempat, Śākya berdarah raja, muncul di kota besar Kapilavastu dan hidup dalam kebahagiaan sebagai putra mhakota selama beberapa saat, tapi kemudian mencapai pencerahan tentang siklus hidup, jadi beliau berkeputusan untuk meninggalkan keluarganya. Setelah enam tahun menjalani pertobatan khusyuk dan praktik-praktik yang mirip, beliau membuat pasukan Māra— yang mengalami puncak kejayaannya di Vajrāsana—kebingungan untuk membawa orang-orang dalam jumlah besar, yang mampu merubah diri sendiri, menuju jalan bodhi di tepi sungai Nairañjanā; dengan demikian beliau menunjukkan kuasa seorang samyaksambuddha yang sepenuhnya mengendalikan empat tubuh dan lima jñāna.

 

Halaman 47

Dalam pemutaran pertama Roda Dharma, beliau mengajarkan Keempat Kebenaran Agung dan membimbing lima bhadravargīya dan juga 800.000 dewata menuju jalan bodhi. Di gunung Gṛdhrakūṭa, beliau juga mengkhotbahkan pada semua yang termasuk pada kelompok yang menoleransi perpindahan keyakinan pada Mahayana, bagian tengah dari kumpulan besar Prajñāpāramitā, tanpa membuat ciri khasnya muncul ke depan. Raja Śambhala tidak termasuk dalam umat yang berpindah keyakinan pada saat itu. Dari reinkarnasi Vajrapāṇi, Sucandra dan juga 96 raja negeri sekeliling Śambhala, semua guhyadhara di antara mereka dengan Vajrapāṇi berada di depan, dan semua vidyādhara dengan Vetālī di depan, sampai pada tempat awal kṣetra dari 10 bagian dunia: semuanya menyembah Dhanaśrīdvīpa dari jaman kuno. Di masa itu, stupa (28b) Śrīdhanakaṭaka muncul sebagai sumber dimana “buah” (phala) dari 500 arhat jatuh ke bumi bak hujan karena para dewata agung, dipimpin oleh Vishnu, dipercayai telah membangun sebuah gunung dalam bentuk stupa, namun berbatu di permukaannya, pada masa Buddha Kāśyapa. Naksatramahāmandala, diikuti oleh Vajradhātuvāgīśvaramandala dalam penampakan magisnya, muncul di atas lapangan dalam dengan 28 pilarnya dan penuh dengan 500 tempayan vaiḍūrya berbentuk stupa yang tumbuh dengan sendirinya. Beliau menggunakan Kālacakramūlatantramahārāja di sana sebagai titik pembukaan bagi khotbah tentang semua tantra. Pemutaran Roda Dharma yang telah berlangsung di daerah Vaiśālī dan tempat lainnya, menjelaskan secara gamblang kesimpulan dari ajaran Buddha bahwa tidak ada hal yang riil dalam sesuatu yang dianggap “nitya” dibandingkan dengan kontemplasi yang berulang-ulang akan teks-teks sutra. Dengan cara ini, beliau mengajarkan 4 kumpulan tantra dalam waktu mengajarkan sebuah sutra. Kumpulan sutra—yaitu Vinaya, Mātṛkā dan Abhidharma—merupakan seonggok materi yang tidak bisa membatasi para Tathāgata.

 

Halaman 48

Pada akhirnya, beliau mempercayakan pengajaran pada Mahākāśyapa. Murid beliau tersebut mengumpulkan semua yang telah diajarkan sang guru dan meneruskannya pada Āryānanda. Setelah emansipasi kaum Madhyāhnika, Āryānanda pada gilirannya mempercayakan ajaran gurunya pada Śāṇavāsika, dan di kemudian hari pada Ārya Upagupta. Setelah Ārya Upagupta membuktikan penguasaannya akan ajaran sang guru melalui keberhasilannya membelenggu musuh (Māra) dengan sebuah sumpah untuk menjadi pelindung, beliau meneruskan ilmu pada Ārya Kāla. Kemudian berlanjut pada Dhītika yang mempercayakannya pada Sudarśana. Setelah Sudarśana meninggalkan jejak luar biasanya pada agama suci, terus bermunculan guru-guru baru yang menjalankan sistem arhat-guru dengan urutan sebagai berikut: (29a) Yaśas, Pārśva, Mahāloma, Dharmaśreṣṭhī dan lainnya, Brahmin agung Śaraha, Śrīnātha Nāgārjuna dengan 5 putra vīra Āryāsaṅga, P’am-t’iṅ dan saudaranya Guṇaprabha, Śākyaprabha, Vinītadeva dll., Siddhācārya agung Śāvari, diikuti oleh Maitrī, Lūipā, Dārika, Ḍeṅki, Vajraghaṇṭa, Kacchapapāda, Jālandhari, Kṛṣṇacārī, Guhya, Vijayapāda, Ḍombi, Tailo, Naro, Mañjuśrīmitra, Buddhajñānapāda, pemimpin putra-putra spiritualnya, Mahācārya Padmākara, juga diikuti oleh banyak pandit terpelajar yang dipimpin oleh Dia yang memakai permata mahkota bersama 500 muridnya, yang suci dan satu-satunya Dīpaṅkaraśrījñāna, Pandit Kṣitigarbha, Nyāyakokila, Yang Tua dan Yang Muda, Ācārya Muktasena, Vimuktasena, Siṁhabhadra, Kusali yang tua dan muda, Suvarṇadvīpī, Diṅnāga, Dharmakīrti, Abhayākara, Śākyaśrī, Bhūmiśrī, Buddhaśrī, Kālapāda, Yang Tua dan Yang Muda, Vāgīśvarakīrtti, Meghapakṣī, Sumatikīrtti, Bhavabhadra dan banyak lainnya;

 

Halaman 49

Selanjutnya, Vanaratna, Rāhulaśrībhadra, Narāditya, dan berbagai pandit, Matsyendranātha, Oṁkaranātha, Nandī, Gopāla, Asitaghana, Jñānamitra, (29b) Śāntigupta, Buddhaguptanātha, Pūrṇavajra terus menjadi guru bagi mereka yang telah mencapai siddhi ebahkan di masa utama. Konsep-konsep filosofis yang terkandung dalam berbagai teks dengan pendekatan inovatif terhadap apapun yang bisa dianggap sebagai bagian dari doktrin dari sang penakluk berbeda dengan arti “Ens” dan setiap dari mereka membawa keyakinan mereka ke dalam sistem yang ada. Jadi, akhirnya mereka terbagi ke dalam perwakilan keempat doktrin utama; yaitu Vaibhāṣika, Sūtrāntavādī, Cittamātravādī dan Madhyamika. Menurut pernyataan ini, ada lagi sebuah pengelompokan baru di antara kaum Vaibhāṣika, yaitu keempat aliran utamanya. Dalam aliran-aliran ini, bidang-bidang yang terpisahkan telah berkembang menjadi dasar bagi terbentuknya 18 aliran. Dari penganut keempat aliran utama, ada mereka yang mengikuti Rāhula dari darah biru sebagai guru. Mereka ini termasuk dalam aliran Mūlasarvāstivādī. Mereka mengucapkan Pratimokṣasūtra dalam bahasa Sanskerta, memakai saṅghāṭi dalam jubah 25 sampai 29, dan mengenakan keempat simbol, yaitu utpala, padma, ratna, parṇa dalam nama-nama mereka. Sebaliknya, mereka yang mengikuti Mahākāśyapa dari kasta Brahmana sebagai guru, mengucapkan Pratimokṣasūtra dalam bahasa Apabhraṁśa, mengenakan saṅghāṭi dalam 23 sampai 27 jubah, dan memakai śaṅkha dalam nama mereka, masuk dalam aliran Mahāsaṅghika. Mereka yang mengikuti Upāli dari kasta Śūdra sebagai guru, membacakan Pratimokṣa dalam bahasa Piśȃca, mengenakan saṃghāṭi23 dengan 21 sampai 25 jubah, dan juga memakai bunga tāmbūla (betel) sebagai simbol, masuk ke dalam aliran Mahāsammatīya. Mereka yang mengikuti bhikṣu Kātyāyana dari silsilah Ārya sebagai guru, membacakan Pratimokṣasūtra dalam bahasa sehari-hari, memakai saṅghāṭi seperti aliran sebelumnya, dan menggunakan kata cakra dalam nama depan mereka masuk ke dalam aliran Sthavira. Inilah keempat aliran yang ada.


Referensi:

  1. Mungkin pengejaan yang salah. Seharusnya saṅghāṭi.

 

Halaman 50

Dalam Tarkajvala hanya disebutkan 3 aliran sementara konsep yang diajukan Ācārya Vinītadeva (30a) pastinya tidak berlaku di sini. Menurut pencantuman dalam Tarkajvala, Sthavira yang telah disebutkan dari kelompok pertama, Mahāsaṅghikas kelompok kedua, Mahāsammatīya dari ketiga. Vinītadeva tidak setuju dengan pengelompokan ini. Menurut dirinya, “Pūrvaśaila, Aparaśaila, Haimavata, Lokottaravādī, dan Prajñaptivādī adalah kelima cabang aliran Mahāsaṅghika; Sarvāstivādī dan Kāśyapīya, Mahīśāsaka dan Dharmagupta, Bahuśrutīya dan Tāmrasātīya, dan yang terakhir Vibhajyavādī adalah sub-sekte dari Sarvāstivādī. Jetavanīya, Abhayagirivāsī, Mahāvihāravāsī, Sthavira, Kaurukullika, Avantaka, dan yang terakhir Vatsiputrīya adalah cabang-cabang aliran Sammatīya. Kaurukullika, Avantaka, dan Vatsiputrīya adalah ketiga sekte; ini adalah bagaimana mereka terbagi menjadi 18 kelompok menurut metode berbeda yang digunakan oleh setiap guru mereka untuk mendeskripsikan masalah ini. Jika kita hendak membedakan aliran-aliran yang ada secara rinci, akan muncul berbagai kelompok lagi. Yang berkeinginan untuk mendapatkan pengetahuan yang dalam mengenai hal ini bisa membaca buku panduan dasar dari India, seperti Tarkajvala atau gSuṅ rab dari putra dewata, tentang Jina kedua, atau yang terakhir klasifikasi dalam Grub mt’a dari yang agung lCaṅ skya Rol pai rdo rje (Lalitavajra), sosok yang bersinar terang dalam masa bobrok; jadi beberapa tipe kelompok sekte yang dibentuk oleh Tāranātha secara pasti akan menghilang. Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekte-sekte yang ada di Aryadeśa memang berbeda dengan yang ada di Madhyadeśa dan bahkan di Tāmradvīpa, Yavadvīpa, Siṁhala, dll. Sampai hari ini pun.

 

Halaman 51

Sautrāntika terbagi menjadi dua aliran: (1) mereka yang mengikuti kitab suci (2) mereka yang mengikuti nalar; (30b) dalam Cittamātra ada dua aliran: tergantung pada apakah mereka menyatakan kebenaran atau ketidakbenaran persepsi. Dalam Sautrāntika terdapat tiga pembedaan ketidakbenaran yang dapat dipertanyakan, ketidakbenaran yang pasti, dan perkecualian dari keduanya supaya subyek dapat dimengerti dan pengertian akan dirinya harus diakui secara seimbang bagai kedua bagian dari sebutir telur. Madhyamika terbagi menjadi dua kelompok: Svatantra dan Prasaṅga. Mereka memperkenalkan konsep mereka bahwa kitab suci dan nalar tidaklah bersifat pasti. Jadi mereka membuat sebuah penarikan umat yang logis seperti yang disebutkan dalam ide tentang Tathāgata. Sebuah gambaran umum tentang metode ini bisa didapatkan dengan mengambil proses terbimbing dalam aliran ini: pertama, seseorang harus mencapai upadeśa di bawah kalyāṇamitra dalam cara yang khas tentang bagaimana seseorang berpikir dan mengekspresikan dirinya. Setelah itu, seseorang harus mengambil kesimpulan tentang ketiga macam bodhi: jalur kaum vijñāna jalur silogisme dan jalur pengetahuan; jalur meditasi ini dan jalur yang menghantar pada bodhi tanpa berhenti sehingga menuju pada pencerahan yang utuh. Yang telah disebutkan adalah kelima jalur menurut metode Mahayana. Terhubung dengan tahap utama membawa kita pada kebahagiaan. Tahap pertama disebut sebagai bahagia. Yang tak bercela mengikuti sebagai tahap kedua, pencipta terang sebagai yang ketiga, yang bersinar sebagai yang keempat, sulit ditaklukkan menjadi yang kelima, memutar menghadap menjadi yang keenam, bepergian jauh ketujuh, yang tak dapat dipindahkan kedelapan, pikiran yang baik kesembilan, Bumbungan Dharma kesepuluh. Sementara itu, semuanya diakui dalam konteks ini dan pembebasan akan dicapai setelah melewati semua tahapan dharmamegha. Jika empat dari lima kelompok transenden yang menggunakan metode terbimbing untuk praktik dikuasai, maka saatnya akan tiba ketika pengetahuan menjadi kebijaksanaan (prajñā), dan bergabung dengan kesadaran akan kemungkinan prajñāśūnya, atau ketika idealisme (paramārthabodhi) (31a) tersambung dengan materialisme (samvṛttibodhi) atau mereka bersatu untuk mencapai kemajuan.

 

Halaman 52

Jadi, keberadaan vidyādhara telah dipastikan. Ia telah bertahan selama ratusan ribu kalpa untuk sang ātman dari sādhaka selama sebuah masa waktu, dan mungkin akan berproses menjadi matang dengan bimbingan tantra melalui perjalanan para dhāraṇī yang tak terbandingkan dalam Mahayana dan melalui tantra kesudahan (caryātantra) dan yoga tantra. Dari waktu ketika mahluk-mahluk lain siap ikut campur, penyebrangan jalan telah usai. Disokong oleh para vidyā bak pedang, dll., vidyādhara mencapai wilayah kṣetra di Sukhavatī dalam bentuk fisiknya yang biasa. Karena beliau bisa secara pribadi mendengar upadeśa dengan menggunakan Nātha Amitābha dan apa yang ada di sekelilingnya, penggenapan akan cepat terjadi bagi kedua lingkupan, yaitu lingkupan pahala dan lingkupan prajñā. Tepatnya, segala sesuatu yang ditawarkan oleh buku-buku tantra anuttarayoga beserta penjelasannya adalah untuk menyerasikan perbedaan antar kedua divisi. Kedua divisi ini adalah pitṛtantra dan mātṛtantra, yang terkait dengan divisi antara metode (upāya) dan kebijaksanaan (prajñā). Cara bagaimana hal ini dikonsepkan secara spiritual terjadi dengan berkonsentrasi pada kesadaran pusat. Ketika dibandingkan dengan pengaruh Rāhu, semua rintangan yang ada dalam area Vāta, yang cukup menyebabkan gangguan dalam masa rawan saat ini, bisa dituntaskan. Keagungan Vajradhara karena itu jatuh sempurna pada raupan tangan yang tertadah ke atas. Karena orang-orang bijak besar siddhapuruṣa memperoleh harapan, bahwa bisa naik ke surga, mereka menciptakan semua sistem yang ada dan menyarankan pada orang lain jalur yang telah mereka ambil. Meskipun kita tidak peduli pada mereka yang terobsesi diakui menjadi pandit, mereka ini tetap menemukan kepuasan menurut peraturan yang sesuai dengan doktrin yang mereka anut. Sukses puncak bagi seorang siddhapuruṣa telah dijanjikan bagi mereka dibandingkan dengan manusia-manusia yang masih harus dijadikan umat. Yang mereka serap ke dalam pikiran mereka hanya sutra dan tantra, dan bagaimana mereka sesuai dengan (31b) doktrin aliran Nāgārjuna.

 

Halaman 53

Mereka yang meninggalkan jalur Ācārya Nāgārjuna suci, yang berkat sinar purnamanya akan terus bersinar, tidak akan bisa menemukan jalan kedamaian. Tidak bisa disangkal bahwa penipuan diri seperti itu mengalihkan mereka dari kebenaran dan pencerahan tidak lagi bisa dicapai bagi mereka yang telah meninggalkan kepercayaan agama mereka. Mereka yang membiarkan diri untuk dikendalikan kesalahan yang mendasar akan menghadapi rintangan dalam mencapai pencerahan dan siddhi dari sebuah sarvajña. Ini juga menjadi alasan mengapa ketidakterikatan pada mahluk duniawi menjadi tidak mungkin. Doktrin ini, yang dipuji sebagai “sunyata istimewa” di Tibet tidak pernah muncul di Āryadeśa. Butir-butirnya dibuat berdasarkan meditasi bahagia atas sebuah vajra tanpa memanggil perawan permata-biru. Doktrin ini disebarkan oleh C’os rje Dol po Śes rab rgyal mts’an dan pengikutnya. Ajaran tentang sunyata yang “istimewa” telah dimasukkan ke dalam yogini tantra Tara dan dalam teks suci beberapa dohā. kenamaan. Meskipun ajaran tersebut bisa jadi dihormati oleh beberapa orang di Tibet, ia tetap menjadi tidak penting karena kita segera mengenalinya hanya sebagai sebuah jabaran dari ajaran besar ṭīkā dari dPal mar me mdsad (Śrīdīpaṅkara) dan beberapa dohā. Di Āryadeśa, terdapat orang-orang yang melihat dunia sebagai sesuatu yang konsisten atau bobrok. Yang saya maksud adalah mereka yang di luar dharma atau tīrthika dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang konstan, yaitu kaum Aiśvara, Vaiṣṇava, penganut Brahmā, Kapila, Bṛhaspati, pembelajar Veda, Vaiśeṣika, Nirgrantha, dan kaum Sāṅkhya. Namun ada juga yang melihat dunia sebagai sesuatu yang tidak kekal, yaitu Lokāyata dan ahli dialektika lainnya. Samādhi mereka juga berlapis dua dan teori tantra mereka dengan segala catatannya masih ada. Jadi ini bagaimana mereka semuanya terpecah belah menjadi banyak aliran sektaris: ada 110 sistem yang palsu, di mana informasi tentang mereka ada dalam Tarkajvala (32a), sementara itu komentari lain menyebut 96 sistem luar biasa di antara aliran-aliran yang disebut dalam sutra. Menurut pernyataan dalam śāstra, kaum ṛṣi yang handal telah mengembangkan diri menjadi pemimpin dengan mengandalkan Brahmana Kapila dalam kurun waktu yang lama, dan yang terjadi adalah mereka perlahan terpecah menjadi berbagai sekte.

 

Halaman 54

Bagaimana mungkin mereka bisa menjelaskan metode mereka secara mendetil! Mereka telah senantiasa bertikai dengan penganut ortodoks sejak jaman lampau, dan hal ini sudah seringkali terjadi sehingga mereka harus mengakui kekalahan mereka pada agama Buddha. Meskipun begitu, di masa Raja Lavasena yang telah disebutkan sebelumnya, sebuah pasukan Turuṣka muncul menyerang. Mereka telah mencuri semua harta dan persembahan umat di kuil Mahābodhi di Vajrāsana, menghancurkan Gandhola agung, dan membunuh banyak sekali bhikṣu dan upāsaka. Pada saat itu, semua guru parivrājaka yang ada memanggil pasukan mereka, jutaan nirgrantha dan bersabda: “(meski) Buddha Gautama hanya memiliki satu pemikiran sejak lama —yaitu menjadi bermanfaat bagi kita —kaumTuruṣka telah mencuri harta dari rupa beliau. Karena fungsi kita sekarang berbeda dengan para bhikṣu, yang telah mengikutinya dan kehilangan nyawa, karena itu kita hendak menciptakan sebuah pasukan.” Dengan cara ini mereka bersuara dan sebuah pasukan besar nirgrantha mengejar para Turuṣka. Banyak sekali jumlah prajurit Raja Candra terbunuh; persembahan umat, permata dan barang lainnya yang telah dirampas mereka dikembalikan ke kuil. Selain itu, para bhikṣu yang ditawan dibebaskan. Sejak saat itu, para penganut heterodoks dan ortodoks telah mempertahankan sistem kepercayaan mereka sendiri tanpa pernah bersatu dan masa-masa pertikaian mereka telah usai. (32b) Sudah pasti bahwa di antara para parivrājaka, bisa ditemukan seseorang yang menghormati tantra kaum ortodoks: Bahkan sekarang ini, kepemilikan Vajrāsana dan institusi Mahābodhi ada di tangan parivrājaka. Setelah guru kita meninggalkan rumahnya, beliau awalnya sampai di kediaman Rudrakarāmaputra dan Arāḍa Kalāma. Dalam kemurahan hatinya, beliau memberkati mereka dengan hadiah berupa Ucapan Suci beliau dan setelah beliau menjadi samyaksambuddha, dirinya pergi ke Vārāṇasī untuk berkhotbah tentang dharmacakrapravartana. Di perjalanan ke sana, beliau berkenan untuk berbicara dengan seorang parivrājaka, yang mendekatinya dari kejauhan.

 

Halaman 55

Pancaran berkat beliau masih jelas ada di sana sampai saat ini. Secara umum Bauddha dari para Buddha atau Jayadhara saat ini dikenal sebagai jinadharamārga, penganut heterodoks sebagai śivamārga, kaum Mleccha sebagai musalman dalam bahasa sehari-hari yang dipakai di Āryadeśa. Dalam negeri es, cukup banyak orang dungu yang dalam ketidaktahuan mereka berkata bahwa Mleccha dan tīrthika adalah sama. Penjelasan bahwa mereka tidaklah sama didasari atas beberapa pernyataan yang berlainan dalam Kālacakra. Kaum heterodoks menjanjikan pencerahan; mereka juga memiliki berbagai cara bagi manusia untuk menemukan kebahagiaan. Tetapi kaum Mleccha bisa dibagi ke dalam empat kelompok besar — yaitu Mogol, Paṭhan, Sik, dan Sāhi. Tujuan utama mereka adalah memohon perlindungan dari seorang manusia iblis yang merupakan keturunan asura bernama Bhikhili atau Bhisimila. Mereka menamakan guru kita “Setan” dan iman mereka didasarkan atas prinsip-prinsip yang tidak lazim. (33a) Jadi mereka menganggap pelestarian praktik buruk seperti sunat sebagai bentuk kesalehan. Karena mereka mengakui iman mereka dalam sebuah agama yang penuh kekerasan, mereka bisa dipastikan akan pergi ke neraka yang paling dalam. Saya tidak ingin membicarakan penganut ortodoks di India; semua penganut heterodoks di sana menganggapnya memalukan bila mereka tidak menikmati makanan yang diberikan orang lain menggunakan tangan. Negara besar ini memiliki kekayaan yang begitu banyak sehingga bisa dibandingkan dengan Vaiśravaṇa. Terdapat jutaan tentara di sana dari berbagai disiplin militer (caturaṅginī senā). Ada juga kompetisi ilmu alam yang berasal mula dari 18 sekolah dan karena sumber daya untuk peperangan juga tak terbatas, terdapat banyak hal yang menarik untuk dipelajari tentang negara ini. Saya tidak menulis apapun tentang keadaan mereka sebelumnya karena rakyat Tibet kita tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini. Pastinya anda bisa menuduh saya: “Anda telah menjanjikan pada kami untuk berbicara perihal bagaimana mencapai negeri Śambhala tapi sekarang anda mengalihkan topik dan memberi tahu kami panjang lebar tentang Āryadeśa;

 

Halaman 56

Tidakkah ini sesuai dengan cerita perumpamaan tentang Raja dari Timur dan Raja dari Barat dengan kurungan ajaib, dan apakah masuk akal untuk berkomentar tentang bagaimana para raja dan lainnya pindah keyakinan? Sepertinya ada benarnya. Alasan saya menyimpulkan hal ini didasarkan atas konsep tentang Śambhala mempunyai basis di India; banyak Buddha tiga-waktu dan pemimpin bhadrakalpa, ini khususnya mencapai pencerahan mereka di sana. Sulit disangkal bahwa bahasa, kostum tradisional, sistem kasta, silsilah dan banyak hal lainnya tentang Śambhala memiliki karakteristik yang sama dengan Āryadeśa dan kita juga menerima hadiah yang berharga dalam bentuk ajaran Tathāgata dari sana pula. (33b) Keberadaan sekolah tantra besar yang memiliki ilmu maju di wilayah ini tidak ditemukan dalam waktu kita. Tidak ada yang tahu di mana letak kuil besar Mahābodhi karena kaum puruṣa bisa dilihat mimpi berjalan di sana dan kepala mereka kosong karena itu berarti yogini bagai menebar “pahala” mereka di sana. Selain itu, terdapat hewan ternak di setiap bagian Pāṭnā dan Magadha. Siapapun yang meneliti semua tulisan tidak benar harus membuang jauh-jauh salah kaprah yang muncul dari desas desus bahwa agama Buddha tidak lagi dikenal di Āryadeśa. Jika kita menjaga rNam t’ar dari a bLa-ma, yang telah menjadi bodoh karena bermeditasi di tempat kita, Tibet, maka seluruh Trayastriṁśat bisa menjadi cemburu akan bagaimana kemegahan unik tempat kerja beliau dipertontonkan. Hal ini dilakukan untuk membesar-besarkan sarangnya yang kecil (dan sepi). Jika kita harus membaca kisah-kisah yang dicocok-cocokkan dengan gaya bombastis, kita pastinya diperbolehkan untuk menyampaikan secara detil apa yang semestinya dipuji tanpa mendatangkan bahaya bagi siapapun; berbagai keajaiban negeri tersebut dan tempat dimana para Buddha di masa lampau, kini, dan masa depan serta para siddhapuruṣa menemukan unsur-unsur terkecil dari rumah mereka.

