Kyabje Zong Rinpoche: Kelahiran, Kematian & Bardo (Bahasa Indonesia)

Dec 15, 2021 | Views: 357

Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche. Klik pada gambar untuk memperbesar.

(Oleh Tsem Rinpoche)

Artikel ini dikirimkan oleh seorang sahabat Dharma. Ketika saya membacanya, saya pikir ini SANGAT BERHARGA. Ajaran apapun yang diberikan oleh Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche adalah tidak ternilai. Saya memutuskan untuk menyediakannya di sini dan membaginya dengan semua orang. Agar mereka bisa mendapatkan manfaatnya.

Seseorang seperti Kyabje Zong Rinpoche tidak memerlukan banyak perkenalan. Perkataan, pikiran dan tubuhnya adalah satu dengan Heruka Cakrasamvara sejak lama. Semoga kalian terberkati oleh perkataan dan rupa Kyabje Zong Rinpoche di sini. Semoga kalian mencapai ke-Buddha-an sempurna seperti yang telah dicapai Kyabje Zong Rinpoche.

Salam peduli dan Dharma berlimpah bagi kalian,
Tsem Rinpoche

 


 

Kata Pembuka dari Penerjemah

Ajaran kecil ini diberikan oleh Kyabje Zong Rinpoche atas permintaan dari beberapa orang Barat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai deskripsi yang diberikan oleh mereka yang telah “kembali dari kematian” setelah pijitan pada jantung [untuk menyadarkan mereka] dan sejenisnya. Cukup banyak laporan bahwa orang-orang ini melihat visi dari mahluk suci bermandikan cahaya. Karena itu, beberapa orang tertarik pada ajaran Tibet mengenai kematian dan kelahiran kembali. Akan tetapi, kebanyakan dari kita membaca terjemahan dari “Buku Kematian dari Tibet,” walaupun tidak mengetahui tentang tradisi oral yang diturunkan bersamaan dengan karya ini dan buku yang sejenis dari sekte lain.

Versi yang dikenal di Barat berasal dari sekte Khargyu. Kyabje Zong Rinpoche telah mempelajari topik yang sama di tradisi Gelugpa, dan merupakan pemegang aliran dari praktik-praktik yang berhubungan dengan hal ini. Karena itu, beliau sangat berkualifikasi untuk berkomentar mengenai laporan seperti ini dari Barat, dan tanggapan beliau tidak hanya otentik tetapi juga didukung oleh banyak pengalaman praktis.

Bardo1

Ada banyak orang dari Barat yang meyakini bahwa Bardo (atau “kondisi antara kematian dan kelahiran kembali”) mengikuti pola tetap yang dijelaskan dalam “Buku Kematian dari Tibet.” Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan Rinpoche dalam ajaran ini, hal ini sangatlah jauh dari kenyataannya, karena buku ini hanya membahas tentang contoh dari manusia yang meninggal karena penyakit dan usia lanjut. Ajaran ini juga meliputi topik mengenai arwah dan penubuat, yang menarik bagi banyak orang.

Artikel ini meliputi berbagai subyek dalam ruang kecil. [Ajaran] ini juga meliputi ajaran Buddhisme Mahayana yang penting seperti tiga jenis motivasi untuk melaksanakan ajaran ini. Ada banyak aspek lain dari Jalan Menuju Pencerahan yang diliput secara tersirat dalam ajaran ini yang bila ditelaah lebih lanjut akan membawa pembaca lebih dekat dengan tujuan semua mahluk hidup, Pencerahan Sepenuhnya.

Karena itu, ajaran ini tidak hanya akan menjawab banyak pertanyaan yang mungkin dimiliki seseorang mengenai kematian dari sudut pandang masyarakat Tibet atau Buddhisme, tetapi juga akan, bagi pembaca cerdas, menunjukan jalan untuk mengarahkan hidupnya untuk memberi manfaat bagi makhluk lain.

 

Biografi Singkat Kyabje Zong Rinpoche

Kyabje Zong Rinpoche pada masa mudanya. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Yang Mulia Kyabje Zong Rinpoche Losang Tsundu Thupten Gyaltsen dilahirkan pada tahun 1905 di desa Songo, di distrik Nang-Sang, Do-To Kham, Tibet Timur, di keluarga Nyen Nang-pa, dekat tempat kelahiran dua inkarnasinya terdahulu, sebagai Tenpa Thuntsok dan Phuntsok Chopel. Ayahnya bernama Jampa, dan ibunya bernama Sonam Yangzom.

Dekat rumah kelahirannya berdiri sebuah pohon buah yang hanya berbuah ketika reinkarnasi Rinpoche masih hidup dan tidak akan berbuah ketika reinkarnasinya tidak sedang tinggal di bumi.

Sejak lahir, Rinpoche menunjukan banyak tanda-tanda yang luar biasa. Tidak seperti anak-anak lainnya, kegiatan belajar, menulis dan menghafal hanya membutuhkan usaha yang sangat sedikit, dan beliau langsung mengerti makna kitab suci ketika membacanya. Karena itu, beliau mempelajari banyak kitab suci di biara Nang Sang, dekat tempat kelahirannya.

Pada tahun 1916, beliau meninggalkan tempat kelahirannya untuk pindah ke Lhasa, Tibet Pusat. Perjalanan ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Di Lhasa, beliau bergabung dengan Biara Ganden Shartse, salah satu dari Tiga Universitas Monastik terbesar di Lhasa. Di bawah bimbingan guru-guru Tibet terbaik yang hidup saat itu, beliau belajar mengenai Tsema (Alasan), Parchin (Kebijaksanaan yang Sempurna), Uma (kekosongan), Dzö (Metafisik), dan Dùlwa (Disiplin). Karenanya, melalui kegiatan menghafal, membaca, dan berdebat, beliau menjadi sangat terkenal.

Pada tahun 1928, Rinpoche menghadap Yang Suci Dalai Lama ke 13 untuk mengikuti ujian, dan pada tahun 1929, beliau dianugerahi gelar Geshe Lharampa, sebuah tanda penguasaan spiritual dan metode Sutrayana.

Sejak saat itu, Rinpoche bergabung dengan Biara Tantra Tingkat Lanjut yang terkemuka dimana beliau mempelajari seluruh bidang Tantra. Setelah melalui semua ini, beliau menjadi guru yang sempurna bagi ajaran Sutra dan Tantra.

Biara Ganden di Tibet

Pada tahun 1937, atas permintaan dan nasihat Radrang Rinpoche, Zong Rinpoche menerima jabatan Kepala Biara dari Universitas Ganden Shartse, posisi yang dipegangnya sampai tahun 1947. Pada masa jabatannya, beliau membangun panggung debat baru, merekonstruksi asrama biksu yang lama dan menjaga kedisiplinan monastik dengan sempurna. Pada tahun 1947, dalam acara Sangphu Yarchö (acara doa) beliau memberikan persembahan kepada 10.000 biksu.

Dari tahun 1947 sampai tahun 1950, Zong Rinpoche pergi ke Phagri, tempat biara bernama Richung Poto berada. Di sana, beliau memberi manfaat bagi banyak orang melalui ajarannya yang bermakna dalam. Pada tahun 1950, beliau mengunjungi Tsari di Tibet Selatan. Pada saat itu, banyak pertanda suci yang nampak. Setelah itu, beliau kembali ke Lhasa. Pada tahun 1951, beliau mengunjungi Do-To Kham Cha Tring, tempat kelahirannya di Nang Sang dan beberapa tempat lainnya, dimana beliau memenuhi harapan semua orang dengan memberi ajaran Lam Rim (Tahapan Menuju Pencerahan), Lo Jong (Transformasi Pikiran), memberikan inisiasi Tantra dan menolong lebih jauh dengan cara melakukan ritual untuk mengeliminasi masalah mental dan fisik mereka.

Setelah itu, Zong Rinpoche kembali ke Lhasa dimana Tiongkok merah sangat aktif dalam menekan kebudayaan Tibet di daerah tersebut. Penekanan ini semakin meningkat dan puncaknya pada tahun 1959 ketika pemerintah Tiongkok menyerang dan menggulingkan pemerintah Tibet. Rinpoche pergi bersama warga Tibet lainnya ke India, dimana beliau tinggal sebagai pengungsi sejak saat itu.

Di India, pada awalnya Rinpoche tinggal di Buxa bersama biksu lainnya yang mengungsikan diri dari tiga biara besar, Ganden, Sera, dan Drepung. Di sana beliau memberi ajaran, transmisi oral, inisiasi, dan sebagainya.

Pada tahun 1965, berdasarkan permintaan dari Yang Suci Dalai Lama ke 14, beliau ditunjuk sebagai guru bagi sejumlah besar kaum intelektual dan mewakili empat sekte agama Buddha di Tibet, yang berkumpul di Musoorie untuk memikirkan tentang kelanggengan dari pola kebudayaan Tibet di antara pengungsi Tibet di India. Pada tahun 1967, Rinpoche menjadi kepala Central Institute of High Tibetan Studies yang pertama di Universitas Sanskrit Varanasi.

Pada tahun 1970, Rinpoche mengundurkan diri dari jabatannya untuk pindah ke Mundgod, India Selatan. Dari sini, Rinpoche mengunjungi berbagai tempat pengungsi Tibet dan memberi manfaat bagi banyak orang dengan mengajar dan memberikan inisiasi.

Diterjemahkan ke bahasa Inggris olehke Losang Norbu Tsonawa sebelum kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

 

KELAHIRAN, KEMATIAN, DAN BARDO

OLEH KYABJE ZONG RINPOCHE

Kelahiran, kematian, dan bardo: apakah arti dari ketiga hal ini? Bagaimana orang meninggal? Kalian telah mengajukan pertanyaan mengenai hal ini dan tentu saja saya harus memberikan jawaban yang bermakna. Kita harus mengerti mengenai apa yang kita maksud dengan kelahiran, kematian dan bardo pada umumnya. Kita harus mengetahui bagaimana cara memasuki Bardo. Kita meninggal, pergi ke Bardo, lahir kembali, meninggal lagi, pergi lagi ke bardo. Ketiga hal ini adalah lingkaran tanpa akhir, tanpa akhir sama sekali. Menumbuhkan rasa tidak suka pada Samsara (atau Siklus Keberadaan) sangatlah berguna, dan merupakan hal yang sangat baik bagi praktisi untuk mengetahui hal ini.

Walaupun ini adalah kenyataannya, kalian bertanya hari ini mengenai manusia yang kembali lagi ke tubuh yang sama setelah kematian. Orang-orang ini mengatakan bahwa mereka melihat cahaya putih tetapi kita tidak bisa benar-benar mengatakan dengan pasti apakah hal ini ada atau tidak.

Bardo3

Biasanya, ketika orang meninggal karena suatu penyakit atau sebab lain, dan kesadaran sedang akan meninggalkan tubuh, ada perasaan ditekan oleh gumpalan tanah yang besar dan perasaan sesak napas. Mereka meminta perawat untuk membantu mereka berdiri dengan berkata “Berikan tanganmu”. Ini adalah waktu hilangnya energi vital seseorang. Setelah beberapa waktu, mereka tidak bisa mengeluarkan suara. Semua elemen air dalam diri mereka mulai mengering: bibir mengering, hidung seperti dicubit. Setelah itu, mereka tidak bisa melihat atau mendengar dengan baik. Kemampuan semua organ indera melemah.

Ketika seseorang merasa ditekan kebawah, sebetulnya ini hanyalah pengalaman mental, seperti melihat halusinasi bahkan sampai dengan air mengalir. Hal ini hanyalah terjadi dalam pikiran dan tidak benar-benar terlihat.

Setelah itu indera orang yang sedang dalam proses meninggal merasakan sesuatu yang seperti asap biru yang juga hanya dialami oleh pikiran. Di sekitar asap ada api seperti sedotan terbakar yang dilempar ke kegelapan. Hal-hal ini memudar perlahan-lahan. Lampu yang seperti api tak bergerak masih terlihat, dan setelah itu sesuatu yang putih seperti cahaya dari sinar rembulan. Dari cahaya putih ini ada cahaya yang berwarna merah atau krimson, seperti matahari terbit.

Tiba-tiba semua menjadi gelap. Ia menjadi tidak sadar; tanpa ingatan yang tertinggal. Kondisi tidak sadar ini selesai dan pikiran halus mengkristal dan menjadi jernih. Semua hal menjadi tidak substansial bagi pikiran ini, seperti warna langit yang cerah sebelum dini hari di musim gugur. Pada periode yang tidak substansial ini, kesadaran dari seseorang tinggal dalam tubuh selama dua hari, sementara makhluk yang sadar bisa tinggal selama 21 hari bila mereka menginginkannya.

Kondisi Bardo tercipta setelah kesadaran, yang telah menemani kita sejak jaman dahulu, meninggalkan tubuh. Manusia itu sudah meninggal.

Bardo2

Sekarang, ada beberapa alasan untuk penampakan di atas – visi berasap dan api membara, lampu yang tenang, cahaya berwarna putih dan merah, dan suasana gelap seperti subuh. Kita melihat mereka karena pusat dan saluran energi yang kita miliki dalam tubuh. Bagaimana cara energi mengalir melalui hal-hal ini? Karena akan mengambil terlalu banyak tempat.

Sekarang kita akan membicarakan mengenai apa yang terjadi setelah kematian ketika kesadaran meninggalkan tubuh. Bila akan dilahirkan kembali sebagai manusia, maka Bardopa (kesadaran dalam kondisi Bardo) memiliki tubuh manusia. Bila akan dilahirkan sebagai deva (atau dewa), maka ia akan memiliki bentuk deva; bila sebagai hewan, maka dalam bentuk hewan. Tubuh Bardo ini mempunyai indera yang normal dan kekuatan nalar dan bisa pergi kemanapun kesadaran ingin pergi tanpa halangan, dan sampai pada tempat yang dia inginkan secara instan. Ketika dia pulang ke rumah dan berbicara kepada anggota keluarga, dia melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan. Kita, yang masih hidup, tetap diam karena kita tidak bisa melihat dia. Dia berpikir kita tidak menghiraukannya jadi dia merasa sedih. Ketika dia berjalan di tempat yang berlumpur, kakinya tetap bersih tanpa kotoran, dan tidak ada jejak kaki di lumpur. Tubuhnya tidak terlihat. Dia tidak membedakan antara sinar matahari dan sinar rembulan karena tubuhnya tidak mempunyai dua pikiran Boddhi, yang berwarna putih dan merah. Tubuhnya hanyalah tubuh pikiran.

Bardo4

Dalam proses konsepsi di rahim ibu, semua tiba-tiba menjadi gelap. Dia merasakan panas dan dingin karena dia sekarang memiliki indera perasa. Tiga delusi mengenai keberadaan, yaitu keterikatan, kebencian, dan kebodohan, bisa mengaktivasi beberapa ingatan dalam pikirannya. Ketika berada di rahim ibu, dalam kasus manusia, dia tidak bisa melihat dan mendengar. Tubuhnya bertumbuh dengan perlahan dibawah pengaruh elemen angin. Ada kesakitan dan penderitaan. Ada dingin dan panas. Bila sang ibu merasa lapar, dia akan merasa tergantung di atas angin. Bila sang ibu makan banyak, maka dia akan merasa tertekan. Bila sang ibu melompat, dia akan merasa seperti jatuh dari tebing. Bila sang ibu meminum banyak cairan panas atau dingin, maka dia akan merasa panas atau dingin.

Ketika sembilan bulan berakhir, dan bila anak laki-laki, kepalanya akan berada di sisi kanan rahim dan menghadap bagian belakang ibu. Bila kesadaran ini menjadi anak perempuan, maka kepalanya ada di sisi kiri, dan menghadap bagian depan. Sebabnya adalah bagaimana cara Bardopa memasuki rahim.

Kadang terjadi, sang ibu melahirkan anak kembar dengan yang satu duduk lebih tinggi dalam rahim dibanding yang lain, yang lebih bawah keluar lebih dulu, yang lebih tinggi belakangan. Pada saat konsepsi, akan tetapi, yang lebih tinggi dikonsepsi sebelum yang lebih rendah, dan juga ada perbedaan ukuran sedikit diantara keduanya.

Pada saat akan lahir, dia berada dalam posisi terbalik dalam rahim selama tujuh hari. Sekarang ini adalah penderitaan yang amat sangat. Pada saat akan keluar, dia merasakan rasa sakit yang amat sangat. Pada saat keluar, akhirnya dia bisa melihat, mendengar, merasa, dan mencium. Pada saat berada di dalam rahim, dia tidak bisa makan makanan dari mulut tetapi makanannya diberikan melalui saluran umbilikal yang terikat pada plasenta. Jadi ini adalah bagaimana proses kelahiran terjadi.

Bardo5

Ada yang mengatakan bahwa orang yang kembali ke tubuh yang telah meninggal akan melihat beberapa cahaya ini. Bila kalian membaca mengenai Bardo Töthul (atau Buku Kematian dari Tibet) dalam satu jilid, kalian akan mengetahui mengenai bagaimana Bardo terbentuk. Terkadang, seseorang bisa menemukan komentar yang berlebihan yang membangkitkan kecurigaan, walapun sisanya cukup konsisten.

Bardopa yang akan dilahirkan kembali sebagai deva atau manusia dalam kelahiran bahagia mempunyai tubuh berwarna merah tua. Mereka melihat jalan putih di hadapan mereka seperti ketika seseorang menggelar kain putih. Bardopa lain yang sebagai contoh yang berwarna hitam dan melalui jalan yang gelap dan beberapa berjalan tegak, beberapa merangkak, dan beberapa terbalik dan juga ada perbedaan mengenai cara berjalan Bardopa.

Setelah kondisi Bardo beberapa Bardopa kembali ke tubuh yang telah mati dan mereka disebut “daelog” dalam bahasa Tibet. Kita mempunyai beberapa daelog seperti ini di Kham atau Tibet bagian timur. Setelah kesadaran ada dalam bentuk daelog, dia bisa datang dan pergi sesukanya. Hal ini terjadi berkali-kali dan karena Bardopa bisa pergi ke mana saja dengan cepat, mereka mempunyai banyak cerita yang ingin mereka sampaikan ketika mereka kembali. Bila tubuhnya tidak dikeluarkan dari ruangan dalam waktu tujuh hari, ada kemungkinan dia akan kembali.

Tetapi lebih dari itu, bila kita bermeditasi mengenai latihan yang dikenal dengan Powa Drung Jug, kita akan dapat meninggalkan tubuh kita dan memasuki mayat lain. Seperti yang disebutkan dalam biografi Gyalsae Drindon Dawa ketika beliau memasuki mayat burung merpati dan pergi menyeberangi sungai.

