Semua Tentang Manjushri (Bahasa Indonesia)
(Oleh Tsem Rinpoche)
Manjushri sangat istimewa dalam silsilah Gelugpa, sebagaimana juga di semua silsilah dan tradisi. Dia adalah Yidam utama dari Lama Tsongkhapa, dan Manjushri menganugerahkan semua jenis kesempurnaan mental untuk membantu kita mencapai tingkat realisasi dan wawasan dan pengertian dan penetrasi yang lebih tinggi ke dalam ajaran Buddha. Jadi, memiliki informasi mengenai Manjushri disini bagi banyak orang adalah suatu hal yang sangat berharga, dan banyak orang, karena artikel Manjushri ini, akan terhubung dengan Manjushri, melakukan praktiknya, retret meditasi, mencetak gambarnya, memberikan persembahan kepadanya.
Banyak orang di dunia tidak memiliki wihara, lama luhur dan guru. Sebenarnya, ada banyak orang mencari Dharma namun tidak dekat dengan wihara atau guru, atau walaupun mereka dekat dengan sebuah wihara, wihara tersebut aktif. Ada lebih banyak orang mencari Dharma, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan Dharma. Bahkan ada banyak orang di sekitar Biara Gaden, Sera dan Drepung yang merupakan orang awam, dan mereka tidak pergi ke biara untuk mendapatkan banyak Dharma atau belajar karena sistem monastik tidak disusun agar orang awam dapat belajar Dharma secara cepat, praktis dan mudah. Jadi pelayanan yang kita berikan kepada orang-orang di internet dengan membawa Dharma kepada mereka sangatlah bermanfaat karena ini adalah cara orang awam yang biasa dan sekuler. Disederhanakan, mudah. Dan anda tahu, walaupun mereka tidak bisa melakukannya 100%, itu lebih baik bila semua orang melakukan 10% atau 20% Dharma setiap hari sepanjang hidup mereka, daripada 100%… dibandingkan 100% setiap hari. Lebih baik untuk melakukan 10% dan ini bertambah, dan akan ada hasilnya.
Yang Mulia Manjushri adalah istadewata yang mudah, istadewata yang ampuh, istadewata yang relevan, luar biasa, dan dibutuhkan. Seperti yang dikatakan oleh Geshe Tsultrim Gyeltsen kepada saya dulu, jika kita tidak mengandalkan Manjushri, tidak mungkin kita bisa mencapai pencerahan. Jadi Geshe-la mengatakan dengan sangat jelas kepada saya – dan dengan hormat saya “berdebat” dengannya – jika kita tidak mengandalkan Manjushri, jika kita mengandalkan pada Istadewata lainnya tanpa Manjushri, baik dalam bentuk simbolis, bentuk definitif, atau bentuk utama atau bentuk rupakaya relatif, tidak akan ada pencerahan penuh. Jadi Manjushri sangat, sangat penting. Dan karena Manjushri bermanifestasi dalam empat siklus tantra – kriya, charya, yoga dan maha-anuttarayoga – dia dapat didekati dan dijangkau oleh tantra untuk orang di berbagai tingkat. Jadi untuk tingkat orang yang terendah seperti saya dimana untuk mempraktikkan tingkat tantra yang lebih tinggi sangatlah sulit, saya dapat mempraktikkan Manjushri pada tingkat tantra yang lebih rendah dan itu akan menjadi sangat, sangat bermanfaat. Jadi untuk membuat ini tersedia bagi orang-orang mudah, gratis dan diatur serta dijelaskan adalah sebuah berkah.
Jadi bagi orang untuk mendapatkan petunjuk, sadhana, doa, gambar untuk dicetak, video dan semuanya dimasukkan pada satu tempat adalah hal yang sangat luar biasa indah dan bermanfaat. Dan saya ingin meminta kepada kalian semua untuk membagikan artikel mengenai Manjushri ini setelah saya mempublikasikannya kepada banyak orang lain untuk memberi manfaat bagi mereka. Bagikan kepada yang lainnya dengan satu motivasi agar semakin banyak orang dapat memiliki hubungan dengan Manjushri. Ingat, Manjushri adalah istadewata yang relevan, istadewata yang penting dan sangat mudah untuk dihubungi karena praktiknya lembut, praktis dan dapat diterima. Dan mari berharap agar melalui artikel ini kita dapat mendorong ratusan ribu orang pada waktunya untuk dapat mempraktikkan Manjushri, berhubungan dengan Manjushri, bahkan mendatangi tempat-tempat suci Manjushri, memiliki visi dari Manjushri dan diberkati dan dijaga oleh Manjushri.
Praktik Manjushri yang saya punya disini, anda tidak membutuhkan ijin, inisiasi atau transmisi oral untuk mempraktikannya. Anda dapat langsung mempraktikkannya! Saya sangat senang atas postingan blog ini karena saya tahu manfaat dari praktik Manjushri. Semoga semua orang selalu diberkati.
Terima kasih dan dengan rendah hati,
Tsem Rinpoche
Mengenai Manjushri
Manjushri (dalam Bahasa Sansekerta, atau Wen Shu Shi li dalam Bahasa Mandarin; Monju Bosatsu dalam Bahasa Jepang; Moosoo Posal dalam Bahasa Korea dan Jampel-yang dalam Bahasa Tibet) yang namanya berarti “Kemuliaan yang Lembut” atau “Kemegahan yang Manis” adalah salah satu Bodhisattva terpenting dalam tradisi Mahayana dan Vajrayana. Manjushri juga dikenal sebagai ‘Manjugosha’ (yang Bersuara Lembut) dengan ‘manju’ mengacu pada bagaimana kesinambungan hidupnya telah diubah menjadi ‘lembut’ oleh pemahamannya akan kebijaksanaan transsendental dan ‘gosha’ mengacu pada kemampuannya yang sempurna untuk mengkomunikasikan Dharma secara lisan dan melalui tulisan yang berarti dia menghancurkan delusi dan kebodohan yang menyebabkan semua makhluk tetap berada dalam samsara. Oleh karena itu, nama Manjushri disamakan dengan Budha Kebijaksanaan, tapi seperti yang diindikasikan oleh teks sejarah, istadewata tersebut sangat lebih dari itu. Sering dianggap sebagai Budha Vairocana, Buddha purbakala yang telah ada sejak masa tanpa awal, Manjushri dikatakan telah bersumpah untuk kembali dari satu kehidupan ke kehidupan selanjutnya sampai semua makhluk terbebas dari samsara. Ada banyak versi mengenai asal muasal Manjushri namun terlepas dari versi manapun kisah Bodhisattva ini sangat menarik bagi pembaca, ini tidak bisa dipungkiri bahwa Manjushri adalah intisari dari Kebijaksanaan Transenden yang ingin dicapai oleh semua praktisi Buddha dharma.
Dalam Sutra Avatamsaka, Buddha Shakyamuni menyebutkan bahwa Manjushri sebenarnya adalah seorang Buddha yang telah mencapai pencerahan banyak kalpa yang lalu, tapi memilih kembali untuk membantu Buddha masa kini memutar roda Dharma. Dan di ‘Sutra tentang Susunan Kualitas dari Tanah-Buddha Manjushri’, sang Buddha menggambarkan bagaimana sebagai seorang raja universal, Manjushri telah mencapai seluruh realisasi untuk mencapai pencerahan penuh tapi bukannya menjadi seorang Buddha, Manjushri bersumpah, yang akhirnya dikenal sebagai “auman singa’:
Dalam kehadiran Yang mulia, saya menurunkan
Pemikiran Pencerahan Sempurna
Dan memberikan ajakan kepada semua makhluk,
Saya akan menyelamatkan mereka semua dari siklus kelahiran kembali,
Mulai dari saat ini dan seterusnya,
Sampai saya mencapai Pencerahan Tertinggi,
Saya tidak akan mengizinkan pikiran buruk atau kemarahan,
Ketamakan atau iri hati, untuk mengisi pikiran saya.
Saya akan mempraktikkan Kehidupan Murni,
Dan meninggalkan dosa dan keinginan dasar;
Saya akan mencontoh Buddha
Dengan bersukacita dalam sumpah Perilaku.
Sendiri, saya tidak ingin mencapainya
Pencerahan dengan cara yang cepat;
Saya akan bertahan sampai akhir
Demi satu makhluk saja.
Saya akan memurnikan yang tak terhitung banyaknya
Bidang alam semesta yang tak terbayangkan,
Dan sejak diambilnya nama [baru] ini, [selanjutnya]
Saya akan tinggal di sepuluh penjuru.
Memurnikan perbuatan dari
Tubuh dan ucapan saya sepenuhnya,
Saya akan membersihkan aktivitas pikiran saya juga;
Tidak akan ada perbuatan buruk yang menjadi milik saya.
Begitu besar kasih sayang Manjushri hingga teks Mahayana mengakui bahwa Manjushri telah melayani sebagai pengajar dan instruktur bagi para Buddha sendiri. Dalam banyak sutra, Manjushri-lah yang menanyakan pertanyaan yang tepat sehingga dalam menjawab pertanyaan tersebut, roda Dharma telah diputar. Dalam hal ini, Manjushri dianggap bukan hanya sebagai teman bicara dari sang Buddha tapi juga sebagai juru bicara sang Buddha. Dalam Sutra Lotus, Maitreya menanyakan Manjushri mengapa Sang Buddha memancarkan sinar cahaya yang menerangi delapan belas ribu tanah Buddha bersama dengan para Buddha yang memimpinnya. Maitreya secara spesifik bertanya pada Manjushri karena beliau tahu Manjushri mengetahui jawabannya, setelah melayani banyak Buddha sebelumnya. Manjushri menjawab bahwa itu dikarenakan Sang Buddha sedang hendak mengajar Sutra Lotus yang suci. Pada kesempatan lain, dalam Acintya-buddhavi.saya-nirde’sa, Sang Buddha menginstruksikan Manjushri untuk mengajar, dengan demikian menunjukkan bahwa Sang Buddha menyadari bahwa realisasi kebijaksanaan Manjushri sudah sempurna dan setingkat dengannya.
Posisi suci Manjushri dalam Buddhisme tidak dapat dipungkiri dalam semua tradisi agama Buddha, namun Buddha Kebijaksanaan memiliki kehadiran yang signifikan dalam praktik Buddhisme Tibet. Manjushri, merupakan inkarnasi dari raja Tibet ke-38, Trisong Detsen yang menyebabkan Buddhisme Tibet untuk dibawa ke Negeri Salju, awalnya dengan mengundang Shantarakshita yang Bijaksana, dan setelahnya, Padmasambhava yang telah membuka jalan bagi melembaganya Buddhisme. Dalam beberapa teks, Padmasambhava juga dianggap sebagai emanasi Manjushri, yang memang mungkin karena Buddha tidak terbatas pada satu emanasi dan dapat, jika dibutuhkan bermanifestasi dalam beberapa bentuk agar Dharma dapat dilestarikan. Selain itu, telah dikatakan bahwa astrologi Tibet dimulai dari ajaran Manjushri saat beliau sedang bermeditasi di Pegunungan Lima Puncak di Tiongkok (Wu Taishan).
Klik untuk memperbesar
Jelas, manifestasi Buddha Manjushri tak terhingga jumlahnya, sebagai Guru biasa yang akhirnya pergi untuk mendapatkan kebebasan sempurna untuk memberi contoh bagi para praktisi atas potensi dan kemungkinan untuk mencapai Kebuddhaan; sebagai Yidam meditasi seperti Yamantaka, Istadewata berkepala banteng yang menakutkan; dan sebagai Pelindung Dharma yang tercerahkan seperti Kalarupa, dengan manifestasi terbarunya yang berbentuk duniawi sebagai Raja Pelindung Dorje Shugden. Peran manjushri dalam kehidupan praktisi Dharma sudah lengkap dan menyeluruh – dia terus menerus datang dalam bentuk ‘Manjushri Luar’ untuk mengajarkan pandangan murni dan untuk membentuk keyakinan pada praktisi yang tulus sampai mereka dapat terhubung dengan ‘Manjushri Batin’ dan akhirnya merealisasikan ‘Manjushri Rahasia’ yang akan menuntun mereka ke pencerahan penuh.
Karena pencerahan sempurna hanya dapat dicapai oleh kesempurnaan seorang praktisi dari dua akumulasi – Bodhicitta dan Kebijaksanaan, apa yang Manjushri wujudkan adalah komponen yang sangat diperlukan dalam Kebudhaan. Oleh karena itu Manjushri sering disebut sebagai ‘Ayah dari semua Buddha’ Mahasidha yang agung, Geshe Tsultrim Gyaltsen dari Biara Ganden pernah mengatakan bahwa, “Pencerahan tidak dapat dicapai tanpa Manjushri.”
Mitos dan Legenda Tentang Manjushri
Manjushri memiliki keberadaan yang luar biasa besar dalam semua tradisi Buddhisme sehingga menyetujui satu narasi saja mengenai asal usulnya berarti menyangkal pemuliaan lain dari Buddha yang agung ini. Berikut adalah beberapa mitos mengenai Manjushri berdasarkan beberapa tradisi:
1. Menurut kitab suci Buddhisme, Lembah Kathmandu dulunya merupakan danau yang dipenuhi ular – dan ahli geologis setuju mengenai danau itu (lihat Sejarah). Sembilan puluh-satu kalpa yang lalu, muncullah bunga teratai yang sempurna dan bercahaya di permukaan danau tersebut, yang dinyatakan oleh para dewa sebagai Swayambhu (“tercipta-sendiri”), esensi abstrak dari Kebuddhaan. Manjushri, Bodhisattva pengetahuan, mengeluarkan pedangnya dan memotong sebuah jurang di Chobar, selatan dari Kathmandu, untuk mengeringkan danau itu dan memperbolehkan manusia untuk menyembah Swayambhu. Saat air surut, bunga teratai itu mengambil tempat di atas sebuah bukit dan Manjushri mendirikan sebuah kuil untuknya, sebelum mengalihkan perhatiannya untuk membersihkan lembah ular dan mendirikan peradaban pertamanya. Legenda lainnya menceritakan bagaimana, saat Manjushri memotong rambutnya di Swayambhu, helai rambut yang jatuh di atas permukaan tanah tumbuh menjadi pepohonan dan kutu rambut menjelma menjadi kera. [Sumber: Nepal oleh David Reed, James McConnachie, hal 128]
2. Menurut tradisi Tiongkok, untuk mewujudkan manifestasi Manjushri, Sang Buddha memancarkan sinar keemasan dari dahinya. Cahaya tersebut menembus pohon jambu yang tumbuh dari fondasi gunung Buddhis yang paling suci di Tiongkok, yang kini bernama Wu Tai Shan. Bunga teratai tumbuh dari pohon tersebut dan dari dalam bunga itu lahirlah seorang pangeran bijak, juga dikenal sebagai Pangeran Kerajaan dari alam Buddha. Dia terlahir tanpa ayah dan ibu dan oleh karena itu bebas dari kontaminasi umum duniawi. Di tangan kanannya, dia mengacungkan pedang membara, yang membelah awan kebodohan. Di tangan kirinya dia memegang sebatang bunga teratai, yang diatasnya terdapat kitab Prajnaparamita, Risalah tentang Kebijaksanaan Transenden. Pedang itu juga melambangkan kebijaksanaannya yang sempurna dan kecerdasannya yang menembus celah pemikiran Budha yang terdalam, menyingkirkan keraguan yang tadinya tidak dapat dihilangkan. [Sumber: Gods of Northern Buddhism, oleh Alice Getty]
3. Cerita ketiga mengenai Manjushri menjabarkan tidak hanya mengenai keyakinan Buddha pada Bodhisattva tersebut tapi juga mengenai manfaat luar biasa yang bisa diperoleh oleh seseorang dari praktiknya, dan ini adalah cerita mengenai Raja Ajatashatru. Raja tersebut telah melakukan dua kejahatan ekstrim – membunuh ayahnya sendiri dan memperkosa seorang bikhuni yang telah ditasbihkan sepenuhnya, yang merupakan seorang makhluk superior. Akibat karma dari kejahatan tersebut seharusnya terlalu buruk untuk dipikirkan, tapi Raja tersebut menyesal dan mencari nasehat dan bimbingan dari Sang Buddha. Sang Buddha merujuk Raja itu kepada Manjushri, dimana sang Buddha tahu bahwa Manjushri dapat menyelamatkan Raja Ajatashatru.
Karena nasehat Sang Buddha, Sang Raja memiliki keyakinan yang luar biasa terhadap Manjushri. Saat bertemu dengan Manjushri, Sang Raja mempersembahkan sebuah jubah yang sangat mahal kepada Sang Bodhisattva, tapi Manjushri menghilang saat dia sedang memberikan pakaian itu. Sang Raja bertanya-tanya… Siapa Manjushri? Dimana Manjushri? Saat tenggelam dalam pikiran ini, Sang Raja menyadari bahwa dia tidak dapat menemukan, Manjushri yang nyata, dan dia hampir mengerti definisi kekosongan. Karena Manjushri telah menghilang, Sang Raja memutuskan untuk memakai jubah itu, tapi saat dia mengenakannya di punggung Sang Raja mulai menanyakan keberadaannya sendiri: “Siapa saya? Dimana saya? Siapa Raja? Dimana Raja?’ Ketidakmampuannya untuk menemukan keberadaan nyata dari dirinya, yang benar-benar ada, atau raja yang benar-benar ada; dia berhasil mengerti makna kekosongan. Dia lalu bermeditasi dan dengan cepat mencapai realisasi langsung dari kekosongan, sehingga menjadi seorang makhluk superior di jalan penglihatan.
Cerita ini mengilustrasikan bahwa pada ajaran Hinayana, seseorang yang telah melakukan satu dari lima perbuatan dengan retribusi langsung tidak dapat menjadi seorang makhluk yang superior di kehidupan yang sama, tapi sebagai hasil dari berkat Manjushri, dan keyakinan Raja Ajatashatru pada Sang Bodhisattva, dia dapat memurnikan karma negatifnya yang berat dan mencapai jalan penglihatan.
Manjushri Sebagai Guru
Manjushri dianggap sebagai master silsilah utama oleh penganut tradisi Kadampa dan Gelugpa sebagaimana sering digambarkan dalam Pohon Guru Gelugpa dan Manjushri adalah sumber dari garis tidak terputus dari guru tercerahkan, setiap pemegang dan pelindung dari Dharma murni yang diajarkan oleh Buddha Shakyamuni. Manjushri juga merupakan guru silsilah dari sejumlah tradisi tantra, disebut sebagai ‘ayah’ dari beberapa kelas tantra seperti Guhyasamaja. Manjushri juga bermanifestasi sebagai beberapa guru yogi terpenting yang memberikan dampak luar biasa dalam agama Buddha Tibet, seperti Longchenpa dan juga Sakya Pandita Kunga Gyaltsen, pendiri dari silsilah Sakya dan tentu saja sebagai Lama Tsongkhapa.
Buddha Shakyamuni meramalkan bahwa Manjushri akan terlahir sebagai Je Tsongkhapa, digambarkan disini dengan Vajrayogini (kiri) dan Pelindung Dharma Setrap (kanan). (klik untuk memperbesar)
Inkarnasi Manjushri sebagai seorang anak laki-laki yang kemudian dikenal sebagai Je Tsongkhapa telah diramalkan oleh Buddha Shakyamuni. Sang Buddha mengatakan kepada muridnya, Ananda bahwa 1,500 tahun kemudian, Manjushri akan terlahir di Tibet dan akan merevitalisasi ajaran Sang Buddha yang pada saat itu mengalami kemerosotan. Sang Buddha berkata bahwa anak laki-laki itu akan mendirikan sebuah biara yang hebat dengan nama “Ge” (Kebajikan) dan akan menyatukan semua ajaran dan praktik yang benar, mencapai kebebasan sempurna dan meneruskan silsilah yang telah dimurnikan kepada banyak orang dan membuat praktik Dharma sangat kokoh di Negeri Salju. Tindakan dan praktik murni Lama Tsongkhapa akan membungkam para guru dan praktisi palsu yang telah merajalela saat itu dan dia akan kembali memberlakukan kembali ajaran Sang buddha seperti pada kejayaan semulanya dan praktik Dharma untuk mengikuti aturan, prosedur monastik, murid dan pendidikan yang benar.
Manjushri Sebagai Yidam
Walaupun Manjushri adalah Bodhisattva yang diasosiasikan dengan kebijaksanaan transenden dalam sekolah Buddhisme Mahayana, Vajrayana meyakini Manjushri sebagai Buddha yang tercerahkan dengan sempurna kepada siapa seseorang dapat mencari perlindungan sebagai Yidam.
Apakah Yidam itu?
Yidam (juga dikenal sebagai Istadewata dalam Bahasa Sansekerta dan Ben Zun dalam Bahasa Mandarin) di Bahasa Tibet kata yang terdiri dari ‘Yi’ artinya “pikiran’ dan ‘Dam’ artinya ‘untuk menjaga’. Jadi Yidam sebenarnya berarti sesuatu yang memegang pikiran kita. Frasa ini secara harfiah artinya Yidam dimaksudkan untuk menjaga pikiran kita dari karma, kecenderungan dan kondisi mental yang negatif. Praktik Yidam merupakan fokus utama dari praktik Tantra dan pada dasarnya merupakan Buddha meditasi atau pembimbing yang membantu kita untuk memurnikan karma dan mencapai pencerahan.
Bagi praktisi tantra, Yidam merupakan komponen penting dari praktik dan dianggap sebagai perwujudan dari Dharma. Yidam dapat diterjemahkan untuk dimengerti sebagai “istadewata meditasi” atau “istadewata pembimbing’ artinya melalui ikatan pikiran seseorang dengan istadewata meditasinya, ajaran Buddha dapat dihidupkan dalam aliran pikiran seseorang dengan cepat. Yidam menghubungkan pikiran praktisi dengan potensi penuh pikirannya, mengikat praktisi ke cara hidup yang murni yang hanya dapat diperoleh dari hasil pengalaman spiritual yang mendalam dan dengan demikian, dapat dianggap sebagai “sumber” dari realisasi yang dalam.
Dalam agama Buddha Tibet, Yidam adalah salah satu dari ‘Tiga Akar’ yang mengacu pada rangkaian kedua (batin) dalam rumusan perlindungan Buddhisme Tibet. Rangkaian pertama dari rumusan perlindungan sudah tentu adalah Sang Buddha, Dharma dan Sangha. ‘Yidam’ melambangkan akar dari ‘Metode’ dan ‘Pencapaian’ dengan kedua Akar lainnya yaitu Guru (akar Pemberkatan) dan Pelindung (akar Aktivitas).
Bentuk Yidam bisa bermacam-macam, mulai dari yang damai hingga murka dan bentuk Yidam mencerminkan apa yang dibutuhkan oleh seorang praktisi tertentu untuk berlatih agar bisa bangkit. Begitu juga, saat praktik meditasi pribadi (sadhana), seorang yogi (praktisi yoga) mengindentifikasikan bentuk, pikiran dan sifatnya sesuai dengan Yidam untuk memicu transformasi dalam mencapai kualitas pencerahan dari Yidam tersebut.
Manjushri sebagai Pelindung Dharma
Praktik Tantra dimaksudkan untuk melimpahkan manfaat yang luar biasa pada praktisinya dalam waktu yang singkat dan oleh karena itu, melibatkan pemurnian karma negatif yang signifikan dan inilah saat rintangan akan muncul. Demikian juga, peran Pelindung Dharma adalah untuk melindungi praktisi dan memberikan kondisi yang paling kondusif bagi praktisi untuk melakukan praktik secara efektif.
Pelindung Dharma adalah bagian ketiga dari ‘Tiga Akar’ yang disebutkan di atas dan Manjushri yang bermanifestasi sebagai Guru dan Yidam juga mengambil bentuk ini. Pelindung Dharma yang lebih dikenal sebagai emanasi dari Manjushri adalah Kalarupa, Mahakala Berwajah Empat dan Dorje Shugden.
Kalarupa dianggap sebagai pelindung tantra Yamantaka dan membantu menundukkan kesulitan yang muncul selama praktik tantra Yamantaka. [Lihat selengkapnya: https://www.tsemrinpoche.com/?p=214584]. Emanasi lain dari Manjushri sebagai Pelindung Dharma adalah Mahakala Berwajah Empat yang merupakan pelindung tantra Guhyasamaja dan Chakrasamavara. Mahakala Berwajah Empat juga efektif untuk menundukkan emosi penderitaan berupa kemarahan dan depresi.
Yang terakhir, Pelindung Dharma yang paling baru dan karenanya ampuh (berdasarkan kedekatan karma kita dengan sang pelindung) yang merupakan emanasi dari Manjushri adalah Dorje Shugden. Dorje Shugden bangkit sebagai pelindung khusus ajaran Lama Tsongkhapa tentang Kekosongan dan sangat dihormati oleh para lama Gelugpa tertinggi di zaman modern.
Ikonografi Manjushri
Manjushri umumnya digambarkan sebagai seorang pemuda berusia 16 tahun untuk mencerminkan kemurnian dari hasil dari pencapaiannya sebagai Bodhisattva. Watak mudanya juga menunjukkan fakta bahwa kebijaksanaannya bukan diperoleh dari hasil belajar bertahun-tahun, melainkan sudah tertanam dalam aliran pikirannya.
Manjushri sebagai seorang pemuda berusia 16 tahun, membawa pedang kebijaksanaan (klik untuk memperbesar)
Mungkin ciri Manjushri yang paling dikenal adalah pedang kebijaksanaan yang dia genggam tinggi-tinggi di tangan kanannya. Pedang yang sering digambarkan membara, adalah pedang dua-sisi yang merupakan simbol dari bagaimana praktik Manjushri memangkas ketidaktahuan dan ego. Manjushri yang memegang pedang membara menandakan bahwa dengan praktik ini, seseorang dapat mencapai kebijaksanaan transenden yang memutuskan akar ketidaktahuan dan khayalan yang mengikat kita dalam siklus keberadaan. Dalam ikonografi Buddhisme Tibet, api yang membara melambangkan transformasi. Pedang Manjushri kadang digantikan dengan sebuah tongkat ruyi, terutama pada seni Buddhisme Tiongkok dan Jepang. Tongkat itu merupakan representasi dari diskusi Sutra Vimalakirti antara Manjushri dengan orang awam Vimalakirti.
Kitab suci di atas bunga teratai yang dipegang di tangan kiri Manjushri adalah Sutra Kebijaksanaan Sempurna (Prajnaparamita), melambangkan pandangan benarnya akan Kekosongan yang muncul dari Kasih Sayang. Seperti kebanyakan tokoh Bodhisattva, Manjushri duduk di atas bunga teratai karena bunga teratai tumbuh di air berlumpur tapi tetap tidak ternoda. Bunga teratai dianggap sebagai representasi dari sifat tercerahkannya, yang bisa ada di tengah delusi tanpa terdampak olehnya. Manjushri kadang digambarkan menunggangi seekor singa atau duduk di atas kulit singa yang melambangkan penggunaan kebijaksanaan untuk menjinakkan pikiran atau ego. Singa tersebut juga melambangkan keberanian yang muncul karena telah mendapatkan kebijaksanaan dari Manjushri.
Manfaat Dari Mengandalkan Manjushri
- Membuka pintu untuk mengembangkan kebijaksanaan
- Mempertinggi kecerdasan dan meningkatkan ingatan dan kreativitas
- Meningkatkan kemampuan dalam berdebat, menjelaskan, dll.
- Memenuhi harapan baik
- Menghilangkan kesulitan/masalah
- Memurnikan karma buruk
- Mendapatkan pahala untuk lebih mengerti dharma dan untuk mencapai pencerahan
- Mendapatkan kewaskitaan
- Membantu mencapai pencerahan yang sempurna
Kediaman Manjushri
Ada beberapa cerita tentang Manjushri yang memiliki Tanah Murni di alam semesta lain di mana ia mengambil bentuk aslinya sebagai Buddha yang tercerahkan sepenuhnya. Namun, Wu Taishan di Tiongkok utara telah ditetapkan sebagai tempat tinggalnya di bumi. Wu Taishan berarti “Gunung Lima Dataran Tinggi” dan merupakan tujuan ziarah suci umat Buddha yang terletak di provinsi timur laut Cina, Shanxi.
Wu Taishan adalah gunung pertama dari empat gunung yang diidentifikasi sebagai Bodhimanda (istilah yang berarti ‘tempat kebangkitan’) dan sering disebut sebagai “yang pertama di antara empat gunung besar”. Gunung ini diidentifikasi berdasarkan sebuah bagian dalam Avataṃsaka Sūtra, yang menggambarkan tempat tinggal banyak Bodhisattva. Dalam kitab suci ini, Manjushri dikatakan bertempat tinggal di sebuah “gunung yang dingin dan jernih” di Timur Laut, yaitu Gunung Wutai. Gunung-gunung lain yang dianggap sebagai tempat kebangkitan yang serupa adalah Gunung Putuo (Avalokiteshvara); Gunung Emei (Samantabadhra); dan Gunung Jiuhua (Ksitigarbha). Manjushri dikatakan sering muncul di gunung tersebut, memancar sebagai peziarah biasa, biksu, atau yang paling sering, awan lima warna yang tidak biasa.
Sejarah Singkat
Menurut guru Buddhis Zhencheng dari Dinasti Ming, kuil pertama yang dibangun di Gunung Wutai diperintahkan oleh Kaisar Han pada tahun 68 Masehi. Saat itu adalah masa ketika para guru Buddha dari India berkunjung ke Tiongkok untuk mempromosikan agama Buddha. Gunung Wutai dipilih sebagai tempat pembangunan kuil karena berdasarkan topografi tempat tersebut, mirip dengan Vulture Peak di India, tempat di mana Buddha Shakyamuni memberikan ceramah tentang Sutra Teratai.
Beberapa orang mengatakan bahwa karena teladan para Kaisar Tiongkok, Gunung Wutai berkembang menjadi tempat bagi 200 kuil dan biara. Hubungan antara Gunung Wutai dan Manjushri sudah terjalin sejak awal, menurut sebuah sutra yang berasal dari tahun 418 Masehi, dikatakan bahwa Manjushri tinggal di Gunung Qingliang yang biasanya dianggap sebagai Gunung Wutai.