 

Halaman 57

Dan jika kita bertanya bagaimana situasi agama Jina di sana, jawabannya adalah: hanya ada sedikit bhikṣu dan yogi hidup di Madhyadeśa. Mereka mendedikasikan diri untuk praktik tantra dan mengenal mereka atau siapapun yang mempertahankan sumpah mereka. Meski ada beberapa lagi bhikṣu dan yogi di Bhaṅgala, terdapat banyak sekali jumlah mereka di wilayah-wilayah perbatasan, yang terletak lebih jauh di arah timur seperti Koki, di Selatan dan Barat, dan di negeri-negeri seperti Vidyānagara, Kuṅkuṇa, Malyāra, Kaliṅga, Māru, Mevar, Citavar, Sihuva, Ābhu, Sauraṣṭa, Gujiratha, dan di Bhaṁdva, pada Gunung Vindhya (34a). Di sisi lain, ada banyak bhikṣu Hīnayāna di Siṁhala, Yavadvīpa, Tāmradvīpa, Suvarṇadvīpa, Dhanaśrī, Payigu dan tempat lainnya; juga ada sedikit penganut Mahayana di Siṁhala, Dhanaśrī dan Payigu.

Yang kedua, jika Śambhala, negeri yang paling agung atas semua negeri, harus digambarkan, biarkan kami memberitahu anda bagaimana sampai di sana, serba serbi tentang negeri ini dan dalam keadaan apa penduduknya hidup bersama dengan raja dan agama suci mereka. “Pertama, siapapun yang ingin pergi ke negeri ini dalam bentuk spiritualnya, harus seseorang yang memiliki tingkat kebajikan tinggi dan pengetahuan memadai tentang tantra. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka yang ditakutkan adalah para yakṣa, nāga, dan mahluk pengamuk penjaga tanah ini akan membunuhnya dalam perjalanan. Dan jika seseorang datang dan bertanya: “Bukankah Orang Suci dari Man luṅ berkata bahwa seseorang bisa mencapai tanah ini dalam waktu dua atau tiga tahun jika orang tadi lulus ulusse dari Sog dan di negara-negara kepangeranan Hor atas dari mṄa-ris dan Maṅ-yul” hanya sekali, sehingga seseorang bisa menjadi antusias tentang pernyataan terkait pengaruh kita pada yang lain; kita juga mungkin menganggap impian kita adalah nyata ketika kita ingat bahwa kita selalu condong pada upadeśa kita sendiri, jadi bahwa gambar-gambar lima warna tentang tempat-tempat dalam rupa-rupa palsu nan menggairahkan tapi menipu yang terlihat sebagai produk dari imajinasi kita saat membaca bab-bab dari sebuah buku, muncul dalam mimpi saat tidur terlelap.

 

Halaman 58

Itulah alasan kenapa seseorang mengucapkan keinginannya untuk memperjelas intensi diri. Sekarang seharusnya jelas bahwa sangat sulit bagi seseorang dari Selatan untuk pergi ke sana jika dirinya tidak fasih dalam tantra. Kita juga pantas berpikir bahwa sangat sulit bagi pejalan kaki untuk pergi ke sana dalam masa kuno; jadi pernyataan “inkarnasi magis dari (34b) kulika menghambat jalan” masih berlaku di sini. Jika kita ingin bisa tahu dan menceritakan segalanya di masa kini, kita dapat bertanya kepada mahāparivrājaka, ortodoks maupun heterodoks, bahkan kaum Mleccha—yaitu, pejabat kerajaan dan prajurit yang bisa sesumbar telah berkelana ke seluruh Jambudvīpa sebanyak 3 sampai 4 kali! Juga merupakan sebuah cerita yang sulit dipercaya jika kita menceritakannya pada orang lain. Jika kita pergi ke utara menggunakan kapal melalui Miseg, kita akan melihat mahluk-mahluk yang hidup di hutan besar. Mereka memiliki wajah manusia tapi tubuh mereka dipenuhi oleh bulu wol bak domba hitam! Juga dijelaskan, terutama oleh para parivrājaka bahwa mereka tidak dapat pergi lebih jauh karena air sungai Sītā yang berdekatan berubah menjadi batu ketika tubuh kita menyentuhnya. Selain itu informasi lain yang dapat saya sampaikan adalah sebagai berikut: di arah timur laut dekat Kabhela dan Balkh, terdapat negeri Rum śam; area “dataran kuning: atau U-ru-su yang bersentuhan dengan dataran rendah di negeri ini, sementara di sebelah selatan Jambudvīpa, seorang kaisar digdaya Mleccha bertahta dan dengan bangganya menginvasi separuh wilayah tersebut. Dalam Kālacakrasaṁgrahatantra, dinyatakan bahwa: “Setelah seratus tahun ular, ajaran kaum Mleccha akan sepenuhnya diterima di tanah Makha.” Komentari agung dan yang mulia ṭīkā dari mk’as grub C’os kyi rgyal po (Dharmarāja) juga menyatakan bahwa Makha, tempat dimana agama Mleccha akan dimulai, adalah tempat dimana māsita (mosques) (mesjid) para guru agama ini berada.

 

Halaman 59

Banyak suku yang hidup di bagian Utara menamakan tanah ini t’or-k’od (35a) k’uṅ du k’ur pāts’a atau k’uṅ k’ur pāts’a. Sudah jelas bahwa negeri-negeri tetangga yang luas ada di wilayah utara jika kita mengikuti petunjuk jalan dari sana menuju tempat yang bernama Miseg, yang terletak di daerah sekeliling arah barat laut. Yang Terhormat Tāranāthamenyediakan sebuah terjemahan yang didasarkan atas sebuah buku Nepal tentang Ārya Amoghāṅkuśa dan gambarannya tentang sebuah perjalanan menuju Śambhala. Marilah kita berfokus pada isinya dengan mengakui otoritasnya. Jika kita memiliki keinginan untuk mencapai kota agung ini serta menggapai tujuan utama tugas agama kita terhadap tuhan yang tertinggi, kita akan diberikan deskripsi rute yang jelas dalam sebuah mimpi. Jika pertanda tersebut benar muncul bahwa kita sungguh akan sampai di negeri tersebut, maka itu berarti kita akan benar-benar pergi ke sana. Jika tidak, gerombolan iblis, yaitu yakṣa dan nāga, akan merampas nyawa kita saat kita baru ada di tengah jalan. Jika kita telah menerima pertanda, kita harus membaca dhāraṇī sebanyak 800.000 kali, yang menjadi intisari Ārya Mañjuśrī, untuk mendapatkan kekuatan supernatural. Selain itu, kita juga harus melaksanakan 8.000 homa bdan mempersembahkan bunga udumbara ke dalam api untuk setiap mahluk yang terikat secara karma pada kita. Di bagian akhir, kita masih harus melakukan 1.000 homa dengan membacakan 100.000 dhāraṇī Amṛtakuṇḍali, yang dimulai dengan amrit, untuk menaklukkan gaṇa. gaṇa yang jahat. Untuk bisa menghancurkan semua manusia yang mengganggu dan mahluk supernatural, kita harus membacakan semua mūladhāraṇī Yamāntaka sebanyak 100.000 kali, dimulai dengan manifestasi kita sebagai vajrabhayaṅkara. Yang pertama, kita melakukan 1.000 homa dan mempersembahkan bunga kiṁśuka, kemudian sekali lagi kita melakukan 10.000 paṭa homa dan akhirnya kita melaksanakan 10.000 homa dengan bali ternyata sangat luar biasa karena seharusnya berisi kayu Cendana merah (35b) dan cairan abhita. Kita menyambung doa untuk keberlimpahan dengan persembahan api: “Svāhā, berikanlah aku kesempatan untuk menyandang nama seorang yogi yang saya ingini supaya dalam realita yang ada saya dapat menjadi bagian dari Śrī Kalāpa sang magis melalui persembahan api ini!” Di negara seperti Tibet, dimana pohon-pohon tersebut tidak ada, kita dapat menggunakan getah dari pohon manapun sesuai ucapan siddhisāgara.

 

Halaman 60

Sejenak setelah kita tiba di Vajrāsana, yang masih terletak di Śrī Magadha, kita pergi menghormat pada pohon bodhi dengan memberinya beribu-ribu persembahan karena di bawah pohon inilah semua Tathāgata mencapai pencerahan, dan berniat untuk membacakan sebuah praṇidhi. Kemudian kita berlayar dengan kapal, mengarungi lautan barat dan tiba di Sirkodhana. Sampai di kedua pulau istimewa—karena masih ada satu pulau bernama Ratnakośa—kita menganggap keduanya sebagai bagian dari wilayah Pherengi. Tempat ini adalah dimana sebuah stupa Samyaksambuddha Kanakamuni berdiri dan kita membacakan pradakṣinā sebanyak 10.000 kali dibarengi dengan beratus-ratus orang membisikkan berulang-ulang suku kata milik Tathāgata. Jika kita membacakan sebuah praṇidhi supaya kita bisa menggapai suatu tujuan, kita akan benar-benar kembali ke Jambudvīpa lewat jalan laut. Jika dikatakan bawah kita pergi ke sebuah negeri di bawah pemimpin yang digdaya dari tempat dimana kapal kita berlabuh, jelas sudah kita berasal dari Sindhu. Dari sana kita bisa bepergian ke bagian utara dari kota Rugma, Gunung Rāsa di Kaṭakila dan Madhuvandhu, juga lebih jauh ke utara dapat ditempuh dalam waktu 6 bulan. Negeri ini satu-satunya yang mewakili bagian utara dari dvīpa yang telah disebutkan sebelumnya. Terdapat sebuah sungai besar (36a) bernama Patru di bagian utara kota yang baru disebut. Banyak orang-orang bajik yang telah menganut agama suci tinggal di kota-kota di pinggir sungai Patru. Jadi sangatlah mudah bagi siapapun untuk melalui wilayah ini dan menerima amal dari para penduduk. Bila kita meneruskan perjalanan dari sungai ini ke arah utara, kita akan bisa melihat sebuah gunung es bernama Gunung Kakā, dimana tanaman obat bernama tujanaya tumbuh. Bunganya berwarna merah seperti warna matahari saat terbit, daun-daunnya memiliki banyak duri tajam seperti mata pisau dan tanaman ini tumbuh menggantung dari sisi jurang di pegunungan di Selatan dan mempunyai rasa manis;

 

Pergi ke halaman 61 sampai 80

Kembali ke Tab

Halaman 61

Tapi, tanaman obat yang bernama tilaka, rasanya pahit, bunganya putih seperti warna kantung susu seekor mahiṣī. Kita harus membentuk sepotong kayu vatali menjadi tongkat magis dan dengan membaca dhāraṇī vajrarāksasa yang penuh kekuatan sebanyak 7 kali, kita dapat merubah kayu tersebut menjadi sebuah pasak magis. Kita pakai pasak ini untuk menggali akar tanaman di atas dan menjemurnya hingga kering beserta daun dan buah selama seminggu. Kemudian kita menyembunyikannya menggunakan tungku amrit dalam sebuah gua yang dilindungi oleh para dhāraṇī. Segera setelah itu, ketika roda-roda muncul dalam lima warna di sisi-sisi gunung sejauh mereka bisa berputar, kita bangun dan mandi di dalam air terjun. Karena kita berbekal yoga Dewa Agung (Adhideva), kita menggambar dewi Mārīcī di sebuah lempengan batu putih: tubuhnya di warnai kuning dengan tiga kepala dan enam tangan; kepala utama berwarna kuning, kepala di sebelah kanan berwarna merah, kepala di sisi kiri digambar sebagai kepala seekor babi hitam yang marah. Dua tangan pertama beliau memegang sebuah bunga, busur dan panah, tangan-tangan di tengah jarum jahit dengan benang dan setangkai pohon ashoka; tapi masing-masing dari kedua tangan terakhir memegang sebuah tengkorak dan tongkat (khaṭvāṅga) di sisi kanan dari daerah udel menghadap ke kiri. Beliau mengendarai seekor (36b) harimau24 dan memakai sebuah selendang sutra berwarna biru, semuanya bersamaan dengan Guhyamandala bersinar kalem. Dengan bermeditasi pada dewi yang menghancurkan semua racun di tiga alam, kita harus melakukan 500 homa dan membuat persembahan bunga ashoka dengan pembacaan dhāraṇī berikut ini: “Dengan segala hormat pada Triratna, menurut pengucapan ini, oṁ vatāli, vatāli, varali, varali, kepala babi hutan, semua mahluk jahat berdiamlah diri, svāhā! Beginilah rupanya, oṁ Vajravetālī hūṁ p’aṭ!” Sambil mengulang mantra ini sebanyak 10.000 kali, kita memasak tanaman obat-obatan yang sebelumnya disembunyikan di gua yang ada di pegunungan menggunakan susu dari sapi-sapi liar yang ada di glasier. Harus berhati-hati sehingga tidak ada yang tertumpah ke atas tanah, dan sesudahnya taruhlah di depan rupa.


Referensi:

  1. Tidak lazim. Kemungkinan kesalahan dalam teks, sebagai ganti kata “p’ag“, digunakan “stag“. Secara umum, dewi ini mengendarai seekor babi atau apakah ini sebuah lelucon?

 

Halaman 62

Di akhir ritual, kita tambahkan kata-kata yang ada dalam perkataan: “Semoga berubah menjadi setetes amrit.” Ketika kita sedang membacakan mantra sebanyak ribuan kali, kita membawa bali selama pembacaan dhāraṇī, mempersembahkannya dengan tangan kepada sang dewi dan kemudian menegak sari herbal ini. Dipercaya bahwa dengan melakukan hal ini, kita dapat mengatasi apapun yang beracun tanpa merasa lapar, haus atau lelah dengan kuasa sang dewi. Setelah itu kita harus menghias rupa sang dewi, yang menghadap utara, dengan bunga-bunga dan buah-buahan untuk menyembunyikannya. Selain itu, kita butuh 21 hari dan malam untuk menyeberang lembah yang terpencil itu ke arah utara. Di daerah tersebut, tidak ada rumput maupun kayu yang tersedia; kita membutuhkan 12 hari untuk menembus hutan yang penuh binatang buas dan ular. Jika kita bisa melewati ini, kita akan sampai di gunung tinggi Gandhāra, yang memiliki luas lingkar 20 mil, di mana banyak tanaman herbal tumbuh. Di gunung ini juga terdapat singa berkaki delapan dan banyak mahluk yang tampil dalam berbagai bentuk melalui kekuatan magis (37a): sebagai rusa misalnya. Setiap harinya singa ini membunuh seekor rusa dan seorang sādhaka mengumpulkan darah rusa tersebut dan kemudian menyiapkan sebuah bali darinya di hadapan rupa rākṣasī yang berwajah mengerikan, gigi-giginya menyeringai di atas sebuah lempengan batu hitam yang disebut sebagai Mandeha. Dia memegang di tangan kanannya sebuah kantong kulit sapi yang berisi berbagai macam daging dan darah dan di tangan kirinya sebuah pedang. Dia juga menutupi bagian bawahnya dengan selembar kulit manusia. Dalam hati, kita bermeditasi pada sosok garang Yamāntaka, beliau yang membawa pentungan dan tali jerat sambil mengendarai seekor banteng: “Oṁ hṛḥ Thou black from the Hṛḥ-nèe, hūṁ k’aṁ svāhā kreṁ kare kreṁ kare rākṣasī datanglah, datanglah!” Jadi kita bisa membaca mantra ini sebanyak 10.000 kali atau paling tidak selama mungkin sampai kita didatangi oleh sesosok rākṣasī.

 

Halaman 63

Ketika dia akhirnya datang, kita memulainya dengan melakukan mudra kepala, memutar posisi tangan vajra ke atas serta memujinya: “Wahai, rākṣasī, kabulkanlah permintaanku supaya aku bisa punya persediaan pangan selama aku ada di gurun ini, dan ketika aku pergi ke kota Kalāpa untuk keselamatan semua mahluk hidup.” Setelah itu sang rākṣasī berjanji akan mengabulkan permintaan itu dan dia kemudian menghilang. Semua jalan yang bakal dilalui penuh lumpur, yang mempunyai rasa bak madu dan berwarna putih bak melati di bawah hamparan pohon Arjuna; tubuh kita bakal bergemetaran. Lalu, kita sampai pada gunung salju besar yang berukuran 300 mil dalam luas lingkarnya. Gunung ini bernama (37b) Mahāhimavat dan dipenuhi oleh berbagai deva ṛṣi, vidyādharas, yakṣa, dan rākṣasa. Di tempat inilah Sthavira Abheda bermukim. Jika seseorang adalah spesialis tantra yang telah mencapai siddhi berbekal praktik tantra yang terbaik, maka25 para siddha dan yakṣa suka memainkan berbagai pertandingan sebagai hiburan bersama akan membawa anda di pundak mereka menuju kota Kalāpa dalam sekejap. Tetapi jika seseorang tadi belum menyelesaikan jalan tantranya, dia harus segera berangkat menuju barat daya. Dari glasier ini, sebuah sungai yang hebat, yang terlihat seperti sebuah danau, terbentuk dari bertemunya 80.000 sumber air di wilayah yang terbentang dari timur ke barat. Karena kita tidak memperhatikan aliran sungai di sisi baik Timur maupun Barat, kita dengan segera mencapai lautan. Sungai ini dinamakan Sītā atau “Putih”—seperti disebut oleh mK’as grub C’os kyi rgyal po dalam komentari besar tentang Kālacakra— karena warnanya yang putih akibat terisi oleh busa-busa putih. Sungai agung Sītā mengalir tepat di antara utara dan selatan Jambudvīpa dan sungai ini sangat dingin sehingga tidak ada iblis yang bisa tinggal di sana. Karena tanah yang sangat dingin, hembusan angin dingin menembus semuanya dan tidak ada es yang terbentuk. Dikabarkan bahwa mustahil bagi siapapun untuk bertahan dalam suhu dingin di tempat ini, bahkan hanya memasukkan satu bagian tubuh ke dalam airnya. Semua orang India karenanya menamakannya Sungai Bhastani dewasa ini.


Referensi:

  1. Tidak pasti adakah mereka bermain dengan “spesialis tantra” atau dengan “ tantra terbaik”.

 

Halaman 64

Hamparan tanah di atas, yang terletak berdasarkan pengukuran jalan dari timur ke barat, penuh dengan kota-kota besar Mleccha, yang semuanya tunduk pada (38a) Rum śam. Di sisi selatan Sungai Bhastani, terdapat banyak sādhaka yang hidup di gunung dengan ribuan gua yang dinamakan Tāmravarṇa. Menurut informasi, mereka menggambar dewata pelindung gunung tersebut dan Sungai Vidyuccalā di atas sebuah lempengan batu hitam menggunakan darah dari gañja dan hariṇa liar, serta darah banteng-banteng dan para gajah dari hutan. Juga digunakan darah dari mahluk-mahluk yang dibunuh oleh para singa seperti yang diceritakan sebelumnya. Ketika para sādhaka menggambar sang dewi seperti ini: hitam bak awan hujan, mengayunkan alu dan memangsa bangkai gajah utuh, mereka sedang mempersiapkan sebuah bali daging-dagingan untuk para mahluk yang disebutkan di atas dan bermeditasi ke dalam diri mereka sendiri kepada Yamāntaka, sosok yang hitam bak awan dan diramalkan akan membawa akhir jaman (kālāntamegha). Beliau berwajah enam, bertangan 12, dan berkaki 6. Dalam tangan-tangan kanannya, beliau membawa pedang, kapak karttrikā, pentungan, cakra dan trisula dan di sebelah kiri, beliau membawa pemukul Yama, jerat waktu, tongkat tengkorak (khaṭvāṅga), kait besi (aṅkuśa), dan mangkok tengkorak penuh darah; dan di sosoknya yang sangat mengerikan, tangan terakhirnya digambarkan dengan sebuah jari peringatan. Setelah itu, mereka membacakan dhāraṇī kemurkaan besar bersama: Oṁ …dan rākṣasī, (38b) dan ketika sang rākṣasī muncul, mereka akan berkata padanya: “Tunjukkan padaku jalan menuju Sungai Sīta.” Dengan mengikuti rencananya, sang sādhaka kemudian mencapai sisi di seberang sungai tanpa halangan.

 

Halaman 65

Di seberang sana akan ditemukan sebuah hutan penuh berbagai macam pohon: kaṭaka, baila (?), kapittha, patuśa (palāśa?), bradara, kaṁbita (atau kibita?), arjuna, dan tāla. Di sinilah sang sādhaka seharusnya beristirahat selama sebulan. Setelah membacakan 9 ribu huruf dhāraṇī kepada dewi Cundā sebanyak lima kali, dia akan menjadi sangat kuat bila dia hanya makan bunga-bunga, buah dan akar tumbuhan dari hutan ini karena dia harus makan sebanyak-banyaknya. Jika isi mimpinya, yaitu darah hitam menetes dari potongan-potongan bagian tubuh, telah berulang tiga kali, maka itu berarti sang sādhaka tidak jatuh sakit, tapi telah berhasil mengembalikan kekuatannya. Dia harus makan semangka yang berwarna kuning-keemasan sebanyak-banyaknya, terutama di hutan ini, dan dia tidak boleh takut bahwa dia tidak akan bisa tahan makan sebanyak itu. Di saat sang sādhaka telah mencapai batas pinggiran hutan, dia akan melihat sebuah danau dikelilingi hamparan kecil pegunungan es di arah timur dan di barat. Juga terdapat banyak sungai yang indah, yang turun airnya dari pegunungan ini, alirannya kemudian belok ke arah selatan menuju dekat Sungai Sītā. Setelah dia melewati sungai-sungai tersebut, tidak tersedia air untuk diminum sepanjang jarak 50 mil ke arah utara. Jika dia telah makan semangka yang disebutkan sebelumnya, maka dia tidak akan merasa lapar atau haus dan melalui kekuatan dari mantra dhāraṇī dewi Cundā, dia akan dengan mudah mengatasi rintangan berat yang ada di gunung dalam waktu seminggu. (39a) Tidak terlalu penting berapa banyak semangka yang telah dimakan, karena efek kenyangnya tidak akan habis sampai setelah dirinya berhasil menyeberang lembah pegunungan ini. Tapi, asupan semangka pastinya akan habis setelah lembah berhasil dilampaui. Hal ini menunjukkan kekuatan praṇidhi sosok Bodhisattva. Jika dirinya telah sampai di sebuah gunung yang sangat putih penampakkannya, dipenuhi dengan hutan yang indah, dia tidak boleh memasuki gunung tersebut dari sisi barat di akhir lembah karena gerombolan rākṣasī dengan paruh perunggu dan para pembawa pesan (dūtī) kaum asura tinggal di sana. Jika dirinya meneruskan perjalanan dari sana ke arah utara, dia akan sampai di gunung besar bernama Ketaka dalam waktu sehari.

 

Halaman 66

Karena gunung ini berwarna hitam pekat dan terlihat seperti tumpukan kerikil setinggi 10 mil, ia tampak seperti sebuah pilar tegak berdiri, sehingga menimbulkan rasa takut. Gunung ini dikelilingi empat danau penuh dengan padma dan utpala tumbuh di mana-mana. Meskipun begitu, bagian dalam gunung penuh dengan emas dan perak. Ini adalah tempat dimana Raja Agung Virūḍhaka tinggal. Jika dirinya bercakap-cakap dengan sekelompok asurakumārī, iblis-iblis yang mempesona dan perawan nāga dan sekumpulan perawan cantik mengelilinginya dari waktu ke waktu, makan para arwah preta, yang termasuk ke komunitasnya, akan bermunculan di sana juga. Sang sādhaka harus mempersembahkan bali yang terdiri dari akar-akaran, buah-buahan, biji-bijian pohon berbuah, daging dan ikan jika ada. Jika tidak ada, maka bisa digantikan dengan dupa putih, yang sama efeknya. Bisa juga digunakan resin dan pengasapan lainnya, selama beraroma daging, sebagai bali untuk menyembah Lokapāla dengan mantra dhāraṇī: Oṁ! … Virūḍhaka dengan kawananmu … ditinggalkan oleh para preta mohon terimalah persembahan ini dan bersukacitalah dalam perjanjian ini hūṁ … (39b). Jika ini dilakukan, semua asura, rākṣasa, preta, piśāca, dan ḍākinī akan teratasi oleh kekuatan ini. Jika meneruskan perjalanan ke utara, maka akan menemui para rākṣasī berkepala kuda, asura dan perawan nāga yang bermain menggunakan musik dan berbagai macam lagu pada sebuah gunung yang indah karena banyak bunga cempaka dan lainnya. Selain itu, gunung ini juga memiliki kayu cendana terbaik, yang dinamakan mon-ko. Jika sudah sampai di sini, maka tidak boleh tinggal di sana dan ikut bergabung dengan mereka bermain musik, tapi tetap terimalah keramahtamahan mereka yang lain demi agama. Jika sudah menembus utara, akan sampai di sebuah sungai besar bernama Patvalotana. Sungai ini mengalir dari selatan ke barat dan sangat sulit untuk diseberangi karena gelombang ombaknya yang berputar-putar. Di sebuah pojokan dekat sungai, ada pohon besar jenis Nyagrodha yang tumbuh dari sebuah batu besar di dua tepian. Mungkin ombak yang berputar ini terjadi karena cabang-cabang pohon ini menjerat satu sama lain dan berputar atau diakibatkan kekuatan Raja Ikan.