Jetzun Tara Natha (klik pada gambar untuk memperbesar)

Jetzun Tara Natha memasuki tubuh anak yang meninggal dan tinggal di sana selama tiga hari sembari memberikan manfaat bagi banyak murid dengan memberikan ajaran dan memenuhi maksud sebenarnya dari banyak mahluk hidup dengan memimpin mereka menuju jalan kebebasan. Selama tiga tahun beliau menyimpan tubuhnya yang tidak membusuk di tempat yang aman. Tubuh anak yang diberkati dikembalikan setelah beliau kembali ke tubuhnya sendiri. Beliau melakukan hal ini tidak kurang dari enam kali. Bila seseorang telah mencapai Powa Drung Jug, maka hal ini memungkinkan.

Makhluk biasa bisa memasuki kembali tubuhnya yang telah mati, tetapi mereka tidak bisa menghindari pembusukan, dan hanya bisa masuk bila tubuh mereka aman dan utuh. Sebagai contoh, bila kepalanya dipenggal maka Bardopa tidak bisa memasuki tubuhnya. Ada juga beberapa kasus dimana Bardopa tidak bisa memasuki tubuh yang utuh karena karma yang menghubungkannya dengan tubuh tersebut sudah habis. Dia bahkan tidak akan ingin datang mendekatinya karena dia akan menganggapnya menjijikan, kotor, dan penuh dengan noda busuk. Hal ini sangat jarang. Tidak ada dokter yang bisa membawa dia kembali baik dengan obat maupun ritual. Karena itu, didorong kekuatan karma mereka, mungkin satu atau dua orang bisa kembali dari kematian.

[Penjelasan] di atas adalah mengenai bagaimana kondisi Bardo diciptakan secara umum.

Bila seseorang mengalami kematian yang ganas seperti ditembak, dipenggal, atau tenggelam, maka dia tidak akan mengalami bayangan asap dengan api membara dan lainnya karena kematian seperti ini menghentikan kemampuannya untuk mengenal fenomena ini dan sebelum Bardo, tanda-tanda kematian lainnya tidak nampak secara jelas. Tanda-tanda ini hanya nampak bagi mereka yang meninggal karena sakit.

Bila seseorang mempunyai karma buruk yang sangat banyak sehingga akan terlahir kembali di alam neraka, maka orang tersebut akan disiksa oleh penyakit terakhir. Orang itu tidak bisa berdoa kepada Tiga Permata Pelindung (i.e., Buddha, Dharma dan Sangha) dan tidak bisa mengingat doa hariannya. Ini adalah kerugian dari orang yang mempunyai kebajikan sedikit. Pada saat seperti ini, orang itu harus mencoba tetap tenang. Akan tetapi, orang yang hanya mempunyai sedikit kebajikan melihat, sesaat sebelum jatuh ke neraka, api yang diaktivasi oleh karmanya sendiri. Hal ini menciptakan ketakutan yang luar biasa pada dirinya.

Bardo8

Suatu ketika, pada saat jaman Khardampa, seorang murid dari Geshe Niu Zurpa membuat pernyataan buruk mengenai gurunya karena keyakinannya yang lemah, dan karena itu, hubungan guru dan murid terputus. Murid ini menolak untuk mendekati gurunya, walaupun gurunya mencoba untuk bertemu murid ini dengan memberikan banyak hadiah dan memanggilnya kembali. Ketika kematian mendekat, murid ini bisa melihat gurunya tinggal di seberang sungai.

Dia menangis kesakitan: “Saya bisa melihat api di tepi sungai dan setiap saya melihatnya, saya merasa resah. Sekarang apinya semakin mendekat dan mendekat dan membesar dan membesar. Dan [api] ini datang kepada saya. Apinya tepat berada di samping saya!” Lalu dia berhenti bernapas. Api yang dilihatnya adalah api neraka.

Contoh lain dari seseorang yang hanya mempunyai sedikit kebajikan adalah tukang daging di Golog yang banyak membunuh sapi. Sebelum dia meninggal, dia melihat halusinasi sapi dan apa yang bisa dia katakan dengan keras adalah “Baa, baa.”

Mereka yang mempunyai karma baik bahagia ketika mereka meninggal. Mereka tidak tersiksa oleh penyakit karena rasa sakitnya hanya sedikit. Mereka dapat berdoa kepada Tiga Permata dan Guru atau Lama mereka. Seseorang yang meninggal dengan cara ini akan mengalami kelahiran kembali yang bahagia.

Raja Bimbisara, petua, yang membangun dan mempersembahkan taman Aramikagama kepada sang Buddha, mendengar musik dewata dan lahir kembali di alam dewata. Ketika beliau akan meninggal, beliau hanya mendengar musik ilahi, walaupun pembantunya memainkan jenis instrumen yang lain, karena sebelum musik dari pemusik beliau bisa mencapai telinganya, musik dewata menenggelamkannya. Beliau lahir kembali di alam dewa Chandvara Maharajikas.

Ketika Raja Bimbisara dipenjara dan dibuat kelaparan oleh anaknya sendiri, Ajatasatru. Ketika ajal sedang akan menjemput sang Raja, beliau bisa melihat sang Buddha yang berjalan bersama muridnya, di kota Drawasti, melalui jendela penjaranya. Yang bisa dilakukannya hanya menumbuhkan keyakinan terhadap sang Buddha karena beliau tidak berdaya. Sang penyusup, Ajatasatru, bertanya mengenai sang Raja untuk mencari tahu apa yang direncanakannya. Penjaga penjara menjawab bahwa sang Raja sedang melihat keluar melalui jendelanya. Jadi jendela tersebut ditutupi dengan bata. Dengan tidak adanya jendela untuk melihat keluar, sang Raja merasa kesepian dan sangat dekat dengan ajal.

Ilustrasi seniman mengenai Raja Bimbisara di penjara

Ilustrasi seniman mengenai Raja Bimbisara di penjara

Sang Buddha meminta Mahakasshyepa untuk memikirkan Raja Bimbisara. Mahakasshyepa langsung sampai di penjara dan beliau menyampaikan pesan dari Sang Buddha.

“Sang Buddha berkata bahwa kumpulan karmamu yang menyebabkan hal ini terjadi padamu. Dan hal ini harus dialami. Kamu harus berdamai dengan karmamu.”

Melalui ajaran singkat ini, sang Raja menyadari bahwa dia menderita karena karmanya. Dia meninggal dengan keyakinan yang kuat pada sang Buddha dan dapat mendengar musik Chadvara Maharajikas. Beliau dilahirkan kembali sebagai deva Kubera; dan hari ini beliau adalah anak dari deva dan salah satu diantara Dewa kekayaan. Ketika kita melafalkan doa seperti Kangso, kita mengatakan pada Bimbisara yang Muda. Kematian yang bahagia seperti ini sebetulnya banyak. Di sisi lain, karena kumpulan dari karma hitam, banyak yang langsung turun ke neraka.

Di jaman kuno, Raja Bideha membunuh sebanyak 60.000 shakya, dengan cara pura-pura memanggil mereka secara bersamaan. Dia mengirimkan salah satu pengikutnya untuk mendengarkan gosip umum, karena takut bahwa sang Buddha akan merasa marah dan mengutuknya (karena sang Buddha adalah Pangeran Shakya), pria ini mendengar sang Buddha berkata bahwa karena membunuh 60.000 shakyas, sang Raja akan meninggal dalam tujuh hari terbakar oleh api neraka.

Ketika pembantunya menyampaikan pesan ini, sang Raja berkata, “Kita tidak akan apa-apa karena kita akan pergi ke tempat yang tidak ada api. Lalu, kita akan membuktikan bahwa dia pembohong.” Hal ini membuktikan bahwa dia tidak mempunyai keyakinan akan kemampuan Buddha untuk melihat masa depan.

Bardo12

Beliau membuat gerbong besar dan tinggal di dalamnya bersama Ratunya. Enam hari berlalu. Tetapi sang Ratu mempunyai beberapa batu berharga di mahkotanya dan salah satunya adalah batu Permata Api yang berharga. Pada siang hari di hari ketujuh, sinar matahari membuat batu ini memercikan api. Api ini membesar dan pasangan kerajaan ini mencoba kabur, tetapi api mengikuti semua gerakan mereka. Tidak ada ruang untuk kabur. Yang bisa mereka teriakan hanyalah “Tshiko, tshiko – kebakaran, kebakaran!” Ketika Raja, Ratu, dan gerbongnya terbakar, mereka bahkan tidak bisa berteriak karena mereka jatuh ke neraka dengan tubuh manusianya. Tentu saja mereka akan mendapatkan tubuh mahluk neraka setelah sampai. Hal-hal seperti ini benar-benar terjadi.

Sebelum Guru kita mendapat Pencerahan, Beliau dilahirkan sebagai Bodhisattva Monyet. Seorang pria, tidak diragukan lagi, pemburu menemukan dirinya tersesat di hutan. Dia kelaparan. Dia menemukan beberapa buah pada suatu cabang pohon. Ketika dia mencoba mencapainya, dia jatuh ke kolam yang dalam yang dikelilingi oleh batu karang. Beliau berenang ke atas dan mencari jalan keluar. Selama beberapa waktu, dia hidup dari buah-buahan sementara berteriak meminta pertolongan. Beliau didengar oleh seekor monyet. Monyet ini adalah Buddha Shakyamuni dalam kehidupan terdahulu yang masih dalam jalan Bodhisattva. Boddhisattva monyet mencari sumber teriakan: Pasti ini adalah orang dan karena itu, sang Monyet menampakkan diri di tepi dan bertanya mengenai apa yang terjadi pada orang tersebut.

“Saya jatuh kedalamnya. Tidak ada jalan keluar dan saya akan meninggal.”

“Jangan takut, saya akan melakukan sebisa saya.”

Bardo11

Sang Monyet membawakan buah untuk orang itu dan akan membawa batu pada saat kembali, dan terus melakukan hal ini sampai dia membawa batu seberat orang itu. Pada saat itu, dia berkata, “Jangan takut, karena sekarang saya bisa mengangkatmu.” Sementara orang itu sudah bertambah ringan karena hanya hidup dari buah-buahan, sang Monyet telah bertambah kuat. Pada satu hari, dia mengangkat orang itu dan menyelamatkannya.

Sang Monyet berkata setelah sampai di hutan, “betapa baiknya bahwa kau sudah selamat dari bahaya. Maksud dari saya mengalami penderitaan sudah terpenuhi. Bahkan saya mengalami banyak kesulitan pada saat membawa batu-batu itu. Sekarang saya bisa tidur dengan bahagia. Kau akan menjaga [saya] dari musuh.” Dia tertidur di pangkuan orang itu.

Satu pikiran datang ke kepala orang itu sementara sang Monyet tertidur dengan lelap. Dia memperhatikan tubuhnya dan melihat tidak banyak daging yang tersisa di tubuhnya. “Tanpa makanan,” dia berpikir, “saya tidak bisa sampai di kota. Untuk melakukan hal itu, saya harus membunuh dan memakan sang Monyet.”

Perlahan-lahan, dia mengangkat kepala sang Monyet dari pangkuannya dan mengangkat batu dan berusaha untuk memukul kepala monyet itu, kepala Penyelamatnya. Akan tetapi, orang itu sangat lemah dan dia tidak bisa mengarahkan batunya dengan tepat, karena dia bergetar. Jadi dia memukul sang Monyet dari samping. Sang Monyet terbangun dan melihatnya, dan bertanya mengenai apa yang terjadi. Orang itu merasa malu, dan berdiri diam seperti patung. Sang Monyet melihat batu besar di dekat dirinya dan menebak apa yang telah terjadi. Orang itu mencoba untuk memukul kepalanya.

“Sekarang ikut bersama saya. Saya akan menemanimu kembali,” Dia berkata.

Dia membawa orang itu ke jalan dimana dia bisa melihat desa. Sang Monyet berkata, “Hari ini kau sudah melakukan tindakan jahat – karma buruk dari tidak tahu terima kasih. Kau harus memmurnikannya.”

Dengan nasihat ini, dia mengantarnya ke desa. Ketika orang itu sudah cukup jauh dari sang Monyet, dia tidak bisa melihatnya, orang itu jatuh ke parit. Dia sangat menderita dari luka-luka yang menutupi tubuhnya dan merasa sangat gatal.

Raja pada saat itu, ketika sedang berburu, mendengar seseorang berteriak kesakitan. Sang Raja bisa melihat orang itu, tetapi, dia tidak bisa membedakan apakah itu orang atau hewan karena banyak luka di tubuhnya. Sang Raja bertanya siapa dia. Orang itu bercerita mengenai kisahnya dan berkata, “Karena saya adalah orang yang telah berbuat jahat, saya menderita akibat dari karma buruk saya. Karena itulah saya sangat menderita.”

Saat itu juga, orang itu jatuh diantara bumi yang terbelah tepat dibawahnya dan dia jatuh langsung ke alam neraka. Ada beberapa orang yang meninggal seperti ini.

Bahkan bila kita mengaplikasikan sedikit Dharma, kita akan merasakan manfaat yang sangat besar. Ketika Sang Buddha tinggal di Sravasti, dia tidak pergi ke negara Raja Saekhya, untuk memberinya nama dalam bahasa Tibet. Raja ini memiliki seorang menteri bernama, dalam bahasa Tibet, Damchen. Ceritanya panjang walaupun sangat menarik. Pada awalnya, sang menteri adalah petani yang sering pergi ke istana raja. Sang raja ahli dalam menilai karakter manusia. Setelah si petani pulang ke rumah, sang raja berkata, “ini adalah seseorang yang mempunyai banyak emas. Saya dapat mengetahui hal ini dari nada suaranya.”

Bardo13

Menteri yang lain menyela, “Bila dia memiliki banyak emas, mengapa dia datang dengan berjalan kaki? Dia tidak mempunyai rumah atau anak. Dia pergi ke sawahnya dan bekerja di sana. Kami tidak berpikir bahwa dia mempunyai banyak emas!”

Akan tetapi, sang raja berkata, “Sama saja, dia punya.”

Jadi petani ini dipanggil dan ditanya apakah dia memiliki banyak emas.

Sekali lagi, dia ditanya, “Bila kamu memiliki banyak emas, mengapa kamu bekerja di sawah? Kamu bisa datang ke sini dengan menunggang kuda atau gajah ketika kamu berpergian.”

“Semua petani,” dia menjawab, “berjalan kaki dan bekerja keras. Saya tidak merasa pantas bila saya berkuda atau mengendarai gajah.”

Jawaban ini sangat menyenangkan bagi sang raja, dan sang raja mempercayainya. Sang raja bahkan meminta dia menjadi salah satu menterinya.

Ada cerita yang panjang setelah ditunjuknya Damchen sebagai menteri, walaupun saya tidak bisa menceritakan seluruhnya di sini.

Menteri Damchen menasihati sang raja untuk berbuat amal, dengan berkata “tidak berguna bila anda tidak berbuat amal pada saat memiliki kekayaan.” Sang raja memberikan sebagian besar kekayaannya kepada pengemis di jalan selama sekitar sebulan. Bahkan mereka yang hanya tinggal di sana selama satu bulan juga diberi makanan. Jadi banyak orang yang datang ke sana dari Selatan.

Salah satu kelompok terdiri dari 500 perantau. Mereka semua Tirthika atau bukan beragama Buddha. Dengan berjalan dari Selatan, mereka merasa haus, karena mereka tidak mendapatkan air selama perjalanan. Mereka hampir mati. Dan dalam depresi, mereka pergi ke pohon terdekat, jenis pohon yang mengabulkan permintaan seseorang dan berteriak agar semua orang mendengar, “Oh pemilik pohon ini! Apakah engkau deva, naga, arwah atau bukan manusia, tolong berikan kami air. Kami bisa mati kehausan!”

Dari atas pohon datanglah sendok yang dipenuhi air, dan dituang ke dalam kendi yang sangat bagus. Para Tirthika meminum airnya dan rasa dahaga mereka hilang seketika. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan.

Tetapi mereka belum pergi terlalu jauh ketika salah seorang dari mereka berkata, “Siapakah itu? Siapa yang memberikan kita air? Kita lupa bertanya!” Jadi, mereka kembali dan bertanya, “Siapakah engkau? Kau telah sangat baik dan menyelamatkan hidup kami. Apakah engkau adalah deva, naga atau arwah?”

Bardo14

Makhluk di atas pohon menjawab, “Saya adalah seorang deva. Nama saya Tangan Indah. Ini adalah sebab mengapa saya adalah seorang deva. Di kehidupan saya yang terdahulu, saya tinggal di Sravasti. Saya sangat miskin dan tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan. Bangsawan Anāthapindika pada saat itu memberikan sebagian besar kekayaannya. Hal ini membuatnya populer dan banyak orang yang datang kepadanya setelah mendengar tentang beliau. Jadi keluarga saya sedang menuju rumahnya. Saya akan duduk di pinggir jalan dan menunjukan orang-orang jalan menuju rumahnya. Saya berkata, “ke arah sini, ke arah sini!” Karena saya menunjukan jalan pada orang-orang ini dengan motivasi yang baik, saya mendapatkan pahala dengan terlahir kembali di alam deva. Saya mempunyai tangan terbaik diantara semua deva, dan ini adalah asal muasal nama saya.”

Para Tirthika melanjutkan perjalanan, tetapi pada tempat berikutnya mereka tidak bisa menemukan makanan dan hampir mati kelaparan. Mereka menemukan pohon lain dan berteriak, “Berikan kami makanan!”

Dari atas pohon terdengar suara. “Pergilah sedikit lebih jauh ke arah tembok. Kalian akan menemukan suatu wadah penuh dengan makanan yang terkubur di bawah batu. Makanan ini akan cukup bagi kalian semua.”

Mereka pergi dan menggeser batunya dan menemukan wadah tersebut dan makan dengan lahap. Makanan ini lebih dari cukup untuk mereka semua. Mereka mengisi wadah mereka sendiri dengan sisa makanan tersebut. Dan lagi, mereka bertanya siapa yang telah menyelamatkan hidup mereka.

“Saya adalah seorang deva,” adalah jawabannya. “Di kehidupan saya yang terdahulu di Sravasti, saya mengambil Sumpah Mahayana satu hari dalam lima bagian dari Anāthapindika. Sebetulnya pada saat itu saya adalah seorang Tirthika yang bereksperimen dengan ajaran Buddha. Saya pulang malam itu dan ketika sampai di rumah, istri saya menawarkan makanan. Saya mengatakan padanya bahwa hanya untuk hari ini, saya tidak akan makan, karena saya sudah mengambil sumpah.”