Gunung Wutai mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti Sui dan Tang, di mana sebanyak 360 kuil dibangun dan menarik banyak biksu dari India, Nepal, Sri Lanka, Burma, Vietnam, Korea, dan Jepang yang kemudian menyebarkan ajaran Manjushri ke seluruh penjuru Asia. Jumlah kuil mulai menurun menjadi 70 buah pada masa Dinasti Song dan Yuan, tetapi aula baru juga dibangun selama masa ini. Ketika ajaran Buddhisme Tibet menyebar ke seluruh Tiongkok, pada saat yang sama, mereka berdampingan harmonis dengan ajaran Buddha Han.
Gunung Wutai berkembang sekali lagi selama dinasti Ming, dan banyak kuil dibangun kembali termasuk Pagoda Putih Besar dan biara umum Sukhavati. Jumlah kuil meningkat sekali lagi menjadi 104. Untuk menciptakan perdamaian, dan untuk menunjukkan contoh yang baik kepada rakyat negaranya dan negara-negara tetangga, Kaisar Qing sering melakukan banyak ziarah ke Gunung Wutai. Pada saat itu, ada sekitar 25 wihara Tibet dan 97 komunitas Buddha Han yang hidup berdampingan.
Karena ketidakstabilan sosial menjelang akhir dinasti Qing dan tahun-tahun awal Republik Tiongkok, Gunung Wutai mengalami kemunduran drastis. Baru pada tahun 1949, upaya-upaya dilakukan untuk menghidupkan kembali biara-biara dan kuil-kuil. Hingga saat ini, terdapat 68 kuil di gunung ini: 21 di luar dan 47 di dalam lingkaran lima teras; 7 lamaseries Tibet, dan 40 wihara Buddha Han; 5 wihara dan 1 wihara umum.

Gunung Wutai (secara harfiah berarti “Gunung Lima Dataran Tinggi”), juga dikenal sebagai Gunung Wutai atau Qingliang Shan, adalah sebuah situs suci Buddha yang terletak di hulu sungai Qingshui, di provinsi Shanxi di timur laut Tiongkok, dikelilingi oleh sekelompok puncak datar (Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah). Puncak Utara, yang disebut Beitai Ding atau Yedou Feng, adalah yang tertinggi (3.061 m), dan merupakan titik tertinggi di Cina utara. Sebagai tuan rumah bagi lebih dari 53 biara suci, Gunung Wutai merupakan rumah bagi banyak biara dan kuil terpenting di Tiongkok. Tempat ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2009.
Gunung Wutai adalah salah satu dari Empat Gunung Suci dalam agama Buddha Tiongkok. Masing-masing dari keempat gunung tersebut dipandang sebagai bodhimaṇḍa dari salah satu dari empat bodhisattva agung. Wutai adalah rumah dari Bodhisattva kebijaksanaan, Manjushri atau Wenshu dalam bahasa Mandarin. Manjushri telah dikaitkan dengan Gunung Wutai sejak zaman kuno. Paul Williams menulis:
“Rupanya hubungan Manjushri dengan Wutai Shan di Tiongkok utara telah dikenal pada zaman klasik di India sendiri, yang diidentifikasikan oleh para cendekiawan Tiongkok dengan gunung di ‘timur laut’ (jika dilihat dari India atau Asia Tengah) yang disebut sebagai tempat tinggal Manjushri dalam Avatamsaka Sutra. Konon, ada ziarah dari India dan negara-negara Asia lainnya ke Wutai Shan pada abad ketujuh.”
Gunung Wutai adalah gunung pertama dari empat gunung yang diidentifikasi dan sering disebut sebagai “yang pertama di antara empat gunung besar”. Gunung ini diidentifikasi berdasarkan sebuah bagian dalam Avatamsaka Sutra, yang menggambarkan tempat tinggal banyak bodhisattva. Dalam bab ini, Manjushri dikatakan bertempat tinggal di sebuah “gunung yang dingin dan jernih” di timur laut. Ini berfungsi sebagai piagam untuk identitas gunung tersebut dan nama alternatifnya “Gunung Dingin yang Jernih” (bahasa Mandarin: QingLiang Shan).
Bodhisattva diyakini sering muncul di gunung ini, dalam bentuk peziarah biasa, biksu, atau yang paling sering adalah awan lima warna yang tidak biasa. Gunung Wutai juga memiliki hubungan yang langgeng dengan Buddhisme Tibet.
Gunung Wutai merupakan rumah bagi beberapa bangunan kayu tertua di Tiongkok yang masih ada dan bertahan sejak era Dinasti Tang (618-907). Termasuk di antaranya adalah aula utama Kuil Nanchan dan Aula Timur Kuil Foguang yang masing-masing dibangun pada tahun 782 dan 857. Keduanya ditemukan pada tahun 1937 dan 1938 oleh tim sejarawan arsitektur termasuk sejarawan terkemuka di awal abad ke-20, Liang Sicheng. Desain arsitektur bangunan-bangunan ini telah dipelajari oleh para sinolog terkemuka dan ahli arsitektur tradisional Tiongkok, seperti Nancy Steinhardt. Steinhardt mengklasifikasikan bangunan-bangunan ini sesuai dengan jenis aula yang ditampilkan dalam buku panduan bangunan Tionghoa Yingzao Fashi yang ditulis pada abad ke-12.
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Wutai
Manjushri Hitam
Manjushri Hitam adalah bentuk kemurkaan untuk penyembuhan dari Manjushri yang membantu kita untuk menyembuhkan emosi negatif terdalam dan penderitaan mental yang muncul karena penyakit atau masalah; bentuk ini juga merupakan penawar yang ampuh melawan bahaya dan gangguan yang disebabkan oleh pengaruh negatif astrologi. Di antara banyak manfaat dari praktik ini, latihan ini sangat membantu, baik secara mental maupun fisik, mereka yang menderita dari yang disebut penyakit “tak tersembuhkan” seperti AIDS dan kanker. Ini membantu kita untuk menghadapi dan mengatasi emosi negatif, seperti kemarahan, depresi, ketakutan dan penyangkalan, yang muncul ketika kita ditantang oleh penyakit-penyakit seperti itu dan saat kita dihadapkan pada masalah di kehidupan kita sehari-hari.
Sumber: http://resources.tsemtulku.com/prayers/deity-prayers/a-black-manjushri-sadhana.html
Manjushri Putih
Praktik ini memurnikan ketidaktahuan, karma negatif, mempertajam kecerdasan dan meningkatkan kebijaksanaan dan pahala kita, kemampuan untuk belajar, merefleksikan, berdebat dan meningkatkan kapasitas kita untuk membedakan perbuatan yang dapat bermanfaat bagi diri kita dan semua makhluk hidup.
Sumber: https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/white-manjushri-sadhana.html
Yamantaka
Bentuk murka Manjushri yang berfungsi sebagai Istadewata meditasi adalah Yamantaka (juga dikenal sebagai Vajrabhairava). Yamantaka artinya ‘ Pembunuh Ýama’ (Penguasa Kematian) dan Vajrabhairava artinya “Penguasa Kematian”. Yamantaka memiliki Sembilan kepala yang melambangkan sembilan kategori kitab suci, tiga puluh empat lengan yang memegang berbagai peralatan dan enam belas kaki, menginjak-injak lawan dharma dan beliau dapat muncul dengan atau tanpa pendamping. Bentuk Yamantaka dengan pendamping (Vajravetali) juga dikenal sebagai 13-Istadewata Yamantaka dan bentuk tanpa pendamping dikenal dengan nama Pahlawan Soliter Yamantaka.
Ada sejumlah ciri khusus pada praktik Yamantaka:
- Terlepas dari seberapa parahnya dan berapa banyak karma negatif yang telah diakumulasi, praktik Yamantaka bisa memurnikan akumulasi karma buruk dalam satu masa kehidupan. Tidak ada praktik tantra lainnya yang dapat meyakinkan kita akan hal yang sama;
- Yamantaka adalah yang terganas di jajaran Istadewata Tibet dan oleh karena itu merupakan praktik terampuh untuk mengatasi kemarahan kita yang paling dalam dan mengakar;
- Tidak ada campur tangan yang bersifat supernatural yang dapat mengalahkan dan membuat Yamantaka kewalahan dan oleh karena itu praktik tersebut memberikan perlindungan terbaik dari energi negatif dan merusak;
- Jika dipraktikkan dengan baik dan sungguh-sunguh, tantra Yamantaka telah mencakup segalanya dan paling ampuh dan tercepat untuk menebas akar Kebodohan dan memperkuat ingatan sempurna, kewaskitaan, wawasan yang mendalam, ucapan yang berpengaruh dan pemahaman Dharma yang sempurna;
- Tantra Yamantaka dengan sempurna menyatukan seluruh manfaat Sutra dan juga tantra dalam satu praktik.
Kalarupa (Yama Dharmaraja)
PROFIL YAMA DHARMARAJA:
Identitas: Emanasi Manjushri
Tantra Class: Anuttarayoga, Metode Tantra
Sumber Teks: Tantra Vajrabhairava
Fungsi/aktivitas: Istadewata Pelindung
Metafora: Kematian
KARAKTERISTIK KHUSUS:
Penampilan: Murka dengan kepala banteng
Warna: Hitam/biru tua
Atribut: tongkat tulang & laso
Pendamping: Tsamundi
Mengendarai: Banteng
“Dalam aliran Vajra Vajrayana yang istimewa dan mulia, di antara empat tantra (kriya, charya, yoga dan anuttara) pelindung ini termasuk dalam Anuttarayoga. Dari ketiga kelas tersebut, Metode, Kebijaksanaan dan Non-dual, ini adalah Tantra Metode. Dari ketiga Tantra Ayah yang terkenal dari Siklus Yamari, Rakta (Merah), Khrisna (Hitam), dan Bhairava (Mengerikan), ini adalah pelindung dari Vajrabhairava yang tidak biasa.” (Ngor Ponlop Ngagwang Legdrup, abad ke-19).
Yama diasosiasikan dengan alam neraka, sering digambarkan sebagai tokoh utama dalam adegan neraka pada lukisan Buddha tentang Roda Kehidupan (Samsara Chakra, Bhavana Chakra), dan Yama Dharmaraja dari Vajrabhairava Tantra bukanlah entitas, makhluk, atau individu yang sama. Yang pertama, Yama, dipandang sebagai makhluk berkesadaran dan Raja Alam Hantu (preta), yang muncul dari literatur Abhidharma Buddha berdasarkan model dunia/semesta Theravada dan Sutrayana. Yang kedua didasarkan secara eksklusif pada Vajrabhairava Root Tantra, di mana dewa Manjushri mengambil berbagai bentuk menakutkan (Skt. bhairava) untuk secara metaforis menaklukkan Yama (kematian, sinonim untuk penderitaan tak berujung dalam siklus keberadaan) dan menggunakan tema kematian sebagai metafora untuk seluruh siklus praktik Tantra yang merupakan Vajrabhairava, Krishna Yamari dan Rakta Yamari (koleksi) Tantra.
Kata-kata Yama, Yamari, Yamantaka, Bhairava, dan Vajrabhairava sering muncul dalam semua jenis teks tantra dan dapat merujuk pada dewa pendamping, pelindung, atau dewa duniawi di bawah kaki dewa meditasi Buddha (Skt. ishtadevata) seperti Vajrayogini atau Chakrasamvara. Dalam konteks tersebut, Bhairava mewakili berbagai emosi negatif yang harus dikalahkan melalui meditasi. Mengingat kesamaan nama dan bentuk, penting untuk tidak membingungkan berbagai nama, identitas, dewa, dan terutama model serta sistem Tantra Buddha yang masing-masing memiliki tempatnya sendiri, serta memahami masing-masing dengan benar dalam konteksnya.
Sumber: http://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=178
Dorje Shugden
Dorje Shugden adalah Istadewata Tercerahkan, emanasi dari Buddha Kebijaksanaan, Manjushri. Dia bangkit sebagai seorang Pelindung Dharma 350 tahun yang lalu untuk menjaga ajaran berharga dari Buddha Kedua yang dikenal sebagai Lama Tsongkhapa, untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup dengan sebaik-baiknya. Klik disini untuk membaca lebih lanjut mengenai emanasi murka Manjushri ini.
Mahakala Berwajah Empat
Dalam bahasa Sansekerta, Mahakala berarti untuk “Yang Hitam Besar”, Mahakala muncul dalam 75 bentuk yang berbeda, masing-masing merupakan emanasi dari Buddha yang berbeda.
Satu aspek yang menyatukan dari Mahakala adalah sikap murkanya yang merupakan kualitas batinnya dari rasa kasih sayang yang dalam seperti seorang ibu yang menunjukkan sikap galak untuk mencegah anaknya terluka dari bermain dengan api.
Keganasan ini juga menunjukkan sifatnya yang cepat dalam merespon doa kita yang tulus. Setiap pori-pori tubuhnya memancarkan pancaran api yang menyelimuti seluruh tubuhnya dengan lingkaran api murni pembersih rintangan yang spektakuler.
Salah satu bentuk populer dari Mahakala adalah Mahakala Berwajah Empat, Penguasa Kebijaksanaan Tanpa Noda dan emanasi dari Manjushri, Buddha Kebijaksanaan. Keempat wajah dan keempat tangannya menunjukkan realisasi dari empat kebenaran mulia.
Satu tangan mengacungkan pedang kebijaksanaan dari Manjushri yang mengindikasikan kapasitas seperti pedang dalam praktiknya untuk memangkas delusi dan rintangan. Tangan lainnya memegang tongkat tantra yang memiliki trisula diujungnya untuk melambangkan transmutasi dari ketidaktahuan, kesombongan dan kemarahan, akar penyebab penderitaan kita.
Tiga karakter dari Mahakala adalah mata yang melotot pada lawannya dengan keganasan yang tidak mengenal batas. Dia memegang cangkir tengkorak dan pembacok ritual, melambangkan kekuatan luar biasanya untuk melindungi praktisi dalam perjalanan praktik spiritual yang bergejolak.
Didukung, diandalkan dan dipercaya oleh guru besar seperti Nagajurna, Arya Chandrakirti, Lama Tsongkhapa dan Kyabje Zong Dorje Chang, Mahakala Berkepala Empat dengan tak terkalahkan melindungi batin terdalam seseorang dari mara dan gangguan luar. Dia adalah pelindung utama dari tantra Chakrasamvara.
Berkat Mahakala terutama dikenal untuk memadamkan kesulitan dan rintangan yang timbul akibat kemarahan dan depresi. Untuk membaca lebih banyak: http://resources.tsemtulku.com/buddhas/dharma-protectors/4-faced-mahakala.html
Lima Bentuk Manjushri
Gunung Wutaishan di Tiongkok dianggap istimewa bagi istadewata/bodhisattva Buddhisme, Manjushri. Menurut sejarah lisan dan literatur Tiongkok, Chogyal Pagpa merupakan orang pertama yang membicarakan mengenai lima bentuk berbeda Manjushri yang dilambangkan oleh masing-masing puncak (sebenarnya teras): pusat dan empat arah. Lima bentuk Manjushri tidak digambarkan secara konsisten dengan perbedaan ikonografi yang muncul antara berbagai lukisan baik itu tokoh sentral pusat maupun tokoh kecil dalam suatu komposisi. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa tidak ada deskripsi ikonografi yang definitif otentik dari masing-masing lima bentuk Manjushri. Bentuk-bentuk ini menjadi lebih terstandarisasi setelah diterbitkannya teks astrologi dari Desi Sanggye Gyatso pada abad ke-17 oleh White Beryl.
Astrologi Tibet dipercaya berasal dari ajaran Manjushri saat dia berdiam di Gunung Wutaishan. Dan juga disana, melihat keluar dunia, Manjushri merasakan cahaya cemerlang dari relik Buddha Dipamkara di danau yang sekarang dikenal sebagai Lembah Kathmandu. Manjushri menggunakan pedangnya untuk membuat lubang pembuka di pegunungan untuk mengeringkan danau tersebut. Relik dari Dipamkara tersimpan dengan aman di Stupa Swayambhunath.
Kemudian, setelah masa Tsongkhapa, yang merupakan emanasi Manjushri, dan berdasarkan visi oleh murid langsung beliau, Khedrub Je, lima bentuk Tsongkhapa juga jadi diasosiasikan dengan lima puncak itu. Lima bentuk Manjushri unik di Wutaishan, sedangkan lima bentuk Tsongkhapa juga dapat ditemukan terwakili dalam komposisi dan konteks seni lainnya. Lima bentuk Manjushri adalah kuning, putih, hitam, merah dan oranye (bentuk utama).
Sumber: http://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=1154
Manjushri (Menunggangi Singa)
Ada bentuk Manjushri menunggangi singa yang berasal dari narasi dan ada pula yang bersifat ikonografis dan tantra – dimaksudkan sebagai bentuk meditasi. Dari kelima bentuk Manjushri yang melambangkan lima teras di Gunung Wutaishan di Tiongkok, salah satunya menunggangi singa. Untuk lima bentuk dari Tsongkhapa, juga, salah satunya menunggangi singa dan berwujud Manjushri. Semua bentuk Manjushri menunggangi singa digambarkan dalam Manjushri Lhakang di Sakya, Tibet, dimaksudkan sebagai istadewata meditasi.
Manjushri menunggangi singa dan Lokeshvara Simhanada terkadang tertukar satu sama lain atau digabungkan menjadi satu walaupun tidak begitu adanya.
Sumber: http://www.himalayanart.org/search/set.cfm?setID=4106
Manjushri-ghosha, Kumara
Namanya memiliki arti “Pangeran muda, Bersuara Merdu”, saat foto ini diambil pada bulan Desember 1980, patung itu berada di sebuah wihara di Laughing Charnel Ground di seberang pintu masuk Wihara Bodhgaya, Bihar, India. Konon beberapa waktu setelah foto ini diambil, patung itu diganti dengan gambar Manjushri palsu atau pengganti. Keberadaan patung yang ditunjukkan disini masih tidak diketahui (dicuri?).
Bentuk Manjushri yang ini non-ikonik atau anikonik. Bentuk ini tidak digambarkan dalam teks, meditasi atau ritual Tantra. Bentuk ini didasarkan pada literatur Sutra. Pose dengan tangan kanan menggenggam pedang di dada terlihat di beberapa patung Manjushri lainnya, terutama sosok berdiri di Himalaya Barat. Tangan kirinya dibalikkan dengan punggung tangan disandarkan di atas paha yang menggambarkan pose kerajaan. Liontin pada kaki kiri tidak biasa karena biasanya menggambarkan kemurkaan yang lebih atau keganasan. Secara keseluruhan, patung ini adalah pekerjaan terbaik dari kreativitas zaman Pala. Sang artis telah berhasil menangkap rupa Manjushri sebagai seorang pangeran yang memiliki keindahan dan kekuatan.
Sumber: http://www.himalayanart.org/items/89712
Teks dan Doa Manjushri
Menurut Kyabje Trijang Dorje Chang, Pujian Kepada Manjushri (Gang-lo-ma) disusun oleh 100 Mahasiddha dari India yang berkumpul bersama untuk memuji Manjushri. Masing-masing Mahasiddha melafalkan secara terpisah untuk menghormati Manjushri, yang pada saat itu memberkati pikiran mereka. Sembilan puluh sembilan dari mereka menulis pujian yang sama, yang dikumpulkan menjadi dikenal sebagai Gang-lo-ma. Mahasiddha yang keseratus menulis pujian yang sedikit berbeda, yang membentuk doa tambahan pada Gang-lo-ma dikenal sebagai “Sheja-kha-yingpa”. Pujian ini sangat terkenal dan berharga dan dilafalkan oleh pandit Vidyakokila yang Muda. Teks ini hampir hilang; teks ini sangatlah langka dan sesuatu yang dicari oleh banyak orang, karena ini dapat dikatakan sebagai salah satu pujian mendasar untuk Manjushri.
Di bawah ini kami telah menyediakan untuk anda berbagai doa untuk Manjushri yang dapat dilafalkan sehari-hari untuk mereka yang berharap dapat memperoleh berkat dari Buddha ini. Anda juga dapat klik pada tautan berikut di bawah ini untuk mengunduh doa.
- Gangloma (PDF)
- Mantra Panjang Manjushri Berlengan 1000 (JPG)
- Mantra Manjushri (versi sedang)
- Manjushri Nama Sangiti (PDF)
- Doa Harian kepada Manjushri – Mañjuśrī Arapacana (PDF)
1. Gangloma
(Klik DI SINI untuk mengunduh PDF)
Sembah sujud kepada Guru dan Pelindungku, Manjushri,
Yang memegang dalam hatinya sebuah teks kitab suci yang melambangkan bahwa Beliau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya;
Yang kecerdasannya bersinar bagaikan matahari, tak tertutupi oleh delusi atau jejak ketidaktahuan;
Yang mengajar dengan enam puluh cara, dengan kasih sayang seorang ayah kepada anak semata wayangnya,
semua makhluk yang terperangkap dalam penjara samsara, bingung dalam kegelapan ketidaktahuan, diliputi penderitaan.
Engkau, yang proklamasi Dharmanya bagaikan guntur naga yang menggelegar membangkitkan kami dari delusi dan membebaskan kami dari belenggu rantai besi karma;
Yang menghunus pedang kebijaksanaan menebas penderitaan di mana pun tunas-tunasnya muncul, membersihkan gelapnya ketidaktahuan;
Engkau, yang tubuh pangerannya dihiasi dengan seratus dua belas tanda sang Buddha,
Yang telah menyelesaikan tahapan-tahapan untuk mencapai kesempurnaan tertinggi seorang Bodhisattva,
Yang murni sejak awal,
Mantra: OM AH RA BA TSA NA DHI (21x, 1 mala atau lebih – diikuti dengan pelafalan 1 mala suku kata “DHI”, sembari menahan nafas ketika diucapkan.)
Aku bersujud kepadamu, O Manjushri;
Dengan kecemerlangan kebijaksanaan-Mu, O Yang Maha Pengasih,
Terangi kegelapan yang menyelimuti pikiranku,
Terangilah kecerdasan dan kebijaksanaanku,
Agar saya dapat mengerti kata-kata Buddha dan berbagai teks yang menjelaskannya.
2. Mantra Panjang Manjushri Berlengan 1000
3. Mantra Manjushri (panjang sedang)
Mantra ini sangat dianjurkan untuk meningkatkan daya ingat. Mantra ini adalah mantra Manjushri dengan panjang sedang. Mantra ini sangat direkomendasikan oleh pelindung Dharma Rinpoche.
NAMO MANJUSRIYE KUMARA BHUTAYA
BODHISATTVAYA MAHASATTVAYA MAHAKARUNIKAYA
TADYATHA OM ARADZE BIRADZE
SHUDDHE BISHUDDHE
SHODHAYA BISHODHAYE AMALE BIMALE NIRMALE
DZAYAVARE RURUTSALE
HUM HUM HUM PHAT PHAT PHAT SVAHA (21x)
4. Manjushri Nama Sangiti
(Klik DI SINI untuk mengunduh PDF)
Pelafalan Nama Manjushri (Manjushri nama Sangiti) adalah salah satu teks tantra yang dihormati dalam agama Buddhisme Tibet.
Buddha Shakyamuni dan Bodhisattva Manjushri bekerja sama untuk menjelaskan Dharma. Manjushri adalah perwujudan dari kebijaksanaan dan pengetahuan. Oleh karena itu, teks yang memanggil nama dan kualitasnya mewakili puncak dari seluruh ajaran Buddha Shakyamuni sebagai seorang terpelajar dan diklasifikasikan sebagai tantra dari kelas non-dual (advaya), bersama dengan Tantra Kalachakra.
Nama-samgiti diajarkan oleh Buddha Shakyamuni kepada muridnya, Vajrapani dan rombongan murkanya untuk menuntun mereka menuju jalan Kebuddhaan. Intisari dari Nama Sangiti adalah Bodhisattva Manjushri sebagai perwujudan dari segala pengetahuan. Nama Sangiti adalah teks pendek, hanya terdiri dari 160 ayat dan satu bagian prosa, yang merupakan sebagian dari Sutra yang komprehensif seperti Sutra Avatamsaka dan Sutra Prajna Paramita atau lautan tantra tak terbatas seperti Manjushri-Mula-Kalpa. Dan lagi, Nama Sangiti mencakup seluruh ajaran Sang Buddha: ringkasan yang komprehensif dan padat dari seluruh ajaran Buddha. Buddha Shakyamuni mengatakan bahwa Nama Sangiti adalah “klarifikasi utama dari perkataan” dan “realitas non-ganda” yang seluruh makhluk hidup harus mempelajari dan lafalkan. Di wihara, teks ini dilafalkan sehari-hari untuk memohon kebijaksanaan pada Manjushri, untuk meditasi harian, kontemplasi dan studi Dharma mereka.
Tembang Nama Manjushri
(’Jam-dpal mtshan-brjod, Skt. Mañjuśrī-namasamgiti)
GYAGAR KÉTU ARYA MAÑJUŚRĪ NAMA SANGITI
PÖKÉ TU PAKPA JAMPEL KYI TSEN YANGDAKPAR JÖPA
JAMPEL SHÖNNUR GYURPA LA CHAK TSEL LO
Penghormatan kepada Manjushri dalam bentuknya sebagai pria muda
Enam Belas Ayat tentang Meminta Petunjuk
(1)
TÉNÉ PALDEN DORJÉ CHANG, DÜLKA DÜLWA NAMKYI CHOK
PAWO JIKTEN SUMLÉ GYEL, DORJÉ WANGCHUK SANGWÉ GYEL
Kemudian Pemegang Vajra yang agung,
Penakluk terhebat dari mereka yang sulit terjinakkan,
Sang pahlawan, penakluk tiga semesta,
Penguasa petir yang dahsyat, penguasa alam terselubung,
(2)
PÉMA KARPO GYENDRÉ CHEN, PÉMA GYENDRÉ SHEL NGAWA
RANGKI LAK KI DORJÉ CHOK, YANG TANG YANGTU SORCHÉPA
Dengan mataNya yang memancarkan pencerahan bak teratai putih,
WajahNya bak teratai merah muda yang mekar sempurna
Mengayun-ayunkan
Vajra dalam genggaman
(3)
TRONYER RIMPAR DEN LA SOK, LANA DORJÉ TAYÉPA
PAWO DÜLKA DÜLWAPO, JIKSU RUNG TANG PACHÉ CHEN
Bersama dengan Vajrapani yang tak terhitung jumlahnya
Dengan alis berkerut marah,
Para pahlawan, penakluk mereka yang sulit dijinakkan,
Dalam bentuk tegap menakutkan,
(4)
DORJÉ TSÉMO RAB TROWA, RANG KI LAK KI SORCHÉPA
NYINGJÉ CHÉ TANG SHÉRAB TANG, TAPKYI DROTÖN CHÉPÉ CHOK
Mereka mengayunkan vajra dengan ujung membara,
Agung dalam menggenapi cita-cita para makhluk yang mengembara,
Dengan kasih sayang yang besar, kesadaran yang menelaah,
Dan cara-cara yang mahir,
(5)
GANGU RANGPÉ SAMPA CHEN, TROWÖ ZUKYI LÜ DENPA
SANGYÉ TRINLÉ CHÉPÉ GÖN, LÜTÜ NAMTANG LHÉNCHIK TU
Berwatak yang bahagia, ceria dan bersukacita
Namun dilengkapi dengan bentuk yang garang,
Para Penjaga untuk penyebaran pencerahan para Buddha,
Tubuh mereka membungkuk bersama
(6)
DÉSHIN SHEKPA CHOMDENDÉ, DZOK SANGYÉ LA CHAKTSEL NÉ
TELMO JARWA CHÉNÉ NI, CHEN NGAR DUKTÉ DIKÉ SÖL
Bersujud pada Sang Penjaga Utama, Penguasa Yang Menaklukkan Segalanya,
Tathagata, Yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Dan berdiri di depan, kedua telapak tangannya bersatu,
Menyuarakan pernyataan ini:
(7)
KHYABDA DALA MENPA TANG, DATÖN DALA TUK TSÉI CHIR
GYUNTRÜL TRAWA NGÖN DZOKPÉ, CHANGCHUP CHINÉ DA TOPDZÖ
“Wahai Penguasa Yang Meliputi Segalanya,
Demi kebaikanku, tujuanku, dari kasih sayang terhadapku,
Agar ku dapat memperoleh
Mewujudkan pencerahan, bebas dari jaring ilusi
(8)
NYÖNMONGPÉ NI SEM TRUKSHING, MISHÉ DAMTU CHINGWA YI
SEMCHEN KÜNLA MENPA TANG, LAMÉ DRÉBU TOPCHÉ CHIR
Untuk kesejahteraan dan pencapaian
Dari buah yang tiada taranya bagi semua makhluk terbatas,
Yang terbenam dalam rawa ketidaksadaran,
Pikiran mereka dikacaukan oleh perasaan gelisah,
(9)
DZOKPÉ SANGYÉ CHOMDEN DÉ, DROWÉ LAMA TÖNPAPO
TAMTSIK CHENPO TÉNYI KHYEN, WANGPO SAMPA KHYEN CHOKI
Wahai Yang Tercerahkan, Penguasa Yang Menaklukkan, Guru Para Pengembara,
Penunjuk Jalan, Yang Mengetahui Ikatan Kedekatan Besar dan Kenyataan,
Yang Paling Mengetahui Kekuatan dan Maksud,
Mohon jelaskan,
(10)
CHOMDENDÉ KYI YÉSHÉ KU, TSUKTOR CHENPO TSIKI DA
YÉSHÉ KU TÉ RANG JUNGWA, JAMPEL YÉSHÉ SEMPA YI
Mengenai tubuh pencerahan atas kesadaran mendalam dari Penguasa Yang Menaklukkan,
Usnisa yang Luar Biasa, Penguasa Perkataan,
Yang mewakili kesadaran mendalam yang berasal dari diri sendiri,
Makhluk kesadaran mendalam, Manjushri,
(11)
MING NI YANGDAK JÖPÉ CHOK, TÖN ZAP TÖN NI GYACHÉ SHING
TÖNCHEN TSUNGMÉ RAP SHIWA, TOKMA PAR TANG TAR GÉWA
Tembang terindah atas Namanya,
Dengan makna yang dalam, dengan makna yang luas, dengan makna yang besar,
Tidak tertandingi, dan sangat menenangkan,
Yang membangun di awal, tengah, dan akhir,
(12)
DÉPÉ SANGYÉ NAMKYI SUNG, MAWONG NAMKYANG SUNG GYUR LA
TANDAR JUNGWÉ DZOK SANGYÉ, YANG TANG YANGTU SUNGWA KANG
Yang telah diproklamasikan oleh para Buddha sebelumnya,
Akan diproklamasikan oleh yang akan datang,
Dan yang Tercerahkan Sepenuhnya dari masa kini
Memproklamasikan lagi dan lagi,
(13)
GYÜCHEN GYUNTRÜL TRAWA LÉ, DORJÉ CHANG CHEN SANGAK CHANG
PAKMÉ NAMKYI GA SHINTU, LUR LANG KANG LA SHÉTU SÖL
Dan yang mana, dalam Jaring Ilusi Tantra Agung,
Dengan luar biasa dilafalkan
Oleh kegembiraan pemegang vajra yang luar biasa yang tak terhitung banyaknya,
Pemegang mantra tersembunyi
(14)
GÖNPO DZOK SANGYÉ KÜN KYI, SANG DZIN CHINÉ DA GYUR CHIR
NGÉPAR JUNG KI PARTU NI, DAK KI SAMPA TENPÖ ZUNG
Wahai Penjaga, agar ku (juga) menjadi pemegang
Dari (ajaran) yang tersembunyi dari yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Saya akan melestarikannya dengan niat yang teguh
Sampai pembebasanku yang pasti,
(15)
NYÖNMONG MALÜ SELWA TANG, MISHÉ MALÜ PANGWÉ CHIR
SAMPÉ KHYÉPAR CHISHIN TU, SEMCHEN NAMLA SHÉPAR TSEL
Dan akan menjelaskan kepada makhluk terbatas,
Sejalan dengan niat masing-masing,
Untuk menghilangkan perasaan mengganggu, tanpa terkecuali,
Dan menghancurkan ketidaksadaran, tanpa terkecuali.”