 

Halaman 67

Dekat sungai ini, terdapat bukit merah bernama Lohita; tempat dimana tanaman padi merah yang membosankan, mudga dan manbuva dll tumbuh. Ketika menyiapkan makanan hangat, kita bisa mengambil padi-padian liar ini dan mencampurnya dengan madu yang menetes dari sebuah pohon. Kemudian persiapkan 500 bali kue bola untuk persembahan bagi semua jenis mahluk hidup. Kita bersungguh-sungguh mengingat dewata tertinggi (Adhideva) dan bagaimana kita hidup di bawah berkat dhāraṇī yang mengendalikan semua harta di bawah langit. Kita kemudian membisikkan mantra: “Oṁ … Makanlah! Nikmati! Terimalah bali ini oh dewa. semua Buddha nikmatilah”, dan lemparkan persembahan ke dalam dasar sungai sebanyak 500 kali. (40a) Kemudian ketika Raja Ikan yang dikelilingi semua spesies ikan yang hidup di area tersebut, dengan kepala harimau, singa, harimau besar, banteng, monyet, beo, gagak dan manusia, mendekati sang sādhaka maka dia seharusnya berbicara: “Wahai, Raja Ikan, ijinkan saya menyeberangi sungai ini dengan aman, supaya saya dapat tiba di kota Kalapa untuk kepentingan dan kesejahteraan semua mahluk hidup karena hanya inilah tujuan para Tathāgata.” Setelah mengucapkan permohonan ini, Raja Ikan akan menempatkan sang sādhaka di punggungnya dan menyeberangkannya; demikianlah cara sang sādhaka mencapai tepian sungai. Di Gunung Kakā yang telah disebutkan sebelumnya dikatakan bahwa rupa dewi Mārīcī letaknya tersembunyi. Tiada tempat dimana seseorang bisa menyeberang sungai karena tidak ada manusia yang hidup di sana. Namun, sudah jelas bahwa sisi selatan Sungai Sītā River penuh dengan nāgayakṣa dan asura. Hanya kaum Mleccha yang bengis hidup di sana, seperti yang dijelaskan di atas, sementara pemukiman manusia terletak di sisi barat dan timur. Jadi tidaklah perlu bagi sang sādhaka untuk ke sana. Kota-kota di mana manusia bermukim tersebut mirip dengan kota-kota yang akan digambarkan nanti, dari bahasa, makanan, agama dan gaya hidup. Kota-kota ini masuk dalam wilayah bagian utara Āryadeśa. Setelah melewati sungai besar, akan kita temukan kota-kota besar di bagian utara Jambudvīpa di wilayah Kailāsa. Dari sana kota bDag ñid ña ada dalam jangkauan 20 mil dan memiliki jarak yang sama dengan kota Sumindo. Jarak 100 mil harus ditempuh untuk mencapai kota Bhadasyana dan 1.000 mil(40b) tiba di Cīna (rGya nag).

 

Halaman 68

Selain kota-kota ini, kota Dardo dapat dikunjungi dalam jarak 100 mil. Jaraknya sama jauhnya dengan Kuru. Bhadrika terletak dalam jarak 50 mil; tapi kota ini terkesan lebih jauh dan terpisah dari kota-kota lainnya karena terletak di tengah-tengah tanah kosong. Gandhāra berjarak 20 mil dan sama juga dengan Kāśa. Dibutuhkan perjalanan sepanjang 200 mil untuk mencapai negeri Bhaṭa; kita selanjutnya adalah Mahācīna, yang berjarak 1000 mil. Juga ada Dhardhau yang berdiri di tepian sebuah batu besar dan berjarak 100 mil dari Kailāsa. 200 mil harus ditempuh untuk mencapai Brikika dan juga Mahiṣa, dan 1000 mil ke Mahilako. Selain kota-kota ini, kota-kota ini juga bisa dikunjungi: kota Barba sejauh 200 mil, Putāphāla 500, Kaṭuka 50, Khara 500 dan Kamboja 100 mil. Meskipun semua kota kaya ini terletak jauh antara satu sama lain, sang sādhaka masih dapat mengunjunginya dalam waktu seminggu atau dua minggu dan bahkan yang terjauh pun bisa ditempuh dalam waktu 6 bulan, tergantung kekuatan dhāraṇī yang dia miliki. Hal yang lain adalah terdapat banyak tambang emas, perak, tembaga, besi dan logam dan mineral lainnya bertumpuk-tumpuk bak pegunungan. Terdapat batu-batu permata dalam berbagai jenis dan macam-macam koral, yang sudah terpasang di sana, sehingga kita tak dapat melihat tanaman apapun tumbuh di sana. Selain itu, air yang mengalir keluar dari pegunungan emas membawa kematian, air dari pegunungan perak membuat orang jadi gila dan air dari pegunungan tembaga dan besi menyebabkan kulit terbakar dan bersisik. Dan bahkan jika berbagai macam penyakit bisa diakibatkan oleh zat-zat seperti itu, untuk seorang sádhaka yang memiliki kekuatan magis yang cukup, air emas dapat diubah menjadi air umur panjang, air perak (41a) membuat orang menjadi rupawan dan yang lain menjadi obat kehidupan yang mampu menyembuhkan semua macam luka.

 

Halaman 69

Sebagai tambahan, sungai-sungai ajaib ini mengalirkan air sepanjang wilayah 3000 mil yang harus dilalui. Ketika kita sampai di tempat yang disebut Lima Gunung, kita bisa melihat di sana beberapa ratus spesies Pohon Surga yang dihiasi berbagai macam permata. Ini adalah tempat dimana para kinnara dan kinnarī tinggal dan bermain satu sama lain. Mereka akan mencoba memancing sang sādhaka melalui lagu-lagu. Sebaliknya sikap sādhaka yang seharusnya adalah mendengarkan dengan diam dan menyaksikan penampilan mereka. Jika mereka berubah wujud menjadi menyeramkan dan mengancam dirinya, maka dia harus membuktikan keteguhan jiwanya dan mengalahkan mereka dengan sunyata. Ketika dia sudah melampaui tempat mereka, dia akan sampai di Bhoṭa, Sudābhoṭa dan Prabhoṭa, dimana para vajraḍākinī tinggal dalam bentuk manusia mereka. Dia bisa mengambil sumpah di sana selama satu minggu dan kemudian para ḍākinī akan datang dan bertanya padanya: “Apa yang kau hendaki?” Maka dia memberitahu mereka bahwa ia berkeinginan pergi ke Kalāpa. Setelah itu dia akan diangkat ke atas pundak mereka. Karena para ḍākinīs memiliki kekuatan magis, dia akan menempuh perjalanan melalui 4 mil glasier dan beberapa ratus mil ladang es dalam waktu hanya 1 jam. Akhirnya dia akan tiba pada sebuah lembah yang menyegarkan, di mana banyak sekali pohon dengan buah-buahnya penuh gizi tumbuh, dan inilah Gunung Candrakalā. Gunung ini terletak dekat pegunungan es yang mengelilingi negeri Śambhala. Sang sádhaka membuat 8.000 homa dan persembahan dengan bunga melati dan saffron pada Aryā Ekajaṭī dan tinggal di wilayah ini. Dia memulai praṇidhi untuk sebuah siddhi kemudian mengambil sebuah puṇḍarīka putih dan membaca dhāraṇī sebanyak 5.000 kali: “Oṁ Engkau yang berlumut putih (41b), kemenangan oleh śruti dan śmṛti Svāhā!” Dia dimahkotai dengan rangkai tumbuhan dan karena itu kini memiliki kekuasaan yakṣa dan asura. Kemampuan spiritualnya untuk memahami segala sesuatu tidak lagi memiliki halangan dan telah berkembang pesat. Dari sana menuju arah utara terdapat Meghakeru dan setelah itu, hutan sal dan tāla Tempat di mana hutan ini ada dipisahkan dengan kota dengan jarak 100 mil.

 

Halaman 70

Dari sana ke arah utara terdapat dusun Śunikarana. Juga ada dusun Khivajila, hutan besar Khadira dan hutan-hutan Cendana, yang berukuran 100 mil kuadrat. Masih lebih jauh lagi terdapat lembah Sasukha. Penduduk yang tinggal di pegunungan es di daerah perbatasan yang mengelilingi Śambhala adalah hermaprodit; mereka memiliki kelamin pria di paha kanan dan kelamin wanita di paha kiri. Semua pohon surga Jambudvīpa juga tumbuh di sana. Jika kita pergi lebih jauh lagi, kita akan sampai di hutan selanjutnya yang bernama Samantaśubha dan yang lebih penting, Kerajaan Śambhala.

Versi Kedua. Menurut Saṅgrahatantramahārāja, “Raja-raja Sūrya suci dan beberapa yang lain memiliki kekuasaan atas Kalāpa yang juga dipuja-puja sebagai Śambhala; tempat ini dikelilingi oleh pegunungan di semua arah dalam jarak satu yojana” dan hal ini juga menjelaskan: “[di] sisi kanan terdapat Śambhala, tempat tinggal bagi muni yang agung; negeri ini memiliki lebih dari 10 juta rumah. Karena dikelilingi oleh 10 juta area perumahan, kota ini dianggap sebagai kota kerajaan, yang memiliki 100.000 negara tetangga (42a). Jambudvīpa mini ini memiliki jarak 25.000 yojana antara Utara dan Selatan; ia dibagi menjadi enam wilayah kecil dan di luar batas setiap wilayah terdapat: India, Li, Cīna, Mahācīna dan Kaīlāsa. Keenam wilayah ini sama panjangnya di bagian Timur dan Barat tapi memiliki lebar yang berbeda. Satu sisi memiliki 4.160.000 yojana dan yang lain memiliki 7 sampai 8 ribu yojana Dalam pembagian di Kaīlāsa, yang sepanjang 333 uluran benang, setiap bagian memiliki tinggi 38 yard; pada sebuah sisi terpencil gunung terdapat area luas Śambhala, tepat di setengah paruh yang tetap terbuka di sisi yang tergabung dengan aliran sungai Sītā. Untuk kepentingan perbandingan, kita bayangkan India dan China, dll. Terdapat di arah barat dan timur Tibet26; tetapi kita harus membayangkan bahwa Āryadeśa terhampar dari pucuk selatan Rāmeśvara sampai ke perbatasan Nepal menurut perkiraan ini.


Referensi:

  1. Dalam terjemahan bahasa Jerman disebutkan bahwa “dengan kata lain, China dan lainnya terikat ke Tibet”. Namun, karena negara-negara ini terletak di arah barat dan timur Tibet, mereka pastinya “terikat ke Tibet”. Karena itu frasa tersebut dihilangkan.

 

Halaman 71

Sebagai tambahan, Tantrarāja menjelaskan: “Jadi setiap helai daun (dalam bentuk daun teratai) dihias di negeri Sūrya (“Pencipta Hari”) dan yang ada di dvīpa” Negeri ajaib yang besar ini berbentuk bundar dan pada pinggirannya dikelilingi oleh berbagai arena. Jalanan menuju sana datang dari arah barat daya dan sisi timur. Negara bundar ini bisa ditemukan di antara gunung-gunung es. Negara ini dikelilingi oleh hutan Sala yang padat dan terbagi menjadi tiga bagian yang sama besarnya. Istana Kalāpa ada tepat di tengahnya (42b) seperti organ intim pada seorang wanita subur dan dikelilingi oleh hutan lebat dan gunung-gunung es yang terhampar jauh melewati lingkup bagian tengahnya. Luas daerah antara sekitar istana dan gunung-gunung di sekitarnya adalah 500 yojana. Jika kita melakukan perjalanan saat matahari masih bersinar menuju gunung dari daerah yang dikelilingi hutan lebat, yang tumbuh ke atas ke arah gunung, kita akan sampai di puncak glasier utama. Karena gunung-gunung es belum pernah mencair sejak lama, mereka terlihat bening bak kristal. Berdiri di sebuah dataran yang luas, menawan dan kokoh adalah istana Kalāpa. Inilah bagaimana mK’as grub C’os kyi rgyal po dGe legs dpal bzaṅ po menggambarkan gunung-gunung es dalam karya besarnya Kālacakraṭīkā. Di sisi lain, Paṇ c’en bLo bzaṅ C’os kyi rgyal mts’an pernah berbicara tentang sebuah titik pusat yang bundar dan besar dalam komentari Kālacakra beliau. Mengingat kedua opini ini, kita patut mempertimbangkan bahwa komentar ṭīkā yang agung hanya sebuah pernyataan umum tentang glasier sementara pandangan Paṇ c’en tentang permata murni cintāmaṇi mengacu pada dataran luas pada gunung es. Bagian luar istana di sana terbuat dari berbagai macam permata dan sepanjang satu yojana dilengkapi cahaya magisnya. Cahaya ini juga bersinar menerangi pucuk bukit yang bundar dari glasier yang ada disekeliling dan membuat malam hari seterang siang hari; saking terangnya cukup bagi siapapun untuk membaca tulisan yang paling kecil sekalipun di bawah sinar tersebut.

 

Halaman 72

Jika kita mengamati pancaran sinar bulan dalam cahaya ini, kita menyadari bahwa cahaya magis tidak akan menang melawan sinar bulan karena ia hanya tampak seperti jendela yang bersinar samar. “Karena itu Yang Suci bLo bzaṅ C’os rgyan menyatakan dalam karyanya Mañjuśrīkīrtiavadāna: mereka yang tidak mampu melihat cahaya itu di bawah pengelabuan ulung dari empat dvīpa, tinggalkan tempat ini” (43a). Di istana ini, terdapat ruangan yang terbuat dari zamrud, candrakānta dan berlian. Di sinilah sang kulika tinggal dan cahaya magis yang masuk melalui jendela membuat pagi dan malam tidak bisa dibedakan. Kursi kebesaran dimana sang raja duduk terbuat dari emas, tepatnya emas jambunāda, dan dihiasi dengan permata-permata yang telah disebutkan. Dari sisi tahta, yang terbuat dari bahan-bahan berharga, kita bisa melihat permainan cahaya yang terlihat dalam cermin di kejauhan yang terbuat dari kaca terbaik. Gambar-gambar semua mahluk hidup, bahkan ikan-ikan dalam air, terlihat dalam cermin ini dari jarak 50 yojana. Dari lubang-lubang jendela istana yang berbahan lempengan kaca bundar dapat dilihat istana-istana matahari, bulan, bintang-bintang, dewata, kebun-kebun megah dan jalan-jalan kota: bagaimana alur jalan-jalan tersebut berpencaran menuju ke 12 gedung. Sebuah teralis mengitari tahta dengan jarak satu yojana terbuat dari kayu cendana terbaik menebarkan wanginya. Karpet-karpet milik penguasa kuat dan berbagai kain yang menjadi bahan gorden dan bantal setara dengan lebih dari seratus juta dalam nilainya. Singkatnya, kekayaan setiap bagian dari kota dapat diukur melalui fakta bahwa sekota penuh dengan emas batangan, tidak termasuk harta karun lainnya seperti permata milik Yang Mulia Kulika yang terdiri dari pusaka mahkota yang terbuat dari sebuah batu permata dengan warna bak bulu tengkuk singa, mahkota sisip rambut yang terbuat dari emas jambunāda, dan gelang dan cincin kaki yang berhiaskan permata, yang (43b) masing-masing seharga 10 juta ons emas.

 

Halaman 73

Kegemerlapan permata-permata tersebut terpantul pada Yang Mulia Kulika dan selalu melampaui cahaya semua cakravalā sehingga bahkan Devendra tidak mampu bertahan melihat cahaya itu. Para menteri, komandan dan banyak sekali wanita parivāra beliau; beliau memiliki berbagai macam kendaraan untuk bepergian: śarabha, gajah, gajah terbang yang berfungsi sebagai kuda kenegaraan, berbagai kereta dan tandu. Kekuatan magisnya merupakan tambahan dari kekayaannya yang fantastis. Karena itu, para nāga, asura, rākṣasa, kinnara semua tunduk padanya dan mereka menyediakan berbagai kenikmatan dan pesta mewah baginya yang bahkan Devendra tidak mampu menandingi. Istana beliau seluas area 12 yojana dan di sebelahnya terdapat sebuah taman besar di arah selatan bernama Malaya. Persis di tengah kebun ini sebuah mandala dibangun menurut ilmu Śrīkālacakra yang didapatkan oleh Raja Sucandra. Taman-taman alami nan ajaib uga dibangun di sana oleh raja-raja penerus, seperti Danau Permintaan di sebelah timur dan Danau Pauṇḍarīka di sebelah barat. Di sebelah utara istana, satu juta gadis dari kota, yang berumur delapan-hari bulan, siap melayani beliau. Jumlah para gadis ini sebanding dengan luasnya istana, termasuk taman-taman dengan danaunya, yang selebar 12 yojana. Di belakangnya para Bodhisattva, Maitreya dan lainnya hidup di 10 gunung (44a) dimana patung-patung mereka dipahat dengan ciri-ciri khas masing-masing. Luas permukaan gunung-gunung es yang mengelilingi bagian tengah istana sampai mencapai glasier selebar 500 yojana. Permukaan ini berbentuk bunga padma dengan 8 kelopak. Air yang mengelilingi kelopak-kelopak ini bebas dari es. Di setiap kelopak terdapat 12 juta rumah penduduk. Untuk setiap juta warga berkuasa satu raja dan para penduduk juga mengajar Kālacakra. Jika dihitung semuanya, kita akan menemukan jumlah 96 juta kota yang penduduknya berbahasa Sansekeṛta dan memakai jubah putih bersorban. Mereka hidup dalam kenyamanan yang sederhana dan memiliki 100 gedung-gedung harta benda penuh emas.

 

Halaman 74

Mereka kebanyakan mempraktikkan tantra, yang mencakup delapan siddhi biasa, dan banyak dari mereka mencapai samādhi setelah memahami prajñāpāramitā. Mereka hidup di bawah hukum yang ringan dan sepenuhnya bebas dari tahanan, hukuman fisik atau apapun yang mirip, dan juga bebas penyakit dan kelaparan. Terdapat empat kasta di kalangan penduduk: bhikṣu adalah kasta pertama. Sangat menghormati berbagai tempat suci di sana, para bhikṣu mengadakan persembahan dengan tiada hentinya. Karena mereka melayani agama dengan kekuatan tantra, mahluk-mahluk supernatural, nāga dan asura dapat mereka gunakan sebagai pelayan jika perlu.

Versi Ketiga. Dalam mūlatantrarāja, dinyatakan bahwa “600 tahun dari sekarang, penguasa Mañjughoṣayaśas akan muncul di negeri bernama Śambhala untuk menaklukkan para ṛṣi. Istri penguasa tersebut adalah Tara yang mulia, putranya akan menjadi penguasa universal yang memegang bunga padma, O Sucandra, karena engkau berasal dari garis keturunan Śākyas, Mañjughoṣayaśas akan menjadi keturunanmu.” Di samping itu, “dan tantra ini, (44b) penerus para ṛṣi di jalan Buddha secara berurutan adalah: Candra, Devendra, Tejasvī, Candradatta, Deveśvara, Viśvarūpa, Yaśas dan Pauṇḍarīka.” “Raja penerus Sũryaprabha merupakan reinkarnasi magis dari “musuh rintangan “Vajrapāṇi, itulah dirimu, O Sucandra. Penerus yang disebutkan selanjutnya adalah sebagai berikut: Bhūgarbha, Yamāntaka, “Penguasa Kematian”, Sarvanivaraṇaviṣkambhī, Jambha dan Mānaka. Selanjutnya, yaitu, Gagaṇagarbha, Mañjughoṣa, dan Lokanātha akan menetapkan sepuluh dewata murka di antara Yamāntaka sampai saat Bodhisattva lainnya akhirnya berhasil semua. Mereka adalah 13 penerus yang akan diturunkan melalui garis Kulika.

 

Halaman 75

Yaṣas (Mañjuśrīkīrti) berasal dari garis keturunan Kulika dan digantikan oleh Kulika Pauṇḍarīka. Kulika Bhadra adalah penerus ketiga dan Vijaya keempat. Kemudian Mitrabhadra dan Raktapāṇi naik tahta. Vishnugupta adalah penerus ketujuh, diikuti oleh Sūryakīrti, Subhadra, Sāgaravijaya, dan Durjaya. Mereka adalah ke 12 putra27 Kulika. Mereka lalu digantikan oleh Viśvarūpa dan Candraprabha, Ananta dan Gopāla, Śrīpāla, Siṁha dan Vikrama, Mahābala dan Aniruddha, Narasiṁha dan Maheśvara, Ananta, Vijaya dan akhirnya, Kulika (Kalkī) Rudra28, cucu buyut dari Kulika Yaśas dan merupakan Kulika Masa Keemasan Baru. Beliau akan muncul sebagai pemegang roda yang agung (cakrī). Melalui Paramāśva, yang fasih berbahasa mereka, beliau akan menghukum mati mereka yang menganut agama Mleccha. Seperti yang disebutkan di sini, (45a) Raja Sūryaprabha dianggap sebagai Tathāgata, yang berasal dari garis Śākya, dan keturunan terkenal dari Mahāsammatarāja dari keluarga sang pangeran Śākya. Sucandra tampil sebagai putranya dan seperti yang telah disebutkan, beliau memohon tantra di Caitya Śrīdhanakaṭaka yang agung.


Referensi:

  1. Nama-nama putra Kulika diurutkan dan dinyatakan bahwa mereka 12 putra Kulika. Ketika dihitung, ternyata hanya berjumlah 11.
  2. Versi ini agak berbeda dengan terjemahan Jerman karena tidak jelas Kulika mana yang dimaksud; jadi informasi seperti cucu buyut Kulika Yaśas dan Kulika Jaman Keemasan Baru harus disediakan dan ini mengacu pada Kulika Rudra.

 

Halaman 76

Ketika mūlatantra dikhotbahkan pada Sucandra, sang raja mengumpulkan tantra tersebut dengan semua komentari yang beliau terima. Setelah dirinya sendiri menulis 12.000 komentari tentang tantra dasar, beliau menyiarkannya di Śambhala. Selama dua tahun berkhotbah, beliau menulis “penjelasan spiritual tantra” dan menyepikan diri di kṣetra, dimana beliau datang ke tempat kesempurnaan sambhoga. Kemudian Dharmarāja Candra, Devendra, Tejasvī, Candradatta, Deveśvara, Viśvarūpa, dan Deveśa meneruskan khotbah dharma. Deveśa, Dharmarāja yang ketujuh, mempunyai istri bernama Viśvamātā. Sang ratu melahirkan seorang putra bernama Mañjuśrīkīrti. Beliau duduk di Tahta Singa dan menyiarkan dharma selama seratus tahun. Di malam bulan purnama di tahun keseratus pemerintahannya, beliau berbicara pada 4,5 juta ṛṣi dari kereta matahari: “Dengarkan karena melalui aku kalian dapat mengerti semua ajaranku!” Setelah beliau memperkenalkan rencana beliau dan telah memberikan jalan Vajrayāna ke semua rakyat di tengah malam selanjutnya, beliau bersabda: “Sekarang berikan padaku bukti semua kegiatan dan tindakkanmu dan juga pencapaianmu! [“] (45b). Tetapi ternyata tidak ada pencapaian yang memuaskan karena rakyat membiarkan mereka dipandu oleh kereta matahari dll sebagai bukti. Ketika mendengar tentang hal ini, beberapa ṛṣi pingsan. Raja Yaśas menambahkan: “Manfaat apa yang kamu dapatkan dari pencapaian spiritualmu jika tidak ada target spiritual dalam kebanyakan kasus? Di malam gelap selanjutnya, saya akan memberikan abhiṣeka pada semua rakyat negeri ini sehingga mereka akan menjadi bagian dari silsilah Vajra. Jika kamu hendak bergabung dengan jalan keselamatan ini, maka kamu boleh tinggal di sini. Tapi jika itu bukan kehendakmu, maka tinggalkan negeri ini, itulah sabdaku, pergilah ke negeri lain karena jika kau tak pergi, semua cucumu akan menjadi kaum barbar.”

 

Halaman 77

Saat sang raja bersabda, semua yang mendengarkan terkena kilat di kepala Para ṛṣi berkumpul pada sebuah tempat, berdiskusi dan berkata memohon: “Karena kami semua ingin tetap setia pada kereta matahari, kami tidak mau meninggalkan agama kami untuk bergabung dengan agama lain. Karena kami tidak bisa menaati perintahmu, akan lebih baik jika kami meninggalkan ke 96 kota-kota besar di sini dan pergi menuju Āryadeśa yang terletak di arah selatan gunung-gunung es dan di sebelah utara Lanka. [”] Setelah itu, mereka sembah sujud di hadapannya, pergi ke arah selatan dan setelah 12 hari, kembali berkumpul untuk berdiskusi di hutan sangat besar di pinggiran Śambhala. Maka Raja Yaśas bermeditasi: “Mereka yang telah pergi ke Āryadeśa tidak menjadi pengikut Vajrayāna dan mereka adalah pemimpin bagi mereka yang tinggal di 96 kota Śambhala (46a). Karena itu kita harus menyumbangkan sesuatu untuk keselamatan para ṛṣi karena aku ingin memperhatikan mereka yang tidak ingin menganut ajaran Vajrayāna dan mereka yang berpikir mereka menganut agama yang salah. Mereka akibatnya pergi ke Āryadeśa dan meninggalkan tanah mereka karena perintahku Yaśas. [“] Maka Raja Yaśas terus bermeditasi dan membuat para ṛṣi dan dewa-dewa mereka tertidur lelap. Ketika para ṛṣi sedang tertidur di hutan luas yang ada di bawah pengaruh rupa magis para pertapa yang sedang berburu, mereka ditangkap oleh mahluk-mahluk jahat berbentuk garuḍa, yang membungkus mereka dalam kain linen dan menerbangkan mereka ke udara. Ketika mereka ditaruh di pintu masuk timur Istana Mandala di tengah-tengah taman Hutan Malaya, para ṛṣi bangun dan sangat terkejut. Menteri Sāgaramati memberitahu mereka apa yang telah terjadi. Sāgaramati telah dipilih oleh para ṛṣi sebelumnya sebagai seorang calon penganut kereta matahari. Ketika dirinya sedang menantikan pembacaan praṇidhi kepada Sang Mandala Emas, mereka diberikan abhiṣeka di Mandala Agung untuk mencapai tingkat pencerahan pikiran pada malam gelap ke 15 dan saṅgrahatantrarāja kemudian ditulis berdasarkan mūlatantra yang sangat luas.