“Istri saya meledek saya dengan berkata, ‘ayahmu adalah seorang pemakan daging. Apa yang membuatmu mengambil sumpah ini? Hal ini terlalu berlebihan untuk saya terima, seseorang yang tidak beragama Buddha dan mengikuti Dharma Gautama! Saya tidak akan marah lagi kepadamu bila kamu makan. Bila tidak, saya akan menyebarkannya kepada orang yang tidak beragama Buddha lainnya, dan mereka akan memberimu kesulitan!”

Jadi, dia tidak memenuhi sumpahnya, walaupun itu bukan salahnya. Dia dilahirkan di alam deva dimana matahari dan bulan dapat ditemukan. Bila ia memenuhi sumpahnya, dia mungkin dilahirkan di alam dewa tertinggi, kuadran ke 33. Karena makan makanan pada malam itu, dia tidak dilahirkan setinggi itu.

Para Tirthika berdiskusi di antara diri mereka dan sampai pada, dengan banyak kesulitan, suatu kesimpulan yang pada saat melaksanakan ajaran agama mereka, mereka tidak mendapatkan hasil apapun dalam hidup mereka, sementara mereka yang melaksanakan Dharma Buddha, bahkan bila hanya berupa sumpah sehari dan tidak melaksanakan sepenuhnya, dapat dilahirkan di alam dewa. Kagum akan hal ini, mereka mau melihat apakah mereka bisa mengambil sumpah ini atau tidak. Mereka berdiskusi mengenai hal ini sembari melakukan perjalanan ke arah Selatan.

Sebuah ukiran mengenai

Sebuah ukiran mengenai Anāthapindika

Pada akhirnya mereka sampai pada tempat dimana sang Raja dan para menterinya memberikan barang-barang yang dimilikinya. Sementara mereka beristirahat, mereka ditanya mengenai kabar mengenai huru-hara di tempat yang jauh. Mereka menyampaikan cerita mereka dan berkata bahwa mereka ingin pergi ke Sravasti untuk bertemu Anāthapindika, dan mereka ingin mengambil sumpah darinya. Beberapa orang menyarankan mereka untuk menunggu sekitar dua-tiga bulan sampai musim gugur, lalu pergi ke sana. Mereka melakukan hal ini dan ketika mereka sampai ke Sravasti, mereka bertemu dengan Anāthapindika, menyampaikan cerita mereka dan meminta Sumpah Sehari.

Anāthapindika bertanya pada mereka, “kalian mau mengambil sumpah ini dari saya atau dari Guru yang memberikannya pada saya?” Mereka menjawab bahwa mereka ingin tahu mana yang lebih baik. Anāthapindika membawa mereka ke hadapan sang Buddha. Mereka semua, 500 orang, mengambil sumpah itu dan juga mengambil Sumpah Perlindungan. Mereka diajarkan mengenai Sunyata, walaupun mereka adalah Tirthika, dan menjadi Arya karena mereka melihat sifat sebenarnya dari keberadaan semua hal. Mereka juga mencapai tempat, Nirvana, yang diperuntukan bagi mereka yang telah keluar dari siklus keberadaan (cyclic existence).

Bahkan bila seseorang tidak menjalankan sumpah sepenuhnya, mereka dilahirkan kembali di alam deva. Orang itu akan meninggal dengan damai bila mereka mengumpulkan karma baik yang cukup. Bila orang-orang ini mengumpulkan [karma baik] dan bisa berdoa pada saat kematian, maka orang itu akan meninggal tanpa siksaan penyakit. Bila orang itu mempunyai keyakinan yang cukup pada saat kematian untuk mengingat Guru-nya dan Tiga Permata, walaupun orang itu hanya mempunyai karma baik yang sedikit, orang itu tidak akan lahir di alam bawah. Pertama-tama, orang itu akan mendapatkan kelahiran kembali yang bahagia karena kekuatan ingatan ini. Karena itu ketika kita membicarakan tentang Bardo, hal yang paling penting adalah diingat adalah melakukan hal yang bermanfaat pada saat kematian. Membicarakan tentang orang yang melihat sinar putih dan hitam ketika mereka meninggal atau orang yang bangkit dari kematian hanyalah pembicaraan yang membuang waktu; ini bukanlah hal yang bermanfaat. Walaupun hanya gosip, mungkin saja benar bahwa beberapa orang benar melihat cahaya putih dan kembali dari kondisi Bardo.

Roda Kehidupan yang juga mencakup enam alam keberadaan

Roda Kehidupan yang juga mencakup enam alam keberadaan. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Keraguan kalian yang utama adalah mengenai cara proses Bardo bekerja dan bagaimana seseorang bisa kembali dengan cara tersebut. Pada sisi lain, ada banyak kasus dimana makhluk yang bukan manusia memasuki tubuh setelah seseorang meninggal.

Ada beberapa orang yang meninggal dan mereka yang tidak sadar selama bertahun-tahun, hanya untuk bangun kembali di Neraka Bangkit Berulang kali. Sifat dari neraka ini adalah, makhluk tersebut meninggal dan mereka dibangkitkan seratus kali sehari. Kesadaran dari makhluk neraka ini tidak pergi dari tubuh tetapi tetap tidak sadar untuk beberapa waktu hanya untuk bangun kembali. Ini adalah cara makhluk ini menderita.

Dalam kasus manusia, ada beberapa daelog yang kembali ke tubuh mereka setelah meninggal, terutama di Kham, karena kita tahu bahwa kesadaran bisa meninggalkan tubuh sebelum napas berhenti dan kemudian kembali lagi.

Penubuat di biara Dromo Dung Gar, di India, di luar Sikkim, dan yang juga merupakan penubuat dari Dharmapala (atau Dewa Pelindung Doktrin) Shungten, meninggalkan posisi ini dan kemudian datang ke Tibet, dan menjadi Penubuat di Biara Tshecholing. Di Dung Far ada sebuah biara Bön di bukit yang dekat dengan tempat itu. Para Bönpo membunuh Penubuat ini dengan sihir mereka. Berita tersebar bahwa sang Penubuat telah meninggal dan orang-orang berkabung untuknya.

Para Bönpo senang dan meniup trompet dan memukul gendang. Mereka melakukan ritual untuk menghormati dewa mereka dan berkata “Dewa kami sudah menang!” Tetapi dewa Shungten memasuki mayat itu dan meminta orang-orang untuk menjaganya agar tetap bersih dan tidak menyentuhnya. Tubuh itu tidak disentuh atau dipindahkan selama tiga hari.

Rupang Dorje Shugden terbesar di dunia yang ada di Kechara Forest Retreat. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Ketika matahari terbit di atas bukit pada hari ketiga, sang Penubuat bangkit: dia kembali. Biara Dung Gar membakar dupa, memainkan alat musik dan mengibarkan bendera doa, dan berkata bergantian bahwa akhirnya Dharmapala mereka telah menang.

Setelah kesembuhannya, dia tinggal selama beberapa tahun sebagai Penubuat, walaupun akhirnya dia menanggalkan jubahnya dan menjadi orang awam. Jadi biara tersebut mencari biksu yang sudah ditahbiskan penuh untuk menjadi medium bagi sang Pelindung. Dia ke Tibet dan tinggal di Tshecholing dimana dia menerima banyak ajaran dan melaksanakan Dharma dengan sangat baik di sana.

Di Kham, ada Dewa bernama Paotrobar yang dapat merasuk tubuh seseorang. Beliau tinggal di Logdrama Gutse dan dia mempunyai reputasi sebagai pelindung para Khampa yang melakukan pengorbanan hewan. Logdrama Gutse adalah bukit batu yang tinggi yang tepiannya berada dalam air. Dari air, kalian dapat melihat wajah dari bukit ini.

Mendaki bukit ini tidaklah mudah. Ada beberapa orang yang mendaki untuk membakar dupa dan meminta uang. Beberapa dari mereka akan membawa timbangan dan berkata dengan keras “Pinjamkan saya uang!” Setelah menerimanya, dia akan menimbang uang ini, lalu membawanya pulang dengan janji akan mengembalikannya dalam waktu satu atau dua bulan. Janji ini dilakukan sembari bersujud. Bila dia tidak mengembalikan uangnya, dia akan menderita penyakit. Lalu dia akan membakar dupa lagi saat mengembalikan uangnya. Dia harus berkata “Saya sudah membawa uangnya.” Dia kemudian menimbangnya lagi. Karena yang meminjamkan adalah dewa, seseorang bisa mengembalikan lebih sedikit dibanding uang yang dipinjam. Hal ini dilakukan dengan cara membohongi sang dewa ketika mengatakan berapa berat uang yang ditimbang untuk dikembalikan. Orang tersebut tidak akan sakit atau menderita karenanya sebab sang dewa harus mempercayai apa yang dikatakan orang tersebut.

Di kota, orang akan melakukan kurban dan membunuh banyak kambing. Sering terjadi orang-orang sembuh dari penyakit ketika kegiatan kurban dilakukan, dan karena sebab inilah kebiasaan ini berkembang di Kham.

Sementara pengorbanan darah diterima di negara ini, ada seorang biksu berusia lanjut yang jatuh sakit dan hampir meninggal. Pada saat akan meninggal, kesadarannya mengarahkannya pergi. Dia mendengar seseorang berkata “Ikuti saya,” dan dia menemukan dirinya dibawa ke Logdrama Gutse. Dia melihat bahwa bukit itu adalah istana yang sangat besar dengan banyak taman dan banyak bunga dan dikelilingi semak-semak yang indah. Pada saat sang biksu mendekat, dia bisa melihat bahwa ini adalah gedung yang kompleks. Dia menemukan jalan masuk ke lantai teratas dan melihat bahwa ini adalah tepi dari kediaman sang Dewa. Dia mulai mengintip dari balik tirai pintu dan kemudian dipanggil masuk.

Sang dewa berbibir sumbing dan duduk seperti seorang dewa seharusnya duduk. Setelah sang biksu dipanggil masuk, sang dewa melambaikan rosarinya ke udara dan menurunkannya. Sang dewa bertanya, “Siapa kamu?”

Sang biksu menjawab, ‘saya dipanggil dan karena itu saya di sini.”

Sang dewa berkata, “walaupun saya tidak memanggilmu, kamu mungkin dibawa ke sini oleh salah seorang pengikut saya. Biarkanlah, karena saya ingin kamu melakukan sesuatu. Lakukan hal ini, dan kamu tidak akan mati. Kamu akan sembuh. Dan kamu bisa kembali.”

“Saya akan melakukannya.”

Rupang Padmasambhava di Himachal Pradesh, India

Rupang Padmasambhava di Himachal Pradesh, India. Klik pada gambar untuk memperbesar.

“Lihatlah rosari saya,” lanjut sang dewa. “[Rosari] ini diberikan oleh Padmasambhava, dan terbuat dari besi. Bila saya melafalkan Vajra Guru, yang merupakan mantra Padmasambhava dengan menggunakan rosari ini, rosarinya akan aus, dan saya akan pergi ke alam deva Sangdong Peri. Beberapa waktu yang lalu, batunya hampir aus karena orang lokal membunuh banyak kambing untuk dipersembahkan kepada saya, walaupun saya tidak menyukai ritual pengorbanan, saya harus menerima beban perbuatan buruk yang dilakukan atas nama saya yang telah membuat rosari ini bertambah baru. Sekarang saya merasa batunya susah aus. Karena itu, kamu harus memberikan pesan untuk tidak lagi melakukan pengorbanan dan saya sendiri tidak melakukannya. Bila mereka masih melakukan hal ini, saya akan mencelakakan mereka dan bukannya menolong mereka.”

“Dan juga, kamu harus memberi tahu ini pada mereka, bila orang-orang ini mempersembahkan darah, budak-budak saya mempunyai sesuatu untuk dimakan. Karena itu, mereka sedikit menolong orang-orang ini tetapi mereka tidak bisa menolong orang-orang ini selamanya. Ini adalah pesan yang harus kamu bawa kembali.”

Biksu ini melihat bahwa dewa ini mempunyai patung Padmasambhava di samping sofanya.

“Sekarang sudah waktunya bagimu untuk kembali,” sang dewa berkata. “Kamu akan sembuh dan tidak ada celaka yang akan datang kepadamu. Tetapi kamu harus menyampaikan pesan ini dengan benar.”

Sang biksu kembali dan sembuh. Sementara dia dalam proses penyembuhan, dia bisa mengingat apa yang disampaikan kepadanya. Lalu, dia memberi pesan ini dengan keyakinan dan akhirnya dapat menghapus kebiasaan buruk dari negara ini.

Jadi bisa kita lihat bahwa ada beberapa orang yang bisa kembali setelah kematian dan diarahkan oleh arwah. Ada beberapa yang kembali karena kekuatan karma mereka sendiri.

Ketika kita meninggal, terkadang, karena waktu hidup kita yang habis dan terkadang karena pahala yang dikumpulkan di kehidupan sebelumnya habis. Bila waktu hidup dan pahala kita sudah habis, maka tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kematian; doa maupun ritual. Semua orang harus meninggal, walaupun bila masih ada sisa karma baik dan waktu hidup, maka doa bisa membantu. Bila ada sisa karma baik dan waktu hidup sudah habis, maka waktu hidup ini bisa dikembalikan. Orang yang mempunyai residu seperti ini bisa dibawa hidup kembali, walaupun mereka telah meninggal karena sakit.

Karena itu, bisa terjadi bahwa banyak orang atau daelog yang kembali dengan syarat mereka sudah meninggal selama empat atau lima hari dan tubuh mereka tetap dijaga bersih. Mereka mempunyai banyak anekdot untuk diceritakan mengenai orang yang berbeda dan mengenai apa yang terjadi pada mereka di kehidupan selanjutnya, seperti orang ini dilahirkan di sini dan seterusnya. Daelog seperti ini dianggap suci di negara saya.

Akan tetapi, tidak ada yang pasti mengenai identitas kesadaran yang kembali ke tubuh tersebut dan mulai menceritakan tentang tindakan di kehidupan sebelumnya. Kita tidak membedakan secara pasti apakah ini adalah kesadaran yang asli dari orang yang telah meninggal atau arwah lain.

Ketika mayat kembali hidup dan berlaku sama seperti orang yang telah meninggal. Ada cerita ketika Guru Padmasambhava yang Agung berada di Tibet. Salah satu menteri dari raja Trison Detsaen telah meninggal dan salah satu ritual Bön telah dilakukan.

HHZRbardonew4

Sekarang ada tiga jenis sistem Bön: dikenal dengan Gyurbön, Khyarbön dan Dùbön. Sistem Gyurbön adalah terjemahan dari sistem di India yang menggabungkan elemen Buddhisme dan bukan Buddhisme oleh Pandit Shamdag Nagpo (yang berarti Pemakai Rok Hitam). Khyarbön didirikan oleh beberapa orang non Buddhis dan bisa terbang di udara dan tinggal di pinggiran Tibet ketika biara mereka dihancurkan oleh petir (nama ini berarti para Bönpo tanpa tempat tinggal). Dùbön adalah sistem Bön yang didirikan di Tibet. Mereka ahli dalam melakukan ritual dan menangani orang sakit. Ketika upacara Bön, Tenpa Sherab, dilakukan, dikatakan bahwa orang yang meninggal bangkit kembali. Ritual ini dilakukan atas orang yang telah meninggal yang konon kembali lagi. Ini telah dilakukan bagi mereka yang telah meninggal selama berhari-hari bahkan sampai satu tahun. Para Bönpo berteriak sekeras-kerasnya sembari membunyikan bel yang dikenal dengan shang. Setelah beberapa waktu, orang yang telah meninggal seharusnya kembali. Dia akan ditanya apakah dia menikmati apa yang terjadi pada dirinya diantara mereka yang telah meninggal atau apakah dia telah menderita. Dia akan mulai menceritakan setiap cerita mengenai apa yang dilakukannya semasa hidup. Dia akan menikmati teh, ch’ang dan makanan. Sebagai cara untuk memberikan hadiah, dia akan diberikan syal sebagai sambutan sebelum disihir. Sebetulnya, ini semua hanya merupakan permainan bagi arwah yang ingin makanan dan minuman gratis.

Akan tetapi setiap orang meyakini apa yang dilihat dari luar saja dan mempunyai keyakinan atas ritual sejenis ini, sebagai contoh dari metode Bönpo. Orang melaporkan hal ini kepada sang guru Padmasambhava, sembari berkata bahwa sistem Bön pasti sangat baik karena tidak ada hal seperti ini dalam Dharma sang Buddha. Para Bönpo bahkan bisa memanggil orang yang telah meninggal dan bertanya mengenai kehidupan sebelumnya dan dia akan memberikan jawaban yang tepat. Tidak hanya dia akan mendapatkan sesuatu untuk dimakan, dia juga akan bertemu dengan keluarganya lagi. “Hal ini tidak ada dalam ajaran Buddha, bukan begitu?” Kata mereka.

“Ini tidak mungkin orang yang telah meninggal itu sendiri,” adalah jawabannya.

“Ini adalah orang yang telah mati, dia kembali dan kau bisa melihatnya sendiri.”

Upacara Bön dilakukan sesuai instruksi sang Raja. Setelah beberapa waktu, menteri yang telah meninggal kembali hidup dan bertindak seperti menteri Raja yang asli dalam segala tingkah laku dan perkataan. Tidak ada inkonsistensi sedikitpun yang mengindiskasikan bahwa ini bukan sang menteri yang hidup kembali. Bila ditanya mengenai apa yang dilakukannya pada waktu tertentu, jawabannya sangat tepat. Dia menceritakan mengenai semua tindakannya sebagai seorang menteri.

“Ketika saya memberikan inisiasi,” Padmasambhava kemudian berkata, “Saya memberimu nama rahasia. Apakah nama yang saya berikan?”

Tubuh itu menjawab, “saya tidak mungkin tahu mengenai hal ini. Ketika Guru yang Berharga memberikan inisiasi, saya tidak bisa hadir karena saya diusir sebelum acara dimulai.”

Hal ini menunjukan bahwa kesadaran ini tidak lebih daripada arwah yang mengikuti sang menteri hampir selama hidupnya. Dia diusir dari inisiasi karena sifat dari upacara yang dilakukan saat pembukaan. Karena ini, dia tidak bisa mengetahui namanya.