(16)
SANGWANG LANA DORJÉ YI, TÉSHIN SHÉ LA TÉKÉ TU
SÖLNÉ TELMO JAR CHÉ TÉ, LÜ TÜ NÉ NI CHEN NGAR DU
Setelah memohon pada Tathagata dengan perkataan ini,
Penguasa yang tersembunyi, Vajrapani,
Menyatukan telapak tangannya
Dan, membungkukkan tubuhnya, berdiri di depan.
Enam Ayat Sebagai Balasan
(17)
TÉNÉ CHOMDEN SHAKYA TUP, DZOKPÉ SANGYÉ KANGNYI CHOK
NYIKYI SHEL NÉ JA ZANGWA, RINGSHING YANGPA KYANG DZÉ TÉ
Lalu Penguasa Penakluk Melampaui Segalanya, Shakyamuni, Orang Bijak yang Cakap,
Yang Tercerahkan Sepenuhnya, Mahluk Utama,
Mengulurkan dari mulutnya
Lidah yang indah, panjang dan lebar,
(18)
JIKTEN SUMPO NANG CHÉ CHING, DÜSHI DRANAM DÜ CHÉPA
SEMCHEN NAMKYI NGENSONG SUM, JONGWAR CHÉPÉ DZUM TEN NÉ
Menerangi tiga alam dunia
Dan menjinakkan empat (mara) iblis,
Dan menampilkan senyum, yang membersihkan
Tiga kelahiran kembali yang buruk bagi makhluk terbatas,
(19)
TSANGPÉ SUNG NI NYENPA YI, JIKTEN SUMPO KÜN KANG NÉ
LANA DORJÉ TOPPO CHÉ, SANGWANG LA NI LAR SUNG PA
Dan mengisi tiga alam semesta
Dengan suara Brahmanya yang merdu
Menjawab kepada Vajrapani, yang luar biasa kuat,
Penguasa tersembunyi:
(20)
NYINGJÉ CHÉ TANG DEN GYURPÉ, DROLA PENPÉ TÖNTU KHYÖ
YÉSHÉ LÜCHEN JAMPEL NÖN, MING JÖPA NI TÖN CHÉWA
“Istimewa, Wahai Pemegang Vajra yang mulia,
(Saya berkata) istimewa kepadamu, Vajrapani,
Kau yang memiliki kasih sayang luar biasa
Demi kesejahteraan makhluk pengembara.
(21)
TAKPAR CHÉCHING DIK SELWA, NGA LÉ NYENPAR TSÖNPA NI
LEKSO PALDEN DORJÉ CHANG, LANA DORJÉ KHYÖ LEKSO
Bangkitlah untuk mendengar dariku, sekarang,
Tembang Nama atas tubuh yang mencerahkan dengan kesadaran mendalam,
Manjushri, tujuan yang mulia,
Memurnikan dan menghapus kekuatan negatif.
(22)
SANGWÉ DAKPO TÉCHIR NGÉ, KHYÖ LA LEKPAR TENPAR CHA
KHYÖ NI TSÉCHIK YIKYI NYÖN, CHOMDEN TÉ NI LEK SHÉ SÖL
Oleh karena itu, Penguasa Tersembunyi,
Senang sekali aku mengungkapkan kepadamu;
(jadi) dengarkan dengan pikiran terpusat.”
“Wahai Penguasa Penakluk, itu bagus sekali,” jawabnya.
Dua Ayat untuk Memperhatikan Enam Keluarga Buddha
(23)
TÉNÉ CHOMDEN SHAKYA TUP, SANGAK RIKCHEN TAMCHÉ TANG
SANGAK RINGAK CHANGWÉ RIK, RIKSUM LA NI NAMPAR ZIK
Lalu Penguasa Penakluk Melampaui Segalanya, Shakyamuni, Orang Bijak yang Cakap,
Melihat dengan rinci seluruh keluarga mantra tersembunyi yang hebat:
Keluarga pemilik mantra tersembunyi dan mantra dari kesadaran murni,
Keluarga dari ketiganya,
(24)
JIKTEN JIKTEN DÉPÉ RIK, JIKTEN NANGCHÉ RIKCHEN TANG
CHAGYA CHENPÖ RIKCHOK TANG, RIKCHEN TSUKTOR CHER ZIK NÉ
Keluarga dunia dan di luar dunia
Keluarga, yang luar biasa, menerangi dunia,
(Itu) keluarga tertinggi, dari (mahamudra) jaminan luar biasa,
Dan keluarga hebat dari usnisa,
Tiga ayat dari Langkah-Langkah Mewujudkan Pencerahan Melalui Jaring Ilusi
(25)
TSIK KI DAKPÖ TSIKSU CHÉ, SANGAK GYELPO DRUK DEN SHING
NYISSU MÉPAR JUNGWA TANG, MIKYÉI CHÖCHEN DI SUNGPA
Memproklamasikan ayat dari Penguasa Perkataan,
Diberkahi dengan raja mantra enam kali lipat,
(Mengenai) sumber nondualisme
Dengan sifat tidak bertumbuh:
(26)
A Ā I Ī U Ū E Ē, O Ō AṀ AḤ STHITO HṚĪDI
JÑĀNA MŪRTTIR A HAṀ BUDDHO, BUDDHĀNĀṀ TRYADHVA VARTĪ NĀMA
“A a, i i, u u, e ai, o au, am a:.
Terletak di hati, aku adalah perwujudan dari kesadaran mendalam,
Buddha dari para Buddha
Terjadi dalam tiga waktu.
(27)
OṀ VAJRA TĪKSHNA DUḤKHA CCHEDA, PRAJÑĀ JÑĀNA MŪRTAYÉ JÑĀNA KĀYA VĀGĪŚVARA, ARAPACANĀYA TÉ NAMAḤ
Om – Vajra Tajam,
Pemutus penderitaan
Mewujudkan Kesadaran Mendalam yang Membedakan,
Tubuh Pencerahan Kesadaran Mendalam,
Penguasa Perkataan yang berkuasa,
Dan Pematangan Makhluk Pengembara (Ara-pachana) – hormat kami.”
Empat Belas Ayat atas Mandala Agung dari Dunia Vajra
(28)
DITAR SANGYÉ CHOMDENDÉ, DZOKPÉ SANGYÉ A LÉ JUNG
A NI YIKDRU KÜN KYI CHOK, TÖNCHEN YIGÉ TAMPA YIN
Seperti inilah Sang Buddha (Manjushri), Penguasa Penakluk Melampaui Segalanya,
yang Tercerahkan Sepenuhnya:
Dia lahir dari suku kata a,
Yang terdepan dari semua fenomena, suku kata a,
Dari arti yang terhebat, suku kata yang terdalam,
(29)
KHONGNÉ JUNGWA KYÉWA MÉ, TSIKTU JÖPA PANGPA TÉ
JÖPA KÜN KYI GYU YI CHOK, TSIK KÜN RAPTU SELWAR CHÉ
Nafas kehidupan agung, yang tidak timbul,
Singkirkan ucapan dalam satu kata,
Penyebab utama dari segala sesuatu yang diucapkan,
Pencipta setiap kata yang jelas sempurna.
(30)
CHÖPA CHENPO DÖCHAK CHÉ, SEMCHEN TAMCHÉ GAWAR CHÉ
CHÖPA CHENPO SHÉDANG CHÉ, NYÖNMONG KÜN KYI DRA CHÉWA
Dalam pesta persembahannya yang besar, kerinduan yang besar muncul
Pemberi kegembiraan pada makhluk terbatas;
Dalam pesta persembahannya yang besar, kemarahan sangat besar
Musuh terbesar dari semua perasaan gelisah.
(31)
CHÖPA CHENPO TIMUK CHÉ, TIMUK LO TÉ TIMUK SEL
CHÖPA CHENPO TROWA CHÉ, TROWA CHENPO DRA CHÉWA
Dalam pesta persembahannya yang besar, kenaifan yang besar
Penghilang kenaifan dari pikiran yang naif;
Dalam pesta persembahan yang besar, kemarahan sangat besar
Musuh besar dari yang penuh amarah.
(32)
CHÖPA CHENPO CHAKPA CHÉ, CHAKPA TAMCHÉ SELWAR CHÉ
DÖPA CHENPO DÉWA CHÉ, GAWA CHENPO GUWA CHÉ
Dalam pesta persembahannya yang besar, keserakahan yang besar
Pengusir segala keserakahan;
Dialah yang memiliki keinginan besar, kebahagiaan besar,
Kegembiraan yang luar biasa, dan sukacita yang besar.
(33)
ZUK CHÉ LÜ KYANG CHÉWA TÉ, KHADOK CHÉ SHING LÜBONG CHÉ
MING YANG CHÉ SHING GYACHÉWA, KYILKHOR CHENPO YANGPA YIN
Dialah yang berwujud agung, tubuh tercerahkan yang mulia,
Warnanya yang indah, fisiknya yang luar biasa,
Nama yang bagus, keagungan yang luar biasa,
Dan lingkaran mandala yang besar dan luas.
(34)
SHÉRAP TSÖNCHEN CHANGWA TÉ, NYÖNMONG CHENPÖ CHAKYU CHOK
DRAKCHEN NYENDRAK CHENPO TÉ, NANGWA CHENPO SELWA CHÉ
Dialah pembawa agung dari pedang yang kesadaran yang membedakan,
Kail gajah yang paling ampuh untuk mengatasi perasaan gelisah;
Dialah yang memiliki kemahsyuran hebat,
Kilau luar biasa, dan pencahayaan luar biasa.
(35)
KHÉPA GYUNTRÜL CHENPO CHANG, GYUNTRÜL CHENPO TÖN DRUPPA
GYUNTRÜL CHENPÖ GAWÉ GA, GYUNTRÜL CHENPÖ MIKTRÜL CHEN
Dialah yang terpelajar, pengusung ilusi yang hebat,
Pengabul tujuan dengan ilusi luar biasa,
Yang gembira dengan kegembiraan melalui ilusi luar biasa,
Penyihir jaring ilusi besar yang dimiliki oleh Indra.
(36)
JINDA CHENPO TSOWO TÉ, TSÜLTRIM CHENPO CHANGWÉ CHOK
ZÖCHEN CHANGWA TENPAPO, TSÖNDRÜ CHENPO TÜLWA YIN
Dia adalah guru dermawan agung yang paling unggul,
Pemegang disiplin etika yang terkemuka,
Pemegang teguh kesabaran yang luar biasa,
Yang pemberani dengan ketekunan yang besar.
(37)
SAMTEN CHENPÖ TINGDZIN NÉ, SHÉRAP CHENPÖ LÜ CHANGWA
TOPPO CHÉ LA TAP CHÉWA, MÖNLAM YÉSHÉ GYANTSO TÉ
Yang kekal dalam konsentrasi mendalam
dari kestabilan mental yang luar biasa,
Pemilik dari tubuh luar biasa yang membedakan kesadaran,
Yang dengan kekuatan besar, keterampilan luar biasa,
Doa permohonan, dan lautan kesadaran yang mendalam.
(38)
CHAMCHEN RANGSHIN PAKTU MÉ, NYINGJÉ CHENPO LOYI CHOK
SHÉRAP CHENPO LOCHEN DEN, KHÉPA CHENPO TAP CHÉWA
Dialah yang tak terukur, terdiri dari cinta yang besar,
Dialah pikiran utama dari kasih sayang yang besar,
Diskriminasi yang hebat, kecerdasan yang hebat,
Keahlian yang hebat, dan implementasi yang hebat.
(39)
DZUNTRÜL CHENPO TOP TANG DEN, SHUKCHEN GYOKPA CHENPO TÉ
DZUNTRÜL CHENPO CHER DRAKPA, TOPCHEN PARÖL NÖNPAPO
Diberkahi dengan kekuatan tubuh yang dahsyat,
Dialah yang memiliki kekuatan besar, kecepatan tinggi,
Kekuatan ekstrafisik yang besar, kemahsyuran (yang agung),
Keberanian kekuatan yang luar biasa.
(40)
SIPÉ RIWO CHENPO JOM, TREKSHING DORJÉ CHENPO CHANG
DRAKPO CHENPO DRAKSHUL CHÉ, JIKCHEN JIKPAR CHÉPAPO
Dialah penghancur gunung besar dari kehidupan yang penuh nafsu,
Pemegang teguh dari vajra agung;
Yang dengan keganasan dan kegalakan luar biasa,
Dia yang paling menakuti dari yang menakutkan.
(41)
GÖNPO RIKCHOK CHENPO TÉ, LAMA SANGAK CHÉWÉ CHOK
TEKPA CHENPÖ TSÜL LA NÉ, TEKPA CHENPÖ TSÜLKYI CHOK
Dia adalah penjaga superlatif dengan kemurnian kesadaran yang mulia,
Guru utama dengan mantra tersembunyi yang dahsyat;
Melangkah ke cara perjalanan dari Sarana Agung,
Dia lah yang terutama dalam perjalanan Sarana Agung.
Dua Puluh Lima Ayat, Kurang Seperempat, tentang Kesadaran Mendalam akan Alam Realitas yang Sepenuhnya Murni
(42)
SANGYÉ NAMPAR NANGDZÉ CHÉ, TUPPA CHENPO TUPCHEN DEN
SANGAK TSÜLCHEN LÉ JUNGWA, SANGAK TSÜLCHEN DANYI CHEN
Dia adalah Buddha (Vairochana), sang penerang yang hebat,
Orang bijak yang hebat, memiliki kebijaksanaan (keheningan) yang luar biasa;
Dialah yang diciptakan oleh cara perjalanan mantra yang hebat,
Dan, dengan sifat identitasnya, dia (sendiri) adalah cara perjalanan mantra yang hebat.
(43)
PARÖL CHINCHU TOPPA TÉ, PARÖL CHINPA CHU LA NÉ
PARÖL CHINCHU TAKPA TÉ, PARÖL CHINPA CHUYI TSÜL
Dia telah mencapai sepuluh sikap yang besar pengaruhnya,
Mendukung sepuluh sikap yang besar pengaruhnya,
Kemurnian dari sepuluh sikap yang besar pengaruhnya,
Cara perjalanan dari sepuluh sikap yang besar pengaruhnya.
(44)
GÖNPO SACHÜ WANGCHUK TÉ, SACHU LA NI NÉPAPO
SHÉCHU NAMDAK DANYI CHEN, SHÉCHU NAMDAK CHANGWAPO
Dia adalah penjaga, penguasa hebat dari sepuluh (bhumi) tingkat pikiran,
Yang dikembangkan melalui sepuluh (bhumi) tingkat pikiran;
Berdasarkan sifat identitasnya, dia adalah sepuluh perangkat pengetahuan yang dimurnikan,
Dan pemegang sepuluh perangkat pengetahuan yang disucikan.
(45)
NAMPA CHUPO TÖNCHÜ TÖN, TUPWANG TOPCHU KHYAPPÉ DA
KÜN KYI TÖN NI MALÜ CHÉ, NAMCHU WANGDEN CHÉWAPO
Dialah yang memiliki sepuluh aspek, sepuluh titik sebagai tujuannya,
Pemimpin dari para orang bijak yang cakap, yang memiliki sepuluh kekuatan, penguasa yang melingkupi segalanya;
Dia adalah penggenap berbagai cita-cita, tanpa terkecuali,
Yang kuat dengan sepuluh aspek, yang hebat.
(46)
TOKMA MÉPA TRÖMÉ DAK, TÉSHIN NYI DA TAKPÉ DA
DENPAR MASHING TSIK MINGYUR, CHIKÉ MÉPA TÉSHIN CHÉ
Dia tidak bermula dan, dengan sifat identitasnya, terpisah dari pemalsuan pikiran,
Berdasarkan sifat identitas, sesuai keadaan; berdasarkan sifat identitas, yang murni;
Dia adalah pembicara dari apa yang sebenarnya, dengan perkataan tidak ada yang lain,
Dialah yang, ketika dia berbicara, dia juga bertindak.
(47)
NYISSU MÉ TANG NYIMÉ TÖN, YANGDAK TA LA NAMPAR NÉ
DAMÉ SENGÉ DRA TANG DEN, MUTEK RIDA NGEN JIK CHÉ
Non-dualis, penyebar nondualitas,
Menetap pada titik akhir yang sebenarnya terjadi;
Dengan auman singa dari yang tak mengerti sifat identitas yang sebenarnya,
Dia adalah penakut dari rusa-rusa para ekstremis yang kekurangan.
(48)
KUNTU DROWÉ TÖN YÖ TOP, TÉSHIN SHEKPÉ YI TAR GYOK
GYELWA DRAGYEL NAMPAR GYEL, KHORLO GYURWA TOPPO CHÉ
Menyeruak ke segala penjuru dan relung, namun tak pernah tanpa tujuan,
Dia memiliki kecepatan pikiran seperti Tathagata;
Dia adalah penakluk, penakluk sepenuhnya, dengan musuh yang takluk,
Sosok kaisar (chakravartin) alam semesta, dengan kekuatan luar biasa.
(49)
TSOKYI LOPPÖN TSOKYI CHOK, TSOKJÉ TSOKDA WANG TANG DEN
TUCHEN CHÉPAR DZINPA TÉ, TSÜLCHEN SHENKYI DRING MIJOK
Dia adalah guru alam semesta, pemimpin alam semesta,
(Ganesha) penguasa alam semesta, yang menguasai alam semesta, yang berkuasa;
Dia yang memiliki kekuatan luar biasa, yang tekun (untuk memikul beban),
Yang memiliki cara perjalanan yang hebat, tidak perlu bepergian dengan cara lain.
(50)
TSIKJÉ TSIKDA MANKHÉPA, TSIK LA WANGWA TSIK TAYÉ
TSIK DENPA TANG DENPAR MA, DENPA SHI NI TÖNPAPO
Dia adalah penguasa perkataan, ahli berbicara, fasih dalam berbicara,
Yang menguasai ucapan, dengan perkataan yang tak terbatas,
Dengan perkataan yang benar, pengucap kebenaran,
Yang mewakili empat kebenaran.
(51)
CHIR MI DOKPA CHIR MI WONG, DRENPA RANGYEL SÉRÜ TSÜL
NGÉJUNG NATSO LÉ JUNGWA, JUNGWA CHENPO GYU CHIKPO
Dia tidak dapat diubah, tidak akan kembali,
Pemandu para badak pratyeka yang berevolusi sendiri;
Terbebas dengan pasti melalui berbagai cara pembebasan pasti,
Dia adalah penyebab tunggal dari tatanan unsur-unsur besar.
(52)
GÉLONG DRACHOM ZAKPA ZÉ, DÖCHA TRELWA WANGPO TÜL
DÉWA NYÉPÉ JIKMÉ TOP, SILWAR GYURPÉ NYOKPA MÉ
Dia adalah (biksu) bhikkhu, (arhat) yang musuhnya telah dihancurkan,
Kekotoran batin terkuras, dengan keinginan terpisahkan, nafsu lenyap;
Setelah mencapai ketenangan pikiran, mencapai keadaan tanpa rasa takut,
Dia telah menyatu dengan unsur-unsur dasar, dalam keadaan tenang, tidak lagi keruh tercemar.
(53)
RIKPA TANG NI KANGPAR DEN, DÉSHÉ JIKTEN RIKPÉ CHOK
DAK KIR MINDZIN NGAR MINDZIN, DENPA NYIKYI TSÜ LA NÉ
Memiliki sepenuhnya kesadaran dan gerakan yang murni,
Dialah Yang Pergi Dengan Bahagia, tertinggi pengetahuannya akan dunia;
Dia yang tidak terikat oleh “milikku,” tidak terikat oleh “aku,”
Berdiam dalam dua cara perjalanan dari dua kebenaran.
(54)
KHORWÉ PARÖL TAR SÖNPA, CHAWA CHÉPA KAMSAR NÉ
SHÉPA BASHIK NGÉ SELWA, SHÉRAP TSÖNCHÉ NAMJOMPA
Dialah yang berdiri di pesisir yang jauh, di luar samsara yang terulang,
Dengan apa yang perlu dilakukan telah dilakukan, berdiam di tanah kering,
Pedangnya yang membelah kesadaran sempurna
Setelah menarik kesadaran mendalam tentang apa yang unik.
(55)
TAMCHÖ CHÖGYEL SELWAR DEN, JIKTEN NANGWAR CHÉPÉ CHOK
CHÖKYI WANGCHUK CHÖKYI GYEL, LEKPÉ LAM NI TÖNPAPO
Dialah Dharma suci, penguasa dari Dharma, yang bercahaya,
Pencahaya dunia yang luar biasa;
Dia adalah penguasa Dharma yang kuat, raja dari Dharma,
Yang menunjukkan jalan pikiran yang paling unggul.
(56)
TÖNDRUP SAMPA DRUPPA TÉ, KUNTU TOKPA TAMCHÉ PANG
NAMPAR MITOK YING MI ZÉ, CHÖYING TAMPA ZÉ MI SHÉ
Dengan tujuannya yang telah tercapai, pikirannya telah tercapai
Dan menghapus pemikiran konseptual,
Dia adalah alam yang nonkonseptual, tidak ada habisnya,
Lingkungan realitas sempurna dan tidak dapat binasa.
(57)
SÖNAM DENPA SÖNAM TSOK, YÉSHÉ YÉSHÉ JUNGNÉ CHÉ
YÉSHÉ DENPA YÖ MÉ SHÉ, TSOKNYI TSOK NI SAKPAPO
Dialah yang memiliki kekuatan positif, jaringan kekuatan positif,
Dan kesadaran mendalam, sumber luar biasa dari kesadaran mendalam,
Memiliki kesadaran mendalam, memiliki kesadaran mendalam dari apa yang ada dan tidak ada
Yang memiliki jaringan bawaan yang terhubung bersama.
(58)
TAKPA KÜNGYEL NELJOR CHEN, SAMTEN SAMCHA LODEN CHOK
SOSSO RANGRIK MI YOWA, CHOK KI TANGPO KUSSUM CHANG
Kekal, penguasa segalanya, dia adalah pertapa sejati;
Dialah kestabilan pikiran, yang dibuat menjadi stabil secara mental, guru kecerdasan,
Yang secara individual harus diketahui dengan refleksif, yang tak tergoyahkan,
Yang primordial tertinggi, yang memiliki tiga tubuh pencerahan.
(59)
SANGYÉ KUNGÉ DANYI CHEN, KHYABDA YÉSHÉ NGAYI DAK
SANGYÉ NGADAK CHÖPEN CHEN, CHENGA CHAKPA MÉPA CHANG
Dengan sifat identitas dari lima tubuh pencerahan, dia adalah Buddha;
Dengan sifat identitas dari lima jenis kesadaran mendalam, guru yang maha berada,
Memiliki mahkota sifat identitas dari lima Buddha,
Membawa secara jelas lima mata yang mencerahkan.
(60)
SANGYÉ TAMCHÉ KYÉPAPO, SANGYÉ SÉPO TAMPÉ CHOK
KHYABDA YÉSHÉ NGAYI DAK, CHÖ LÉ JUNGWA SIPA SEL
Dia adalah leluhur dari semua Buddha,
Putra spiritual tertinggi dari para Buddha,
Rahim yang menumbuhkan keberadaan dari kesadaran yang membeda-bedakan,
Rahim dari Dharma, membawa akhir dari keberadaan yang diharuskan.
(61)
CHIKPU SANTREK DORJÉ DAK, KYÉ MA TAKTU DROWÉ DAK
NAMKHA LÉ JUNG RANG JUNGWA, SHÉRAP YÉSHÉ MÉWO CHÉ
Dengan esensi keteguhan terdalam, dengan sifat identitas, dia adalah vajra sekuat berlian;
Kala dia lahir, dia adalah guru dari dunia pengembara.
Yang muncul dari langit, dialah yang muncul dengan sendirinya:
Api besar dari kesadaran mendalam yang sempurna;
(62)
ÖCHEN NAMPAR NANGWA CHÉ, YÉSHÉ NANGWA LAMMÉWA
DROWÉ MARMÉ YÉSHÉ DRÖN, ZIJI CHENPO ÖSSELWA
Cahaya agung (Vairochana), Pencerah Segalanya, penerang kesadaran mendalam, menerangi segalanya;
Pelita untuk dunia pengembara;
Obor kesadaran mendalam;
Kecemerlangan yang luar biasa, cahaya yang jernih;
(63)
NGACHO NGADA RINGA GYEL, SANGA GYELPO TÖNCHEN CHÉ
TSUKTOR CHENPO MÉJUNG TSUK, NAMKHÉ DAKPO NATSO TÖN
Penguasa mantra terkemuka, raja dari kesadaran murni;
Raja dari mantra tersembunyi, yang memenuhi tujuan besar;
Dialah usnisa yang besar, usnisa yang menakjubkan,
Penguasa alam, yang menunjukkan berbagai jalan.
(64)
SANGYÉ KUNDA NGÖPO CHOK, DROKUN GAWÉ MIK TANG DEN
NATSO ZUKCHEN KYÉPAPO, CHÖCHING JÉPA DRANGSONG CHÉ
Dialah yang terkemuka, tubuh mencerahkan dengan sifat identitas dari semua Buddha,
Yang memiliki mata untuk kegembiraan atas seluruh dunia pengembara,
Pencipta dari berbagai bentuh tubuh,
Renungan (rishi) yang agung, layak menerima sesembahan, layak dihormati.
(65)
RIKSUM CHANGWA SANGA CHEN, TAMTSIK CHENPO SANGA DZIN
TSOWO KÖNCHO SUM DZINPA, TEKPA CHOKSUM TÖNPAPO
Dia adalah pembawa tiga karakter keluarga, pemilik dari mantra tersembunyi,
Dia adalah penegak ikatan erat dan mantra tersembunyi;
Dia adalah pemegang terunggul dari tiga pemata berharga,
Penunjuk tertinggi dari tiga sarana pikiran.
(66)
TÖN YÖ SHAKPA NAMPAR GYEL, DZINPA CHENPO DORJÉ SHAK
DORJÉ CHAKYU SHAKPA CHÉ
Dialah yang menang sepenuhnya, dengan tali pengikat yang tidak pernah gagal,
Penangkap hebat dengan tali vajra,
Dengan kail gajah vajra dan tali pengait yang luar biasa.
Sepuluh Ayat, Tambah Seperempat, Memuji Kesadaran Mendalam Bagaikan Cermin
DORJÉ JIKCHÉ JIKPAR CHÉ
Dia adalah Vajrabhairava, vajra menakutkan dan mengerikan:
(67)
TROWÖ GYELPO DONGTRUK JIK, MIKDRUK LAKDRUK TOP TANG DEN
KENGRÜ CHÉWA TSIKPAPO, HALA HALA DONG GYAPA
Penguasa yang geram, berwajah enam dan mengerikan,
Bermata enam, berlengan enam, dan penuh kekuatan,
Tengkorak yang menunjukkan taringnya,
Halahala, dengan seratus kepala.
(68)
SHINJÉ SHÉPO GÉKKI GYEL, DORJÉ SHUKCHEN JIK CHÉPA
DORJÉ DRAKPA DORJÉ NYING, GYUNTRÜL DORJÉ SÜ PO CHÉ
Dia adalah penghancur kematian (Yamantaka), raja para penghalang,
(Vajravega) kekuatan vajra, yang mengerikan;
Dia adalah kehancuran vajra, hati vajra,
Ilusi Vajra, yang berperut besar.
(69)
DORJÉ LÉ KYÉ DORJÉ DAK, DORJÉ NYINGPO KHA DRAWA
MIYO RELPA CHIKKI GYING, LANGCHEN KOLÖN KÖSSU KHYÖN
Lahir dari vajra (rahim), dialah penguasa vajra,
Intisari vajra, setara dengan langit;
Tidak tergoyahkan (Achala), (dengan rambut kusut) dipelintir menjadi satu jambul,
Pemakai pakaian dari kulit gajah yang lembab.
(70)
DRAKCHEN HAHA SHÉ DROKPA, HIHI SHE DROK JIKPAR CHÉ
GÉMO CHENPO GÉGYANG CHEN, DORJÉ GÉMO CHER DROKPA
Yang terhormat luar biasa, berteriak “ha ha,”
Pencipta teror, berteriak “hi hi,”
Dengan tawa yang besar, (menggema) tawa yang panjang,
Tawa vajra, auman besar.
(71)
DORJÉ SEMPA SEMPA CHÉ, DORJÉ GYELPO DÉWA CHÉ
DORJÉ DRAKPO GAWA CHÉ, DORJÉ HUNG TÉ HUNG SHÉ DROK
Dia yang berpikiran bagaikan vajra (Vajrasattva), berpikiran luar biasa (mahasattva),
Raja vajra, kebahagiaan luar biasa;
Vajra ganas, sangat menyenangkan,
Vajra Humkara, yang berteriak “hum.”