 

Halaman 78

Para ṛṣi bermeditasi dan pada malam ke 15, mereka diberikan pengetahuan. Kemudian Pauṇḍarīka yang agung menulis ṭīkā yaitu. “Vimalaprabhā” dan menyiarkannya selama seratus tahun. Bhadra, Vijaya, Mitrabhadra, Raktapāṇi atau Ratnapāṇi, Vishnugupta, Sūryakīrti, Subhadra, Sāgaravijaya, Durjaya (46b), Sūrya, Viśvarūpa, Candraprabha, Ananta, Gopāla, Śrīpāla, dan akhirnya Siṁha mengajarkan Kitab Suci setelah dirinya. Bahkan setelah 49 tahun penuh tetap diajarkan oleh Mahābala, Aniruddha, Narasiṁha, Maheśvara, Ananta, dan Vijaya, dan akhirnya Rudra, sang pemegang roda (cakrī), duduk di Tahta Singa. Beliau mengajar dharma selama beberapa saat. Tapi ketika beliau melihat bangsa Mleccha yang tak mengindahkan dharma menjadi kuat dan berbahaya di semua negara yang terletak di sebelah selatan Sungai Sītā, yang di bawah pengaruh Makha dan menjadi bagian dari Āryadeśa, beliau berdiam tanpa gerak bak gunung yang tak bergetar, luar biasa bak prajñā yang kekal dalam ṭīkā mulia sang sādhaka. Beliau tetap bermeditasi tanpa gangguan di belakang kuda yang mulia, Maka, sebuah pasukan kuat yang terdiri dari 99 juta serdadu dari berbagai negara dan 400.000 gajah beringas, muncul di sebelah selatan Sungai Sītā: akan ada enam pasukan dan 21.110 prajurit yang ada di bawah setiap pasukan. Mereka akan mengendarai 100.000 kereta perang keemasan. Akan ada prajurit berkuda yang datang dengan kuda gunung (śailāśva) yang secepat angin dan dinamakan daryā-ghorā oleh orang India saat ini karena mereka adalah kuda-kuda ājānīya yang agung dibawa dari seberang lautan. Mereka bergerak secepat kilat. Juga akan ada banyak sekali serdadu kaki. Berbekal pasukan besar ini, beliau memerangi kaum Mleccha dan Kṛt-Mati yang mengajar agama Mleccha di negeri Rum. Beliau mengalahkan mereka semua pada akhirnya.

 

Halaman 79

Jadi kekuatan tunggal kaum Mleccha akan dihancurkan ketika jenderal besar Hanu (47a) dan menteri agung Candrasuta beserta semua pahlawan yang memiliki kemampuan perang memadai akhirnya menaklukkan prajurit Mleccha terkuat: seorang penguasa dunia melawan satunya, seekor gajah perang beradu dengan satunya, kuda yang terbaik bentrok dengan lainnya, dan 12 dewata agung melawan dewa-dewa sembahan sisi gelap yang menjadi dewa-dewa pelindung Mleccha. Jika ajaran Buddha muncul dalam bentuk agungnya, semua orang akan hidup sampai umur 100 tahun dan padi-padian akan tumbuh di ladang tanpa harus dibajak. Ketika seratus tahun penuh bahagia telah usai, maka mereka yang rindu untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan setia agama Kulika Rudra akan mendapatkan—sesuai yang telah disabdakan— kekuatan sempurna magis dari Roda Waktu yang agung (Kālacakra). Pada saat yang bersamaan, Nātha Nāgārjuna akan kembali dari Sukhavatī ke Āryadeśa, bereinkarnasi ke dalam tubuh beliau sebelumnya dan membiarkan ajaran Buddha bersinar terang. Jadi ketika kekuatan tunggal kaum Mleccha sepenuhnya dihancurkan bak abu pada waktu itu, ajaran Buddha akan menyebar dengan cepat dan tak terbatas. Kemudian siddhapuruṣa ini juga akan bergabung dengan atom-atom di rumah agung. Meskipun terdapat testimoni mendetil dari mK’as grub C’os kyi rgyal po (Dharmarāja) tentang bagaimana sang raja Chakrī berpulang ke tempat sempurna sambhoga setelah beliau telah mentahtakan putra-putranya, Brahmā dan Devendra, di negeri-negeri terletak di selatan dan utara Sungai Sītā, kejadian pada waktu selanjutnya tersebut tidak dijelaskan di sini. Siapapun yang mengindahkan śāstra dan ṭīkā di negeri ini, meneruskan makna sutra dan tantra, dan mengenali berbagai bidang dalam ke 18 institusi pengajaran, akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Mereka dengan mudah dapat berjalan kaki sejauh 12 yojana setiap hari dan paham atas semua hal tentang siklus kehidupan dan kebijaksanaan.

 

Halaman 80

Sekarang saya ingin menjelaskan dan mencoba melihat seberapa jauh hal ini dapat ditelaah. Dalam mūlatantra terdapat pernyataan: “O Sucandra, keluargamu juga berasal dari garis keturunan Śākya diriku.” Jika para Kulika agung diturunkan dari garis Śākya, silsilah Mahāsammata yang sempurna, kemudian Lotsāba dari sTag ts’an dan pengikutnya yang banyak akan juga menganggap bahwa ayah Sucandra adalah Sūryaprabha dan beliau adalah sang Śampaka, yang berasal dari pegunungan, ketika Virūḍhaka yang jahat terlibat peperangan dengan kaum Śākya seperti yang diceritakan dalam Vinaya. Maka dari itu, jika seseorang berargumentasi, dia belum menyediakan analisa yang cermat tentang hipotesanya. Karena guru kita telah menjadi Buddha agung di istana bulan, Viśākhā, ayah Sucandra, yang menganggap 12 bulan sebagai satu tahun, berumur hampir 100 tahun ketika dia meminta dianugrahi tantra di malam gelap di hari ke 15 saat ada di stupa Śrīdhanakaṭaka. Sebuah kejadian luar biasa lain adalah ketika Śākya masih berupa seorang bocah tapi mampu khotbah tentang ajaran-ajaran mendasar, sementara gurunya hanya mampu mengajak beberapa orang saja. Jika kita sekarang berkata bahwa kita tidak bisa menentukan waktu kapan harus berbicara soal tantra karena terdapat kekurangan dalam metode yang digunakan, kita mau tidak mau menyimpulkan bahwa tidak terdapat kecocokan antara tantrarāja dan ṭīkā. Selain itu, kita harus menganggap bahwa menurut metode anda, Sucandra tidak hidup lebih dari 15 tahun (48a). Beliau secara pasti ada di Śambhala ketika sepercik cahaya muncul di mimpinya. Jika kita cukup beruntung untuk mengenal Kulika Śrīpāla yang agung dengan baik, kita bisa bercerita banyak tentang inisiasi dalam Kālacakra: suksesi para raja kulika dan kemenangan Rudra atas kaum Mleccha. Kita juga pasti bisa membuka tabir pada banyak hal dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar tau kondisi saat itu. Tapi alasan kenapa dan bagaimana pengetahuan itu tiba pada seseorang hanya bisa menjadi misteri, sama dengan proses pencerahan para Bodhisattva yang tidak bisa dicerna hanya dengan meditasi.

 

Pergi ke halaman 81 sampai 100

Kembali ke Tab

Halaman 81

Jika pernah saya secara sengaja menganjurkan untuk berhenti menggunakan sebuah buku yang penuh dengan informasi yang bermutu seperti karya besar ṭīkā oleh mK’as grub C’os kyi rgyal po, hal itu saya lakukan karena saya perlu melampiaskan kemarahan saya pada sebuah bagian yang tidak benar. Ini mengacu pada pentingnya sosok yang telah memiliki karakter seperti seorang ningrat karena status keluarganya. Maka nama Vajrasattva dimaksudkan untuk disematkan pada penulis tantra yang ada di dalam indeks. Saya merasa harus memberitahu bahwa kalian mirip dengan mereka yang malah memukul kepala ayahnya sendiri untuk mengusir seekor nyamuk dan dengan caranya sendiri hal tersebut mungkin bisa dianggap sebagai sebuah lelucon; sesuatu yang bisa membuat tertawa seantero negeri karena suatu pukulan itu suatu saat juga pasti mendarat pada kepala saya. Di samping itu, guru yang mengasihi kita telah memberitahukan bahwa kaum barbar akan meningkat pengaruhnya dan sesuatu yang mirip dengan ketika Nāgārjuna menyebarkan Buddhisme di India akan terulang: “600 tahun dari sekarang, penguasa dunia Yaśa akan muncul di kota bernama Śambhala. Kemudian, dalam kurun waktu seratus tahun ular, penganut agama Mleccha akan selalu bergerak ke Makha,” seperti yang telah ditulis di mūlatantra sesuai yang telah dibuka pada Śrīdhanakaṭaka. Mañjuśrīkīrti (Yaśas) seharusnya muncul setelah 600 tahun biasa tapi karena agama Mleccha pertama muncul di Makha dan kemudian di Āryadeśa (48b) 800 tahun kemudian, kenyataannya memang tidak sesuai dengan ramalan yang ada. Jika kita membaca buku-buku sejarah kuno dan mampu memahami bahasa kuno India atau jika kita berbicara dengan orang berpendidikan dari India tentang apakah diperbolehkan untuk menyimpulkan bahwa ada ketidakjelasan dalam kata-kata Tathāgata, maka berbagai macam julukan akan muncul buat kaum Turuṣka dan juga buat kaum Mleccha. Kata Mogol atau Turuṣka juga digunakan untuk menyebut bangsa Sog yang kini hidup di India—selama menyangkut kondisi keagamaan di India— sedangkan mereka juga dipanggil Kelmak bagi mereka yang hidup di sisi China.

 

Halaman 82

Ada sebutan dalam hal klasifikasi bahwa istilah Turuṣka sudah menjadi nama kehormatan untuk menyebut semua suku-suku yang terkait. Yang lain mengikuti mereka yang telah disebutkan sebelumnya dan semua garis keturunan ini menjadi besar tapi mereka lalu kembali pada cara hidup lama mereka yang salah; mereka adalah kaum Mleccha dan mereka sudah tidak terbagi dalam berbagai suku seperti dulu. Karena itu kita harus membedakan antara kaum Turuṣka, yang memerangi Raja Buddhapakṣa dan kaum Mleccha, yang menyerang pada masa Lavasena. Ini juga merupakan pokok bahasan ketika C’os rje dari bSam yas telah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi dari waktu beliau ada di bKra śis dpal ldan. Menurut pernyataan Jina kedua, C’os rje dari bSam yas adalah murid terbaik yang bisa terlahirkan untuk beliau. Dia selalu berbicara untuk dirinya sendiri sehingga hal-hal kecil seringkali tidak cocok dengan opini mK’as grub rje. Karena itulah dia tidak diijinkan mengambil peran sebagai pengganti dalam inkarnasi. Hal ini menjadi urusan besar, sehingga menjadi topik yang dibicarakan. Paling tidak itulah yang dilihat banyak orang. Mengenai pertanyaan bagaimana kita bisa mencapai tanah magis, kota Śrī Śambhala, kita harus melakukannya melalui tantra, yang sangat bisa diandalkan dalam kasus ini, (49a), karena tanpanya akan sangat sulit dilakukan. Menurut kesaksian Paṇ c’en C’os kyi rgyal mts: “memasuki Śambhala yang mempesona, yang mirip dengan surga Tuṣita Trayastriṁśat di bumi, menemui semua teman kita dengan cepat dan dengan keinginan mencapai keselamatan,” kita harus hidup sepenuhnya dengan sebuah keinginan dalam pikiran dan bahwa kita akan mencapai kediaman Vajradhara. Hal ini menjadi luar biasa ketika banyak reinkarnasi telah terjadi di berbagai tempat yang terhormat. Sebagai contoh, ada seseorang yang telah dilahirkan di alam Sukhavatī, memilih jalan yang salah dan diturunkan kembali ke bumi dalam bentuk yang sesuai karmanya. Itulah yang terjadi karena kecenderungan inkarnasi seseorang dipaksakan pada orang tersebut untuk tampil di kasta siddhi yang lebih rendah, meski didambakan menjadi yang paling tinggi.

 

Halaman 83

Dan apa yang dikatakan Guhyasamājatantrarāja tentang India juga relevan di sini: “[beliau] dilahirkan sebagai seorang pangeran dalam negara dimana penduduknya hidup dari susu.” Itulah tanah dimana guru kita dilahirkan, memutar Roda Dharma dan kemudian pergi ke Nirvana. Di tempat beliau dilahirkan, seseorang mungkin hanya harus membaca separuh dari litany tantra untuk mencapai pencerahan; samādhi terjadi di mana-mana dan kekuatan iman bekerja, sedangkan di lain tempat seseorang harus melakukan segala sesuatu selama berbulan-bulan dan tahuhan sebelum apapun terjadi. Siapapun yang memiliki takdir menjadi orang Tibet, memiliki banyak alasan untuk mati di sana; satu alasan adalah keberadaan reptil dan binatang kotor lainnya. Selain itu orang Tibet memiliki kebiasaan buruk memakan daging sapi. Di bawah pengaruh-pengaruh menjijikkan seperti itu, meskipun seorang Tibet tumbuh besar dalam sebuah keluarga yang baik, disarankan dia harus menghentikan detak jantung vajrakāya karena sulit sekali baginya untuk mencapai keselamatan. (49b) Tetapi kita juga harus ingat bahwa kebanyakan orang hidup dengan cara seperti ini di masa lampau dan juga masa kini.

Siapapun yang hadir dalam ruang aula, tempat dimana lingkaran takdir (mandala) ada dalam kehampaan (śūnya) di bawah bintang-bintang keberuntungan (nakṣatra),

Hadir di perkumpulan suci semua bentuk ajaib (dharma) yang memikat pahala tak terhapuskan semua penakluk,

Untuk menyatakan niat seseorang, berkurang menjadi habis karena dharma yang melampaui perkataan,

Dan karena darah biru seseorang sesungguhnya menjadi nyata, kecenderungan karma kembali ke unsur-unsur terkecil;

Memang peran seseorang untuk membentuk relung khusus dalam kesunyian;

 

Halaman 84

karena dari ilusi (māyā) yang muncul di setiap relung penuh maupun tidak penuh, sifat ilusi itu (māyā) menjadi jelas bagi seseorang;

Dalam hal ini terdapat landasan akan apa yang saya bicarakan ketika saya berusaha menggambarkan sifat umum Jambudvīpa dan khususnya atribut-atribut kota magis nan agung Kalāpa di Āryadeśa;

Oleh sebab itu, siapapun yang bijak, tidak akan membiarkan otaknya yang cerdas dibingungkan oleh desas desus yang tidak benar dan jahat,

Tapi akan berbalik untuk mematahkan rantai-rantai ketertarikan sesaat untuk menyingkirkan insting baik yang palsu;

Semoga semua mahluk hidup bisa lebih dekat pada pahala tanpa batas pemimpin spiritual kita melalui pahala absolut sebesar dan selebar angkasa di atas kita.

________________________

Begitulah tanah magis nan agung Śambhala digambarkan penampilannya dan pada saat yang bersamaan kita juga mengenal Āryadeśa. Kami juga terkesan dengan banyak orang yang ikut berpartisipasi dalam komunitas kami. Kami disediakan berbagai sumber daya di wilayah yang luas di negeri salju yang terhampar sejauh tanah Jagannātha di Āryadeśa29. Khalkha C’iṅ su c’ug tu no min han gyi dge grub pa Er te ni C’os rje bLo bzaṅ dge odun, then sPi lig t’u t’on mgron gñer Ye śes bstan dar, sekretaris C’en t’on bLo bzaṅ dpal obyor, penilik sPi lig t’u bLo bzaṅ bkra śis, mereka semua mendesak saya untuk melakukan inisiasi bagi lam yig menuju Śambhala dengan membeberkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan ini. Hal ini juga diperuntukkan bagi penjelasan tujuan inkarnasi dPal ldan bsTan pai rgyal mts’an sebagai Jina untuk mencapai ajaran yang benar melalui efek magis yang didapatkan dengan membacakan praṇidhi sesering mungkin, karena tidaklah cukup hanya berusaha memotivasi mereka dalam masa buruk yang kita dapati sekarang.


Referensi:

  1. Secara umum, hanya yang telah dituliskan.

 

Halaman 85

Saya menganggap tulisan berikut ini sebagai titik permulaan: Sang lam yig kepada Ārya Amoghāṅkuśa dan semua komentari yang ditulis tentang Kālacakra oleh mK’as grub Yoṅs kyi gtsug rgyan, C’os kyi rgyal po dGe legs dpal bzaṅ po dan rDo rje – oc’aṅ bLo bzaṅ c’os kyi rgyal mts’an dpal bzaṅ po. Karena itu kami mengaji deskripsi rute yang hanya mengandung makna mimpi tersebut dan juga tentang kota suci Śambhala. Maka kami meneliti makna negeri besar tersebut dan Āryadeśa. Kami juga memberikan atensi yang memadai terhadap catatan tentang masa dimana Raja Agung Ashoka dan Pratītasena memerintah, sehingga pemalsuan sejarah tentang sang bendahara, yang diketahui oleh para bhikṣu, tidak bisa diulangi lagi, paling tidak soal penggunaan emas dan harta karun.

Saya, dPal ldan ye śes, telah menulis semua ini sebagai testimoni rasa terimakasih ketika Vikrama dari para kulika berumur 40 tahun, dalam tahun kambing betina kayu (1775) dalam konstelasi Āṣāḍha, pada hari kedua dalam bulan tersebut, di sekolah besar bKra śis lhun po, di kediaman bDe c’en dvīpa yang melampau semua negeri, dalam istana bKa dams.

Dan bahkan Nātha Yang Agung, pelindung kita semua, bersedia menganugrahkan pada siapapun yang menggerakkan bibirnya untuk secara sungguh-sungguh berdoa padanya bak memberi persembahan, apapun yang ia ingini. Orang tersebut bisa menjadi vāhana bagi usaha untuk mencapai kerajaan tersebut.

Menghasilkan buah perbuatan yang baik membimbing semua mahluk hidup pada pencapaian keselamatan mereka sendiri serta pencerahan dalam Tanah Murni, tempat asal pahala, dimana agama Jina nyata. Dan membuat hal ini berkembang secara penuh akan meningkatkan kekuatan siapapun tanpa harus melakukan persembahan agama di perguruan tersohor bKra śis lhun po!

 

Halaman 86

Terberkatilah dirimu!

 

Halaman 87

Appendiks

Singkatan dalam Anotasi

Edelsteinmine30/ Edelsteinm.31: Terjemahan Jerman akan: Kah bab dun dan: buku tujuh wahyu mistik yang dikompilasi oleh Lama Tārā Nātha Kun dgah sñiṅ po, ed. S. Chandra Dás, Calcutta 1901, Bibliotheca Buddhica, St. Petersburg 1914.

IT: Indeks Tandschur32: Catalog du Fonds Tibétain de la Bibliothèque Nationale par P. Cordier. 11ème partie. Paris 909.

Vas: Buddhisme oleh W. Wassiljew33, St. Petersburg 1860.

Chara Choto: S. von Oldenburg, Матерiалы по Буддiйской Иконографiи Хара-Хото, C. II, 1914.

Sum pa: Pag sam jon zang, Sejarah Munculnya, perkembangan dan Kejatuhan Buddhisme di India oleh Sum pa Khan po Ye çe pal jor, ed. S. Chandra Dás. Calcutta 1908.

BB: Bibliotheca Buddhica.

VMV: Veröffentlichungen aus dem Museum für Völkerkunde34, Vol. I, 2, “Das Pantheon des Tschangtscha Hutuku35.

Grub t’.: Grub t’ob: Die Legenden der vierundachzig Māhasiddhas36. (terjemahan Jerman, Bäßler Newspaper, cetakan no. 4, 1915.)37

2bff. Doa pembukaan yang sulit ini dijelaskan dalam anotasi 5b dan kalimat berikutnya disertai dengan terjemahan dalam Sansekerta, yang mengandung banyak kesalahan dan disampaikan secara buruk, serta memprihatinkan sejak awal. Yang lebih penting adalah acuan yang jelas pada kesimpulan tentang Kālacakratantrarāja (khususnya 5, 253), dimana penyebutan tak kritis pada reinkarnasinya sendiri dibuat oleh penulis karena Mañjughoṣa(kīrti) atau Yaśas yang telah disebutkan adalah pre-inkarnasi kedua dari sang penulis (cf. preambul). Beliau bahkan menggunakan langsung kata-kata singuler dalam terjemahan Tibet:

Pernyataan “Semoga semua mahluk hidup memiliki tempat untuk berlindung dalam alam tiga lapis,” sama artinya dengan “Terjadilah seperti itu” dengan berkat dari Kālacakra, dan saya, Raja Mañjughoṣa, Raja Yaśas, lahir dari keturunan Brahmana, mempraktikkan kālacakrayoga sendiri untuk menemukan reinkarnasi dalam klan matahari, yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun. Yang paling saya cintai adalah Tara yang mulia, dan Pauṇḍarīka, penguasa alam asal usul pahala, yang memiliki fitur teratai mekar terlahir di air.”

Tentang makna tantra dari c’u skyes: abja cf. Louise de la Vallée Poussin. Bouddhism. London, 1898, hal. 134 dan anotasi 1—bisa dibandingkan ekayogāt dengan interpretasi Tibet: bsam pa las 0das mñam gžag gcig pu. Tara dan putranya, Csoma de Köröś, Tib. Grammar38 (193) (4).


Referensi:

  1. Grünwedel, A., Tāranātha’s Edelsteinmine. Das Buch von den Vermittlern der sieben Inspiration. Bibliotheca Buddhica VXIII, Petersburg 1914
  2. Tambang Batu-batu Permata
  3. Menurut Duden, Tandschur berarti komentari atau himne yang diterjemahkan di India (Indeks Bstan-Ḥgyur)
  4. (Vasily Pavlovich Vasilyev atau Wassiljew)
  5. Terbitan dari Folklore Museum
  6. “Pantheon Changtsch Hutuktu”
  7. Legenda 84 Māhasiddha, Tanjur
  8. (Gründwedel, A. “Die Geschichten der 84 Zauberer Mahāsiddhas)“. Baessler-Archiv. V, 4/5 (1916), S. 137-228.)
  9. Tata Bahasa Tibet

 

Halaman 88

5b 1. Vajradhara sama dengan Σοφια (prajñā = shakti), kebalikan dari ekavīras: dpa gcig = yab cig pertapa-pertapa agama yang cerdas. Mereka tidak memiliki shakti. Ini adalah alasan mengapa hanya ada satu Buddha tergambar pada sisi kiri dan kanan pada halaman luar folio 13 dari The Tantras of the Berlin Kandschur, yang dimulai dengan pembahasan Ekavīratantrarāja.

6a 3. Kālacakratantrarāja I, 16: [Bahasa Tibet]

6a6. “Hipotesa yang berani” secara literal: “dengan pedang siddhi“, salah satu dari 8 siddhi kasta rendah (cf. Tāranātha’s History of Buddhism in India39 hal. 304 sampai 74/25, Edelsteinm., hal. 120, di bawah 31a 2), kita tidak bisa mengalahkan vajrakāya. Pedang berarti mulut; datang dari mulut: “maka dengan desas desus tak jelas.” Perbandingan berikut mengingatkan pada upaya berani oleh setiap pengikut Lao tsĕ, Konfusius dan Buddha.

8b 5. Tentang fenomena mukjizat dalam Mahābodhi-Blätter40 karena memang tentang fenomena spt ini, cf. komentari saya, VMV, vol. V, 1897, hal. 126f dan preambul Berthold Laufers sampai W. Filchner, Kumbum41, XI, Berlin, 1906.

10a 2. Penamaan siput-siput berharga ini, yang berfungsi sebagai terompet, mengacu pada spesimen yang langka dan sangat mahal, dimana lekukan spiralnya berputar dari kiri ke kanan dan tidak seperti lazimnya dari kanan ke kiri. Cf. dengan informasi menarik dari Arnould Locard. “Les coquilles sacrées dans les réligions indoues”. Annales du Musée Guimet, VII, 1884, hal. 291-306, dan notifikasi dalam J.P. Rottler, Tamil Dictionary, Madras, 1841, s. v. valamburiśśaṅgu = Tib. g, yas su 0k’yil ba.

10b 3. Fasilitas ini cukup dikenal dari inskripsi tentang Ashoka, cf. Kapten Henry Yule, A Narrative of the Mission to the Court of Ava, London, 1858, hal. 63, pl. XIII dan versinya dalam Berlin Museum. Bahkan sekarang, ada sumur tarik untuk membersihkan diri di setiap kuil dan masjid.