Setelah pengakuan ini, tubuh itu berdiri dan melarikan diri. Lalu ia menjadi seekor serigala, dan kemudian menghilang dalam angin.

Setelah membuka kedok arwah penipu ini, Padmasambhava mengumumkan, “Ini adalah cara untuk mengetahui bahwa ini bukanlah orang yang sebenarnya.” Ketika ditanya, siapakah arwah tersebut, sang Guru berkata bahwa ini adalah arwah yang lahir bersamaan dengan sang menteri. Karena inilah dia memasuki mayat [menteri]. Bahkan orang-orang yang kembali pada saat upacara Bönpo adalah mirip dengan kasus ini. Beberapa arwah yang lahir dengan sendirinya sementara yang lain adalah deva. Tetapi lebih banyak nöjin dan drize.

“Ini hanyalah tipuan dari arwah bukan manusia ini,” dia melanjutkan, “karena tidak mungkin bagi kesdaran untuk kembali setelah waktu yang lama. Karena mereka pasti telah mengalami kelahiran kembali menurut karma masing-masing.”

Bardo18

Lalu Padmasambhava ditanya mengenai kelahiran kembali dari sang menteri. Melalui kemampuan spesial untuk melihat, beliau dapat memberi tahu bahwa sang menteri telah lahir kembali sebagai cacing di kotoran sapi yang dapat ditemukan di dekat Lhasa. Para menteri meminta Padmasambhava untuk memperlihatkan cacing itu untuk membuktikan penjelasannya. Sang Guru besar membuat cacing tersebut mengingat kehidupannya yang terdahulu, ketika masih menjadi menteri, dengan memberkahinya. Lalu beliau memanggilnya dengan nama rahasianya, dan cacing tersebut menggoyangkan tubuhnya sebagai tanggapan atas nama tersebut.

Sang menteri tidak dapat terhindar dari kelahiran sebagai cacing karena ini adalah kekuatan dari karmanya yang telah matang. Bahkan Tiga Permata tidak dapat menolongnya dengan kekuatan mereka, karena kekuatan karma yang telah matang sama besarnya. Bahkan bila Padmasambhava melakukan Puja yang sangat ampuh untuk cacing tersebut, dia masih tidak bisa pergi ke Tanah Suci dengan segera. Ini adalah salah satu cerita tentang Padmasambhava.

Akan tetapi, kita sebagai makhluk biasa tidak bisa membedakan apakah kesadaran yang masuk ke tubuh yang telah meninggal adalah kesadaran dari orang yang dimaksud atau bukan. Sebagai contoh, ada beberapa arwah yang memasuki tubuh dan meniru orang yang telah meninggal dalam segala hal dengan sempurna. Akan tetapi, mereka akan menyelipkan kebohongan di mana-mana, seperti melihat cahaya putih, hitam, atau merah. Kita tidak bisa benar-benar yakin siapa yang telah memasuki tubuh tersebut. Tidak ada hal seperti ini yang ditemukan dalam Ajaran sang Buddha.

“Kesadaran orang yang telah meninggal” diketahui telah memasuki tubuh penubuat setempat di sebuah desa. Di kampung halaman saya, ada seorang penubuat wanita dan dewa pelindung setempat, seorang deva, yang merasuk tubuhnya. Dia juga merupakan penubuat cadangan bagi penubuat Dhamchen. Kedua dewa ini akan berbicara hal yang sebenarnya dan sama. Suatu waktu suara sang Penubuat menjadi sangat serak, jadi dia sering mengeluarkan suara “urr, urr,” dia berkata, “Saya telah memakan banyak ayam dan karena itu, salah satu kepala mereka menyumbat tenggorokan saya.” Kesadaran seorang wanita tua yang baru saja meninggal mengatakan hal ini melalui dirinya. “Kalian harus berdoa untuk saya karena karma baik saya tidak terlalu banyak.”

Kesadaran orang lain yang telah meninggal merasuk dirinya dan berkata, ‘bilamana saya membaca “Om Mani Peme Hum, saya tidak membaca Om. Bisakah kalian membaca Om untuk saya agar dapat melengkapi Mani saya?”

Tetangga kami dalam satu kabupaten adalah Keluarga Shangli yang tinggal dekat sungai di jalan bawah. Sang ayah dan seluruh keluarganya mengadakan rapat pada malam hari. Sang ayah marah dan pergi keluar. Di bawah rumah ada sungai besar dan dia melepaskan ch’uba, topi, dan sepatunya dan meletakkannya di tepi sungai. Lalu dia menyeberangi sungai hanya dengan celananya. Dia belum kembali pada malam selanjutnya sehingga keluarganya mulai mencarinya. Sewaktu menemukan bajunya di tepi sungai, mereka segera memikirkan hal terburuk – dia menenggelamkan dirinya dalam sungai. Karena rasa kasihan kepadanya mereka bersumpah dengan suara keras.

Mereka mengundang beberapa Lama dan orang yang ahli dalam hal doktrin, dan meminta mereka melakukan Phowa. Kenyataan bahwa tidak ada mayat yang ditemukan telah dilupakan keluarga itu. Mereka pergi ke seorang penubuat untuk mencari mayat sang ayah.

Tidak ada yang terkejut, ketika sang ayah yang telah meninggal memasuki sang penubuat dan dengan suara yang sama berkata, “Mereka menghina saya – saya, sang kepala keluarga. Mereka berani membantah saya setelah saya bekerja keras untuk membiayai hidup mereka. Saya mengatakan satu hal dan mereka akan mengatakan hal lain.”

Semua ini mempunyai efek meyakinkan.

“Saya membuat diri saya menghilang, pergi ke sungai dan melompat kedalamnya. Sekarang saya merasa dingin!” Setelah cerita sedih ini, dia pergi, meninggalkan keluarganya dalam tangis. Yang mereka pikirkan adalah, dia telah terlahir kembali sebagai arwah.

Setelah tinggal di batu karang selama empat atau lima hari, sang ayah kembali. Cerita ini tidak unik dan menunjukan betapa sulitnya untuk membedakan “siapa yang berbicara dari kubur” bila menggunakan istilah dari Barat.

Tidak ada [situasi ini] di kondisi Bardo dalam ajaran sang Buddha, Yang Mengetahui semua Fenomena, apakah hal itu terkait Samsara atau Nirvana, nampak atau tidak nampak, atau berasal dari Tiga Waktu – dahulu, masa kini, atau masa yang akan datang – yang mengetahui sifat dari keberadaan yang sebenarnya.

Banyak ahli sains yang melakukan eksperimen yang berguna. Akan tetapi, bila mereka tidak bisa melihat apapun, hal ini tidak ada untuk mereka. Dalam hal ini mereka mirip dengan kaum Charvaka di jaman dahulu, karena mereka tidak mempunyai apapun untuk dikatakan mengenai kehidupan selanjutnya dan mereka tidak mengetahui tentang deva, arwah karena hal-hal ini tidak dapat dilihat secara kasat mata. Akan tetapi, bila sesuatu bisa dilihat, mereka menganggapnya cukup berharga sebagai obyek percobaan. Hal-hal ini kebanyakan berguna dan akurat, dan kesimpulan yang mereka tarik masuk akal.

Jadi kembali pada subyek utama, ini adalah apa yang dikatakan kitab suci mengenai subyek ini. Untuk mengatakan kebenaran, ada banyak orang lain yang dapat menjelaskan Dharma dengan lancar dan memiliki pengetahuan sebanyak yang saya miliki dalam hal-hal ini. Kemampuan akademis mereka sama baiknya dengan saya kecuali saya berusia sangat lanjut dan telah mendengar cerita dari sana dan sini. Jadi kalian dapat bertanya pada mereka mengenai subyek ini.

 

KELAHIRAN, KEMATIAN DAN BARDO; BAGIAN DUA

OLEH KYABJE ZONG RINPOCHE

Sebuah foto Kyabje Zong Rinpoche bersama Kyabje Lati Rinpoche dan para biksu dari Biara Ganden.

Pertanyaan: (Oleh seorang pendengar dalam ajaran yang diberikan): Apakah akan berguna untuk membacakan Buku Kematian dari Tibet (*Bardo T’ oedrol) kepada seseorang yang baru meninggal?

Tanggapan: Ketika kalian membacakan Buku Kematian dari Tibet, bila kesadaran orang yang meninggal kebetulan ada di dekat sana dan dia akan mendengarnya. Bila kalian membacakannya dalam bahasa Tibet dan dia tidak mengerti bahasa Tibet dalam kehidupan sebelumnya, dia tidak akan bisa mengerti, dalam kebanyakan kasus. Bila dia mengerti bahasanya dalam kondisi Bardo, siapa yang bisa menjamin bahwa dia akan mendengarnya sampai habis? Kalian tidak akan bisa mengetahui dimana dia karena dia bergerak kesana kemari seperti angin. Mungkin juga dia tidak akan memperhatikan walaupun dia ada di sana. Dan lagi, berapa lama dia akan ada di Bardo? Ini adalah pertanyaan yang lain, karena dia akan berada di Bardo sampai terlahir kembali.

Bila dia mendengarnya, maka akan berguna, tetapi apakah dia memperhatikan atau tidak sulit diketahui. Kita sering tidak memperhatikan saat kita mendengarkan ajaran ketika masih hidup. Jadi apa lagi dalam bentuk kesadaran!

Saya tidak akan mengatakan bahwa membacakan Buku Kematian dari Tibet tidak berguna. Bukan ini maksudnya. Secara superfisial, subyeknya adalah tentang Bardo, tetapi ini bukanlah cerita yang lengkap. Juga dikatakan bahwa makhluk di Bardo tidak seharusnya tetap terikat pada keluarga dan orang tua dari kehidupan ini karena sekarang dia berada di Bardo. Dia juga harus memanggil Tiga Permata dengan tulus. Ada cerita mengenai cahaya putih yang tampak dan mengapa dia tidak usah takut akan hal ini karena ini adalah sinar dari Lima Buddha Dhyani, atau Lima Kebijaksanaan, dan seterusnya. Saya sendiri tidak mengetahui apakah hal seperti ini akan nampak atau tidak. Bila mereka tidak dimengerti oleh orang yang masih hidup, akan lebih sulit bagi makhluk Bardo untuk mengerti akan hal ini.

Bila mantra suci dilafalkan, atau upacara yang relevan dijalankan dengan benar, dengan pahala yang dihasilkan untuk kebaikan orang yang telah meninggal, hal ini akan memberikan manfaat substansial. Terlebih lagi, kalian bisa melakukan hal ini menurut Tantra, bila Tantra berkembang di daerah tersebut. Sebagai contoh, bila tubuh tersebut masih ada, dan kalian ingin melakukan upacara pemurnian dosa, maka persiapkan mayat tersebut dan lakukan upacara pemurnian dosa dari Tiga Alam Terbawah, yang merupakan metode yang menggunakan dewa Gun-Rig.

Pertama-tama, kesadaran yang lama ditarik kembali ke mayat tersebut dengan membaca Perkataan yang Benar dari Tiga Permata. Lalu, halangan baginya untuk mencapai pencerahan atau kebebasan dari lingkaran keberadaan dihilangkan dan metode yang digunakan bisa dengan kemurkaan atau kedamaian. Wijen putih dan pasir putih diberkati melalui lima-belas mantra. Akan bermanfaat untuk melempar wijen dan pasir ini ke tubuh yang telah meninggal. Bila wijen dan pasir ini disebarkan di tempat-tempat seperti kuburan, kesadaran yang pernah menempati tulang yang tersentuh oleh butiran pasir dan wijen ini akan terlahir kembali di alam dewa ditengah hujan bunga, bahkan bila kesadaran tersebut telah terlahir kembali dalam neraka. Setidaknya ini adalah yang dijelaskan dalam tantra. Bahkan hal ini akan bermanfaat dan seseorang bisa berpegang pada teknik ini karena mereka terhubung dengan ajaran yang berkaitan dengan aktivitas. Masalah mengenai klasifikasi dari ajaran yang berdasarkan interpretasi atau definitif hanya berhubungan dengan perkataan sang Buddha mengenai kekosongan. Akan tetapi, ajaran yang berkaitan dengan aktivitas konon bersifat definitif. Bila dilakukan dengan keyakinan yang kuat, mereka akan efektif.

Bila kalian menuliskan mantra yang sangat efektif ini di atas secarik kertas, kalian harus meletakannya di samping telinga mayat, atau menguburnya dalam peti, atau menyelipkannya dalam belitan kain.

Lama yang berkualifikasi meninggalkan wijen putih di dekat tangan dan memberkatinya dengan mantra ketika mereka membacakan doanya. Mereka juga mencatat nama orang yang meninggal ketika diminta untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Pada akhir bulan mereka melakukan upacara pemurnian dosa. Mereka menarik kesadaran orang yang telah meninggal di atas bebijian ini dan upacara pemurnian dilakukan. Setelah itu, bebijian ini dibuang. Ritual ini juga bermanfaat.

Ada juga upacara pencucian. Sebagai contoh, Tiga Permata direfleksikan dalam cermin dan kemudian dicuci. Ketika airnya dibuang, hal-hal seperti “Air ini adalah kesempurnaan kemurahan hati dalam bentuk air,” disebutkan. Apapun ritual Gun Rig yang dilakukan, selipkan nama orang yang meninggal karena ini akan bermanfaat baginya. Kalian bisa berkata, “Semoga semua tindakan negatif yang dikumpulkan sejak masa tanpa awal dan terutama yang berkaitan dengan kekikiran dibersihkan; semoga dia mencapai pencerahan dengan segera.” Bahkan kegiatan membuang air bermanfaat baginya, begitu juga membersihkan kebodohannya dengan menyebutkan kata-kata yang penuh kekuatan kebenaran tentang kekosongan. Selain itu ada lima-belas bait yang harus dibacakan mengenai kegiatan utama Buddha Shakyamuni dan bagaimana dia mendapatkan kualitas tubuh, perkataan, dan pikiran yang mulia, menghancurkan empat Mara, dan memutar roda Dharma. Kalian harus berharap semua ini akan sangat baik bagi yang meninggal. Ada tiga bait tambahan mengenai lagu pujian untuk Tiga Permata. Sementara semua ini dilafalkan, hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah melempar bunga ke tubuh [yang meninggal] dan berpikir bahwa hal ini membersihkan kebodohannya. Bila kalian ingin lebih detil, kalian bisa membaca lebih banyak bait yang menunjukan tingkatan dalam jalan menuju kondisi spiritual yang tinggi seperti jalan menuju kebebasan. Lalu, dia bisa diperbolehkan memasuki mandala untuk mendapatkan inisiasi. Setelah semua ini dilakukan, melalui kekuatan perenungan, kesadarannya akan dipindahkan ke Tanah Suci Sukhavati. Mantranya sekarang dibakar. Jenis pemurnian seperti ini termasuk dalam tujuh jenis pemurnian sehingga akan berguna bagi dirinya. Kalian harus berbuat amal kepada fakir miskin mewakilinya, atau melakukan persembahan pada Tiga Permata atau khususnya kepada Sangha (bahkan, di komunitas Tibet, kalian cukup sering mendengar tentang biksu yang bertanggung jawab untuk menegakan disiplin di biara membacakan daftar permintaan mengenai doa yang ingin dibacakan). Semua kebaikan yang dilakukan atas namanya akan membantunya. Akan tetapi, hal yang paling membantu adalah bila dia melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri pada saat masih hidup. Hal ini sangat langsung dan apapun yang dilakukan setelahnya adalah tidak langsung.

Bila semua hal di atas belum dilakukan secara efektif, mereka hanya berlalu-lalang. Sebagai contoh mereka yang dilahirkan di neraka. Bila upacara pemurnian dosa tidak efektif, dia tidak akan mendapatkan kelahiran kembali sebagai manusia lagi. Paling tidak dia akan mendapatkan sedikit rasa lega seperti merasakan angin sejuk ketika neraka sedang sangat panas. Bila kalian ingin upacara ini dilakukan secara serius, kalian harus meminta pemurnian dosa dari praktisi berkualifikasi, metode tantrik adalah metode yang paling efektif untuk memurnikan dosa.

Bardo21

Ada beberapa orang yang melaksanakan upacara untuk mengingat yang meninggal, mengundang teman mereka, membunuh kambing dan ayam untuk pesta besar. Karena semua tindakan negatif ini dilakukan atas nama orang yang meninggal, mereka membalik seluruh tindakan baik yang sudah dilakukan untuknya dan bisa jadi sangat membahayakan.

Upacara Gun Rig dilakukan terutama bila seseorang meninggal dan mereka sangat dihargai di Tibet, tetapi kalian juga bisa meminta upacara Ghuyasamaja, Yamantaka atau Heruka dilakukan. Dalam kasus ini, seseorang memberkati pasir putih dan wijen, menyebarkannya di atas tubuh bila masih ada. Bila hal ini tidak memungkinkan, salah satu tulangnya, kuku, rambut atau baju yang belum dicuci juga bisa digunakan. Inilah mengapa, ketika upacara pemurnian dosa dilakukan, orang-orang memberikan baju yang belum dicuci dan nama orang yang meninggal di atasnya. Hal ini agar upacara pemurnian dosa bisa dilakukan atas pakaian itu, bukan karena untuk dijual agar bisa mendapatkan sedikit uang! Bila tubuhnya sudah dikubur/kremasi, persembahkan pakaian dan jangan diterima kembali karena ini adalah tradisinya. Bila kalian mempunyai tulangnya, persembahkan ini, tidak perlu mempersembahkan pakaian, karena hal ini tidak menurut tradisi upacara. Untuk memberikan pakaian setelah memberikan barang-barang yang lain menunjukan keserakahan.

Kalian tidak usah takut bila orang yang meninggal bangkit kembali. Pertama-tama panas tubuh berkumpul dan lalu dia mulai bernapas. Setelah itu dia sembuh seperti orang sakit. Akan tetapi, bila mayatnya menjadi rolang (yang artinya “mayat bangkit”) hal ini dikarenakan arwah jahat. Mayatnya akan membengkak ketika arwah ini merasuk tubuh. Ada beberapa jenis Rolang dan beberapa dari mereka berbicara seperti manusia. Yang lain juga makan dan berbohong. Bila tubuh menjadi rolang, pada umumnya kepalanya akan bergerak dengan lambat. Tubuh akan melihat apakah ada orang yang menyaksikan. Lalu dia akan membuka kedua mata dan berdiri. Setelah itu, dia tidak bisa membungkuk lagi. Sekarang dia mencelakakan manusia. Manusia akan langsung meninggal ketika dia berkata “Ha!” Bila dia tidak bisa membunuh, dia akan berusaha merusak. Dia memukul orang dan bernapas di atas mereka, dan orang itu mungkin bisa meninggal. Ada beberapa tanda yang menunjukan mayat sudah dirasuki sebelum menjadi rolang. Salah satunya adalah ketika menyalakan lampu mentega, ia tidak bersinar tetapi mengeluarkan cahaya yang “kehitaman.” Tanda yang lain adalah ketika kalian melihat mayat, sepertinya dia akan berdiri. Bila kalian melempar wijen putih yang telah diberkati pada kepala mayat, hal ini akan mencegahnya berdiri.