(72)
TSÖNTU DORJÉ DA TOKPA, DORJÉ RELDRI MALÜ CHÖ
DORJÉ KUNCHANG DORJÉ CHEN, DORJÉ CHIKPU YÜ SELWA
Dia adalah pemegang panah vajra sebagai senjatanya,
Penebas segala dengan pedang vajranya;
Dia adalah pemegang vajra bersilang, pemilik sebuah vajra,
Pemilik dari vajra unik, penghenti pertempuran.
(73)
DORJÉ BARWA MIK MIZÉ, TRA YANG DORJÉ BARWA TÉ
DORJÉ BEPPA BEPPA CHÉ, MIK GYAPA TÉ DORJÉ MIK
Matanya yang mengerikan dengan kobaran api vajra,
Rambut di kepalanya adalah api vajra juga,
Air terjun Vajra, air terjun megah,
Memiliki seratus mata, mata vajra.
(74)
LÜ NI DORJÉ BAPU CHEN, DORJÉ PU NI CHIKPÜ LÜ
SEMMO KYÉPA DORJÉ TSÉ, DORJÉ NYINGPO PAKPA TREK
Tubuhnya dipenuhi rambut vajra,
Tubuh unik dengan rambut vajra,
Dengan tumbuhnya kuku berujung vajra,
Dan kulit yang keras dan (kencang), intisari vajra.
(75)
DORJÉ TRENG TOK PEL TANG DEN, DORJÉ GYEN KYI GYENPA TÉ
GÉGYANG HAHA NGÉPAR DROK, YIGÉ DRUKPA DORJÉ DRAK
Pemegang rangkaian vajra, yang memiliki kemuliaan,
Dia dihiasi dengan perhiasan vajra,
Dan memiliki tawa panjang (menggema) “ha ha,” dengan suara keras,
Suara vajra dari enam suku kata.
(76)
JAMYANG CHENPÖ DRA CHÉWA, JIKTEN SUM NA DRA CHIKPA
NAMKHÉ TALÉ DRA DROKPA, DRA TANG DENPA NAMKYI CHOK
Dia adalah (Manjughosha) dengan suara menyenangkan, volume yang besar,
Suara luar biasa unik di tiga alam dunia,
Suara yang bergema hingga ujung angkasa,
Yang terbaik dari mereka yang bersuara.
Empat Puluh Dua Ayat tentang Individualisasi Kesadaran Dalam
(77)
YANGDAK DAMÉ TÉSHINNYI, YANGDAK TA TÉ YIGÉ MÉ
TONGNYI MAWÉ KHYUNCHOK TÉ, ZAP CHING GYACHÉ DRA DROKPA
Dialah yang sempurna, tanpa sifat identitas, keadaan sebenarnya,
Titik akhir dari apa yang sempurna, yang bukan merupakan suku kata;
Dia adalah pemberita kehampaan, banteng terbaik
Terdengar suara gemuruh, dalam dan luas.
(78)
CHÖKYI DUNG TÉ DRACHEN DEN, CHÖKYI GENDI DRAWO CHÉ
MINÉ NYANGEN DÉPAPO, CHOKCHÜ CHÖKYI NGAWO CHÉ
Dia adalah terompet kerang Dharma, dengan suara yang dahsyat,
Gong Dharma, dengan dentuman yang dahsyat,
Yang berada dalam kondisi nirwana yang tidak kekal,
Gendang Dharma di sepuluh penjuru.
(79)
ZUK MÉ ZUK ZANG TAMPA TÉ, NATSO ZUKCHEN YI LÉ KYÉ
ZUK NAM TAMCHÉ NANGWÉ PEL, ZUKNYEN MALÜ CHANGWAPO
Dia yang tidak berbentuk, dengan bentuk yang istimewa, yang paling utama,
Memiliki berbagai bentuk, terbuat dari pikiran;
Dia adalah kemuliaan penampilan dalam segala bentuk,
Pembawa refleksi, tidak menyisakan satu pun.
(80)
TSUKPA MÉ CHING CHÉWAR DRAK, KHAMSUM WANGCHUK CHENPO TÉ
PAKLAM SHINTU TOLA NÉ, TARWA CHENPO CHÖKYI TOK
Dia adalah yang tak tergoyahkan, dengan kemasyhuran yang luar biasa,
Penguasa yang luar biasa hebat dari tiga alam dunia;
Berdiam dengan pikiran arya yang luhur,
Dialah yang meninggikan, panji mahkota Dharma.
(81)
JIKTEN SUMNA SHÖNLÜ CHIK, NÉTEN GENPO KYÉGÜ DAK
SUMCHU TSANYI TSEN CHANGWA, DUGU JIKTEN SUMNA DZÉ
Dia adalah tubuh muda yang unik di tiga alam dunia,
Tetua yang stabil, purba, guru dari semua yang hidup;
Dia adalah pembawa dari tiga puluh dua tanda tubuh, yang dicintai,
Indah seluas tiga alam dunia
(82)
JIKTEN SHÉLEK LOPPÖN TÉ, JIKTEN LOPPÖN JIKPA MÉ
GÖNKYOP JIKTEN YI CHUKPA, KYAP TANG KYOPPA LANA MÉ
Dia adalah guru pengetahuan dan sifat-sifat terbaik untuk dunia,
Guru dari dunia tanpa ketakutan apapun,
Penjaga, penolong, dipercaya di seluruh penjuru tiga alam semesta,
Perlindungan, pelindung, tak tertandingi.
(83)
NAMKHÉ TALA LONGCHÖPA, TAMCHÉ KHYENPÉ YÉSHÉ TSO
MARIK GONGÉ BUP CHÉPA, SIPÉ TRAWA JOMPAPO
Yang mengalami (pengalaman) sampai ke ujung angkasa,
Dia adalah lautan kesadaran mendalam dari pikiran yang maha tahu,
Pembelah cangkang telur ketidaksadaran,
Penghancur jaring kehidupan yang diharuskan.
(84)
NYÖNMONG MALÜ SHICHÉPA, KHORWÉ GYANTSÖ PARÖL CHIN
YÉSHÉ WANGKUR CHÖPEN CHEN, DZOKPÉ SANGYÉ GYENTU TOK
Dialah yang mengheningkan perasaan gelisah, tanpa terkecuali,
Yang menyeberang lautan samsara yang terulang;
Dia yang mengenakan mahkota kekuatan dari kesadaran mendalam,
Sang Pemakai Kaum Tercerahkan Sepenuhnya sebagai perhiasan.
(85)
DUNGEL SUMKYI DUNGEL SHI, SUMSEL TAYÉ DRÖLSUM TOP
DRIPPA KÜNLÉ NGÉPAR DRÖL, KHATAR NYAMPA NYILA NÉ
Dialah yang terhening dari penderitaan atas tiga jenis penderitaan,
Yang dengan akhir tak terbatas dari ketiganya, telah terbebaskan dari ketiganya;
Dia yang pasti terbebas dari segala halangan,
Yang mematuhi kesetaraan seperti ruang angkasa.
(86)
NYÖNMONG TRIMA KÜNLÉ DÉ, TÜSSUM TÜMÉ TOKPAPO
SEMCHEN KÜN KYI LU CHENPO, YÖNTEN TÖCHEN NAMKYI TÖ
Dialah yang melewati noda segala perasaan gelisah,
Yang mengerti tiga waktu sebagai bukan waktu;
Dia adalah pemimpin (naga) agung bagi semua makhluk terbatas,
Mahkota dari mereka yang memakai mahkota sifat yang baik.
(87)
NYÖNMONG KÜNLÉ NAMDRÖLWA, NAMKHÉ LAMLA RAP NÉPA
YISHIN NORBU CHENPO CHANG, KHYABDA RINCHEN KÜN KYI CHOK
Pasti terbebas dari segala (sisa-sisa) tubuh,
Dia yang sudah mapan dalam jejak langit;
Pembawa permata pengabul harapan yang agung,
Dia adalah guru dari segala permata tertinggi yang ada di manapun.
(88)
PAKSAM SHINGCHEN GYÉPA TÉ, PUMPA ZANGPO CHÉWÉ CHOK
CHÉPA SEMCHEN KÜN TÖN CHÉ, PENDÖ SEMCHEN NYÉ SHINPA
Dia adalah pohon pengabul keinginan yang agung dan berlimpah,
Bokor keunggulan yang luar biasa;
Perantara yang memenuhi tujuan dari semua makhluk terbatas, pengharap keuntungan,
Dialah yang memiliki kasih sayang orang tua terhadap makhluk terbatas.
(89)
ZANGEN SHÉSHING TÜ SHÉPA, KHYABDA TAMSHÉ TAMTSIK DEN
TÜSHÉ SEMCHEN WANGPO SHÉ, NAMDRÖL SUMLA KHÉPAPO
Dia yang mengetahui apa yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, yang mengetahui pemilihan waktu,
Yang mengetahui ikatan erat, penjaga ikatan erat, guru dari segala sesuatu;
Dia yang mengetahui kemampuan makhluk terbatas, yang mengetahui kejadiannya,
Yang terampil dalam tiga (jenis) kebebasan.
(90)
YÖNTEN DENSHING YÖNTEN SHÉ, CHÖSHÉ TRASHI TRASHI JUNG
TRASHI KÜN KYI TRASHIPA, DRAKPA TRASHI NYENDRAK GÉ
Dia yang memiliki kualitas baik, yang mengetahui kualitas baik, yang mengetahui Dharma,
Yang beruntung, sumber dari keberuntungan,
Dia merupakan peruntungan dari segala keberuntungan,
Yang memiliki tanda keberuntungan yang terkemuka, terkenal dan membangun.
(91)
UKJIN CHENPO GATÖN CHÉ, GACHEN RÖLMO CHENPO TÉ
KURTI RIMDRO PÜNSUM TSOK, CHOKTU GAWA DRAKDA PEL
Dia adalah nafas luar biasa, pesta luar biasa,
Sukacita besar, kepuasan besar,
Menunjukkan rasa hormat, yang menunjukkan hormat, yang berkelimpahan,
Yang sangat bersukacita, guru yang terkemuka, sang pemenang.
(92)
CHOKDEN CHOKJIN TSOWO TÉ, KYAPKYI TAMPA KYAPSU Ö
JIKTEN DRA TÉ RAPKYI CHOK, JIKPA MALÜ SELWAPO
Segala miliknya adalah yang terbaik, dialah pemberi yang terbaik, yang terunggul,
Tempat untuk berlindung, dialah pelindung tertinggi,
Musuh terbaik dari hal-hal yang menakutkan,
Penghilang dari hal yang menakutkan, tanpa terkecuali.
(93)
TSUPÜ PÜBU CHANGLO CHEN, RELPA MUNDZA CHÖPEN TOK
DONG NGA TSUKPÜ NGA TANG DEN, ZURPÜ NGAPA MÉTOK TÖ
Rambutnya disanggul, dialah yang rambutnya disanggul,
Rambutnya kusut, dialah yang rambutnya kusut,
Dialah yang terbungkus tali keramat dari rumput munja, yang memakai mahkota,
Yang dengan lima wajah, lima sanggul rambut,
Dan lima helai simpul, (masing-masing) dimahkotai dengan bunga mekar.
(94)
GODUM TÜLSHUK CHENPO TÉ, TSANGPAR CHÖPA TÜLSHUK CHOK
KATUP TARCHIN KATUP CHÉ, TSANGNÉ TAMPA GAUTAMA
Dialah yang terlatih dalam ilmumenjinakkan yang hebat, yang berkepala gundul,
Yang berperilaku selibat bak Brahma, yang memiliki ilmu tinggi untuk menjinakkan,
Yang dengan cobaan yang berat, yang telah menyelesaikan cobaannya,
Yang terbersihkan, yang paling utama, Gautama.
(95)
DRAMZÉ TSANGPA TSANGPA SHÉ, NYANGEN DÉPA TSANGPA TOP
DRÖLWÉ TARPA NAMDRÖL LÜ, NAMDRÖL SHIWA SHIWA NYI
Dia adalah brahmin, Brahma, yang mengetahui Brahma,
Pemilik pencapaian Brahma-nirwana;
Yang terbebaskan, dia adalah pembebasan, yang memiliki tubuh penuh kebebasan,
Yang bebas dengan sempurna, yang damai, keadaan damai.
(96)
NYANGEN DÉSHI NYANGEN DÉ, LEKPAR NYANGEN DÉ TANG NYÉ
DÉDUK SELWA TARGYURPA, CHAKDREL LÜ LÉ DÉPAPO
Dia adalah pelepasan nirwana, yang damai, yang dilepaskan di nirwana,
Dia adalah yang pasti diantarkan dan hampir (dibawa sampai akhir),
Yang telah menyelesaikan pembawaan akhir dari kesenangan dan kesakitan,
Yang dengan ketidakterikatan, yang dengan (sisa) tubuh konsumsi.
(97)
TUPPA MÉPA PÉ MÉPA, MINGÖN MINANG SELCHÉ MIN
MINGYUR KÜNDRO KHYAPPAPO, TRASHING ZAKMÉ SABÖN DREL
Dia yang tak terkalahkan, tak tertandingi,
Yang tak bermanifestasi, yang tak tampak, yang tak bertanda yang membuatnya terlihat,
Yang tidak berubah, yang terus berjalan, yang melingkupi segalanya,
Yang halus, tak ternoda, tak berbiji.
(98)
DÜLMÉ DÜLDREL TRIMA MÉ, NYÉPA PANGPA KYÖN MÉPA
SHINTU SÉPA SÉPÉ DAK, KÜNSHÉ KÜNRIK TAMPAPO
Dialah yang tanpa setitik debu, tak berdebu, tak bernoda,
Dengan cacat yang tercairkan, yang tanpa penyakit;
Dia yang terbangun penuh, dengan sifat identitas, yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Yang Maha Mengetahui segalanya.
(99)
NAMPAR SHÉPÉ CHÖNYI DÉ, YÉSHÉ NYIMÉ TSÜL CHANGWA
NAMPAR TOKMÉ LHÜNKYI DRUP, TÜSSUM SANGYÉ LÉ CHÉPA
Di luar sifat mempartisi kesadaran utama,
Dialah kesadaran mendalam, pembawa bentuk nondualitas;
Dialah yang tanpa pemikiran konseptual, seketika mencapai (tanpa usaha apapun),
Yang melakukan perbuatan pencerahan para Buddha sepanjang tiga waktu.
(100)
SANGYÉ TOKMA TAMA MÉ, TANGPÖ SANGYÉ GYU MÉPA
YÉSHÉ MIK CHIK TRIMA MÉ, YÉSHÉ LÜCHEN TÉSHIN SHEK
Dialah Buddha, yang tanpa permulaan atau akhir,
Adibuddha (permulaan), yang belum pernah ada sebelumnya;
Mata tunggal dengan kesadaran mendalam, yang tanpa noda,
Kesadaran mendalam yang terkandung di dalamnya, dialah Tathagata.
(101)
TSIKI WANGCHUK MAWA CHÉ, MAWÉ KYÉNCHOK MAWÉ GYEL
MAWÉ TAMPA CHOKI NÉ, MAWÉ SENGÉ TSUKPA MÉ
Dia adalah penguasa yang kuat, pembicara yang agung
Makhluk tertinggi di antara pembicara, penguasa pembicara,
Yang terbaik dari mereka yang berbicara, yang terbaik,
Singa pembicara, tak terkalahkan oleh lainnya.
(102)
KUNTU TAWÉ CHOKTU GA, ZIJI TRENGWA TANA DUK
ÖZANG BARWA PELKYI BÉU, LANA Ö BAR NANGWAPO
Melihat sekeliling, dia adalah sukacita tertinggi,
Dengan karangan bunga yang cemerlang, indah untuk ditatap;
Dia adalah sinar yang agung, yang berkobar (Wisnu, kekasih Shri), lingkaran hati,
Pencahaya dengan tangan (yaitu sinar) dari cahaya yang berkobar.
(103)
MENPA CHÉMCHOK TSOWO TÉ, ZUNGU JINPA LANA MÉ
MENNAM MALÜ JÖNPÉ SHING, NÉDO CHOK KI DRA CHÉWA
Dokter terbaik di antara para tabib yang hebat, dialah yang terunggul,
Penghilang rasa sakit yang berduri;
Dia adalah pohon surgawi dari semua pengobatan, tidak ada yang tertinggal,
Musuh besar penyakit dari perasaan gelisah.
(104)
DUGU JIKTEN SUMKYI CHOK, PALDEN GYUKAR KYILKHOR CHEN
CHOKCHU NAMKHÉ TAR TUKPAR, CHÖKYI GYELTSEN LEKPAR DZUK
Dialah tanda keindahan dari tiga alam dunia, yang indah,
Yang mulia, dengan mandala bintang konstelasi bulan dan zodiak;
Dialah yang membentang sampai ke ujung angkasa di sepuluh penjuru,
Pengibaran panji Dharma yang menanjak.
(105)
DRONA DUK CHIK YANGPA TÉ, CHAM TANG NYINGJÉ KYILKHOR CHEN
PALDEN PÉMA KARKYI DAK, KHYABDA CHENPO RINCHEN DUK
Dia adalah perpanjangan unik dari payung di dunia mengembara,
Dengan lingkaran mandala cinta dan kasih sayang;
Dialah yang mulia, Penguasa Tari Teratai yang perkasa,
Guru agung yang melingkupi segalanya, yang memiliki payung permata berharga.
(106)
SANGYÉ KÜN KYI ZIJI CHÉ, SANGYÉ KÜN KYI KU CHANGWA
SANGYÉ KÜN KYI NELJOR CHÉ, SANGYÉ KÜN KYI TENPA CHIK
Dialah raja agung di antara para Buddha,
Pemegang perwujudan semua Buddha,
Yoga yang hebat dari semua Buddha
Ajaran unik dari semua Buddha.
(107)
DORJÉ RINCHEN WANGKUR PEL, RINCHEN KÜNDAK WANGCHUK TÉ
JIKTEN WANGCHUK KÜN KYI DAK, DORJÉ CHANGWA KÜN KYI JÉ
Dia adalah kemenangan dari pemberdayaan permata vajra,
Penguasa yang berkuasa atas semua permata;
Penguasa segalanya (Lokeshvaras,) penguasa dunia yang perkasa,
Dia adalah penguasa semua (Vajradharas), pemegang vajra.
(108)
SANGYÉ KÜN KYI TUK CHÉWA, SANGYÉ KÜN KYI TUKLA NÉ
SANGYÉ KÜN KYI KU CHÉWA, SANGYÉ KÜN KYI SUNG YANG YIN
Dia adalah pikiran hebat dari semua Buddha,
Yang hadir di pikiran semua Buddha;
Dia adalah tubuh pencerahan yang luar biasa dari semua Buddha,
Dia adalah perkataan yang indah (Sarasvati) dari semua Buddha.
(109)
DORJÉ NYIMA NANGWA CHÉ, DORJÉ DAWA TRIMÉ Ö
CHADREL LASSO CHAKPA CHÉ, KHADO NATSO BARWÉ Ö
Dia adalah matahari vajra, pencahaya yang hebat,
Bulan vajra, cahaya tak bernoda;
Dia adalah keinginan besar, yang bermula dari ketidakinginan,
Cahaya menyala dalam berbagai warna.
(110)
DORJÉ KYILTRUNG DZOK SANGYÉ, SANGYÉ DROWÉ CHÖ DZINPA
PALDEN SANGYÉ PÉMA KYÉ, KÜNKHYEN YÉSHÉ DZÖ DZINPA
Dialah postur vajra dari Yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Pembawa Dharma, konser dari para Buddha;
Dialah yang mulia, yang lahir dari teratai para Buddha,
Penjaga harta karun kesadaran mendalam yang maha tahu.
(111)
GYELPO GYUNTRÜL NATSO CHANG, CHÉWA SANGYÉ RIK NGAK CHANG
DORJÉ NÖNPO RÉLTRI CHÉ, YIGÉ CHOK TÉ NAMPAR TAK
Dialah pembawa berbagai macam ilusi, dia adalah raja;
Dialah pembawa mantra kesadaran murni sang Buddha, dialah yang hebat;
Dia adalah vajra yang tajam, pedang yang luar biasa,
Suku kata tertinggi, sepenuhnya murni.
(112)
TEKPA CHENPO DUNGEL CHÖ, TSÖNCHA CHENPO DORJÉ CHÖ
DORJÉ ZAPMO DZINA DZIK, DORJÉ LOTRÖ TÉSHIN RIK
Dia adalah Sarana Hebat (Mahayana), pemotong penderitaan,
Dia adalah senjata hebat, Vajra Dharma;
Dia adalah (Jinajik) kemenangan dari sang pemenang, vajra yang mendalam,
Dia adalah kecerdasan vajra, yang mengetahui hal-hal dan bagaimana mereka ada.
(113)
PARÖL CHINPA KÜN DZOKPA, SANAM KÜN KYI GYEN TANG DEN
NAMPAR TAKPA DAKMÉ CHÖ, YANGDAK YÉSHÉ DAWÖ ZANG
Dia adalah bentuk sempurna dari sikap yang menerawang jauh,
Pemakai semua alam tingkat pikiran sebagai perhiasan;
Dia adalah kekurangan sifat identitas sebenarnya dari keberadaan murni sepenuhnya,
Dia adalah kesadaran mendalam yang benar, cahaya inti dari bulan.
(114)
TSÖNCHEN GYUNTRÜL TRAWA TÉ, GYÜ KÜN KYI NI DAKPO CHOK
DORJÉ DEN NI MALÜ DEN, YÉSHÉ KUNAM MALÜ CHANG
Dia adalah ketekunan luar biasa (diterapkan), Jaring Ilusi,
Berdaulat atas semua tantra, yang luar biasa;
Dia adalah pemilik vajra (postur dan) dudukan, tanpa terkecuali,
Dia adalah pembawa tubuh pencerahan dari kesadaran mendalam, tanpa terkecuali.
(115)
KUNTU ZANGPO LOTRÖ ZANG, SAYI NYINGPO DROWA DZIN
SANGYÉ KÜN KYI NYINGPO CHÉ, TRÜLPE KHORLO NATSO CHANG
Dia yang unggul dalam segala hal (Samanta-bhadra), dia memiliki kecerdasan luar biasa,
Dia adalah rahim dari bumi (Kshiti-garbha), pendukung dari dunia mengembara;
Dia adalah rahim luar biasa dari semua Buddha,
Pembawa lingkaran dari emanasi yang bermacam-macam.
(116)
NGÖPO KÜN KYI RANGSHIN CHOK, NGÖPO KÜN KYI RANGSHIN DZIN
KYÉMÉ CHÖ TÉ NATSO TÖN, CHÖ KÜN NGOWO NYI CHANGWA
Dia adalah sifat tertinggi dari semua fenomena fungsional,
Pembawa sifat tertinggi dari semua fenomena fungsional;
Dia adalah keberadaan yang tidak muncul, dengan berbagai tujuan,
Pembawa sifat segala sesuatu yang ada.
(117)
SHÉRAP CHENPÖ KÉCHIK LA, CHÖ KÜN KHONGTU CHÜPA CHANG
CHÖ KÜN NGÖNPAR TOKPA TÉ, TUPPA LO CHOK JUNGPÖ TA
Kesadaran yang membeda-bedakan yang hebat dalam sekejap,
Dia adalah pembawa pemahaman terhadap semua hal yang ada;
Realisasi yang jelas dari semua hal yang ada,
Dia adalah orang bijak yang cakap, dengan kecerdasan tertinggi, titik akhir dari apa yang ada yang sempurna sekali.
(118)
MIYO RAPTU TANGWÉ DAK, DZOKPÉ SANGYÉ CHANGCHUP CHANG
SANGYÉ KÜN KYI NGÖNSUMPA, YÉSHÉ MÉCHÉ Ö RAPSEL
Dialah yang tak tergoyahkan, sangat murni, berdasarkan sifat identitas,
Pembawa kondisi murni dari Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sepenuhnya;
Dia yang memiliki pengetahuan murni tentang semua Buddha,
Nyala api kesadaran mendalam, cahaya jernih yang luar biasa.
Dua Puluh Empat Ayat Tentang Menyamakan Kesadaran Mendalam
(119)
DÖPÉ TÖNDRUP TAMPA TÉ, NGENSONG TAMCHÉ NAMJONGWA
GÖNPO SEMCHEN KÜN KYI CHOK, SEMCHEN TAMCHÉ RABDRÖL CHÉ
Dia adalah pemenuh tujuan yang diharapkan, dia luar biasa,
Yang memurnikan sepenuhnya semua keadaan kelahiran kembali yang lebih buruk;
Dia adalah yang terutama dari semua makhluk terbatas, sang penjaga,
Pembebas sepenuhnya dari semua makhluk terbatas.
(120)
NYÖNMONG YÜLTU CHIK PAWA, MISHÉ DRAYI DREKPA JOM
LODEN GÉK CHANG PEL TANG DEN, TENPO MIDUK ZUK CHANGWA
Dia adalah pahlawan dalam pertempuran dengan perasaan menggelisahkan, yang unik,
Pemberantas kesombongan kurang ajar dari musuh “ketidaksadaran”;
Dia cerdas, pembawa nada terpikat, yang memiliki kemuliaan,
Pembawa bentuk dengan nada heroik dan menghina.
(121)
LAKPÉ YUKPA GYA KYÖ CHING, KOMPÉ TAPKYI GAR CHÉPA
PALDEN LAKPA GYÉ KANG LA, NAMKHA KHYAPPA GAR CHÉPA
Dialah yang memukul seratus pentungan di tangannya,
Dialah penari dengan hentakan kakinya;
Dialah yang memiliki kemuliaan, pengguna seratus (pengguna) tangan,
Penari melintasi (sektor yang digunakan dalam) hamparan langit.
(122)
SAYI KYILKHOR SHIYI KHYÖN, KANGPA YACHIK TILKYI NÖN
KANGTEP SEMMÖ KHYÖNKYI KYANG, TSANGPÉ YÜLSA TSÉNÉ NÖN
Dialah yang berdiri di permukaan bumi mandala,
Menekan permukaan dengan satu kaki;
Dialah yang berdiri dengan kuku dari jempol kakinya yang besar,
Menekan ujung dari dunia Brahma (seperti telur).
(123)
TÖN CHIK NYIMÉ CHÖKYI TÖN, TAMPÉ TÖN NI JIKPA MÉ
NAMRIK NATSO ZUKTÖN CHEN, SEM TANG NAMSHÉ GYÜ TANG DEN
Dialah yang butir tunggal, butir yang berhubungan dengan fenomena yang nondual,
Dialah butir (keberanaran) terdalam, (penguasa hebat yang tidak dapat musnah), yang kekurangan apa yang menakutkan;
Dialah butir dengan berbagai bentuk yang membuka pikiran,
Yang memiliki kelanjutan pikiran dan dari kesadaran yang terbagi.
(124)
NGÖTÖN MALÜ NAMLA GA, TONGPANYI GA DÖCHA LO
SIPÉ DÖCHA SO PANGPA, SISSUM GAWA CHENPO TÉ
Dia adalah kesadaran yang gembira akan sesuatu yang ada, tanpa pengecualian,
Dia adalah kesadaran yang gembira akan kehampaan, kecerdasan tertinggi;
Yang melampaui keinginan-keinginan dan sejenisnya, keberadaan yang fana
Dia adalah kesadaran penuh gembira tentang tiga (alam dari) keberadaan yang fana
(125)
TRINKAR TAKPA SHINTU KAR, ÖZANG TÖNKÉ DAWÉ Ö
NYIMA CHARKHÉ KYIL TAR DZÉ, SEMMÖ Ö NI SHÉCHER MAR
Dialah yang putih suci – awan putih yang cemerlang,
Dengan cahaya indah – pancaran bulan musim gugur,
Dengan (wajah) yang indah – bola mandala matahari (muda),
Dengan cahaya dari kukunya – warna merah yang penuh kehidupan
(126)
CHÖPEN ZANGPO TÖNKÉ TSÉ, TRAMCHOK TÖNKA CHENPO CHANG
NORBU CHENPO ÖCHAK PEL, SANGYÉ TRÜLPÉ GYEN TANG DEN
Dengan rambut berwarna biru safir yang disanggul ke atas,
Dan mengenakan safir indah di atas sanggulnya,
Dialah yang mulia dengan pancaran kilauan permata yang megah,
Memiliki emanasi Buddha sebagai perhiasan.
(127)
JIKTEN KHAMGYA KÜN KYÖPA, DZUNTRÜL KANGPÉ TOPCHEN DEN
TÉNYI DRENPA CHENPO CHANG, DRENPA SHIPO TINGDZIN GYEL
Dia adalah pengguncang dunia dari ratusan dunia,
Yang dengan kekuatan besar dengan kaki ekstrafisiknya yang kuat;
Dialah pemegang dari (keadaan) kesadaran agung, juga fakta realitas,
Dialah penguasa dari intisari dari empat jenis kesadaran.
(128)
CHANGCHUP YENLA MÉTOK PÖ, TÉSHIN SHEKPÉ YÖNTEN TSO
LAMKYI YENLA GYÉ TSÜL RIK, YANGDAK SANGYÉ LAM RIKPA
Dia adalah keharuman bunga cinta di dahan (memimpin) menuju keadaan murni,
(Krim di atas) lautan kualitas baik dari Tathagata;
Dialah yang mengetahui cara perjalanan dengan jalan berunsur delapan,
Yang mengetahui jalan pikiran Yang Sempurna, Tercerahkan Sepenuhnya.
(129)
SEMCHEN KÜN LA SHÉCHER CHAK, NAMKHA TABUR CHAKPA MÉ
SEMCHEN KÜN KYI YI LA JUK, SEMCHEN KÜN KYI YI TAR GYOK
Dialah yang sangat setia terhadap semua makhluk terbatas,
Namun tanpa kemelekatan, seperti langit;
Dialah memasuki pikiran semua makhluk terbatas,
Dengan kecepatan yang sesuai dengan pikiran semua makhluk terbatas,
(130)
SEMCHEN KÜN KYI WANGTÖN SHE, SEMCHEN KÜN KYI YI TROKPA
PUNGPO NGA TÖN TÉNYI SHÉ, NAMDAK PUNGPO NGA CHANGWA
Dia yang sadar atas tingkat kekuatan dan objek dari semua makhluk terbatas,
Yang memenangkan hati semua makhluk terbatas;
Dia yang sadar atas segala sesuatu dari lima faktor agregat,
Yang memegang kemurnian penuh dari lima faktor agregat.