11b 1. Tāmradvīpa: Arakan, nama Burma dari Ra k’aiṅ, berarti rākṣasa. A. Phayre, History of Burma, London, 1883, hal. 41.

11b 1-2. “Pada muka iblis (Yama)” mengacu pada air terjun besar, cf. L. A. Waddell, “The Falls of the Tsang-Po and Identity of that river with the Brahmaputra”, The Geographical Journal, vol. 5, hal. 258-60. juga cf. Kālacakra I, 132 yamamukhe yatra yantraprahārāḥ.

12a 1. Tentang 6 biji perhiasan tulang yang saya tahu ada beberapa contoh yang indah dalam Berlin Museum dan Museum Alexander III di St. Petersburg (sebiji juga ada di Leiden), cf. karangan saya Mythology, no. 82, hal. 100 dan The Journal of the Buddhist Text Society of India III, VI, 1895. rNam t’ar dari Kṛṣṇacārī memiliki detil sendiri. Perhiasan tulang bikinan suku Mincopis di Kepulauan Andaman dan suku kulit gelap di Lautan Selatan memiliki kemiripan dengan 6 biji yang disebutkan sebelumnya. Apakah penduduk asli kulit gelap India memiliki hal yang mirip? Seorang siddha mengatakan dalam Grub t’ Kapāla (Kapālī) bahwa Kṛṣṇacārī telah mengajarinya cara menggunakan perhiasan tulang ini.

12a 4. Rumah kecil persembahan sa t’e selalu ditulis sebagai sa t’e dalam Tāranātha, cf. Edelsteinm. Lihat anotasi 30, 19.

12a 5. Mahākāla secara pribadi berpikir tentang manifestasi, bagaimana hal tsb. menjadi bagian dari Pāṇini atau di saat ia muncul di masa Khubilai masuk Buddha mengikuti 0P’ags pa, cf. karya saya Mythology, hal. 176 (fig.) & 177.

12b 5. Cf. L. A. Waddell, “The ‘Tsam-cchô-ḍung’ rtsa mchog grong of the Lamas and their very erroneous identification of the site of Buddha’s death”, JASB, LXI, 1892, hal. 33-42. Saya tidak dapat membayangkan bahwa asal mula definisi yang tidak tepat itu adalah etimologi yang salah; pentingnya tempat kultus itu mungkin akan mengakibatkan kajian ulang. Mungkin, ia adalah tiruan dari sebuah bangunan tua pada tempat yang benar.


Referensi:

  1. Schiefner, Anton terjemahan Tāranātha. Geschichte des Buddhismus in Indien. St. Petersburg: Eggers, 1869
  2. Mahābodhi-Blätter mungkin menyebut sebuah jurnal.
  3. W. Filchner. “Ein Beitrag zur Geschichte des Klosters Kumbum“. Berlin, 1906.

 

Halaman 89

12b-13a. Vishnu dengan wajah kuda di Kuśinagara (Vasiljev. Географія Тибета42. St. Petersburg, 1895. hal. 83, Journal of the Buddhist Text Society of India II.1894, ext. II, Xff.).

13a 1. Menurut Grub t’ob, Kṛṣṇacārī dikarunia dengan berbagai pertanda ajaib dan seorang penyihir telah memiliki kebencian terhadapnya sehingga penyihir ini membunuhnya. Guhya (menurut Grub t’ob: The Yoginī Bandhe) kemudian menemukan penyihir tsb di antara sisa-sisa sebuah pohon busuk, dia menarik rambut Kṛṣṇacārī dan membunuhnya dengan pedang magis. Cerita ini juga ada dalam Edelsteinm. hal. 71. Para sādhaka yang bernaung di bawah Mahākāla atau Yamāntaka, selalu membawa pedang seperti bangsa Viramusti di India Selatan jaman sekarang, cf. E. Thurston. Castes and Tribes of South India. Madras, 1909, VII, 407f.s.v. Ini secara aneh juga terkait dengan Theophrastus Paracelsus, yang selalu membawa pedang (bahkan di malam hari) dengannya. Bagian tentang tabuhan gendang dalam buku Vasiljev Географія Тибета15 pada hal. 88 sepertinya diterjemahkan secara salah. Ini mungkin tentang bagian dimana Kṛṣṇacārī mendengar suara gendang tapi bukan tentang suara tabuhan yang berulang-ulang saat pesta, meskipun acara seperti itu mungkin dapat dialami oleh peziarah, sesuai dengan “karma masing-masing”.

13b 4. 0dab c’ags pa “menyentuh tanpa jeda” (Vasiljev hal. 307).

14a-b. Teks Tāranātha hal. 204 (dalam terjemahannya sendiri hal. 268) memiliki bagian yang sama yang juga tidak jelas dalam terjemahannya. Sebagai ganti Ratnanagara, saya tulis Ratnasāgara; dalam teks Schiefner, bahkan ditulis Ratanagiri, akhiran i adalah bentuk genitif lagi. Sayangnya, nama-nama seringkali dirusak melalui cara penulisannya. Karena itu, menolak penulisan Mahodaḍhi, saya tulis mo ho dād! juga cf. Vasiljev’s Географія Тибета43 pada hal. 88. Nama Pañcadrāvidā mungkin berasal dari bentuk rusak dari Pañtsab’atāra. Selain itu, saya tidak, merubah nama apapun selama saya bisa menemukan solusinya.

15a 2. Virūpa: Bhirva pa Edelsteinm. hal. 28ff., 69, 82, 162-4, dia adalah ketiga dalam Grub t’.. Legendanya berbeda sekali dengan yang ada dalam Tāranātha (fig. Chara Choto pl. IV, atas kiri), caranya memegang matahari.

15a 3. Mengacu pada pañca-drāviḍā cf. Caldwell, Comparative Grammar Dravidian Language. London, 1875, hal. 7, dan Böhtlingk-Roth P.W. s.v. drāviḍā.

15a 5. Cerita tentang Saroruha yang disebut di sini: Edelsteinm. hal. 47ff. dan juga anotasi. Dia pasti memiliki padminī karena P. Lakṣmī, Śrī, Dewi Kekayaan.

15a 6. Orang Tibet selalu berucap Rā ma ṇa bukan Rā ma, yang terlihat seperti Rāvaṇa; Rāmeśvara seringkali 0ī dibentuk dari kasus genetif dalam bahasa Tibet dan diterjemahkan ke dalam dGa bai ma mo oleh Sum pa I, 4 garis ke 6. Dan Grub t.’ menyediakan etimolog jenaka 14 A 6 (Berl. Tanj.), kemudian Rā ma ṇa akan mendirikan kuil lśvara di tempat itu dan pastinya akan dinamakan sama! cf. Chandradás44Tibetan English Dictionary 460 A.

15b 4. Hampir bisa dipercaya bahwa dalam anotasi aneh tsb, terdapat kenangan yang sudah kabur tentang Bårå Buḍur yang tingkatan terendahnya (dengan penggambaran neraka) disembunyikan.

15b 4. Suvarṇadvīpī punya nama India yaitu Dharmakīrti IT. 356; cf. Journal of the Buddhist Text Society of India I. 1893, hal. 8-9, anotasi xxBibliotheca Buddhica VI hal. 40, 124, pl. 30.

16b 3. ya rjes “bird trail” asterisk ⨁ is often found in Tibetan manuscripts. A similar symbol is the Indian kākapāda for √, whilst in the Siamese manuscript, kakǎbãt + is an accented character (cf. O. Frankfurter. Elements of Siamese Grammar. Leipzig, 1900, hal. 19).

16b 3. ya rjes “jejak burung” asterik ⨁ sering ditemukan dalam teks-teks Tibet. Simbol yang mirip adalah kākapāda untuk √ dalam bahasa-bahasa di India, sementara dalam bahasa Siam, kakǎbãt + adalah karakter yang diberi aksen (cf. O. Frankfurter. Elements of Siamese Grammar. Leipzig, 1900, hal. 19).

17a 1. Hiṅgalācī kemungkinan alternatif untuk Hiṅgalākṣī, cf. Tāranātha’s History of Buddhism in India hal. 46; Wright. History of Nepal. Cambridge, 1877, hal. 308, lV, baris 3 (bentuk dari devī di sana). Menurut Sum pa khan po I, 78: “di saat itu sesosok yakṣinī bernama Hiṅgalācī yang telah menyakiti mahluk hidup di Sindhu, Tanah Barat, sebuah persembahan yang terdiri dari enam ekor ternak dan sebuah kereta kuda penuh makanan harus dihaturkan padanya sebagai bali untuk setiap gadis: Sudarśana (Legs mt’oṅ) telah mengalahkan ini.”

Abh. d. philos-philol. U.d. hist. Kl. XXIX, 3. Abh.45

Abh.d. philos-philol.U.d.hist. Kl. XXIX, 3.Abh.45


Referensi:

  1. The Geography of Tibet
  2. The Geography of Tibet
  3. Ini kemungkinan salah eja. Mungkin mengacu pada [Sarat] Chandra Dás
  4. Karya ilmiah oleh kelas dan kelas sejarah Filosofi dan Filologi di Royal Bavarian Academy of Sciences. vol. XXIX, traktat ke 3.

 

Halaman 90

17a 6-b. “Wanita-wanita kesurupan adalah para penubuat suku tsb.” (G.W. Leitner, Dardistan in 1866-86 and 1893. London, 1893, hal. 23). Informasi yang ada di sini mengingatkan kita pada cerita Chider, Yahudi kekal, dan banyak frasa yang mirip dalam legenda-legenda Jerman Norgen46-, cf. e.g. E.L. Rochholz, Schweizersagen aus dem Aargau47 I, 354: Saya tahu banyak tentang apa yang terjadi di sini, jari kelingking saya telah memberitahu saya ibid. I. 330: Mereka mengambang bak burung di air yang mengalir di depannya. Tempat bernama D’u ma la dalam teks ini juga sering disebut sebagai Dhumaṣṭhira di Udyāna (silabel tautan -la seperti dalam Vikramalaśīla, Caṇḍalaaśoka, cf. Edelsteinm. hal. 165). Tempat ini adalah dimana para ḍākinī menerbangkan para sādhaka dari waktu ke waktu.

17b 3. Cerita penuh petualangan dan detil tentang Kambala dan Raja Indrabhūti, dan perjalanan istri sang raja di angkasa menuju Gunung Ilora (dalam Tāranātha I-lo-yi-ri) untuk membawakan buat sang raja sup lobak Edelsteinm. hal. 49-59 dan juga cf. 40, 43, 169; Tāranātha’s History of Buddhism in India 324, 325; Sum pa I, 126. Kambala adalah siddha ke 30 dalam Grub t’., dimana legendanya diceritakan secara lebih seru, sedangkan Indrabhūti adalah siddha ke 42. Aneh bahwa kedua siddha muncul bersama Tilo, Naro, Virūpa, dan Ḍombhiheruka para lukisan-lukisan Chara Choto: Chara Choto pl. IV kiri: sebelum Indrabhūti, R dengan ijin Kambala, dan penyihir gunung menggapai langit.

18a 1. Bagian ini mengacu pada penglihatan dGe legs dpal bzaṅ (Journal of the Buddhist Text Society of India III, 1893, ext. II, 4) dan lempengannya. Tapi ada sebagian informasi yang tidak jelas buat saya jika saya tidak memiliki akses pada sebuah balok pecah kuno atas ijin Nona Dr. A. H. Francke bertahun-tahun yang lalu, yang menjelaskan manifestasi Sumatikīrti (Tsoṅ k’a pa) seperti teks kita. Dari sisa-sisa yang terlihat di gambar ini, saya menyediakan beberapa patung khas siddha dan rupa Tsoṅ k’a pa. Sayangnya sudah tidak bisa memastikan dari fragmen-fragmen yang ada apakah terdapat 80 atau 84 siddha secara lengkap. A. Schiefner membuat Tāranātha sadar akan perbedaan ini dengan anotasinya no. 2 dalam Tāranātha’s History of Buddhism in India hal. 182 dan berkata bahwa ada sebuah singkatan. Sebenarnya hal ini mungkin juga karena kita menggunakan istilah gnas bcu for gnas brtan bcu brgyad, dll. Tapi alasan sebenarnya adalah terdapat 4 bentuk feminin yang dihilangkan karena sikap kaku terhadap seks. Saya sediakan detil lebih lanjut dalam terjemahan saya akan Grub t’. cf. anotasi 29a 2ff.

18a 4. Di sini, kita lihat penggunaan secara sengaja terjemahan Tibet nama Tāranātha dibandingkan dengan versi Hindu. P. secara berulang-ulang mengomel bahwa orang Tibet tidak akan pernah dianggap termasuk dalam kasta terhormat orang Hindu (cf. 14a 6, 33a) dan kesimpulan sederhana buku yang ditujukan pada bangsanya sendiri (49a 5). Hal ini mirip dengan nama dīpaṅkara yang ditulis di bawah ini, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet untuk membuktikan bahwa Dol po tidak mencari ilmu pengetahuan di luar tingkatannya sendiri dan bahwa dia tidak tahu cerita India sebelumnya yang mendahului bidahnya (31b 4). Ada indikasi bahwa kata a tsa rya (e.g. 9a 1) juga termasuk di sini ketika kita membicarakan kaum Brahmana. Slob dpon akan diterjemahkan dalam bentuk terhormat dengan namanya, seperti contoh dalam 15a 5. Cara orang Tibet menggunakan bentuk nama India untuk menggantikan nama Tibet dan vice versa hampir selalu mengacu pada sebuah penekanan melalui ide sekunder (cf. Bäßler-Zeitschrift III. 1, 1912, hal. 8). Mengenai ajaran Dol pos cf. anotasi Vasiljevs dalam preambul A. Schiefner terjemahan Tāranātha’s History of Buddhism in India VI-VII.

18b 5. Cf. Desgodins, Tib. Dict. hal. 1083B ar ba syn. pro vulg. jag pa latro dan menurut Jäschke ar la gtar pa in ultimam miseriam dejectus, sine medio (operandi, vivendi). Rupanya, ini merupakan pelintiran jahat kata ār ya skad. Lelucon ini diciptakan melalui” bahasa Sansekerta”, yang saya sebut menggunakan tanda kutip untuk menandakan koneksinya dengan kata yang disebutkan di atas.

19b 5. Ketidakpastian tentang situasi Zahor jelas terlihat (cf. Kovalevskij. A Mongolian Chrestomathy. Kazan, 1837, II, 355).

20a 6. Tempat dimana api muncul di antara air dan batu (cf. Edelsteinm. hal. 59 dan karya Vasiljev Географія Тибета48 hal. 90).

21b 3. Pembangunan sebuah stupa oleh Ashoka di tempat dimana Śāriputra dilahirkan (Sum pa I, 84, 3).

21b 5. Ini adalah bentuk dari dewi dMag zor Iha mo, nama yang beliau terima dari Vajrasattva, beliau duduk secara diagonal pada seekor keledai kuning yang menjadi vāhana beliau, menggenggam senjata semua dewata. Tapi beliau memegang sebuah pentungan bukan pedang di tangan kanannya, yang beliau terima dari Vajrapāṇi. Dengan bentuk ini, Keempat Dewi Musim menciptakan parivāra mereka, (tentang informasi ini cf. karya saya Mythology hal. 173; Journal of the Buddhist Text Society of India III. 1893, ext. II, 6; H.C. Walsh. “Tibetan books from Lhasa”, JASB. LXXIII. 1904, hal. 157, no. 51; Gr. Sandberg. Tibet and the Tibetans. London, 1906, hal. 211f.; di JASB LVI, 1887, hal. 14, S. Chandra Dás menyediakan informasi yang menyenangkan untuk mitologi Buddhis bahwa sang dewi memiliki seekor monyet yang masih ada di Tibet. Maka, kata monyet menggantikan kata keledai. Dalam kasus ini, Vasiljev menggunakan kata лошакъ (keledai) dalam bagian yang terkait dalam terjemahan Rusia yang telah disempurnakan (Географія Тибета49 C. IInd. 1895, hal. 24). Dalam Śiṅ sdoṅ dkar, vāhana ini dapat tinggal sehingga sang dewi bisa duduk di atasnya; cf. Musei Asiatici Petropolitani Notitiae VII. Petropoli, 1905, 083 (94).


Referensi:

  1. Informasi tentang kata norgen tak bisa ditemukan di manapun.
  2. Legenda Swiss dari Aargau I
  3. The Geography of Tibet
  4. The Geography of Tibet

 

Halaman 91

21b 6. P. menghilangkan informasi tentang reinkarnasi Ashoka sebagai seekor ular karena dosa-dosanya sebelumnya. Pada saat yang sama, saya ingin menjelaskan bahwa terdapat informasi pada bagian terkait dari Tāranātha, yang tidak dimengerti secara benar oleh para penerjemah. Saya ingin menyebut hanya satu bagian di sini, yaitu pada halaman 32, 7, dalam teks asli Tibet: bya daṅ srog c’ags rgyu ba za bar rtsoms pai ts’e (Ashoka yang terlahir kembali sebagai seekor ular segera mendekati orang suci itu; dia tidak hanya memiliki cinta bagi agama tapi juga untuk keserakahannya). Vasiljev menerjemahkannya sbb: когда онъ хотѣлъ ѣсть проходившихъ мимо птицъ и другихъ животныхъ50 (hal. 40); sementara A. Schiefner secara jelas mengacu pada versi Rusia lagi: “ketika dia … sedang bersiap untuk memangsa burung dan mahluk lain yang lewat,” tapi rgyu ba tidak berarti “lewat,” tapi “berlari ke sana kemari”. Sebenarnya ini menggambarkan pemandangan menjijikkan seekor ular yang sedang memakan mangsanya hidup-hidup. Meski yang dimangsa keluar dari mulutnya lagi, “dia melihat bagaimana sang ular berusaha memangsa para burung, yang terbang keluar lagi karena masih ingin hidup (keluar dari mulut ular)”. Selain itu, P. menghilangkan aspek kekurangan dana dan beliau juga menyatakan di akhir tulisan (50, 2-3) bahwa beliau menghindari gosip ini.

22b 2-3. Nama bDud rtsi 0k’yil pa diterjemahkan sebagai Amṛtāvartta oleh A. Schiefner. Tāranātha’s Geschichte53 des Buddhismus in Indien hal. 103; tetapi, nama ini diterjemahkan sebagai Amṛtakuṇḍali dalam dhāraṇī nya (500 dewata dari sNar t’aṅ). Maka A. Schiefner merevisinya di indeks Kanjur pada hal. 315.

22b 5. Sebuah kejadian yang membuat Raja Khunimasda (bentuk ini sepertinya benar dibandingkan dengan Khunimapta dll. karena huruf “p” Tibet seringkali disalahartikan sebagai “s”; maka nama siddha Paṅkaja menjadi “Saṅkaja”) marah diceritakan dalam Tāranātha’s Geschichte51 hal. 74, l.14: d’ar ma tsan dras zab c’en gyi gos srubs med pa stag gzig gi rgyal po la bskur ba la t’ags ris la sñiṅ gai t’ad du rkaṅ rjes 0dra ba žig byuṅ bas ṅan sṅags byed do sñam nas …, yang diterjemahkan secara tidak jelas oleh Vasiljev sbb: Д. отправилъ кь персидскому парю парчевое безъ швовъ платъе, на немь оказался вытканнымъ противъ (самаго) сердца слѣдъ лошадинаго копыта52. Dan Schiefner, yang sering hanya menerjemahkan dari versi Rusia, mengikutinya: “Ketika Dh. Mengirim sebuah garmen tanpa jahitan terbuat dari bahan sutra berat, sesuatu yang mirip jejak kaki kuda pada dada terlihat di garmen itu.” Sesungguhnya tak ada pernyataan tentang kuda dalam teks ini. Yang dimaksud adalah jejak kaki: śrīpāda, yang menjadi hal penting di sini karena caranya digambarkan bersama simbol-simbol Vishnu dan inskripsi yang ada pada kain tanpa jahitan sampai hari ini. Kain ini tidak hanya dipakai oleh mahluk hidup yang mengorbankan diri atau dikorbankan tapi juga alat pengorbanan dibungkus menggunakan kain ini saat cuaca dingin waktu pūjā, dengan inskripsi Rām Rām, yaitu bangsa Nāmavallī. Mengenai ketergantungan kaum Vaiṣṇavas pada perlengkapan ritual Buddhis, yang tak bisa saya jelaskan secara mendetil di sini, hampir bisa dipastikan bahwa kain semacam itu juga digunakan oleh penganut Buddha di India. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa kain Tibet semacam ini juga ada, seringkali terbuat dari sutra dengan benang emas. Kain semacam ini biasanya dibordir dengan simbol-simbol Buddhis: inskripsi Landsa dsb. atau dicetak oleh bKra śis lhun po. Pentingnya sebuah tapak kaki di dada bagi seorang Persia tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Maka: “dia mengira ada sihir jahat karena sesuatu yang menyerupai tapak kaki pada kain-kain itu … terlihat jelas.” Dia mengartikan bentuk dari śrīpāda seakan akan dia seharusnya menjadi bagian dari rakyat raja India tersebut.

23b 5. Saya tidak mengetahui sama sekali tentang keluarga gÑos, kecuali gambar Mahākāla Trak ṣad yang mengendarainya, dibarengi dengan devī yang mengendarai dan dikelilingi oleh enam ḍākinī berkepala anjing, yang bermanifestasi sebagai iṣṭadevatā sesuai yang digambarkan dalam “500 dewata sNar t’aṅ” dan sebagai anggota keluarga ini.

25a 2-3 Dari bagian teks terkait dalam Tāranātha Geschichte, jadi jelas bahwa kata yang tidak terbaca itu pasti mengindikasikan an tar ve dī. Dalam manuskrip, kata “ma stab” k’aṅ” atau sesuatu yang mirip dipakai, yang mungkin mengakibatkan kesalahpahaman atas kata an tar ve dī. Di dalam teks, Tāranātha menggunakan kata an tar bhi dai yul du di folio 193, dimana i dibentuk dari e dan cara pengucapannya seringkali hanya sebuah penekanan yang sah pada suku kata terakhir. Sudah umum diketahui bahwa bentuk-bentuk dalam seringkali berasal dari akhiran genitif -ai, dan juga bahwa i bentuk panjang terpecah lagi secara tidak benar menjadi -ai karena dianggap sebagai kasus genitif juga. Nama tempatnya Pratiṣṭhāna54 di samping Pīṭhasthāna yang agung pada titik temu antara Gangga dan Jumna (di Ilāhābād55). Ramalan tentang Candra yang mudah naik pitam disebutkan dalam Mañjuśrīmūlatantra, Berl. Kanjur folio 114, pl. 328ff.: [Kutipan Tibet]


Referensi:

  1. Jika dia menghormati hidup para burung dan hewan yang dia temui
  2. Tāranātha, sejarah
  3. Dia mengirimkan kain terbuat dari brokat, tanpa jahitan satupun sesuai standar tinggi Persia dan bentuk tapak kaki kuda terbordir pada kain tersebut, di posisi jantung.
  4. Tāranātha, sejarah
  5. Saat ini Pratiṣṭhāna dikenal sebagai Paithan
  6. Ilāhābād secara resmi bernama Prayagraj atau Allahabad

 

Halaman 92

“Dia terlahir dan hidup menurut norma-norma kasta Kshatriya. Dia mengenali arti dharma, dan berhasil mencapai pencerahan. Ini adalah alasan mengapa dirinya marah, membunuh banyak mahluk yang menggandoli kehidupan dan suka menghakimi mereka yang menyakiti sesama; maka menanggung akibat karma buruknya, dia dikenal sebagai Candra Sang Pengrusak. Ketika dia meninggal dunia sebagai seorang Candra, huruf bija HA kembali ke tempat asalnya karena dia merupakan seorang bhikṣu di kehidupan awalnya dan mendapatkan kehormatan dari raja kaum Mleccha. Melalui pahala, yang diekspresikan lewat huruf bija HA, dan melalui karma baik atas jasa pahalanya, dia bisa mencapai pencerahan dan bebas pergi kemanapun yang dia kehendaki. Melalui pencapaiannya, dia bisa menikmati kerajaan. Dia telah memberi amal pada Buddha dalam kehidupan awalnya, dan kemudian sebagai sesosok asura, dia menyumbang dan memberi sebuah ornamen yang dia dapatkan dari karpet tergantung. Akibat efek dari karma ini, dia menjadi penguasa dewata dan manusia; semua kemuliaan dari kelompok dewata dan manusia dapat dia nikmati. Seorang Candra dari kasta Brahmana menyediakan bagi semua yang menyandang nama Brahmana, apapun yang mereka ingini untuk mencapai kenikmatan surgawi. Kemudian, dia telah melawan sang raja selama 10 tahun penuh dan tujuh tahun lagi. Dia memaksa Candra yang satunya untuk melolong siang dan malam, menjadi terjangkit sebuah penyakit mulut dan cacing-cacing memakannya habis. Dia mengakhiri hidupnya dan lenyap ditelan tanah. Ketika dia marah bak asura, kotanya ikut mati, dan melalui kutukan yang membuatnya asura, dia melolong dengan kesakitan yang sangat. Karena kematiannya disebabkan oleh sihir, sang raja keluar dari kehidupan. Terdapat sebuah neraka bernama Avīcī dan inilah tempat dimana mahluk-mahluk yang divonis negatif menjalani karma buruk akibat perbuatan jahat mereka. Dia lahir di sana dan akan menderita sebagai mahluk yang terkutuk di neraka ini selama sebuah masa dunia yang agung.”

Menurut Schiltberger (ed V. Langmantel. Stuttgart Literature Association, Tübingen 1885, hal. 33, 16), dapat didengar lolongan Tamerlan dari dalam kuburannya sampai saat ini. Kita tak tahu tentang dimana tepatnya kuburan ini.