Saya ingat seorang lelaki tua dengan anting emas besar yang meninggal. Merupakan kebiasaan untuk mengadakan acara untuk mengingat yang meninggal dengan makan besar dan bir berlimpah. Mereka bercerita ketika makanan dan minuman disajikan, dia duduk sebentar, meminum segelas bir dan kemudian berbaring lagi. Hal ini dilihat banyak orang. Lalu dia diperiksa dan diketahui bahwa dia telah dicelakakan oleh raja arwah yang menyukai keluarga lain. Kedua keluarga ini terlibat perkara hukum selama bertahun-tahun. Arwah ini hanya bermain dengan mayatnya.

Ada seorang Lama dari Derge yang melakukan P’owa (lihatlah artikel sebelumnya) atas sebuah tubuh. Biasanya tubuh itu tidak berdiri ketika hal ini dilakukan. Ketika melakukan upacara, dia merasa sesuatu tidak wajar. Dia bertemu dengan muridnya di jalan ketika dia kembali. Dia bertanya pada muridnya apakah dia akan pergi ke rumah yang sama untuk melakukan upacara lanjutan. Sang murid menjawab ya. Sang Lama berkata, “bila ada gangguan terhadap tubuh yang meninggal, berdoalah sekuatnya kepada guru utamamu. Hal ini akan lebih membantu.”

Sang Lama tidak sendiri dalam merasakan pertanda buruk. Ketika sang murid duduk di samping mayat, keluarganya menyelinap keluar ruangan dan diam-diam memasang balok di pintu.

Sekarang, sudah biasa bagi murid ini untuk menutup matanya pada saat membaca doa. Pada saat masa reses dalam upacara ini, dia membuka matanya dan melihat kepala mayat itu naik sedikit. Dia tidak memperhatikan hal ini, menutup mata lagi dan melanjutkan. Saat selanjutnya dia membuka matanya, dia melihat bahwa kepala tersebut lebih naik ke atas. Ketakutan, dia mencoba membuka pintu, tetapi pintunya sudah dikunci. Selanjutnya, dia mencoba untuk keluar lewat jendela, tetapi jendelanya terlalu kecil. Dia tidak memperhatikan telinganya sudah terluka teriris bingkai jendela dan banyak darah yang keluar. Sekarang dia merasa tidak berdaya. Dia menekan kepala tersebut dan membuatnya sedikit turun.

Saya mendengar cerita ini dari sang murid sendiri. Dia mengatakan pada saya, “saya menekan dengan keras dan mulai melakukan hal-hal seperti membaca mantra.”

Sementara perlawanan ini berlanjut, dia menjadi lebih berani. Tiba-tiba dia teringat nasihat sang Lama. Dia meletakan vajra (salah satu alat ritual Tantra) di atas kepala mayat dan berkata dengan keras, “Semoga Lama saya mendengar saya, dan merubah bentuk saya!” Akhirnya tubuh tersebut terjatuh dan vajra tersebut jatuh ke tanah.

Hal ini tidaklah unik di negara saya.

Bardo22

Pemimpin doa di sebuah biara kecil dekat Ganden (salah satu dari tiga biara besar di Lhasa) meninggal. Tempat dimana sang mayat ditaruh untuk dimakan burung terletak di atas bukit. Tubuhnya ditaruh disana oleh empat orang. Mereka meninggalkan tubuhnya dan pergi untuk minum teh. Mayat biasanya merobek pakaiannya ketika mereka bangkit kembali, jadi mayat yang ini mulai merobek jahitan pakaiannya dan berusaha bangkit. Tetapi, dia ditinggalkan di tepi jurang yang curam, sehingga bukannya bangkit, dia malah terguling ke kaki gunung. Kenyataannya, mayat tersebut tidak pernah sampai berdiri karena dia hancur berkeping-keping di bawah.

Ada seorang lelaki tua bernama Gompo, yang saya kenal dengan baik dan dengan siapa saya menghabiskan banyak waktu. Suatu hari dia dan seseorang lagi bernama Trinlay mendaki gunung dan sampai pada tempat pembuangan mayat milik Ganden. Mereka membawa mayat dengan usungan. Ketika mereka semakin dekat ke tempat tujuan, tubuh tersebut mulai merobek jahitan pakaiannya seperti yang kita deskripsikan sebelumnya. Gompo sangat ketakutan dan melarikan diri. Trinlay mulai meludah di satu sisi dan memukuli tubuh tersebut dengan batu untuk mematahkan tulangnya. Bila kalian meludah sebelum rolang bernapas di atas kalian, maka dia tidak bisa mencelakakan kalian.

Saya mempunyai banyak cerita mengenai rolang. Bahkan ada tempat dimana setiap orang yang meninggal menjadi rolang. Sebelum seseorang meninggal, warga setempat meminta seorang Lama untuk datang dan melakukan upacara apapun yang diperlukan. Mereka akan menggali lubang, mengubur tubuh tersebut secepat mungkin dan melarikan diri. Kaki tubuh tersebut dipatahkan sebelumnya. Suatu hari seorang wanita perantau meninggal di sana. Perantau lain mematahkan kakinya dan mengubur dia seperti sebelumnya dan memindahkan ternak dan tenda mereka ke tempat lain. Akan tetapi, sepertinya mereka tidak membuat lubang yang cukup dalam, karena sang mayat bangkit dan keluar dari dalam lubang. Dia menarik dirinya di tanah sambil merengek sepanjang waktu. Di dekat situ ada lima biksu yang sedang mengambil air dan makanan. Mereka berhenti sejenak dalam perjalanan mereka menuju biara besar di Tibet Pusat. Salah seorang dari mereka melihat sesuatu yang menyerupai rambut hitam dan sekali waktu seperti bangkit dari tanah. Ketika dia melihat lagi, makhluk itu seperti bersembunyi di balik sesuatu. Sekarang dia ada di sisi lain kandang kuda di mana mereka menginap. Dia sekarang melihat bahwa kakinya sudah dipatahkan dan ada tanda kapak di sana. Hal inilah yang menunjukan padanya bahwa ini adalah mayat. Mereka menyiramnya dengan air yang mereka didihkan untuk teh dan melarikan diri.

Bardo6

Ada satu keluarga dimana seorang anggotanya meninggal dan mereka mengikat tubuh tersebut dengan beban yang berat dan melarikan diri. Seorang kurir surat datang dengan kudanya. Padang rumput di sekitarnya sepertinya sangat indah. Hal ini tidaknya mengejutkan karena keluarga yang lain sudah melarikan diri secepatnya. Dia melonggarkan ikat pinggangnya dan berbaring untuk tidur. Dia dibangunkan oleh kudanya yang resah. Dia berpikir bahwa pasti ada hewan liar di sekitar situ, tetapi dia tidak bisa melihat satupun, dia kembali tidur. Kudanya membangunkannya lagi. Kali ini, ketika dia bangun untuk memeriksa, dia melihat bungkusan dan mengenal apa yang diikatkan padanya. Dia mengencangkan ikat pinggangnya dan mulai lari ke arah yang berlawanan. Rolang tersebut membebaskan diri dan mulai mengejarnya. Sang kurir mulai berteriak kepada perantau ketika dia sampai di tempat mereka, “Bangun! Bangun! Ada rolang datang!” Setelah mereka mengerti apa yang dikatakannya, mereka bangun dan mulai menyingkirkan rolang itu. Saya bisa membayangkan semua ini dengan jelas!

Seorang pria meninggal di keluarga yang tinggal di Mar K’am. Ketiga saudaranya membuat tenda terpisah untuknya, menyalakan lampu mentega dan menangisinya dengan tersedu-sedu. Pada tengah malam, seorang wanita dibangunkan oleh siulan. Tidak umum untuk bersiul dekat mayat. Ketika mereka melihat ke tenda tersebut keesokan harinya, tubuh tersebut sudah pergi. Beberapa kerbau juga hilang dari tempat itu. Malam itu, salju turun dan mereka bisa mengikuti jejaknya. Sedikit lebih jauh mereka melihat jejak dremong (hewan sebesar beruang). Mereka datang ke gua dimana mereka berkemah di musim panas. Dremong tersebut ada di dalam membunuhi kerbau sementara saudara mereka yang telah menjadi rolang menghalangi di pintu.

Rolang melakukan hal-hal seperti ini. Saya mengatakannya pada kalian untuk membuat kalian terhibur, dan untuk menunjukan bahwa tubuh kita yang sangat kita sukai bisa berada di bawah kendali makhluk lain setelah kita meninggal. Keinginan kitalah yang memberikan kita tubuh ini pada mulanya, tetapi tubuh ini tidak memberikan kesetiaan pada kita sebagai balasannya.

Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Losang Gyaltsen dan direvisi oleh Michael Richards dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

 


 

Ya, saya berdiri disamping His Holiness Kyabje Zong Rinpoche dalam foto ini…. Saya berada di lembah Yucca dengan Zong Rinpoche pada saat itu. Kita sedang ret ret dengan kelompok yang besar dan saya adalah salah satu asistennya di Amerika pada saat itu. Sangat membahagiakan untuk melayani Zong Rinpoche dan menerima banyak ajaran. Tsem Rinpoche

Saya bertemu dengan inkarnasi Kyabje Zong Rinpoche untuk pertama kalinya di sini dalam foto ini. Saya sudah menabung selama berbulan-bulan dan mempersembahkan rupang Manjushri kepada Zong Rinpoche. Saya tidak mau bertemu dengan inkarnasi emas guru saya dengan tangan kosong. Saya mau menciptakan pahala dan jodoh untuk bertemu dengan Zong Rinpoche dalam setiap kehidupan tidak perduli dimana kita bereinkarnasi… Akan ada ikatan antara diri saya dan Zong Rinpoche melalui Manjushri… Jadi saya ingin mempersembahkan sesuatu yang sangat berarti dan spesial walaupun saya tidak memiliki terlalu banyak uang… Bilamana kita bertemu dengan guru kita, kita harus memberikan persembahan yang tulus untuk menciptakan pahala demi keberhasilan usaha kita. Terutama ketika bertemu dengan guru kita untuk pertama kalinya atau meminta ajaran atau kegiatan, kita harus memberikan persembahan. Guru kita tidak membutuhkan persembahan ini, tetapi kita perlu menciptakan pahala. Pahala akan tercipta ketika dipersembahkan dengan tulus untuk menciptakan sebab bagi terkabulnya permintaan kita.

Saya diberi tahu bahwa beliau sangat senang dengan rupang ini dan bersikeras untuk menyimpannya dekat beliau di meja samping di kamar tidurnya. Saya sangat senang dalam foto ini untuk bertemu dengan inkarnasi guru utama saya lagi. Dan saya tidak mempunyai keraguan bahwa inkarnasinya akan kembali dengan sempurna dan dia kembali.

Tsem Rinpoche

Suku kata ‘Ah’ dalam Bahasa Tibet ditemukan terukir di tulang Zong Rinpoche ke-2, Zongtrul Tenpa Chopel (1836-1899 SM) setelah upacara kremasi beliau.

 


 

Klik pada gambar untuk memperbesar

Saya berusia 18 tahun ketika foto ini diambil pada tahun 1983 di Los Angeles, Kalifornia. Di sini, saya berfoto Bersama guru utama saya yang paling berharga, Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche. Beliau telah merubah hidup saya menjadi lebih baik selamanya. Tidak ada satu haripun dimana saya tidak memikirkan beliau, mencintai beliau, merindukan beliau dan mengharapkan kehadiran dan ajarannya.

Saya bermeditasi mengenai beliau di hati saya setiap hari. Beliau memiliki semua kualitas seorang Lama luhur dari Tibet dan lebih banyak lagi. Sejak saat saya mendengar namanya sebelum bertatap muka dari seorang teman yang telah bertemu sebelumnya, keyakinan secara spontan tumbuh dalam diri saya. Saya melakukan 100 sembah sujud di hadapan fotonya setiap hari sampai saya bertemu dengan beliau. Saya ingin membangun hubungan karma spiritual dengannya agar bisa bertemu, menerima banyak ajaran dari beliau. Untuk tujuan inilah saya melakukan sembah sujud.

Tidak ada guru spiritual, walaupun mereka semua hebat, yang memiliki dampak sebesar ini dalam diri saya. Hal ini tidak bisa dijelaskan. 30 tahun kemudian, keyakinan, rasa hormat dan rasa percaya kepada Kyabje Zong Rinpoche tidak tergoyahkan. Saya akan selalu mengikuti dan menerapkan apa yang telah diajarkan dan diberikan kepada saya. Saya tidak akan meninggalkan guru saya atau praktik apapun yang telah diberikan beliau kepada saya tidak peduli kesulitan yang datang kepada saya.

Tidak peduli nyawa saya terancam, atau saya tidak disukai atau diasingkan karena mengikuti instruksinya, saya tidak akan melepaskan ajarannya. Tidak ada guru lain yang bisa membuat saya merubah praktik yang saya terima dari Kyabje Zong Rinpoche. Semoga saya bertemu dengan Kyabje Zong Rinpoche di seluruh kehidupan mendatang dan diasuh olehnya. Selamanya saya tunduk padanya dan meletakkan ubun-ubun kepala saya yang tidak berharga ini di kakinya. Saya akan mengikuti, bermeditasi, percaya dan yakin pada guru saya selalu.

Dengan rendah hati,
Tsem Rinpoche

 


 

Rekaman Berharga Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche

Guru sutra dan tantra, Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche melakukan tindakan suci yang tak terhingga banyaknya dan memberikan ribuan ajaran Dharma selama hidupnya. Beberapa kegiatan ini direkam untuk memberikan manfaat bagi mahluk hidup di masa depan. Terima kasih pada rekaman ini, kami bisa menghadirkan beberapa rekaman berharga yang menggambarkan kegiatan Kyabje Zong Rinpoche. Terberkatilah ketika anda mendengarkan suara suci sang Buddha, Zong Rinpoche.

Admin

Sanggahan: Rekaman ini disediakan di sini hanya untuk tujuan Pendidikan dan bukan komersial. Tidak ada keuntungan yang diambil dengan menghadirkan rekaman ini.

 

Upacara Kremasi Yang Mulia Lama Yeshe

Video ini menunjukan peran terpadu yang dimainkan Yang Suci Kyabje Zong Rinpoche pada upacara pemakaman murid dekatnya, Yang Mulia Lama Yeshe. Sebagai guru tantra yang berpencapaian tinggi dan praktisi Dorje Shugden, Kyabje Zong Rinpoche memimpin dan menasihati murid-murid Lama Yeshe mengenai upacara pemakaman dan kremasi yang pantas bagi seorang praktisi dengan kualitas dan pencapaian seperti Lama Yeshe.

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/LamaYesheCremation.mp4

 

Dasar dari Jalan Spiritual

Dalam ajaran yang diterjemahkan oleh Yang Mulia Geshe Namgyal Gangchen dari Biara Drepung, Kyabje Zong Rinpoche mengajarkan mengenai sifat dari siklus keberadaan, poin pertama dari Empat Kebenaran Mulia seperti yang diajarkan oleh Buddha Shakyamuni. Sesi ajaran ini juga mencakup enam alam penderitaan.

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/BasisSpiritualPath.mp4

 

Prinsip dari Jalan Spiritual (Bagian 1)

Dalam ajaran yang diterjemahkan oleh Yang Mulia Geshe Namgyal Gangchen dari Biara Drepung, Kyabje Zong Rinpoche memberikan penjelasan mengenai Tiga Aspek Prinsip dari Jalan: pelepasan, bodhicitta dan pandangan yang benar mengenai kekosongan.

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/PrincipleSpiritualPath1.mp4

 

Prinsip dari Jalan Spiritual (Bagian 2)

Dalam ajaran yang diterjemahkan oleh Yang Mulia Geshe Namgyal Gangchen dari Biara Drepung, Kyabje Zong Rinpoche memberikan penjelasan mengenai Tiga Aspek Prinsip dari Jalan: pelepasan, bodhicitta dan pandangan yang benar mengenai kekosongan.

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/PrincipleSpiritualPath2.mp4

 

Melodi Silsilah Chod Bisikan Telinga Ensa

Atas permintaan Yang Mulia Geshe Tsultim Gyeltsen pada tahun 1983 di Thubten Dhargye Ling, Los Angeles, Amerika Serikat, Kyabje Zong Rinpoche melafalkan dan mengajarkan tentang praktik Chod Bisikan Telinga Ensa dari ingatan. Melodi berikut dilafalkan menurut doa yang dikenal sebagai: Memutuskan Penggenggaman Diri; Mendedikasikan Tubuh Ilusi Sebagai Ganachakra; dan Persembahan Ganachakra menurut praktik Chod. Zong Rinpoche memilih memainkan melodi bait-bait tertentu dari doa-doa tersebut dan mengatakan bahwa akan datang saatnya ketika melodi Chod diajarkan menurut rekaman ini.

Or view the video on the server at:
https://video.tsemtulku.com/videos/ZongRinpocheRecitesChod.mp4

 

Untuk membaca informasi menarik lainnya:

 

Tags: , , , ,

Please support us so that we can continue to bring you more Dharma:

If you are in the United States, please note that your offerings and contributions are tax deductible. ~ the tsemrinpoche.com blog team

DISCLAIMER IN RELATION TO COMMENTS OR POSTS GIVEN BY THIRD PARTIES BELOW

Kindly note that the comments or posts given by third parties in the comment section below do not represent the views of the owner and/or host of this Blog, save for responses specifically given by the owner and/or host. All other comments or posts or any other opinions, discussions or views given below under the comment section do not represent our views and should not be regarded as such. We reserve the right to remove any comments/views which we may find offensive but due to the volume of such comments, the non removal and/or non detection of any such comments/views does not mean that we condone the same.

We do hope that the participants of any comments, posts, opinions, discussions or views below will act responsibly and do not engage nor make any statements which are defamatory in nature or which may incite and contempt or ridicule of any party, individual or their beliefs or to contravene any laws.