(131)
NGÉJUNG KÜN KYI TA LA NÉ, NGÉPAR JUNGWA KÜN LA KHÉ
NGÉJUNG KÜN KYI LAM LA NÉ, NGÉPAR JUNGWA KÜN TÖNPA
Dia yang berdiri di akhir setiap pembebasan yang nyata,
Yang terampil dalam hal membawa setiap pembebasan yang nyata;
Dia yang berdiri di jalan untuk setiap pembebasan yang nyata,
Orang yang menunjukkan setiap pembebasan yang nyata.
(132)
YENLA CHUNYI SITSA TÖN, TAKPA NAMPA CHUNYI CHANG
DENSHI TSÜLKYI NAMPA CHEN, SHÉPA GYÉPO TOKPA CHANG
Dialah yang mencabut eksistensi fana dengan dua belas kali lipat mata rantainya,
Pemegang penyuciannya dengan dua belas kali lipat aspek;
Menguasai cara penempuhan empat kali lipat kebenaran,
Dia adalah pemegang dari realisasi kebenaran delapan kali lipat kesadaran.
(133)
DENTÖN NAMPA CHUNYI DEN, TÉNYI NAMPA CHUDRUK RIK
NAMPA NYISHÜ CHANGCHUPPA, NAMPAR SANGYÉ KÜN RIK CHOK
Dia adalah inti kebenaran dalam dua belas kali lipat aspek,
Yang mengetahui realitas dalam enam belas aspek,
Yang Tercerahkan Sepenuhnya melalui dua puluh aspek,
Buddha Tercerahkan, yang paling mengetahui semuanya.
(134)
SANGYÉ KÜN KYI TRÜLPÉ KU, CHÉWA PAKMÉ GYÉPAPO
KÉCHIK TAMCHÉ NGÖNPAR TOK, SEMKYI KÉCHIK TÖN KÜN RIK
Dialah yang menghasilkan jutaan pengetahuan
Atas tubuh emanasi mencerahkan dari Buddha yang tak terhitung jumlahnya;
Dia adalah realisasi jernih dari segalanya dalam sekejap,
Yang mengetahui tujuan dari semua momen pikiran.
(135)
TEKPA NATSO TAP TSÜLNÖN, DROWÉ TÖN LA TOKPAPO
TEKPA SUMKYI NGÉJUNG LA, TEKPA CHIK KI DRÉBUR NÉ
Dia adalah sarana yang terampil mengenai penempuhan berbagai sarana pikiran,
Yang mengetahui tujuan dunia pengembara;
Dia yang pastinya telah menyampaikan tiga kali lipat, melalui sarana pikiran,
Yang membentuk sebagai buah dari (Ekayana), sarana pemikiran tunggal.
(136)
NYÖNMONG KHAMNAM TAKPÉ DAK, LÉKYI KHAMNAM ZÉ CHÉPA
CHUWO GYANTSO KÜNLÉ GEL, JORWÉ GÖNPA LÉ JUNGWA
Dia adalah sifat identitas yang sepenuhnya murni dari perasaan gelisah,
Dia adalah penguras habis bola-bola karma;
Dia yang telah berhasil melintasi ombak lautan,
Yang muncul dari hutan belantara melalui yoga.
(137)
NYÖNMONG NYÉWÉ KÜN NYÖNMONG, BAKCHA CHÉPA TEN PANGPA
NYINGJÉ CHENPO SHÉRAP TAP, TÖN YÖ DROWÉ TÖN CHÉPA
Dia yang dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaan menggelisahkan, perasaan gelisah tambahan,
Dan perasaan gelisah pada umumnya, beserta (semua) kebiasaannya,
Dia adalah kesadaran membedakan dan kasih sayang yang besar dengan cara yang mumpuni,
Yang memenuhi tujuan dari dunia pengembara, dengan penuh makna (tanpa kegagalan)
(138)
DUSHÉ KÜN KYI TÖN PANG SHING, NAMSHÉ TÖN NI GAKPAR CHÉ
SEMCHEN KÜN YI YÜL TANG DEN, SEMCHEN KÜN KYI YI RIKPA
Dia yang dengan objek kebijaksanaan pemikirannya telah disingkirkan,
Yang tujuan kesadarannya terbagi terhenti;
Dia adalah objek pemikiran (mengacu pada) semua makhluk terbatas,
Yang tinggal dalam pikiran semua makhluk terbatas.
(139)
SEMCHEN KÜN KYI YI LA NÉ, TÉDA SEM TANG TÜNPAR JUK
SEMCHEN KÜN YI TSIMPAR CHÉ, SEMCHEN KÜN KYI YI GAWA
Dia adalah pendirian pikiran terdalam dari semua makhluk terbatas,
Yang melewati sebagai persamaan dalam pikiran mereka;
Dia yang membawa kepuasan pada pikiran semua makhluk terbatas,
Dialah sukacita pikiran dari semua makhluk terbatas.
(140)
TRUPPA TARCHIN TRÜLPA MÉ, NORWA TAMCHÉ NAMPAR PANG
TÖN SUM TÉTSOM MÉPÉ LO, KÜNTÖN YÖNTEN SUMKYI DAK
Dialah titik puncak aktualisasi, di mana kebimbangan telah sirna,
Dialah yang menghilangkan segala kesalahan;
Dialah kecerdasan yang tidak goyah, yang berlipat tiga,
Yang satu (memenuhi) tujuan semua orang, dengan pengertian dari tiga unsurnya.
(141)
PUNGPO NGA TÖN TÜ SUMPA, KÉCHIK TAMCHÉ CHÉDRA CHÉ
KÉCHIK CHIK KI DZOK SANGYÉ, SANGYÉ KÜN KYI RANGSHIN CHANG
Dia adalah objek (mengacu pada) lima faktor agregat, yang ada di penjuru tiga waktu,
Yang membuat segala sesuatunya dapat diketahui setiap saat;
Yang memiliki pencerahan total nyata dalam sekejap,
Pembawa sifat alami semua Buddha.
(142)
LÜMÉ LÜTÉ LÜKYI CHOK, LÜKYI TA NI TOKPAPO
ZUNAM NATSO KUNTU TÖN, NORBU CHENPO RINCHEN TOK
Dialah yang memiliki tubuh pencerahan yang tidak berwujud, yang utama dari semua tubuh yang mencerahkan.
Yang membuat jutaan tubuh mencerahkan dapat diketahui;
Dialah yang dimanapun menunjukkan berbagai bentuk.
Dialah permata yang agung, (Ratnaketu,) permata yang paling berharga.
Lima Belas Ayat tentang Mencapai Kesadaran Mendalam
(143)
SANGYÉ KÜN KYI TOK CHAWA, SANGYÉ CHANGCHUP LANA MÉ
SANGA LÉ JUNG YIGÉ MÉ, SANGA CHENPO RIK SUMPA
Dialah yang harus disadari oleh semua Yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Dialah keadaan murni sang Buddha, yang tiada taranya;
Dia yang tak bersuku kata, yang keluar dari rahim mantra tersembunyi,
Tiga serangkai keluarga mantra besar yang tersembunyi.
(144)
SANGA TÖN KÜN KYÉPAPO, TIKLÉ CHENPO YIGÉ MÉ
TONGPA CHENPO YIGÉ NGA, TIKLÉ TONGPA YIGÉ GYA
Dia adalah pencipta dari setiap makna mantra tersembunyi,
Dia adalah pelepas energi kreatif yang hebat, yang bukan merupakan suku kata;
Dia adalah kehampaan yang besar, memiliki lima suku kata,
Dan kekosongan kreatif, memiliki enam suku kata.
(145)
NAMPA KÜNDEN NAMPA MÉ, CHUDRUK CHÉCHÉ TIKLÉ CHEN
YENLA MÉPÉ TSI LÉ DÉ, SAMTEN SHIPÉ TSÉMO CHEN
Dia adalah pemilik seluruh bagian, namun tidak terdiri atas bagian,
Dia adalah pembawa dari enam belas tetes kreatif, dan setengah dari setengahnya;
Dialah yang tanpa fase, tak terhitung,
Pemegang puncak kestabilan mental tingkat keempat.
(146)
SAMTEN YENLA KÜN SHÉ SHING, TINGDZIN RIK TANG GYÜ RIKPA
TINGDZIN LÜCHEN LÜKYI CHOK, LONGCHÖ DZOK KU KÜN KYI GYEL
Dia adalah kesadaran tingkat lanjut pada fase seluruh tingkat kestabilan mental,
Yang mengetahui keluarga dan kasta dari mereka dengan pemikiran terpusat;
Dia yang dengan tubuh pencerahan dengan pemikiran terpusat, yang paling utama dari tubuh pencerahan.
Penguasa dari seluruh (Sambhogakaya), Tubuh Pencerahan Yang Bermanfaat Penuh.
(147)
TRÜLPÉ KU TÉ KU YI CHOK, SANGYÉ TRÜLPÉ GYÜ CHANGWA
CHOK CHUR TRÜLPA NATSO GYÉ, CHISHIN DROWÉ TÖN CHÉPA
Dia yang dengan (Nirmanakaya,) Tubuh Pencerahan dari Emanasi, yang paling utama dari tubuh pencerahan,
Pemegang silsilah emanasi Sang Buddha;
Dia yang mengeluarkan berbagai emanasi di sepuluh penjuru,
Yang memenuhi tujuan dari dunia pengembara, apapun itu.
(148)
LHA TANG LHAWANG LHA YI LHA, LHA YI WANGPO LHAMIN DA
CHIMÉ WANGPO LHA YI LA, JOMCHÉ JOMCHÉ WANG CHUKPO
Dia adalah pemimpin istadewata, sang istadewata di atas istadewata lainnya,
Pemimpin para dewa, penguasa (yang jahat) para non-dewa,
Pemimpin dari yang kekal, guru para dewa,
Penghancur, dan penguasa dari para penghancur yang kuat.
(149)
SIPÉ GÖNPA LÉ GELWA, TÖNPA CHIKPU DROWÉ LA
JIKTEN CHOK CHUR RAP DRAKPA, CHÖKYI JINDA CHÉWAPO
Dialah yang melintasi hutan belantara dari keberadaan yang diharuskan,
Penunjuk jalan yang unik, guru dari dunia pengembara;
Dia dikenal di seluruh sepuluh penjuru dunia;
Guru dari kedermawanan Dharma, yang luar biasa.
(150)
CHAMPÉ KOCHA CHÉPA TÉ, NYINGJÉ YI NI YALÉ GÖ
SHÉRAP RELDRI DA SHU TOK, NYÖNMONG MISHÉ YÜL NGO SEL
Dilapisi dengan baju besi cinta,
Dilapisi dengan mantel kasih sayang,
Pengguna pedang kesadaran pembeda dan busur dan anak panah,
Dia yang menyelesaikan perjuangan melawan perasan gelisah dan ketidaksadaran.
(151)
PAWO DÜDRA DÜN DÜLWA, DÜSHI JIKPA SELWAR CHÉ
DÜKYI PUNG NAM PAM CHÉPA, DZOKPÉ SANGYÉ JIKTEN DREN
Dia yang gagah berani, musuh dari (mara) kekuatan iblis, penakluk para mara,
Yang mengakhiri ketakutan terhadap empat mara;
Yang mengalahkan kekuatan militer dari para mara,
Dia yang Tercerahkan Sepenuhnya, pemimpin dunia.
(152)
CHÖ Ö TÖ Ö CHAK KI NÉ, TAKTU RIMOR CHAWÉ Ö
KUR Ö JÉPAR CHAWÉ CHOK, CHAK CHAR ÖPA LAMÉ RAP
Dia yang patut menerima sesembahan, patut dipuji, patut disembah,
Layak (dihormati) selamanya dalam lukisan,
Layak untuk dihormati, paling layak untuk dipuja,
Layak untuk diberi penghormatan, guru tertinggi.
(153)
JIKTEN SUMPO GOM CHIK DRÖ, KHATAR TAMÉ NAMPAR NÖN
SUM RIK TSANGMA TAKPA TÉ, NGÖNSHÉ DRUK DEN JÉDREN DRUK
Dia yang melintasi tiga alam dunia dalam satu langkah,
Yang melangkah maju tanpa henti, seperti angkasa;
Dia yang lengkap dengan tiga pengetahuan, (kemahiran dalam hal yang suci) bersih dan murni,
Yang memiliki enam jenis kesadaran tinggi dan enam jenis kedekatan perhatian.
(154)
CHANGCHUP SEMPA SEMPA CHÉ, DZUNTRÜL CHENPO JIKTEN DÉ
SHÉRAP PARÖL CHINPÉ TA, SHÉRAP KYI NI TÉNYI TOP
Dia adalah bodhisattva, yang berpikiran agung (mahasattva),
Yang dengan kekuatan ekstrafisik yang besar, yang melampaui dunia;
(Terletak) di titik akhir kesadaran yang membedakan yang luas jangkauannya (prajnaparamita),
Dialah yang menjadi kenyataan melalui kesadaran pembeda.
(155)
DARIK SHENRIK TAMCHÉPA, KUNLA PENPÉ KANGZAK CHOK
PERCHA KÜN LÉ DÉPA TÉ, SHÉ TANG SHÉJÉ DAKPO CHOK
Dia yang memiliki seluruh pengetahuan akan diri sendiri dan orang lain,
Bermanfaat bagi semua orang, sosok yang terdepan (dari semuanya);
Dialah yang melampaui segala perbandingan,
Penguasa luar biasa dalam mengetahui dan apa yang harus diketahui.
(156)
TSOWO CHÖKYI JINDA TÉ, CHAGYA SHIPÖ TÖN TÖNPA
DROWÉ NYENKUR NÉKYI CHOK, NGÉJUNG SUMPO DRÖNAM KYI
Dia adalah guru yang murah hati dalam memberikan Dharma, yang paling unggul,
Yang menunjukkan makna dari segel empat kali lipat (mudra);
Yang paling pantas ditolong dan dihormati oleh orang-orang duniawi
Dan oleh mereka yang menempuh tiga (jalan) pembebasan yang pasti.
(157)
TÖNKYI TAMPA NAMDAK PEL, JIKTEN SUM NA KELZANG CHÉ
PALDEN JORPA KÜN CHÉPA, JAMPEL PEL TANG DENPÉ CHOK
Dialah kemurnian dan kemuliaan dari kebenaran terdalam,
Bagian keunggulan dari tiga alam dunia, yang terbesar;
Yang membawa segala kekayaan, yang memiliki kemuliaan,
Dia adalah Manjushri, (yang cantik dan mulia,) tertinggi diantara mereka yang memiliki kemuliaan.
Lima Ayat Kesadaran Mendalam dari Lima Tathagata
(158)
CHOKJIN DORJÉ CHOK KHYÖ DÜ, YANGDAK TAR GYUR KHYÖ LA DÜ
TONGNYI LÉ JUNG KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ CHANGCHUP KHYÖ LA DÜ
Hormat kami, pemberi (anugerah) terbaik, vajra terdepan;
Hormat kami, titik akhir dari apa yang sebenarnya terjadi;
Hormat kami, rahim kehampaan;
Hormat kami, kondisi murni para Buddha.
(159)
SANGYÉ CHAKPA KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ DÖ LA CHAKTSEL DÜ
SANGYÉ GYÉPA KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ RÖL LA CHAKTSEL DÜ
Hormat kami, keterikatan para Buddha;
Hormat kami, keinginan Sang Buddha;
Hormat kami, kenikmatan para Buddha;
Hormat kami, keberadaan Sang Buddha.
(160)
SANGYÉ DZUMPA KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ SHÉ LA CHAKTSEL DÜ
SANGYÉ SUNG NYI KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ TU LA CHAKTSEL DÜ
Hormat kami, senyum para Buddha;
Hormat kami, tawa para Buddha (bercahaya);
Hormat kami, perkataan Sang Buddha;
Hormat kami, (keadaan) pikiran Sang Buddha.
(161)
MÉPA LÉ JUNG KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ JUNGWA KHYÖ LA DÜ
NAMKHA LÉ JUNG KHYÖ LA DÜ, YÉSHÉ LÉ JUNG KHYÖ LA DÜ
Hormat kami, muncul dari keberadaan yang tidak benar;
Hormat kami, muncul dari para Buddha;
Hormat kami, muncul dari angkasa;
Hormat kami, muncul dari kesadaran mendalam.
(162)
GYUNTRÜL TRAWA KHYÖ LA DÜ, SANGYÉ RÖLTÖN KHYÖ LA DÜ
TAMCHÉ TAMCHÉ KHYÖ LA DÜ, YÉSHÉ KU NYI KHYÖ LA DÜ
Hormat kami, jaring ilusi;
Hormat kami, penari dari para Buddha;
Hormat kami, segalanya untuk semua orang;
Hormat kami, tubuh tercerahkan dari kesadaran mendalam.
Mantra
OṀ SARVA DHARMA ABHĀVA SVĀBHĀVA VIŚUDDHA VAJRA
A Ā AṀ AḤ
OṀ – kemurnian sepenuhnya dari segala keberadaan,
Dengan sifat identitas, tidak sebenarnya ada,
Melalui mata vajra – A Ā AṀ AḤ
PRAKṚĪTI PARIŚUDDHAḤ SARVA DHARMĀ YAD UTA SARVA TATHĀGATA
JÑĀNAKĀYA MAÑJUŚRĪ PARIŚUDDHĪTAM UPĀDĀYETI
Itu yang sepenuhnya bersifat murni
Dari segala keberadaan mengambil bentuk, sesungguhnya,
Dari Manjushri yang sepenuhnya telah dimurnikan,
Tubuh pencerahan dari kesadaran mendalam Tathagata
AṀ AḤ, SARVA TATHĀGATA HṚĪDAYA HARA HARA
OṀ HŪṀ HRĪḤ BHAGAVĀN JÑĀNAMŪRTI VĀGIŚVARA
MAHĀVĀCA SARVA DHARMĀ GAGANĀMALA SUPARIŚUDDHA
DHARMĀDHĀTU JÑĀNAGARBHĀ ĀḤ
A a: – hati dari semua Tathagata,
Mengambil, mengambil – om hum hri:
Penguasa penakluk yang melampaui segalanya, mewujudkan kesadaran mendalam,
Penguasa perkataan yang perkasa, yang agung sepenuhnya,
Kemurnian sepenuhnya dari seluruh keberadaan, tak ternoda seperti angkasa,
Rahim kesadaran mendalam akan lingkup realitas – a:
Lima Ayat Sebagai Epilog
(163)
TÉNÉ PALDEN DORJÉ CHANG, GA SHING GU NÉ TELMO JAR
GÖNPO CHOMDEN TÉSHIN SHEK, DZOK SANGYÉ LA CHAKTSEL NÉ
Kemudian Pemegang Vajra yang agung,
Bersukacita dan bersenang hati, dengan telapak tangan yang bersatu,
Menunduk kepada sang Penjaga, Penguasa Yang Melampaui Segalanya,
Tathagata, Yang Tercerahkan Sepenuhnya,
(164)
TER NI GÖNPO SANGWÉ DAK, LANA DORJÉ TROWÖ GYEL
NATSO SHEN TANG LHENCHIK TU, SANGTÖ NÉ NI TSIK DI SÖL
Bersama dengan para penjaga lainnya yang terdiri dari berbagai macam jenis,
Penguasa yang tersembunyi, Vajrapani,
Raja kemarahan,
Dengan keras memproklamasikan kata-kata pujian ini,
(165)
GÖNPO DACHA YIRANG NGO, LEKSO LEKSO LEKPAR SUNG
NAMDRÖL DRÉBU TSELWAYI, DROWA GÖMMÉ NAM TANG NI
“Kami bersukacita, Wahai Penjaga,
Luar biasa, luar biasa, dikatakan dengan baik.
Bagi kami, (penjaga) tujuan mulia yang (sekarang) telah dipenuhi,
Pencapaian dari pencerahan penuh yang sempurna;
(166)
DACHA YANGDAK DZOKPA YI, CHANGCHUP TOPPÉ TÖN CHEN DZÉ
GYUNTRÜL TRAWÉ TSÜL TENPA, DI NI NAMDAK LEKPÉ LAM
Dan untuk dunia pengembara juga, kurangnya penjaga,
Mengharapkan buah kebebasan penuh
Jalan pikiran yang baik dan murni ini telah ditunjukkan,
Cara perjalanan dari Jaring Ilusi.
(167)
ZAP CHING YANG LA GYACHÉ TÉ, TÖNCHEN DROWÉ TÖN CHÉPA
SANGYÉ NAMKYI YÜL DI NI, DZOKPÉ SANGYÉ KÜN KYI SHÉ
Tujuan pikiran ini memang milik para Buddha,
Mempunyai cakupan yang mendalam dan luas,
Tujuan besar, memenuhi tujuan dari dunia pengembara,
Telah dijelaskan oleh Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sepenuhnya.”
CHOMDENDÉ JAMPEL YÉSHÉ SEMPÉ TÖNTAMPÉ TSEN YANGDAKPAR JÖPA,
CHOMDENDÉ TÉSHIN SHEKPA SHAKYA TUPPÉ SUNGPA DZOKSO
Tembang Kebenaran Terdalam Nama Guru Penakluk yang Melampaui Segalanya, Makhluk Kesadaran Mendalam Manjushri, yang dijelaskan oleh Guru Penakluk, Tathagata, Shakyamuni, dengan ini telah selesai.
5. Doa Harian kepada Manjushri – Mañjuśrī Arapacana
(Klik DI SINI untuk mengunduh versi PDF)
Doa ini dapat dilafalkan sebagai doa harian kepada Manjushri, untuk memohon pemberkatannya agar dapat mengembangkan kebijaksanaan. Praktisi dapat melafalkan Pujian Panjang kepada Manjushri atau Pujian Singkat kepada Manjushri, tergantung pada tersedianya waktu. Saat melafalkan mantra OM A RA PA TSA NA DHĪ, praktisi harus melafalkannya sebanyak minimum 21 kali, atau sebanyak mungkin.
[Lafalkan doa dalam bahasa Tibet atau bahasa Indonesia]
NAMO GURU MANJUGHOSAYA
Ini adalah sadhana singkat Manjushri Arapacana.
(Visualisasikan objek perlindungan.)
(Berlindung)
Saya berlindung pada Guru mulia nan suci.
Saya berlindung pada Buddha yang sempurna.
Saya berlindung pada Dharma yang suci.
Saya berlindung pada Perkumpulan Spiritual tertinggi.
(Lafalkan doa perlindungan sebanyak tiga kali)
(Membangkitkan Pikiran Tercerahkan)
Saya akan membersihkan kegelapan dari kebodohan semua makhluk hidup dan meningkatkan cahaya kebijaksanaan.
Untuk tujuan ini, saya akan melakukan praktik Manjushri yang bermakna dalam.
(Lafalkan tiga kali)
Dalam sekejap, diri kita berubah menjadi Arya Manjushri, dengan suku kata DHI: di pusat hati, yang memancarkan cahaya, mengundang Arya Manjushri yang sebenarnya dikelilingi oleh banyak Buddha dan Bodhisattva.
(Dan mengundang)
NAMO GURUBHYA
NAMO SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVAREBHYA
(Dan bersujud)
OM AH HUM
(3x untuk memberkati persembahan)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dan membuat persembahan)
(Sumpah Bodhicitta)
Saya berlindung pada Tiga Permata.
Saya menyesali seluruh perbuatan saya yang tidak baik.
Saya bersukacita dengan pahala seluruh makhluk hidup.
Saya akan berpegang pada Bodhicitta sampai tercerahkan
(Lafalkan Sumpah Bodhicitta sebanyak tiga kali)
(Empat Hal Tak Terukur)
Semoga semua mahluk berbahagia dan punya alasan untuk bahagia!
Semoga semua mahluk bebas dari penderitaan dan alasan untuk menderita!
Semoga semua mahluk tidak pernah dipisahkan dari kebahagiaan tanpa penderitaan!
Semoga semua mahluk hidup dalam ketenangan, bebas dari prasangka, keterikatan dan kebencian!
(Dan bermeditasi tentang Empat Hal Tak Terukur)
OM SVABHAVA SHUDDHA: SARVA DHARMA: SVABHAVA SHUDDHO HAM
(Lafalkan paragraf berikut tanpa meditasi)
Semua fenomena larut dalam kekosongan, darinya muncul sebuah jantung berbentuk telur di dalamnya ada suku kata PAM. Dari sini muncul setangkai teratai putih berkelopak enam, di tengahnya ada suku kata AH, yang kemudian berubah menjadi bundaran bulan yang di atasnya tertulis suku kata DHI berwarna oranye:, lengkat dengan semua detilnya. Dari DHI: cahaya beremanasi memenuhi dua maksud. Cahaya ini kembali dan diri kita menjadi Arya Manjushri berwarna oranye, berwajah satu dan berlengan dua, tangan kanan memegang sebilah pedang dan tangan kiri menggenggam setangkai bunga utpala dengan ibu jari dan jari manis, di atas bunga ini ada sebuah teks. Beliau diperindah dengan pertanda mayor dan minor sang Buddha, dengan penampilan pemuda berusia 16 tahun, rambutnya terurai di sisi kiri dan dengan ekspresi yang damai, elegan dan tersenyum, mengenakan pakaian sutera dan berbagai perhiasan permata. Di belakangnya ada sebuah bantalan bulan. Duduk di antara cahaya yang keluar dari tubuhnya, di atas kepalanya ada suku kata OM, di tenggorokannya ada suku kata AH, dan di jantungnya ada suku kata HUM. Dari suku kata HUM di jantungnya keluar cahaya, mengundang makhluk kebijaksanaan identik dan istadewata inisiasi.
OM VAJRA SAMADZA
DZA HUM BAM HO
Makhluk kebijaksanaan dan makhluk komitment menyatu. Istadewata inisiasi memberikan inisiasi dan diri kita sebagai istadewata yang berhiaskan Buddha Aksobhya.
(Dan digenerasikan)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dan memberikan persembahan)
(Pujian)
PUJIAN KEPADA MANJUSHRI (Versi Panjang)
Kolofon: doa suci ini disusun sendiri oleh Lama Tsongkhapa saat melihat Manjushri.
Pujian atas Wujud-Nya:
Hujan kasih sayang, telah lama Kau kenal,
telah memadamkan api yang menyala hanya demi kepuasan diri.
Sebuah pengetahuan murni, tanpa hambatan tentang Kebenaran yang terdalam
telah memotong selamanya jaring-jaring kepalsuan yang ada di mana-mana.
Untuk memberikan pengetahuan-Mu kepada orang lain
Engkau rela memikul beban pelayanan tanpa pamrih.
Istadewata yang luar biasa, di atas angin keyakinan dan pengabdian
Aku melemparkan bunga-bunga pujian ini ke arah-Mu.
Cahaya jingga yang bersinar terang,
seperti gunung emas yang dicium matahari,
Manjushri, harta karun kebijaksanaan, dengarkan aku sebentar.
Meskipun aku mungkin mencari di setiap alam
Aku tidak akan menemukan perlindungan yang lebih besar.
Oleh karenanya, aku memalingkan pikiranku kepada-Mu,
seperti gajah yang tersiksa panas terjun ke kolam teratai.
Alismu, hitam dan melengkung,
lembut, indah, begitu panjang dan elegan,
setiap rambut memiliki panjang yang sama,
bulu mata tebal, lembut, setiap rambut terpisah
dibentuk dengan indah seperti banteng jantan perkasa.
Lingkaran rambut yang sempurna seputih bunga teratai,
melengkung seperti keong ke kanan, terbentuk dengan baik seperti akar teratai,
indah di antara alis seperti setetes perak murni.
Mata panjang dan melengkung seperti kelopak bunga utpala biru,
putih yang indah seperti kelopak teratai yang cerah.
Hidungnya tinggi dan berbentuk simetris,
bibir semerah buah bimba,
empat puluh gigi putih bersih, tertata rapi, dengan ukuran yang sama,
pipi yang bulat penuh seperti singa.
Lidah yang halus dan ramping tertutup
oleh mandala wajah-Mu,
hanya menikmati rasa terbaik.
Telinga diberkahi dengan cuping panjang berbentuk sempurna,
dihiasi oleh ornamen permata nan berharga.
Leher yang terbentuk sempurna
dihiasi oleh rangkaian permata yang mempesona,
sepenuhnya berdaging, tidak ada urat yang menonjol,
seindah vas emas.
Betis, lengan bawah, tulang belikat, punggung atas
semuanya lengkap dan seragam dalam simetri,
tubuh seperti singa, dada selebar Meru.
Bahu yang melengkung elok, lengan mereka yang indah
panjang dan rendah laksana belalai gajah.
Jari tangan dan kaki berselaput indah
seperti angsa kerajaan
Jari-jari yang panjang, lembut, dan muda,
berujung deretan kuku merah berkilau
seperti tunas ramping di atas pohon pengabul harapan surgawi.
Roda emas, masing-masing dengan seribu jari-jari,
menghiasi telapak kakimu, telapak tanganmu,
begitu jelas, begitu sempurna, masing-masing terdefinisi dengan jelas,
karya seni ukir seperti matriks dari sebuah segel.
Lengan kanan-Mu, dihiasi dengan gelang dan ikat lengan,
mengacungkan pedang membara untuk memotong sampai ke akarnya
tanaman menjalar seperti pohon dari ketidaktahuan yang melekat.
Di tangan kiri-Mu, setangkai bunga utpala biru di jantung-Mu,
kelopak bunga yang memeluk kitab suci tertinggi yang mengajarkan dengan jelas
jalan saling ketergantungan, satu-satunya pintu gerbang menuju kebebasan.
Dari pinggang-Mu, pita-pita sutra nan indah menjuntai,
dicelup dalam sejuta warna, diikat dengan selempang emas,
dari masing-masing suara denting dari serangkaian lonceng,
Seperti raja kuda, organ seksual-Mu tersembunyi,
rambut tubuh-Mu, lembut dan halus, setiap helai sempurna
melingkar ke kanan, menjangkau ke atas.
Betis yang halus, membulat, meruncing dengan indah menjadi ramping,
tidak ada tonjolan pada sendi pergelangan kaki,
telapak kaki rata dan halus seperti bagian bawah cangkang kura-kura,
bagian tumitnya tinggi, punggungnya lebar.