 

Halaman 93

28a 2. rol pa mengacu jelas pada Lalitavistara, sebuah biografi Tathāgata.

28a 6. Dalam teks asli Kālacakra, raja yang namanya diterjemahkan oleh orang Tibet sebagai Zla (ba) bzaṅ (po) selalu Sucandra dan bukan Candrabhadra atau Somabhadra, seperti yang ditulis Csoma de Köröś dalam Tibetan Grammar (192) (4), di kemudian hari E. Schlagintweit, dan Sureçamati (606).

28b 2. Sangatlah luar biasa bahwa nakṣatras disebut sebagai hiasan sebuah ruang bawah tanah, cf. juga pada 49b, seperti di sekeliling Kutscha, Qarashahr dan Turfan. Di sini saya berikan gambar-gambar Tibet menurut Vaiḍūrya dkar po56, cf. A. Csoma de Köröś, Tibetan Grammar. hal. 181, 191. Mereka dianggap sebagai putri-putri keempat lokapāla dan adalah sbb: 1. dbyug gu or t’a skar (warna kulit: biru), 2. bra ñe or gsal bai bu mo (kuning kehijauan), 3. smin drug (putih kehijauan), 4. snar ma or be rdsi (hijau), 5. mgo sna (merah tua), 6. lhag (kuning kehijauan), 7. nabs so (putih kehijauan), 8. rgyal (kuning kehijauan), 9. skag (kuning kehijauan), 10. mc’u (merah tua), 11.gre (merah?), 12.dbo (merah tua), 13.me bži (warna daging), 14.nag pa (merah?), 15.sa ri (merah?), 16. sa ga (merah), 17. lha mts’ams (putih), 18. snron (kuning muda), 19. snrubs (hijau muda), 20. c’u stod (putih), 21. c’u smad (putih), 22. gro bžin (kuning muda), 23. byi bžin (kuning), 24. mon dre, mon gre (biru kehijauan), 25. mon gru (merah?), 26. k’rums stod (merah tua), 27. k’rums smad (hijau tua), 28. nam gru (biru). Persamaan Sansekerta Chandra Dás, Dictionary.s.v.rgyu skar. Cf. B. Laufer, Der Roman einer tibetischen Königin. Tibetischer Text und Übersetzung57 hal. 144. Nama-nama India: 1. Aśvinī, 2. Bharaṇī, 3. Karttrikā, 4. Rohiṇī, 5. Mṛgaśiras, 6. Ārdrā, 7. Punarvasu, 8. Puṣya, 9. Aśleṣā, 10. Maghā, 11. Pūrvaphālgunī, 12. Uttaraphalgunī, 13.Hasta, 14. Citrā, 15. Svātī, 16. Viśākhā, 17.Anurādhā, 18.Jyeṣthā, 19. Nirrti (Mūla), 20. Pūrvāṣāḍhā, 21. Uttarāṣāḍhā, 22. Śravaṇā, 23. Abhijit, 24.Śatabhiṣā, 25.Dhaniṣṭhā, 26. Pūrvabhādrapāda, 27. Uttarabhādrapāda, 28. Revatī, cf. “Divyavadāna” ed. Cowell XXXIII, 649, JRAS N.S. 5, 1871, hal. 87f. dan dengan beberapa nama cf. A. Schiefner, Lebensbeschreibung d. Çākyamuni58 98.

28b 5. Madhyāhnika cf. A. Schiefner, Tāranātha Terjemahan, 9 (7), rTsibs logs: Pārśva Ders. Lebensbeschreibung des Çākyamunis59 hal.100.

28b 5-6. Upagupta dan Māra; Legenda dimana Upagupta memaksa sang jahat menunjukkan diri sebagai sosok Buddha dan memang dilakukan oleh Māra, dengan syarat Māra tidak akan menyembahnya. Bagaimana cerita ini berakhir bisa dibaca di terjemahan A. Schiefner akan Tāranātha hal. 16-17. Cerita terkait dari ini adalah “Valens und der Teufel”60. Zeitschrift für Missionskunde und Religionswissenschaft61, ed. Dr. A. Kind, 29, terbitan 10, 1914.

29a 2ff. Untuk sosok-sosok berikut saya punya kutipan sbb: juga untuk Śaraha. Sarahapāda, Rāhulabhadra, mDa snun adalah siddha ke 6 dalam Grub t’. Tāranātha’s Geschichte62 69, 105, 275, 301; Edelsteinm. 11, 157; Sum pa I, 124; IT.232, 11 dan 230, 5; 64; fig.BB V, 4, No. 11; VMV No. 11. Nāgārjuna, juga dPal ldan bzaṅ po Vas.294; Ind. Streif.I63, 274; Sum pa I, 124; Tāranātha’s Geschichte64 81-6 dan 301-303; IT.238, 56; fig.BB V, 2 No. 5; VMV no. 5; karya saya Mythology hal. 30, cf. pada daftar baca yang dikumpulkan di sana. Beliau adalah siddha ke 16 dalam Grub t’. Asaṅga Tāranātha’s Geschichte65 107ff.; Edelsteinm. 106; fig.BB V. 2 No. 6; VMV No. 6; Mythology hal. 31. Informasi yang saya tahu tentang P’am t’iṅ ada dalam Edelsteinm. 79, 174. Guṇaprabha Sum pa 100, Tāranātha’s Geschichte66 126ff. Śākyaprabha Sum pa 100, Tāranātha’s Geschichte67 204. Vinītadeva Vas. 266, Tāranātha’s Geschichte68 192, 272. Śavari, Śāvāri (!), Savara pa, Mahāśavara, Ri k’rod pa, Ri k’rod dbaṅ p’yug adalah yang ke 5 dalam Grub t’. IT. 235, 36, 39; Sum pa I, 124; Edelsteinm. 19, 20ff.; Tāranātha’s Geschichte69 83, 105; fig. BB V, 4, No. 10; VMV No. 10. Maitrī Edelsteinm. 23ff.; fig. BB V, 6 No. 18; VMV No. 18. Lohi, Luipā (Lohitapāda?), Lū yi pa, Dṣigasun tečigeltü, Ña Ito ba, Ñai rgyu ma za ba, Matsyāntrāda IT. 33, 8; Edelsteinm. 20, 84, 120, 179; Tāranātha’s Geschichte70 106 anotasi, 315, 319; Sum pa I, 124 (beberapa kali dalam indeks!); fig.BB V, 4 No. 12, VI dan 31 No. 0265, No. 1 dalam Grub t’. Ikonografi para mahāsiddha sangat membingungkan; sebuah ciri khas yang terulang adalah pemisahan siddha jenis baru. Kālidāsa menyebut para siddha dalam Meghadūta 14, 22, 46, 56. Dalam Maṅgalāṣṭaka, dia menjadikan Mācchindra sebagai siddha ke1: S. Pet. Chin. Tanj. Vol. LU dari tantra pl. 229B V. 5 dan menyatakan: Ña lto ba sogs dam ts’ig grub pai skyes bu rnams: Mācchindrādisamayasiddhapuruṣāḥ disebutkan di bawah. Dārika, Dhārika pa, sMad 0ts’on mai g, yog IT. 237, 48; Edelsteinm. 20, 22; Tāranātha’s Geschichte71 319, beliau No. 77 dalam Grub t’. Ḍeṅki, 0Bras rduṅ pa, Sum pa I, 124, Edelsteinm. 23, 160, Myth.hal. 41; beliau No. 31 dalam Grub t’. Vajraghaṇṭa, Ghaṇṭa pa, Dril bu pa, dPal dril bu No. 52 dalam Grub t’. IT. 242, 78; Sum pa I, 102; Edelsteinm. 49-52, Tāranātha’s Geschichte72 170, 177, 322; fig. BB V, 5 No.14; VMV No. 14. Kacchapapāda, Kūrmapāda Edelsteinm. 59, 168.


Referensi:

  1. Sebuah manuskrip yang mengandung 94 ilustrasi indah tentang sistem divinasi elemental Tibet yang dikenal sebagai traktat astrologi Zamrud Putih.
  2. Novel tentang seorang ratu Tibet. Teks Tibet dan terjemahan
  3. Biografi Çākyamuni
  4. Novel tentang seorang ratu Tibet. Teks Tibet dan terjemahan
  5. Valens dan Sang Iblis
  6. Majalah untuk Ilmu Alam dan Studi Agama Missionaris
  7. Tāranātha sejarah
  8. Tak ada referensi tentang singkatan ini dalam terjemahan Jerman
  9. Tāranātha sejarah
  10. Tāranātha sejarah
  11. Tāranātha sejarah
  12. Tāranātha sejarah
  13. Tāranātha sejarah
  14. Tāranātha sejarah
  15. Tāranātha sejarah
  16. Tāranātha sejarah
  17. Tāranātha sejarah

 

Halaman 94

Jālandhari, Bālapāda, Haḍi, Dra ba 0dsin žabs IT. 241, 73; Edelsteinm. 58ff.; beliau No. 46 dalam Grub t’. Kṛṣṇacārī, Kāla, Kāla pa, Kṛṣṇa, Kāṇhāpāda, Kahna pa, rTul žugs spyod pa IT. 235, 41; 37, 28; 139; Edelsteinm. 68ff., 82f., 168-71: guru paling berpetualang di antara para siddha No. 17 dalam Grub t’. fig. BB V, 5 No. 15; VMV No. 15. Guhya Edelsteinm. 44, 71. Ḍombi kemungkinan sama persis dengan Ḍombiheruka gYu mo can, gYuṅ mo can No. 4 dalam Grub t’. Sum pa I, 124; Edelsteinm. 7, 34, 40, 50f.; fig. BB V, 7 No. 20; VMV No. 20; Journ. Buddh. T. Soc. I, llI, 1893, lempengan ke ext. II, 4. Tailo, Tilo, Te lo pa, Tailika, Til brduṅ mk’an, Prajñābhadra, Śes rab bzaṅ po No. 22 dalam Grub t’.; Guru Nā ro IT. 239, 59; 244, 88; 43; Tāranātha’s Geschichte73 328; Edelsteinm. 20, 71-8; fig. Chara Choto pl. IV kiri tengah sebagai koki. BB V, 6 No. 17; VMV No. 17. Nā ro ta pa, Nā ro, Nāḍapāda, Śrīnāḍa, rTsa bśad pa, Jñānasiddhi, Jñānasiṁha, Yaśobhadra, Dsa ba sa pa, Undusun nomlakči No. 20 dalam Grub t’. wakil utama Kālacakra IT. 238, 57; Tāranātha’s Geschichte74 239, 328;Edelsteinm. 73-78; fig.BB V, 6 No. 16; VMV No. 16. Mañjuśrīmitra Edelsteinm. 103; fig.BB V, 7 No. 21; VMV No. 21. Padmākara Edelsteinm. 7, 49, 94. Sai sñiṅ po Sum pa 120. Terjemahan Nyāyakokila tidak pasti, Vas.358. Vimuktasena Sum pa 99 dan Muktasena juga adalah dua figur yang berbeda dan ini bagaimana Vasiljev menggambarkan mereka (A. Schiefner, Tāranātha’s Geschichte75 hal. 322). Kusali = Ku su lu and Ka so ri cf. Edelsteinm. 20, 28, 40, 43, 80, 83. Suvarṇadvīpī cf. 15b 4.Diṅnāga Sum pa 62; fig. BB V, 3 No. 8. Dharmakīrti Sum pa 62; fig. BB V, 3 No. 9; VMV No. 8-9. Abhayākara (gupta) Tāranātha’s Geschichte76 250ff., 261ff.; Edelsteinm. 102, 109ff., 176-7; JASB LI, 1882, 16f.; banyak judul buku dalam IT dan pra-inkarnasi ke 4 Paṇ c’en, fig. JASB LI, 1882, pl. IV. Buddhaśrī Tāranātha Geschichte 252. Vāgīśvara Sum pa 117. Narāditya Sum pa 123. Macchindranātha Edelsteinm. 178, 121, 122; Sum pa 105. Oṁkaranātha Edelsteinm. 125, 153. Nanda Sum pa 65, 123.Bhūmipāla Sum pa 111. Asitaghana Edelsteinm. 83-6, 126, 134. Ye śes bśes gñen Edelsteinm. 28, 84, 129.Śāntigupta Edelsteinm. 4, 115-37, fig. ibid. Buddhaguptanātha Edelsteinm. 9, 116. Dalam versi terjemahan, saya biasanya memilih bentuk nama yang telah dikenal melalui Schiefner atau yang lain. Saya tidak berani merekonstruksi kata-kata baku; karena itu saya tidak merubah semua nama yang disediakan dalam teks asal. Saya menggunakan Lui pā sebagai contoh karena itu merupakan bentuk vulgar, dengan paradigma Sanskekerta yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

29b 2ff. Daftar sekolah terasa mirip dengan daftar dalam terjemahan Vasiljev hal. 294 (267). Vatsiputra (vatsiputrīya) rupanya sama dengan sMra ba p’u ba, tanpa terlihat jelas bagaimana; mungkin smra ba diartikan sebagai vāc, dan p’u adalah bentuk rusak dari bu seperti dalam putra. Maka, rtsi ka (“sari istimewa diantara gigi”): tāmbūla, untuk hal ini cf. Edelsteinm. hal. 121.

30a-b. Cf.Vas.301f., yang secara utuh mengikuti Grub mt’a dari Lalitavajra seperti Paṇ c’en. Lalitavajra hadir di saat penerimaan Kaisar China. Lukisan dirinya cf. Handbuch der buddhistischen Kunst in Indien77 hal. 55, 2nd ed. hal.179, Mythologie78 hal. 89.

31a 4. Kesadaran pusat, dll.: dhūti, cf. anotasi mendetil dengan 49b 5.

31b 1. “Karunia Sinar Purnama,” mengacu pada legenda dalam Grub t’ob (Berl. Tanj. Tantra 86, 20A 6), dimana diceritakan sinar bulan yang terlihat dari jauh dari tempat tinggal Nāgabodhi, yang telah bermeditasi selama berabad-abad dan dinyatakan oleh Nāgārjuna sebagai penerusnya.

31b 2. [G], yu moadalah lelucon tentang para bhikṣu, “Gadis Lapis lazuli” bagi g,yuṅ mo yang tak menyenangkan: Mātaṅgī, Caṇḍālī. Secara khusus cocok untuk seorang sādhaka jika mereka punya warna bunga utpala, cf. Edelsteinm. 98.

32a 6. Bhikhila (sic!) cf. A. Schiefner, Tāranātha. Geshichte Übersetzung79 79, 305. Ciri khas orang Tibet dalam menghindari kekuatan gelap magis dari kata-kata adalah seni ortografi, dimana kata jahat “iblis” dimurnikan dalam tahap tertentu. Śel bstan (pengucapan yang mungkin adalah Ṣai tan) sebagai bahuvrīhi berarti: “memiliki agama jernih bak kristal.” Śel (kristal, kaca) sering digunakan untuk judul buku. Untuk alasan yang sama, kata-kata dengan arti buruk disusun ulang dengan menambahkan beberapa kata dengan arti baik dalam bahasa sehari-hari. Sangat dimengerti juga bahwa permulaan sebuah kamus adalah kata “beruntung” dalam daftar kata dan berakhir dengan kata-kata berkat.

33a 4. “Kurungan Magis,” hal ini jelas tentang sebuah cerita dongeng yang tak kita ketahui. Kurungan untuk para setan ditutupi dengan garis-garis silang bernama mDos, cf. E. Schlagintweit, Le Bouddhisme au Tibet pl. XXXVII, 20 “thal”; ini semestinya mencegah sang raja untuk masuk dalam kurungan (benteng). Kita akan bertanya: “Apakah anda punya penutup mata?’ juga cf. A. Waddell, The Buddhism of Tibet, London 1899, hal. 484, Rev. Ahmad Shah, Pictures of Tibetan Life, Benares 1906, pl. 29, 2, pl. 40 tengah dan Jäschke s.v.


Referensi:

  1. Tāranātha sejarah
  2. Tāranātha sejarah
  3. Tāranātha sejarah
  4. Tāranātha sejarah
  5. Panduan Seni Buddhis di India
  6. Mitologi
  7. Tāranātha, Sejarah terjemahan

 

Halaman 95

33b 2. [N]or sering ditemukan sebagai paśu dalam Sansekerta. Jadi Raja Pratāpamalla juga berucap dalam inskripsinya yang telah di “terjemahkan ulang”: t’va āk’ara vāṅāva śloka yā art’a yāya ma p’a ta o hma d’āya paśujanma, siapapun yang membaca inskripsi ini dan tidak bisa menemukan arti śloka patut disebut paśujanma”. D. Wright, History of Nepal, pl. XIII.

36b 3. Perebusan tanaman yang mengandung getah susu memperingati minuman ritual soma “korban” di masa Vedik: tantra adalah penerus ajaran.

42a 3. [Teks Tibet]

44a 1. Berthold Laufer menjelaskan (Der Roman einer tibetischen Königin80 Leipzig 1911, hal. 137 anotasi) bahwa dari sebuah gunug tinggi, pegunungan sekeliling terlihat seperti kelopak bunga yang diatur pada cawan teratai dan dia mengutip teks kita pada saat yang bersamaan. dKar c’ag yang ditulis oleh Lha sa (Blockdruck Asiat. Mus.81 St. Petersburg, 3 B 4ff.) menunjukkan versi gambar yang paling indah dibarengi sebuah teks, yang dipakai oleh A. Waddell dalam bentuk yang tidak memadai (JASB LXV, 1896, hal. 275ff.). Teks singkatnya adalah sebuah puisi dengan anotasi. Dikatakan dalam 1.c: [teks Tibet] “Semua gunung es yang mengelilingi cawan membentuk roda dewata beruji delapan, sekuntum teratai di atas tanah kering dengan 8 cabang: payung (chatra) muncul di puncak Byaṅ ñan bun bal po, ikan (matsya) dalam mata (danau) Mal groṅ, terarai (padma) dalam titik (lidah) mDoṅ k’ar, terompet kerrang (śaṅkha) ada dalam suara (gaung?) Ñan bran pad dkar, cawan (kalāśa) ada di salju pada jalan pegunungan La grib, di Gunung rDsoṅ btsan, dan śrīvatsa ada di jantung Yug Ma, di atas bKa 0k’ol mar gdugs di arah Utara. Sekarang bernama rMog lcog dan membuat rancangan bendera (dhvajā) dan di sTod luṅ bran p’u, kaki dan lengan dari sang roda (cakra).” Jadi pegunungan yang mengitari kuil 0P’rul snaṅ yang kuno bak delapan petilasan berdiri pada altar Buddhis, cf. Pallas, Mongolische Völker82, St. Petersburg. 1801, II, 158 (yang dinamakan naiman takil) dan lempengan terlampir, A. Pozdnĕev, Очерки C. Ilnd.1887, pp. 86-87, dll. Juga cf. para dewi memegang symbol-simbol ini: Veröff. d. Mus. f. VölkerK. I, 1890, 2/3, hal. 105, No. 292-99 = Bibliotheca Buddhica V, No. 292-99, hal. 98-100.

45b 3. Pindahnya agama para ṛṣi kereta matahari: Kālacakratantrarāja V, 252ff. V. 258: [teks Tibet]

smin pai don du: pācanārtham. Dalam doa yang terakhir 50, terdapat penyebutan buah mana saja yang seharusnya matang.

46b 5. rdo yi rta: śailāśva Kālacakra I, 158 śailāśvārūḍhacakrī, dimana pertempuran antara kalkī (kulika) dan kaum Mleccha juga diramalkan ayat-ayat sbb; dan ini mungkin mengacu pada naratif kaum “Kélan” yang digambarkan oleh Huc dan Gabet, cf. Jäschke s.v. Dict. 4B.

46b 6. Kṛt-Mati, cf. dengan hal ini A. Schiefner, Tāranātha. Geschichte Übersetzung83 hal. 310 anotasi untuk hal. 82, baris 13. Dalam kasus ini, ada varian baru “byed pai blo gros,” yang dianggap sebagai nama yang tak terjelaskan.

46b 6. Ha nu untuk Hanumān, mirip cerita Rāmāyana dan mitologi Vishnu. Cf. Tāranātha. Geschichte Übersetzung12 hal. 310 anotasi untuk hal. 82, baris 13.


Referensi:

  1. Novel tentang seorang ratu Tibet
  2. Balok cetak di Asian Museum
  3. Bangsa Mongolia
  4. Tāranātha Sejarah terjemahan

 

Halaman 96

49b 5. “Hanya yang tertulis.” Bagian ini mengacu pada figur-figur pada “Sepuluh Suku Kata yang Maha Kuat,” yang ditulis Cilu pada pintu vihara Nālanda, cf. dengan hal ini A. Csoma de Köröś, JASB II, 1833, hal. 57-58. “Sepuluh Pengayom Dunia” ini seringkali telah ditulis, sekali dengan penjelasan yang tidak benar oleh E. Schlagintweit, Le Bouddhisme au Tibet (saya kutip sesuai terjemahan bahasa Perancis), Ann. Mus. Guimet, Paris 1881, hal. 73, pl. XV, dan lebih sering tanpa penjelasan sama sekali. L. A. Waddell, The Buddhism of Tibet, London 1899, hal. 386 (142), 415. Figur ii dikenal sebagai rNam bcu dbaṅ ldan dan secara logika mewakili hubungan antar mikrokosmos dengan makrokosmos, sebagai contoh. Tanpa pengetahuan tentang hal ini, buku pertama tentang Kālacakra sangat tidak mungkin untuk dimengerti. Meski terlihat tidak terlalu menyenangkan, hal ini mesti dilakukan karena tanpa upaya tersebut, kita seharusnya tidak pantas untuk memahami berbagai hal yang sangat penting. Dengan yakin saya akan berkata bahwa arkeologi adalah cabang ilmu yang penting dari saat ini. Karena studi akan tubuh manusia tidaklah penting bagi orang Hindu, skematisasi seperti ini menjadi lebih penting. Ilmu tantra adalah teater bagi “seni India” dan tantra lah yang menjadi sumber inspirasi aturan-aturan estetika. Dengan mudah kita bisa melihat bahwa seluruh sistem mitologi figuratif, seperti buku tentang Kālacakra keluaran akhir, didasarkan atas struktur seperti ini. Dari mana evolusi struktur ini berasal pastinya merupakan sebuah topik yang lain, dimana jawabannya akan mengejutkan bagi para teman-teman dalam bidang “Seni Nasional India” (sic!). Menyebarkan desas desus menjadi sesuatu yang lebih membuat nyaman. Penganut Jainisme juga memiliki masalah yang sama: Saya harap bisa mendiskusikan ini nantinya. Saya masih harus berterimakasih pada Bpk. Salemann, seorang lulusan universitas, yang mengirimi saya foto-foto sebuah manuskrip singkat Musei Asiatici Petropolitani Collectio Baradiin 1903-4, No. 11-(97) vide Bull. de l’Acad. XXII, 1905, hal. 083, yang dikompilasi oleh seorang Lama untuk memahami Kālacakra. Manuskrip singkat ini sangat membantu saya. Teksnya ditulis dalam bahasa Tibet dan Mongolia dan tersedia juga gambar-gambar. Karena terdapat berbagai acuan yang ada dalam Lam yig, saya akan menyediakan terjemahan dalam bahasa Jerman dulu dan baru akan membahasnya kemudian:

“Saya berbaring pada kaki guru sempurna Śrī Kālacakra, karena saya dan Dia sudah tidak lagi berbeda (antara puṇya dan pāpa); semoga beliau dengan berkatnya mengabulkan permintaan saya untuk ada dalam lindungannya. Di sini saya hendak menjelaskan tentang “Kesepuluh Yang Maha Digdaya”, yaitu dampak mereka pada landasan (dhātu) bagi dunia luar, kemudian pengaruh mereka pada vajrakāya di dunia dalam serta dampak keterhubungan mereka pada roda (cakra) mandala-mandala yang lain. [“] pertama: semua dhātu di dunia luar ada di bawah pengaruh “Kesepuluh Yang Maha Digdaya” Roda Waktu (Kālacakra), maka YA adalah mandala Sang Angin, RA Sang Api, VA Sang Air, LA Sang Bumi, MA Sang Gunung Meru, KṢA adalah kāmadhātu dan rūpadhātu, HA adalah arūpadhātu, dan ketiga saluran: setengah bulan, tetesan matahari (bindu, tilaka), dan nāda yang menyamai matahari, bulan dan Rāhu. Warna-warna mereka mempunyai arti: YA hitam, RA merah, VA putih, LA kuning, MA biri di Timur, merah di Selatan, kuning di Barat, putih di Utara, hijau di tengah84, KṢA berwarna hijau, HA biru, sabitnya merah, tetesannya putih, nāda hijau (seperti dalam gambar; tapi dalam teks disebut hitam. Kedua: vajrakāya dalam dunia dalam juga ada di bawah kuasa Sepuluh Suku kata yang Maha Digdaya: YA adalah planta pedis85, RA tulang betis, VA paha, LA pinggang (sphic86), MA tulang belakang, KṢA wilayah dari tengkuk leher sampai dahi kepala, HA tulang vertebra, setengah bulan dan tetesan adalah saluran arteri rasa (ro ma) dan lāla (rkaṅ ma), nāda nadi kehidupan (dhūti: dbu ma: srog rtsa)87. Ketiga: roda (cakra) mandala-mandala lainnya juga ada di bawah pengaruh “Sepuluh Kekuatan.” YA, RA, VA, LA, MA adalah keempat elemen, naik selapis demi selapis (0byuṅ, ba bži rim brtsegs), dan Gunung Meru, KṢA adalah gerombolan dewata kāyacakra dan vākcakra, HA adalah suku kata cittacakra dan ketiga saluran: setengah bulan, tetesan, dan nāda adalah kāya, vāc, dan citta dari dewa cittamandala. Sang tattva dari “Sepuluh Yang Maha Digdaya” menyatakan bahwa sang sepuluh memiliki pertanda seperti yang disampaikan. “Sepuluh Yang Maha Digdaya” bersifat dua-lapis dalam keterhubungan mereka dengan kaum seperti mereka: pertama, persepsi terhadap kaum Mleccha dan kedua sang dhātu dari dunia luar. Jika vajrakāya memperoleh utpannakrama dan sampannakrama dari sang tattva lewat kaum Mleccha dalam dunia dalam dan jika vajrakāya menaklukkan dunia luar selagi bersemayam pada keempat krama, maka dirinya adalah A yang ada dalam semua kehidupan. Para dhātu langit yang muncul dari empat tahap (krama) YA RA VA LA sama dengan mandala Angin, Api, Air dan Bumi, sementara MA menciptakan Sang Meru dalam ātman yang kini memiliki 5 dhātu.