Leave a Reply

Maximum file size: 15MB each
Allowed file types: jpg, jpeg, gif, png

 

Maximum file size: 50MB
Allowed file type: mp4
Maximum file size: 15MB each
Allowed file types: pdf, docx

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Chat

BLOG CHAT

Dear blog friends,

I’ve created this section for all of you to share your opinions, thoughts and feelings about whatever interests you.

Everyone has a different perspective, so this section is for you.

Tsem Rinpoche


SCHEDULED CHAT SESSIONS / 聊天室时间表

(除了每个月的第一个星期五)
SUNDAY
8 - 9PM (GMT +8)
4 - 5AM (PST)

UPCOMING TOPICS FOR NOVEMBER / 十一月份讨论主题

Please come and join in the chat for a fun time and support. See you all there.


Blog Chat Etiquette

These are some simple guidelines to make the blog chat room a positive, enjoyable and enlightening experience for everyone. Please note that as this is a chat room, we chat! Do not flood the chat room, or post without interacting with others.

EXPAND
Be friendly

Remember that these are real people you are chatting with. They may have different opinions to you and come from different cultures. Treat them as you would face to face, and respect their opinions, and they will treat you the same.

Be Patient

Give the room a chance to answer you. Patience is a virtue. And if after awhile, people don't respond, perhaps they don't know the answer or they did not see your question. Do ask again or address someone directly. Do not be offended if people do not or are unable to respond to you.

Be Relevant

This is the blog of H.E. Tsem Rinpoche. Please respect this space. We request that all participants here are respectful of H.E. Tsem Rinpoche and his organisation, Kechara.

Be polite

Avoid the use of language or attitudes which may be offensive to others. If someone is disrespectful to you, ignore them instead of arguing with them.

Please be advised that anyone who contravenes these guidelines may be banned from the chatroom. Banning is at the complete discretion of the administrator of this blog. Should anyone wish to make an appeal or complaint about the behaviour of someone in the chatroom, please copy paste the relevant chat in an email to us at care@kechara.com and state the date and time of the respective conversation.

Please let this be a conducive space for discussions, both light and profound.

KECHARA FOREST RETREAT PROGRESS UPDATES

Here is the latest news and pictorial updates, as it happens, of our upcoming forest retreat project.

The Kechara Forest Retreat is a unique holistic retreat centre focused on the total wellness of body, mind and spirit. This is a place where families and individuals will find peace, nourishment and inspiration in a natural forest environment. At Kechara Forest Retreat, we are committed to give back to society through instilling the next generation with universal positive values such as kindness and compassion.

For more information, please read here (english), here (chinese), or the official site: retreat.kechara.com.

Noticeboard

Name: Email:
For:  
Mail will not be published
  • Samfoonheei
    Thursday, Nov 24. 2022 03:34 PM
    NASA’s planet-hunting Kepler spacecraft has confirmed the discovery of its first alien world. We are not alone on earth afterall. Researchers discovered detectable sign of extra-terrestrial life in the atmosphere of a rocky planet . Wow It’s so exciting to imagine the possibilities, of potential habitability and may be suitable for life. Even with that discovery Earth remains a standout, and is still the only planet known to host life. Scientists concluded that the possibility of the existence of alien life forms. I am sure in future scientists will discover more new discoveries of planet in the habitable zone.
    Thank you Rinpoche for this sharing

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/current-affairs/guess-what-was-found.html
  • Samfoonheei
    Thursday, Nov 24. 2022 03:32 PM
    Wow… living a house with waterfall, greens, forests, clean air is everyone wish. Waterfalls are wonders of nature that humans have adored since ancient times. The sight, sound, and feel of waterfall have a positive impart on our mind. The beauty of waterfalls everywhere has been immense sources of inspiration for many such as thinkers, writers, philosophers, travel lovers and so forth. Sitting beside a waterfall and listening to the sound of waterfalls makes us happy.
    Well truly a masterpiece by Frank Lloyd Wright in terms of architecture and this designed Fallingwater has been called the best all-time work of American architecture. He believed in designing in harmony with humanity and the environment, and he truly appreciate their abundant beauty. Great work Frank Lloyd Wright.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/art-architecture/fallingwater-house-at-pennsylvania.html
  • Samfoonheei
    Thursday, Nov 24. 2022 03:30 PM
    HuffPost is an American liberal news portal, with localized and international editions. Well this portal offers news, blogs, and also covers politics, business, entertainment, environment etc . It cannot be wrong when mentioned about the Dorje Shugden controversy. It is a practice that the greatest Gelugpa and Sakya masters have hailed as all-important, and they have preserved and passed the lineage from one generation to another for 400 years. HuffPost’s professionalism and integrity says all. Those articles on the Shugden controversy is truly a testament.
    The H H 14th Dalai Lama, Tibet’s exiled spiritual leader, has for decades travelled the globe with a message of peace, love and compassion. Yet these Dorje Shugden controversy happened due to some having their own agenda. Shugden practitioners have been relying on Dorje Shugdn for more than 350 years. Why now??? It had cause more sufferings, misunderstanding , families divided and so on. May all this be over soon for the sake of Tibetans . Interesting read……hopefully more people will read this blog to understand the situation better.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/dorje-shugden/huffington-post-three-times-as-many-buddhists-as-communists-in-china-dalai-lamas-tibet-wish-may-require-rapprochement-with-former-adversaries.html
  • Samfoonheei
    Wednesday, Nov 16. 2022 03:52 PM
    History is full of weird events that no one can explain , well that’s a fact. We are fortunate historians of the past have documented many of them for us to understand. Yet many unexplained mysteries remain unexplained even to this day. For some reason, we as humans tend to concentrate on the mysterious things more than the undeniable facts. World’s greatest unsolved mysteries always interest me. Mysteries of any topic is truly interesting to read the story. Death is a mystery to all of us, and so is reincarnation. When science cannot explain something it is often referred to as a belief. There are many mysterious stories in the world now where people claim to be reincarnated and they remember their past life. One such intriguing story was of Shanti Devi recalling her past life in modern times. Shanti Devi’s story is amazing at the age of four years old, she began telling her parents specific details about her old life.
    Interesting and weird mysterious stories in this blog, some of them are truly spooky.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/science-mysteries/10-creepy-mysteries-you-havent-heard-of.html
  • Samfoonheei
    Wednesday, Nov 16. 2022 03:50 PM
    Even though it a old post yet reading it had me feeling sorry for such cute doggie. Due to some mortgage problems the owners left Sue the doggie without someone to look after. Sue was lucky somehow someone from Shelter Friend adopted her. Thank you to those who made it happen
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/animals-vegetarianism/dog-in-danger-please-help-sue.html
  • Samfoonheei
    Wednesday, Nov 16. 2022 03:48 PM
    nteresting read …..after reading this blog had me realised animals do reincarnate after all. Animals can become human again and vice versa after death. Just like humans, animals reincarnate as part of our soul family groups. This means the animals in our life now, have very likely been in our life before, as an animal. The true life story of a Thai boy with a snake past life tells all . The Thai boy Dalawong as a wonder spirit recognizes the cobra’s attacker is a very good life evidence of the existence of reincarnation.
    Reading the topic of telepathy had me understand slightly better . According to researchers, telepathy is a non-verbal way to communicate with others. With telepathy, people communicate entirely in the mind without saying anything. Interesting. Do hope I could telepathy with my doggie.
    Thank you Rinpoche for sharing this interesting blog.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/science-mysteries/do-animals-reincarnate-back-as-humans.html
  • Samfoonheei
    Monday, Nov 14. 2022 03:59 PM
    Thanks for sharing all this creative special thoughts for readers to share with everyone . Simple thoughts yet easy understandable , meaningful tells us a thousand words of reality. Many will surly benefits it , reading those thoughts. Everyone has the right to practice his or her own religion, or rather no religion at all. Everyone should be supportive of religious freedom because religion is uniquely valuable to society. No one should ever suffer, be humiliated, assaulted, be segregated all because of their faith.
    Thank you Rinpoche and Pastor Seng Piow again with folded hands.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/inspiration-worthy-words/very-special-thoughts-to-share.html
  • Samfoonheei
    Monday, Nov 14. 2022 03:56 PM
    As the sun rose over the ancient town, Dharmakaya Ceitiya, Thailand, a sea of saffron and maroon-robed monks assembled in an area the size of a football field. Could not have imagined 30,000 ordained as monks in one go that’s rejoicing. Thailand is the Land of Dharma where the Buddhism has been established since thousands years ago. Buddha Dharma teachings have been infiltrated in the daily life of Thai people. The Thai Buddhist cultures are unique and beautiful and their country are known as “the Land of Smile”. Theravada Buddhism is the official religion of Thailand and plays a key role in many aspects of Thai culture. For many Thai people, Buddhism is considered a philosophy for how to live one’s life and numerous Buddhist principles. Buddhism is a key component to the identities of many Thais. Many beautiful Buddhist temples and golden statues could be a common sights all over. Thai Buddhism has influenced society for a long time that has contributed to Thai people being generally known as kind, and compassionate.
    Thank you Rinpoche for this wonderful sharing. Looking at those rare pictures tells all…..simple amazing able to see it.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/30000-people-ordained-as-monks.html
  • Samfoonheei
    Monday, Nov 14. 2022 03:53 PM
    To live in the mountains was always Tsem Rinpoche’s dream. A quiet place called home with greenery surrounding. Mountains are the beginning and end of all natural scenery.The mountains give us time to take a moment to be in awe of the natural beauty of the world. It’s wonderful for everyone dream to those who love escaping the rush and pollution of modern life and altering our perspective. The mountains are an extraordinary environment of biological diversity, cultural diversity and linguistic diversity. But its exception for Rinpoche as in this blog somewhere in Thailand Rinpoche was there. Living on raft house surrounding by water watching sunrise and sunset . A beautiful , calm, solitude, quiet environment indeed. I would love these environment as well as mother nature is intoxicating.
    Rinpoche somehow founded an extraordinary environment of biological diversity, cultural diversity and linguistic diversity. A place call home to many of us that’s Kechara Forest retreat at Bentong. A unique examples of beauty, peace, austerity, spirituality, eco-yoga and creativity. A must visit to those who loves mother nature.
    Thank you Rinpoche .

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/me/an-exception.html
  • Samfoonheei
    Friday, Nov 11. 2022 03:19 PM
    Reading these inspiring quotes again to refresh myself of the Buddha teachings. If we understand, it will change our life in long run. Change is never painful, only resistance to change ourselves is painful. By refusing to accept this change, we make it worse because we’re fighting against it, against the flow of life. One moment can change a day, one day can change a life. We should be open to change and embrace changes. By accepting the fact that nothing in the universe is permanent . We learn and practice makes improvement in our life and be thankful always.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/inspiration-worthy-words/25-quotes-from-buddha-that-will-change-your-life.html
  • Samfoonheei
    Friday, Nov 11. 2022 03:16 PM
    PURE DEMOCRACY is democracy in which the power is exercised directly by the people rather than through representatives. Its much different in this case. Reading this article and all comments tells us a clear pictures what had actually happened in this Dorje Shugden controversy. In democratic countries, the government does not interfere with religion.People have the freedom to practise any religion they want. Dorje Shugden’s practice has been around for 400 years and it will continue as practitioners could see and understand the benefits of relying on the practice. Everyone of us should given the freedom of religious belief. Peace and harmony can only be maintain through understanding and interaction or maybe a dialogue between parties involved . I am sure Dorje Shugden practitioners and everyone in the communities can live in harmony. Be to fair the right to freedom of belief , interviews on both sides instead just listening one sided. No one should ever suffer, be segregated, assaulted, hurt, degraded, hated and biased for their religious beliefs. Once for all these controversy should be solved for the sake of peace and harmony. Thanks Justin Whitaker for speaking up and standing up for what you believe in for readers to have a better understanding rather then reading what Reuters had published.
    Thank you Rinpoche for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/dorje-shugden/reuters-investigation-on-dorje-shugden-inaccurate.html
  • Samfoonheei
    Tuesday, Nov 8. 2022 01:09 PM
    Its sad how those Dorje Shugden practitioners had suffered and life is tough for them. Could’nt imagine not allow to enter premises such as hospitals for treatment, schools for education , securing a government job and so forth. Our very own Kecharian had even denied hotel rooms just because we practice it. This controversy had been going on for too long , hopefully it will dissolve soon with H h Dalai Lama saying we can practice it . All can live happily, no discrimination, with peace and harmony then. Interesting read.
    Thank you Rinpoche and Pastor David. Of course a hand of applauds to those kecharian who have been working hard to collect all the evidence of the ban against Dorje Shugden.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/why-cant-the-dalai-lama-bind-dorje-shugden.html
  • Samfoonheei
    Tuesday, Nov 8. 2022 01:04 PM
    A beneficial practice to do in our daily Sadhana which I truly love it. I have been doing this Kawang practice daily without miss. It helps to clear our obstacles and purify our karma with the correct visualization. By purifying our karmas as our merits increase as well. When done consistently, kawang practice will remove obstacles that threaten our Dharma practice. It also create conducive conditions both externally as material necessities and physical health, and internally within our mind. Amazing benefits indeed one should not miss. All thanks to Rinpoche to be here in Malaysia.
    Thank you Rinpoche and Pastor David for sharing this post for readers to know better.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/kawang-a-dorje-shugden-confessional-practice.html
  • Samfoonheei
    Tuesday, Nov 8. 2022 01:01 PM
    A précised sharing by Rinpoche regarding the banning of the practice of the enlightened Protector Dorje Shugden by Tibetan Leadership. Reading and watching those videos will explain all about the ban controversy. Many highly attained Lamas had for the last 400 years, has been relying on Dorje Shugden. But as claim by the Tibetan leadership the practice of the enlightened Protector Dorje Shugden is evil spirit and a minor practice. They claimed that whoever practice Dorje Shugden will to the three lower realms. All these were not true just an excuse to worry their community into giving up the Dorje Shugden practice. There were many incarnations of Lamas coming back again and again. Yet the Tibetan leadership keeps recognizing the reincarnations of lamas who engaged in the practice of Dorje Shugden. They said those Masters would take rebirth in the three lower realms. Not logic at all. As in this article one could read more prominent Dorje Shugden practitioners of the last 400 years are back again. Interesting read one should not miss.
    Thank you Rinpoche for this great sharing

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/great-lamas-masters/dorje-shugden-people-do-not-go-to-the-three-lower-realms.html
  • Samfoonheei
    Tuesday, Nov 8. 2022 12:59 PM
    We are not alone after-all. Spirits or unseen beings is everywhere. There are many different types of spirits around us, unseen to the naked eyes. A majority of people are believers in the existence of some kind of spiritual being. I do believe they do exist. Experiencing their existing in our sleep is scary some sort what happened to Pastor David. Many of us usually experience of feeling like we being touched or feeling pressure on their chest. It’s like something or someone is holding them down. Interesting read this paranormal experienced by Pastor David.
    Thank you Rinpoche and Li Kim for this sharing.

    https://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/paranormal/tsem-paranormal-tv/david-lai.html

1 · 2 · 3 · 4 · 5 · »

Messages from Rinpoche

Scroll down within the box to view more messages from Rinpoche. Click on the images to enlarge. Click on 'older messages' to view archived messages. Use 'prev' and 'next' links to navigate between pages

Use this URL to link to this section directly: https://www.tsemrinpoche.com/#messages-from-rinpoche

Previous Live Videos

MORE VIDEOS

Shugdenpas Speaking Up Across The Globe

From Europe Shugden Association:


MORE VIDEOS

From Tibetan Public Talk:


MORE VIDEOS

CREDITS

Concept: Tsem Rinpoche
Technical: Lew Kwan Leng, Justin Ripley, Yong Swee Keong
Design: Justin Ripley, Cynthia Lee
Content: Tsem Rinpoche, Justin Ripley, Pastor Shin Tan, Sarah Yap
Admin: Pastor Loh Seng Piow, Beng Kooi

I must thank my dharma blog team who are great assets to me, Kechara and growth of dharma in this wonderful region. I am honoured and thrilled to work with them. I really am. Maybe I don't say it enough to them, but I am saying it now. I APPRECIATE THESE GUYS VERY MUCH!