Di dalam teratai enam kelopak di jantungnya yang berwarna jingga,
di atas singgasana cakram bulan, sebuah lingkaran yang sempurna,
kaki-Mu, dihiasi gelang gemerincing,
beristirahat dalam pose teratai.
Bentuk yang paling indah,
terlahir sebagai yang tertinggi dari sejuta sebab-sebab kebajikan tertinggi,
muncul di antara para penghuni alam-alam tanpa batas melalui
ruang tanpa batas seperti tipuan yang dimainkan di mata mereka.
Di beberapa tempat engkau terlahir, secara bersamaan
Engkau menunjukkan jalan menuju pencerahan.
Seandainya setiap makhluk dari setiap alam mencapai kemahatahuan,
mereka tak dapat menjelaskan seni dari bentuk manifestasi tersebut.
Dengan pahala yang aku kumpulkan dari sedikit pujian ini
semoga kehadiran Manjushri yang menawan,
bersinar seperti matahari di atas lautan merah terang,
memukau dalam cahaya yang luar biasa indahnya
memancar ke sepuluh arah,
tidak akan pernah hilang dari pandanganku.
Dan ketika mataku menatap-Mu,
Aku berdoa agar pikiranku yang tamak,
melakukan kesalahan di sepanjang jalan kebodohan,
lelah karena pengembaraan panjang melalui samsara,
segera terkendali di bawah kekuasaan
dari pikiran agung tercerahkan.
Ketika aku memperoleh empat kekuatan retensi besar,
Enam lipatan kewaskitaan, tiga gerbang kebebasan,
dan sejumlah konsentrasi meditasi pada ketidakterbatasan,
semoga aku kemudian muncul dalam bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya
untuk menatap para Buddha penakluk di alam-alam yang tak terhitung jumlahnya.
Setelah melakukan perjalanan menuju akhir pembelajaran
dan memuaskan banyak makhluk dengan Dharma,
semoga aku menjadi perwujudan tertinggi tersebut tanpa penundaan
dari kekuatan wicara, yang tertinggi dari semua Buddha.
Pujian atas ucapanNya
Seperti kelopak bunga safron yang segar
dibuka oleh sinar matahari
nampak dalam cermin tanpa cela,
pose-Mu laksana keindahan pelangi.
Berilah aku, Manjushri, kekuatan untuk berbicara.
Suara-Mu memenuhi setiap sudut dari setiap alam,
suara manifestasi yang tak terhitung jumlahnya,
melodi yang menyenangkan, melodi yang memuaskan,
melodi yang melampaui melodi Brahma.
Suara-Mu adalah sebuah mandala suara,
Kata-kata-Mu indah, tak terputus dalam samsara,
mengusir kematian, usia tua dan penyakit
dari mereka yang mendengarnya.
Suara yang kata-katanya disetujui semua orang,
diucapkan dengan lembut, menyenangkan bagi pikiran,
disampaikan dengan fasih, murni dan tidak tercemar,
mudah dipahami, menenangkan, dan layak untuk didengar.
Memuaskan, menenangkan, tak tertandingi oleh yang lain,
tidak pernah memutus atau menghukum, obat mujarab untuk semua,
memikat pendengarnya, pembawa kebahagiaan jasmani,
sukacita mental dan kedamaian bagi jiwa.
Kata-kata yang membawa wawasan kegembiraan,
kebahagiaan dari persepsi yang tak tercela,
kata-kata yang bebas dari kesedihan yang dikarenakan janji-janji palsu,
penuh dengan pengetahuan, pembawa kebijaksanaan.
Tidak pernah samar-samar atau berbelit-belit,
membawa kegembiraan dan kepuasan yang telah diantisipasi,
mengajarkan hal-hal yang dapat dipahami dan yang tidak dapat dipahami,
bebas dari kontradiksi, kata-kata yang tepat
sesuai dengan suasana hati pendengar.
Terbebas dari kesalahan pengulangan,
kata-kata yang sebanding dengan raungan singa,
seperti gajah yang menderum tanpa halangan,
seperti naga yang mengaum dalam,
seperti kata-kata raja naga yang mulia,
seperti musik gandarva yang lembut dan manis,
seperti nyanyian burung kalapinga yang memikat,
seperti suara Brahma yang bergema,
seperti mendengar suara
griffin setengah manusia yang membawa keberuntungan.
Itulah suara otoritas,
bunyi genderang kemenangan,
tanpa kesombongan namun tak pernah terinjak-injak,
penuh dengan nubuat, tak pernah samar atau setengah-setengah.
Selalu memuaskan, tak pernah takut,
tak peduli pada imbalan ketenaran,
suara yang penuh suka cita, mahir, menyeluruh,
tak berkesudahan, dan melimpah.
Tercapai dalam setiap bunyi, setiap bahasa,
mengangkat semangat, tidak terbuka untuk ejekan atau penghinaan,
hadir seketika, namun tidak tergesa,
menyebar ke setiap sudut samsara,
menghilangkan racun keserakahan, kebencian, dan kebodohan,
menang atas pasukan Mara, yang terbaik.
Sifat-sifat ini, sebanyak enam puluh empat,
tidak pernah kurang dalam setiap ucapan-Mu,
akan terus menjadi musik kebahagiaan bagi telinga orang-orang beruntung
selama ruang masih ada.
Ketika dekat, tidak terlalu keras, ketika jauh, tidak pernah terlalu lemah;
seperti kristal yang bersentuhan dengan berbagai warna.
Suara yang selaras dengan lidah para pendengar yang tak terbatas,
muncul dari mahkota-Mu, lingkaran rambut di alis-Mu
tenggorokan-Mu, dan memang dari setiap bagian tubuh-Mu yang mulia,
dan semua pikiran dan niat untuk berbicara telah terhenti,
sebagaimana ruang yang meliputi segalanya bebas dari pikiran
namun dipenuhi dengan suara Brahma.
Dengan limpahan pahala yang terkumpul dari pujian ini
atas ucapan Manjushri, suaranya bagaikan
gemuruh naga yang dalam di dalam awan hujan
yang dikelilingi oleh kilatan petir yang indah,
semoga kata-kata-Mu selamanya mengalir ke telingaku.
Begitu suara-Mu terdengar di telingaku,
biarlah aku mengumpulkan orang-orang beruntung di sekitarku,
mengalahkan mereka yang menyebarkan pandangan yang sesat dalam perjalananku
menuju kesempurnaan dalam seni mengajar, logika, dan komposisi
yang memikat jiwa para bijak.
Semoga aku dapat memperoleh tanpa kesulitan
pengetahuan khusus dalam menguasai kata-kata dan suara-suara
untuk dengan mudah menembus bahasa makhluk-makhluk yang berbeda,
dan semoga aku tak tertandingi dalam keterampilan semacam itu
untuk menghilangkan keraguan setiap makhluk hidup.
Dengan tidak pernah menyimpang dari batas yang ditetapkan oleh ajaran-ajaran-Mu,
dan berlatih dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi,
aku berdoa agar dapat segera mencapai kemuliaan dari ucapan-ucapan-Mu.
Pujian atas Pikiran-Nya:
Warna, perpaduan warna karang
dan kilauan emas terbaik,
warna indah dari seseorang yang pengetahuannya
menyentuh dengan bebas setiap fenomena yang dikenal.
Sebuah limpahan pengetahuan, Manjushri,
pelindung semua, pelindung tertinggi,
berikanlah padaku lautan pengetahuan.
Gajah dalam pikiran ini,
terpengaruh oleh anggur ilusi bahwa fenomena adalah nyata,
melemahkan kemampuan membedakan benar dan salah,
belalainya yang dipenuhi ilusi jahat merusak pohon kebajikan,
terus-menerus dipandu oleh tali nafsu
dalam mengejar gajah betina ketenaran dan kekayaan,
menabrak liar melalui hutan belantara ketidaktahuan.
Gajah pikiran yang sulit ditaklukkan itu kau kendalikan
dengan tali kenangan, kesadaran, dan kewaspadaan,
dan dengan kait tajam akal sehat yang tak bercela
kau arahkan ke jalan sejati dan baik dari ketergantungan,
jalan yang telah dilalui dengan baik, dipuji oleh banyak makhluk mulia.
Selama masa yang tak terhingga berulang kali
engkau berlatih dengan usaha yang tak kenal lelah dan penuh kekuatan hingga,
dengan vajra konsentrasi meditatif
atas sifat ilusi dari semua fenomena,
engkau menghancurkan gunung besar ekstrem
hingga hanya namanya yang tersisa.
Sekali lagi, menyenangkan para Buddha tak terhitung banyaknya
dengan cakrawala tak terbatas dari persembahan yang mulia,
Engkau memunculkan suara-suara murni mereka yang serupa dengan Brahma,
pikiran mereka yang selaras, ajaran-ajaran mereka yang mulia,
untuk menghilangkan selamanya beragam penyakit yang disebut samsara.
Menyeruput nektar semacam itu secara terus-menerus
Engkau menumbuhkan tubuh kebijaksanaan untuk menopang diri-Mu
di jalan yang berat menuju kesempurnaan praktik bodhisattva,
di mana engkau tidak akan lagi terintimidasi
oleh ilusi yang menganggap semua fenomena sebagai nyata,
dan di mana jalan menuju penghancuran penampakan yang salah dipahami
dapat terlihat dengan jelas dan tanpa halangan
oleh konsentrasi meditatif yang tertinggi dan kokoh seperti vajra.
Dengan kekuatannya, penampakan fenomena yang serupa ilusi
dan pikiran yang transparan dan penuh pengetahuan laksana mimpi,
yang bersama-sama mencakup semua pengalaman, semua penampakan
mencair ke dalam alam ruang-seperti dharmadhatu,
dan seperti pohon dengan akar yang layu,
semua benih keterikatan hancur selamanya.
Oleh karenanya, pelindungku, selama ruang masih ada,
bagaimana mungkin engkau meninggalkan dharmakaya-Mu?
Tak bergeming, oleh karenanya, dari alam dharmadhatu-Mu,
setiap fenomena muncul di hadapan-Mu, wahai pembimbingku,
seperti bayangan dalam cermin, seperti warna-warni pelangi,
masing-masing secara individu dan sepenuhnya diketahui pada setiap saat.
Dari memberi timbul kekayaan, hal itu berdasar,
dari memberi timbul kemiskinan, hal itu tidak berdasar.
Dari kekikiran timbul kemiskinan, hal itu berdasar,
dari kekikiran timbul kekayaan, hal itu tidak berdasar.
Akibat-akibat semacam itu timbul dari ketergantungan yang tak terelakkan
diketahui oleh-Mu dan menjadikan-Mu
yang teragung di antara para guru.
Tidak ada perbuatan, baik atau buruk, maupun akibat yang sesuai
yang ditemukan sepanjang samsara sejak zaman purba,
yang tidak terlihat dan tidak diketahui oleh-Mu.
Oleh karenanya, kata-kata-Mu tidak mengandung
sesuatu yang melanggar hukum ketergantungan.
Beberapa makhluk hidup dalam keinginan yang nyata
namun cenderung dikuasai amarah,
yang lain hidup dalam amarah yang terbuka
namun cenderung dikuasai keinginan.
Semua kecenderungan tersebut tampak jelas bagi-Mu.
Oleh karena itu, tidak ada perbuatan-Mu
yang tidak bermanfaat bagi orang lain.
Delapan belas alam fenomena dengan segala pembagiannya
terungkap dengan jelas dan tak tersembunyi di hadapan-Mu.
Engkau tidak melewatkan, bahkan sedikit pun,
waktu-waktu bagi mereka yang siap untuk dilatih.
Dari mereka yang terombang-ambing dalam samsara
ada yang telah berkembang, ada yang lemah.
Kau melihat penderitaan mereka tanpa hambatan kekuatan iman,
kebijaksanaan, ingatan, ketekunan, dan konsentrasi.
Oleh karenanya, Kau lebih bijaksana dari yang bijaksana dalam mengajar.
Jalan-jalan yang menuju kelahiran kembali yang mulia, nirwana,
dan ke setiap alam penderitaan
telah Kau ketahui, telah Kau pahami.
Oleh karena itu, Kau adalah pemandu spiritual yang baik.
Mengetahui tahapan konsentrasi meditatif yang mendalam,
terutama pose singa yang berani,
serta tahapan dalam alam bentuk dan tak berbentuk,
bersama dengan teknik masuk dan keluar dari keseimbangan tersebut,
Kau telah menguasai keseimbangan meditatif.
Kau bijaksana dalam pengetahuan tentang masa lalu,
sangat memahami samsara yang tak berawal;
kehidupan masa lalu-Mu sendiri, kehidupan orang lain,
penyebabnya, rinciannya, dan tanda-tandanya
seketika tampak jelas bagi-Mu,
Kau bijaksana dalam pengetahuan tentang masa lalu,
sangat memahami samsara yang tak berawal;
kehidupan masa lalu-Mu sendiri, kehidupan orang lain,
penyebabnya, rinciannya, dan tanda-tandanya
segera tampak jelas bagi-Mu,
Mengetahui bahwa akhir dari delusi adalah akhir dari penderitaan,
bahwa akhir dari delusi dicapai melalui Delapan Jalan Mulia,
adalah pengetahuan yang nyata di hadapan mata-Mu.
Kau, oleh karenanya, adalah pelindung terbesar di antara para pelindung.
Oleh karenanya, fakta dan fiksi mengenai tindakan dan hasil,
setiap perbuatan dan setiap hasilnya,
kondisi setiap makhluk,
pembagian alam fenomena,
kemampuan yang berbeda-beda dari makhluk hidup,
setiap jalan, baik atau buruk,
cara dan tahap menghilangkan delusi,
pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan,
konstitusi mengenai akhir delusi;
sepuluh hal ini dapat ditembus dengan mudah oleh pikiran-Mu.
Adakah sesuatu yang tidak Engkau ketahui?
Mereka yang tersesat dalam samsara
sejak zaman purba telah mengejar
dengan usaha yang luar biasa sebuah jalan yang dipenuhi
dengan penderitaan dan luka yang ditimbulkan pada orang lain
semua demi kebahagiaan mereka sendiri,
akan tetapi, karena buah yang didambakan
dari penderitaan tersebut tidak terlihat di mana pun,
itu adalah jalan yang salah.
Demikian pula, jalan
dimana celaka sekecil apapun bagi orang lain,
ketika malam dan siang tanpa henti
demi kebahagiaan sendiri
tujuan kebebasan dari samsara dikejar
dengan dedikasi dan usaha sepenuh hati,
terlihat, biar bagaimana, oleh-Mu
sebagai jalan yang menyimpang dari jalan kebenaran.
Dan demikianlah, melampaui batas waktu
Engkau telah menempuh jalan agung kasih sayang,
praktik ini saja menuju pencerahan,
ibu sejati yang merawat setiap makhluk hidup,
perisai yang dikenakan oleh bodhisattva yang berani.
Sejauh mana kita semua lari dari penderitaan
bahkan yang dialami dalam mimpi,
akan tetapi selalu gagal mencapai kepuasan
bahkan di puncak kebahagiaan yang mulia,
makhluk hidup tidak dapat dibedakan.
Oleh karena itu, delusi diri
untuk tidak memikirkan kebahagiaan orang lain.
Engkau, oleh karenanya, dengan belas kasihan yang luar biasa,
pada awal pencarian-Mu akan pikiran bodhi,
menganggap diri dan orang lain sebagai satu kesatuan
dan mengasihi setiap makhluk hidup seolah-olah mereka adalah diri-Mu sendiri.
Terikat pada kebahagiaan sendiri
adalah penghalang bagi jalan yang sejati dan sempurna.
Mencintai orang lain adalah sumber
dari setiap sifat mulia yang dikenal.
Dengan berlatih berulang kali, oleh karena itu,
pertukaran diri untuk orang lain,
kamu menganggap semua orang lain sebagai diri sendiri.
Penguasa yang perkasa, tubuh Mahayana-Mu
telah diasupi berulang kali hingga mencapai kesempurnaan
dalam perjalanan-Mu menuju kesempurnaan sifat-sifat mulia
oleh Ibu Kasih Sayang yang Agung.
Bagaimana mungkin Engkau pernah terpikat
oleh ketenangan nirwana?
Garuda yang perkasa terbang ke langit
tetapi tidak tinggal di sana dan tidak akan pernah jatuh ke bumi.
Dengan memuji pikiran seseorang yang serupa
yang tidak tinggal di nirvana dan tidak jatuh ke samsara,
semoga aku tidak pernah terpisah dari
kebijaksanaan dan kasih sayang Manjushri.
Semoga aku dapat menumbuhkan kebijaksanaan tanpa kesulitan,
memadamkan pertumbuhan pandangan ekstrem,
bersama dengan kasih sayang yang memandang
setiap makhluk hidup sebagai anak terkasih,
dan semoga aku dapat membawa mereka semua dalam jalan Mahayana yang agung.
Semoga aku segera mengembangkan kekuatan ingatan dharani
yang mencakup semua kata, semua makna dari setiap ajaran,
bersama dengan keyakinan yang dipimpin oleh kebijaksanaan tertinggi
untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh orang lain,
dan semoga aku dapat memberikan kepada mereka yang kehilangan Dharma
sebuah jamuan sejati dari ajaran-ajaran terbaik.
Semoga keajaiban yang terdapat dalam pikiran Manjushri
menyempurnakan berbagai harapan para murid yang berbeda
dengan berbagai manifestasi spontanitas yang tak terhitung
segera memperindah pikiranku laksana bulan purnama di musim gugur
yang bersinar dan memperindah malam yang jernih bagai kristal.
Di setiap alam di atas, di bawah, dan di delapan arah mata angin
Buddha yang tak terhitung banyaknya senantiasa memuji-Nya.
Manjushri! Namanya bergema, ketiga alam semesta bergema dengan
kepopulerannya. Siapa pun yang menghayati dan mengucapkan pujian yang luas seperti awan
ini, yang hanya menyentuh sebagian kecil dari sifat-sifatnya, namun
diucapkan dengan penuh pengabdian, semoga berkah Manjushri
segera memasuki pikiran mereka.
PUJIAN KEPADA MANJUSHRI (Versi Singkat)
Sembah sujud kepada Manjushri,
Hormat kepada Guruku dan Pelindungku, Manjushri,
Siapa yang memegang erat teks suci yang melambangkan pandangannya akan segala sesuatu sebagaimana adanya,
Yang kecerdasannya bersinar laksana matahari, tak terhalang oleh ilusi atau jejak kebodohan,
Yang mengajarkan dengan enam puluh cara, dengan kasih sayang seorang ayah terhadap anak tunggalnya, kepada semua makhluk yang terperangkap dalam penjara Samsara, tersesat dalam kegelapan kebodohan mereka, dan tertekan oleh penderitaan mereka.
Engkau, yang dengan pengumuman Dharma-Mu yang menggelegar laksana guntur naga, membangkitkan kami dari kebingungan delusi kami dan membebaskan kami dari rantai besi karma;
Yang mengayunkan pedang kebijaksanaan untuk memotong penderitaan di mana pun benihnya muncul, membersihkan kegelapan kebodohan;
Engkau, yang tubuh mulianya dihiasi dengan seratus dua belas tanda Buddha,
Yang telah menyelesaikan tahapan-tahapan untuk mencapai kesempurnaan tertinggi seorang Bodhisattva,
Yang telah suci sejak awal,
Aku bersujud kepada-Mu, Wahai Manjushri;
Dengan kecemerlangan kebijaksanaan-Mu, Wahai Yang Maha Kasih Sayang,
Terangilah kegelapan yang mengelilingi pikiranku,
Terangilah kecerdasan dan kebijaksanaanku
Agar aku dapat memahami kata-kata Buddha dan teks-teks yang menjelaskannya.
(Akhir Pujian)
(Pujian)
Saya bersujud kepada Manjushri
dengan tubuh yang muda dan
dengan lampu kebijaksanaan yang terang
menerangi kegelapan tiga dunia.
(Dengan demikian, memberikan pujian.)
Di pusat hati terdapat roda kuning dengan enam jari-jari di atas cakram bulan. Di pusat roda terdapat suku kata DHI:, dan pada keenam jari-jari terdapat enam suku kata. Di tepi roda terdapat mantra untuk peningkatan kebijaksanaan. Cahaya memancar dari roda, membersihkan kegelapan kebodohan diri sendiri dan orang lain, serta mengumpulkan seluruh kebijaksanaan keberadaan dan Nirvana yang terserap ke dalam diri.
(Lafalkan mantra untuk peningkatan kebijaksanaan dan kemudian mantra utama)
NAMO MANJUSRIYE KUMARA BHUTAYA
BODHISATTVAYA MAHASATTVAYA MAHAKARUNIKAYA
TADYATHA OM ARADZE BIRADZE
SHUDDHE BISHUDDHE
SHODHAYA BISHODHAYE AMALE BIMALE NIRMALE
DZAYAVARE RURUTSALE
HUM HUM HUM PHAT PHAT PHAT SVAHA
(Lafalkan 21x)
and
OM A RA PA TSA NA DHI
(Mantra retret – lafalkan sebanyak mungkin diikuti dengan 1 mala dari suku kata “DHI”, dalam satu tarikan nafas)
OM AH HUM
(3x untuk memberkati dan mempersembahkan torma)
(Mantra Torma)
OM SARWA TATHAGATA ARYA MANJUSHRI SAPARIWARA
IDAM BALIM-TA KA-KA KAHI-KAHI
(3x)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dengan demikian mempersembahkan)
(Pujian)
Saya bersujud di hadapan Manjushri
Dengan tubuh pemuda dan
Cahaya jernih kebijaksanaan
Menghilangkan kegelapan dari tiga dunia
(Dengan demikian mempersembahkan pujian)
(Dedikasi Penyelesaian)
JANG JUB SEM CHOK RINPOCHE
MA KYE PA NAM KYE GYUR CHIK
KYE PA NYAM PA ME PA YANG
GONG NA GONG DU PEL WAR SHUG
Pikiran Bodhi tertinggi dan berharga,
Jika dalam keadaan belum terlahirkan, bangkitlah,
Dan, jika sudah lahir, jangan pernah terpuruk,
Tapi berkembanglah senantiasa!
TONG NI TONG WA RINPOCHE
MA KYE PA NAM KYE GYUR CHIK
KYE PA NYAM PA ME PA YANG
GONG NA GONG DU PEL WAR SHUG
Pandangan berharga di alam Shunyata
Jika dalam keadaan belum terlahirkan, bangkitlah,
Dan, jika sudah lahir, jangan pernah terpuruk,
Tapi berkembanglah senantiasa!
DAG SOG JIN NYEH SAG PA GE WA DEE
TAN DANG DRO WA KUN LA GANG PHAN DANG
CHE PAR JE TSUN LO ZANG DRAG PA YI
TAN PI NYING PO RING DU SAL SHEH SHUG
Semoga pahala apapun yang telah kukumpulkan di sini,
Membawa kebaikan bagi semua mahluk dan Dharma,
Dan semoga hal itu membuat inti ajaran
Losang Drakpa bersinar selamanya!
KYE WA KUN TU YANG DAK LA MA DANG
DRAL ME CHO KYI PAL LA LONG CHO CHING
SA DANG LAM GYI YON TEN RAP DZOK NA
DORJE CHANG GI GO PANG NYUR TOP SHUG
Dalam semua kehidupanku, janganlah diriku terpisah,
Dari Guru-Guru yang sempurna dan semoga kurasakan keindahan Dharma.
Dengan menyempurnakan cara dan tingkatan yang harus kutempuh,
Semoga dengan cepat kuraih kondisi Vajradhara!
GE WA DI YI NYUR DU DAK
LA MA SANG GYE DRUP GYUR NA
DRO WA CHIK KYANG MA LU PA
DE YI SA LA GO PAR SHUG
Melalui kebajikan ini semoga diriku segera
menggapai status Guru Deva,
Dan membawa setiap mahluk,
Tanpa kecuali, menjadi sepertiku!
CHO KHI GYAL PO TSONG KHA PA
CHO TSUL NAM PAR PHEL WA LA
GEK KI TSHAN MA ZHI WA DANG
THUN KYIN MA LU TSHANG WAR SHOK
Semoga semua rintangan disingkirkan,
Dan semua kondisi bagus selesai
Untuk sistem Dharma yang murni
dari Raja Dharma, Tsongkhapa, berkembang selalu!
DA DANG SHEN GI DU SUM DANG
DRIL WA TSOK NYI LA TEN NAY
GYA WA LO ZANG DRAG PA YI
TAN PAR YUN RING VAR GYR CHIG
Karena dua akumulasi
Diriku dan yang lain di tiga jaman,
Semoga ajaran Sang Penakluk Tsongkhapa
Losang Drakpa, berkobar selamanya!
NYIMO DELEK TSEN DELEK
NYIME GUNG YANG DELEK SHIN
NYITSEN TAKTU DELEK PEL
KON CHOK SUM GYI JIN GYI LOB
KON CHOK SUM GYI NGOR DRUL TSOL
KON CHOK SUM GYI TRA SHI SHOK
Biarlah semua membawa keberuntungan, siang dan malam!
Biarlah keberuntungan meningkat siang dan malam
Seperti matahari yang naik ke titik tertinggi di angkasa!
Tri Ratna tempatku bernaung, mohon berkatilah kami!
Tri Ratna tempatku bernaung, mohon berikan pencapaian!
Semoga keberuntungan dari Tri Ratna bersama kita!
(Dedikasi untuk Umur Panjang Sang Guru)
JETSUN LAMA KU TSE RABTEN CHING
NAMKAR TRINLEY CHOG CHUR GYE PA DANG
LOBSANG TENPE DRON ME SA SUM GYI
DRO WE MUNSEL TAKTUR NE GYUR CHIG
Biarlah Guru yang terhormat hidup dalam kestabilan,
Biarlah tindakan murni menyebar ke sepuluh arah mata angin,
Dan biarlah cahaya lampu ajaran Lama Tsongkhapa,
Selalu bersinar, menyingkirkan kegelapan tanpa pencerahan semua mahluk!
(Dedikasi untuk Umur Panjang Yang Suci Dalai Lama)
GANG RI RAWE KORWAI SHING KHAM DIR
PEN DANG DEWA MALU GYUNG WAI NE
CHENREZIG WANG TENZIN GYATSO YI
SHA PEI SITHAI BARDU DEN GYUR CHIG
Di Tanah Suci yang dikelilingi pegunungan salju
Kau adalah sumber manfaat dan kebahagiaan
Semoga kaki terataimu, O Chenrezig Mulia, Tenzin Gyatso
Tinggal di dunia ini sampai akhir keberadaan
(Dengan demikian doa dedikasi dan keberuntungan)
Panduan dari Yang Mulia Tsem Tulku Rinpoche
Untuk Menjalankan Retret Manjushri yang Penuh Berkah
(Klik di sini untuk mengunduh teks retret dalam bentuk PDF)
1. Persiapan
- Swastika Buddhis (klik Di Sini untuk mengunduh)
- Rumput Kusha (dari sebuah sapu yang masih baru)
Rumput kusha harus diletakan di pusat Swastika Buddhis. Letakkan tangkai dari rumput kusha panjang ke arah dalam dan bagian rumbainya menghadap keluar dan letakkan rumput kusha yang pendek secara menyamping
2. Lokasi Duduk
- Temukan tempat di mana Anda akan merasa paling nyaman.
- Letakkan alas duduk di posisi yang telah Anda pilih dan Jangan memindahkannya tersebut dari posisi ini selama seluruh proses retret berlangsung..
- Kemudian letakkan Swastika Buddhis bersama rumput kusha di tempat tersebut (di bawah alas duduk).
- Hati-hati agar tidak menginjak atau melintasi alas duduk peserta lain.
3. Torma
Beli toples kaca bening dan isi dengan biskuit (area putih pada diagram). Letakkan botol tersebut di atas piring dan isi ruang kosong di piring (area cokelat pada diagram) dengan permen, permen karet, dll.
Pada awal setiap sesi doa, tambahkan beberapa permen dan manisan ke dalam torma, serta beberapa tetes ke setiap persembahan indra dan persembahan air, sambil membayangkan bahwa Anda sedang memperbarui persembahan tersebut.
4. Persembahan lainnya
- Persembahan seperti susu, yogurt, lilin, kue, buah-buahan, dan sebagainya sangat dianjurkan.
- Ada baiknnya memiliki persembahan tambahan berupa dupa dan lilin secara bersamaan dengan sesi retret.
- Nama atau foto orang-orang yang ingin Anda doakan atau bantu dapat dimasukkan ke dalam amplop tertutup, di atas piring, atau dalam kotak di antara mandala dan torma (lihat halaman berikutnya). Orang-orang ini bisa saja orang tua Anda, teman-teman Anda, atau seseorang yang sedang sakit. Mereka juga bisa saja orang-orang yang pernah baik kepada Anda di masa lalu atau pernah membantu Anda sebelumnya.
5. Etiket
- Setelah pergi ke toilet, disarankan untuk mencuci tangan dan berkumur sebelum melanjutkan doa.
- Berbicara selama istirahat tidak dianjurkan.
- Selama mengucapkan mantra, jika Anda harus batuk atau bersendawa secara tidak sengaja, mundur kembali ke butir mala Anda sebanyak 7 butir.
- Anda harus mengulang semua mantra jika Anda tertidur.
6. Jangan pindahkan rupang tersebut sebelum Anda menyelesaikan retret.
7. Jangan memindahkan torma sebelum Anda menyelesaikan retret – setiap hari, tambahkan sedikit persembahan ke bagian dasar torma, sambil membayangkan bahwa Anda menambahkan persembahan tersebut ke torma secara keseluruhan.
8. Jangan mengadakan sesi doa pada pukul 6 pagi/sore dan 12 malam/siang. Sesi biasanya berlangsung pada pukul 3-6 pagi, 7-11 pagi, 2-5 sore, dan 7-11 malam (Anda dapat melakukan sebanyak atau sesedikit sesi yang Anda inginkan, dengan minimal satu sesi per hari).
9. Jika Anda mengadakan retret berkelompok, semua peserta harus mengikuti sesi yang sama dan jumlah sesi yang sama setiap hari.