Referensi:

  1. Kālacakra 5, 169 [teks Tibet] Ayat2 yang menyusual juga mengacu pada bagian ini
  2. Telapak kaki
  3. Mungkin pengejaan yang salah dalam terjemahan Jerman dan mungkin mengacu pada figur sphinx.
  4. Cf. Jäschke, Tib. Dict. s. v. gtum po

 

Halaman 97

Sekarang, jika KṢA, kāmadhātu dan juga rūpadhātu, HA, arūpadhātu, dan setengah bulan, tetesan dan nāda (ketiganya adalah lokadhātu dan harus dibayangkan Rāhu sebagai permata bulan) ada dalam kuasa vajrakāya, ke lima zat, YA, RA, VA, LA, sama dengan planta pedis, tulang betis, paha, pinggang, cakra ke empat zat, tulang belakang MA, Gunung Meru, wilayah dari leher hingga dahi KṢA, kāmadhātu dan rūpadhātu, kepala HA, dan arūpadhātu. Setengah bulan, tetesan dan nāda adalah urat arteri rasa dan juga lāla serta avadhūti; Rāhu membuat matahari dan bulan bersinar. Perangkat ke empat zat dari mandala, YA, RA, VA, LA, dimana terletak kekuatan aktif sampannakrama melalui kaum Mleccha. Gunung Meru dengan istana-istananya yang tak tertandingi, gerombolan ilahi kāyamandala dan vāgmandala KṢA, gerombolan ilahi cittamandala HA, dan ketiga saluran (bulan, tetes, nāda), yang mewakili kāya, vāc dan citta dewata cittamandala yang juga menggambarkan mahāsukhamandala. Ketika kuasa sampannakrama atas tattva sudah terjadi, fungsinya bekerja dua arah antara keenam anggota dalam kelipatan sepuluh. Sebagai contoh, ketika dilakukan dua hal pada saat yang sama: kita menapakkan jari-jari dan berkonsentrasi dalam pikiran. Biarpun terdapat kemunculan sepuluh pertanda seperti menangis, dll., keunikan cara nafas ditahan, sang angin akan menyapu habis semua pertanda ketika naik di kanan kiri mandala. Dengan mengikuti jejaknya, kehangatan dalam batin menyeruak (caṇḍa, gtum po, terjemahan Mongolia adalah caṇḍālī!). Dhātu menjadi cair, 10 kesempatan datang ke jiwa kita, dimana ia dapat beristirahat dalam bahagia (dimulai dengan samādhi). Maka bisa disimpulkan bahwa pengaruh “Sepuluh Maha digdaya” efektif ketika pemisahan dari kegelapan usai dalam lima dhātu dari lima skandha.

50 2-3. Pada akhirnya merupakan tamparan bagi Tāranātha karena kesalahan yang dia buat di halaman 38 hasil terjemahannya. Cf. anotasi to 21b 6.

Click to enlarge

Klik untuk memperbesar

50 4. Ini mengacu pada Nātha Nāgārjuna. Bagian ini tidak bisa dimengerti tanpa narasi dalam Grub t’ob (Berl. Tanjur Tantra folio 86 Bl.18B). Nāgārjuna tiba di sebuah sungai dan ingin menyeberanginya. Di tepian sungai beberapa abhīra sedang santai-santai dan hanya menonton. Hanya satu di antara mereka, yang sedang berdiri sendiri, mau membawa Nāgārjuna menyeberangi sungai. Di tengah sungai, śiśumāra muncul tapi sang abhīra berujar pada N. supaya tidak usah takut karena dia akan menyeberangkan dirinya. Setelah sampai di seberang sungai, N. memanggil sang abhīra dan duduk di atas akar sebuah pohon sala, yang ada dalam air. Beliau berubah menjadi seekor gajah. Ketika sang gajah bersuara bak terompet, iring-iringan kerajaan berkumpul dan sang abhīra menjadi raja besar Śālabhaṇḍa, cf. Edelsteinm. hal. 158.

Menurut Mañjuśrīnāmasaṅgītī tentang folio 12a edisi bilingual Beijing, kata Sansekerta untuk figur ini adalah daśākāro vaśī. dhāraṇī e vaṁ, yang muncul di ayat-ayat pengenalan dari teks kini, sering diposisikan bersandingan supaya suku kata e ada sebelum vaṁ dalam figur yang lebih kecil.

______________________

 

Halaman 98

INDEKS I

Catatan penerjemah: hanya indeks yang ada dalam bahasa Jerman dalam buku aslinya masuk dalam bagian ini.

Note zu (nomor) berarti anotasi pada (nomor)

Apabhraṁśa T. 0p’ral skad 12b 3 T. to c’ag 29b 4, 32b 4

Abhayākara, Abhayākara-gupta T. A bhyā ka ra! T. 0Jigs med 0byuṅ gnas 29a 5 dan anotasi

Abheda, sang Sthavira (nama Sanserkerta tidak pasti)

ārya rje, ā0 jina: […] garis keturunan Ārya 29b 5 ārya = anotasi saṁskṛta pada 18b 5, 0 ’ags pa adalah gelar dalam nama-nama sbb.: Amoghāṅkuśa, Avalokiteśvara, Asaṅga, Ānanda, Upagupta, Ekajaṭī, Kāla, Nāgārjuna, Mañjuśrī, Mahākāśyapa, Rāhulī, Śāṇavāsika, Śāriputtra.

 

Halaman 99

Kambala T. Wa va pa 17b 3, dia ada pada 29a 5, anotasi yang telah disebutkan

Udyāna T. U rgyan, O rgyan konon S. Oḍiyana 7b1, 16a 4, 17a 3, 19a 3, anotasi untuk 17a 6

Urisa 12a 6, 14b 1, 25b 3, juga Uruviśa

 

Halaman 100

Kumārabhūta bentuk Mañjuśrī 7a 5

kharbuja semangka 38b 4,6

Guhyasamāja bentuk Mañjuśrī T. gSaṅ bai 0dus 49a 4, 0tantra 0rgyud 24a 1

Caṇaka 22a 3, seorang raja: Cāṇakya 24b 5.

 

Pergi ke halaman 101 sampai 120

Kembali ke Tab

Halaman 101

Candra T. Zla ba, garis turunan Candra 23b 6, Kulika Candra 44b 1, 45b 3, Turuṣka Candra 25a 1, 32a 5, anotasi untuk 25a 2-3.

caryā T. spyod pa selesai 31a 1

Jambudvīpa 0Dsam bui gliṅ 6a 1, 3, 6, 14b 3, 21b 1, 26b 3, 34b 1, 35b 5, 37b 4, 40a 6, 41b 4, 49b 2, Jambudvīpa kecil 0Dsam bui gliṅ cuṅ ṅu 6b 5, 42a 1

Jina T. rGyal ba untuk Buddha: 21a 1, 23b 4, 50; Buddha Tiga Jaman 33b 4, opp88. pada Paṇ c’en: Dalai Lama 5b 1-2, 6b 3. 26a 6 (rGyal dbaṅ); Dalai Lama ke 2 16a 2, 17b 6, 19a 2, 30a 5.

tilaka 36a 2 sebuah tanaman

Tīrthaṅkara tidak pernah dalam arti yg tepat tapi = tīrthika T. mu stegs byed 26a 4, 27a 2, 5, 31b 5, 32b 4


Referensi:

  1. opp. opera: lebih dari satu karya.

 

Halaman 102

dharma T. c’os Ajaran Buddha 20b 6, 25a 5, 28b 1, 45a 4, 46b 2, 49a 4, Mleccha-dharma T. kla kloi c’os 48a 6, 48b 1; dharma: forma 4b. 17b 1, 49b 1.

Dhuma untuk Dhumaṣṭhira 17a 6, anotasi untuk 17a 6

Nālanda T. Nā len dra, tapi terkadang sebagai Nā lan da v. Śrī0 9b 2, 21b 4, 24b 1, anotasi untuk 49b 5

 

Halaman 103-104

N/A

 

Halaman 105

Yamāntaka T. gŚin rje gśed 22a 3, 38a 3, anotasi untuk 13a 1, kulika 44b 2

Yaśas: Mañjuśrīkīrti T. Grags pa 44b 1, 5, 45b1, 48a 5, 6, arhat 29a1, Guru dari Asoka 21a 6

 

Halaman 106

Vilyānagara untuk Vijayanagara 14b 1, 17b, 33b 6

Virūḍhaka T. 0P’ags skyes po 39a 4, Raja Virūḍhaka 47b 3

 

Halaman 107

Vishnu T. K’yab 0jug 12b 2, 28b 2, Raja Vishnu. 23a 6

Vīra 29a 1 putra dari Vīra T. yab sras

śarabha kemungkinan berarti onta di sini 43b 2

 

Halaman 108

Sumatikalpabhadrasamudra T. bLo bzaṅ bskal bzaṅ rgya mts’o dari Dalai Lama 2a.
sthavira T. gnas brtan pa 29b 6, 30a 3 (kultus), selain itu T. gnas brtan 24a 3, 37b1

_______________________

 

Halaman 109

 

Indeks II.

Catatan penerjemah:

  • Hanya indeks yang mengandung bahasa Jerman yang dimasukkan dalam bagian ini.
  • Indeks dalam bahasa Tibet; kutipan, yang telah tersedia dalam Indeks I, tidak diulangi di sini.

 

Halaman 110

mc’od rten: caitya, yang dimaksud stupa (jamak)

 

Halaman 111

gños 25b 1 dan anotasi
gnas bcu: 18 arhat (anotasi untuk 18a 1)

 

Halaman 112

pad mo tapak kaki 5b 3, 26a 6

p’ur bu: tonggak, pentungan magis di 36a; Bṛhaspati 31a 5

fu kiaṅ (Bahasa China) f diucapkan melalui prefik h (sebelum) p’ dalam ejaan Tibet

 

Halaman 113

mya ṅan med: Ashoka n. pr., sebuah pohon
_____________________

 

Halaman 114

N/A

 

Halaman 115

Indeks Bahasa Jerman III

Catatan dari penerjemah: hanya indeks yang mengandung bahasa Jerman di buku asli yang termasuk dalam bagian ini.

Abfallen (Jatuh) dari tangan dan kaki sebuah rupang untuk menjelaskan rupa asli yang dirujuk Jagannātha kepada Purī 12b

Ablutionen Penyucian diri 9b

Acht (delapan) persembahan di altar, yang dikenal dengan “naiman takil” dalam bahasa Mongolia, ke 44a 1

Ackerbau (tanaman di ladang) tumbuh subur karena magis 14a; berkembang tanpa usaha tani 47a

Asketen (pertapa) 18a, sādhaka

Bau (konstruksi) sebuah stupa untuk Śāriputra; konstruksi Buddhis: 21b, 23a, 24a, 25ab

Baum (pohon) dari arjuna, ashoka, baila, bradara, kambita, kapittha, kataka, patuśa, sal, tāla: Jasmin 37a; pohon Bodhi menunjukkan formasi dan figur di daun-daunnya dll. 8b (cf. Guhya, Bandhe)

Berg (Pegunungan) mengelilingi Lha sa di 44a 1; pegunungan artifisial di taman-taman 11a; Gunung Meru di 49a; di Ratnagiri, Ds’a mi gi ri, Lohita, Rāsa, Kakā, Candrakalā, Kailāsa, Ketaka, Himālaya. Ilora, Suk’em, Ka ma ru, Yavadvīpa, Pañcaśīrṣaparvata

Bettfuss (tongkat) dari sebuah khaṭvāṅga

Bittgebet (doa permohonan) untuk sebuah praṇidhi

Blendwerk (tipuan) dari māyā

Blumen (bunga) ashoka, puṇḍarīka (41a), kunda, kusumbha, utpala, padma, tāmbūla, udumvara, tujanaya, tilaka. Bunga-bunga di taman-taman para raja 10b. Sebuah hujan bunga ketika siddhi nampak 9b, 21b

Blut (darah) dan daging yang dikonsumsi oleh para tukang sihir 17a; memuntahkan darah adalah hukuman dari mengungkapkan rupa Heruka.

Brücke (jembatan) ke Ceylon 14b

Buchv (book/manuscript) incorrect manuscripts 33b; the buried books cf. Guhyatantra.

Buchv (buku/manuskrip) manuskrip yang salah 33b; buku-buku yang dikubur cf. Guhyatantra.

China (China) 6b-7a, 8a; Chinese monks 22b; Elephants were brought to China 13b

China (China) 6b-7a, 8a; Para bhikṣu dari China 22b; Gajah-gajah yang dibawa ke China 13b

Dämonen (iblis) dari Hiṅgalācī, asura, yakṣa, yaksinī, rāksasa, kinnara, nāga.

Donnerkeil (petir) dari vajra; Guntur naga 12a

Dreizack (trisula) dari trisūla

Dummheit (kebodohan) kebodohan orang Tibet 32b, Kebodohan orang Hindu terkait dengan paśu, nor

Edelsteine (permata) 10a, 32a, 43a of indranīla, ketana, cintāmani, candrakānta

Eis (es) 37b, 38b, 41a, 42b; pegunungan es 42a, 44a

Elefant (gajah) Para gajah dibawa ke China; di atas akar sebuah pohon sala Nāgārjuna merubah diri menjadi seekor gajah anotasi ke 50, gajah terbang 43b: dewi yang memakan seekor gajah 38a

Elfenbeinarbeiten (patung terbuat dari gading)

Erde (earth); elemen tanah di Jambudvīpa 6b, sampai 49b 3; terkubur di bawah tanah 24a89; tanah 8b; lumpur 37a


Referensi:

  1. Seharusnya di 24a dan bukan di 24b seperti yang tertulis di terjemahan bahasa Jerman.

 

Halaman 116

Essen (makanan) kulika 43b: untuk para pertapa 18a90; bagi orang Tibet, daging sapi; bagi iblis, daging manusia; bagi ḍākinī 17b; raja-raja India 10a; semangka 38b

Europäer (orang Eropa) dari Engeraichi, Holandhaisai, Phereng, Pāṇḍava, Priyaṅgudvīpa, U-ru-su

Euter-ähnliche Pflanze (tanaman seperi ambing) 36a

Fadenkreuz (garis silang) T. mdos to 33a 4

Feldkapelle (kapel lapangan) of t’e

Feuer (api) perhiasan dari tulang yang mengeluarkan percikan api 12a; api pada saat caṇḍa bermeditasi; antara air dan batu 20a 6 dan juga anotasinya; elemen api di Jambudvīpa 6b and to 49b 3; persembahan api homa

Jari (finger) pertanda mengancam 31b

Ikan (ikan) dari Matsya, Macchindranātha, Lūipā, Lūhipāda, śiśumāra; ikan dari kepala spesies lain 40a; Raja Ikan 39b

Flechte (lumut) dari Ekajaṭī; lumut putihnya 41b

Fleisch (daging) manusia (17a); daging sapi 49a.

Fliegen (terbang) melawan angin

Fuß (foot); jalan91 dari Nāgārjuna 31b; dari Buddha 5b: dari Khunimasda, Śrīpāduka, Padma (cf. to 22b 5)

Gazelle (rusa); rusa magis 36b; taman rusa 9b92

Gefangene (tahanan) dibebaskan 32a

Gemüsesuppe (sup sayur mayur) dari Kambala

Geschlechtsglied (bagian tubuh untuk reproduksi); sunat 33a; hermaprodit 41b; padma, teratai mawar, abja, vajra

Gesprenster (hantu) 39a; preta

Gewürznelke (cengkeh) 16b

Gift (racun); diselamatkan 36b; tiga racun 17a

Glas (kaca) 11a

Glück (keberuntungan) Lakṣmī, Mahāśrī, Padminī, ke 15a 5.

Emas (emas); emas yang dikirim ke China 23a; batangan emas 21b; emas di interior gunung 39a; air emas 40b; emas di Kalāpa 44a; mandala emas 45b, 46a; of jambunāda, Suvarṇadvīpa

Gott (deity); duabelas dewata agung 47a; dewa-dewa Buddhis: Trayastriṁśat, Mahākāla, Mārīcī, Amrtakuṇḍalī, Vidyuccalā, Yamāntaka, Cundā, Tārā, Ekajaṭī, Mandeha, Yama, Lokapāla, Virūḍhaka, Vaiśrāvaṇa, Mañjuśrī, Hālāhalāvalokiteśvara, Khasarpaṇa, Jagaddali, Śrīvajra: Heruka; dewa-dewa Brahmin: Brahmā, Bṛhaspati Kapila, Umā, Jagannātha, Somanātha, Mātṛkā, Kāmākhyā, devī, Mahāśrī, Rāhulī; Dewa-Dewa Tertinggi (Adhideva) 35a, 36a, S9b; Elemen Vaiṣṇava di Kālacakra dari Vishnu, Hanu(mān), avatar Narasiṁha,
Śailāśva, Kalkī, Chakrī

Gras (rumput); kuśa 5b

Tangan (tangan); mereka tidak makan makanan yang telah tersentuh tangan 33a; dewa yang memiliki banyak tangan, cth.: Mārīcī, Yamāntaka

Hauptader (urat nadi) dalam meditasi dhūti dan avadhūti

Heilkräuter (obat-obatan herbal) 11a, 36b

Hetäre (hetaera) dari g,yu mo, g,yuṅ mo; yogini yang berbahagia 33b

Heterodoxe (penyimpangan kepercayaan) Brahmin, Kapila, Aiśvara, Vaibhāṣika, tīrthika

Heulen (menangis/melolong) sebagai hukuman tindakan kekerasan 25a

Hexe (tukang sihir) 15a-b, 20b; mati 13a; gunung tukang sihir 17b 3; Udyāna, Kaboka, Dhumaṣthira

Hinterindien (Bapak India) dari Ra k’aṅ, Ma rko, Paigudvīpa, Suvarṇadvīpa

Höhle (gua) milik sādhaka 38a; milik Kambala 17b

Hölle (neraka) 22a, 25b; dari Candra, Cāṇakya, Mleccha; iblis 37b preta

Inseln (pulau) 13b, 15b, 22a, 27a; Siṁhaladvīpa, Tāmradvīpa, Yavadvīpa, Sirkodhana, Priyaṅgudvīpa

Kaste (kasta): Kebanggaan pada kasta India dibandingkan dengan kasta Tibet 14a; kasta sektarian dari Upāli, Kātyāyana, Rāhula

Kehrer (tukang sapu) 10b

Klostertempel (wihara biara) dari vihara, gtsug lag k’aṅ, bSam yas, rJe P’uṅ ts’ogs, Nālanda, Vikramaśīla, Otantapurī, Devīkoti

Knochenschmuck (perhiasan tulang belulang) 12a


Referensi:

  1. Seharusnya merujuk pada 18a dan bukan 16b seperti yang tertulis di terjemahan Jerman.
  2. Füßspuren secara harafiah berarti literally means jejak kaki.
  3. Seharusnya merujuk pada 9b dan bukan 8b seperti yang tertulis pada terjemahan Jerman.

 
 

Halaman 117

Lebensexilir (eliksir kehidupan) 41a dari amrit

Ledersack (tas kulit) 37a

Lehramt (jabatan mengajar) 20b, 28b

Leichenacker (kamar mayat) 24b

Lieder (lagu/nyanyian) 39b, 41a; nyanyian dohā

Linnen (linen) 10a

Literatur-Notizen (catatan literatur): 5b, 17b, 22b, 23a, 34a, 35b, 42b, 45a, 47ab; of Bu ston, Tāranātha

Lotus (teratai) dari abja, padma, utpala, udumvara: E di atas abja 2b; kaki Teratai 26b dari pad mo; daun teratai 42a = pegunungan ke 44a

Löwen (singa) dengan delapan eight cakar 36b

Luft (udara); berjalan di udara 31a93, sang istri tertangkap di udara 15a, of s.v. pundak; elemen udara di Jambudvīpa 6b, to 49b 3; suara genderang di udara 13a

Meditation (meditasi) of samādhi, lāla, rasa, avadhūti, Rāhu

Melone (melon) semangka dari kharbuja 88b.

Mensch (manusia); daging manusia 11b, 13a; rākṣasa (Tibetan śa za); fikan berkepala manusia 40a; manusia berbulu domba 34b

Messer (pisau) dari kartrikā

Mönch (bhikṣu) bhikṣu dari sekte Saindhava, Hīnayāna, saṅgha, Vinaya; tarian melingkar dari jubah kuning 5b

Mond (bulan); cahaya bulan putih 5b; cahaya rembulan di 31b 1; bulan cf. 49b 3

Mongolen (Orang Mongolia) 7b

Moral (moral) 12a, 24a

Moschee (mesjid) of māsita

Motten (ngengat) kumpulan orang seperti ngengat 9b

Mücke (nyamuk) menyerang 48a

Musik (musik) 39b, 41a

Mutter (ibu) dari Mātṛkā, Viśvamātā, ma rgyud; ibunda dari Ashoka 20b

Opfer (pengorbanan) dari homa

Papageien (burung nuri) di India 10b; ikan berkepala nuri 40a

Park (taman) 10b, 43b

Pfeil (panah) panah dari Indra 5b

Pferd (kuda) of śailāśva, kalkī, daryāghorā, ājānīya; iblis berkepala kuda 39b; Vishnu dengan kepala kuda 12b 6

Pilger (peziarah) 27b

Rad (roda) cakra; roda yang muncul di udara 36a

Reliquien (relik) 21b

Rindfleisch (daging sapi) makan 49a

Sandel (kayu cendana) 13b, 14b, 39b, 43a; dari padminī 15a

Satan (satan); mengejek nama Buddha 32b dan lampiran

Schädel (tengkorak); memukul kepala ketika mengusir nyamuk 48a; tengkorak 17b, 38b; mudra tengkorak 37a

Schiff (kapal) 11a

Schlange (ular) 20b; nāga, Ashoka 21b 6.

Schmucksachen (perhiasan) 10a; terbuat dari tulang 12a

Schnecke (siput) of śankha, g,yas su 0k’yil pa 10a

Schulter (pundak), diangkat ke atas pundak dan dibawa ke udara 37b, 41a

Schwarz (hitam) dari Yamāntaka; gunung hitam 39a, bulu domba hitam 34b, penduduk asli berkulit hitam 12a 1

Schwein (babi) T. p’yag: st. stag 36a

Schwert (pedang); pedang Vidyā 31a, to 6a 6; 13a 1, 17b

Schwimmen (berenang) para tukang sihir terbang pergi seperti burung 17a

Seide (sutra) 10a

Sekten (sekte); sekte Buddhis 29b, 30a b, 33b; sekte dari rÑiṅ ma pa, Kar ma pa; sekte menyimpang 31b

Silber (perak); perak di gunung 39a, air berwarna perak 40a

Sonne (matahari) memegang matahari 15a 2; kereta matahari 45a; matahari dari sūrya; deklinasi matahari 16a; matahari dari t’ig le, bindu 49b 3

Speiseangebot (peraturan mengenai makanan); dari penganut Hindu 33a; dari para raja 10a.


Referensi:

  1. Tidak ada referensi yang merujuk pada ”in der Luft gehen” di anotasi 31a

 

Halaman 118

Spuk (figur seperti hantu) 12a

Statuen (patung) Bodhisattvas 44a

Steinfiguren (figur yang terukir di batu) 10b

Sterne (bintang) of nakṣatra

Störche (bangau) abu-abu; lambang negara India 5b

Tanz (tarian), tarian lingkaran mistis dari inkarnasi imam berhirarki tinggi 5b; tarian di India Selatan 15a

Tempel (kuil) Somanātha, Jagannātha; para pembantu kuil 24a

Teufel (setan) menunjukkan figur Buddhis 28b 8-6; orang-orang yang terlihat seperti iblis 13a; wajah iblis (Yama)

Tibet (orang Tibet) 7b, 13a, 18b; tidak menarik 33a; orang Tibet rNam t’ar 33b; orang Tibet bodoh 32b; orang Tibet yang bidat 31b; hanya bereinkarnasi sebagai orang Tibet 49a; orang Tibet yang banyak dipuji 26a; orang Tibet yang dekat dengan tempat-tempat suci 20a; Orang Tibet di India 14a, 23a; of gÑos, Lha mt’oṅ, Kīrtinātha, gTsaṅ po dsb.; orang Tibet dan Sansekerta 18a 4.