Tsem Rinpoche

Total views today
3,491
Total views up to date
24,748,688

Stay Updated

What Am I Writing Now

Facebook Fans Youtube Views Blog Views
Animal Care Fund
  Bigfoot, Yeti, Sasquatch

The Unknown

The Known and unknown are both feared,
Known is being comfortable and stagnant,
The unknown may be growth and opportunities,
One shall never know if one fears the unknown more than the known.
Who says the unknown would be worse than the known?
But then again, the unknown is sometimes worse than the known. In the end nothing is known unless we endeavour,
So go pursue all the way with the unknown,
because all unknown with familiarity becomes the known.
~Tsem Rinpoche

Photos On The Go

Click on the images to view the bigger version. And scroll down and click on "View All Photos" to view more images.
According to legend, Shambhala is a place where wisdom and love reign, and there is no crime. Doesn\'t this sound like the kind of place all of us would love to live in? https://www.tsemrinpoche.com/?p=204874
3 years ago
According to legend, Shambhala is a place where wisdom and love reign, and there is no crime. Doesn't this sound like the kind of place all of us would love to live in? https://www.tsemrinpoche.com/?p=204874
108 candles and sang (incense) offered at our Wish-Fulfilling Grotto, invoking Dorje Shugden\'s blessings for friends, sponsors and supporters, wonderful!
3 years ago
108 candles and sang (incense) offered at our Wish-Fulfilling Grotto, invoking Dorje Shugden's blessings for friends, sponsors and supporters, wonderful!
Dharmapalas are not exclusive to Tibetan culture and their practice is widespread throughout the Buddhist world - https://www.tsemrinpoche.com/?p=193645
3 years ago
Dharmapalas are not exclusive to Tibetan culture and their practice is widespread throughout the Buddhist world - https://www.tsemrinpoche.com/?p=193645
One of our adorable Kechara Forest Retreat\'s doggies, Tara, happy and safe, and enjoying herself in front of Wisdom Hall which has been decorated for Chinese New Year
3 years ago
One of our adorable Kechara Forest Retreat's doggies, Tara, happy and safe, and enjoying herself in front of Wisdom Hall which has been decorated for Chinese New Year
Fragrant organic Thai basil harvested from our very own Kechara Forest Retreat farm!
3 years ago
Fragrant organic Thai basil harvested from our very own Kechara Forest Retreat farm!
On behalf of our Puja House team, Pastor Tat Ming receives food and drinks from Rinpoche. Rinpoche wanted to make sure the hardworking Puja House team are always taken care of.
3 years ago
On behalf of our Puja House team, Pastor Tat Ming receives food and drinks from Rinpoche. Rinpoche wanted to make sure the hardworking Puja House team are always taken care of.
By the time I heard about Luang Phor Thong, he was already very old, in his late 80s. When I heard about him, I immediately wanted to go and pay my respects to him. - http://bit.ly/LuangPhorThong
3 years ago
By the time I heard about Luang Phor Thong, he was already very old, in his late 80s. When I heard about him, I immediately wanted to go and pay my respects to him. - http://bit.ly/LuangPhorThong
It\'s very nice to see volunteers helping maintain holy sites in Kechara Forest Retreat, it\'s very good for them. Cleaning Buddha statues is a very powerful and effective way of purifying body karma.
3 years ago
It's very nice to see volunteers helping maintain holy sites in Kechara Forest Retreat, it's very good for them. Cleaning Buddha statues is a very powerful and effective way of purifying body karma.
Kechara Forest Retreat is preparing for the upcoming Chinese New Year celebrations. This is our holy Vajra Yogini stupa which is now surrounded by beautiful lanterns organised by our students.
3 years ago
Kechara Forest Retreat is preparing for the upcoming Chinese New Year celebrations. This is our holy Vajra Yogini stupa which is now surrounded by beautiful lanterns organised by our students.
One of the most recent harvests from our Kechara Forest Retreat land. It was grown free of chemicals and pesticides, wonderful!
3 years ago
One of the most recent harvests from our Kechara Forest Retreat land. It was grown free of chemicals and pesticides, wonderful!
Third picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal.
Height: 33ft (10m)
3 years ago
Third picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal. Height: 33ft (10m)
Second picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal.
Height: 33ft (10m)
3 years ago
Second picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal. Height: 33ft (10m)
First picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal.
Height: 33ft (10m)
3 years ago
First picture-Standing Manjushri Statue at Chowar, Kirtipur, Nepal. Height: 33ft (10m)
The first title published by Kechara Comics is Karuna Finds A Way. It tells the tale of high-school sweethearts Karuna and Adam who had what some would call the dream life. Everything was going great for them until one day when reality came knocking on their door. Caught in a surprise swindle, this loving family who never harmed anyone found themselves out of luck and down on their fortune. Determined to save her family, Karuna goes all out to find a solution. See what she does- https://bit.ly/2LSKuWo
3 years ago
The first title published by Kechara Comics is Karuna Finds A Way. It tells the tale of high-school sweethearts Karuna and Adam who had what some would call the dream life. Everything was going great for them until one day when reality came knocking on their door. Caught in a surprise swindle, this loving family who never harmed anyone found themselves out of luck and down on their fortune. Determined to save her family, Karuna goes all out to find a solution. See what she does- https://bit.ly/2LSKuWo
Very powerful story! Tibetan Resistance group Chushi Gangdruk reveals how Dalai Lama escaped in 1959- https://bit.ly/2S9VMGX
3 years ago
Very powerful story! Tibetan Resistance group Chushi Gangdruk reveals how Dalai Lama escaped in 1959- https://bit.ly/2S9VMGX
At Kechara Forest Retreat land we have nice fresh spinach growing free of chemicals and pesticides. Yes!
3 years ago
At Kechara Forest Retreat land we have nice fresh spinach growing free of chemicals and pesticides. Yes!
See beautiful pictures of Manjushri Guest House here- https://bit.ly/2WGo0ti
3 years ago
See beautiful pictures of Manjushri Guest House here- https://bit.ly/2WGo0ti
Beginner’s Introduction to Dorje Shugden~Very good overview https://bit.ly/2QQNfYv
3 years ago
Beginner’s Introduction to Dorje Shugden~Very good overview https://bit.ly/2QQNfYv
Fresh eggplants grown on Kechara Forest Retreat\'s land here in Malaysia
3 years ago
Fresh eggplants grown on Kechara Forest Retreat's land here in Malaysia
Most Venerable Uppalavanna – The Chief Female Disciple of Buddha Shakyamuni - She exhibited many supernatural abilities gained from meditation and proved to the world females and males are equal in spirituality- https://bit.ly/31d9Rat
3 years ago
Most Venerable Uppalavanna – The Chief Female Disciple of Buddha Shakyamuni - She exhibited many supernatural abilities gained from meditation and proved to the world females and males are equal in spirituality- https://bit.ly/31d9Rat
Thailand’s ‘Renegade’ Yet Powerful Buddhist Nuns~ https://bit.ly/2Z1C02m
3 years ago
Thailand’s ‘Renegade’ Yet Powerful Buddhist Nuns~ https://bit.ly/2Z1C02m
Mahapajapati Gotami – the first Buddhist nun ordained by Lord Buddha- https://bit.ly/2IjD8ru
3 years ago
Mahapajapati Gotami – the first Buddhist nun ordained by Lord Buddha- https://bit.ly/2IjD8ru
The Largest Buddha Shakyamuni in Russia | 俄罗斯最大的释迦牟尼佛画像- https://bit.ly/2Wpclni
3 years ago
The Largest Buddha Shakyamuni in Russia | 俄罗斯最大的释迦牟尼佛画像- https://bit.ly/2Wpclni
Sacred Vajra Yogini
3 years ago
Sacred Vajra Yogini
Dorje Shugden works & archives - a labour of commitment - https://bit.ly/30Tp2p8
3 years ago
Dorje Shugden works & archives - a labour of commitment - https://bit.ly/30Tp2p8
Mahapajapati Gotami, who was the first nun ordained by Lord Buddha.
3 years ago
Mahapajapati Gotami, who was the first nun ordained by Lord Buddha.
Mahapajapati Gotami, who was the first nun ordained by Lord Buddha. She was his step-mother and aunt. Buddha\'s mother had passed away at his birth so he was raised by Gotami.
3 years ago
Mahapajapati Gotami, who was the first nun ordained by Lord Buddha. She was his step-mother and aunt. Buddha's mother had passed away at his birth so he was raised by Gotami.
Another nun disciple of Lord Buddha\'s. She had achieved great spiritual abilities and high attainments. She would be a proper object of refuge. This image of the eminent bhikkhuni (nun) disciple of the Buddha, Uppalavanna Theri.
3 years ago
Another nun disciple of Lord Buddha's. She had achieved great spiritual abilities and high attainments. She would be a proper object of refuge. This image of the eminent bhikkhuni (nun) disciple of the Buddha, Uppalavanna Theri.
Wandering Ascetic Painting by Nirdesha Munasinghe
3 years ago
Wandering Ascetic Painting by Nirdesha Munasinghe
High Sri Lankan monks visit Kechara to bless our land, temple, Buddha and Dorje Shugden images. They were very kind-see pictures- https://bit.ly/2HQie2M
4 years ago
High Sri Lankan monks visit Kechara to bless our land, temple, Buddha and Dorje Shugden images. They were very kind-see pictures- https://bit.ly/2HQie2M
This is pretty amazing!

First Sri Lankan Buddhist temple opened in Dubai!!!
4 years ago
This is pretty amazing! First Sri Lankan Buddhist temple opened in Dubai!!!
My Dharma boy (left) and Oser girl loves to laze around on the veranda in the mornings. They enjoy all the trees, grass and relaxing under the hot sun. Sunbathing is a favorite daily activity. I care about these two doggies of mine very much and I enjoy seeing them happy. They are with me always. Tsem Rinpoche

Always be kind to animals and eat vegetarian- https://bit.ly/2Psp8h2
4 years ago
My Dharma boy (left) and Oser girl loves to laze around on the veranda in the mornings. They enjoy all the trees, grass and relaxing under the hot sun. Sunbathing is a favorite daily activity. I care about these two doggies of mine very much and I enjoy seeing them happy. They are with me always. Tsem Rinpoche Always be kind to animals and eat vegetarian- https://bit.ly/2Psp8h2
After you left me Mumu, I was alone. I have no family or kin. You were my family. I can\'t stop thinking of you and I can\'t forget you. My bond and connection with you is so strong. I wish you were by my side. Tsem Rinpoche
4 years ago
After you left me Mumu, I was alone. I have no family or kin. You were my family. I can't stop thinking of you and I can't forget you. My bond and connection with you is so strong. I wish you were by my side. Tsem Rinpoche
This story is a life-changer. Learn about the incredible Forest Man of India | 印度“森林之子”- https://bit.ly/2Eh4vRS
4 years ago
This story is a life-changer. Learn about the incredible Forest Man of India | 印度“森林之子”- https://bit.ly/2Eh4vRS
Part 2-Beautiful billboard in Malaysia of a powerful Tibetan hero whose life serves as a great inspiration- https://bit.ly/2UltNE4
4 years ago
Part 2-Beautiful billboard in Malaysia of a powerful Tibetan hero whose life serves as a great inspiration- https://bit.ly/2UltNE4
Part 1-Beautiful billboard in Malaysia of a powerful Tibetan hero whose life serves as a great inspiration- https://bit.ly/2UltNE4
4 years ago
Part 1-Beautiful billboard in Malaysia of a powerful Tibetan hero whose life serves as a great inspiration- https://bit.ly/2UltNE4
The great Protector Manjushri Dorje Shugden depicted in the beautiful Mongolian style. To download a high resolution file: https://bit.ly/2Nt3FHz
4 years ago
The great Protector Manjushri Dorje Shugden depicted in the beautiful Mongolian style. To download a high resolution file: https://bit.ly/2Nt3FHz
The Mystical land of Shambhala is finally ready for everyone to feast their eyes and be blessed. A beautiful post with information, art work, history, spirituality and a beautiful book composed by His Holiness the 6th Panchen Rinpoche. ~ https://bit.ly/309MHBi
4 years ago
The Mystical land of Shambhala is finally ready for everyone to feast their eyes and be blessed. A beautiful post with information, art work, history, spirituality and a beautiful book composed by His Holiness the 6th Panchen Rinpoche. ~ https://bit.ly/309MHBi
Beautiful pictures of the huge Buddha in Longkou Nanshan- https://bit.ly/2LsBxVb
4 years ago
Beautiful pictures of the huge Buddha in Longkou Nanshan- https://bit.ly/2LsBxVb
The reason-Very interesting thought- https://bit.ly/2V7VT5r
4 years ago
The reason-Very interesting thought- https://bit.ly/2V7VT5r
NEW Bigfoot cafe in Malaysia! Food is delicious!- https://bit.ly/2VxdGau
4 years ago
NEW Bigfoot cafe in Malaysia! Food is delicious!- https://bit.ly/2VxdGau
DON\'T MISS THIS!~How brave Bonnie survived by living with a herd of deer~ https://bit.ly/2Lre2eY
4 years ago
DON'T MISS THIS!~How brave Bonnie survived by living with a herd of deer~ https://bit.ly/2Lre2eY
Global Superpower China Will Cut Meat Consumption by 50%! Very interesting, find out more- https://bit.ly/2V1sJFh
4 years ago
Global Superpower China Will Cut Meat Consumption by 50%! Very interesting, find out more- https://bit.ly/2V1sJFh
You can download this beautiful Egyptian style Dorje Shugden Free- https://bit.ly/2Nt3FHz
4 years ago
You can download this beautiful Egyptian style Dorje Shugden Free- https://bit.ly/2Nt3FHz
Beautiful high file for print of Lord Manjushri. May you be blessed- https://bit.ly/2V8mwZe
4 years ago
Beautiful high file for print of Lord Manjushri. May you be blessed- https://bit.ly/2V8mwZe
Mongolian (Oymiakon) Shaman in Siberia, Russia. That is his real outfit he wears. Very unique. TR
4 years ago
Mongolian (Oymiakon) Shaman in Siberia, Russia. That is his real outfit he wears. Very unique. TR
Find one of the most beautiful temples in the world in Nara, Japan. It is the 1,267 year old Todai-ji temple that houses a 15 meter Buddha Vairocana statue who is a cosmic and timeless Buddha. Emperor Shomu who sponsored this beautiful temple eventually abdicated and ordained as a Buddhist monk. Very interesting history and story. One of the places everyone should visit- https://bit.ly/2VgsHhK
4 years ago
Find one of the most beautiful temples in the world in Nara, Japan. It is the 1,267 year old Todai-ji temple that houses a 15 meter Buddha Vairocana statue who is a cosmic and timeless Buddha. Emperor Shomu who sponsored this beautiful temple eventually abdicated and ordained as a Buddhist monk. Very interesting history and story. One of the places everyone should visit- https://bit.ly/2VgsHhK
Manjusri Kumara (bodhisattva of wisdom), India, Pala dynesty, 9th century, stone, Honolulu Academy of Arts
4 years ago
Manjusri Kumara (bodhisattva of wisdom), India, Pala dynesty, 9th century, stone, Honolulu Academy of Arts
Click on "View All Photos" above to view more images

Videos On The Go

Please click on the images to watch video
  • Pig puts his toys away
    3 years ago
    Pig puts his toys away
    Animals are so intelligent. They can feel happiness, joy, pain, sorrow, just like humans. Always show kindness to them. Always show kindness to everyone.
  • Always be kind to animals-They deserve to live just like us.
    3 years ago
    Always be kind to animals-They deserve to live just like us.
    Whales and dolphins playing with each other in the Pacific sea. Nature is truly incredible!
  • Bodha stupa July 2019-
    3 years ago
    Bodha stupa July 2019-
    Rainy period
  • Cute Tara girl having a snack. She is one of Kechara Forest Retreat’s resident doggies.
    3 years ago
    Cute Tara girl having a snack. She is one of Kechara Forest Retreat’s resident doggies.
  • Your Next Meal!
    3 years ago
    Your Next Meal!
    Yummy? Tasty? Behind the scenes of the meat on your plates. Meat is a killing industry.
  • This is Daw
    3 years ago
    This is Daw
    This is what they do to get meat on tables, and to produce belts and jackets. Think twice before your next purchase.
  • Don’t Take My Mummy Away!
    3 years ago
    Don’t Take My Mummy Away!
    Look at the poor baby chasing after the mother. Why do we do that to them? It's time to seriously think about our choices in life and how they affect others. Be kind. Don't break up families.
  • They do this every day!
    3 years ago
    They do this every day!
    This is how they are being treated every day of their lives. Please do something to stop the brutality. Listen to their cries for help!
  • What happened at Fair Oaks Farm?
    3 years ago
    What happened at Fair Oaks Farm?
    The largest undercover dairy investigation of all time. See what they found out at Fair Oaks Farm.
  • She’s going to spend her whole life here without being able to move correctly. Like a machine. They are the slaves of the people and are viewed as a product. It’s immoral. Billions of terrestrial animals die annually. Billions. You can’t even imagine it. And all that because people don’t want to give up meat, even though there are so many alternatives. ~ Gabriel Azimov
    3 years ago
    She’s going to spend her whole life here without being able to move correctly. Like a machine. They are the slaves of the people and are viewed as a product. It’s immoral. Billions of terrestrial animals die annually. Billions. You can’t even imagine it. And all that because people don’t want to give up meat, even though there are so many alternatives. ~ Gabriel Azimov
  • Our Malaysian Prime Minister Dr. Mahathir speaks so well, logically and regarding our country’s collaboration with China for growth. It is refreshing to listen to Dr. Mahathir’s thoughts. He said our country can look to China for many more things such as technology and so on. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    Our Malaysian Prime Minister Dr. Mahathir speaks so well, logically and regarding our country’s collaboration with China for growth. It is refreshing to listen to Dr. Mahathir’s thoughts. He said our country can look to China for many more things such as technology and so on. Tsem Rinpoche
  • This is the first time His Holiness Dalai Lama mentions he had some very serious illness. Very worrying. This video is captured April 2019.
    4 years ago
    This is the first time His Holiness Dalai Lama mentions he had some very serious illness. Very worrying. This video is captured April 2019.
  • Beautiful Monastery in Hong Kong
    4 years ago
    Beautiful Monastery in Hong Kong
  • This dog thanks his hero in such a touching way. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    This dog thanks his hero in such a touching way. Tsem Rinpoche
  • Join Tsem Rinpoche in prayer for H.H. Dalai Lama’s long life~ https://www.youtube.com/watch?v=gYy7JcveikU&feature=youtu.be
    4 years ago
    Join Tsem Rinpoche in prayer for H.H. Dalai Lama’s long life~ https://www.youtube.com/watch?v=gYy7JcveikU&feature=youtu.be
  • These people going on pilgrimage to a holy mountain and prostrating out of devotion and for pilgrimage in Tibet. Such determination for spiritual practice. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    These people going on pilgrimage to a holy mountain and prostrating out of devotion and for pilgrimage in Tibet. Such determination for spiritual practice. Tsem Rinpoche
  • Beautiful new casing in Kechara for Vajra Yogini. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    Beautiful new casing in Kechara for Vajra Yogini. Tsem Rinpoche
  • Get ready to laugh real hard. This is Kechara’s version of “Whatever Happened to Baby Jane!” We have some real talents in this video clip.
    4 years ago
    Get ready to laugh real hard. This is Kechara’s version of “Whatever Happened to Baby Jane!” We have some real talents in this video clip.
  • Recitation of Dorje Dermo‘s mantra or the Dharani of Glorious Vajra Claws. This powerful mantra is meant to destroy all obstacles that come in our way. Beneficial to play this mantra in our environments.
    4 years ago
    Recitation of Dorje Dermo‘s mantra or the Dharani of Glorious Vajra Claws. This powerful mantra is meant to destroy all obstacles that come in our way. Beneficial to play this mantra in our environments.
  • Beautiful
    4 years ago
    Beautiful
    Beautiful sacred Severed Head Vajra Yogini from Tsem Rinpoche's personal shrine.
  • My little monster cute babies Dharma and Oser. Take a look and get a cute attack for the day! Tsem Rinpoche
    4 years ago
    My little monster cute babies Dharma and Oser. Take a look and get a cute attack for the day! Tsem Rinpoche
  • Plse watch this short video and see how all sentient beings are capable of tenderness and love. We should never hurt animals nor should we eat them. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    Plse watch this short video and see how all sentient beings are capable of tenderness and love. We should never hurt animals nor should we eat them. Tsem Rinpoche
  • Cruelty of some people have no limits and it’s heartbreaking. Being kind cost nothing. Tsem Rinpoche
    4 years ago
    Cruelty of some people have no limits and it’s heartbreaking. Being kind cost nothing. Tsem Rinpoche
  • SUPER ADORABLE and must see
    4 years ago
    SUPER ADORABLE and must see
    Tsem Rinpoche's dog Oser girl enjoying her snack in her play pen.
  • Cute!
    4 years ago
    Cute!
    Oser girl loves the balcony so much. - https://www.youtube.com/watch?v=RTcoWpKJm2c
  • Uncle Wong
    4 years ago
    Uncle Wong
    We were told by Uncle Wong he is very faithful toward Dorje Shugden. Dorje Shugden has extended help to him on several occasions and now Uncle Wong comes daily to make incense offerings to Dorje Shugden. He is grateful towards the help he was given.
  • Tsem Rinpoche’s Schnauzer Dharma boy fights Robot sphere from Arkonide!
    4 years ago
    Tsem Rinpoche’s Schnauzer Dharma boy fights Robot sphere from Arkonide!
  • Cute baby owl found and rescued
    4 years ago
    Cute baby owl found and rescued
    We rescued a lost baby owl in Kechara Forest Retreat.
  • Nice cups from Kechara!!
    4 years ago
    Nice cups from Kechara!!
    Dorje Shugden people's lives matter!
  • Enjoy a peaceful morning at Kechara Forest Retreat
    4 years ago
    Enjoy a peaceful morning at Kechara Forest Retreat
    Chirping birds and other forest animals create a joyful melody at the Vajrayogini stupa in Kechara Forest Retreat (Bentong, Malaysia).
  • This topic is so hot in many circles right now.
    5 years ago
    This topic is so hot in many circles right now.
    This video is thought-provoking and very interesting. Watch! Thanks so much to our friends at LIVEKINDLY.
  • Chiropractic CHANGES LIFE for teenager with acute PAIN & DEAD LEG.
    5 years ago
    Chiropractic CHANGES LIFE for teenager with acute PAIN & DEAD LEG.
  • BEAUTIFUL PLACE IN NEW YORK STATE-AMAZING.
    5 years ago
    BEAUTIFUL PLACE IN NEW YORK STATE-AMAZING.
  • Leonardo DiCaprio takes on the meat Industry with real action.
    5 years ago
    Leonardo DiCaprio takes on the meat Industry with real action.
  • Do psychic mediums have messages from beyond?
    5 years ago
    Do psychic mediums have messages from beyond?
  • Lovely gift for my 52nd Birthday. Tsem Rinpoche
    5 years ago
    Lovely gift for my 52nd Birthday. Tsem Rinpoche
  • This 59-year-old chimpanzee was refusing food and ready to die until...
    5 years ago
    This 59-year-old chimpanzee was refusing food and ready to die until...
    she received “one last visit from an old friend” 💔💔
  • Bigfoot sighted again and made it to the news.
    5 years ago
    Bigfoot sighted again and made it to the news.
  • Casper is such a cute and adorable. I like him.
    5 years ago
    Casper is such a cute and adorable. I like him.
  • Dorje Shugden Monastery Amarbayasgalant  Mongolia's Ancient Hidden Gem
    5 years ago
    Dorje Shugden Monastery Amarbayasgalant Mongolia's Ancient Hidden Gem
  • Don't you love Hamburgers? See how 'delicious' it is here!
    5 years ago
    Don't you love Hamburgers? See how 'delicious' it is here!
  • Such a beautiful and powerful message from a person who knows the meaning of life. Tsem Rinpoche
    5 years ago
    Such a beautiful and powerful message from a person who knows the meaning of life. Tsem Rinpoche
  • What the meat industry figured out is that you don't need healthy animals to make a profit.
    5 years ago
    What the meat industry figured out is that you don't need healthy animals to make a profit.
    Sick animals are more profitable... farms calculate how close to death they can keep animals without killing them. That's the business model. How quickly they can be made to grow, how tightly they can be packed, how much or how little can they eat, how sick they can get without dying... We live in a world in which it's conventional to treat an animal like a block of wood. ~ Jonathan Safran Foer
  • This video went viral and it's a must watch!!
    5 years ago
    This video went viral and it's a must watch!!
  • SEE HOW THIS ANIMAL SERIAL KILLER HAS NO ISSUE BLUDGEONING THIS DEFENSELESS BEING.
    5 years ago
    SEE HOW THIS ANIMAL SERIAL KILLER HAS NO ISSUE BLUDGEONING THIS DEFENSELESS BEING.
    This happens daily in slaughterhouse so you can get your pork and Bak ku teh. Stop eating meat.