Petunjuk tentang Cara Menyiapkan Persembahan
Di altar Anda, letakkan persembahan-persembahan tersebut dengan urutan sebagai berikut:
Doa Retret
(Perlindungan)
NAMO GURU BEH
NAMO BUDDHA YA
NAMO DHARMA YA
NAMO SANGHA YA
Aku berlindung pada Guru
Aku berlindung pada Buddha
Aku berlindung pada Dharma
Aku berlindung pada Sangha
SANG GYE CHO DANG TSOG KYI CHOG NAM LA
JANG CHUB BAR DU DAG NI KYAB SU CHI
DAG GI JIN SOK GYI PAY SO NAM KYI
DRO LA PAN CHIR SANG GYE DRUB PAR SHOG
Pada Buddha, Dharma, dan Sangha
sampai masaku tercerahkan, aku berlindung.
Dengan memberi dan kesempurnaan lainnya,
Untuk menolong semua, semoga aku menjadi Buddha
(Empat Hal yang Tak Terukur)
Semoga semua mahluk berbahagia dan punya alasan untuk bahagia!
Semoga semua mahluk bebas dari penderitaan dan alasan untuk menderita!
Semoga semua mahluk tidak pernah dipisahkan dari kebahagiaan tanpa penderitaan!
Semoga semua mahluk hidup dalam ketenangan, bebas dari prasangka, keterikatan dan kebencian!
(Dengan demikian bermeditasi tentang Empat Hal yang Tak Terukur)
(Yoga Je Tsongkhapa – Ganden Lha Gyama)
(Mengundang)
GA DEN HLA JI NGON JYI THUG KA NEY
RAP KAR SHO SAR PUNG DEE CHU ZIN TSER
CHO KYI GYEL PO KUN CHEN LOZANG DRAG
SEY DANG CHE PA NE DIR SHEG SU SOL
Dari hati sang Pelindung ratusan dewa (Buddha Maitreya) yang bersemayam di Tushita,
Ke ujung awan ini, yang mempunyai rupa segar, putih bersih bak setumpuk gumpalan susu,
O Losang Drakpa, Raja Dharma yang mahatahu,
Datanglah ke tempat ini dengan para muridmu!
(Bersujud)
DUN JYI NAM KHAR SING TI PEE DEE TENG
JE TSUN LA MA JYEH PI DZUM KAR CHYEN
DAG LO DE PE SO NAM SHING CHOG TU
TAN PA JYEH SHIR KAL DJAR JUG SU SOL
Duduk di tahta singa, teratai dan bulan, di depanku,
Para guru agung tersenyum gembira nan cerah.
Kumohon tinggallah selama ratusan milyar tahun untuk menyebar Dharma
Sebagai ladang pahala sempurna bagi iman pikiranku!
(Pujian)
SHE JYEH CHON KUN JAL WEY LO DO THUG
KAL ZANG NA WEY JYIN JUR LIK SHEY SUNG
DRAG PI PEL JYI HLAM MER DZEY PI KU
THONG THO DRAN PI DON DHAN LA CHAG TSAL
Kebijakanmu melihat keberadaan dari semua sudut,
Ucapan fasihmu menghias telinga orang beruntung,
Tubuh elokmu, jaya, sempurna dan tersohor,
Hormat bagimu, sang layak dirindu, didengar dan dilihat.
(Persembahan)
YIH WONG TCHO YON NA TSOG ME TOG DANG
DRI JEM DUG PO NANG SAL DRID CHAB SOG
NGO SHAM YIH TUL TCHO TIN GYA TSO DI
SO NAM SHING CHOG CHE LA CHO PA BUL
Kupersembahkan air, bunga berupa-rupa,
Dupa wangi, cahaya, parfum dan persembahan yang lain.
Beribu persembahan, tertata dan terbayang,
Ku haturkan padamu, lautan pahala agung.
(Pengakuan)
DAG GI TO MEY DU NEH SAG PA YI
LU NGAG YIH KYI DIG PA CHI JYI DANG
CHEY PA DOM PA SUM JI MI TUN SHO
NYING NEH JO PA TRAH PO SO SOR SHAG
Kefasikan yang telah kulakukan, dengan tubuh, mulut dan pikiran,
Bertumpuk-tumpuk sejak waktu yang tak berawal,
Terutama yang melanggar tiga sumpah,
Kuakui satu demi satu dengan penyesalan yang sangat dari hatiku.
(Bersukacita)
NIK MI DU DIR MANG THO DRUP LA TSON
CHO JYED PANG PI DALJ OR DON YO SHYE
NGON PO CHEY KYI LAP CHEN DZE PA LA
DAG CHAG SAM PA TAG PEH YI RANG NGO
Pada masa perpecahan, engkau berusaha belajar dan berlatih,
Menjauh dari delapan pikiran duniawi dan mewujudkan hidup penuh makna,
O Sang Pelindung, dari relung hati kami yang terdalam,
Kami bergembira atas karyamu yang penuh kuasa.
(Memohon Untuk Memutar Roda Dharma)
JE TSUN LA MA DAM PA CHEY NAM KYI
CHO KU KA LA CHEN TI TIN TIK NEY
JI TAR TSAM PI DUL SHIH DZIN MA LA
ZAB JI CHO KYI CHAR PA WHAP TU SOL
Mohon putarkan Roda Dharma bagi kami,
Para Guru Agung, dari cinta kasih dan kebijaksanaan,
Awan-awan berkumpul kencang di langit Dharmakaya,
Mohon turunkan hujan Dharma yang luas dan dalam,
Pada hantaran muridmu sesuai yang kami butuhkan.
(Memohon Untuk Tinggal)
NAM DAG WO SAL YING LEY JING PA YI
ZUNG JUG KU LA CHAR NUB MI NGA YANG
THA MAL HNANG NGOR ZUG KU RAG PA NYI
SEE THEE BAR DU MI NUB TAN PAR SHUG
Bangkit dari cahaya bening, bulatan kesempurnaan,
Bentuk persatuan yang tak terlahirkan, yang kekal abadi.
Tak bergeming, terlihat dari kasat mata, dalam bentuk yang kasar,
Mohon jangan tinggalkan kami, sang kekal, sampai samsara berakhir.
(Dedikasi)
DAG SOG JIN NYEH SAG PA GE WA DEE
TAN DANG DRO WA KUN LA GANG PHAN DANG
CHE PAR JE TSUN LO ZANG DRAG PA YI
TAN PI NYING PO RING DU SAL SHEH SHOG
Apapun kebajikan yang telah kukumpulkan di sini,
Semoga bermanfaat bagi semua mahluk dan Dharma,
Dan semoga hal itu membuat ajaran Losang Drakpa Sang Agung,
Bersinar selama-lamanya!
Mantra Mig-Tse-Ma
MIG MEY TZE WEY TER CHEN CHEN RE ZIG
DRI MEY KHYEN PI WANG PO JAMPAL YANG
DU PUNG MA LU JOM DZEY SANG WEY DAG
GANG CHEN KE PEY TSUG GYEN TSONG KHAPA
LO SANG TRAG PEY SHAB LA SOL WA DEB (21x)
O Chenrezig, sang Welas Asih tanpa batas,
O Manjushri, Penguasa Kebijakan yang tak tercela,
O Vajrapani, Bala Mara Sang Penakluk,
Permata Utama Para Bijak dari Negeri Salju, Tsongkhapa,
Losang Drakpa, aku berdoa, bersimpuh di kakimu.
(Memasukkan Je Rinpoche ke Dalam Diri Kita)
PAL DAN TSA WEY LA MA RINPOCHE
DAG SOG CHI WOR PE ME DAN JUG LA
KA DRIN CHEN PO GO NEY JE ZUNG TE
KU SUNG THUG KYI NGO DRUP TSAL DU SOL
O Guru utama yang berharga dan berjaya,
Mohon tempatilah tahta bulan teratai di atas kepalaku.
Jagalah diriku dengan segala kebaikanmu,
Mohon berilah diriku pencapaian dalam tubuh, ucapan dan pikiran!
PAL DAN TSA WEY LA MA RINPOCHE
DAG SOG CHI WOR PE ME DAN JUG LA
KA DRIN CHEN PO GO NEY JE ZUNG TE
CHO DANG THUN MONG NGO DRUP TSAL DU SOL
O Guru utama yang berharga dan berjaya,
Mohon tempatilah tahta bulan teratai di atas kepalaku.
Jagalah diriku dengan segala kebaikanmu,
Mohon berilah pencapaian, dalam hal kecil dan besar!
PAL DAN TSA WEY LA MA RINPOCHE
DAG SOG CHI WOR PE ME DAN JUG LA
KA DRIN CHEN PO GO NEY JE ZUNG TE
JANG CHUB NYING PO BAR DU TAN PAR SHUG
O Guru utama yang berharga dan berjaya,
Mohon tempatilah tahta bulan teratai di atas kepalaku.
Jagalah diriku dengan segala kebaikanmu,
Sampai kucapai kebangkitan tinggi, mohon bersamaku!
Manjushri Arapacana
NAMO GURU MANJUGHOSAYA
Berikut ini adalah sadhana singkat Manjushri Arapacana.
(Visualisasikan objek-objek perlindungan.)
(Perlindungan)
Saya berlindung pada para Guru yang suci dan mulia.
Saya berlindung pada para Buddha yang telah mencapai kesempurnaan.
Saya berlindung pada Dharma yang suci.
Saya berlindung pada Majelis Spiritual yang tertinggi.
(Ucapkanlah doa perlindungan ini tiga kali.)
(Mengembangkan Pikiran Pencerahan)
Saya akan menghilangkan kegelapan kebodohan dari semua makhluk hidup dan meningkatkan cahaya kebijaksanaan.
Untuk tujuan ini, saya akan melakukan praktik Manjushri yang ampuh.
(Lafalkan tiga kali)
Dalam sekejap, aku berubah menjadi Arya Manjushri, dengan suku kata DHI: di pusat hati, yang memancarkan sinar cahaya, mengundang Arya Manjushri yang sesungguhnya yang dikelilingi oleh banyak Buddha dan Bodhisattva.
(Dengan demikian, mengundang)
NAMO GURUBHYA
NAMO SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVAREBHYA
(Dengan demikian, bersujud.)
OM AH HUM
(3x untuk memberkati persembahan)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dengan demikian, memberikan persembahan.)
(Sumpah Bodhicitta)
Aku berlindung pada Tiga Permata.
Aku menyesali semua perbuatan buruk saya.
Saya bersukacita atas pahala semua makhluk.
Saya akan memegang teguh Bodhicitta hingga mencapai Pencerahan.
(Melafalkan Sumpah Bodhicitta sebanyak tiga kali.)
(Four Immeasurables)
Semoga semua makhluk hidup dilimpahi kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan.
Semoga mereka tidak pernah terpisah dari keadaan bahagia,
dan semoga mereka selalu berada dalam keadaan keseimbangan batin.
(Dengan demikian, merenungkan Empat Hal Tak Terhingga)
OM SVABHAVA SHUDDHA: SARVA DHARMA: SVABHAVA SHUDDHO HAM
(Recite the following paragraph without meditation)
Semua fenomena larut ke dalam kekosongan, dari mana muncul hati berbentuk telur di dalamnya terdapat suku kata PAM. Dari sini muncul bunga teratai putih dengan enam kelopak, di tengahnya terdapat suku kata AH, yang berubah menjadi cakram bulan di atasnya muncul suku kata oranye DHI:, lengkap dengan semua detailnya. Dari DHI: memancarkan sinar cahaya yang memenuhi dua tujuan. Cahaya-cahaya itu berkumpul kembali, dan diri sendiri menjadi Arya Manjushri berwarna oranye, dengan satu wajah dan dua lengan, lengan kanan memegang pedang dan lengan kiri memegang bunga utpala dengan jempol dan jari keempat, di atasnya terdapat teks. Ia dihiasi dengan tanda-tanda utama dan sekunder sang Buddha, memiliki penampilan muda seperti pria berusia 16 tahun, rambutnya jatuh ke kiri, dengan ekspresi damai, tersenyum, dan elegan, berpakaian kain sutra dan dihiasi perhiasan berlian, dengan bantal bulan di belakangnya. Duduk di tengah sinar cahaya yang memancar dari tubuhnya, pucuk kepalanya bertanda suku kata OM, tenggorokan dengan AH, dan hati dengan HUM. Suku kata HUM di hati memancarkan sinar cahaya, mengundang makhluk kebijaksanaan yang serupa dan dewa-dewa pemula.
OM VAJRA SAMADZA:
DZA: HUM BAM HO:
Makhluk-makhluk kebijaksanaan dan makhluk-makhluk komitmen bersatu menjadi satu. Dewa-dewa pencipta memberikan inisiasi, dan diri sendiri sebagai dewa dihiasi dengan Buddha Aksobhya.
(Dengan demikian membangkitkan)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dengan demikian mempersembahkan)
(Pujian)
(Catatan: pada sesi doa pertama di pagi hari, bacalah Pujian Panjang kepada Manjushri berikut ini. Pada sesi-sesi berikutnya, Pujian Pendek kepada Manjushri dapat dibacakan sebagai pengganti Pujian Panjang.
PUJIAN KEPADA MANJUSHRI (versi panjang)
Kolofon: doa suci ini disusun sendiri oleh Lama Tsongkhapa saat melihat Manjushri.
Pujian atas Wujud-Nya:
Hujan kasih sayang, telah lama Kau kenal,
telah memadamkan api yang menyala hanya demi kepuasan diri.
Sebuah pengetahuan murni, tanpa hambatan tentang Kebenaran yang terdalam
telah memotong selamanya jaring-jaring kepalsuan yang ada di mana-mana.
Untuk memberikan pengetahuan-Mu kepada orang lain
Engkau rela memikul beban pelayanan tanpa pamrih.
Istadewata yang luar biasa, di atas angin keyakinan dan pengabdian
Aku melemparkan bunga-bunga pujian ini ke arah-Mu.
Cahaya jingga yang bersinar terang,
seperti gunung emas yang dicium matahari,
Manjushri, harta karun kebijaksanaan, dengarkan aku sebentar.
Meskipun aku mungkin mencari di setiap alam
Aku tidak akan menemukan perlindungan yang lebih besar.
Oleh karenanya, aku memalingkan pikiranku kepada-Mu,
seperti gajah yang tersiksa panas terjun ke kolam teratai.
Alismu, hitam dan melengkung,
lembut, indah, begitu panjang dan elegan,
setiap rambut memiliki panjang yang sama,
bulu mata tebal, lembut, setiap rambut terpisah
dibentuk dengan indah seperti banteng jantan perkasa.
Lingkaran rambut yang sempurna seputih bunga teratai,
melengkung seperti keong ke kanan, terbentuk dengan baik seperti akar teratai,
indah di antara alis seperti setetes perak murni.
Mata panjang dan melengkung seperti kelopak bunga utpala biru,
putih yang indah seperti kelopak teratai yang cerah.
Hidungnya tinggi dan berbentuk simetris,
bibir semerah buah bimba,
empat puluh gigi putih bersih, tertata rapi, dengan ukuran yang sama,
pipi yang bulat penuh seperti singa.
Lidah yang halus dan ramping tertutup
oleh mandala wajah-Mu,
hanya menikmati rasa terbaik.
Telinga diberkahi dengan cuping panjang berbentuk sempurna,
dihiasi oleh ornamen permata nan berharga.
Leher yang terbentuk sempurna
dihiasi oleh rangkaian permata yang mempesona,
sepenuhnya berdaging, tidak ada urat yang menonjol,
seindah vas emas.
Betis, lengan bawah, tulang belikat, punggung atas
semuanya berdaging dan seragam dalam simetri,
tubuh seperti singa, dada selebar Meru.
Bahu yang melengkung elok, lengan mereka yang indah
panjang dan rendah laksana belalai gajah.
Jari tangan dan kaki berselaput indah
seperti angsa kerajaan
Jari-jari yang panjang, lembut, dan muda,
berujung deretan kuku merah berkilau
seperti tunas ramping di atas pohon pengabul harapan surgawi.
Roda emas, masing-masing dengan seribu jari-jari,
menghiasi telapak kakimu, telapak tanganmu,
begitu jelas, begitu sempurna, masing-masing terdefinisi dengan jelas,
karya seni ukir seperti matriks dari sebuah segel.
Lengan kanan-Mu, dihiasi dengan gelang dan ikat lengan,
mengacungkan pedang membara untuk memotong sampai ke akarnya
tanaman menjalar seperti pohon dari ketidaktahuan yang melekat.
Di tangan kiri-Mu, setangkai bunga utpala biru di jantung-Mu,
kelopak bunga yang memeluk kitab suci tertinggi yang mengajarkan dengan jelas
jalan saling ketergantungan, satu-satunya pintu gerbang menuju kebebasan.
Dari pinggang-Mu, pita-pita sutra nan indah menjuntai,
dicelup dalam sejuta warna, diikat dengan selempang emas,
dari masing-masing suara denting dari serangkaian lonceng,
Seperti raja kuda, organ seksual-Mu tersembunyi,
rambut tubuh-Mu, lembut dan halus, setiap helai sempurna
melingkar ke kanan, menjangkau ke atas.
Betis yang halus, membulat, meruncing dengan indah menjadi ramping,
tidak ada tonjolan pada sendi pergelangan kaki,
telapak kaki rata dan halus seperti bagian bawah cangkang kura-kura,
bagian tumitnya tinggi, punggungnya lebar.
Di dalam teratai enam kelopak di jantungnya yang berwarna jingga,
di atas singgasana cakram bulan, sebuah lingkaran yang sempurna,
kaki-Mu, dihiasi gelang gemerincing,
beristirahat dalam pose teratai.
Bentuk yang paling indah,
terlahir sebagai yang tertinggi dari sejuta sebab-sebab kebajikan tertinggi,
muncul di antara para penghuni alam-alam tanpa batas melalui
ruang tanpa batas seperti tipuan yang dimainkan di mata mereka.
Di beberapa tempat engkau terlahir, secara bersamaan
Engkau menunjukkan jalan menuju pencerahan.
Seandainya setiap makhluk dari setiap alam mencapai kemahatahuan,
mereka tak dapat menjelaskan seni dari bentuk manifestasi tersebut.
Dengan pahala yang aku kumpulkan dari sedikit pujian ini
semoga kehadiran Manjushri yang menawan,
bersinar seperti matahari di atas lautan merah terang,
memukau dalam cahaya yang luar biasa indahnya
memancar ke sepuluh arah,
tidak akan pernah hilang dari pandanganku.
Dan ketika mataku menatap-Mu,
Aku berdoa agar pikiranku yang tamak,
melakukan kesalahan di sepanjang jalan kebodohan,
lelah karena pengembaraan panjang melalui samsara,
segera terkendali di bawah kekuasaan
dari pikiran agung tercerahkan.
Ketika aku memperoleh empat kekuatan retensi besar,
Enam lipatan kewaskitaan, tiga gerbang kebebasan,
dan sejumlah konsentrasi meditasi pada ketidakterbatasan,
semoga aku kemudian muncul dalam bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya
untuk menatap para Buddha penakluk di alam-alam yang tak terhitung jumlahnya.
Setelah melakukan perjalanan menuju akhir pembelajaran
dan memuaskan banyak makhluk dengan Dharma,
semoga aku menjadi perwujudan tertinggi tersebut tanpa penundaan
dari kekuatan wicara, yang tertinggi dari semua Buddha.
Pujian atas ucapanNya:
Seperti kelopak bunga safron yang segar
dibuka oleh sinar matahari
nampak dalam cermin tanpa cela,
pose-Mu laksana keindahan pelangi.
Berilah aku, Manjushri, kekuatan untuk berbicara.
Suara-Mu memenuhi setiap sudut dari setiap alam,
suara manifestasi yang tak terhitung jumlahnya,
melodi yang menyenangkan, melodi yang memuaskan,
melodi yang melampaui melodi Brahma.
Suara-Mu adalah sebuah mandala suara,
Kata-kata-Mu indah, tak terputus dalam samsara,
mengusir kematian, usia tua dan penyakit
dari mereka yang mendengarnya.
Suara yang kata-katanya disetujui semua orang,
diucapkan dengan lembut, menyenangkan bagi pikiran,
disampaikan dengan fasih, murni dan tidak tercemar,
mudah dipahami, menenangkan, dan layak untuk didengar.
Memuaskan, menenangkan, tak tertandingi oleh yang lain,
tidak pernah memutus atau menghukum, obat mujarab untuk semua,
memikat pendengarnya, pembawa kebahagiaan jasmani,
sukacita mental dan kedamaian bagi jiwa.
Kata-kata yang membawa wawasan kegembiraan,
kebahagiaan dari persepsi yang tak tercela,
kata-kata yang bebas dari kesedihan yang dikarenakan janji-janji palsu,
penuh dengan pengetahuan, pembawa kebijaksanaan.
Tidak pernah samar-samar atau berbelit-belit,
membawa kegembiraan dan kepuasan yang telah diantisipasi,
mengajarkan hal-hal yang dapat dipahami dan yang tidak dapat dipahami,
bebas dari kontradiksi, kata-kata yang tepat
sesuai dengan suasana hati pendengar.
Terbebas dari kesalahan pengulangan,
kata-kata yang sebanding dengan raungan singa,
seperti gajah yang menderum tanpa halangan,
seperti naga yang mengaum dalam,
seperti kata-kata raja naga yang mulia,
seperti musik gandarva yang lembut dan manis,
seperti nyanyian burung kalapinga yang memikat,
seperti suara Brahma yang bergema,
seperti mendengar suara
griffin setengah manusia yang membawa keberuntungan.
Itulah suara otoritas,
bunyi genderang kemenangan,
tanpa kesombongan namun tak pernah terinjak-injak,
penuh dengan nubuat, tak pernah samar atau setengah-setengah.
Selalu memuaskan, tak pernah takut,
tak peduli pada imbalan ketenaran,
suara yang penuh suka cita, mahir, menyeluruh,
tak berkesudahan, dan melimpah.
Tercapai dalam setiap bunyi, setiap bahasa,
mengangkat semangat, tidak terbuka untuk ejekan atau penghinaan,
hadir seketika, namun tidak tergesa,
menyebar ke setiap sudut samsara,
menghilangkan racun keserakahan, kebencian, dan kebodohan,
menang atas pasukan Mara, yang terbaik.
Sifat-sifat ini, sebanyak enam puluh empat,
tidak pernah kurang dalam setiap ucapan-Mu,
akan terus menjadi musik kebahagiaan bagi telinga orang-orang beruntung
selama ruang masih ada.
Ketika dekat, tidak terlalu keras, ketika jauh, tidak pernah terlalu lemah;
seperti kristal yang bersentuhan dengan berbagai warna.
Suara yang selaras dengan lidah para pendengar yang tak terbatas,
muncul dari mahkota-Mu, lingkaran rambut di alis-Mu
tenggorokan-Mu, dan memang dari setiap bagian tubuh-Mu yang mulia,
dan semua pikiran dan niat untuk berbicara telah terhenti,
sebagaimana ruang yang meliputi segalanya bebas dari pikiran
namun dipenuhi dengan suara Brahma.
Dengan limpahan pahala yang terkumpul dari pujian ini
atas ucapan Manjushri, suaranya bagaikan
gemuruh naga yang dalam di dalam awan hujan
yang dikelilingi oleh kilatan petir yang indah,
semoga kata-kata-Mu selamanya mengalir ke telingaku.
Begitu suara-Mu terdengar di telingaku,
biarlah aku mengumpulkan orang-orang beruntung di sekitarku,
mengalahkan mereka yang menyebarkan pandangan yang sesat dalam perjalananku
menuju kesempurnaan dalam seni mengajar, logika, dan komposisi
yang memikat jiwa para bijak.
Semoga aku dapat memperoleh tanpa kesulitan
pengetahuan khusus dalam menguasai kata-kata dan suara-suara
untuk dengan mudah menembus bahasa makhluk-makhluk yang berbeda,
dan semoga aku tak tertandingi dalam keterampilan semacam itu
untuk menghilangkan keraguan setiap makhluk hidup.
Dengan tidak pernah menyimpang dari batas yang ditetapkan oleh ajaran-ajaran-Mu,
dan berlatih dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi,
aku berdoa agar dapat segera mencapai kemuliaan dari ucapan-ucapan-Mu.
Pujian atas Pikiran-Nya:
Warna, perpaduan warna karang
dan kilauan emas terbaik,
warna indah dari seseorang yang pengetahuannya
menyentuh dengan bebas setiap fenomena yang dikenal.
Sebuah limpahan pengetahuan, Manjushri,
pelindung semua, pelindung tertinggi,
berikanlah padaku lautan pengetahuan.
Gajah dalam pikiran ini,
terpengaruh oleh anggur ilusi bahwa fenomena adalah nyata,
melemahkan kemampuan membedakan benar dan salah,
belalainya yang dipenuhi ilusi jahat merusak pohon kebajikan,
terus-menerus dipandu oleh tali nafsu
dalam mengejar gajah betina ketenaran dan kekayaan,
menabrak liar melalui hutan belantara ketidaktahuan.
Gajah pikiran yang sulit ditaklukkan itu kau kendalikan
dengan tali kenangan, kesadaran, dan kewaspadaan,
dan dengan kait tajam akal sehat yang tak bercela
kau arahkan ke jalan sejati dan baik dari ketergantungan,
jalan yang telah dilalui dengan baik, dipuji oleh banyak makhluk mulia.
Selama masa yang tak terhingga berulang kali
engkau berlatih dengan usaha yang tak kenal lelah dan penuh kekuatan hingga,
dengan vajra konsentrasi meditatif
atas sifat ilusi dari semua fenomena,
engkau menghancurkan gunung besar ekstrem
hingga hanya namanya yang tersisa.
Sekali lagi, menyenangkan para Buddha tak terhitung banyaknya
dengan cakrawala tak terbatas dari persembahan yang mulia,
Engkau memunculkan suara-suara murni mereka yang serupa dengan Brahma,
pikiran mereka yang selaras, ajaran-ajaran mereka yang mulia,
untuk menghilangkan selamanya beragam penyakit yang disebut samsara.
Menyeruput nektar semacam itu secara terus-menerus
Engkau menumbuhkan tubuh kebijaksanaan untuk menopang diri-Mu
di jalan yang berat menuju kesempurnaan praktik bodhisattva,
di mana engkau tidak akan lagi terintimidasi
oleh ilusi yang menganggap semua fenomena sebagai nyata,
dan di mana jalan menuju penghancuran penampakan yang salah dipahami
dapat terlihat dengan jelas dan tanpa halangan
oleh konsentrasi meditatif yang tertinggi dan kokoh seperti vajra.
Dengan kekuatannya, penampakan fenomena yang serupa ilusi
dan pikiran yang transparan dan penuh pengetahuan laksana mimpi,
yang bersama-sama mencakup semua pengalaman, semua penampakan
mencair ke dalam alam ruang-seperti dharmadhatu,
dan seperti pohon dengan akar yang layu,
semua benih keterikatan hancur selamanya.
Oleh karenanya, pelindungku, selama ruang masih ada,
bagaimana mungkin engkau meninggalkan dharmakaya-Mu?
Tak bergeming, oleh karenanya, dari alam dharmadhatu-Mu,
setiap fenomena muncul di hadapan-Mu, wahai pembimbingku,
seperti bayangan dalam cermin, seperti warna-warni pelangi,
masing-masing secara individu dan sepenuhnya diketahui pada setiap saat.
Dari memberi timbul kekayaan, hal itu berdasar,
dari memberi timbul kemiskinan, hal itu tidak berdasar.
Dari kekikiran timbul kemiskinan, hal itu berdasar,
dari kekikiran timbul kekayaan, hal itu tidak berdasar.
Akibat-akibat semacam itu timbul dari ketergantungan yang tak terelakkan
diketahui oleh-Mu dan menjadikan-Mu
yang teragung di antara para guru.
Tidak ada perbuatan, baik atau buruk, maupun akibat yang sesuai
yang ditemukan sepanjang samsara sejak zaman purba,
yang tidak terlihat dan tidak diketahui oleh-Mu.
Oleh karenanya, kata-kata-Mu tidak mengandung
sesuatu yang melanggar hukum ketergantungan.
Beberapa makhluk hidup dalam keinginan yang nyata
namun cenderung dikuasai amarah,
yang lain hidup dalam amarah yang terbuka
namun cenderung dikuasai keinginan.
Semua kecenderungan tersebut tampak jelas bagi-Mu.
Oleh karena itu, tidak ada perbuatan-Mu
yang tidak bermanfaat bagi orang lain.
Delapan belas alam fenomena dengan segala pembagiannya
terungkap dengan jelas dan tak tersembunyi di hadapan-Mu.
Engkau tidak melewatkan, bahkan sedikit pun,
waktu-waktu bagi mereka yang siap untuk dilatih.
Dari mereka yang terombang-ambing dalam samsara
ada yang telah berkembang, ada yang lemah.
Kau melihat penderitaan mereka tanpa hambatan kekuatan iman,
kebijaksanaan, ingatan, ketekunan, dan konsentrasi.
Oleh karenanya, Kau lebih bijaksana dari yang bijaksana dalam mengajar.
Jalan-jalan yang menuju kelahiran kembali yang mulia, nirwana,
dan ke setiap alam penderitaan
telah Kau ketahui, telah Kau pahami.
Oleh karena itu, Kau adalah pemandu spiritual yang baik.
Mengetahui tahapan konsentrasi meditatif yang mendalam,
terutama pose singa yang berani,
serta tahapan dalam alam bentuk dan tak berbentuk,
bersama dengan teknik masuk dan keluar dari keseimbangan tersebut,
Kau telah menguasai keseimbangan meditatif.
Kau bijaksana dalam pengetahuan tentang masa lalu,
sangat memahami samsara yang tak berawal;
kehidupan masa lalu-Mu sendiri, kehidupan orang lain,
penyebabnya, rinciannya, dan tanda-tandanya
seketika tampak jelas bagi-Mu,
Kau bijaksana dalam pengetahuan tentang masa lalu,
sangat memahami samsara yang tak berawal;
kehidupan masa lalu-Mu sendiri, kehidupan orang lain,
penyebabnya, rinciannya, dan tanda-tandanya
segera tampak jelas bagi-Mu,
Mengetahui bahwa akhir dari delusi adalah akhir dari penderitaan,
bahwa akhir dari delusi dicapai melalui Delapan Jalan Mulia,
adalah pengetahuan yang nyata di hadapan mata-Mu.
Kau, oleh karenanya, adalah pelindung terbesar di antara para pelindung.