Tiger (harimau); atau maksudnya seekor babi? 36a; harimau dari sādhaka 18a 1; akli sihir berubah jadi harimau 17b

Tod (kematian) dibawa pergi 3b; kematian dari Candra: dari muntah darah, melolong

Traum (mimpi) 48a, 50

Trommel-Schall (tabuhan genderang) di udara 13a dan anotasi

Verwandlung (transformasi) seekor harimau, rusa, burung 17a

Vogel (burung); ikan berkepala burung 40a; burung-burung di taman-taman 10b; tukang sihir terbang seperti burung 17a; jejak burung menuju 16b 3; gagak putih 6b

Wagen (kereta) kereta perang 46b; para pengembara Rathika; Jambudvīpa mirip dengan sebuah kereta 5b; kereta yakṣa 21b

Wasser (air); secangkir air 6b; elemen air di Jambudvīpa 6b (to 49b 3); air terjun Brahmaputra dari Yama

Weib (istri); istri yang jahat menyebabkan kematian Mathora 27a; istri yang mengkonversi seorang raja 25b; istri dari Padminī, Śakti, g,yumo, g,yuṅ mo, tukang sihir, yogini, ḍākinī, vajra0, kṣetra0, mudra, Viśvamātā, Tara, Mātrkā, dūtī, prajñā

Wiedergeburten (reinkarnasi) to 2b 1; dari Sa skya Pandit; reinkanasi buruk sebagai orang Tibet 49a; of kulika 44b ff.; dari Candra (to 25a 2-3); dari Kīrtinātha dan 17b, 19a; dari Ashoka 21b

Wollgewand (kain wol) dari Kambala 17b 3 (to 29a 5)

Wurzel (akar) untuk menggali akar dengan paku magis 36a

Zauber (magis) of mahāmudrāsiddhi, siddhi; sekolah magis 9a, 12a, 14a; paku magis 36a; kekuatan magis 14a, 23b, 30b, 41a; tubuh magis v. vajrakāya; sangkar magis (to 33a 4); tipuan magis 17a; hujan bunga, pedang, genderang, pertapa sādhaka, ḍākinī, tantra, dhāraṇī, anuttarayoga.

Zeichnen (gambar) gambar dewata 36a, 37a, 38a.

___________________________

 

 

Halaman 119

Anotasi ke 18a 1

The Appearance of Tsoṅ k’a (pa) as a yogi riding a wild tiger (click to enlarge)

Penampilan Tsoṅ k’a (pa) sebagai yogi mengendarai harimau liar (klik untuk memperbesar)

 

Halaman 120

N/A

 

Pergi ke halaman 121 sampai selesai

Kembali ke Tab

Halaman 121

Anotasi ke 28b 2

The characters of Nakṣatras according to Vaiḍūrya dkar po (click to enlarge)

Karakter dari Nakṣatras menurut Vaiḍūrya dkar po (klik untuk memperbesar)

 

Halaman 122

N/A

 
 

Halaman 123

Annotation to 15a 2

Virupa (click to enlarge)

Virupa (klik untuk memperbesar)

Anotasi ke 29a 2

Darika (click to enlarge)

Darika (klik untuk memperbesar)

Amrtakundali (click to enlarge)

Amrtakundali (klik untuk memperbesar)

 

Halaman 124

N/A

 

Halaman 125

Anotasi ke 29a 2

Tailo stamps sesame using the ḍenki (click to enlarge)

Tailo menumbuk wijen menggunakan ḍenki (klik untuk memperbesar)

Anotasi ke 29a 2

Vajraghaṇṭa takes the form of Heruka (click to enlarge)

Vajraghaṇṭa berbentuk Heruka (klik untuk memperbesar)

Kembali ke Tab

Kembali ke Atas

 

Perjalanan Menuju Śambhala untuk Diunduh

The Journey to Sambhala (Bahasa Inggris) (klik untuk mengunduh PDF)

The Journey to Sambhala (Bahasa Jerman) (klik untuk mengunduh PDF)

 

Pergi ke Bahasa Inggris halaman 1 sampai 61

Kembali ke Tab

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

 

Pergi ke Bahasa Inggris halaman 62 sampai selesai

Kembali ke Tab

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

 

Pergi ke Bahasa Jerman halaman 1 sampai 60

Kembali ke Tab

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

 

Pergi ke Bahasa Jerman halaman 61 sampai selesai

Kembali ke Tab

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

Click on image to enlarge

Klik pada gambar untuk memperbesar

 

Kembali ke Tab

Kembali ke Atas

 

Rekomendasi Bacaan (Unduh Cuma-Cuma)

Kalachakra and the Twenty-Five Kulika Kings (klik untuk mengunduh PDF)

The Shambhala Myth and the West (klik untuk mengunduh PDF)

Guide to Shambhala in an Unique Manuscript (klik untuk mengunduh PDF)

Studies in the Kalachakra Tantra (klik untuk mengunduh PDF)

Teks di atas berasal dari pelayanan penyediaan buku yang menyediakan teks-teks ini untuk diunduh secara cuma-cuma. Mereka tersedia di sini untuk tujuan pendidikan dan non-komersial.

 

Sumber:

  • “Kalachakra”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 5 February 2019, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Kalachakra (accessed 10 February 2019).
  • “Shambhala”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 14 February 2019, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Shambhala (accessed 15 February 2019).
  • “Lobsang Palden Yeshe, 6th Panchen Lama”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 23 June 2017, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Lobsang_Palden_Yeshe,_6th_Panchen_Lama (accessed 10 February 2019).
  • “Panchen Lama”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 12 January 2019, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Panchen_Lama (accessed 10 February 2019).
  • “Tashi Lhunpo Monastery”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 10 January 2019, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Tashi_Lhunpo_Monastery (accessed 10 February 2019).
  • “Kings of Shambhala”, Wikipedia, the Free Encyclopedia, 05 January 2019, [website], https://en.wikipedia.org/wiki/Kings_of_Shambhala, (accessed 10 February 2019).
  • Lai, David, “Historic First Kalachakra Initiation by the 11th Panchen Lama”, 25 July 2016, [website], https://www.tsemrinpoche.com/?p=105553, (accessed 10 February 2019).
  • “Powerful Kalachakra”, 27 November 2018, [website], https://www.tsemrinpoche.com/?p=179689, (accessed 10 February 2019).
  • “House of Shambhala”, 8 September 2018, [website], https://www.tsemrinpoche.com/?p=171817, (accessed 10 February 2019).
  • “Introduction to the Kalachakra”, His Holiness the 14th Dalai Lama of Tibet, [website], https://www.dalailama.com/teachings/kalachakra-initiations, (accessed 10 February 2019).
  • “The Kalachakra Initiation Explained”, [website], http://www.buddhanet.net/kalini.htm, (accessed 10 February 2019).
  • Watt, Jeff, “Buddhist Deity: Kalachakra Main Page”, Himalayan Art Resources, May 2017, [website], https://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=167, (accessed 10 February 2019).
  • Watt, Jeff, “Buddhist Deity: Kalachakra (4 faces, 24 arms)”, Himalayan Art Resources, [website], https://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=1810, (accessed 10 February 2019).
  • Watt, Jeff, “Buddhist Deity: Kalachakra, Heruka”, Himalayan Art Resources, November 2000, [website], https://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=1528, (accessed 10 February 2019).
  • Watt, Jeff, “Kings: Shambhala Kings Main Page”, Himalayan Art Resources, April 2007, [website], https://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=1111, (accessed 10 February 2019).
  • Watt, Jeff, “Subject: Shambhala Battle & King Rudracharin”, Himalayan Art Resources, July 2006, [website], https://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=2381, (accessed 10 February 2019).
  • Berzin, Dr. Alexander, “What Is Kalachakra?”, Study Buddhism by Berzin Archives, [website], https://studybuddhism.com/en/tibetan-buddhism/tantra/kalachakra/what-is-kalachakra, (accessed 10 February 2019).
  • Berzin, Dr. Alexander, “Shambhala: Myths and Reality”, Study Buddhism by Berzin Archives, [website], https://studybuddhism.com/en/advanced-studies/history-culture/shambhala/shambhala-myths-and-reality, (accessed 10 February 2019).
  • LePage, Victoria, “Shambhala: The Fascinating Truth Behind the Myth of Shangri-la, Google Books, https://books.google.com.my/books?id=oUIum8H_9qgC&redir_esc=y, (accessed 10 February 2019).
  • Holloway, April, “Mysteries of the Kingdom of Shambhala”, Anchient Origins, 5 April 2014, [website], https://www.ancient-origins.net/ancient-places-asia/mysteries-kingdom-shambhala-001529, (accessed 10 February 2019).
  • Wood, Michael, “Shangri-la” BBC, 17 February 2011, [website], http://www.bbc.co.uk/history/ancient/cultures/shangri_la_01.shtml, (accessed 10 February 2019).
  • “Shambhala”, Chinese Buddhist Encyclopedia, 9 October 2017, [website], http://www.chinabuddhismencyclopedia.com/en/index.php/Shambhala, (accessed 10 February 2019).
  • “6th Panchen Lama, first “Panchen Erdeni” Conferred by Chinese Emperor”, TIBET.CN, 3 December 2015, [website], http://eng.tibet.cn/eng/culture/arts/201512/t20151203_5776981.html, (accessed 10 February 2019).
  • Horst, Kristen Nehemiah, “Lobsang Palden Yeshe, 6th Panchen Lama”, Better World Books, [website], https://www.betterworldbooks.com/product/detail/lobsang-palden-yeshe-6th-panchen-lama-6135942697, (accessed 10 February 2019).
  • “Tashilhunpo Monastery – Official Seat of the Panchen Lama”, 2019 China Discovery, [webite], https://www.chinadiscovery.com/tibet/shigatse/tashilhunpo-monastery.html, (accessed 10 February 2019).
  • Roerich, Nicholas, “Shambhala: In Search of the New Era”, Vermont, Inner Traditions, 1990.
  • Grunwedel, Albert, “The Journey to Sambhala”, Munich, Royal Bavarian Academy of Sciences, 2010.

 

Untuk membaca informasi menarik lainnya:

 

Tags: , , , , ,

Please support us so that we can continue to bring you more Dharma:

If you are in the United States, please note that your offerings and contributions are tax deductible. ~ the tsemrinpoche.com blog team

DISCLAIMER IN RELATION TO COMMENTS OR POSTS GIVEN BY THIRD PARTIES BELOW

Kindly note that the comments or posts given by third parties in the comment section below do not represent the views of the owner and/or host of this Blog, save for responses specifically given by the owner and/or host. All other comments or posts or any other opinions, discussions or views given below under the comment section do not represent our views and should not be regarded as such. We reserve the right to remove any comments/views which we may find offensive but due to the volume of such comments, the non removal and/or non detection of any such comments/views does not mean that we condone the same.

We do hope that the participants of any comments, posts, opinions, discussions or views below will act responsibly and do not engage nor make any statements which are defamatory in nature or which may incite and contempt or ridicule of any party, individual or their beliefs or to contravene any laws.

Leave a Reply

Maximum file size: 15MB each
Allowed file types: jpg, jpeg, gif, png

 

Maximum file size: 50MB
Allowed file type: mp4
Maximum file size: 15MB each
Allowed file types: pdf, docx

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Chat

BLOG CHAT

Dear blog friends,

I’ve created this section for all of you to share your opinions, thoughts and feelings about whatever interests you.

Everyone has a different perspective, so this section is for you.

Tsem Rinpoche


SCHEDULED CHAT SESSIONS / 聊天室时间表

(除了每个月的第一个星期五)
SUNDAY
8 - 9PM (GMT +8)
4 - 5AM (PST)

UPCOMING TOPICS FOR FEBRUARY / 二月份讨论主题

Please come and join in the chat for a fun time and support. See you all there.


Blog Chat Etiquette

These are some simple guidelines to make the blog chat room a positive, enjoyable and enlightening experience for everyone. Please note that as this is a chat room, we chat! Do not flood the chat room, or post without interacting with others.

EXPAND
Be friendly

Remember that these are real people you are chatting with. They may have different opinions to you and come from different cultures. Treat them as you would face to face, and respect their opinions, and they will treat you the same.

Be Patient

Give the room a chance to answer you. Patience is a virtue. And if after awhile, people don't respond, perhaps they don't know the answer or they did not see your question. Do ask again or address someone directly. Do not be offended if people do not or are unable to respond to you.

Be Relevant

This is the blog of H.E. Tsem Rinpoche. Please respect this space. We request that all participants here are respectful of H.E. Tsem Rinpoche and his organisation, Kechara.

Be polite

Avoid the use of language or attitudes which may be offensive to others. If someone is disrespectful to you, ignore them instead of arguing with them.

Please be advised that anyone who contravenes these guidelines may be banned from the chatroom. Banning is at the complete discretion of the administrator of this blog. Should anyone wish to make an appeal or complaint about the behaviour of someone in the chatroom, please copy paste the relevant chat in an email to us at care@kechara.com and state the date and time of the respective conversation.

Please let this be a conducive space for discussions, both light and profound.

KECHARA FOREST RETREAT PROGRESS UPDATES

Here is the latest news and pictorial updates, as it happens, of our upcoming forest retreat project.

The Kechara Forest Retreat is a unique holistic retreat centre focused on the total wellness of body, mind and spirit. This is a place where families and individuals will find peace, nourishment and inspiration in a natural forest environment. At Kechara Forest Retreat, we are committed to give back to society through instilling the next generation with universal positive values such as kindness and compassion.

For more information, please read here (english), here (chinese), or the official site: retreat.kechara.com.

Noticeboard

Name: Email:
For:  
Mail will not be published
  • Samfoonheei
    Thursday, Feb 2. 2023 04:16 PM
    Thank you Rinpoche for this post which tells us more than that. Feeling the pain of those been slaughtered for human consumption. We should gave up eating meat , have compassion for them who cannot speak for themselves. Looking at those pictures feeling uneasy, the way those chickens , pigs and so forth were killed. We have a lot to answer for those sufferings and killing . We have a choice not to kill and to be vegetarian. Choosing to be a vegetarian is the best as there are many benefits. Vegetarians appear to have lower low-density lipoprotein cholesterol levels, lower blood pressure and lower rates of hypertension and type 2 diabetes. Vegetarians also tend to have lower overall cancer rates and lower risk of chronic disease. Hence for health reasons we should go on vegetarian.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/animals-vegetarianism/how-we-have-lulled-ourselves-into-a-false-sense-of-goodness.html
  • Samfoonheei
    Thursday, Feb 2. 2023 04:12 PM
    In northern China, where there is a long history of consuming dog meat to ward off the coldness in the winter. They celebrates the summer solstice by throwing a festival that involves the slaughter and consumption of dog meats. Many people love the sophisticated tastes of their dog-meat cuisine. This tradition is slowly fading out as more and more people are aware of the cruelty and not a healthy life consuming it.
    Reading this blog and looking at the pictures , one could see the poor lady activist kneels down , begging the vendor to buy those dogs from being eaten ahead of the annual dog meat. What she did was incredible ,sold her family’s two houses to fund the rescue of thousands of dogs. This amazing woman has spent large amount of money, saving dogs from the Chinese dog meat festival. She has dedicated her life to actually doing something worth doing about it. Attitudes towards dog consumption in China are changing, but some of these traditions have deep roots.
    Thank you Rinpoche for this wonderful sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/animals-vegetarianism/chinas-animal-crusade.html
  • Samfoonheei
    Thursday, Feb 2. 2023 04:09 PM
    Bigfoot believe may exist somewhere in the wild, but are not recognized by science. Russian president discovers ‘proof’ that fabled creature exists while on short vacation in Kemerovo region. The sighting is understood to have been confirmed by President Putin’s security detachment after they inspected the footprints. Environmental rangers and hunters in remote mountain terrain confirmed it. The Kremlin leader had witnessed’ three Yetis while on a recent helicopter trip to a remote location famous for claimed sightings. Nobody in the world has found the yeti, and it would be good and beneficial to most people. Scientists and yeti enthusiasts believe there may finally be solid evidence that the apelike creature roams in the wild. As long as there are wild places in America, Bigfoot remains a possibility that, it exist.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/current-affairs/vladimir-putin-sights-a-yeti-family.html
  • Samfoonheei
    Saturday, Jan 21. 2023 01:22 PM
    Stephen William Hawking was an English theoretical physicist, cosmologist, and author. Well he was best known for his discovery that black holes emit radiation which can be detected by special instrumentation. His discovery has made the detailed study of black holes possible. Theoretical physicist Stephen Hawking did mentioned in an interview that, it is natural to believe God created the universe. He think science has a more compelling explanation than a divine creator. Religion believes in miracles, but these aren’t compatible with science. Well said by him.
    Everything we have in life is all came as a result of research either from ourselves or others. That’s true.
    Thank you Rinpoche for this informative blog

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/current-affairs/he-says-with-certainty.html
  • Samfoonheei
    Saturday, Jan 21. 2023 01:21 PM
    The Dyatlov Pass incident was an event in which nine Soviet hikers died mysteriously in the northern Ural Mountains in 1959. A group of ski hikers led by Igor Dyatlov just perished in this remote peak. Some of them succumbed to hypothermia, but others were found with grisly injuries. No one yet comes to the conclusion what had exactly happened to them and solved one of history’s greatest adventure .The Dyatlov Pass Incident, came to be known and have inspired countless conspiracy theories, such as Yetis, and even extra-terrestrial contact with the unknown. These men and women were never heard from again. A criminal investigation at the time blamed their deaths on an unknown natural force. Sound interesting. There’s some unknown creatures or aliens maybe that cause their death i do believe., as we are not alone.
    Thank you Rinpoche for this interesting sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/science-mysteries/tell-me-what-you-think.html
  • Samfoonheei
    Saturday, Jan 21. 2023 01:19 PM
    Samaya is a set of Buddhist vows and commitments that are given when one receives empowerment in the Vajrayana Buddhist order. Guru devotion plays an important part in our spiritual practice in Tibetan Buddhism. As explained by Tsem Rinpoche our Guru we must have a good relations and good samaya with the guru. We can never be overstressed on the spiritual path or else our mind will degenerate. Breaking the samaya vows is worse than breaking any other laws. Breaking a samaya results in a heavy bad karma, especially if one disregards or dislikes, the Guru who have gave us the teachings. The Dorje Shugden controversy had cause disharmony and sufferings to many practitioners. For some of them been drifted away causing them to break their samaya then. Interesting read.
    Thank you Rinpoche and Pastor Jean Ai for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/guest-contributors/go-on-break-your-samaya.html
  • Samfoonheei
    Saturday, Jan 21. 2023 01:17 PM
    The Great Buddha of Kamakura, a monumental outdoor bronze statue is one of the most famous icons of Japan. It sits in the grounds of Kotokuin, a temple belonging to the Jodo Sect of Buddhism. An equal opportunities Buddha, guiding all to the Pure Land, built in the mid 13th century and is the second tallest bronze Buddha in Japan. Looks stunning this statue with historical stories behind it. Love to visit and see for myself this magnificent statue.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/i-love-kamakura-buddha-in-japan.html
  • Samfoonheei
    Monday, Jan 16. 2023 01:34 PM
    Yes there are many mysterious creatures everywhere this very planet. Its only that we don’t encounter before. Many mysterious creatures such as Owl man , ‘lizard man, Flatwoods monster may exist after-all. Many of them exist in the wild but scientist do not believed it exist by mainstream science. Reading this blog is an eye-opening for me. Just fantastic knowing such creatures do exist. Some of them looks scary to me like the Canvey island monster which had horse-shoe shaped feet with five toes and it had no ‘arms’. Even though its just a carcass seen on the shores of Canvey Island in England. Ferociously looking . Bunyip another creatures found in swamps which has a dog-like face, dark fur, horse-like tail and walrus-like horns. Interesting reading to know that there are some of the mysterious creatures .
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/science-mysteries/10-most-horrifying-creatures.html
  • Samfoonheei
    Monday, Jan 16. 2023 01:31 PM
    Looking at those pictures in this blog says all. Hundred thousands of monks and locals from different monasteries receiving Dorje Shugden initiation from highly attained Lamas. From one picture where thousands of tents were set up outside the monastery hosting the ceremony for the thousands of attendees. Thousands of fortunate practitioners were fortunate to receive initiation of Dorje Shugden from high lamas of the Gelug lineage . We are fortunate to read and watch those updates from Tibet and else where.
    Thank you Rinpoche for these updates.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/current-affairs/updates-from-tibet-and-elsewhere.html
  • Samfoonheei
    Monday, Jan 16. 2023 01:29 PM
    Dorje Shugden is a fully enlightened Buddha who has been worshipped throughout history by several schools in Tibetan Buddhism. The protector Dorje Shugden was arose from a lineage of highly attained masters who have been taking rebirth life after life. Solely for the benefit of all sentient beings and the preservation of the Dharma. Having to ask for divine help is no exception for Keng Nam. Dorje Shugden the Dharma Protector will help everyone regardless of race and faith in difficult time when pray to him sincerely.
    Thank you Rinpoche and Keng Nam for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/guest-contributors/calling-upon-the-divine.html
  • adamhaissam
    Saturday, Jan 14. 2023 08:09 PM
    We have sugarmummy and daddy in mostly all main cities in SINGAPORE/Malaysia including KL,Ipoh, Jb, Penang,Petaling Jaya,Kota bharu,Seremban,Kuching,Kota Kinabalu also Singapore and Brunei. To qualify, you must be romantic, honest and with good personalty and attitude. Contact us now for more info. Whatsapp +60149346413 and get connection within 24 hours.You get up to RM8000 when you spend a wonderful night with our sugarmummy or sugardaddy.If you need a SugarMummy OR Sugardaddy urgently kindly and quickly contact agent Mrs Shahira for your own SugarMummy Connection (via whatsApp ++60149346413) and don’t forget to testify about her too once you have been hookup. For urgent and legit hookup whatsApp US now on +60149346413 to get connected… The only money i pay is the regiretion fee payment which is (850rm) only and there’s NO HIDDEN PAYMENT

    Contact now for membership registration and get hookup
    WhatsApp:+60149346413 Thanks to agent Mrs Shahira…..
  • Samfoonheei
    Wednesday, Jan 11. 2023 02:27 PM
    The interest in vegan and vegetarian products is on the rise, especially after consumers become aware of the cruelty involved in producing animal-based foods. Undercover footage released shows slaughterhouse brutal treatment of animals such as pigs , sheep and so forth being kicked, beaten, and thrown into cages before they are slaughtered. The animals should be immediately slaughtered so as to spare them the pain, stress, and anxiety. Secret footage shot inside a slaughterhouse has reignited a row over animal cruelty. Its sad watching this video. As results leading animal protection organisation Animal Aid requested more CCTV cameras to be place in all abattoirs. The public do not want to see animals treated in such a cruel way . To go vegetarian will be the best choice.
    Thank you Rinpoche for this sharing high-lighted the sufferings of animals in slaughter house.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/animals-vegetarianism/secret-abattoirs-in-the-uk.html
  • Samfoonheei
    Wednesday, Jan 11. 2023 02:26 PM
    Generally, Buddhist teaching views life and death as a continuum, believing that consciousness continues after death and may be reborn. We’re all going to face death, so we shouldn’t ignore it. Being realistic about our mortality enables us to live a full, meaningful life. Buddhist teachings emphasize the idea that although one’s destiny is always influenced by past karma. That is, our actions in this and previous lives shape the outcome for the next life. Reading this article had me understand further . To learn ,practice Dharma is the best choice I have made. We have our Guru to thank for sharing with us the journey from birth to death. This article gave us a better understanding of what happens to us after we pass away according to Buddhism.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/what-happens-when-we-die-heres-what-buddhism-says.html
  • Samfoonheei
    Wednesday, Jan 11. 2023 02:24 PM
    Palden Tenpai Nyima a native of Tibet, he was the 7th Panchen Lama of Tibet. The Panchen Lama is the second highest ranking lama after the Dalai Lama in the Gelugpa sect of Tibetan . Palden Tenpai Nyima did compiled and edited voluminous collection of tantric deity sadhanas or spiritual practices known as Rinjung Lhantab. Rinjung Gyatsa collection of sadhanas originally came from the great Tibetan scholar Jetsun Taranatha. In turn, Taranatha’s collection was based on the ancient Sadhanamala collection of works by various Indian authors. It was believed to have been compiled between the 5th and 11th centuries which can be traced back to its Indian roots. Its more suitable for higher practitioners . Jetsun Taranatha was one of the important masters of the Jonang lineage, was of crucial importance for the Shangpa Kagyu tradition who had contributed tremendously in Tibetan Buddhism. Interesting read .
    Thank you Rinpoche and Pastor David.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/rinjung-lhantab-the-panchen-lamas-collection-of-sadhanas.html
  • Samfoonheei
    Thursday, Dec 29. 2022 02:00 PM
    Monk robes offering is the highest offering and the most meritorious of skillful deeds. The act of offering robes to the Sangha, one will be free from the suffering of hungry ghost realm and taking rebirth in the human form with complete perfect physical, attractive, conceivably pleasant and beautiful shape. Merits of offering robes to Sangha is extremely glorious. The Sangha has preserved, propagated and taught the teachings of the Buddha for centuries. As a result, millions have benefitted from their diligent effort and compassion, hence with understanding and gratitude, it is meritorious for us to offer robes to monks.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/new-offering-of-monk-robes.html

1 · 2 · 3 · 4 · 5 · »

Messages from Rinpoche

Scroll down within the box to view more messages from Rinpoche. Click on the images to enlarge. Click on 'older messages' to view archived messages. Use 'prev' and 'next' links to navigate between pages

Use this URL to link to this section directly: https://www.tsemrinpoche.com/#messages-from-rinpoche

Previous Live Videos