ASK A PASTOR


Ask the Pastors

A section for you to clarify your Dharma questions with Kechara’s esteemed pastors.

Just post your name and your question below and one of our pastors will provide you with an answer.

Scroll down and click on "View All Questions" to view archived questions.

View All Questions

CHAT PICTURES

KEP 13/11/2022-caroline
2 weeks ago
KEP 13/11/2022-caroline
Look here, Smile! 1, 2, 3.... chik chak. Thank you everyone. That's our picture for the Dorje Shugden puja and see you all next Saturday @ 3pm. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta.
3 weeks ago
Look here, Smile! 1, 2, 3.... chik chak. Thank you everyone. That's our picture for the Dorje Shugden puja and see you all next Saturday @ 3pm. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta.
This is little about me and what about you?
1 month ago
This is little about me and what about you?
Week after week, Penang members come together to do the Dorje Shugden puja - without fail. Come to get your blessings and obstacles cleared by joining us at Penang Chapel, every Saturday, 3 pm at Jalan Seang Tek, Penang.
1 month ago
Week after week, Penang members come together to do the Dorje Shugden puja - without fail. Come to get your blessings and obstacles cleared by joining us at Penang Chapel, every Saturday, 3 pm at Jalan Seang Tek, Penang.
Sumptuously decorated food offerings to Rinpoche and Buddhas, thanks to Siew Hong and KS Tang during Penang weekly DS puja on 22/10/2022 ~ by Jacinta.
1 month ago
Sumptuously decorated food offerings to Rinpoche and Buddhas, thanks to Siew Hong and KS Tang during Penang weekly DS puja on 22/10/2022 ~ by Jacinta.
Is this where Rinpoche received the thangkha of Dream Manjushri?
4 months ago
Is this where Rinpoche received the thangkha of Dream Manjushri?
Is this the ruins of Zimkhang Gongma established by Panchen Sonam Drakpa. -Choong
4 months ago
Is this the ruins of Zimkhang Gongma established by Panchen Sonam Drakpa. -Choong
We hold our DS puja weekly without fail. We welcome you to join us. Penang DS puja @ 3pm~ by Jacinta
4 months ago
We hold our DS puja weekly without fail. We welcome you to join us. Penang DS puja @ 3pm~ by Jacinta
DS PUJA @ Penang. A close up of the offerings. What a feast! #Throwback 23/7/2022.
4 months ago
DS PUJA @ Penang. A close up of the offerings. What a feast! #Throwback 23/7/2022.
#Throwback 23/7/2022. Our weekly DS puja attendees. All of us were getting ready to invite Buddhas to come forth, joining and blessing us during DS puja. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
4 months ago
#Throwback 23/7/2022. Our weekly DS puja attendees. All of us were getting ready to invite Buddhas to come forth, joining and blessing us during DS puja. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
#Throwback23/7/2022 Welcoming Buddha Shakyamuni, Gyenze, Shize & Namgyalma to Penang chapel. Abundance offerings, including sensory offerings were nicely set up and offered up to Buddha surfing our weekly DS puja @ 3pm, Jalan Seang Tek, Penang ~by Jacinta
4 months ago
#Throwback23/7/2022 Welcoming Buddha Shakyamuni, Gyenze, Shize & Namgyalma to Penang chapel. Abundance offerings, including sensory offerings were nicely set up and offered up to Buddha surfing our weekly DS puja @ 3pm, Jalan Seang Tek, Penang ~by Jacinta
Kechara Earth Project 17 July 2022
4 months ago
Kechara Earth Project 17 July 2022
Kechara Earth Project 12 June 2022
5 months ago
Kechara Earth Project 12 June 2022
#Throwback. Visitation of Ven. Zawa Tulku Rinpoche and Ven. Geshe Jangchup Gyaltsen to Kechara Penang Chapel on 17/5/2022. We did a short prayers together. Really happy for the short visit. Kechara Penang Study Group~ by Jacinta
6 months ago
#Throwback. Visitation of Ven. Zawa Tulku Rinpoche and Ven. Geshe Jangchup Gyaltsen to Kechara Penang Chapel on 17/5/2022. We did a short prayers together. Really happy for the short visit. Kechara Penang Study Group~ by Jacinta
Photo from JC
6 months ago
Photo from JC
Trying to WE-fie. Do we get that just alright, lol? Come and join us next time at Jalan Seang Tek, Kechara Penang Chapel. Celebrate Wesak with us ~ by Jacinta
6 months ago
Trying to WE-fie. Do we get that just alright, lol? Come and join us next time at Jalan Seang Tek, Kechara Penang Chapel. Celebrate Wesak with us ~ by Jacinta
Trying to "WE-fie". Do we get that just alright, lol? Come and join us next time at Jalan Seang Tek, Kechara Penang Chapel. Celebrate Wesak with us ~ by Jacinta
6 months ago
Trying to "WE-fie". Do we get that just alright, lol? Come and join us next time at Jalan Seang Tek, Kechara Penang Chapel. Celebrate Wesak with us ~ by Jacinta
Celebrated Wesak Day 2022 in Penang, with a group of fun, committed, helpful and also devoted friends & family. Kechara Penang Study Group 15/5/2022 ~by Jacinta
6 months ago
Celebrated Wesak Day 2022 in Penang, with a group of fun, committed, helpful and also devoted friends & family. Kechara Penang Study Group 15/5/2022 ~by Jacinta
Vesak Day 2022 - Bird liberation. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
6 months ago
Vesak Day 2022 - Bird liberation. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
All attendees are paying homage to Rinpoche and Buddhas before the start of our weekly Dorje Shugden puja. Outwardly, it seems that Dorje Shugden helps practitioners overcoming their obstacles and problems but ultimately Dorje Shugden’s supreme purpose is to help practitioners on their path to Enlightenment. Do join in our weekly DS puja, every Saturday @3 pm at Jalan Seang Tek, Penang. ~by Jacinta
7 months ago
All attendees are paying homage to Rinpoche and Buddhas before the start of our weekly Dorje Shugden puja. Outwardly, it seems that Dorje Shugden helps practitioners overcoming their obstacles and problems but ultimately Dorje Shugden’s supreme purpose is to help practitioners on their path to Enlightenment. Do join in our weekly DS puja, every Saturday @3 pm at Jalan Seang Tek, Penang. ~by Jacinta
All of us are practicing on how to properly use dorje(Vajra), bell and damaru ~ Kechara Penang Study Group by Jacinta
7 months ago
All of us are practicing on how to properly use dorje(Vajra), bell and damaru ~ Kechara Penang Study Group by Jacinta
After inviting Dorje Shugden Wangze, Pastor Seng Piow teaches us how to use ritual objects and the full set of prayer accompanying it. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
7 months ago
After inviting Dorje Shugden Wangze, Pastor Seng Piow teaches us how to use ritual objects and the full set of prayer accompanying it. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
With great happiness, merits and excitement that Penang Group have invited Buddha Wangzey to Penang chapel, complete with full rituals and prayer. 30th April 2022 Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
7 months ago
With great happiness, merits and excitement that Penang Group have invited Buddha Wangzey to Penang chapel, complete with full rituals and prayer. 30th April 2022 Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
Come and get your blessing from Lama Tsongkhapa and Dorje Shugden in Penang @ Jalan Seang Tek ~ by Jacinta.
7 months ago
Come and get your blessing from Lama Tsongkhapa and Dorje Shugden in Penang @ Jalan Seang Tek ~ by Jacinta.
Special thanks to one of our dedicated Penang group members, Choong for superb tormas. Swift Return Puja @ every Saturday, 3pm. Do contact William for more info ~ by Jacinta
7 months ago
Special thanks to one of our dedicated Penang group members, Choong for superb tormas. Swift Return Puja @ every Saturday, 3pm. Do contact William for more info ~ by Jacinta
Thanks to William for being the Umze for Swift Return Puja at Penang Centre. ~ by Jacinta
7 months ago
Thanks to William for being the Umze for Swift Return Puja at Penang Centre. ~ by Jacinta
The members of Kechara Penang Study Group are offering serkym to Dorje Shugden and His entourage. There's puja every Saturday @ 3 pm at Penang Chapel, Jalan Seang Tek. All are welcome. ~by Jacinta
7 months ago
The members of Kechara Penang Study Group are offering serkym to Dorje Shugden and His entourage. There's puja every Saturday @ 3 pm at Penang Chapel, Jalan Seang Tek. All are welcome. ~by Jacinta
We are in the third week of Ramadan this year, and kind volunteers have never failed to feed people in need since Tengku Zatashah started this meaningful #zerofoodwastage initiative in 2016. The aim is to benefit the underprivileged with nice surplus food collected from Ramadan buffets. Every night during the month of Ramadan, volunteers collect surplus cooked food from hotels and distribute it to charity homes and low-income families. THANK YOU, Tengku, dedicated volunteers and hotel partners, for making this Ramadan special for the underprivileged. #kecharasoupkitchen #kecharafoodbank #kecharaempowerment - KSK @ Vivian
7 months ago
We are in the third week of Ramadan this year, and kind volunteers have never failed to feed people in need since Tengku Zatashah started this meaningful #zerofoodwastage initiative in 2016. The aim is to benefit the underprivileged with nice surplus food collected from Ramadan buffets. Every night during the month of Ramadan, volunteers collect surplus cooked food from hotels and distribute it to charity homes and low-income families. THANK YOU, Tengku, dedicated volunteers and hotel partners, for making this Ramadan special for the underprivileged. #kecharasoupkitchen #kecharafoodbank #kecharaempowerment - KSK @ Vivian
We were chanting Migsetma mantra at the time this picture was taken. Thanks to all our Penang members who are very committed to attend Swift Return puja weekly. Kechara Penang Study Group, every Saturday @ 3pm. ~by Jacinta
7 months ago
We were chanting Migsetma mantra at the time this picture was taken. Thanks to all our Penang members who are very committed to attend Swift Return puja weekly. Kechara Penang Study Group, every Saturday @ 3pm. ~by Jacinta
William, who is our leader/ Umze is cleaning the pantry and Gordon offered up 4 carton of packet drinks today. We cannot thank you enough for all kind hearted who sponsored various offerings weekly. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
7 months ago
William, who is our leader/ Umze is cleaning the pantry and Gordon offered up 4 carton of packet drinks today. We cannot thank you enough for all kind hearted who sponsored various offerings weekly. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
Siew Hong came with a basket of fruits while Choong, who is expert in baking offered tormas today for our Swift Return Puja. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
7 months ago
Siew Hong came with a basket of fruits while Choong, who is expert in baking offered tormas today for our Swift Return Puja. Kechara Penang Study Group ~by Jacinta
Dedicated sisters, Sharyn and Swee Bee. They always make sure our puja offerings, especially fruits are arranged nicely. Kechara Penang Study Group ~ by Jacinta
7 months ago
Dedicated sisters, Sharyn and Swee Bee. They always make sure our puja offerings, especially fruits are arranged nicely. Kechara Penang Study Group ~ by Jacinta
Committed and hardworking Kechara Penang members, Mr. Tang and Mr. Huey. Really appreciate having you both at our weekly puja . Kechara Penang Study Group ~ by Jacinta
7 months ago
Committed and hardworking Kechara Penang members, Mr. Tang and Mr. Huey. Really appreciate having you both at our weekly puja . Kechara Penang Study Group ~ by Jacinta
KSK medic personnel have been tending to the needs of the clients every week. Their consistent kindness helps improve the medical welfare of those without a home. Thank you for serving and making them your priority on your weekends. #medicteam #kecharasoupkitchen #kecharafoodbank #kecharaempowerment
8 months ago
KSK medic personnel have been tending to the needs of the clients every week. Their consistent kindness helps improve the medical welfare of those without a home. Thank you for serving and making them your priority on your weekends. #medicteam #kecharasoupkitchen #kecharafoodbank #kecharaempowerment
In the midst of chaos, let's start healing. We have Dorje Shugden Puja every Saturday @ 3 pm. Contact William for more info. Kechara Penang Study Group. ~ by Jacinta.
9 months ago
In the midst of chaos, let's start healing. We have Dorje Shugden Puja every Saturday @ 3 pm. Contact William for more info. Kechara Penang Study Group. ~ by Jacinta.
9 months ago
Pastor is in da' house!!!! Kechara Penang Study Group @ Saturday, 3 pm. Contact William for more info ~ by Jacinta
9 months ago
Pastor is in da' house!!!! Kechara Penang Study Group @ Saturday, 3 pm. Contact William for more info ~ by Jacinta
9 months ago
10 months ago
After Dorje Shugden puja @Penang Chapel, Jalan Seang Tek, members went to a nearby vegetarian shop for gathering. #CNY2022 #HappyReunion by Jacinta.
10 months ago
After Dorje Shugden puja @Penang Chapel, Jalan Seang Tek, members went to a nearby vegetarian shop for gathering. #CNY2022 #HappyReunion by Jacinta.
The Promise
  These books will change your life
  Support Blog Team
Lamps For Life
  Robe Offerings
  Vajrayogini Stupa Fund
  White Tara Mantra Bank Project
  Dana Offerings
  Soup Kitchen Project
 
Zong Rinpoche

Archives

YOUR FEEDBACK

Live Visitors Counter
Page Views By Country
United States 6,304,983
Malaysia 4,766,803
India 2,296,025
Singapore 897,631
Nepal 880,554
United Kingdom 861,529
Bhutan 791,278
Canada 752,258
Australia 575,155
Philippines 515,160
Indonesia 428,527
Germany 345,349
France 302,084
Brazil 236,752
Vietnam 212,547
Thailand 208,143
Taiwan 199,302
Italy 165,879
Spain 151,278
Netherlands 147,060
Mongolia 143,879
Portugal 135,562
Turkey 127,073
South Africa 125,319
United Arab Emirates 119,052
Sri Lanka 118,291
Russia 110,397
Hong Kong 107,394
China 103,166
Romania 101,779
Mexico 93,266
New Zealand 89,256
Japan 87,073
Myanmar (Burma) 84,452
Switzerland 84,399
Pakistan 75,718
Sweden 72,468
South Korea 71,859
Cambodia 67,747
Total Pageviews: 24,748,665

Login

Dorje Shugden
Click to watch my talk about Dorje Shugden....