Oleh karenanya, fakta dan fiksi mengenai tindakan dan hasil,
setiap perbuatan dan setiap hasilnya,
kondisi setiap makhluk,
pembagian alam fenomena,
kemampuan yang berbeda-beda dari makhluk hidup,
setiap jalan, baik atau buruk,
cara dan tahap menghilangkan delusi,
pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan,
konstitusi mengenai akhir delusi;
sepuluh hal ini dapat ditembus dengan mudah oleh pikiran-Mu.
Adakah sesuatu yang tidak Engkau ketahui?
Mereka yang tersesat dalam samsara
sejak zaman purba telah mengejar
dengan usaha yang luar biasa sebuah jalan yang dipenuhi
dengan penderitaan dan luka yang ditimbulkan pada orang lain
semua demi kebahagiaan mereka sendiri,
akan tetapi, karena buah yang didambakan
dari penderitaan tersebut tidak terlihat di mana pun,
itu adalah jalan yang salah.
Demikian pula, jalan
dimana celaka sekecil apapun bagi orang lain,
ketika malam dan siang tanpa henti
demi kebahagiaan sendiri
tujuan kebebasan dari samsara dikejar
dengan dedikasi dan usaha sepenuh hati,
terlihat, biar bagaimana, oleh-Mu
sebagai jalan yang menyimpang dari jalan kebenaran.
Dan demikianlah, melampaui batas waktu
Engkau telah menempuh jalan agung kasih sayang,
praktik ini saja menuju pencerahan,
ibu sejati yang merawat setiap makhluk hidup,
perisai yang dikenakan oleh bodhisattva yang berani.
Sejauh mana kita semua lari dari penderitaan
bahkan yang dialami dalam mimpi,
akan tetapi selalu gagal mencapai kepuasan
bahkan di puncak kebahagiaan yang mulia,
makhluk hidup tidak dapat dibedakan.
Oleh karena itu, delusi diri
untuk tidak memikirkan kebahagiaan orang lain.
Engkau, oleh karenanya, dengan belas kasihan yang luar biasa,
pada awal pencarian-Mu akan pikiran bodhi,
menganggap diri dan orang lain sebagai satu kesatuan
dan mengasihi setiap makhluk hidup seolah-olah mereka adalah diri-Mu sendiri.
Terikat pada kebahagiaan sendiri
adalah penghalang bagi jalan yang sejati dan sempurna.
Mencintai orang lain adalah sumber
dari setiap sifat mulia yang dikenal.
Dengan berlatih berulang kali, oleh karena itu,
pertukaran diri untuk orang lain,
kamu menganggap semua orang lain sebagai diri sendiri.
Penguasa yang perkasa, tubuh Mahayana-Mu
telah diasupi berulang kali hingga mencapai kesempurnaan
dalam perjalanan-Mu menuju kesempurnaan sifat-sifat mulia
oleh Ibu Kasih Sayang yang Agung.
Bagaimana mungkin Engkau pernah terpikat
oleh ketenangan nirwana?
Garuda yang perkasa terbang ke langit
tetapi tidak tinggal di sana dan tidak akan pernah jatuh ke bumi.
Dengan memuji pikiran seseorang yang serupa
yang tidak tinggal di nirvana dan tidak jatuh ke samsara,
semoga aku tidak pernah terpisah dari
kebijaksanaan dan kasih sayang Manjushri.
Semoga aku dapat menumbuhkan kebijaksanaan tanpa kesulitan,
memadamkan pertumbuhan pandangan ekstrem,
bersama dengan kasih sayang yang memandang
setiap makhluk hidup sebagai anak terkasih,
dan semoga aku dapat membawa mereka semua dalam jalan Mahayana yang agung.
Semoga aku segera mengembangkan kekuatan ingatan dharani
yang mencakup semua kata, semua makna dari setiap ajaran,
bersama dengan keyakinan yang dipimpin oleh kebijaksanaan tertinggi
untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh orang lain,
dan semoga aku dapat memberikan kepada mereka yang kehilangan Dharma
sebuah jamuan sejati dari ajaran-ajaran terbaik.
Semoga keajaiban yang terdapat dalam pikiran Manjushri
menyempurnakan berbagai harapan para murid yang berbeda
dengan berbagai manifestasi spontanitas yang tak terhitung
segera memperindah pikiranku laksana bulan purnama di musim gugur
yang bersinar dan memperindah malam yang jernih bagai kristal.
Di setiap alam di atas, di bawah, dan di delapan arah mata angin
Buddha yang tak terhitung banyaknya senantiasa memuji-Nya.
Manjushri! Namanya bergema, ketiga alam semesta bergema dengan
kepopulerannya. Siapa pun yang menghayati dan mengucapkan pujian yang luas seperti awan
ini, yang hanya menyentuh sebagian kecil dari sifat-sifatnya, namun
diucapkan dengan penuh pengabdian, semoga berkah Manjushri
segera memasuki pikiran mereka.
PUJIAN KEPADA MANJUSHRI (Versi Singkat)
Sembah sujud kepada Manjushri,
Hormat kepada Guruku dan Pelindungku, Manjushri,
Siapa yang memegang erat teks suci yang melambangkan pandangannya akan segala sesuatu sebagaimana adanya,
Yang kecerdasannya bersinar laksana matahari, tak terhalang oleh ilusi atau jejak kebodohan,
Yang mengajarkan dengan enam puluh cara, dengan kasih sayang seorang ayah terhadap anak tunggalnya, kepada semua makhluk yang terperangkap dalam penjara Samsara, tersesat dalam kegelapan kebodohan mereka, dan tertekan oleh penderitaan mereka.
Engkau, yang dengan pengumuman Dharma-Mu yang menggelegar laksana guntur naga, membangkitkan kami dari kebingungan delusi kami dan membebaskan kami dari rantai besi karma;
Yang mengayunkan pedang kebijaksanaan untuk memotong penderitaan di mana pun benihnya muncul, membersihkan kegelapan kebodohan;
Engkau, yang tubuh mulianya dihiasi dengan seratus dua belas tanda Buddha,
Yang telah menyelesaikan tahapan-tahapan untuk mencapai kesempurnaan tertinggi seorang Bodhisattva,
Yang telah suci sejak awal,
Aku bersujud kepada-Mu, Wahai Manjushri;
Dengan kecemerlangan kebijaksanaan-Mu, Wahai Yang Maha Kasih Sayang,
Terangilah kegelapan yang mengelilingi pikiranku,
Terangilah kecerdasan dan kebijaksanaanku
Agar aku dapat memahami kata-kata Buddha dan teks-teks yang menjelaskannya.
(Akhir Pujian)
(Pujian)
Saya bersujud kepada Manjushri
dengan tubuh yang muda dan
dengan cahaya kebijaksanaan yang terang
menerangi kegelapan ketiga alam.
(Dengan demikian mempersembahkan pujian)
Di pusat hati terdapat roda kuning dengan enam jari-jari di atas cakram bulan. Di pusat roda terdapat suku kata DHI, dan pada keenam jari-jari terdapat enam suku kata. Di tepi roda terdapat mantra untuk meningkatkan kebijaksanaan. Cahaya memancar dari roda, membersihkan kegelapan kebodohan diri sendiri dan orang lain, serta mengumpulkan seluruh kebijaksanaan keberadaan dan Nirvana yang terserap ke dalam diri.
(Lafalkan mantra untuk meningkatkan kebijaksanaan dilanjutkan dengan mantra utama.)
NAMO MANJUSRIYE KUMARA BHUTAYA
BODHISATTVAYA MAHASATTVAYA MAHAKARUNIKAYA
TADYATHA OM ARADZE BIRADZE
SHUDDHE BISHUDDHE
SHODHAYA BISHODHAYE AMALE BIMALE NIRMALE
DZAYAVARE RURUTSALE
HUM HUM HUM PHAT PHAT PHAT SVAHA
(Lafalkan 21x)
and
OM A RA PA TSA NA DHI
(Mantra retret yang sebenarnya – lafalkan sebanyak mungkin, diikuti dengan 1 mala dari suku kata terakhir “DHI”, dalam satu tarikan napas)
OM AH HUM
(3x untuk memberkati dan mempersembahkan torma)
(Mantra Torma)
OM SARWA TATHAGATA ARYA MANJUSHRI SAPARIWARA
IDAM BALIM-TA KA-KA KAHI-KAHI
(3x)
(Persembahan)
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ARGHAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PADYAM
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA PUSPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA DHUPE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA ALOKE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA GANDHE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA NAIVIDYE
PRATITSAYE SVAHA
OM SARVA TATHAGATA ARYA MANJUSRI SAPARIVARA SHABDA
AH HUM SVAHA
(Dengan demikian melakukan persembahan)
(Pujian)
Saya bersujud kepada Manjushri
dengan tubuh yang muda dan
dengan lampu kebijaksanaan yang terang
Menyingkirkan kegelapan dari tiga alam.
(Dengan demikian, mempersembahkan pujian.)
(Mengundang Dorje Shugden dan Rombangannya)
(Lafalkan bagian ini hanya pada sesi terakhir setiap hari – Bila tidak melafalkan bagian ini, langsung lafalkan bagian Mantra 100 suku kata.)
(Invocation – offer incense here)
HUM!
RANG NYI YIDAM HLAR SE WAY
DUN DU MAR NAG ME LUNG U
PE NYI DRA GEG TZI PA YI
JIG RUNG NGAM JI SENGE TENG
TEN SUNG NYING GI NORBU CHOG
GYELCHEN DORJE SHUGDEN TSEL
KU LA RAB JUNG CHE KYI TZE
U LA LANG ZHA SER DOG SOL
CHAG NA PU DRI DRA NYING TOG
DRUB PA PO LA GYE PAY TSUL
TRO TURN DRA GEG DROL WAY NYAM
LE JE KACHE MARPO SOG
KOR TSOG GYATSO KOR WAR GYUR
DAG NYI TUG KAY OZER GYI
RANG ZHIN YING DANG TEN PAY NE
GAR ZHUG PODRANG SO SO NE
YESHE PA NAM KE CHIG LA
CHEN DRANG DAM YE YER ME GYUR
HUM!
Di hadapanku sebagai dewa Yidam,
Di tengah-tengah api merah darah yang berkobar ditiup angin,
Di atas seekor singa beringas yang luar biasa agungnya,
Menginjak-injak musuh dan penghalang di atas teratai dan surya,
Ialah permata hati tertinggi kita, Dharmapala,
Sang Kuasa Gyalchen Dorje Shugden,
Jubah biksu menghias tubuhnya,
Topi bundar kemilau emas di atas kepalanya,
Pedang belati dan jantung musuh dalam cengkeraman kedua tangannya,
Dengan perangai bahagia kepada muridnya,
Dan ekspresi muka marah yang melumatkan musuh dan penghalang.
Sekelilingnya hamparan pengikut bak samudra,
Seperti pelayan utama, Kache Marpo.
Pancaran cahaya dari hatiku mengundang
Dari relung alam dan istana-istana tempat mereka bersemayam,
Mahluk-mahluk kebijaksanaan kami undang segera,
Untuk menjadi tak terpisahkan dari mahluk-mahluk yang bertekad.
HUM!
GO SUM GU PE GO NE CHAG TSEL ZHING
CHI NANG NYER CHO SHA TRAG TOR TSOG DANG
KYEM CHANG GYA JA CHE MAR O ZHO CHE
NGO SHAM YI TRUL NAM KA KANG TE BUL
HUM!
Sujud bakti dengan tubuh, ucapan dan pikiranku serta persembahan,
Luar dan dalam, kuhaturkan bunga, dupa, cahaya, wewangian, makanan, darah dan daging,
Setumpuk torma, bir, teh, tsampa oles mentega, susu dan yoghurt.
Kutata di hadapanmu dan kubayangkan memenuhi ruangan.
DAM TZE KANG TZE TEN TZE TUN TZE DANG
CHI NANG SANG WAY CHEN ZIG SANG CHO CHE
NAM KA KANG TE BUL GYI KOR CHE NAM
TUG DAM KANG ZHING NYAM CHAG SU GYUR CHIG
Hakikat Samaya, hakikat pemuasan, hakikat dasar dan hakikat mantra,
Luar dan dalam, dan benda kesukaan yang dirahasiakan dan persembahan asap wangi;
Dengan yang kuhaturkan, memenuhi ruangan, O para pengiring,
Semoga kalian berkenan dan memulihkan janji yang mengendur!
DAG CHAG SAM JOR JA CHO NONG PA YI
TEN SUNG CHENPO TUG DANG GEL GYI KUN
NYING NE SHAG SO NYUR DU JANG TZO LA
MA YI BU ZHIN TSE WE JE ZUNG TZO
Semua tindakan salah kami, tubuh, ucapan dan pikiran,
Yang telah melanggar pikiran Dharmapala yang Agung,
Kami mengaku dari hati kami; murnikan kami
Dan jagalah kami dengan kasih bak seorang ibu pada anaknya!
HLA CHOG KYE LA NYING NE KUL WA NI
LOZANG GYEL WAY RING LUG DAR ZHING GYE
PELDEN LAMAY KU TSE CHAB SI PEL
GENDUN DE NAM SHE DRUB PEL WAR TZO
Ini permohonan kami padamu dari lubuk hati kami yang terdalam, Yang Maha Tinggi,
Adalah untuk menyebar dan membesarkan ajaran Lozang Sang Pemenang,
Untuk memperpanjang hidup dan pengaruh Para Guru Agung,
Dan ‘tuk meningkatkan praktek dan pembelajaran keluarga besar Sangha.
DAG GI LU DANG DRI ZHIN MIN DREL WAR
GEL KYEN PAR CHO MA LU SEL WA DANG
TUN KYEN DO DON YI ZHIN DRUB PA YI
SUNG KYOB NYER KA NAM YANG MI YEL TZO
Janganlah pernah terpisah dariku, seperti tubuh dan bayanganku,
Enyahkan kesulitan dan penghalang jalanku tanpa perkecualian,
Wujudkan suasana yang kondusif dan keinginanku,
Dan lindungi dan jagalah aku tanpa putus!
KYE PAR YI LA NAG PAY DO DON NAM
SAM PA JI ZHIN NYUR DU DRUB PA YI
LE ZHIY TRINLE NO NYUR TOG ME KYI
TU TSEL NGON SUM TON PAY DU LA BAB
Secara khusus, waktu telah tiba untuk menunjukkan langsung
Kekuatanmu yang tak terbendung, dalam perangai cepat, tegas dan tercerahkan
Empat Aksi untuk cepat digapai
Keinginan hati kami sesuai permintaan kami!
GYUN DRE DEN SHEN JE PAY DU LA BAB
MA NYE KA YOG SEL WAY DU LA BAB
NYAM CHUNG GON ME KYOB PAY DU LA BAB
CHO DEN BU ZHIN KYONG WAY DU LA BAB
Waktu telah tiba untuk mengukur kebenaran sesuai dengan hukum sebab akibat!
Waktu telah tiba untuk membebashukumkan mereka yang tertuduh secara salah!
Waktu telah tiba untuk melindungi mereka yang rendah hati karena mereka tak dilindungi!
Waktu telah tiba untuk mengasupi murid-murid Dharma seperti anakmu sendiri!
DOR NA DI NE JANG CHUB NYING PO BAR
LAMA HLA SUNG DU KUR NGA SOL NA
NYIN SUM JA RA TSEN SUM MEL TSE YI
SUNG KYOB TRINLE NAM YANG MI YEL SHOG
Dari sekarang hingga pencapaian inti pencerahan,
Karena kami memujamu sebagai Guru dan Pelindung,
Lindungilah kami tanpa henti dengan tindakan tercerahmu,
Dan awasi kami selama tiga periode siang dan malam!
(Akhir Pengundangan)
(Persembahan Teh Hitam kepada Pelindung)
OM AH HUM
(3x untuk menyucikan persembahan)
HUM!
DON NYI LEG TSOG CHAR BEB LAMA DANG
CHOG TUN NGO DRUB KUN TSOL YIDAM HLAR
DE TER DUTSIY TUNG WAY DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
HUM!
O para Guru yang selalu menurunkan akumulasi kebajikan untuk menggenapi karya kami dan lainnya,
Dan para Yidam yang mengabulkan semua pencapaian, baik untuk hal-hal kecil maupun besar,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
NE SUM PAWO KANDRO TSOG KUN DANG
TU DEN TEN SUNG DAM CHEN GYATSO LA
DE TER DUTSIY TUNG WAY DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
O semua pahlawan dan dakini dari tiga alam,
Dan lautan berbagai Pelindung Dharma yang penuh kuasa dan teguh pada sumpah,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
KYE PAR JIG TEN LE DE TEN SUNG CHOG
TU TOB NYEN NYUR DORJE SHUGDEN LA
DE TER DUTSIY TUNG WA DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
(Lafalkan sebanyak mungkin, pikirkan kesulitan tertentu yang harus diatasi)
Dan yang terutama, yang maha tinggi, maha surgawi Dharmapala,
Penuh kuasa tiada tara, tegas dan trengginas, Hyang Dorje Shugden,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
(Lafalkan sebanyak mungkin, pikirkan kesulitan tertentu yang harus diatasi)
ZHI GYE WANG DANG NGON CHO RAB JAM LE
TOG ME TSOL TZE NAM GYUR RIG NGA LA
DE TER DUTSIY TUNG WA DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
O lima marga yang selalu memberi kami
berkat damai, sejahtera, berdaya dan murka tanpa batas,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
TZE DUG YUM GU NA DREN GELONG GYE
LE KEN TUM PAY TAG SHAR CHU SOG LA
DE TER DUTSIY TUNG WA DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
O Sembilan Pendamping yang elok, delapan biksu penuntun,
Dan sepuluh penjaga muda yang garang dan seterusnya,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
HRI KYE PAR GYEL WAY TEN PA SUNG WAY TSO
SE YI TRAB CHEN KOR DANG CHE NAM LA
DO GU TSANG WAY SER KYEM CHO PA DI
BUL LO SUNG KYOB YEL WA ME PAR TZO
(3x)
HRI
Yang utama, Penjaga Utama ajaran Para Penakluk,
Setrap Chen yang di rombongan pengiringMu
Minuman keemasan yang penuh dengan segala kenikmatan kami haturkan;*
Jangan pernah lengah dalam perlindunganMu!
(3x)
KA KOR NYEN PO DAM NYAM SOG GI SHE
SHINTU TRO TUM KACHE MARPO LA
DE TER DUTSIY TUNG WA DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
O Kache Marpo yang garang, penunggu yang tegas,
Juru Penggal bagi mereka dengan samaya yang terpuruk,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,*
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
ZHEN YANG TRUL PA YANG TRUL SAM YE DANG
KA DO HLA SIN TONG SUM YO WA LA
DE TER DUTSIY TUNG WA DI BUL GYI
ZHE NE SAM DON NYUR DU HLUN DRUB TZO
Juga segenap jelmaan yang sulit dibayangkan dan segenap emanasi mereka,
Para dewa pendamping dan roh kasar yang mengguncang tiga ribu dunia,
Melalui persembahan minuman bak amrita ini yang membawa kebahagiaan,
Semoga diriMu, setelah mencicipi, dengan segera mengabulkan keinginan kami!
DE TAR CHO CHING TRINLE KUL WAY TU
NAM ZHIY TRINLE DU DRUG KE CHIG KYANG
YEL WA ME PAR PA YI BU ZHIN DU
TAG TU KYONG SHING TAG TU JE ZUNG TZO
Dengan kekuatan persembahan ini dan permohonan kami,
Semoga diriMu memberi kami berkat selama enam waktu,
Dan, tanpa ragu, selalu lindungi diriku,
jagalah aku seperti ayah kepada anaknya!
KA DO DREG PAY TSOG KYANG DULDZIN JE
YAR DAM NYEN PO TA TSIG DREN TZO LA
DAG GI GANG DANG GANG CHOL LE DI NAM
DA TA NYUR DU DRUB LA MA YEL ZHIG
(Akhir persembahan teh hitam)
Dan segenap penungguMu yang garang,
Ingatlah sumpah janji pada Hyang Dültzin
Dan wujudkan dengan segera, tanpa tertunda,
Aksi apapun yang telah aku mohonkan!
OM BENZA WIKI BITANA SOHA
(Satu mala atau lebih)
(Mantra 100 Suku Kata Vajrasattva)
OM VAJRASATTVA SAMAYA MANUPALAYA
VAJRASATTVA TVENOPATISTHA DRDHO ME BHAVA
SUTOSYO ME BHAVA SUPOSYO ME BHAVA
ANURAKTO ME BHAVA SARVA SIDDHIM ME PRAYATSHA
SARVA KARMASUTSA ME TSITTAM SREYAM KURU HUM
HA HA HA HA HO: BHAGAVAN SARVA TATHAGATA VAJRA
MA ME MUNTSA VAJRIBHAVA MAHASAMAYA SATTVA AH HUM PHAT
(Ucapkan mantra 100 suku kata untuk menstabilkan pelafalan.)
Di ujung lidah, visualisasikan suku kata DHI: dengan bagian kepala DHI: diarahkan ke bawah menuju tenggorokan. Kemudian, dalam satu tarikan napas, bacalah DHI: 100 kali, sambil membayangkan bahwa seluruh tubuh berubah menjadi suku kata DHI:
(Dedikasi)
Melalui pahala yang terkumpul dari praktik ini
Semoga aku segera mencapai keadaan Arya Manjushri,
dan semoga aku dapat membimbing semua makhluk hidup, tanpa kecuali,
menuju Pencerahan.
(Doa-doa Keberuntungan)
Semoga pagi, malam, dan siang hari membawa keberuntungan.
Semoga segala kebaikan dari Tiga Permata muncul.
(Dengan demikian, doa-doa pengabdian dan keberkahan dipanjatkan.)
(Dedikasi Penyelesaian)
JANG JUB SEM CHOK RINPOCHE
MA KYE PA NAM KYE GYUR CHIK
KYE PA NYAM PA ME PA YANG
GONG NA GONG DU PEL WAR SHUG
Pikiran Bodhi tertinggi dan berharga,
Jika dalam keadaan belum terlahirkan, bangkitlah,
Dan, jika sudah lahir, jangan pernah terpuruk,
Tapi berkembanglah senantiasa!
TONG NI TONG WA RINPOCHE
MA KYE PA NAM KYE GYUR CHIK
KYE PA NYAM PA ME PA YANG
GONG NA GONG DU PEL WAR SHUG
Pandangan berharga di alam Shunyata
Jika dalam keadaan belum terlahirkan, bangkitlah,
Dan, jika sudah lahir, jangan pernah terpuruk,
Tapi berkembanglah senantiasa!
DAG SOG JIN NYEH SAG PA GE WA DEE
TAN DANG DRO WA KUN LA GANG PHAN DANG
CHE PAR JE TSUN LO ZANG DRAG PA YI
TAN PI NYING PO RING DU SAL SHEH SHUG
Kekosongan yang berharga
Jika dalam keadaan belum terlahirkan, bangkitlah,
Dan, jika sudah lahir, jangan pernah terpuruk,
Tapi berkembanglah senantiasa!
KYE WA KUN TU YANG DAK LA MA DANG
DRAL ME CHO KYI PAL LA LONG CHO CHING
SA DANG LAM GYI YON TEN RAP DZOK NA
DORJE CHANG GI GO PANG NYUR TOP SHUG
Dalam semua kehidupanku, janganlah diriku terpisah,
Dari Guru-Guru yang sempurna dan semoga kurasakan keindahan Dharma.
Dengan menyempurnakan cara dan tingkatan yang harus kutempuh,
Semoga dengan cepat kuraih kondisi Vajradhara!
GE WA DI YI NYUR DU DAK
LA MA SANG GYE DRUP GYUR NA
DRO WA CHIK KYANG MA LU PA
DE YI SA LA GO PAR SHUG
Melalui kebajikan ini semoga diriku segera
menggapai status Guru Deva,
Dan membawa setiap mahluk,
Tanpa kecuali, menjadi sepertiku!
CHO KHI GYAL PO TSONG KHA PA
CHO TSUL NAM PAR PHEL WA LA
GEK KI TSHAN MA ZHI WA DANG
THUN KYIN MA LU TSHANG WAR SHOK
Semoga semua rintangan disingkirkan,
Dan semua kondisi bagus selesai
Untuk sistem Dharma yang murni
dari Raja Dharma, Tsongkhapa, berkembang selalu!
DA DANG SHEN GI DU SUM DANG
DRIL WA TSOK NYI LA TEN NAY
GYA WA LO ZANG DRAG PA YI
TAN PAR YUN RING VAR GYR CHIG
Karena dua akumulasi
Diriku dan yang lain di tiga jaman,
Semoga ajaran Sang Penakluk Tsongkhapa
Losang Drakpa, berkobar selamanya!
NYIMO DELEK TSEN DELEK
NYIME GUNG YANG DELEK SHIN
NYITSEN TAKTU DELEK PEL
KON CHOK SUM GYI JIN GYI LOB
KON CHOK SUM GYI NGOR DRUL TSOL
KON CHOK SUM GYI TRA SHI SHOK
Biarlah semua membawa keberuntungan, siang dan malam!
Biarlah keberuntungan meningkat siang dan malam
Seperti matahari yang naik ke titik tertinggi di angkasa!
Tri Ratna tempatku bernaung, mohon berkatilah kami!
Tri Ratna tempatku bernaung, mohon berikan pencapaian!
Semoga keberuntungan dari Tri Ratna bersama kita!
(Dedikasi Umur Panjang sang Guru)
JETSUN LAMA KU TSE RABTEN CHING
NAMKAR TRINLEY CHOG CHUR GYE PA DANG
LOBSANG TENPE DRON ME SA SUM GYI
DRO WE MUNSEL TAKTUR NE GYUR CHIG
Biarlah Guru yang terhormat hidup dalam kestabilan,
Biarlah tindakan murni menyebar ke sepuluh arah mata angin,
Dan biarlah cahaya lampu ajaran Lama Tsongkhapa,
Selalu bersinar, menyingkirkan kegelapan tanpa pencerahan semua mahluk!.
(Dedikasi Umur Panjang Yang Suci Dalai Lama)
GANG RI RAWE KORWAI SHING KHAM DIR
PEN DANG DEWA MALU GYUNG WAI NE
CHENREZIG WANG TENZIN GYATSO YI
SHA PEI SITHAI BARDU DEN GYUR CHIG
Di tanah suci yang dikelilingi pegunungan salju
Kau adalah sumber semua manfaat dan kebahagiaan
Semoga kaki terataimu, O Chenrezig yang tangguh, Tenzin Gyatso
Tetap di dunia ini sampai akhir keberadaan.
(Dengan demikian, doa-doa pengabdian dan keberkahan dipanjatkan.)
Bentuk Manjushri lainnya
Bentuk lain Manjushri dikenal sebagai Manjushri Namasamgiti bersama Dorje Shugden. Klik pada gambar untuk memperbesar atau klik di sini untuk melihat lebih banyak thangka yang indah.
Bentuk lain Manjushri dikenal sebagai Dharmadhatu Vagishvara Manjushri bersama dengan Dorje Shugden. Klik pada gambar untuk memperbesar atau klik di sini untuk melihat lebih banyak thangka yang indah.
Manjushri Putih. Klik pada gambar untuk memperbesar atau klik di sini untuk melihat lebih banyak thangka yang indah.
Guhya Manjushri. Klik gambar untuk memperbesar atau klik di sini untuk melihat lebih banyak thangka yang indah.
Untuk membaca informasi menarik lainnya:
- Biografi Singkat Tsem Rinpoche Dalam Foto (Bahasa Indonesia)
- Pertanyaan Mengenai Rasa Cemburu (Bahasa Indonesia)
- 35 Buddha Pengakuan (Bahasa Indonesia)
- Ritus Berlian: Sadhana Harian Dorje Shugden (Bahasa Indonesia)
- Dorje Shugden – Pelindung Masa Kini (Bahasa Indonesia)
- Dorje Shugden Gyenze untuk Memperpanjang Umur, Meningkatkan Pahala dan Kekayaan (Bahasa Indonesia)
- Dorje Shugden Shize: Sebuah Praktik Untuk Penyembuhan dan Umur Panjang (Bahasa Indonesia)
- Dorje Shugden Wangze untuk Anugrah Daya Kuasa dan Pengaruh (Bahasa Indonesia)
- Dorje Shugden Trakze Untuk Menghalau Gangguan Ilmu Hitam & Makhluk Halus (Bahasa Indonesia)
- Proyek Pembangunan Stupa Relik Tsem Rinpoche (Bahasa Indonesia)
- ALBUM: Upacara Parinirwana Yang Mulia Kyabje Tsem Rinpoche (Lengkap) (Bahasa Indonesia)
- Parinirwana dari Yang Mulia Kyabje Tsem Rinpoche (Bahasa Indonesia)
- Dinasti Shailendra: Leluhur Buddhisme Mahayana di Indonesia (Bahasa Indonesia)
- Sebuah Doa Singkat Kepada Dorje Shugden (Bahasa Indonesia)
- Yang Mulia Dharmaraja Tsongkhapa (Bahasa Indonesia)
- Kyabje Zong Rinpoche: Kelahiran, Kematian & Bardo (Bahasa Indonesia)
Please support us so that we can continue to bring you more Dharma:
If you are in the United States, please note that your offerings and contributions are tax deductible. ~ the tsemrinpoche.com blog team



































































































































DISCLAIMER IN RELATION TO COMMENTS OR POSTS GIVEN BY THIRD PARTIES BELOW
Kindly note that the comments or posts given by third parties in the comment section below do not represent the views of the owner and/or host of this Blog, save for responses specifically given by the owner and/or host. All other comments or posts or any other opinions, discussions or views given below under the comment section do not represent our views and should not be regarded as such. We reserve the right to remove any comments/views which we may find offensive but due to the volume of such comments, the non removal and/or non detection of any such comments/views does not mean that we condone the same.
We do hope that the participants of any comments, posts, opinions, discussions or views below will act responsibly and do not engage nor make any statements which are defamatory in nature or which may incite and contempt or ridicule of any party, individual or their beliefs or to contravene any laws.
Please enter your details